Senin, Desember 31, 2012

Manager disease



Saat saya masih kuliah di Fakultas Kedokteran tahun 1970-an, penyakit Maag ( Gastritis, Dispepsia ) sering diderita oleh para Manager perusahaan. Penyakit ini sering disebabkan oleh adanya Stress atau terlambat makan. Oleh karena itu di buku teks penyakit yang satu ini disebut sebagai: Manager disease.

Dimasa sekarang, penyakit ini tidak hanya diderita oleh para manager saja, tetapi sudah meluas kepada golongan masyarakat lainnya seperti: murid sekolah, karyawan, ibu rumah tangga dan lain-lain. Penyebabnya mirip dengan para manager.

Stres di dalam kehidupan kita selalu ada. Para murid sekolah, stres karena takut tidak lulus ujian. Para Karyawan, stres karena takut di PHK. Ibu Rumah Tangga, stress karena gaji suami tidak cukup untuk kebutuhan Rumah Tangga setiap bulannya, karena harga kebutuhan pokok rumah tangga kian hari kian melonjak.

---

Suatu sore datang berobat Ibu N, 40 tahun. Keluhannya perut sering nonjok ( nyeri di ulu hati ) sejak 1 minggu yang lalu. Ternyata Ibu N ini menderita Manager disease.

Dalam anamnesa ( wawancara penyakit ), Ibu N tidak sering terlambat makan, meskipun makan seadaanya. Keluarga Ibu N tergolong keluarga kecil dengan 3 orang anak. Yang seorang masih usia Balita, yang dua anak lainnya sudah duduk di bangku Sekolah Dasar. Suami Ibu N adalah karyawan di sebuah toko kelontong dengan gaji yang pas-pasan. Ibu N yang seorang ibu rumah tangga sering mengeluh kepada suaminya bahwa uang yang diterima setiap bulannya tidak mencukupi untuk kebutuhan keluarga. Sudah banyak pinjaman Ibu N di warung-warung tetangga rumahnya yang belum bisa dilunasi.

Ibu N sudah berobat ke Puskesmas terdekat, tetapi penyakitnya belum sembuh juga. Ya selama penyebab dasar penyakitnya belum teratasi maka penyakitnya akan hilang timbul.

Saya menyarankan kepada Ibu N agar ia dapat juga bekerja membantu pendapatan sang suami. Bisa bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang harian lepas ( tidak usah bermalam di rumah majikan ), atau bekerja sebagai tukang cuci pakaian tetangga yang membutuhkan tenaganya. Dengan demikian diharapkan dengan uang lelah yang ia terima dapat membantu keperluan keluarganya. Jadi Stressnya dapat berkurang dan penyakit Manager diseasenya dapat sembuh.

Saya membuatkan resep obat penetral asam lambung dan tablet anti stress yang generik untuk Ibu N ini. Doctor fee tidak saya pungut bagi Ibu N ini. Semoga saran saya dapat dipertimbangkan oleh Ibu N dan semoga penyakitnya lekas sembuh. Amin.-

"Happy New Year 2013"


"Happy New Year 2013"


Minggu, Desember 30, 2012

Surat Keterangan Kematian



Kisah ini terjadi beberapa bulan yang lalu.
Suatu sore sekitar pukul 15.00, saya kedatangan Pak RT kami. Maksud kedatangannya adalah untuk memanggil saya, karena ada tetangga kami yang meninggal dunia.

Dengan berjalan kaki kami menuju rumah pasien yang konon sudah meninggal dunia. Rumahnya terletak di pinggir jalan raya, berjarak sekitar 300 meter dari rumah saya. Menurut salah seorang Bapak yang kami temui di rumah itu. Pak O, 80 tahun sudah dibawa ke rumah duka.

Pak O hidup sebatang kara, tidak berkeluarga. Siang itu datang salah seorang sanak familinya yang datang dari kota Bandung. Maksud kedatangannya adalah untuk menengok Pak O ini. Saat ia tiba di rumah Pak O, pintu rumahnya terkunci dari dalam. Ia minta bantuan Pak RT dan Pak RW setempat untuk membuka dengan paksa pintu rumah Pak O. Rumahnya tidak terawat seperti tidak berpenghuni.

Saat itu Pak O ditemukan di atas tempat tidurnya, dalam keadaan sudah meninggal dunia. Pak rencananya akan dikremasikan. Pengurus Rumah Duka meminta agar dibuatkan Surat Keterangan Kematian dari Dokter setempat. Surat ini diperlukan untuk administrasi penguburan, kremasi atau dibawa ke kota lain.

Saya memeriksa jenasah Pak O yang saat itu sudah berada di dalam peti mati yang belum ditutup. Jenasahnya ditutup oleh selembar kain putih. Saat saya membuka kain iutu, tampak kepala Pak O yang sudah tidak normal alias sudah menjadi tengkorak. Wajahnya tidak berdaging dan berkulit lagi. Wah…ini berarti kematiannya sudah beberapa bulan yang lalu.

Pak O yang malang ini kemungkinan besar sudah meninggal beberapa bulan yang lalu dan tidak ada yang mengetahuinya. Tetangganyapun tidak mengetahui rumah tersebut ada penghuninya atau tidak, sebab sudah beberapa bulan rumah itu tidak terawat.

Kasihan benar Pak O yang hidup sebatang kara ini, meninggalpun tidak ada yang mengetahuinya. Kalau sanak familinya dari Bandung tidak datangpun, tidak akan diketahui kalau Pak O ini sudah meninggal dunia.

Selama menjadi dokter praktik, baru kali itu saya menemui pasien yang sudah menjadi jenasah yang sudah menjadi tengkorak. Segera saya membuatkan Surat Keterangan Kematian bagi Pak O ini.-

Sabtu, Desember 29, 2012

Pasien lama ( 02 )


Kemarin sore datang Pak H, 52 tahun mengantar seorang pemuda, Sdr. R, 18 tahun.

Saya bertanya “Siapa yang mau berobat, Pak?”

Pak H menjawab “Ini, Dok anak saya R.”

Saya bertanya lagi “Namanya siapa ya”

“Namanya R, Dok.”

Saya menjawab “R, putra Bapak yang dulu sering berobat?”

“Benar, Dok. sekarang ia batuk pilek dan ada batuk sudah 3 hari tidak sembuh-sembuh.”

Saya diam sejenak dan berpikir nama R serasa tidak asing bagi saya, sebab Pak H yang pasien saya ini sering mengantar seorang anak Balita sejak usia 3 tahunan datang berobat.

Sekarang ia sudah menjadi seorang pemuda, yang tinggi badannya sama dengan ayahnya, sudah berkumis. Jauh benar penampilannya dengan anak Balita yang 15 tahun yang lalu datang berobat kepada saya.

Kalau sang pasien saat ini sudah besar berarti sang dokter sudah lanjut usianya seperti saya ini. Saya tidak menyangka ada banyak pasien yang sejak lama berobat masih setia datang untuk berobat kepada saya.

----

Pak U pasien lama saya juga yang sejak 23 tahun yang lalu berobat pertama kali kepada saya. Pak U, 70 tahun juga beberapa minggu yang lalu datang berobat. Kisah Pak U ini saya tulis dalam artikel “Pasien lama” di Blog ini.

Selamat pagi.-

Jumat, Desember 28, 2012

Digigit Ular



( foto ilustrasi )




Pada artikel lain di Blog ini saya pernah menulis kasus pasien yang digigit hewan: Tikus dan Kucing.

Kali ini saya menulis artikel kasus pasien digigit hewan lain yaitu Ular.

Kejadiannya sekitar bulan November tahun 2011.
Saat saya buka praktik sore hari, datanglah 2 orang laki-laki, pasien Pak A, 30 tahun yang diantar oleh ayahnya Pak B, 50 tahun.

Pak A saat membersihkan halaman rumahnya yang di pedesaan, ia melihat ada seekor ular warna Hitam sepanjang 50 sentimeteran. Pak A bermaksud mengusir ular itu dengan sapu lidi. Saat ular itu disentuh dengan sapu lidi, ia melonjat dan menggigit jari tangan kanan Pak A.

Pak A kaget tidak menyangka ular itu akan menyerangnya. Gigitan ular itu terlepas setelah Pak A menggoyang-goyangkan tangan kanannya. Ular itu segera menjauh memasuki semak belukar yang ada disekitar itu.

Pak A melihat bekas gigitan ular itu berdarah. Segera Pak A menyedot luka gigitan ular tadi dengan maksud bila ular itu berbisa maka bisa ular dapat dikeluarkan melalui sedotan tersebut.

Pak A melaporkan kejadian itu kepada ayahnya Pak B. Oleh Pak B, pasien diantar ke tempat praktik saya.

Pada pemeriksaan fisik ( tekanan darah dan lain-lain ) dalam batas normal. Pada jari telunjuk tangan kanan Pak A tampak 2 tusukan bekas gigitan ular tadi. Jaringan disekitarnya tampak sedikit edema ( bengkak ) dan hyperemia ( kemerahan ). Tampak Pak A merasa kesakitan pada jari telunjuk kanannya.

Saya mengikatkan sebuah kain pembalut di pangkal jari telunjuk kanan pasien untuk mencegah penyebaran bisa ular ( kalau memang ular itu berbisa ). Saya berharap ular itu tidak berbisa.

Oleh karena saya tidak mempunyai ABU ( Anti Bisa Ular ) yang hanya ada di Rumah Sakit, segera saya membuat Surat Rujukan ke Rumah Sakit Tentara ( ABRI ) yang ada di kota kami untuk minta diberikan suntikan ABU kepada pasien saya ini.

Beberapa hari kemudian dan sampai saat ini Pak A ini tidak datang kembali ke tempat praktik saya. Semoga Pak A dalam keadaan sehat. Amin.-

Digigit Kucing





Suatu sore seorang Ibu, Ibu KS, 50 tahun datang untuk berobat.
Keluhannya ada luka di tangan kirinya.

Saya bertanya “Kenapa tangan Ibu bisa luka?”

Ibu KS menjawab “Habis digigit kucing,Dok.”

Ha…saya terkejut mendengar jawabannya, sebab jarang ada laporan orang digigit Kucing. Kalau digigit Anjing sudah banyak terjadi.

Saya bertanya lagi “Bagaimana ceritanya tangan Ibu bisa digigit kucing? Apakah itu kucing peliharaan Ibu sendiri?”

Ibu KS menjawab “Kucing tetangga, Dok. Saat itu ada seekor Kucing yang masuk ke rumah saya, lalu saya usir. Eh..tidak disangka Kucing itu malah menggigit tangan kiri saya sehingga luka.”

O…rupanya Kucing itu merasa terganggu karena tidak boleh memasuki rumah Ibu KS atau ia sedang mempunyai anak, jadi ia galak dan bersifat agresif.

Beruntung lukanya bukan luka robek sehingga tidak membutuhkan jahitan kulit. Saya membuatkan resep obat antitiokika kapsul, tablet anti nyeri dan tablet anti peradangan. Lukanya dibalut kasa pembalut setelah diberi larutan Betadine.

----

Lain waktu ada juga 2 orang pasien yang digigit hewan lain yaitu Tikus. Pasien yang satu digigit Telinganya dan pasien yang lain digigit ibu jari kakinya. Mereka suatu malam tidur di lantai rumah mereka sebab saat itu musim kemarau sehingga udara cukup panas di daerah kami kota Cirebon. Tidur dilantai dengan alas tikar lebih nyaman. Eh..saat tertidur mereka digigit Tikus. Wah…galak juga ya Tikus-tikus itu. Rupanya mereka sedang lapar dan mencoba memakan Telinga dan Jempol kaki orang yang sedang tidur.

