Senin, Juni 28, 2010

Banyak Undangan



Bulan Juni – Juli ini kami banyak menerima undangan, baik undangan Pernikahan maupun undangan untuk mengikuti Simposium Kedokteran dan RTD ( Round Table Discussion ) dari perusahaan farmasi yang mempromosikan obat-obat baru.

Undangan itu berakhir dengan makan siang atau makan malam.
Hidangan bagi para undangan tentu menu pilihan. Banyak terhidang makan dengan Protein tinggi seperti: Ayam ( ayam goreng,ayam kremes  ayam rebus dll ), Bebek ( bebek panggang yang  banyak lemak ), Ikan ( salmon, gurame, dll ) , Tahu Jepang ( sapo tahu ) , Belut goreng, Kepiting ( Kepiting saos tirem ) dll.

Meskipun lauknya banyak tetapi Menu utama bagi kebanyakan orang yaitu Nasi putih ( Steam rice ) sering kali tidak disajikan atau disajikan  dalam jumlah yang imut-imut. Para undangan mau tidak mau menyantap  hidangan yang tersaji. Perut kita kalau belum terisi nasi rasanya seperti belum makan. Jadi selalu berharap akan muncul Steam rice. He…he…

Banyak teman saya yang berkomentar “Pak Bas,  tidak apalah kalau tidak ada Nasi. Nasi kan banyak di rumah, tetapi lauk yang nyam-nyam tidak ada. Mari kita sikat aja ap ayang terhidang.”

Ya udah sikat saja. Akibatnya Berat Badan kami dengan mudah melenggang naik 1 Kg dalam 1 bulan terakhir. Wah diet kami berantakan nih. Perlu kerja keras lagi untuk atur diet dalam bulan-bulan mendatang. Kurangi Nasi, perbanyak Sayuran dan Buah-buahan. Hindari makanan yang berlemak dan cukup Olah raga setiap hari. Biasanya BB akan stabil bahkan menurun banyak.

---

Berbahagialah orang yang masih mau makan.
Orang yang sudah tidak mau makan selama 2-3 hari, dapat dibayangkan bagaimana Prognosa ( ramalan penyakit ) pasien ini. Biasanya tidak lama lagi akan pergi untuk selamanya.

Sering kali saya mendapat panggilan dari keluarga pasien untuk datang ke rumah mereka. Ada salah satu anggota keluarganya yang sakit khronis akibat penyakit Kanker, Gagal Ginjal dll sehingga tubuhnya kurus kering dan sudah beberapa hari tidak mau makan.

Banyak pasien demikin konon  baru saja dipulangkan dari Rumah Sakit dan minta bantuan dari saya agar mereka mau makan untuk dapat bertahan hidup. Bagaimana dapat makan dan minum, kalau kesadaran mereka sudah drop banget. Salah satu cara yaitu dengan memasang cairan infus dan biasanya ideal dilakukan di Rumah Sakit dengan didampingi tenaga medis 24 jam. Sedangkan pihak RS sudah memulangkan pasien-psien demikian. Sudah angkat tangan.

Benarlah beberapa hari kemudian pasien-pasien demikian akhirnya pergi untuk selamanya.

Itulah sebabnya saya  mengatakan “Berbagialah orang yang masih mau makan”. Kehidupan masih akan berlanjut.

Bagaimana pendapat anda?

Minggu, Juni 27, 2010

4 A



Kemarin malam ketika saya browsing ke Internet, mengunjungi salah satu web yang membicarakan Review sebuah merk Ponsel.

Ada banyak pertanyaan yang masuk dan saya dapat membaca jawaban sang pemilik Blog.

Sebuah pertanyaan yang  saya baca sungguh menggelitik hati saya. Anda mau tau?

Pertanyannya “Kalau dilihat secara keseluruhan merk Ponsel apa yang terbaik.”

Jawabnya “Nokia, dong.”
Lengkaplah sudah yang dicari para Pria yaitu:

HARTA, TAHTA, WANITA,  NOKIA .

---

Bagaimana pendapat anda?

Mau kirim biaya konsultasi


Kemarin siang ketika saya  membuka Inbox saya di gmail.com saya menerima sebuah email. Email itu dari seseorag yang pernah bertanya tentang kesehatannya. Saya terkejut karena  beliau bertanya berapa biaya konsultasi yang pernah saya berikan.

Gleg…ah saya terharu menerima emailnya itu. Dengan rendah hati saya menjawab bahwa  jawaban itu tidak usah diberi imbalan materi. Kalaupun ucapan terima kasih saja yang saya terima, rasanya sudah cukup banyak dan saya bersyukur kepadaNya.

Sebenarnya Blog saya itu ( http://www.basukipramana.blogspot.com ) bukan merupakan suatu Ruang Konsultasi Kesehatan, tetapi lebih banyak sebagai curahan hasil tulisan saya yang saya posting ke Blog tsb.

Ada banyak Blogger yang berkunjung, membaca dan bertanya kepada  saya tentang artikel-artikel yang tidak hanya bidang kesehatan saja, tetapi ada juga  bidang-bidang lain. Posting yang saya buat lebih banyak berkisar tentang pengalaman saya menghadapi para pasien yang datang berobat sejak tahuan 1980.

Saya selalu menjawab pertanyan-pertanyan yang masuk ke Inbox saya. Ada yang berterima kasih dan ada yang tidak berterima kasih. Saya tidak mempersoalkan benar hal tsb. Bagi saya sudah cukup bila  ada Blogger yang berkunjung dan membaca postings saya itu. Saya juga dapat mengambil manfaat dari banyak pertanyaan yang masuk, minimal  bagi saya pribadi. Saya juga  sering berkunjung ke Blog sang penanya bila mereka juga  mempunyai Blog yang dapat saya komentari.

-----

Kata orang bijak, menulis adalah salah satu cara untuk menghilangkan Stres.
Menulis apa saja termasuk: catatan harian, ungkapan hati, kemarahan kepada seseorang, kerinduan kepada sesuatu, cerita pendek, novel, kisah perjalanan atau lainnya.

Stres? Dokter kok punya Stres?
Dokter juga manusia, yang sama dengan orang-orang lain. Ia dapat hidup, gembira, sedih, marah, sakit dan bahkan kematian.

