Selasa, Desember 04, 2012

Pasien tidak datang


Pagi ini hari Selasa, 4 Desember 2012 pukul 06.15 saat saya membuka Inbox saya di gmail.com, terdengar panggilan telepon. Saya bertanya di dalam hati siapa ya yang menelepon pagi-pagi begini?

“Halo, met pagi.” kata saya.

“Dok, apakah benar ini tempat praktik dr. H ( isteri saya )?” terdengar suara seorang wanita.

Saya menjawab “Benar, Bu. Ada ada ya?”

“Saya mau daftar untuk berobat pagi ini.”

“Baik nama pasien siapa, umur berapa dan dimanaq alamatnya,’ saya bertanya.

“Nama pasiennya adalah I, umur 30 tahun, Jalan Anu nomer sekian.”

Saya berkata lagi “Baik, datanglah pukul 07.00 pagi ini.”

“Dapat nomer berapa, Dok.”

Saya menjawab “Nomer satu, Bu.”

“Terima kasih, Dok.” Ia memutuskan pembicaraan.

---

Ditunggu sampai pukul 09.30 sang pasien tidak datang juga. Kejadian seperti itu bukan sekali terjadi tetapi sudah berulang-ulang terjadi di lain waktu. Lalu saya bertanya dalam hati sebenarnya apa maksud mereka menelepon ke rumah kami dan mendaftarkan pasien yang ingin berobat, tetapi pasien tidak datang juga.

Kalaupun tidak jadi datang, mengapa tidak menelepon ulang dan mengabarkan bahwa pasien tidak jadi berobat. Mungkin tidak ada pulsa / pulsanya habis? Saya tidak tahu.

Selamat siang.-

Pasien lama


Hari Senin, 3 Desember 2012 sekitar pukul 14.00 saya menerima panggilan telepon dari seorang wanita.

Ia bertanya “Apakah ini tempat praktik dokter Basuki?”

Saya menjawab “Benar, ada apa Bu?”

“Saya ingin mendaftarkan ayah saya untuk berobat sore ini. Jam berapa buka praktiknya, dok?”

Saya menjawab lagi “Baik, nama pasien siapa, berapa umurnya dan dimana alamatnya. Praktik buka mulai pukul 16.00”

Ia menjawab “Pak U, umur 70 tahun, alamat di Jalan Anu nomer sekian, dok.”

“Baik sudah saya catat, Bu” saya menjawab lagi.

---

Pukul 16.15 datang Pak U, 70 tahun ke tempat praktik saya. Secara fisik Pak U masih baik, ia datang tanpa tongkat dan tidak dibantu berjalan oleh putranya yang mengantar datang ke tempat praktik saya.

Saya bertanya kepada pasien saya ini “Pak, apakah Bapak sudah pernah berobat kepada saya?”

Pak U menjawab “Sudah, dok. Ini Kartu Berobat saya.” Sambil menyerahkan sebuah Kartu Berobat warna putih yang pernah saya berikan saat pasien berobat kepada saya.
Saya melihat bahwa ia pernah sekali berobat pada tahun 1989. Setelah tanggal itu tidak ada cacatan ia berobat lagi, berarti ia hanya sekali pernah datang berobat kepada saya yaitu pada tahun 1989. Saya kagum kepada Pak U yang setia datang berobat kepada saya. Setelah tanggal tersebut mungkin juga Pak U pernah berobat kepada Dokter lain.

Pada tahun 1989 Pak U ini menderita Bronchitis dan terlihat obat-obat yang pernah saya tuliskan untuk Pak U ini. Saat ini Pak mengeluh ada rasa tidak nyaman di daerah ulu hatinya ( maag ).

Setelah saya periksa, saya memberikan resep obat untuk Pak U. Saya memberikan diskon doctor fee sebesar 40 % kepada Pak U ini. Pasien saya yang setia ini berobat sejak 23 tahun yang lalu, suatu kurun waktu yang cukup lama.

Saya bertanya kepada diri sendiri “Mengapa ada pasien yang sudah lama, masih mau datang kepada saya untuk berobat?” Mungkin sudah cocok atau ada sebab lain. Saya tidak tahu.-

Minggu, Desember 02, 2012

Kejang demam


Hari ini, Minggu pukul 14.30, ada seorang Ibu, Ibu M, 45 tahun berteriak memanggil-manggil saya “Dokter, dokter, tolong…” “ Dokter, tolong anak saya...”