Kamis, Desember 27, 2012

Resepnya hilang



Kemarin sore ada seorang Ibu, Ibu K, 60 tahun datang berobat.
Ia diantar oleh putranya, Pak S, 35 tahun.

Ibu K mengatakan bahwa ia menderita darah tinggi ( Hipertensi ) dan obatnya sudah habis. Ia ingin kontrol tekanan darahnya.

Pada pemeriksaan tekanan darahnya 160/90 mmHg. Tidak ditemukan kelainan lain pada pemeriksaan fisik Ibu K ini.

Saya membuatkan resep obat untuk Ibu K berupa tablet Anti hipertensi tertentu dan tablet Multivitamin. Setelah itu Ibu K dan Pak S mohon pamit kepada saya dan meninggalkan Ruang Periksa saya.

Setengah jam kemudian saat saya sedang melihat siaran TV di Ruang Keluarga terdengar dering telepon. Ternyata Pak S yang menelepon “Selamat sore, Dok, saya Pak S yang tadi berobat mengantar Ibu saya, Ibu K.”

Saya bertanya “Ya, ada apa Pak?”

Pak S menjawab “Dok, kami sudah berada di sebuah Apotik untuk membeli obat, tetapi resepnya kok hilang. Bisakah disebutkan apa nama obatnya?”

Saya berpikir “Hilang…? kemanakah resep obat itu?”

Saya yang duduk di depan meja periksa segera mencari apakah resep obat itu masih ada di atas meja? Benar saja saya melihat selembar resep obat untuk Ibu K. O…rupanya resep obat itu tidak terambil saat mereka pamit dan keluar dari Ruang Periksa saya.

Saya berkata kepada Pak S “Pak, resepnya masih ada diatas meja saya. Mau diambil?”

Pak S menjawab “TIdak usah, Dok. Tolong disebutkan saja apa nama obat yang Dokter tulis untuk ibu saya.” Jarak antara Apotik itu dan tempat periksa saya rupanya cukup jauh, sehingga lebih praktis kalau disebutkan saja apa nama obatnya. Beruntung nama obat itu bisa dibeli tanpa resep dokter.

Saya menyebutkan nama kedua obat dan vitamin yang saya tulis untuk Ibu K.

Pak S berkata lagi “Terima kasih, Dok. Met sore.”

Selama saya menjadi dokter praktik belum pernah menghadapi kejadian serupa ini. Ada pasien yang ketinggalan resep obatnya. Komunikasi via telepon ternyata banyak manfaatnya, paling tidak untuk kejadian kehilangan resep obat ini.-

Terkun



Istilah Terkun atau Dokter dukun pernah beberapa kali saya alami.
Seorang Dukun kalau mengobati seseorang sering kali tidak melihat pasiennya dan langsung memberikan pengobatannya. Kalau saya seorang dokter tidak memeriksa pasien dan hanya mendengar riwayat penyakit seorang pasien, lalu memberikan pengobatan, mirip seorang dukun saya menyebutnya sebagai Terkun atau Dokter dukun. Tentu ini tidak sesuai dengan ketentuan profesi dokter yang seharusnya mendengar anamnesa ( wawancara penyakit ), melakukan pemeriksaan fisik, melakukan pemeriksaan penunjang kalau diperlukan ( laboratorium, Foto, USG, MRI dll yg diperlukan sesuai dengan penyakit yang diderita pasien ). Setelah Diagnosa diketahui, barulah dokter memberikan terapi ( pengobatan ).

Terkun dapat terjadi bila keluarga pasien datang dan memohon dengan sangat agar dokter dapat memberikan terapi kepada pasien yang tidak dapat datang memeriksakan dirinya.

----

Kemarin sore datanglah Ibu N, 68 tahun diantar oleh putranya Pak L, 55 tahun.

“Silahkan masuk, Bu” kata saya mempersilahkan mereka masuk Ruang Periksa.

“Siapa yang mau berobat?”

Ibu N menjawab “Begini Pak Dokter, yang sakit adalah suami saya.”

Saya berkata lagi “Baik, mana suami Ibu?”

“Suami saya tidak mau datang untuk berobat, meskipun kami sudah membujuknya untuk datang berobat.”

Saya pikir “wah seperti anak kecil saja yang takut kalau melihat dokter.”

“Kalau begitu saya tidak dapat memberikan pengobatan untuk suami Ibu” kata saya.

“Tolonglah kami , Dokter.”

“Baiklah, suami Ibu mengeluh apa?” saya ingin tahu lebih lanjut.

“Suami saya kalau buang air besar ada darahnya, sudah beberapa hari ini, Dok” kata Ibu N.

“Ada demam? Darahnya bercampur dengan kotorannya? Atau darahnya menetes setelah buang air besar ( gejala penyakit Wasir )?” saya bertanya lebih lanjut.

“Suami saya tidak menderita demam dan darahnya tidak menetes tetapi bercampur dengan kotorannya” jawab Ibu N.

Saya menduga suami Ibu N ini menderita Radang Saluran Pencernaan, semacam Disentri.
Setelah berpikir sejenak, saya berkata kepada Ibu N “Baiklah , Bu, saya tidak memeriksa suami Ibu, jadi saya sebenarnya tidak begitu yakin akan penyakit suami Ibu. Saya akan memberikan resep obat untuk suami Ibu, kalau dalam 2 hari belum sembuh, ajaklah suami Ibu kesini untuk saya periksa lebih lanjut ya.”

Saya membuatkan resep 2 macam obat berupa kapsul antibiotika dan tablet anti diare untuk suami Ibu N ini. Semoga suaminya sembuh.

----

Kejadian yang serupa juga terjadi pada tahun 1990 an, saat saya masih menjadi Kepala sebuah Puskesmas di sebuah Kecamatan. Pada suatu Rapat Tingkat Kecamatan semua instasi tingkat kecamatan ( kesehatan, pendidikan, kelurahan dsb ) hadir.

Sebelum rapat dimulai, seorang Bapak dari Dinas Pendidikan menghampiri saya.
Pak L, 45 tahun berkata “Dok, saya mau minta tolong.”

Saya menjawab “Apa yang dapat saya bantu untuk Bapak?”

Pak L berkata lagi “Dok, putra kami, umur 2 tahun menderita demam sudah 2 hari, tidak mau turun dari tempat tidur. Ia juga ada batuk, pilek dan tidak mau makan, Dok. Saya mau minta resep obat dari Dokter untuk putra kami. Tolonglah, Dok.”

Saya menjawab “Saya tidak memeriksa putra Bapak, bagaimana mau memberikan resep obat. Dimana rumah Bapak.”

Pak L menjawab “Rumah saya jauh, Dok. 5 km dari sini. Dokter tidak usah datang ke rumah kami. Berikanlah resep obat untuk putra kami, Dok.”

Wah sugesti Pak L ini besar juga yang begitu yakin kalau saya dapat menyembuhkan sakit putranya tanpa melihatnya lagi. Wah saya jadi Terkun lagi ini.

Saya menuliskan resep obat gratis di atas blangko lembaran resep dokter yang selalu saya bawa dalam tas saya.

Saya menyerahkan resep obat generik itu 2 macam, yang satu racikan puyer anti Flu dan yang satu lagi obat antibiotika untuk putra Pak L.

Bulan berikutnya pada Rapat Kecamatan yang rutin dilakukan kami bertemu lagi.
Saya bertanya kepada Pak L “Pak, bagaimana putra Bapak yang sakit bulan lalu, apakah sembuh?”

Pak L menjawab dengan wajah yang cerah “Terima kasih banyak ya, Dok. Putra saya sembuh. Setelah minum obat dari Dokter, besoknya sudah tidak demam lagi, putra kami itu sudah lari-lari lagi. Obatnya terus saya minumkan sampai habis, Dok.”

“Sukurlah kalau begitu. Semoga putra Bapak tetap sehat ya” kata saya.
Saya membatin “Wah, hebat juga ya saya ini, tanpa memeriksa pasien, pasien dapat sembuh. Jadilah saya ini Terkun. Apa boleh buat.”

----

Selamat pagi.-

Rabu, Desember 26, 2012

Hidup sebatang kara


Kemarin sore datang berobat seorang Ibu. Ibu M, 76 tahun ini datang diantar oleh seorang bapak, Pak L, 74 tahun.

Keluhan Ibu M ini kedua kakinya bengkak sejak lama. Saat memasuki Ruang Periksa Ibu M jalan tertatih-tatih, badannya bungkuk, tanda usia sudah lanjut.
Pada wawancara Ibu M berkata bahwa ke 2 kakinya sejak lama ada bengkak ( ia lupa sudah berapa lama ), obat yang diberi oleh Puskesmas sudah habis, ia ingin kontrol tekanan darahnya.

Pada pemeriksaan fisik di dapatkan sudah banyak giginya yang tanggal, tekanan darah: 190/100 mmHg ( tinggi ), otot anggota gerak sudah atrofi ( mengecil ). Ibu M diperiksa sambil duduk di kursi, sebab agak repot kalau naik ke atas bed pemeriksaan, mengingat usia dan keadaan fisiknya.

Ibu M ini menderita Hipertensi ( darah tinggi ).

Pada wawancara Kakaknya, Pak L, mengatakan bahwa Ibu M ini tidak mempunyai suami. Ia mengangkat seorang anak pungut laki-laki yg sudah menikah dan hidup serumah dengan Ibu M. Anak pungutnya ini sibuk bekerja, tetapi ia dan isterinya tidak mau merawat Ibu M. Kok aneh, ya anak ( meskipun anak pungut tidak mau merawat Ibunya ). Pak L berkali-kali mengajak kakak perempuannya ini ( Ibu M ) tinggal dengan keluarga Pak L di kota Bandung, tetapi Ibu M tidak mau. Ibu M tidak mau meninggalkan rumahnya di kota Cirebon ini. Banyak Lansia yang tidak mau meninggalkan rumahnya, meskipun hidupnya dalam keadaan susah.
Saya prihatin sekali melihat hidup Ibu M yang sebatang kara ini, tidak punya suami dan anak kandung.

Setelah menerima resep obat, Pak L dan Ibu M meninggalkan Ruang Periksa saya.

Saya membatin kok ada ya seorang anak yang dipelihara oleh seorang Ibu dan saat diusia senjanya anak pungut ini tidak mau merawat Ibu pungutnya ini.

Minggu, Desember 23, 2012

Merry Christmas 2012


"MERRY CHRISTMAS 2012"

Selasa, Desember 18, 2012

Dering HP yang menjengkelkan




Sore ini datang berobat Pak M, 55 tahun. Pak M ini pasien langganan saya. Ia mengeluh kepalanya pusing sejak 2 hari yang lalu.

Pada pemeriksaan tekanan darahnya 180/80 mmHg. Biasanya tekanan darahnya tidak setinggi ini.

Saya berkata “Pak, tekanan darahnya tinggi nih.”

Pak M bertanya “Berapa, Dok.”

“180/80, Pak” kata saya.

Sesaat kemudian terdengar bunyi suara panggilan telepon. Ternyata itu suara HP Pak M. Di atas bed pemeriksaan Pak M mengeluarkan sebuah HP dari kantong celana panjangnya.
Terdengar suara Pak M “Halo, dari mana ini? Bla…bla…”

Saya yang saat itu sedang melepaskan manset tensimeter, dicuekin oleh Pak M.
Pasien sedang diperiksa, kok mau menerima panggilan dari HP nya. Semestinya ia tidak menjawab dahulu panggilan HP nya itu sebelum Dokter selesai memeriksanya. Saya jengkel juga akan sikap pasien saya ini. Kalau terpaksa ia sedang menunggu panggilan dari seseorang melalui HP nya, bukankah ia bisa berkata “Dok, bolehkah saya bicara melalui HP ini? Atau perkataan yang lainnya yang maksudnya ia minta ijin dari dokternya untuk bicara saat ia diperiksa.