Banyak pasien yang menganggap bahwa seorang Dokter adalah orang yang hebat: kaya, berkecukupan, sukses, rumah  bagus, mobil bagus, banyak pasien dll. Suatu anggapan yang keliru. Tidak semuanya benar. Dokter-dokter yang bertugas di pedalaman sangat berbeda dengan Dokter-dokter yang hidup di kota-kota besar. Dokter yang baru lulus berbeda dengan Dokter yang sudah  bertahun-tahun bertugas. Tidak bisa disama-ratakan.

Dokter juga ada yang baik dan ada yang tidak baik, sebab merekapun adalah manusia juga yang mempunyai sisi baik dan sisi buruk di dalam diri masing-masing Dokter.
Di dunia ini selalu berimbang dalam segala hal: ada pria dan ada wanita, ada siang dan ada malam, ada gembira dan ada sedih, ada yang baik dan ada yang jahat dst.

Terlepas dari semuanya, saya berpinsip: Kalau bisa dibuat mudah, mengapa dibuat sukar? Bukan sebaliknya.

Met pagi. Semoga hari anda menyenangkan.

Nilai Seikat Kembang


Pagi ini saya menerima sebuah artikel yang menarik dari seorang sahabat.
Saya posting ke Blog saya sebagai pencerahan bagi kita semua. Semoga  bermanfaat.

-------

Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah yang
diparkir di depan kuburan umum.

Pria itu berjalan menuju pos penjaga kuburan. Setelah
memberi salam, pria yang ternyata adalah sopir itu
berkata, "Pak, maukah Anda menemui wanita yang ada di mobil
itu? Tolonglah Pak,karena para dokter mengatakan
sebentar lagi beliau akan meninggal!"

Penjaga kuburan itu menganggukkan kepalanya tanda
setuju dan ia segera berjalan di belakang sopir itu.

Seorang wanita lemah dan berwajah sedih membuka pintu
mobilnya dan berusaha tersenyum kepada penjaga kuburan
itu sambil berkata, "Saya Ny . Steven. Saya yang selama
ini mengirim uang setiap dua minggu sekali kepada Anda.
Saya mengirim uang itu agar Anda dapat membeli seikat kembang
dan menaruhnya di atas makam anak saya. Saya datang untuk
berterima kasih atas kesediaan dan kebaikan hati Anda.
Saya ingin memanfaatkan sisa hidup saya untuk
berterima kasih kepada orang-orang yang telah menolong
saya."

"O, jadi Nyonya yang selalu mengirim uang itu? Nyonya,
sebelumnya saya minta maaf kepada Anda. Memang uang
yang Nyonya kirimkan itu selalu saya belikan kembang,
tetapi saya tidak pernah menaruh kembang itu di pusara
anak Anda." jawab pria itu.

"Apa, maaf?" tanya wanita itu dengan gusar.

"Ya, Nyonya. Saya tidak menaruh kembang itu di sana
karena menurut saya, orang mati tidak akan pernah
melihat keindahan seikat kembang. Karena itu setiap kembang
yang saya beli, saya berikan kepada mereka yang ada di rumah
sakit, orang miskin yang saya jumpai, atau mereka yang sedang
bersedih. Orang-orang yang demikian masih hidup, sehingga
mereka dapat menikmati keindahan dan keharuman
kembang-kembang itu, Nyonya," jawab pria itu.

Wanita itu terdiam, kemudian ia mengisyaratkan agar
sopirnya segera pergi.

Tiga bulan kemudian, seorang wanita cantik turun dari
mobilnya dan berjalan dengan anggun ke arah pos penjaga
kuburan.

"Selamat pagi. Apakah Anda masih ingat saya? Saya Ny .
Steven. Saya datang untuk berterima kasih atas nasihat
yang Anda berikan beberapa bulan yang lalu. Anda benar
bahwa memperhatikan dan membahagiakan mereka yang
masih hidup jauh lebih berguna daripada meratapi mereka yang
sudah meninggal. Ketika saya secara langsung mengantarkan
kembang-kembang itu ke rumah sakit atau panti jompo,
kembang-kembang itu tidak hanya membuat mereka bahagia,
tetapi saya juga turut bahagia. Sampai saat ini para dokter tidak
tahu mengapa saya bisa sembuh, tetapi saya benar-benar yakin
bahwa sukacita dan pengharapan adalah obat yang memulihkan
saya!"

Jangan pernah mengasihani diri sendiri, karena mengasihani diri
sendiri akan membuat kita terperangkap di kubangan kesedihan.

Ada prinsip yang mungkin kita tahu, tetapi sering kita lupakan,
yaitu dengan menolong orang lain sesungguhnya kita menolong
diri sendiri.


Rabu, Juni 23, 2010

Sup dan Kaki Ayam dapat melawan Tekanan Darah Tinggi




Dibandingkan dengan orang-orang lain, saya pribadi tidak menyukai makan kaki Ayam.
Melihat kaki ayam, saya selalu terbayang kaki  yang mengais-ngais tanah untuk mencari makan. Hal itu yang menyebabkan saya  tidak menyukai Kaki Ayam, tetapi ternyata kaki Ayam  berkhasiat dapat menurunkan Tekanan darah Tinggi.

Pada penelitian ternyata Kaki ayam mengandung  lebih banyak protein Kolagen dari pada daging Dada Ayam. Ikutilah artikel ini selanjutnya.

---

Sebuah penelitian dilakukan pada Tikus di Jepang telah menemukan bahwa protein Kolagen ayam bertindak yang mirip dengan obat anti hipertensi golongan ACE inhibitor yang berefek untuk mengurangi Tekanan Darah.

Studi seperti ini banyak mengangkat kemampuan  Sup ayam bisa dikerahkan ke garis depan medis dalam pertempuran melawan Tekanan Darah Tinggi pada manusia. Hasil penelitian dari tim peneliti ini diterbitkan dalam Jurnal Pertanian dan Kimia Makanan.