Saya yang sedang melihat siaran TV, segera menghampiri Ibu M sambil berkata “Ada apa, Bu?”

“Tolong Dokter dapat ke rumah saya. Anak saya kejang.”

“Baik, saya akan mengambil peralatan saya dahulu” kata saya. Saya masuk ke dalam Ruang Praktik untuk mengambil Tas peralatan.

Saya pamitan kepada isteri saya bahwa saya akan dipanggil pasien ke rumahnya.
Ibu M mengendarai sepeda motornya dan saya diboncengnya, persis seperti naik ojek.
Rumah Ibu M sekitar 300 meter dari rumah kami.

Setiba di rumahnya saya melihat ada banyak warga setempat. Maklum ibu M ini membuka usaha warnet.

Saya melihat ada seorang anak laki-laki, S, umur sekitar 2 tahun sedang dipangku oleh seorang ibu yang lain. Seorang laki-laki, telunjuknya ada di dalam mulut pasien. Mungkin maksudnya untuk mencegah agar lidah pasien tidak tergigit. Saya minta sebuah sendok dan sehelai sapu tangan. Gagang sendok dibungkus sapu tangan tadi dan dimasukkan ke mulut sang pasien, untuk menggantikan telunjuk laki-laki tadi.

Tampak ke 2 lengan pasien kaku dan bergerak-gerak tidak teratur ( kejang ). Pasien tidak sadar.

Saya segera memasukkan obat anti kejang S, 5 mg, per rectum ( ke dalam lubang anus ). Setelah itu ke 2 bokong pasien dirapatkan agar cairan anti kejang tidak keluar lagi. Saya minta laki-laki tadi untuk memegangi bokong pasien. Tidak berapa lama pasien berteriak ( sadar?) dan terdengar ucapan syukur dari warga yang hadir di ruangan tadi.

Saya segera membuat resep obat berupa puyer anti panas dan anti kejang serta sebotol Antibiotika sirup.

5 menit kemudian pasien tampak lemas dan tertidur. Saya berkata kepada Ibu M, orang tua pasien bahwa pasien S sudah diberi obat anti kejang melalui lubang anusnya dan sekarang sedang tertidur, kejangnya reda. Nanti kalau pasien sadar, berilah minum memakai sendok. Lihatlah apakah ia sudah dapat menelan air minum tersebut yang menunjukkan refleks menelannya sudah berjalan kembali dan pasien sudah sadar. Kalau sudah dapat minum, berikanlah sirop dan bubuk puyer untuk mencegah demam dan kejang lagi.

Menurut Ibunya, pasien ini mendadak demam. Kemarin tidak apa-apa. Saat demam timbul kejang yang membuat panik orang tuanya yang segera memanggil dokter.

Penyebab demamnya saya tidak tahu. Mungkin pasien menderita ISPA ( Infeksi saluran Pernafasan Akut ), dan ada sedikit demam. Demam ini membuat kejang, sehingga disebut Kejang demam ( febris confulsi ).

Pada kasus demikian biasanya ambang kejangnya rendah, begitu timbul sedikit demam, pasien sudah menderita kejang.

Saya melihat pasien tampak tertidur dan saya mohon pamit. Semoga penyakit pasien S segera pulih kembali. Amin.

Selamat siang.-

Kamis, November 29, 2012

Chest pain




Siang ini sekitar pukul 14.30 datang Pak M, 30 tahun ke rumah kami. Maksud kedatangannya adalah untuk memanggil saya dan minta tolong untuk memeriksa ayahnya yang sedang sakit.

Dengan dibonceng sepeda motornya saya meluncur ke rumah pasien yang berjarak sekitar 400 meter dari rumah kami. Setiba di rumah pasien, Pak MA, 58 tahun, tampak berbaring di atas kasur yang diletakkan di atas lantai ruang tengah dari rumah pasien.

Putrinya mengatakan bahwa ayahnya ini tadi sempat pingsan selama beberapa menit ( mungkin tidak kuat menahan sakit dadanya ). Keluhan pasien adalah merasa sesak pada daerah dada sebelah kiri. Kontak dengan pasien tidak berjalan baik sebab pasien tampak merasa tidak nyaman.