Kejadian ini bukan sekali ini saja tetapi sudah sering terjadi.

Ada pasien lain saat ada panggilan dari HPnya , ia langsung mematikan HPnya dan tidak menghiraukan panggilan dari HP nya. Saya menghargai sikap pasien yang ini.

Selamet sore.-

Sabtu, Desember 15, 2012

Bazar GKI Pengampon


Dalam rangka memperingati Hari Natal 2012, Gereja kami, GKI Pengampon Cirebon mengadakan suatu acara Bakti Sosial berupa Bazar. Bazar ini diadakan pada hari Sabtu tanggal 15 Desember 2012 bertempat di Gedung Pertemuan Yakin.

Jarak antara rumah kami dan Gedung Yakin sekitar 200 meter saja. Oleh karena bertetangga saya mengajak isteri saya pukul 10.00 mengunjungi Bazar ini. Tiba di gedung Yakin kami melihat ada 2 Pendeta Pria, 1 pendeta Wanita gereja kami dan Majelis Jemaat yang merupakan Panitia dari Bazar ini.

Setelah bersalaman dengan para Panitia, kami mulai melihat-lihat semua stand yang ada di dalam gedung ini. Pertemuan kami ini berlangsung santai, ramah dan diselingi ketawa.

Disebelah kiri ada semacam kios yang menjual dengan harga murah paket sembako berupa: Beras, Kecap, Gula pasir, dan Minyak goreng. Kami melihat banyak juga masayarakat yang membeli paket sermbako ini. Mereka adalah masyarakat di sekitar gedung Yakin. Ada beberapa Ibu-ibu yang saya kenal adalah tetangga rumah kami yang membeli paket sembako ini. Kios ini paling banyak dikunjungi oleh masyarakat.

Di stand makanan kami membeli 1 porsi Batagor ( Baso Tahu Goreng ), 1 bungkus Lunpia goreng dan 1 gelas plastik Es teh. Sambil duduk di kursi yang tersedia kami menikmati makanan yang kami beli ini. Kami ngobrol dengan beberapa Ibu yang kami kenal adalah anggota GKI Pengampon.

Selain Batagor, ada juga stand yang menjual: Nasi pecel, Snack berupa kue-kue, Lomie ( mie diberi sayur Kangkung dan disiram kuah kecap yang ditaburi irisan daging ayam ), Air teh dingin dan lain sebagainya.

Diatas podium kami mendengar suara musik dari sebuah band yang dimainkan oleh para Remaja GKI Pengampon. Masyarakat yang membeli paket Sembako terus berdatangan, maklum harganya cukup murah.






Pukul 11.00 kami pamitan untuk pulang ke rumah.

Rabu, Desember 12, 2012

Banyak pasien?



Sore ini datang serombongan tamu yang datang ke Ruang Tunggu pasien.
Terdengar bunyi pintu sebuah Minibus tertutup dan ada sekitar 6 orang memasuki Ruang Tunggu.

Saya membuka Pintu Ruang Periksa dan mempersilahkan pasien, Pak S, 34 tahun. Ia diantar oleh isterinya dan Ibundanya. 3 orang ini masuk ke Ruang Periksa dan 3 orang yang lain duduk di Ruang Tunggu. Mereka ternyata cucu dari Ibunda Pak S dan supir Minibus tadi.

Kalau dilihat dari luar sepertinya saya mempunyai banyak pasien, sebenarnya pasiennya seorang, tetapi yang mengantarnya ada banyak. Selesai pasien berobat merekapun serentak meninggalkan Ruang Tunggu pasien. Ruang Tunggu pasien sepi kembali.

Hal ini biasa terjadi bila ada pasien dari jauh ( Kabupaten ) yang datang berobat. Ada banyak pengantar yang menyertai pasien. Mungkin juga mereka sekalian shopping atau sekedar jalan-jalan.

Keluhan Pak S demam sejak 1 minggu yang lalu terutama pada malam hari. Saya membuat diagnose: observasi febris dengan diferensial diagnosis: Tipes perut dan Infeksi Saluran Kencing. Saya memberikan resep obat: kapsul antibiotika, tablet penurun demam dan tablet multivitamin.

Semoga lekas sembuh, Pak.-

Sabtu, Desember 08, 2012

Tidak suka makan sayur



Sore ini datang Pak D, 35 tahun. Keluhannya nyeri ulu hati dan sekitar pusar sejak 2 hari yang lalu.

Pada pemeriksaan fisiknya dalam batas normal, hanya ada sedikit nyeri tekan daerah ulu hati ( maag ) pada pemeriksaan palpasi ( pemeriksaan perabaan ).

Pak D menderita Dispepsia dan sembelit ( susah buang air besar ).

Saya bertanya kepada pasien “Kalau buang air besar berapa hari sekali?”

Pak D menjawab “Kadang 2 hari, kadang 3 hari sekali, Dok.”

Saya bertanya lagi “Apakah anda suka makan sayur saat makan?”

Ia menjawab “Jarang, Dok.”

“Apakah anda tidak suka sayur atau buah-buahan?”

“Suka, Dok tapi jarang makan.”

Saya berkata lagi “Iya mungkin anda sibuk atau tidak ada yang memasak makanan untuk anda. Begini saja, masukkan segala sayuran yg segar misalnya Bayam, Brokoli, Tomat, Apel dll lalu diblender. Minumlah pakai sedotan plastik yang besar. Minumlah setiap pagi setelah anda sarapan. Sayuran dan buah-buahan itu sumber serat nabati dan juga sumber Vitamin A, Vitamin C juga sumber Mineral yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita. Kalau tidak makan sayur maka pencernaan akan terganggu. Bila makan sayuran maka proses buang air besar akan lebih mudah karena isi usus banyak mengandung serat nabati. Serat nabati ini merangsang gerakan peristaltik usus yang akan mendorong isi usus ke anus setiap pagi.”

Pasien mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.

Saya membuatkan resep obat untuk Dispepsi dan tablet yang mengandung Enzym untuk membantu pencernaannya.

Jumat, Desember 07, 2012

Pasien minta suntik


Hari Jumat, 7 Desember 2012, pagi hari sejak pukul 06.00 turun hujan. Hujan terus turun sampai siang dan sore hari. Jemuran pakaian tidak bisa kering.

Sekitar pukul 08.00 datang berobat Pak M, 55 tahun. Ia naik sepeda motor dan memakai jaket. Dihujan gerimis ia masih mau bepergian ke luar rumah.

Pak M ini pasien langganan saya, ia menderita Flu berat, mungkin karena cuaca dingin. Selesai diperiksa Pak M berkata “Dok, biasa saya minta disuntik.”

Pasien langganan saya ini memang kalau berobat selalu minta disuntik alasannya agar lekas sembuh. Kalau saya berkata “Tidak usahlah, minum obat saja pasti sembuh.”
Ia menolak dan berkata “Dok, saya minta disuntik, titik.”

Wah... ngotot juga nih pasien yang minta disuntik. Saya beri suntikan vitamin B di bokongnya agar badannya segar dan nafsu makannya baik. Setelah disuntik sang pasien tersenyum lebar, dengan keyakinan sakitnya cepat sembuh.

Semoga cepat sembuh, Pak.-

Kamis, Desember 06, 2012

Lebih mudah mencari Dokter dari pada mencari Tukang



Sore hari 2 hari yang lalu turun hujan besar di kota kami, kota Cirebon.

Saya memeriksa apakah ada plafond ( langit-langit ) rumah yang bocor.
Ternyata plafond di kamar mandi ada bercak air yang cukup banyak, berarti ada kebocoran dari atap rumah. Mungkin ada genting yang retak atau wuwungan atap yang retak sehingga air hujan dapat masuk dan membasahi plafond.

Malam itu juga saya mencari Tukang untuk membetulkan atap rumah kami. Ada 3 orang tukang bangunan rumah yang pernah dipanggil oleh saya untuk memperbaiki rumah. Nomer HP mereka saya catat. Semua Tukang yang saya hubungi menyatakan tidak bisa bekerja di rumah kami sebab masih bekerja di tempat lain. Ada seorang Tukang yang dapat membantu saya tetapi di hari Minggu. Hari Minggu berarti 4 hari lagi. Bagaimana kalau nanti malam turun hujan dan plafond akan makin rusak.

Saya membatin “Susah juga mencari Tukang. Lebih mudah mencari Dokter dari pada mencari Tukang.”

Keesokan harinya saya berbicara dengan Pak O, 50 tahun. Ia adalah seorang Tukang Becak yang biasa mangkal dekat dengan rumah kami. Dahulu sebelum menikah pekerjaannya adalah Tukang juga. Pak O bersedia membantu saya untuk memperbaiki atap rumah kami.

Setelah diperiksa ternyata ada wuwungan atap rumah yang retak akibat panas pada musim kemarau. Dengan menggunakan cairan merk “N” Pak O ini memperbaiki atau mencat bagian yang retak. Dalam waktu sekitar 1 jam selesai sudah tugas Pak O. Tidak sampai 1 hari bekerja, tugas memperbaiki wuwungan itu sudah selesai.

Saya lega, kalau nanti malam turun hujan semoga tidak ada air yang membasahi plafond rumah kami lagi.

Rabu, Desember 05, 2012

Pasien gratis



Pagi ini sekitar pukul 10.00 saya bermaksud membeli sebuah Kran ledeng di sebuah Toko Besi, tetangga saya.

Saat saya memasuki Toko Besi tersebut, saya bertemu dengan Ny. B, 55 tahun yang sedang duduk di dekat pintu masuk Toko tersebut. Ny. B adalah ibunda pemilik Toko ini. Sudah lama saya mengenal keluarga ini yang sering datang berobat kepada saya.

Melihat kedatangan saya , Ny. B berkata “Wah…kebetulan nih ada dokter. Dok, lutut kanan saya sering nyeri dan saya tidak bisa jongkok karena nyeri. Apa ya obatnya, dok?”

Saya memeriksa lutut kanan dan kiri Ny. B, Saat digerakkan lutut kanannya terasa nyeri. Saya pikir Ny. B sudah mulai Osteoporosis ( keropos tulang ) dan ada Osteoarthritis (OA ). Saya menuliskan resep di blangko resep yang selalu saya bawa dalam dompet saya untuk keperluan mendadak seperti saat ini. Saya menuliskan tablet pain killer dan tablet yang mengandung Glukosamin dan Chondroitin sulfat untuk Ny. B ini.

“Ini Nyonya obatnya, nanti dibelikan di Apotik terdekat ya. Semoga membantu,” kata saya sambil menyerahkan resep obat tersebut.

Ny. B menjawab “Terima kasih sekali, dokter,” sambil tersenyum kegirangan. Ia dapat resep gratisan dari saya.

Setelah mendapatkan Kran ledeng yang saya maksudkan, saya membayarnya dan langsung meninggalkan Toko Besi itu. Pagi ini saya sudah membantu orang lain lagi. Saya tersenyum sambil berjalan kaki pulang ke rumah.

Selasa, Desember 04, 2012

Pasien tidak datang


Pagi ini hari Selasa, 4 Desember 2012 pukul 06.15 saat saya membuka Inbox saya di gmail.com, terdengar panggilan telepon. Saya bertanya di dalam hati siapa ya yang menelepon pagi-pagi begini?

“Halo, met pagi.” kata saya.

“Dok, apakah benar ini tempat praktik dr. H ( isteri saya )?” terdengar suara seorang wanita.

Saya menjawab “Benar, Bu. Ada ada ya?”

“Saya mau daftar untuk berobat pagi ini.”

“Baik nama pasien siapa, umur berapa dan dimanaq alamatnya,’ saya bertanya.