Sup ayam telah lama menjadi rumah obat yang populer untuk Flu biasa, terkadang dikenal sebagai "Nenek Penisilin". Ini mungkin memiliki peran diperluas, di samping metode lainnya, dalam memerangi Tekanan Darah Tinggi.
Dr Ai Saiga, ilmuwan Jepang yang memimpin studi dan rekan-rekannya mengutip studi sebelumnya menunjukkan bahwa Dada ayam mengandung protein Kolagen dengan efek yang mirip dengan ACE inhibitor, obat untuk  Tekanan Darah Tinggi.
Kaki ayam, sering dibuang sebagai produk limbah di AS, tampaknya menjadi sumber protein Kolagen yang lebih baik daripada Dada ayam.
Dalam studi tersebut, Saiga dan rekan, Kolagen diekstraksi dari Kaki ayam dan diuji kemampuannya untuk bertindak sebagai ACE inhibitor dalam studi laboratorium. Mereka mengidentifikasi 4 protein yang berbeda dalam campuran kolagen dengan aktivitas ACE inhibitor.
Ketika diberikan kepada Tikus,  protein tsb menghasilkan penurunan tekanan darah yang signifikan  kata para peneliti.
Tidak perlu banyak Garam.
Kaldu Ayam yang kaya protein Kolagen sangat berguna bagi umat manusia dalam mengatur Tekanan darah.

Kaldu Ayam sangat bermanfaat  hanya perlu sedikit atau tidak ada Garam sama sekali dalam kaldu karena Garam berpotensi menyebabkan  tekanan darah tinggi.

Bagaimana kerja inhibitor ACE menurunkan tekanan darah?
Tekanan darah manusia  dipengaruhi oleh diameter pembuluh darah. Hipertensi meningkatkan tekanan darah karena kontraksi pembuluh darah.
Dengan demikian membutuhkan kekuatan lebih oleh otot jantung untuk bekerja dan membuat darah beredar dalam aliran darah yang berlawanan dengan resistensi yang lebih tinggi yang ditimbulkan oleh kontraksi pembuluh darah arteri.
Para
peneliti juga menduga bahwa bahan kimia yang dikenal sebagai Angiotensin II yang diproduksi oleh tubuh. ketika Angiotensin diubah menjadi Angiotensin II. Hal ini mempengaruhi tekanan darah manusia. Bila ada lebih dari zat kimia ini, akan meningkatkan tekanan darah karena Angiotensin II menyebabkan otot polos kapiler darah arteri berkontraksi.
ACE (Angiotension Converting Enzyme) bertanggung jawab untuk mengkonversi Angiotensin menjadi Angiotensin II, yang pada gilirannya menyebabkan tekanan darah tinggi.

Para ilmuwan kemudian mengembangkan ACE inhibitor, yang bertindak untuk menurunkan tekanan darah yang berlebihan.

Sumber:
http://www.highbloodpressuremed.com/blog/diet/chicken-soup-reducing-high-blood-pressure/

http://www.sciencedaily.com/releases/2008/10/081013110117.htm

Senin, Juni 21, 2010

Tidak nyambung



Suatu siang saya  ingin membeli Kelapa Muda disebuah kios  yang menjual Kelapa Muda.

Saya berkata kepada penjualnya “Mbak, saya ingin beli 2 buah Kelapa yang muda.”

Ibu muda itu bertanya “Yang Putih atau yang Merah, Pak.”

Saya terdiam mendengar pertanyaannya itu.
Saya bingung juga: apa ada Kelapa Putih dan Kelapa Merah?
Akhirnya saya menjawab pertanyaannya “Yang Hijau saja.”

Ibu penjual Kelapa yang balik terdiam.
Ditanya Yang Putih atau Merah, kok dijawab yang Hijau saja.

Setelah mengerti duduk persoalannya bahwa disitu dijual Kelapa biasa yaitu Kelapa Hijau  ( degan )  yang muda. Kalau dipapras dengan sebuah Golok maka akan terlihat warna putih pada sabut Kelapanya. Yang ini disebut sebagai Kelapa Putih. Saya menyebutnya yang ini sebagai Kelapa Hijau.

Ada jenis lain yaitu Kelapa Obat, Kelapa untuk obat. Konon airnya kalau diminum berkhasiat untuk mengobati penyakit tertentu, seperti Rematik, nyeri otot dll ( katanya ). Nah jenis Kelapa ini, meskipun dari luar  mirip dengan kelapa Putih, tetapi setelah dipapras dengan Golok, sabutnya  tampak ada bercak warna Merah kecoklatan. Daging buahnya tipis, nyaris tidak ada. Emang yang diambil airnya saja. Yang ini disebut sebagai Kelapa Merah.

Saya mengatakan Kelapa Hijau, maksudnya Kelapa Muda yang warna  kulitnya Hijau dan daging buahnya sedikit tebal dan lunak. Rasanya nyam-nyam!

Kelapa Merah, harganya lebih mahal ( Rp. 10/000,- per buah ) dari pada harga Kelapa Putih ( Rp. 4.000,- ). Sering kali Kelapa Merah  habis stoknya sehingga perlu menunggu beberapa hari lagi, pasokan dari luar kota.

Wah … ada-ada saja. Bermacam istilah sehingga pembicaraan kami sering tidak nyambung.

---

Istilah Dokter yang tidak jelas juga sering kali tidak dimengerti oleh pasien, misalnya:

Kata Dokter “Bisul ini mesti dibersihkan,” maksudnya di insisi ( kulit Bisul disayat dengan pisau bedah ) dan isinya yang berupa Nanah dikeluarkan sampai besih sehingga penyembuhan  lebih cepat terjadi ).

Pasien menjawab “Sudah, Dok, tiap pagi Bisul saya dibersihkan dengan larutan Betadine!”

Bukan itu arti “dibersihkan.” Sama-sama bersih, tetapi lain maksudnya arti  dibersihan itu.

Jadi Dokter harus memberikan penjelasan yang dimengerti oleh pasiennya ( inform consent ) dengan sebaik-baiknya sehingga tidak ada salah pengertian.-

Pasien lupa




Siang ini  sekitar pk. 12.15 datang seorang Ibu, usia sekitar 40 tahun.
Maksud kedatangannya adalah untuk menunjukkan hasil pemeriksaan laboratrium yang dimintakan oleh seorang dokter wanita.

“Ibu mau  bertemu dengan siapa?” saya bertanya.