Pada pemeriksaan tekanan darah terukur 120/80 mmHg, bunyi pernafasan normal, bunyi jantung tampak tachycardia ( denyut jantung lebih cepat dari normal ). Saya menduga bahwa pasien saya ini menderita Chest pain yang diakibatkan oleh Acute Myocard Infarc, suatu serangan jantung. Pasien harus segera ditolong di Rumah Sakit dengan fasilitas yang memadai. Pasien memerlukan pemeriksaan penunjang ECG ( Electro Cardio Graphy ), pemberian infuse, pemberian oksigen. Setelah diketahui Diagnose ( penentuan penyakit ), maka dapat segera diberikan pengobatan untuk mengatasi keadaan pasien ini.

Saya mengatakan kepada Keluarga pasien ( isteri, putra dan putrinya ) bahwa pasien mesti dibawa ke Rumah Sakit untuk mendapatkan pertolongan selanjutnya. Segera saya membuat Surat Rujukan ( Pengantar ) pasien ke UGD ( Unit Gawat Darurat ) Rumah Sakit Umum yang ada di kota kami.

Saya kembali ke rumah dengan diantar oleh Pak M.

Dalam perjalanan Pak M bertanya kepada saya “Apakah ayah saya masih dapat tertolong, Dok?”

Saya menjawab “Kalau segera ditangani oleh Dokter di Rumah sakit, semoga pasien dapat tertolong. Kita berdoa saja.”

Kasus AMI ini disebabkan karena adanya penyempitan pembuluh darah Koroner ( pembuluh darah arteri yang memberikan aliran darah dan oksigen kepada otot jantung / myocard ). Penyempitan ini disebabkan oleh adanya plak, penimbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah arteri. Mungkin sekali pak MA ini jarang melakukan medical check up sehingga kondisi kesehatannya tidak terkontrol.

Semoga Pak MA dapat pulih kembali kesehatannya. Amin.-

Selasa, November 20, 2012

Obatnya kosong


Dalam 2 hari terakhir ini saya setiap hari menerima telepon dari 2 Apotik yang mengatakan bahwa obat yang saya resepkan yaitu obat merk “I”, tidak ada.

Sang petugas Apotik bertanya “Isinya apa ya, dok.”

Obat itu sebenarnya kaplet yang berisi vitamin B1, B6, B12 dan Folic acid.

Menurut Detailer ( Medical representative ) nya obat itu sudah ada di Apotik-apotik.
Oleh karena tidak ada dalam persediaan, maka saya jawab “Ganti saja dengan tablet merek yang lain”.

Saya sudah memberitahukan kepada Detailernya agar dia maklum bahwa kaplet “I” itu tidak ada di 2 Apotik tadi.

Dia menjawab “Baik, dok, nanti diperhatikan.”

---

Jengkel juga saya kalau mendapat laporan bahwa obat tertentu yang saya resepkan tidak ada ( kosong ), padahal menurut Detailernya sudah ada hampir disemua Apotik. Beruntung masih ada tablet merk yang lain yang isinya hampir sama.

Selamat malam.

Minggu, November 11, 2012

Pasien


Sikap pasien bermacam-macam. Ada yang menghargai dokternya dan ada juga yang tidak menghargai dokternya, meskipun para pasien sudah mendapatkan pelayan kesehatan dari dokternya

---

Suatu sore saat saya buka praktik, ada seorang pemuda yang menghendaki agar saya dapat datang ke sebuah rumah di jalan Anu nomer sekian. Rupanya pemuda ini orang suruhan dari keluarga pasien yang bermaksud memanggil seorang dokter.

Saat saya tiba di rumah pasien, pemuda tadi langsung menghilang. Seorang Ibu menemui saya dan berkata bahwa suaminya yang sakit sudah meninggal dunia. Tampak di ruang depan rumahnya banyak tetangga yang berdatangan.

Kalau sudah meninggal dunia, ya saya tidak dapat berbuat banyak untuk menolong pasien. Ibu tadi tampak cuek terhadap saya, yang dipanggil datang ke rumahnya.

Jangankan memberikan doctor fee, bilang terima kasih saja juga tidak.
Saya maklum akan kedaaan ini, mungkin Ibu tadi sedang bingung dan sedih ditinggal pergi oleh suaminya. Segera saya meninggalkan rumahnya untuk kembali buka praktik.

---

Beberapa tahun yang lalu, suatu senja datang berobat sepasang suami-isteri. Mereka turun dari sebuah Sedan yang masih baru. Pakaiannyapun terbuat dari bahan yang lebih bagus dari pakaian saya.