“Nama pasiennya adalah I, umur 30 tahun, Jalan Anu nomer sekian.”

Saya berkata lagi “Baik, datanglah pukul 07.00 pagi ini.”

“Dapat nomer berapa, Dok.”

Saya menjawab “Nomer satu, Bu.”

“Terima kasih, Dok.” Ia memutuskan pembicaraan.

---

Ditunggu sampai pukul 09.30 sang pasien tidak datang juga. Kejadian seperti itu bukan sekali terjadi tetapi sudah berulang-ulang terjadi di lain waktu. Lalu saya bertanya dalam hati sebenarnya apa maksud mereka menelepon ke rumah kami dan mendaftarkan pasien yang ingin berobat, tetapi pasien tidak datang juga.

Kalaupun tidak jadi datang, mengapa tidak menelepon ulang dan mengabarkan bahwa pasien tidak jadi berobat. Mungkin tidak ada pulsa / pulsanya habis? Saya tidak tahu.

Selamat siang.-

Pasien lama


Hari Senin, 3 Desember 2012 sekitar pukul 14.00 saya menerima panggilan telepon dari seorang wanita.

Ia bertanya “Apakah ini tempat praktik dokter Basuki?”

Saya menjawab “Benar, ada apa Bu?”

“Saya ingin mendaftarkan ayah saya untuk berobat sore ini. Jam berapa buka praktiknya, dok?”

Saya menjawab lagi “Baik, nama pasien siapa, berapa umurnya dan dimana alamatnya. Praktik buka mulai pukul 16.00”

Ia menjawab “Pak U, umur 70 tahun, alamat di Jalan Anu nomer sekian, dok.”

“Baik sudah saya catat, Bu” saya menjawab lagi.

---

Pukul 16.15 datang Pak U, 70 tahun ke tempat praktik saya. Secara fisik Pak U masih baik, ia datang tanpa tongkat dan tidak dibantu berjalan oleh putranya yang mengantar datang ke tempat praktik saya.

Saya bertanya kepada pasien saya ini “Pak, apakah Bapak sudah pernah berobat kepada saya?”

Pak U menjawab “Sudah, dok. Ini Kartu Berobat saya.” Sambil menyerahkan sebuah Kartu Berobat warna putih yang pernah saya berikan saat pasien berobat kepada saya.
Saya melihat bahwa ia pernah sekali berobat pada tahun 1989. Setelah tanggal itu tidak ada cacatan ia berobat lagi, berarti ia hanya sekali pernah datang berobat kepada saya yaitu pada tahun 1989. Saya kagum kepada Pak U yang setia datang berobat kepada saya. Setelah tanggal tersebut mungkin juga Pak U pernah berobat kepada Dokter lain.

Pada tahun 1989 Pak U ini menderita Bronchitis dan terlihat obat-obat yang pernah saya tuliskan untuk Pak U ini. Saat ini Pak mengeluh ada rasa tidak nyaman di daerah ulu hatinya ( maag ).

Setelah saya periksa, saya memberikan resep obat untuk Pak U. Saya memberikan diskon doctor fee sebesar 40 % kepada Pak U ini. Pasien saya yang setia ini berobat sejak 23 tahun yang lalu, suatu kurun waktu yang cukup lama.

Saya bertanya kepada diri sendiri “Mengapa ada pasien yang sudah lama, masih mau datang kepada saya untuk berobat?” Mungkin sudah cocok atau ada sebab lain. Saya tidak tahu.-

Minggu, Desember 02, 2012

Kejang demam


Hari ini, Minggu pukul 14.30, ada seorang Ibu, Ibu M, 45 tahun berteriak memanggil-manggil saya “Dokter, dokter, tolong…” “ Dokter, tolong anak saya...”

Saya yang sedang melihat siaran TV, segera menghampiri Ibu M sambil berkata “Ada apa, Bu?”

“Tolong Dokter dapat ke rumah saya. Anak saya kejang.”

“Baik, saya akan mengambil peralatan saya dahulu” kata saya. Saya masuk ke dalam Ruang Praktik untuk mengambil Tas peralatan.

Saya pamitan kepada isteri saya bahwa saya akan dipanggil pasien ke rumahnya.
Ibu M mengendarai sepeda motornya dan saya diboncengnya, persis seperti naik ojek.
Rumah Ibu M sekitar 300 meter dari rumah kami.

Setiba di rumahnya saya melihat ada banyak warga setempat. Maklum ibu M ini membuka usaha warnet.

Saya melihat ada seorang anak laki-laki, S, umur sekitar 2 tahun sedang dipangku oleh seorang ibu yang lain. Seorang laki-laki, telunjuknya ada di dalam mulut pasien. Mungkin maksudnya untuk mencegah agar lidah pasien tidak tergigit. Saya minta sebuah sendok dan sehelai sapu tangan. Gagang sendok dibungkus sapu tangan tadi dan dimasukkan ke mulut sang pasien, untuk menggantikan telunjuk laki-laki tadi.

Tampak ke 2 lengan pasien kaku dan bergerak-gerak tidak teratur ( kejang ). Pasien tidak sadar.

Saya segera memasukkan obat anti kejang S, 5 mg, per rectum ( ke dalam lubang anus ). Setelah itu ke 2 bokong pasien dirapatkan agar cairan anti kejang tidak keluar lagi. Saya minta laki-laki tadi untuk memegangi bokong pasien. Tidak berapa lama pasien berteriak ( sadar?) dan terdengar ucapan syukur dari warga yang hadir di ruangan tadi.

Saya segera membuat resep obat berupa puyer anti panas dan anti kejang serta sebotol Antibiotika sirup.

5 menit kemudian pasien tampak lemas dan tertidur. Saya berkata kepada Ibu M, orang tua pasien bahwa pasien S sudah diberi obat anti kejang melalui lubang anusnya dan sekarang sedang tertidur, kejangnya reda. Nanti kalau pasien sadar, berilah minum memakai sendok. Lihatlah apakah ia sudah dapat menelan air minum tersebut yang menunjukkan refleks menelannya sudah berjalan kembali dan pasien sudah sadar. Kalau sudah dapat minum, berikanlah sirop dan bubuk puyer untuk mencegah demam dan kejang lagi.

Menurut Ibunya, pasien ini mendadak demam. Kemarin tidak apa-apa. Saat demam timbul kejang yang membuat panik orang tuanya yang segera memanggil dokter.

Penyebab demamnya saya tidak tahu. Mungkin pasien menderita ISPA ( Infeksi saluran Pernafasan Akut ), dan ada sedikit demam. Demam ini membuat kejang, sehingga disebut Kejang demam ( febris confulsi ).

Pada kasus demikian biasanya ambang kejangnya rendah, begitu timbul sedikit demam, pasien sudah menderita kejang.

Saya melihat pasien tampak tertidur dan saya mohon pamit. Semoga penyakit pasien S segera pulih kembali. Amin.

Selamat siang.-

Kamis, November 29, 2012

Chest pain




Siang ini sekitar pukul 14.30 datang Pak M, 30 tahun ke rumah kami. Maksud kedatangannya adalah untuk memanggil saya dan minta tolong untuk memeriksa ayahnya yang sedang sakit.

Dengan dibonceng sepeda motornya saya meluncur ke rumah pasien yang berjarak sekitar 400 meter dari rumah kami. Setiba di rumah pasien, Pak MA, 58 tahun, tampak berbaring di atas kasur yang diletakkan di atas lantai ruang tengah dari rumah pasien.

Putrinya mengatakan bahwa ayahnya ini tadi sempat pingsan selama beberapa menit ( mungkin tidak kuat menahan sakit dadanya ). Keluhan pasien adalah merasa sesak pada daerah dada sebelah kiri. Kontak dengan pasien tidak berjalan baik sebab pasien tampak merasa tidak nyaman.

Pada pemeriksaan tekanan darah terukur 120/80 mmHg, bunyi pernafasan normal, bunyi jantung tampak tachycardia ( denyut jantung lebih cepat dari normal ). Saya menduga bahwa pasien saya ini menderita Chest pain yang diakibatkan oleh Acute Myocard Infarc, suatu serangan jantung. Pasien harus segera ditolong di Rumah Sakit dengan fasilitas yang memadai. Pasien memerlukan pemeriksaan penunjang ECG ( Electro Cardio Graphy ), pemberian infuse, pemberian oksigen. Setelah diketahui Diagnose ( penentuan penyakit ), maka dapat segera diberikan pengobatan untuk mengatasi keadaan pasien ini.

Saya mengatakan kepada Keluarga pasien ( isteri, putra dan putrinya ) bahwa pasien mesti dibawa ke Rumah Sakit untuk mendapatkan pertolongan selanjutnya. Segera saya membuat Surat Rujukan ( Pengantar ) pasien ke UGD ( Unit Gawat Darurat ) Rumah Sakit Umum yang ada di kota kami.

Saya kembali ke rumah dengan diantar oleh Pak M.

Dalam perjalanan Pak M bertanya kepada saya “Apakah ayah saya masih dapat tertolong, Dok?”

Saya menjawab “Kalau segera ditangani oleh Dokter di Rumah sakit, semoga pasien dapat tertolong. Kita berdoa saja.”

Kasus AMI ini disebabkan karena adanya penyempitan pembuluh darah Koroner ( pembuluh darah arteri yang memberikan aliran darah dan oksigen kepada otot jantung / myocard ). Penyempitan ini disebabkan oleh adanya plak, penimbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah arteri. Mungkin sekali pak MA ini jarang melakukan medical check up sehingga kondisi kesehatannya tidak terkontrol.

Semoga Pak MA dapat pulih kembali kesehatannya. Amin.-

Selasa, November 20, 2012

Obatnya kosong


Dalam 2 hari terakhir ini saya setiap hari menerima telepon dari 2 Apotik yang mengatakan bahwa obat yang saya resepkan yaitu obat merk “I”, tidak ada.

Sang petugas Apotik bertanya “Isinya apa ya, dok.”

Obat itu sebenarnya kaplet yang berisi vitamin B1, B6, B12 dan Folic acid.

Menurut Detailer ( Medical representative ) nya obat itu sudah ada di Apotik-apotik.
Oleh karena tidak ada dalam persediaan, maka saya jawab “Ganti saja dengan tablet merek yang lain”.

Saya sudah memberitahukan kepada Detailernya agar dia maklum bahwa kaplet “I” itu tidak ada di 2 Apotik tadi.

Dia menjawab “Baik, dok, nanti diperhatikan.”

---

Jengkel juga saya kalau mendapat laporan bahwa obat tertentu yang saya resepkan tidak ada ( kosong ), padahal menurut Detailernya sudah ada hampir disemua Apotik. Beruntung masih ada tablet merk yang lain yang isinya hampir sama.

Selamat malam.

Minggu, November 11, 2012

Pasien


Sikap pasien bermacam-macam. Ada yang menghargai dokternya dan ada juga yang tidak menghargai dokternya, meskipun para pasien sudah mendapatkan pelayan kesehatan dari dokternya

---

Suatu sore saat saya buka praktik, ada seorang pemuda yang menghendaki agar saya dapat datang ke sebuah rumah di jalan Anu nomer sekian. Rupanya pemuda ini orang suruhan dari keluarga pasien yang bermaksud memanggil seorang dokter.

Saat saya tiba di rumah pasien, pemuda tadi langsung menghilang. Seorang Ibu menemui saya dan berkata bahwa suaminya yang sakit sudah meninggal dunia. Tampak di ruang depan rumahnya banyak tetangga yang berdatangan.

Kalau sudah meninggal dunia, ya saya tidak dapat berbuat banyak untuk menolong pasien. Ibu tadi tampak cuek terhadap saya, yang dipanggil datang ke rumahnya.