“Dokter H ( isteri saya ).” Jawab ibu tsb.

”Tunggu ya, sebentar saya beritahu isteri saya.”

Setelah mereka berada di dalam Ruang Periksa ( di rumah kami ) terdengar suara pembicaraan mereka.

Saya mendengar isteri saya “Kapan Ibu berobat kepada saya?”

Ibu tsb menjawab “Beberapa hari yang lalu.”

“Nama Ibu siapa?” tanya isteri saya lagi.

“Ibu Maemunah ( bukan nama sebenarnya ).” Jawabnya

Aneh, rasanya tidak ada pasien saya yang bernama itu dalam beberapa hari ini kata steri saya dalam hati.

Setelah amplop hasil pemeriksaan laboratorium itu di buka dan terbaca bahwa Dokter yang mengirim adalah dr. HS ( tetangga kami yang namanya mirip nama isteri saya ).

Isteri saya  menjelaskan bahwa  rumah dr HS bukan disini, tetapi disana sambil menunjuk ke arah rumah teman sejawat kami.

“Oh, maaf ya dok, saya salah datang.” Ibu tsb berkata dan pamit meninggalkan rumah kami.

Kami berpikir kalau pasien itu beberapa hari yang lalu pernah datang berobat di tempat praktik dr. HS, mestinya tidak nyasar ke rumah kami untuk melaporkan hasil pemeriksaan Laboratoriumnya. Aneh juga  kalau dalam beberapa hari saja sudah lupa lokasi tempat praktik dokternya.

Kami maklum, kalau lupa itu sifat manusia dan masih manusiawi juga. Kalau lupanya tiap hari apa ya namanya? Lupa atau pikun?

 ---

Mencari kesalahan orang lain paling mudah, tetapi mencatat kebaikan orang itu terasa sulit.

Rabu, Juni 16, 2010

CARA TERCEPAT MENGHENTIKAN DIARE



CARA TERCEPAT MENGHENTIKAN DIARE
(from: Singapore)


Pagi ini saya menerima sebuah artikel yang sangat bermanfaat. Khasiat Air tajin untuk penyembuhan Diare. Ketika saya bekerja di Puskesmas 30 tahun yang lalu, saya pernah mendengar penggunaan Air tajin untuk terapi Diare. Saya pikir itu tidak ada manfaatnya, tetapi setelah membaca artikel dibawah ini pendapoat saya jadi berubah. ( Dr. Basuki Pramana ).
---
Ketika seseorang mendertia diare, kadang-kadang penyelesaiannya begitu mudah, dan kita berpikir mengapa orang begitu menderita untuk mengatasinya.

Satu bahan yang utama di sini adalah beras, tapi bukan dalam bentuk nasi yang biasa kita makan, ataupun dalam bentuk bubur.

Rahasianya adalah Air rebusan beras (Air tajin).

Pengobatan ini biasa dilakukan di berbagai negara Asia Tenggara seperti Sri Lanka, Indonesia, Filipina. Teman-teman saya dari Malaysia juga mengetahuinya.

Ibu saya juga mengetahuinya. Saat Dr. Albert Winsemius datang ke Singapore untuk mengikuti jamuan perpisahan sebagai penghargaan terhadapnya, dia membawa istri dan cucu perempuannya, Jolijn. Keduanya perempuan dan menderita radang perut yang parah. Mereka diperiksakan ke dokter untuk mendapat pengobatan. Tetapi hasilnya berjalan dengan lambat.

Kemudian ibu saya merebus beberapa genggam beras di air yang banyak, dimasukkan ke dalam dua botol 1.5 liter dan dibawa ke hotel. Saya menyeringai malu saat ibu menawarkan pengobatan tradisional ini, yang terlihat begitu primitif. Saya belum pernah mengetahui tentang pengobatan dengan cara ini sebelumnya.

Saya terkejut, ketika diare-nya berhasil dihentikan, bahkan mereka berdua bisa ikut jamuan makan malam di hari berikutnya. Keduanya menyatakan bahwa air rebusan beras telah membuat mereka sehat lagi. "Tampaknya mereka hanya beruntung saja," pikir saya.

Beberapa tahun kemudian saya terlibat diskusi dengan Kim Ng, ibu muda yang melahirkan di Rumah Sakit KK. Dia berkata, "Ya, itu adalah hal yang diajarkan oleh Profesor Wong Hock Boon, seorang dokter anak yang terkemuka." Saya kaget dan berkomentar, "Mengapa dia mengajarkan hal itu? Apakah ini pengetahuan umum sehingga bisa diajarkan begitu saja."

Beberapa bulan kemudian, saya menyesal karena telah menertawakannya.

Dr.Christina Shanta Emmanuel, direktur eksekutif dari grup kesehatan nasional ternyata menanggapi dengan serius saat saya menyampaikan metoda pengobatan ini sebagai sebuah lelucon. Dia berkata bahwa Prof
Wong Hock Boon telah mempresentasikan dalam sebuah tulisan ilmiah di beberapa koferensi medis setelah dia melakukan beberapa pengujian klinis.

Kemudian hasilnya dipublikasikan di Lacent, sebuah jurnal medis yang dibaca oleh semua dokter. Kenyataannya, kata Shanta, dia dipuji karena telah menyelamatkan kehidupan sekitar 2 juta bayi di Afrika dengan metode ini.

Saya benar-benar terkesan.

Yang melakukan keajaiban ini adalah air beras dan bukan nasi. Saya mendapatkannya efektif untuk  penyembuhan lagi dan lagi.

RESEP YANG TEPAT

Ambil segenggam penuh beras dan rebus di panci besar dengan banyak air,
seperti tiga atau empat gelas besar air.Kemudian air rebusannya didinginkan dan diminum oleh penderita diare. Jika terburu-buru untuk segera diminum karena diarenya cukup parah, maka air di panci bisa didinginkan dengan meletakkan panci di atas baskom berisi air es. Berikan air beras itu kepada pasien dan akan segera menyembuhkannya.