Rupanya sang suami yang hendak berobat. Suaminya menderita Flu berat. Setelah diperiksa dan dibuatkan sehelai resep obat, sang isteri bertanya kepada saya “Berapa, Dok?”

Saya menjawab “Dua puluh ribu.”

Wanita ini berkata lagi “Dulu kan sepuluh ribu, Dok.”

Saya menjawab “Iya benar beberapa tahun yang lalu harga beras juga masih murah. Sekarang harganya sudah 4 kali lipat. Jadi dua puluh ribu, tidak mahal, ada penyesuaian.”

Wajah wanita cemberut, tampak tidak puas akan jawaban saya.

Lalu saya berkata lagi “Kalau Ibu tidak punya uang dan tidak ikhlas, Ibu tidak usah bayar. Belilah obat di Apotik dan semoga lekas sembuh suami Ibu.”

Wanita ini terkejut akan ucapan saya ini dan segera mengambil uang sebuah lembaran uang dengan nilai seratus ribu rupiah.

“Ya sudah, ini Dok uangnya,” samba menyodorkannya kepada saya.
Saya bahkan bingung, sebab tidak ada uang kembaliannya. Sore itu mereka adalah pasien pertama saya.

“Pakai uang pas saja,” saya menjawab.

Setelah mereka meninggalkan Ruang Periksa, saya membatin, mereka orang yang kaya, tetapi masih menawar doctor fee. Kalau mereka orang miskin, saya sering menggratiskan doctor fee dan mereka mengucapkan terima kasih kepada saya.

---

Seorang Ibu diantar oleh putrinya datang berobat. Sang pasien menderita batuk-batuk sudah 1 minggu. Setelah pasien diperiksa, saya membuatkan resep obat.

Sang pasien berkata “Kami tidak punya uang, Dok, tapi ingin berobat disini. Uangnya hanya ada segini,” sambil menyodorkan uang selembar sepuluh ribuan.

Saya berkata “Tidak apa-apa Ibu. Semoga lekas sembuh ya. Belilah obat generik ini di Apotik terdekat dan pakailah uang ini untuk bayar obatnya,” sambil menyerahkan kembali uang yang Ibu tadi serahkan kepada saya.

Saya melihat ada tetesan air mata yang keluar dari mata Ibu tadi. Ia berkata “Dok, dokter bukannya dapat uang, tetapi malah memberi uang kepada saya.”

“Tidak apa-apa, Bu. Semoga Ibu cepat sembuh ya,” kata saya sambil membukakan pintu Ruang Periksa.

---

Itulah beberapa kisah yang pernah saya alami dalam melayani kesehatan masyarakat.

Selamat siang.

Senin, Oktober 01, 2012

Mencari bantuan dana


Sore hari sekitar pukul 18.30 dua hari yang lalu saat saya menerima kedatangan seorang Mecical representative ( medailer ) suatu perusahaan obat, terdengar bel pintu ruang tunggu.

Saat itu saya menemui seorang pria usia sekitar 3o tahunan.
Saya bertanya kepadanya “Apakah anda ingin berobat? Silahkan tunggu dahulu, saya sedang ada tamu” sambil mempersilahkan pria itu duduk di Ruang tunggu.

Pria itu berkata “ Rumah saya di jalan Anu, Perumnas.”

Saya tidak mengerti dengan jawabannya itu. Ditanya A jawabnya B.

Saya berkata lagi “Maksud anda, mau apa?”

Tampak wajahnya seperti kebingungan menatap wajah saya. Rupanya ia malu untuk menyampaikan maksud kedatangannya.

Saya bertanya lagi “Pak, ada keperluan apa?”

Dia menjawab “Isteri saya baru melahirkan di Bidan Anu,” sambil tersenyum.

Saya masih tidak mengerti dengan jawabannya itu. Lalu saya berpikir “Isterinya baru melahirkan, lalu suaminya datang kepada saya. Mungkin dia mau minta sumbangan untuk biaya melahirkan.” Tempat praktik saya dengan daerah Perumnas, cukup jauh, sekitar 3 km. Lokasi rumahnya cukup jauh untuk minta sumbangannya.

Saya berkata lagi “O.. isteri anda baru melahirkan dan sekarang anda mau minta sumbangan untuk biaya melahirkan?