Jangankan memberikan doctor fee, bilang terima kasih saja juga tidak.
Saya maklum akan kedaaan ini, mungkin Ibu tadi sedang bingung dan sedih ditinggal pergi oleh suaminya. Segera saya meninggalkan rumahnya untuk kembali buka praktik.

---

Beberapa tahun yang lalu, suatu senja datang berobat sepasang suami-isteri. Mereka turun dari sebuah Sedan yang masih baru. Pakaiannyapun terbuat dari bahan yang lebih bagus dari pakaian saya.

Rupanya sang suami yang hendak berobat. Suaminya menderita Flu berat. Setelah diperiksa dan dibuatkan sehelai resep obat, sang isteri bertanya kepada saya “Berapa, Dok?”

Saya menjawab “Dua puluh ribu.”

Wanita ini berkata lagi “Dulu kan sepuluh ribu, Dok.”

Saya menjawab “Iya benar beberapa tahun yang lalu harga beras juga masih murah. Sekarang harganya sudah 4 kali lipat. Jadi dua puluh ribu, tidak mahal, ada penyesuaian.”

Wajah wanita cemberut, tampak tidak puas akan jawaban saya.

Lalu saya berkata lagi “Kalau Ibu tidak punya uang dan tidak ikhlas, Ibu tidak usah bayar. Belilah obat di Apotik dan semoga lekas sembuh suami Ibu.”

Wanita ini terkejut akan ucapan saya ini dan segera mengambil uang sebuah lembaran uang dengan nilai seratus ribu rupiah.

“Ya sudah, ini Dok uangnya,” samba menyodorkannya kepada saya.
Saya bahkan bingung, sebab tidak ada uang kembaliannya. Sore itu mereka adalah pasien pertama saya.

“Pakai uang pas saja,” saya menjawab.

Setelah mereka meninggalkan Ruang Periksa, saya membatin, mereka orang yang kaya, tetapi masih menawar doctor fee. Kalau mereka orang miskin, saya sering menggratiskan doctor fee dan mereka mengucapkan terima kasih kepada saya.

---

Seorang Ibu diantar oleh putrinya datang berobat. Sang pasien menderita batuk-batuk sudah 1 minggu. Setelah pasien diperiksa, saya membuatkan resep obat.

Sang pasien berkata “Kami tidak punya uang, Dok, tapi ingin berobat disini. Uangnya hanya ada segini,” sambil menyodorkan uang selembar sepuluh ribuan.

Saya berkata “Tidak apa-apa Ibu. Semoga lekas sembuh ya. Belilah obat generik ini di Apotik terdekat dan pakailah uang ini untuk bayar obatnya,” sambil menyerahkan kembali uang yang Ibu tadi serahkan kepada saya.

Saya melihat ada tetesan air mata yang keluar dari mata Ibu tadi. Ia berkata “Dok, dokter bukannya dapat uang, tetapi malah memberi uang kepada saya.”

“Tidak apa-apa, Bu. Semoga Ibu cepat sembuh ya,” kata saya sambil membukakan pintu Ruang Periksa.

---

Itulah beberapa kisah yang pernah saya alami dalam melayani kesehatan masyarakat.

Selamat siang.

Senin, Oktober 01, 2012

Mencari bantuan dana


Sore hari sekitar pukul 18.30 dua hari yang lalu saat saya menerima kedatangan seorang Mecical representative ( medailer ) suatu perusahaan obat, terdengar bel pintu ruang tunggu.

Saat itu saya menemui seorang pria usia sekitar 3o tahunan.
Saya bertanya kepadanya “Apakah anda ingin berobat? Silahkan tunggu dahulu, saya sedang ada tamu” sambil mempersilahkan pria itu duduk di Ruang tunggu.

Pria itu berkata “ Rumah saya di jalan Anu, Perumnas.”

Saya tidak mengerti dengan jawabannya itu. Ditanya A jawabnya B.

Saya berkata lagi “Maksud anda, mau apa?”

Tampak wajahnya seperti kebingungan menatap wajah saya. Rupanya ia malu untuk menyampaikan maksud kedatangannya.

Saya bertanya lagi “Pak, ada keperluan apa?”

Dia menjawab “Isteri saya baru melahirkan di Bidan Anu,” sambil tersenyum.

Saya masih tidak mengerti dengan jawabannya itu. Lalu saya berpikir “Isterinya baru melahirkan, lalu suaminya datang kepada saya. Mungkin dia mau minta sumbangan untuk biaya melahirkan.” Tempat praktik saya dengan daerah Perumnas, cukup jauh, sekitar 3 km. Lokasi rumahnya cukup jauh untuk minta sumbangannya.

Saya berkata lagi “O.. isteri anda baru melahirkan dan sekarang anda mau minta sumbangan untuk biaya melahirkan?

Tampak wajah pria itu tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Saya memberikan sejumlah uang untuk keperluan biaya melahirkan.

Setelah mengucapkan terima kasih, pria itu meninggalkan tempat praktik saya.
Pria itu rupanya berkeliling kota, untuk mencari dana untuk biaya isterinya yang baru melahirkan.-

Selasa, September 25, 2012

Wasir




Penyakit Wasir ( haemorrhoid ) merupakan pelebaran pembuluh darah vena di daerah Rectum ( usus besar dekat anus ). Haemorrhoid dibagi 2 yaitu: haemorrhoid interna ( di dalam rectum ) dan haemorrhoid externa ( di luar Rectum ).
Penyebabnya adalah: herediter ( keturunan ), pekerjaan ( banyak duduk, banyak berdiri ) dan mekanis ( bendungan aliran darah di daerah panggul misalnya pada kehamilan ).

Gejala yang paling sering terjadi adalah keluarnya darah saat buang air besar. Darah yang keluar adalah darah segar. Perdarahan ini terjadi karena pecahnya pembuluh darah vena yang melebar. Susah buang air besar dapat menyebabkan perdarahan ini. Oleh karena itu harus diusahakan agar buang air besar dapat terjadi setiap hari dan tidak keras. Ini dimungkinkan bila mengkonsumsi Sayuran dan Buah-buahan setiap hari.

Pelebaran pembuuh darah vena ini memberikan gejala adanya bendjolan pada dinding Rectum yang dapat keluar dari Anus. Pada stadium ringan, benjolan ini dapat masuk kembali setelah buang air besar, tetapi pada stadium yang lebih berat benjolan ini tidak dapat masuk spontan, tetapi harus didorong kembali ke dalam. Pada stadium akhir benjolan ini tidak dapat dimasukkan kembali dan mesti dilakukan tindakan operasi.

---

Beberapa bulan yang lalu datang berobat Ny. A, 28 tahun. Ia sedang hamil 7 bulan. Keluhannya terdapat benjolan disekitar Anus yang tidak nyeri dan tidak ada perdarahan setelah buang air besar.

Pada pemeriksaan tampak 2 benjolan sekitar Anus sebesar biji jagung.
Pada anamnesa ( Tanya jawab ) Ny. A mengatakan bahwa Ibunya juga menderita Wasir. Saat ini Ny. A sedang hamil 7 bulan sehingga pada daerah panggul terdapat bendungan aliran darah di daerah panggul yang dapat menyebabkan pelebaran pembuluh darah vena setempat. Setelah selesai kehamilannya ( melahirkan ) maka biasanya benjolan ini akan menghilang dengan sendirinya.

Ny. A dianjurkan agar mengkonsumsi Sayuran dan Buah-buahan setiap hari. Serat tumbuhan ini akan membuat proses buang air besar menjadi lebih mudah sehingga mengurangi bendungan yang terjadi akibat isi usus yang tidak keluar.

Kemarin datang berobat Tn. K, 30 tahun dengan keluhan Flu. Dalam percakapan dengan Tn . A, saya mendapat informasi bahwa isterinya yaitu Ny. A tadi sudah melahirkan dan benjolan sekitar Anusnya sudah menghilang. Saya bersyukur akan hal ini.

Rabu, September 19, 2012

Konstipasi






Kemarin sore datang berobat Pak A, 82 tahun.
Keluhan Pak A adalah sudah 2 hari tidak bisa buang air besar

Konstipasi ( sembelit, susah buang air besar ) sering dialami oleh orang yang jarang makan Sayur / Buah-buahan. Pada usia lanjut Konstipasi juga sering dikeluhkan. Hal ini disebabkan karena gerakan peristaltik usus menurun, sehingga isi usus lambat menuju ke lubang anus.

Dari Tanya jawab dengan Pak A, ia mengaku setiap makan selalu ada Sayuran ( Kangkung, Bayam dan lain-lain ) dan setelah makan ia juga makan buah Pisang. Rupanya dietnya itu tidak membantu proses buang air besarnya.

Pada pemeriksaan fisik: tidak ditemukan kelainan yang berarti selain, mata yang menderita Katarak ringan.

Untuk Pak A, saya memberikan resep 2 tablet laksan untuk memudahkan buang air besar dan tablet Enzym, untuk membantu proses pencernaannya. Selain itu juga diberikan advis minum secangkair Susu / 1 Sendok makan Madu setelah makan malam

Kamis, September 06, 2012

Rekreasi warga Panti Wreda Kasih















Tanggal 3 September 2012 adalah hari yang ditunggu-tungu oleh warga Panti Wreda Kasih, karena hari itu adalah hari dimana mereka akan mengadakan rekreasi. Pengurus Panti membuat rencana setahun 2 kali akan mengadakan rekreasi bagi Opa dan Oma yang tinggal di Panti. Mereka yang sudah berusia lanjut merasa senang bila diajak rekreasi oleh Pengurus Panti.

Yang turut dalam acara ini ada sebanyak 8 orang Opa dan Oma, sedangkan 3 orang Oma lainnya tidak ikut karena keadaan fisiknya tidak memungkinkan ikut. Ada 3 orang karyawan yang turut serta. 2 orang Pendeta dan isteri & sebanyak 10 orang Pengurus Panti. Total 25 peserta termasuk Supir Minibus Gereja kami.

Lokasi yang dituju adalah daerah Linggarjati dan Sangkanurip, Kabupaten Kuningan yang berudara sejuk. Lokasi ini sejauh sekitar 20 km dari kota Cirebon dimana Panti ini berada.

Pukul 15.00 para peserta sudah siap berkumpul di gedung Panti. Kendaraan yang dipakai adalah 1 Minibus milik Gereja kami dan 3 sedan pribadi milik Pengurus Panti. Sebelum berangkat kami berdoa dahulu yang dipimpin oleh Pak H, selaku Ketua Panti.

Perjalanan kendaraan kami berjalan mulus. Tujuan yang pertama adalah Vila milik keluarga pak S ( anggota Jemaat Gereja kami ) yang berlokasi di daerah Linggarjati yang berdekatan dengan gedung Pertemuan Linggarjati. Vila ini sebenarnya disewakan bagi para turis yang datang berkunjung ke Linggarjati. Saat itu vila ini kosong dari para tamu. Ada belasan kamar yang bersih dan nyaman untuk bermalam. Juga tersedia kolam renang yang saat itu kebetulan sedang tidak ada airnya.

Di sebuah Aula kami ngobrol dan melepaskan lelah. Ibu E selaku Pembawa acara segera memulai acara. Yang pertama adalah bernyanyi. Oma T turut menyumbangkan suaranya yang serak-serak basah.

Acara lainnya adalah memasukkan bola-bola kecil dari suatu lokasi ke lokasi lainnya yang berjarak 5 meter, dalam waktu 15 hitungan. Siapa yang paling banyak memindahkan bola, dialah pemenangnya. Seru juga para Opa dan Oma yang turut serta dalam acara ini.

Acara berikutnya adalah 3 peserta sambil memegang sebuah sendok plastik yang berisi 2 buah kelereng, berjalan sejauh 5 meter. Siapa yang paling cepat tiba di garis finish dialah pemenangnya. Terdengar suara tawa para peserta dan para Pengurus.