Saat meminum air beras itu, pastikan dalam jumlah yang banyak. Anda bisa sampaikan kepada pasien  bahwa perlu banyak air agar bisa mengalir dair kerongkongan ke usus yang berjarak 10 sampai 12 meter. Jika anda makan nasi maka hanya akan tertahan di lambung. Jika makan sup kaldu akan tertahan di usus besar. Tapi jika minum air beras, akan membawa sari beras ke tiap inchi dari usus besar dan usus halus untuk mengakhiri masalah yang  terjadi di dalamnya.


Bagaimana cara kerjanya?
Bahkan Profesor Wong Hock Boon pun tidak tahu. Artikel mengenai
hal ini bisa dibaca di situs:  http://rehydrate.org/dd/dd06.htm
htm#page2.

Inilah artikelnya:
The advantage of using rice water is that rice is cooked daily in South East Asia.
WHO photograph by Dr Gramiccia

In South East Asia, rice is prepared in two ways - to produce either dry, cooked rice or, with extra water, rice porridge. This leaves a fluid (rice water) on top of the cooked rice grains.

Professor Wong Hock Boon, a paediatrician working in Singapore, has been using rice water to rehydrate babies for several years. If the babies are bottle-fed rice water is given exclusively for the first 24 hours of treatment - breastfeeding can continue as normal (1). Professor Wong and his colleagues have found that many babies who have not responded to other rehydration solutions respond well to rice water. If diarrhoea starts again with the re-introduction of milk, extra rice water is given with additional rice porridge. Older babies are sometimes given rice porridge alone.
---


Bagikanlah informasi ini ke semua teman dan sahabat, karena biasanya orang hanya bisa mengeluh dan menghadapi penderitaan yang sebenarnya tidak perlu dialami. Anda bisa minta mereka melakukannya untuk membebaskannya dari penderitaan akibat diare yang menyakitkan.-
















Mercola website




Ada sebuah website kesehatan yang dikelola oleh Dr. Mercola  yang mempunyai misi agar bagaimana masyarakat dapat mengatasi problem kesehatan. Website ini banyak membantu agar pengetahuan kita tentang kesehatan bertambah baik.

Website ini berisi banyak artikel yang dapat didownload atau dibaca. Kita juga dapat melakukan Free subscription untuk mendapatkan Newsletter yang akan dikirim ke email address kita. Di website ini tampaknya Dr. Mercola juga menjual produk untuk menjaga kesehatan.

Bila kita mengalami kesulitan membacanya dalam bahasa Inggris, kita dapat meminta bantuan Pak Google untuk mencerjemahkannya, kunjungi website : http://translate.google.co.id   dan masukkan text yang akan diterjemahkan atau masukkan alamat website tsb ke dalam kolom terjemahan.

Selamat menikmati.

Minggu, Juni 13, 2010

Rasa takut



Siapapun orangnya tentu mempunyai rasa takut terhadap sesuatu.
Kadar rasa takut itu  dapat berbeda-beda  untuk setiap orang. Rasa takut tidak bergantung pada  besar tubuhnya. Orang yang besar tubuhnya belum tentu ia berani disuntik obat /vaksin. Orang yang kurus begitu beraninya disuntik, bahkan minta disuntik bila datang berobat.

Dalam satu populasi terdapat sekitar 10 % orang yang trouble maker ( pembuat ulah ).
Sewaktu  bekerja di suatu Puskesmas dengan 32 orang Staf, terdapat 3 orang yang trouble maker. Yang satu sering bolos masuk kerja, yang kedua sering meminjam uang kepada sesama Staf / orang disekitar Puskesmas dan yang ketiga bicaranya ceplas-ceplos sehingga sering membuat onar.

Hari Sabtu, 12 Juni 2010, saya melakukan vaksinasi Hepatitis B bersama seorang Staf dari suatu perusahaan vaksin. Targetnya adalah 13 orang di Taman kanak-kanak, 42 orang di Sekolah dasar dan 12 orang di sebuah SMU.

Di Taman kanak-kanak ada seorang murid dari 13 orang murid yang begitu takut mendapat suntikan vaksinasi, padahal jarum kecil yang dipakai hanya sepanjang 1 Cm, jarum subkutis. Sang Guru TK dan saya, dokter dengan susah payah menjelaskan bahwa suntikan vaksinasi yang akan diberikan tidak nyeri. Ia tidak peduli, ia berteriak-teriak, menangis, meronta-ronta. Sang Ibu yang mendampinginya juga hanpir kehabisan kesabarannya dan menahan malu  karena putranya tidak seberani teman-temannya  ketika diberi suntikan vaksinasi. Akhirnya pemberian suntik itu selesai juga setelah 3 orang turun tangan untuk memegang tangan,  kaki dan kepalanya, agar  lengan yang akan disuntik tidak bergerak selama proses suntikan berlangsung. Dapat dibayangkan nanti ketika pemberian vaksinasi yang kedua dan ketiga ( 3 kali vaksinasi Hepatitis B ).

Di Sekolah Dasar ada 4 orang dari 42 orang murid yang mirip sama dengan kisah murid Taman kanak-kanak tadi.

Di SMU ada seorang siswi dari 12 murid yang juga mempunyai masalah rasa takutnya. Ia sudah pucat pasi ketika memasuki ruang tempat vaksinsai ( Ruang Laboratorium ). Ahirnya ia mendapat jatah vaksinasi yang terakhir. Saya  katakan “Jangan takut dan jangan  kalah dengan murid TK. Murid TK tidak ada yang menangis atau berteriak-teriak ketika disuntik yang tidak nyeri ini.”
Mendengar ucapan saya tsb, siswi itu pasrah disuntik dan ia merasa tenang setelah ia merasa tidak sakit ketika disuntik vaksin.

Memang agak sulit memberikan ketenangan  kepada orang yang sudah merasa takut.
Setelah ia merasakan bahwa  itu tidak sakit barulah ia percaya dan berani disuntik.
Jadi pengalaman disuntik merupakan obat yang mujarab untuk mengatasi rasa takutnya.

Setelah tugas memberikan vaksinasi Hepatitis B ini selesai, siang itu saya merasa lega sudah melakukan tugas  tanpa kesulitan yang berarti.

Bulan lalu ketika saya memberikan vaksinasi Influenza bagi 44 orang karyawan sebuah perusahan Rokok ada seorang  karyawan, seorang perugas Security yang bertubuh tegap juga  kecil nyalinya menghadapi jarum suntik. Akibatnya ia  menjadi buan-bulanan teman-temannya. Ia baru percaya bahwa suntikan itu tidak sakit setelah ia disuntik dengan jarun yang  cukup kecil bila dibandingkan dengan tubuhnya.