Tampak wajah pria itu tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Saya memberikan sejumlah uang untuk keperluan biaya melahirkan.

Setelah mengucapkan terima kasih, pria itu meninggalkan tempat praktik saya.
Pria itu rupanya berkeliling kota, untuk mencari dana untuk biaya isterinya yang baru melahirkan.-

Selasa, September 25, 2012

Wasir




Penyakit Wasir ( haemorrhoid ) merupakan pelebaran pembuluh darah vena di daerah Rectum ( usus besar dekat anus ). Haemorrhoid dibagi 2 yaitu: haemorrhoid interna ( di dalam rectum ) dan haemorrhoid externa ( di luar Rectum ).
Penyebabnya adalah: herediter ( keturunan ), pekerjaan ( banyak duduk, banyak berdiri ) dan mekanis ( bendungan aliran darah di daerah panggul misalnya pada kehamilan ).

Gejala yang paling sering terjadi adalah keluarnya darah saat buang air besar. Darah yang keluar adalah darah segar. Perdarahan ini terjadi karena pecahnya pembuluh darah vena yang melebar. Susah buang air besar dapat menyebabkan perdarahan ini. Oleh karena itu harus diusahakan agar buang air besar dapat terjadi setiap hari dan tidak keras. Ini dimungkinkan bila mengkonsumsi Sayuran dan Buah-buahan setiap hari.

Pelebaran pembuuh darah vena ini memberikan gejala adanya bendjolan pada dinding Rectum yang dapat keluar dari Anus. Pada stadium ringan, benjolan ini dapat masuk kembali setelah buang air besar, tetapi pada stadium yang lebih berat benjolan ini tidak dapat masuk spontan, tetapi harus didorong kembali ke dalam. Pada stadium akhir benjolan ini tidak dapat dimasukkan kembali dan mesti dilakukan tindakan operasi.

---

Beberapa bulan yang lalu datang berobat Ny. A, 28 tahun. Ia sedang hamil 7 bulan. Keluhannya terdapat benjolan disekitar Anus yang tidak nyeri dan tidak ada perdarahan setelah buang air besar.

Pada pemeriksaan tampak 2 benjolan sekitar Anus sebesar biji jagung.
Pada anamnesa ( Tanya jawab ) Ny. A mengatakan bahwa Ibunya juga menderita Wasir. Saat ini Ny. A sedang hamil 7 bulan sehingga pada daerah panggul terdapat bendungan aliran darah di daerah panggul yang dapat menyebabkan pelebaran pembuluh darah vena setempat. Setelah selesai kehamilannya ( melahirkan ) maka biasanya benjolan ini akan menghilang dengan sendirinya.

Ny. A dianjurkan agar mengkonsumsi Sayuran dan Buah-buahan setiap hari. Serat tumbuhan ini akan membuat proses buang air besar menjadi lebih mudah sehingga mengurangi bendungan yang terjadi akibat isi usus yang tidak keluar.

Kemarin datang berobat Tn. K, 30 tahun dengan keluhan Flu. Dalam percakapan dengan Tn . A, saya mendapat informasi bahwa isterinya yaitu Ny. A tadi sudah melahirkan dan benjolan sekitar Anusnya sudah menghilang. Saya bersyukur akan hal ini.

Rabu, September 19, 2012

Konstipasi






Kemarin sore datang berobat Pak A, 82 tahun.
Keluhan Pak A adalah sudah 2 hari tidak bisa buang air besar

Konstipasi ( sembelit, susah buang air besar ) sering dialami oleh orang yang jarang makan Sayur / Buah-buahan. Pada usia lanjut Konstipasi juga sering dikeluhkan. Hal ini disebabkan karena gerakan peristaltik usus menurun, sehingga isi usus lambat menuju ke lubang anus.

Dari Tanya jawab dengan Pak A, ia mengaku setiap makan selalu ada Sayuran ( Kangkung, Bayam dan lain-lain ) dan setelah makan ia juga makan buah Pisang. Rupanya dietnya itu tidak membantu proses buang air besarnya.

Pada pemeriksaan fisik: tidak ditemukan kelainan yang berarti selain, mata yang menderita Katarak ringan.