Pada akhir acara yang seru adalah semuanya mendapat hadiah berupa sebuah kotak yang dibungkus kertas coklat. Jadi tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Semua peserta gembira karena semuanya mendapat hadiah.

Pukul 17.00 rombongan segera menuju Rumah Makan Laksana yang berlokasi di daerah Sangkanurip. Gedung Rumah Makan ini baru saja direnovasi sehingga tampak bersih , luas dan nyaman untuk makan malam. Meja makan sudah disiapkan dalam susunan memanjang yang cukup menampung 25 orang tamu.

Sebelum kami datang sudah ada sebagian Pengurus Panti yang memesan tempat dan hidangan yang akan disantap terlebih dahulu. Ketika kami datang, pesanan kami tidak lama kemudian disajikan. Hidangannya berupa Nasi Putih, Ikan bakar, Sop Ikan ( satu mangkuk untuk setiap peserta ), Mie Goreng, Tahu dan Tempe goreng, Karedok ( semacam Pecel ). Pukul 17.30 kami mulai santap malam bersama dalam suasana yang gembira dan penuh dengan gurauan.

Selesai santap malam kami ngobrol-ngobrol satu sama lainnya dengan suasana yang akrab. Pukul 18.15 kami meninggalkan RS Laksana ini untuk pulang menuju kota Cirebon kembali. Pukul 19.00 kami tiba dengan selamat di Gedung Panti.
Selamat malam Opa dan Oma. Selamat beristirahat.-

Minggu, Agustus 26, 2012

Mumps




( foto ilustrasi )



Pagi hari ini kami mengikuti kebaktian di Gereja kami pukul 06.00.
Di halaman Gereja kami dihampiri oleh Pak B, 65 tahun.
“Selamat pagi, dokter Basuki.”
“Selamat pagi, Pak.”

Pak B berkata lagi “Ah..kebetulan nih ketemu dengan dokter. Ini Dok, pipi saya saat bangun tidur terasa sedikit nyeri dan bengkak,” sambil memperlihatkan pipi kanannya.

Saat itu belum banyak anggota jemaat gereja yang hadir. Saya langsung memeriksa wajah Pak B ini. Tampak ada pembengkakan di area submandibularis dextra ( dibawah rahang bawah sebelah kanan ).
Pada sisi kiri tampak normal.

Saat meraba pembengkakan itu saya bertanya kepada Pak B “Sakit, Pak?”

“Sedikit, dok” Pak B menjawab.

Pak B lupa, apakah saat masih anak-anak sudah menderita penyakit Gondongan.

Saya membuat kesimpulan bahwa ini adalah peradangan kelenjar ludah dibawah rahang bawah sebelah kanan atau yang biasa disebut sebagai penyakit Gondongan / Mumps / Parotitis acuta yang biasa terjadi pada usia anak-anak. Sedangkan Pak B ini sudah berusia 65 tahun. Tidak cocok.

Penyakit Mumps disebabkan oleh sejenis Virus, paramyxovirus yang biasa menyerang usia anak-anak.
Peradangan kelenjar ludah pada Pak B ini mungkin bukan oleh Virus tetapi disebabkan oleh Bakteri.

Saya mengambil selembar kertas Resep obat yang biasa saya simpan beberapa lembar di dompet saya , kalau-kalau suatu saat diperlukan kala saya tidak berada di Ruang Periksa. Segera saya pinjam sebuah Ballpoint di Ruang Satpam dan menuliskan resep obat berupa: tablet antibiotika, tablet pain killer dan tablet anti peradangan untuk Pak B.

Saya berkata “Ini pak, resep obatnya. Nanti diminum ya,” sambil menyerahkan lembaran resep obat kepada Pak B.

“Terima kasih, dokter Basuki,” kata Pak B saat menerima resep obat gratis ini. Tampak Pak B ini gembira dan sayapun ikut gembira dan lega yang sudah dapat memberikan pertolongan bagi orang lain.

“Sama-sama Pak, semoga lekas sembuh ya,” saya menjawab sambil bergegas memasuki Ruang Gereja bersama isteri saya untuk mengikuti kebaktian pagi hari ini.

Jumat, Agustus 17, 2012

Peduli Kasih 2012















Peka ( Peduli Kasih ) tahun 2012 kembali diadakan oleh Gereja kami pada tanggal 14 sampai 18 Agustus 2012.

Peka 2012 mengambil tempat di kompleks area SPBU Bendungan yang berlokasi 15 Km dari kota Cirebon ke arah kota Tegal. Di lokasi ini tersedia SPBU untuk mengisi bahan bakar sepeda motor, mobil pribadi, angkutan umum dan bus. Selain itu juga tersedia: Mini market, rest area, tempat, solat, toilet dan halaman parkir yang cukup luas.

Seperti tahun yang lalu Panitia juga sudah melaporkan kegiatan Peka ini kepada Kepala Sektor Kepolisian dan Bapak Camat setempat yang menghargai kegiatan Peduli Kasih yang kami adakan ini.

Misi Peka 2012 ialah memberikan secara gratis makanan cepat saji, minuman dingin / hangat bagi para pemudik yang tidak puasa dan pelayanan kesehatan ( P3K). Makanan cepat saji yang disediakan adalah Mie gelas dan Pop mie. Minuman dingin berupa air mineral gelas dan ale-ale. Minuman hangat tersedia Kopi hitam, Kopi susu, Wedang jahe dll. Bagi anak-anak tersedia Susu kotak siap saji dan biskuit. Logistik ini berasal dari para donator para anggota jemaat.

Pak I.S. selaku Ketua Panitia Peka 2012 membentuk Panitia yang terdiri dari sekitar 45 orang dan tercatat sekitar 100 orang relawan yang membantu pelayanan ini. Tiap hari pelayanan terdiri dari 2 kelompok dimana Kelompok I bertugas dari pukul 08.00 – 14.00 dan kelompok II bertugas dari pukul 14.00 – 20.00.

Sebagai alat transportasi tersedia 2 Minibus pengangkut para relawan & Panitia dan 1 Minibus pengangkut bahan-bahan dan peralatan logistik. Selain itu juga ada relawan yang membawa mobil pribadi yang dapat dimanfaatkan mengangkut para relawan dan panitia.

Kunjungan para pemudik ke Pos Peka yang paling banyak adalah pada tanggal 17 dan 18 Agustus siang – sore hari yaitu 1-2 hari menjelang Hari Raya Idu Fitri 1433 H. Jumlah pengendara sepeda motor dari arah Jakarta menuju ke arah timur ( Tegal, Semarang dll ) sangat banyak, tidak terputus-putus. Para pengendara sepeda motor inilah yang merupakan pengunjung Pos Peka yang terbanyak. Tidak jarang para pemudik membawa anak-anak yang masih kecil. Tidak jarang 1 sepeda motor dinaiki oleh 3-4 orang, yang cukup berbahaya.

Selain tersedia makanan dan minuman cepat saji, tersedia juga 2 orang pemijat ( pria dan wanita ). Pemijat ini membantu para pemudik yang kelelahan untuk melemaskan otot-otot tubuh pemudik. Pelayanan pemijat ini juga gratis. Pemijat diberi honor oleh Panitia.

Panitia juga menyediakan alat musik Organ untuk menghibur para pemudik yang berhenti di Pos Peka ini. Perut kenyang, mata ngantuk dan pemudik dapat tidur di bawah tenda besar yang dipasang oleh Panitia.

Saya yang bertugas sebagai Seksi Kesehatan ( P3K ) melayani para pemudik yang mengalami kecelakaan sehingga terjadi luka pada kaki dan tangan, kepala pusing, perut mual dan lain-lain.

Ada pula pemudik wanita yang hamil muda mengalami kesakitan pada daerah perutnya sehingga perlu diantar ke Puskesmas terdekat.

Keluhan yang paling sering adalah mata perih terkena debu jalanan. Banyak mata pemudik yang kami tetesi dengan cairan obat tetes mata.

Kami mendapat kesan bahwa pelayanan Peka ini cukup bermanfaat dan sangat membantu para pemudik di dalam perjalanan mereka menuju kota tujuan masing-masing.

“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin”.

Minggu, Agustus 12, 2012

Sepeda santai








Dalam rangka Ulang Tahun Kemerdekaan R.I. tahun 2012 gereja kami, GKI Pengampon Cirebon mengadakan acara Sepeda santai. Acara yang diadakan pada tanggal 11 Agustus 2012 ini diikuti oleh sekitar 100 peserta.

Peserta kumpul pukul 05.00 pagi di Gedung pertemuan “Yakin” Jl. Pulasaren. Tiap peserta mendapat 1 buah T Shirt berlogo NKRI dan GKI Pengampon. Selain itu peserta mendapat sebuah bendera Merah-Putih yang dipasang di sepeda masing-masing.

Sebelum berangkat peserta mndapat pengarahan dari Panitia tentang tata tertib bersepeda dan route jalan yang akan ditempuh sejauh sekitar 5 Km. Selesai pengarahan dilanjutkan dengan doa oleh Pendeta Bpk I. Di depan gedung “Yakin” rombongan dilepas oleh Ketua Panitia, Bpk H.

Start dimulai pada pukul 06.30.
Penulis yang menjadi Seksi Kesehatan berada di mobil Pickup yang berjalan lambat di belakang rombongan peserta. Selain itu juga ada 1 Minibus yang mengiringi rombongan. Saya minta kepada Panitia agar disediakan 1 mobil Pickup, bak terbuka untuk mengantisipasi kalau-kalau ada sepeda yang mengalami gangguan ( ban kempes, sepeda rusak dll ), dapat diangkut oleh Pickup ini.

Rombongan dipandu oleh petugas dari Kepolisian dengan berkendaraan Sepeda motor. Route yang dilalui adalah: Jalan Pulasaren, Yos Sudarso, Sisingamangaraja, Diponegoro, Dr. Wahidin, Dr. Cipto M, P. Drajat, Jagasatru dan kembali ke jalan Pulasaren. Di setiap lampu traffic light bila lamu Merah, peserta juga berhenti menunggu lampu Hijau.

Peserta mengendarai sepeda masing-masing dengan santai dan gembira, diselilingi senda gurau. Pagi hari berolah raga naik sepeda. Asik juga nih.

Ditengah perjalanan ada seorang peserta Pria yang mengalami ban kempes ( mungkin tertusuk paku ) sehingga sepeda diangkut Pickup. Tidak berapa lama kemudian ada peserta wanita yang mengalami gangguan pada rantai sepedanya sehingga tidak dapat berjalan baik. Sepeda inipun harus naik Pickup untuk menuju garis Finish. Peserta wanita ini naik Minibus.

Pukul 07. 45 kami tiba kembali di depan gedung “Yakin”. Kami bersyukur semua peserta tidak ada yang mengalami gangguan kesehatan. Peserta segera memasuki gedung “Yakin” untuk menikmati sarapan pagi berupa 1 paket Nasi Jamblang.

Senin, Agustus 06, 2012

Hipertensi


Hipertensi atau tekanan darah tinggi juga merupakan penyakit keturunan, sama halnya dengan penyakit Ashma bronchiale.

Hipertensi ada 2 golongan yaitu Hipertensi primer dan Hipertensi sekunder.
Pada Hipertensi primer tidak diketahui penyebabnya merupakan 95 % dari seluruh Hipertensi. Hipertensi primer disebut juga sebagai Hipertensi esensiil atau Hipertensi ideopatik.

Hipertensi sekunder atau Hipertensi renal terdapat sekitar 5 % kasus yang merupakan akibat dari adanya penyakit lain, seperti penyakit Ginjal, tumor Feokromositoma, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan dan lain-lain.