Apakah dokter tidak takut jaru suntik?
He…he… saya juga  ngeri melihat  ujung jarum ketika menjadi Donor darah. Jarum yang dipakai berukuran besar agar proses pengeluaran darah lebih cepat dari pada  kalau dipakai jarum yang kecil. Ketika  petugas menusukkan jarum, saya tidak pernah mau melihat jarum memasuki pembuluh darah vena saya.

Ternyata rasa takut manusiawi juga ya. Bagaimana pendapat anda?-

Rabu, Juni 09, 2010

Ingin punya anak


Keinginan orang beraneka ragam, terutama keinginan mempunyai anak.

Ada pasangan suami-istri ( pasutri ) yang  belum punya anak meskipun sudah bertahun-tahun menikah. Ada pasutri yang baru 2 bulan menikah, istrinya sudah tidak datang bulan ( Haid ) dan test kehamilan urinenya Positip ( hamil ). Bahkan ada pasangan yang belum menikahpun, sang wanitanya sudah hamil.

Hamil bermula dari tidak datangnya Haid. Haid yang selama ini teratur datang, suatu saat Haid tidak datang lagi. Haid bagi kaum wanita  termasuk unik. Kalau tidak datang, diharapkan datang. Kalau datang, diomelin karena mengganggu aktifitas hariannya.

---

Bapak dan Ibu K datang berobat. Pak K, 35 tahun mengeluh Flu sejak 2 hari yang lalau dan isterinya Ibu P, 30 tahun mengeluh perutnya mual sejak 3 hari. Pasutri ini sudah menikah selama 4 tahun, tetapi belum mempunyai keturunan.

Setelah menerima Resep obat yang saya buat, pasutri ini curhat kepada saya.

Pak K berkata “Dok, kami ingin punya keturunan. Bagaimana caranya agar kami mempunyainya?”
Pertanyaan ini mudah tetapi sulit untuk menjawabnya. Ingin punya anak kok masih ditanyakan lagi bagaimana caranya.

Saya menjawab “Pak K, apakah Bapak dan Ibu sudah memeriksakan kepada Dokter Ahlinya?”

Pak menjawab “Belum.”

Saya berkata lagi “Lantas kapan ? Dalam Ilmu Kebidanan, bila pasangan suami-istri bila sudah menkah selama 1 tahun dan masih belum hamil, maka pasangan ini wajib memeriksakan diri kepada Dokter Ahli. Jangan menunggu lebih lama lagi.”

Pak K menjawab “Kami tidak mengerti sih.”

Saya beranya baik “Apakah Bapak dan Ibu ingin punya keturunan?”

Wajah Bapak dan Ibu P ini  tampak lebih cerah, seolah dalam sekejap saya dapat menjadikan Ibu P hamil dan punya anak.

“Begini, Bapak harus melakukan  pemeriksaan Analisa sperma. Kalau hasilnya normal, maka selanjutnya isteri Bapak yang diperiksa oleh Dokter Ahli Kebidanan.Bila ada kelainan pada Organ Reproduksinya maka beliau akan mengobati isteri Bapak. Semoga Bapak dan Ibu segera mempunyai keturunan.” Saya menjelaskan kepada Pak K.

Saya membuatkan Surat untuk pemeriksaan Analisa sperma Pak K di Laboratorium Klinik terdekat.

---

“Enggak ada orang yang beruntung. Yang ada adalah orang yang siap ketika kesempatan datang.”  ( Hermawan Sutanto, Senior Marketing Manager, Microsoft Corp, Redmond, USA )

Senin, Juni 07, 2010

Balita sering sakit



Ibu S, 35 tahun datang berobat membawa putranya M, 4 tahun.
M sering berobat dan penyakit Flu  itu-itu juga. Hampir setiap bulan menderita Flu, batuk, pilek.

M sebeum masuk TK, tidak pernah sakit. Mengapa setelah duduk di TK sering sakit?
Kejadian tsb  persis sama dengan putra/I kami ketika duduk di bangku TK.
Sekarang mereka sudah menyelesaikankan pendidikan S1 dan S2 nya.

Suatu hari saat jam istirahat, saya memasuki halaman tempat murid TK bermain.
Saya memperhatikan teman-teman putra saya.
Ah…ha…saya melihat ada banyak murud TK yang batuk pilek, ada yang ingusnya turun dari hidungnya seperti angka sebelas. Pantesan mengapa putra kami serting Flu. Ternyata ia tertular dari teman-temannya yang sakit Flu dan belum sembuh sudah  datang ke sekolah.

Saya menemui Kepala TK, Ibu L.
“Selamat pagi, Ibu.” Saya menyalaminya.

“Selamat pagi, Dok. Ada apa kiranya sampai Dokter datang pagi ini? Ibu L menjawab dengan ramah.

“Ibu, saya melihat putra kami yang duduk di sekolah Ibu sering  sakit Flu. Tadi saya mengamati teman-temannya ketika jam istirahat. Ternyata ada banyak murid yang Flu, tetapi kok diperbolehkan masuk sekolah? Mereka menjadi sumber penularan bagi teman-temannya yang sehat. Saya ingin mengusulkan agar murud yangs sedang sakit Flu jangan masuk sekolah dahulu. Para orang taunya mesti diingatkan agar mereka segera membawa anak-anaknya berobat sampai sembuh. Saya mengusulkan kepada Ibu l.

Ibu L menjawab “O..ya….wah, kalau begitu usulan Dokter akan kami tindak lanjuti. Terima kasih, Dok.”

Sejak saat itu jarang murid TK itu yang sakit Flu masuk sekolah.

---

Dari kisah itu ternyata jelas bahwa keadaan lingkungan hidup kita sangat mempengaruhi kesehatan kita. Kalau mau sehat maka lingkungan kita harus sehat juga. Kalau lingkungan kita sakit, maka kita akan sakit juga.