Untuk Pak A, saya memberikan resep 2 tablet laksan untuk memudahkan buang air besar dan tablet Enzym, untuk membantu proses pencernaannya. Selain itu juga diberikan advis minum secangkair Susu / 1 Sendok makan Madu setelah makan malam

Kamis, September 06, 2012

Rekreasi warga Panti Wreda Kasih















Tanggal 3 September 2012 adalah hari yang ditunggu-tungu oleh warga Panti Wreda Kasih, karena hari itu adalah hari dimana mereka akan mengadakan rekreasi. Pengurus Panti membuat rencana setahun 2 kali akan mengadakan rekreasi bagi Opa dan Oma yang tinggal di Panti. Mereka yang sudah berusia lanjut merasa senang bila diajak rekreasi oleh Pengurus Panti.

Yang turut dalam acara ini ada sebanyak 8 orang Opa dan Oma, sedangkan 3 orang Oma lainnya tidak ikut karena keadaan fisiknya tidak memungkinkan ikut. Ada 3 orang karyawan yang turut serta. 2 orang Pendeta dan isteri & sebanyak 10 orang Pengurus Panti. Total 25 peserta termasuk Supir Minibus Gereja kami.

Lokasi yang dituju adalah daerah Linggarjati dan Sangkanurip, Kabupaten Kuningan yang berudara sejuk. Lokasi ini sejauh sekitar 20 km dari kota Cirebon dimana Panti ini berada.

Pukul 15.00 para peserta sudah siap berkumpul di gedung Panti. Kendaraan yang dipakai adalah 1 Minibus milik Gereja kami dan 3 sedan pribadi milik Pengurus Panti. Sebelum berangkat kami berdoa dahulu yang dipimpin oleh Pak H, selaku Ketua Panti.

Perjalanan kendaraan kami berjalan mulus. Tujuan yang pertama adalah Vila milik keluarga pak S ( anggota Jemaat Gereja kami ) yang berlokasi di daerah Linggarjati yang berdekatan dengan gedung Pertemuan Linggarjati. Vila ini sebenarnya disewakan bagi para turis yang datang berkunjung ke Linggarjati. Saat itu vila ini kosong dari para tamu. Ada belasan kamar yang bersih dan nyaman untuk bermalam. Juga tersedia kolam renang yang saat itu kebetulan sedang tidak ada airnya.

Di sebuah Aula kami ngobrol dan melepaskan lelah. Ibu E selaku Pembawa acara segera memulai acara. Yang pertama adalah bernyanyi. Oma T turut menyumbangkan suaranya yang serak-serak basah.

Acara lainnya adalah memasukkan bola-bola kecil dari suatu lokasi ke lokasi lainnya yang berjarak 5 meter, dalam waktu 15 hitungan. Siapa yang paling banyak memindahkan bola, dialah pemenangnya. Seru juga para Opa dan Oma yang turut serta dalam acara ini.

Acara berikutnya adalah 3 peserta sambil memegang sebuah sendok plastik yang berisi 2 buah kelereng, berjalan sejauh 5 meter. Siapa yang paling cepat tiba di garis finish dialah pemenangnya. Terdengar suara tawa para peserta dan para Pengurus.

Pada akhir acara yang seru adalah semuanya mendapat hadiah berupa sebuah kotak yang dibungkus kertas coklat. Jadi tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Semua peserta gembira karena semuanya mendapat hadiah.

Pukul 17.00 rombongan segera menuju Rumah Makan Laksana yang berlokasi di daerah Sangkanurip. Gedung Rumah Makan ini baru saja direnovasi sehingga tampak bersih , luas dan nyaman untuk makan malam. Meja makan sudah disiapkan dalam susunan memanjang yang cukup menampung 25 orang tamu.

Sebelum kami datang sudah ada sebagian Pengurus Panti yang memesan tempat dan hidangan yang akan disantap terlebih dahulu. Ketika kami datang, pesanan kami tidak lama kemudian disajikan. Hidangannya berupa Nasi Putih, Ikan bakar, Sop Ikan ( satu mangkuk untuk setiap peserta ), Mie Goreng, Tahu dan Tempe goreng, Karedok ( semacam Pecel ). Pukul 17.30 kami mulai santap malam bersama dalam suasana yang gembira dan penuh dengan gurauan.

Selesai santap malam kami ngobrol-ngobrol satu sama lainnya dengan suasana yang akrab. Pukul 18.15 kami meninggalkan RS Laksana ini untuk pulang menuju kota Cirebon kembali. Pukul 19.00 kami tiba dengan selamat di Gedung Panti.
Selamat malam Opa dan Oma. Selamat beristirahat.-