Obat untuk Hipertensi telah diuraikan dalam Blog ini dalam artikel “Losartan dan Disfungsi ereksi”.
---
2 hari yang lalu datang berobat Pak T, 60 tahun. Pak T adalah pasien langganan saya, yang menderita Hipertensi.

Keluhan Pak T adalah kepala sedikit pusing. Sudah lama Pak T tidak kontrol ulang Hipertensinya.

Pada pemeriksan tekanan darahnya : 160/90 mmHg. 2 bulan terakhhir saat ia kontrol tekanan darahnya : 130/80 mmHg.

Saya berkata “Pak T tekanan darahnya naik lagi nih.”
Pak T bertanya “Berapa, Dok?”
Saya menjawab “160/90, Pak. Rupanya Bapak tidak minum obat lagi ya?”

Pak T berkata “Terakhir saya kesini kan tekanan saya sudah normal, Dok.”
Saya menjawab “Benar, tetapi meskipun tekanan darahnya sudah normal, obat anti hipertensinya tetap harus diminum, Pak.”

“O..begitu ya.”

Rupanya bila tekanan darahnya sudah normal, pasien tidak perlu minum obat lagi. Hal ini sering terjadi juga pada pasien-pasien Hipertensi lainnya. Yang benar adalah minum obat anti Hipertensi harus dalam jangka panjang, praktis seumur hidup.

“Benar, Pak. Bapak harus terus minum obatnya agar tekanan darah Bapak tidak naik lagi dan tetap normal. Ini saya berikan resep obat untuk Bapak yang harus Bapak minum. 1 bulan lagi Bapak harus kontrol tekanan darah,” sambil menyerahkan kertas resep obat kepada Pak T.

Ashma


2 hari yang lalu datang berobat Nn. S, 20 tahun. Ia diantar oleh Ibunya.
Keluhannya batuk-batuk sejak 3 hari yang lalu. Tidak ada demam dan flu. Bila batuk ia tidak mengeluarkan dahak. Ia sudah minum tablet anti batuk yang dijual bebas, tetapi tidak kunjung sembuh.

Tampak wajah pasien murung dan tidak ceria.

Pada pemeriksaan dengar ( auskultasi ) dengan alat Stetoscop, terdengar suara wheezing dan ronchi kering di kedua paru-parunya. Ini gejala khas pada penyakit Ashma bronchiale. Kakeknya juga penderita Ashma. Pasien ini juga alergi terhadap Ikan laut.

Pada penyakit Ashma ini terdapat gejala: penyempitan saluran nafas ( bronchus ), sekresi lendir saluran nafas dan lendirnya bersifat lengket. Gejala penyakit ini tidak dapat diatasi dengan pemberian obat anti batuk biasa.

Untuk pasien ini saya memberikan resep obat utuk melebarkan bronchus ( bronchodilator ), tablet yang mengandung anti alergi dan peradangan dan tablet pengencer lender ( mukolitik ). Semoga penyakitnya dapat sembuh.

Saya menyarankan agar ia tidak makan ikan laut dan bila naik motor agar memakai masker agar debu jalanan tidak terhirup.

Sampai saya menulis artikel ini, Nn. S tidak datang kembali. Semoga ia sudah sembuh.

Minggu, Agustus 05, 2012

Gangguan Pencernaan


2 hari yang lalu datang berobat Ibu U, 50 tahun.
Keluhannya: perut kembung, sudah 2 hari tidak buang air besar.

Saat ditanya habis makan apa? Yang pedas-pedas? Ia membenarkan, saat sahur ia makan sambel terlalu banyak sehingga pencernaannya terganggu.

Pada pemeriksaan fisik : tekanan darah: normal, Jantung dan paru-paru : normal. Pada pemeriksaan Perkusi ( pemeriksan ketok ) pada dinding Perut tampak banyak angin ( meteorismus ), pada Auscultasi ( pemeriksaan dengar dengan alat Stetoskop ) terdengar bunyi usus bertambah.

Segera saya memberi Ibu U, sebuah tablet P ( obat Maag ) dan segelas air mineral, untuk mengeluarkan gas dalam Lambungnya. Setelah tablet itu ditelannya, tidak berapa lama kemudian terdengar suara ..ee.. dari mulut Ibu U. Ibu merasa lega sebab kembungnya sudah membaik.

Saya menyarankan agar saat makan tidak terlalu banyak makan sambal yang dapat menyebabkan gangguan Lambung ( yang mungkin peka terhadap pedas ). Saya memberikan resep obat berupa tablet Maag dan Multivitamin.

--

Pak S, 35 tahun mengeluh sudah 2 hari tidak buang air besar, tidak selera makan, tidak buang angin ( kentut, flatus ).

Saya bertanya apakah ia makan makanan yang terlalu pedas atau terlalu asam? Ia menjawab tidak.
Pertanyaan selanjutnya apakah ia mengalami Stres dalam rumah tangga atau di dalam pekerjaannya?
Pak S membenarkan bahwa ia mengalami adanya Stres yaitu beban pekerjaannya yang makin menumpuk dan sering dikerjakan di rumah juga, ia mengalami kurang tidur. Pengaruh Stres cukup besar terhadap kesehatan seseorang.

Stres dapat menyebabkan adanya gangguan tidur ( insomnia ), gangguan pencernaan ( irritable colon ), gangguan pernafasan ( ashma bronchiale ) dan lain-lain keluhan.

Saya memberikan resep obat kepada Pak S berupa tablet yang mengandung Enzym pencernaan untuk membantu pencernaannya, tablet penenang dan tablet Multivitamin.

Saya menyarankan kepada Pak S agar ia minta kepada atasannya seorang asisten untuk membantu meringankan beban pekerjaannya sehingga Stresnya berkurang atau hilang.

Demam (2)


3 hari yang lalu datang berobat Sdr.L, 20 tahun.
Keluhannya: sejak 2 hari yang lalu ada demam, tidak ada Flu, tidak ada gejala batuk.

Ada banyak penyakit dengan gejala demam, dimana suhu tubuh > 38 derajat Celsius, antara lain: Tipes perut, Demam Berdarah Dengue, Malaria, Bronchitis, TBC paru, Campak, Infeksi saluran Kencing dan lain-lain.

Pada pemeriksaan fisik Sdr. L. tidak ditemukan kelainan. Saya minta pemeriksaan penunjang ( Laboratorium ) berupa pemeriksaan Darah di Laboratorium Klinik terdekat.

Hasil pemeriksaan Darah didapatkan: Jumlah Lekosit ( sel darah putih ): 6.000 ( normal ), Jumlah Thrombosit: 200.000 ( normal ), Tes Widal: Negatip.

Jadi bukan penyakit Tipes ( Widal: negatip ) dan bukan DBD ( jumlah Thrombosit normal ). Lalu apa penyakitnya?

Saat saya membaca hasil pemeriksaan Urine, pada sedimentnya terdapat Sel-sel darah putih ( Lekosit ): ++, bakteri: +. Berarti Sdr. L ini menderita Infeksi saluran kencing. ISK ini sering kali luput dari pemeriksaan, kalau Urine tidak diperiksa. Biaya pemeriksaan Urine : tidaklah mahal, dan mudah dilakukan.

Bila Dokter tidak teliti memeriksa dan melakukan pemeriksaan penunjang Urine, sering kali Diagnosa ISK luput dari Diagnosa.

ISK ini biasanya disebabkan oleh Bakteri Gram Negatip seperti: E. Coli ( yang paling sering ) dan lain-lain. Terapi ISK adalah pemberian antibiotika yang sesuai untuk mengatasi bakteri Gram negatip ini.

Bila ada gejala batuk ( Bronchitis, TBC paru ) diperlukan pemeriksaan penunjang Foto Rotgen Jantung dan Paru-paru. Pada pasien Sdr. L ini tidak dilakukan sebab ia tidak mengeluh ada batuk.

Kamis, Juli 26, 2012

Colles fracture



( foto ilustrasi )


( foto ilustrasi )


2 hari yang lalu datang berobat Ibu K, 68 tahun.

Keluhan Ibu K adalah nyeri pada pergelangan tangan kanan, sejak 1 hari yang lalu. Suatu saat Ibu K terjatuh dan tangan kanannya menahan badannya. Setelah itu terasa nyeri pada pergelangan tangannya.

Pada pemeriksaan: lengan bawah kanan tampak tidak lurus ( deformitas ), sedikit bengkak, nyeri bila tangan digerakkan.

Saya menduga ada patah tulang lengan bawah kanan ( Colles fracture ). Saya membuatkan Surat Pengantar ke Klinik Rontgen terdekat untuk memastikan adanya patah tulang tersebut.

Untuk mengurangi rasa nyeri, saya membuatkan resep tablet pain killer.

Sampai hari ini Ibu K belum kembali datang membawa Foto Rontgen yang saya mintakan.

Pada usia 68 tahun termasuk usia lanjut, dimana sudah terjadi pengeroposan tulang ( Osteoporosis ) yang rawan untuk terjadinya patah tulang. Saat menahan berat badan ketika terjatuh, terjadilah patah tulang tersebut. Juga saat naik tangga di rumah atau di Mall, harus hati-hati dan berpegangan pada tepian tangga untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.

Rabu, Juli 25, 2012

Mendadak Tuli



3 hari yang lalu Pak D, 35 tahun datang berobat. Keluhan Pak D, Telinga kanan mendadak tidak dapat mendengar ( tuli ) saat ia mandi pagi.
Dalam riwayat penyakitnya tidak terdapat benturan ( trauma ) pada Telinga kanan.

Saya berpikir pasti ada gangguan pada Liang Telinga atau Selaput pendengaran Telinga Pak D.

Saya mengambil batere dan memeriksa Telinga Pak D. Telinga Kiri tidak ada gangguan, tampak reflex cahaya membrane tympani ( selaput pendengaran ) bagus.

Pada pemeriksan Telinga Kanan: tampak kotoran telinga yang basah, berwarna Coklat, menutup liang pendengaran ( cerumen obturan ). Aha...inilah penyebab mengapa Pak D mendadak Tuli, sebab liang pendengarannya tersumbat total oleh kotoran telinga yang tidak pernah dibersihkan dengan Cotton bud.

Cerumen obturan ini mesti dibersihkan dengan cara dilakukan irigasi, disemprot dengan air agar semua kotorannya keluar. Tindakan ini mesti dilakukan di Klinik THT. Segera saya membuat Surat Rujukan pasien ini ke bagian THT RSU setempat.

Kotoran telinga ada 2 macam:
1.yang basah, biasanya berwarna Coklat yang dapat dengan mudah dibersihkan dengan Cotton bud yang diputar di dalam liang pendengaran.

2.yang kering, ini lebih sukar dibersihkan, dengan cara mengeluarkan dengan alat korek telinga. Sebaiknya dilakukan oleh orang lain.

Tuli mendadak akibat kotoran telinga biasa terjadi mendadak, misalnya sewaktu berenang atau saat mandi, dimana telinga kemasukan air. Oleh karena basah maka kotoran telinga mengembang dan dapat menutup / menyumbat liang pendengaran. Akibatnya suara tidak dapat masuk dan menggetarkan membran tympani.

Minggu, Juli 15, 2012

Abses


( foto ilustrasi )


2 minggu yang lalu datang berobat Pak D, 65 tahun.
Ia mengeluh pangkal paha kanannya sakit. Katanya ada sebuah Bisul yang sudah pecah.

Pada pemeriksaan fisik ternyata dipangkal paha Pak D terdapat sebuah Abses dengan diameter 2 Cm yang sudah pecah. Jaringan sekitarnya tampak kemerahan ( rubor, hiperemi ), bengkak ( edema )dan terasa nyeri ( dolor ). Jadi sudah ada tanda-tanda infeksi pada jaringan kulit tsb.