Kalau diplesetkan maka kalimat itu dapat berbunyi demikian:
Kalau mau pintar, bergaullah dengan orang yang pintar.
Kalau mau kaya,  bergaulah dengan orang yang kaya.
Kalau mau pandai, bergaulah dengan orang yang pandai.

Lingkungan hidup kita akan mempengaruhi kita.

Bagaimana pendapat anda?

Kamis, Juni 03, 2010

Gatel setelah minum obat?




Pak T, 68 th 20 hari yang lalu datang berobat dengan keluhan demam 2 hari dan batuk-batuk sejak 3 minggu. Hasil pemeriksaan Urine terdapat Infeksi Saluran Kencing ( ISK ).
Hasil pemeriksaan Foto Thorax ( Jantung & Paru ) terdapat KP Dupleks aktip ( TBC Paru ). Ia perokok, 1 bungkus Kretek per hari.

Saya memberikan resep obat untuk ISK terlebih dahulu. Seminggu kemudian ia datang kembali untuk mendapat resep obat kombinasi anti TBC Paru untuk selama 10 hari.
4 hari yang lalu, Pak T datang kembali dan mengeluh bahwa setelah minum obat resep terakhir, ia merasa gatel dan lebih banyak berkeringat. Akhirnya Pak T malas minum obat anti TBC yang harus diminum minimal selama 6 bulan berturut-turut. Kalau obatnya tidak diminum, bagaimana penyakit TBC nya akan sembuh?

Saya berpikir: apakah Pak T tidak tahan ( alergi ) terhadap salah satu atau lebih obat anti TBC paru yang diberikan?

Pada pemeriksaan kulit, tidak terdapat kelainan. Biasanya bila alergi ( obat, makanan dll ) terdapat Kaligata ( biduren ) pada permukaan kulit, Kulit tampak bentol-bentol, menonjol dari permukaan kulit dan pasien mengeluh gatel.
Saya pikir itu bukan alergi obat.

Saya telusuri, apakah penyebab gatel pada kulit pasien ini?

“Sejak kapan terasa gatel dan berkeringat, Pak.” Saya bertanya kepada Pak T.
Pendengaran Pak T sudah menurun sehingga tanya jawab mesti dibantu oleh putri yang mengantar datang berobat.

“Saya berkeringat dan kulit terasa gatel sudah lama. Ketika minum obat untuk Paru-paru, keluhan saya makin bertambah,” kata Pak T.

“Di rumah Bapak ada AC atau Kipas angin?” tanya aya.

Pak T menjawab “Hanya ada AC alam saja, Dok”sambil tersenyum kecut.

Saat ini di kota Cirebon mulai memasuki musim Kemarau sehingga udara terasa lebih panas menyengat. Kita akan cepat berkeringat dan gatel bila tidak segera membersihkan diri.

Saya berkesimpulan bahwa keluhan Pak T ini akibat udara panas. Saya tetap memberikan kombinasi obat anti TBC kepada Pak T dari merek yang lain dan salah satu tablet diganti dengan sirup. Hal ini unuk memberikan kesan bahwa dokter dokter telah mengganti obatnya, padahal kandungan obat berkhasiatnya tetap sama.

Ketika Pak T dan putrinya hendak meninggalkan Ruang Periksa, saya menyarankan agar di rumah Pak T dipasang paling tidak Kipas Angin agar udara lebih sejuk. Udara sejuk tidak menyebabkan berkeringat dan kulit gatel-gatel. Dengan demikian Pak T diharapkan lebih patuh meminum obatnya.-



-----



Bagaimana kita akan menerima kalau tidak mau memberi kepada orang lain?
Makin banyak memberi, akan makin banyak akan menerima.

Selasa, Juni 01, 2010

Hidup semakin susah



Suatu pagi datang ke tempat praktik saya, Pak C, 68 th.
Pak C sering mengikuti kebaktian pagi di Gereja kami. Beberapa kenalan saya mengatakan bahwa Pak C ketika muda tergolong orang yang mapan. Di usia lanjut hidupnya susah.

Pak C datang minta bantuan saya untuk mendapatkan pekerjaan dan sebuah kamar untuk tinggalnya.

“Saya dengar, Dokter mempunyai sebuah Apotik. Ijinkanlah aya bekerja sebagai pembungkus puyer. Saya mau, Dok.” Ia memohon kepada saya.

Kalau saya punya usaha lain seperti Apotik. Amin.
Sayangnya saya tidak mempunyainya.
Saya menjawab “Pak C, Apotik itu bukan milik kami. Saya tidak ada usaha lain.”

Saya melanjutkan “Kalau minta pekerjaan, saya tidak dapat memberikan. Kalau bantuan dalam bentuk lain, misalnya minta berobat gratis atau sumbangan, saya dapat berikan.”
Pak C menolak uluran tangan saya.

Pak C berkisah.
Di usia senja, ia tinggal di kota kami dengan hidup menyewa sebuah tempat sewaan sangat sederhana. Pal C hidup sendirian. Isterinya sudah almarhumah.10 putra/inya tinggal di kota lain.

Uang yang diterima dari salah satu putranya sebesar Rp. 200.000,- ( semula Rp. 300.000,- ). Dana sebesar itu tidak cukup baginya untuk bertahan hidup untuk biaya makan, sewa kamar dan keperluan pribadi. Dari putra/i lainnya, ia tidak menerimanya.

Sudah 3 minggu  kami tidak melihat Pak C mengikuti kebaktian pagi di Gereja kami.
Saya pikir mungkin Pak C menengok putra/inya. Ternyata oleh salah satu putranya yang sudah berkeluarga dan tinggal di daerah Jakarta Selatan, Pak C diminta tinggal bersama.

Selama 3 minggu tinggal d rumah putranya, Pak C merasa tidak betah. Makan minum, tempat tinggal ada, tetapi Pak C merasa kesepian.

Di Jakarta Selatan, Pak C hidup terasing, tidak mempunyai teman untuk sekedar ngobrol dan bergaul. Ia ingin kembali ke kota Cirebon dimana di usia  muda ia  hidup cukup mapan dan masih mempunyai teman / kenalan.

Saya termenung. Pak C mempunyai 10 putra/i.
Salah seorang putranya memberikan Rp. 200.000,-/bulan. Jadi seandainya rata-rata memberi jumlah yang sama, maka minimal Pak C punya Rp. 2 juta/bulan, untuk sewa kamar, makan-minum dll keperluan pribadi.

