Kamis, Juni 26, 2008

Perokok berat


26 Juni 2008.

Beberapa bulan yang lalu saya kedatangan pasien, Pak A, 64 tahun. Ia diantar isterinya berobat kepada saya.

Pak A mengatakan bahwa ia ingin berobat dengan keluhan utama batuk-batuk sejak 1 minggu yang lalu. Isterinya Ibu A mengeluh bahwa selama suaminya sakit batuk-batuk, ia sukar tidur.
Saya bertanaya kepada Ibu A “ Mengapa Ibu sukar tidur, padahal yang sakit suami Ibu?”
Ibu A menjawab “Begini, Dok. Kalau suami saya batuk, terutama malam hari ketika kami tidur, maka ranjang kami ( tempat tidur yang terbuat dari besi, model lama ) bergoyang-goyang. Goyangan itu yang membuat saya terbangun dari tidur dan sukar tidur kembali.”
“Sudah berapa lama, Ibu sukar tidur?”
“Sejak 3 minggu yang lalu, Dok.”
Jadi saya tahu bahwa Pak A batuk-batuk bukan sejak 1 minggu yang lalu tetapi sejak minimal 3 minggu yang lalu.

Saya memeriksa fisik Pak A, mulai dari mengukur tekanan darah, memeriksa bunyi Jantung dan Paru-paru. Ternyata bunyi pernafasannya tidak normal. Terdengar bunyi yang khas untuk Bronchitis. Saya mencium bau nafasnya yang khas perokok.

Saya bertanya kepada Pak A “ Apakah Bapak merokok?”
“Benar, Dok.”
“Berapa banyak Bapak merokok?”
“Tiga, Dok”
“Tiga apa? Tiga batang atau tiga bungkus?”
“Tiga bungkus per hari”
“Wah, Bapak mesti berhenti merokok, kalau Bapak ingin sembuh dari batuk-batuk”
“Tidak bisa berhenti, Dok.”
“Kalau tidak mau berhenti merokok, percuma minum obat selama bapak merokok terus. Lebih baik berhenti merokok.”
‘Percuma, Dok.”
“Mengapa percuma?”
“Saya sudah terbiasa merokok”
“Kalau begitu lebih baik Bapak pulang saja, tidak usah saya beri obat lagi.”
“Lho, saya kan datang kesini mau berobat agar batuk-batuk saya sembuh”
“Percuma diberi obat sebakul juga, kalau Bapak tetap merokok, maka batuk-batuk Bapak tidak akan sembuh” kata saya sambil guyon.

Saya melanjutkan “Tadi Bapak berkata percuma berhenti merokok, kenapa?”
“Percuma, sebab merokok atau tidak merokok orang akan mati juga”

Glek..saya terkejut mendengar ucapan pasien saya itu.
Lalu saya menjawab “Iya betul, semua orang akhirnya akan mati juga, tetapi Bapak akan mati duluan” sambil guyon.
Tampak wajah Pak A menjadi sedih.

Setelah dipersilahkan duduk, saya berkata kepada Pak A dan Ibu A “ Kalau harga 1 bungkus rokok Rp. 6.000,-, maka 3 bungkus adalah Rp. 18.000,-. Dengan uang sebanyak Rp. 18.000,-, saya dapat membeli 1 Kg Beras, 1 Kg Telur Ayam dan 1 Liter Susu sapi setiap hari. Kalau semuanya saya berikan kepada Ibu, apakah Ibu mau?”
Ibu A langsung menjawab “Mau, Dok. Dari pada uang itu diberikan kepada suami saya dan dibakar setiap hari”
“Nah Pak, apakah Bapak mulai saat ini mau berhenti merokok?”
Pak A menjawab “Iya sudah Dok, saya mau berhenti merokok”
Ibu A berkomentar “Pak, jangan bilang mau berhenti merokok di depan Pak Dokter saja, nanti sepulang dari sini Bapak merokok lagi. Betul ya berhenti merokok, agar Bapak cepat sembuh dan saya dapat tidur lagi.”
Saya tersenyum dan ingat ada ranjang yang bergoyang-goyang ketika Pak A batuk-batuk dimalam hari.

Dari kisah singkat itu saya menjadi terharu, tidak mudah untuk memotivasi seseorang agar berhenti merokok. Sore itu minimal saya sudah berupaya untuk membujuk Pak A agar mau berhenti merokok demi kesehatannya dan demi isteri tercinta agar mereka dapat hidup lebih lama dalam kondisi sehat, sampai dipanggil Tuhan suatu saat kelak.-

2 komentar:

  1. Wah... kasihan Pak A, pasti kelabakan rasanya pusing nggak karuan mencoba berhenti merokok, sama dengan saya dok, masih 3 hari ini saya berhenti merokok. Entah bertahan sampai kapan? he...he...
    Seandainya ada obat untuk dapat menghentikan rokok!!!???.

    BalasHapus
  2. To: A. Rosid Ridlo, makasih sdh berkunjung. Resepnya sebenarnya mudah yaitu keluar dari niat ingsun. Kalau sudah niat maka apa pun dapat dilaksanakan. Setuju Pak.

    BalasHapus