Segera abses yang pecah ini dibersihkan dengan menekan jaringan sekitarnya sehinga keluar nanah dan jaringan busuk lainnya. Luka ini segera diberikan Betadin kompres.

Saya memberikan resep obat kepada pasien ini berupa tablet Antibiotika, tablet anti peradangan, tablet anti nyeri dan Betadine solution & kasa pembalut ( untuk kompres ).

Bila Abses ini sudah matang, maka perlu diberi sebuah incisi ( sayatan ) pada kulit untuk mengeluarkan Nanah ( pus ) dan jaringan busuk lainnya. Pada pasien ini tidak perlu dilakukan incisi karena sudah terjadi lubang untuk mengeluarkan Nanah.

Seminggu kemdian kami bertemu dengan Pak D ini di sebuah Mall. Saya mendapat kabar bahwa Absesnya sudah sembuh.

Obat Generik


Suatu pagi datang berobat Ibu M, 45 tahun mengantar seorang putranya yang ingin berobat. Putranya ini L, 5 tahun, menderita Flu.

Setelah selesai saya memeriksa L, Ibu ini berkata "Dok, obatnya minta obat generik saja ya?"

Saya menjawab "Baik, Bu." Rupanya Ibu ini sudah paham bahwa Obat Generik yang harganya terjangkau, juga dapat menyembuhkan penyakit putranya. Mereka dari keluarga gologan ekonomi bawah.

Saya menulis sebuah resep obat berupa 3 macam obat generik.

---

Suatu sore datang berobat sepasang suami-isteri. Sang suami yang sakit. Ternyata Pak K, 40 tahun ini menderita gangguan pencernaan ( Maag ).

Setelah selesai memeriksa pasien, saya menulis resep obat Generik untuk Pak K ini.

Saya berkata "Ini Pak, resep obatnya," sambil menyerahkannya kepada Pak K.
Pak K segera membacanya, setelah itu ia berkata "Wah..Dok, saya jangan diberi obat Generik. Beri saja obat paten.

Saya menjawab "Kenapa? Meskipun obat Generik, itu dapat juga menyembuhkan penyakit anda."

"Saya tidak mau minum obat Generik, Dok" ia menjawab. Rupanya ia karyawan sebuah Apotik sehingga sudah paham nama-nama obat Generik.

"Baiklah, saya akan ganti resep obatnya dengan obat yang paten." kata saya kemudian.
Tampak wajah Pak K ini lebih cerah dari pada sebelumnya. Rupanya ia dari golongan ekonomi menengah.

---

Dari 2 kejadian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa ternyata memberi obat Generik, tidaklah mudah. Persoalannya menjadi lebih mudah bila sang pasien yang minta diberikan bukan obat Generik, karena ia merasa mampu membeli obat yang patent.

Kamis, Juli 12, 2012

Memperpanjang Paspor



Pada tanggal 10 Juli 2012, saya melihat masa berlakunya Paspor saya sampai dengan 19 September 2012. Jadi tinggal 2 bulan lagi akan kedaluwarsa. Bila bepergian ke luar negeri ada ketentuan masa berlaku Paspor minimal masih 6 bulan lagi. Mau tidak mau saya harus memperpanjang Paspor saya. Persyaratan memperpanjang Paspor, sama saja dengan membuat Paspor baru.

10 Juli 2012 pukul 07.30 saya meluncur ke Kantor Imigrasi Cirebon yang berlokasi di jalan Sultan Ageng Tirtayasa, Sumber, Kabupaten Cirebon. Untuk menuju kesana saya mengambil jalan dari arah Utara Kantor tersebut. Di pertigaan Jalan Tuparev – Jalan A. Yani, mobil saya terjebak kemacetatan lalu lintas. Rupanya ada perbaikan jalan raya. Jalan raya yang dapat dipergunakan hanya 1 jalur, yang biasanya 2 jalur. Saat saya melintas jalan yang menuju Kantor Imigrasi, jalan ini diblokir. Terpaksa saya melanjutkan perjalanan ke arah Bandung dan melakukan balik arah menuju kota Cirebon kembali. Saya sudah menghabiskan waktu akibat kemacetan ini selama hampir 1 jam.

Saya mencoba mengambil jalan ke Kantor Imigrasi ini dari arah Selatan yaitu melalui jalan yang menuju Ibukota Kabupaten Cirebon, Sumber. Oleh karena jarang ke Sumber, saya agak kesulitan saat akan berbelok ke Jalan Sultan Ageng Tirtayasa. Mobil saya kemudikan dengan lambat mencari Jalan tersebut dan akhirnya ketemu juga. Saya berbelok ke arah kiri untuk menuju Kantor Imigrasi. Jaraknya sekitar 2 Km dari belokan jalan ini.

Setelah memarkir mobil, saya memasuki Gedung Imigrasi untuk mengikuti antrian. Untuk mendapat nomer antrian saya menuju ke sebuah komputer. Saya melihat tampilan “Maaf nomer antrian sudah habis”. Saya melihat arloji saya yang menunjukkan waktu pukul 10.10. Saya mengeluh…ah ini karena terjebak kemacetan lalu lintas. Saya terpaksa harus kembali keesokan hari.

Menurut seorang laki-laki di sebelah saya, sebenarnya kapasitas pembuatan Paspor setiap hari 300 Paspor. Yang 250 jatah Biro Jasa dan sisanya jatah Umum. Saya tidak yakin akan informasi ini. Wah dimana-mana ada Biro Jasa. Ada banyak orang yang kecewa juga karena sudah tidak kebagian nomer antrian untuk membuat paspor. Padahal waktu baru menunjukkan pukul 10.10. Sebelum pulang saya mengambil selembar Formulir dimeja sebuah Loket. Saya isi Formulir pengajuan pembuatan Paspor baru.

Dari petunjuk dalam Formulir ini, berkas surat harus dimasukkan ke dalam sebuah map warna Kuning ( Paspor Umum ) dan warna Biru ( Paspor untuk Tenaga Kerja Indonesia ). Saya menuju ke konter Koperasi, di pinggir area Parkir mobil. Harga Map Kuning ini Rp. 7.500, di dalam map ini juga ada selembar Kover plastik untuk Paspor, warna hijau.

Tanggal 11 Juli 2012 pukul 07.00 saya segera meluncur ke Jalan Sultan Ageng Tirtayasa. Tiba di Kantor Imigrasi pukul 07.30. Langsung menuju mesin untuk ambil nomer antrian. Saya dapat antrian nomer 2. Saat itu baru ada 4 orang yang akan antri. Mesin ini baru akan di aktipkan pada pukul 8.00. Saya berdiri sekitar 30 menit dipinggir mesin ini. 15 menit kemudian sudah ada 10 orang yang antri dibelakang saya yang akan membuat Paspor. Wah…banyak juga orang-orang yang akan membuat Paspor.

Untuk se wilayah 3 ( Indramayu, Kuningan, Majalengka, Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon ) hanya ada satu Kantor Imigrasi. Jadi semua bertumpuk di Kantor ini. Setelah mendapat nomer antrian, saya duduk untuk mendapat penggilan di Loket Paspor Umum.

Di depan petugas saya menyerahkan berkas berupa Paspor yang lama, Fotokopi KTP, Fotokopi Kartu Keluarga, Fotokopi Akte Lahir dan disertai dengan dokumen yang asli. Di Loket ini saya mendapat secarik Resi untuk membayar biaya pembuatan Paspor di Loket 1. Buku Paspor Umum berisi 48 halaman dan untuk Tenaga Kerja Indonesia berisi 24 halaman.

Saat berada di Loket 1 ini , sang petugas berkata “Belum siap. Komputer sedang discanning.” Saya kembali duduk. Cukup lama juga menunggu panggilan. 35 menit kemudian nomer saya dipanggil. Saya membayar biaya pembuatan Paspor baru sebesar Rp.255.00,- Saya mendapatkan Bukti Pembayaran dan Resi nomer 2 untuk pembuatan Pasfoto dan Interview.

Saya duduk kembali untuk menunggu panggilan untuk di Foto. 10 menit kemudian saya melihat dilayar monitor besar, nomer saya harus masuk ke Ruang Foto. Sang petugas dengan cekatan mengatur posisi untuk membuat Pafoto saya. Foto yang dibuat hanyalah dari leher ke atas kepala saja. 5 menit selesai.

Saya menuju ke meja Interview. Sang Petugas bertanya nama dan akan pergi ke Negara mana? Sambil melakukan scanning Paspor lama saya. Ia bertanya apakah ada kesalahan Nama dan tanggal lahir? Saya jawab semua sudah benar. Saya pikir akan ditanya banyak hal dalam Interview ini, tetapi ternyata saya hanya ditanya dengan 2 pertanyaan saja. Sang Petugas mengembalikan Dokumen Asli Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk saya. Jadi Dokumen asli Akte Lahir yang masih belum dikembalikan ( yang biasanya akan dikembalikan saat pemberian Paspor baru ).

Selesailah Interview ini. Sang Petugas menjawab pertanyaan saya tentang kapan selesainya Paspor baru ini? Dijawab hari Selasa, 17 Juli pukul 14.00 di Loket Pengambilan Paspor. Saat mengambil Paspor, harus memperlihatkan Bukti Pembayaran. Menurut pengumuman yang dipasang di dinding Ruang Imigrasi, pembuatan Paspor membutuhkan waktu 4 hari ( tidak termasuk hari Sabtu dan Minggu dimana Kantor tutup ).

Pukul 09.30 saya meninggalkan Kantor Imigrasi Cirebon ini. Semoga nanti hari Selasa , 17 Juli 2012 Paspor saya sudah selesai, agar saya tidak bolak-balik dari rumah ke Kantor Imigrasi ini yang berjarak sekitar 7 Km.

Selamat siang.-

Senin, Juni 25, 2012

Hari Ulang Tahun



11 Juni 2012 sore hari sebelum dimulai Rapat Bulanan Pengurus Panti Wreda Kasih, kami para Pengurus Panti memperingati Hari Ulang Tahun Oma W, 73 tahun. Oma W ini  sejak 3 tahun yang lalu tinggal di Panti ini, karena sudah tidak mempunyai sanak famili yang dapat merawat Oma W.

Pada awal acara dibawakan sebuah Renungan yang saya sampaikan. Renungan ini diambil berdasar ayat Alkitab, Roma 13: 8-9 yang intinya “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Para Pengurus Panti yang bekerja nonprofit ini  bertahun-tahun merawat para Oma dan Opa, menyediakan makanan, memberikan tumpangan, memberikan pelayanan rohani setiap pagi, memberikan pelayanan kesehatan, mengajak rekreasi di luar Gedung Panti dan lain-lain. Semuanya itu merupakan penjabaran dari “Kasihilah sesamumu manusia, seperti dirimu sendiri.”

Selesai Renungan dimulailah acara HUT Oma W.
Lagu “Selamat Ulang Tahun” mulai dinyanyikan secara bersama-sama, tiup lilin kue ulang tahun, pemotongan kue dan pemberian ucapan Selamat Ulang Tahun kepada Oma W. Tampak wajah Oma W cerah dan gembira. Ia bersyukur kalau Ulang Tahun yang ke 73 dapat diperingati bersama-sama Oma dan Opa yang tinggal di Panti ini.

Saya ikut bergembira dan bersyukur pada sore hari itu. Turut bergembira memperingati Ulang Tahun Oma W. Umur saya belum mencapai umur tersebut. Saya tidak tahu apakah saya dapat mencapai umur itu, hanya Tuhan yang tahu.

Selesai acara Ulang Tahun itu, dilanjutkan dengan acara santap malam bersama. Selesai santap malam, kami para Pengurus Panti melanjutkan dengan acara Rapat Bulanan Pengurus Panti.
Selamat malam.-