Kenyataannya: dari 10 putra/i, hanya 1 putra yang mau memberi bantuan dana kepada ayahnya di usia lanjutnya. Seolah mereka tidak menyadari bahwa dulu ketika mereka kecil, telah dirawat, dipelihara, dibesarkan dan dinikahkan oleh orang tuanya. Setelah berumah tangga, masing-masing tidak mau merawat / mau mengerti keinginan orang tuanya.
 
Mereka tidak mengerti bahwa orang yang sudah lanjut usia sulit beradaptasi dengan tempat tinggal yang baru. Lansia lebih suka tinggal di kota asalnya, meskipun hidup seadanya, tetapi punya banyak teman. Ia bisa happy dengan cara hidupnya. Rasa bahagia tidak dapat diberikan oleh orang lain. Rasa bahagia timbul dari dalam hatinya sendiri.

Pak C lebih happy hidup di kotanya meskipun hidupnya sederhana dengan banyak teman dari pada hidup dalam rumah mewah tapi kesepian, tidak punya teman.

Pertanyaan yang timbul: mengapa para anak-anak tidak / kurang mau memperhatikan orang tuanya. Apakah Kacang lupa pada Kulitnya?

---

Kisah hidup seperti Pak C ini tidak hanya satu, masih saya temui lagi kisah yang serupa.

Pak M, 82 th hidup bersama isterinya disebuah rumah sangat sederhana dengan membuka sebuah warung kecil.
Pak M mempunyai 5 putra/i.
Dari salah satu putrinya ( anak bungsu ) ia menerima Rp. 15.000,-/bulan. Putrinya ini seorang Guru SD yang PNS. Ia sendiri masih belum berkeluarga,  hidup di sebuah tempat kost, dan harus mencicil kredit sepeda motor.

Putra yang sulung, seorang pedagang Beras di sebuah pasar tradisionil. Ia tidak pernah mengirim Beras kepada orang tuanya.
Ketika saya bertanya kepada Pak M “Kalau Lebaran, apakah ia memberi salam tempel?”
Pak M menjawab “Salamnya ada, Dok, tetapi tempelnya ( uangnya ) tidak ada!”

Aneh, ya!
Punya anak 5, tetapi yang mau memberi bantuan hanya seorang anak dengan jumlah yang kecil.
Anaknya yang hidup berkecukupan, tidak mau memberi bantuan hidup untuk orang tuanya. Ketika kecil Ortunya mati-matian membawanya  ( dengan pinjaman uang dari tetangganya ) ke RS Umum terdekat agar ia sembuh dari demam tingginya dan hampir mati.
Setelah sembuh, besar,  menikah dan hidup mapan, ia lupa atas jerih payah Ortunya yang sudah sepuh. Kacang lupa akan kulitnya!

---

Hidup yang makin susah, membuat orang bersikap aneh-aneh dan tidak mau membantu orang –orang lain, termasuk Ortunya sendiri yang sudah merupakan kewajiban anak terhadap Ortunya.


Tidak bisa telan kapsul



Kemarin pagi Ibu MK, 40 th datang bersama putrinya S, 12 th. S mengeluh demam sejak 2 hari terutama sore dan malam hari. Kepala berat dan sembelit 2 hari.

Hasil pemeriksaan darahnya menunjukkan jumlah sel-sel darah putih yang rendah ( leukopeni ) dan tes Widal menunjukkan titer TO: 1/320. Dari gejala klinik dan pemeriksaan darah pasien S, saya membuat Diagnosa Thyphoid fever ( Tipes perut ).

Antibiotika pilihan yang terjangkau harganya adalah kapsul Thiamphenikol 500 mg, sehari 3 x 1 kapsul, selama 10 hari dan tablet anti demam.

Ketika saya akan menulis resep obat, Ibu MK berkata “Dok, minta diberikan obat dalam bentuk Puyer saja, sebab putri kami tidak bisa telan tablet atau kapsul.

Gleg…saya termenung. Usia 12 tahun, mestinya sudah pandai menelan tablet atau kapsul. Saya banyak menjumpai pasien-pasien dibawah umur 12 tahun, sudah pandai menelan tablet / kapsul.

Agak aneh juga. Kalau menelan gupalan Nasi aau Baso yang ukurannya lebih besar dapat dikerjakan setiap hari.

Segala kemungkinan di dunia ini dapat tejadi, termasuk tidak dapat menelan kapsul obat.
Saya usulkan kepada Ibu pasien agar dicoba menelan sepotong Pisang yang ke dalamnya dimasukkan kapsul obat.

Ibu MK menjawab “Pernah dicoba, Dok, tapi Pisangnya dapat ditelan, tapi kapsulnya menyangkut di bawah lidah.”

Aneh ya, tapi itulah yang terjadi.
Akhirnya saya berikan 3 botol sirup Thiamphenikol yang dapat diterima oleh pasien dan puyer anti demam.

Ibu MK berkata agar resep obatnya dalam bentuk Puyer saja seperti biasa dilakukan kalau berobat kepada Dokter lain.

Saya menolak usulnya karena puyer Thiamphenikol rasanya pahit sekali sehingga nanti pasien akan menolak meminumnya.

Ketika mereka hendak meninggalkan Ruang Periksa, saya berpesan agar bila sirup tsb habis agar datang kontrole lagi untuk diberi sirup lanjutan, sebab 3 botol sirup tsb tidak akan cukup untuk menyembuhkan Typhoid fever. Kalau diberi resep obat kapsul Thiamphenikol 500 mg sebanyak 30 kapsul dengan dosis 3 x 1 kapsul/hari rasanya lebih praktis.

---

Dalam menangani pasien, harus dilihat kasus per kasus. Kalau pasien tidak dapat menelan kapsul, maka diberikan dalam bentuk obat lain seperti sirup yang dapat diminum pasien.

Sayangnya belum ada antibiotika untuk Typhoid Fever yang dapat diberikan secara single dose ( sekali minum beres ) seperti penyakit G.O. ( Gonorrhoe ) atau belum ada vaksin yang dapat mencegah semua penyakit sekali disuntikkan.-