Minggu, Agustus 23, 2009

Iklan yang tidak benar


Bulan depan kami  akan pergi ke Jakarta naik kereta api Cireks ( Cirebon Ekspres ).
Pada bulan puasa ini sudah banyak orang yang memesan tiket kereta api sebelum hari Raya Idul Fitri 2009.

Dengan maksud saya tidak usah mengikuti antrian yang panjang, saya ingin memesan Tiket kereta api tsb melalui Telepon seperti informasi yang saya baca dari sebuah Iklan PT Kereta Api di sebuah Harian lokal.

Kini….Pesan Tiket Kereta Api Semakin Mudah!!
Reservasi dan Pembayaran Tiket KA dapat melalui:
Stasiun KA
Agent Tiket KA
Kantor Pos
Pembayaran Tiket KA dapat melalui ATM:
Tukarkan struk pembayaran ATM dengan tiket KA di loket stasiun dst…dst…


Berangkat dari informasi tsb, kemarin pagi saya mengangkat telpon untuk menghubungi Stasiun KA di kota kami.
“Halo, dengan stasiun KA.”
“Benar, pak.” Terdengar suara wanita.
Saya berkata selanjutnya “Mbak, saya ingin memesan tiket kereta api Cirebon – Jakarta”.

Sang petugas CS menjawab “ Bapak datang saja kesini.”

Saya berkata “Saya mau pesan tiket agar saya tidak antri lagi.”

Sang CS menjawab “Datang saja kesini, antrian sedang sepi.”

Saya menjawab “ O..kalau begitu baik saya akan ke Stasiun.”

---

Bunyi iklannya: dapat memesan tiket via telepon, kenyataannya tidak bisa dan harus datang ke stasiun. Jadi bunyi iklan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Beruntung antrian tiket sedang sepI sehingga urusan membeli tiket untuk 1 bulan kemudian dapat dilayani dalam waktu cepat, tidak perlu antri. Biasanya dalam bulan puasa menjelang Idul Fitri, loket stasiun k.a. penuh dengan antrian panjang.

---

Kasus serupa juga kami alami di negara lain yaitu Singapore.
Medio 1993 kami melancong selama 10 hari ke S’pore. Kami berdelapan dengan keluarga adik ipar saya melancong kesana. Kami bermalam di Flat adik ipar saya yang bekerja di negara tsb.

Suatu pagi datang Koran yang diantar setiap pagi. Adik ipar saya melihat ada iklan Arloji merek terkenal dan disebutkan beberapa toko penjual arloji tsb.

Adik ipar saya menelepon sebuah toko terdekat dan menanyakan berapa harga arloji tsb.

Jawaban sang pelayan toko sungguh mengejutkan kami,katanya “Maaf arloji tsb belum ada dalam stok kami.”

Adik ipar saya berkata lagi “Saya membaca iklannya di sebuah harian pagi ini dan toko anda salah satu penjualnya.”

Sang pelayan toko menjawab “Yang pasang iklan bukan toko kami, tetapi Distributor kami. Bulan depan baru ada barangnya di toko kami. Terima kasih, anda sudah menghubungi kami.”

Glek......... kami yang turut mendengar percakapan tadi terheran-heran ( mungkin kami yang belum paham bahwa itu sebuah trik bisnis ). Ada iklan tetapi belum ada barangnya, lalu untuk apa iklan itu dimuat dengan biaya yang mahal??

Begitu juga saya alami ketika mau membeli sebuah asesoris Komputer di sebuah toko di kota kami, tetapi barangnya tidak ada. Kata sang pelayan toko, iklan itu dipasang oleh distributor di Jakarta. Ada iklannya tetapi belum ada barangnya. Konsumen kecewa karena tidak dapat membeli barang yang di-iklankan dan sudah dibohongi oleh sebuah iklan. Apakah Lembaga Konsumen negara kita dapat melindungi konsumen akibat iklan semacam itu?

Apakah anda mempunyai pengalaman yang sama?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar