Kamis, September 16, 2010

Sirkumsisi




Ini sebuah kisah sirkumsisi atau sunat. Sunat dilakukan untuk alasan keagamaan, kesehatan atau lainnya ( terjepit ruistleiting celana,  kecelakaan lalu lintas dll ).

Kemarin sekitar pk. 14.30 ketika saya istirahat siang, isteri saya membangunkan saya.

“Ada apa Mah?”

“Itu ada Ibu A datang, bermaksud ingin menyunat putranya.” istri saya menjelaskan.

---

“Mana putranya, Bu?” saya bertanya kepada Ibu A, 35 tahun.

“Putra saya ada dirumah, Dok. Kalau mau disunat, apakah besok pagi bisa, Dok?” ia bertanya.

“Boleh, tapi saya ingin memeriksa dahulu putra anda. Kalau bisa  tolong nanti sore, putra Ibu datang kemari. Saya akan periksa dahulu organ vitalnya. Berapa usianya, Bu?’

‘”Umurnya 11 tahun, Dok. Terima kasih kalau besok pagi bisa disunat, sebab kami sudah merencanakan sedikit hajatan besok siangnya.” Ibu A menerangkan.

Sore hari sang putra, RS datang dan dalam pemeriksaan organ vital-nya dalam keadaan normal. Rencana khitanan akan dilakukan besok pagi (  pagi ini ) pukul 08.00 pagi.

---

Pagi ini pukul 07.30 Ibu A datang bersama RS. Wajah mereka tampak cerah.
RS saya minta untuk b.a.k. dahulu di WC yang ada di halaman depan rumah kami. Saya ajak ngobrol agar tidak tegang.

Segala persiapan peralatan dan fisik saya sudah saya persiapkan untuk tugas mengkhitan seorang anak kali-laki, 11 tahun. AC ruang praktik  sudah dihidupkan setengah jam yang lalu agar suhu rangan sejuk dan membuat saya nyaman melakukan tugas. Ibu A saya minta untuk menanda-tangani Surat Ijin Khitan bagi putranya RS.

Saya minta RS berbaring di bed.
Saya memasang topi, masker hidung, sarung tangan ukuran 7,5.
Dilakukan tindakan antiseptis dengan larutan Betadine dan Alkohol 70% pada kulit  organ vital dan sekitarnya. Untuk pembiusan saya lakukan bius lokal dengan cara Blok anestesi di pangkal penis, dengan obat suntik Lidokain 2 %, 2 cc dan anestesi infiltrasi pada kulit sekitar Praeputium ( kulup / foreskin ) sebanyak 0,5 cc. Setelah beberapa menit saya coba memeriksa apakah blok anestesi dan anestesi infltrasi ini berhasil atau tidak. Bila  kulit praeputium saya jepit dengan klem dan pasien diam saja, maka bius lokal berhasil. Bila berterik kesakitan, maka Blok anstesi ini tidak berhasil. Bila tidak berhasil maka bisa menunggu beberapa saat lagi untuk menunggu Lidokain bekerja atau menambah obat bius lokal pada sekitar preputium, yang pernah saya lakukan pada 1 kasus  o.k. pasien masih mengeluh sedikit sakit ketika  dijepit klem. Jadi kunci keberhasilan khitanan adalah pada bius lokal yang berhasil atau tidak, selanjutnya tergantung dari keterampilan yang melakukan khitanan.


Bila blok anestesi berhasil maka untuk selanjutnya saya dapat bekerja dengan tenang.
Seperti biasa orang tuanya ( ayah / ibunya ) saya minta untuk duduk dalam ruangan agar putra mereka  tenang sebab ortunya hadir disitu. Hal ini membuat hati pasien menjadi lebih tenang.

Selanjutnya tindakan pembersihan Smegma, zat  berwarna putih yang berada di permukaan glans penis ( kepala penis ), sampai kulit praeputium dapat di dorong ke belakang sehingga tampak dengan jelas glans penis-nya. Pada kasus  pagi ini, terjadi perlengketan pada sebagian  kulit praeputium sehigga saya bekerja agak lama pada fase ini, mungkin sekitar 10 menitan.

Setelah dirasa semua perlengketan terlepas dan tampak glans penis, maka tindakan selanjutnya, membasahinya dan membersihkan dari Smegma dengan larutan Betadine. Praeputium kembali di  pindahkan ke depan. 2 klem saya pasang pada posisi pukul 06 dan 12. Saya lihat wajah pasien yang tampak tenang. Saya bersyukur obat bius bekerja dengan baik.

Alat Kauter yang saya pakai, segera saya on-kan. Setelah ujung kawat berwarna merah, membara, segera saya minta agar isteri saya membantu memegang  Klem agar kulit pareputium menjadi tegang. Dengan demikian akan membuat lebih mudah memotongnya dengan alat kauter saya.

Keuntungan alat kautre ini adalah tidak terjadi perdarahan sama sekali. Suhu yang tinggi membuat semua pembuluh darah pada Praeputium tadi akan tertutup. Dengan cara Guilotine, pemotongan dengan Pisau bedah / scalpel,  sering kali terjadi perdarahan ketika klem dibuka. Perdarahan ini  biasa membuat khitanan akan berlangsung lebih lama karena kita hrus merawat perdarahan dengan cara mengikat dengan benang satu per satu pada lokasi perdarahan.

Setelah 2 klem tadi saya lepaskan, sisa praeputium yang tinggal sedikit saya dorong ke belakang glans penis. Saya lakukan penjahitan pada bekas luka tadi pada posisi pukul 12, 06. 09 dan 03. Penjahitan ini akan membuat penyembuhan luka menjadi lebih baik dari pada tidak dilakukan penjahitan sama sekali. Waktu sudah berjalan selama 30 menit, sejak dilakukan blok anestesi.

Isteri saya membantu merawat luka jahitan dengan mengoleskan salep kulit yang mengandung antibiotika untuk mencegah terjadinya infeksi, memberi kasa pembalut sekitar  batang penis dan memasang plester.

Selesai sudah tugas saya. Pasien  tidak mengeluh pusing, sakit, mual dll.
Saya minta RS turun dari bed dan Ibunya turut membantu putranya memakai sebuah sarung sebagai pengganti celana pendeknya.

Sebelum pulang saya memberikan obat pencegah luka: kapsul antibiotika, tablet anti nyeri, tablet anti peradangan dan salep kulit mengandung antibiotika. Juga berpesan agar pada hari ke 3 pasien datang kembali untuk kontrol luka. Bila diperlukan akan diberikan obat-obat lain bilamana dianggap perlu. Biasanya tidak perlu.

---

Setelah RS dan Ibunya meninggalkan ruang periksa, hati kami  terasa plong. Suatu tugas menolong pasien sudah dikerjakan dengan baik untuk kesekian kalinya.

Senin, September 13, 2010

BB bertambah



13 Sept 2010.
Bulan Puasa dan Hari Raya Idul Fitri telah lewat, semua kembali ke fitri.

Pagi ini datang berobat Pak N, 40 tahun, seorang karyawan sebuah perusahaan swasta.
Ia mengeluh Diare 5 kali sejak tadi malam. Hidangan Ketupat  Lebaran, Opor Ayam ( yang bersantan ) dan Sambel Goreng Hati ( yg cukup pedas ) yang banyak di santap membuat perut Pak N berontak dan segera menimbulkan reaksi agar semua isi saluran makanannya secara reflex dikeluarkan dan timbullah Diare. Suatu fenomena yang wajar saja, sehingga kita jangan berlebihan bila menyantap makanan.

Seperti biasa, pasien diminta naik ke atas sebuah timbangan untuk mengetahui berapa BB-nya. Tampak angka 52 Kg. Sebelum bulan puasa katanya 50 Kg. Setelah melewati bulan Puasa, BB menjadi 52 Kg.

Saya berkata “Kalau Puasanya benar, maka BB anda akan tetap atau sedikit berkurang. Lha ..ini kok malah naik, Pak N.”

Wajah Pak N tampak tidak cerah dan berkata “Iya, Dok, saya kalau buka puasa dan sahur cukup banyak menyantap makanan agar tidak lapar pada siang hari.”

Saya tidak bermaksud membuat malu, hanya berkomentar  “O..begitu, ya.” Sambil membuat sebuah resep untuknya.

Memang tidak mudah untuk membuat BB seorang menurun, tetapi kalau BB naik, biasanya akan lebih mudah. Hal ini sering dialami oleh saya sendiri. Usaha ( mengurangi asupan makanan yang manis-manis, berlemak, lebih banyak makan Sayuran danBuah-buahan, olah raga teratur )  dan kemauan ( tidak mudah tergoda santapan yang lezat, dapat mengendalikan diri )  yang keras sajalah dapat membuat BB menurun pada bulan-bulan berikutnya.

Obesitas atau kegemukan lebih mudah menyebabkan  Penyakit Hipertensi dan PJK ( Penyakit Jantung Koroner ). Kedua penyakit ini mesti kita hindari. Menjadi Pasien itu tidak enak, percayalah!

Sabtu, September 11, 2010

Bajay ikut mudik


11 Sept 2010.
Pagi ini saya melihat siaran  sebuah TV  yang menayangkan acara pagi hari dengan topik “Banyak cara untuk pulang mudik ( ke kampung halaman )”

Sepeda:
Ada seorang karyawan yang pulang mudik dari kota Bandung ke Ciamis ( 15 Km dari kota  Tasikmalaya ). Isteri dan anak2nya pulang mudik naik Bus. Ia sendiri sudah beberapa tahun terakhir kalau mudik naik sepeda dan keluarganya naik Bus.
Ketika ditanya “Mengapa naik sepeda?” Ia menjawab “Agar sehat.”
Pertanyaan selanjutnya “Kenapa tidak naik sepeda motor  agar lebih cepat sampai?”
Ia menjawab ( sambil malu-malu ) “Saya tidak mempunyai Sepeda motor.” ( ia seorang karyawan biasa ).
Saya terharu sekali mendngar jawabannya ( ia menjawab dengan suara pelan2 dan wajah yang meringis ), tetapi saya kagum dengan semangat pulang mudiknya. Saya juga  mendukung kalau ia menganjurkan Isteri dan anak2nya mudik naik Bus ( yg lebih manusiawi dan aman ). Ia berpakaian mirip atlit balap sepeda, lengkap dengan Helm, pengaman siku, lutut dan botol air minum. Ia hanya mengendong sebuah ransel punggung kecil.  Keren juga penampilannya.

Bajay:
Bajay beberapa tahun yg lalu di Jakarta merupakan kendaraan angkutan umum jarak dekat. Bajay adalah made in India dengan mesin Scooter ( 150 cc ), knalpotnya  memberikan suara yang khas yaitu bising yang terdengar dari jarak jauh. Bajay mirip becak, sebuah angkutan jarak dekat tapi lebih manusiawi karena  berjalan dengan dorongan sebuah mesin.

Ada 2 buah Bajay yang mudik dari Jakarta ke Kota Cirebon kemudian ke Tegal.
2 orang Bapak yang berasal dari Cirebon ( kampung halaman saya ) pulang mudik Lebaran tahun ni dengan naik Bajay miliknya ( saat ini Bajay sudah dilarang beroperasi dalam kota Jakarta ). 2 Bapak ini berasal dari Cirebon dan isterinya berasal dari Tegal. Tanya jawab dengan Reporter TV  dijawabnya dengan logat Tegal yang medok ( asli Tegal ), mungkin sudah terkontaminasi  logat isteri2 mereka.

Jarak tempuh Jakarta – Tegal dalam keadaan normal naik mobil ditempuh selama 6 -7 jam. Kata mereka  bisa sampai 15 jam ( cukup melelahkan ) juga karena  arus kendaraan Pantura / Pantai Utara Jawa lambat o.k. banyak kendaraan yg  mudik, maklum mereka harus berhenti-berhenti di Km tertentu untuk istirahat dan isi bensin. Mereka nyupir secara bergantian dengan pria lain sebagai Copilot-nya. Mereka juga membawa peralatan bila Bajay mereka mogok. Saya melihat ada  1 kardus besar yang di ikat diatas salah satu Bajay. Mungkin sekali isinya adalah oleh2 utk sanak kelauarganya di Cirebon dan Tegal. Kecepatan Bajay tentu tidak secepat Sepeda motor biasa, sebab beban bawaannya juga berat dan speed-nya tidak  bisa cepat.

Wah…hebat sekali semangat mereka utk pulang  mudik dan ini sudah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir ini. Alasannya o.k. lebih murah biayanya. Rp. 150.000 Jakarta - Tegal utk beberapa orang sekali jalan. Kalau naik Bus pasti biayanya akan lebih besar. Mereka tentu tidak lewat jalan Tol. Bajay dan Sepeda motor dilarang lewat Tol.

“Bajay oh…Bajay. Berkat jasamu, kami dapat pulang mudik ke Tegal”.
“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin”
begitulah pesan orang-orang yang merayakannya.

Kita  sudah selayaknya bersyukur kepada Tuhan, kalau kita bisa mempunyai mobil untuk transportasi sehari-hari, meskipun mobil itu bukan mobil baru. Apalagi kalau kita lebih beruntung dapat mempunyai mobil baru.

Punya Sepeda, Sepeda motor atau Bajay-pun mereka  tetap bersemangat untuk melakukan perjalanan mudik jarak jauh ( Jakarta – Tegal atau Bandung – Ciamis ). Semoga  selamat di perjalanan. Amin.

Tetap bersemangat!
---
Kalau saya naik sepeda dan pasien tau, maka komentarnya “ Ah..dokternya tidak nonafid”
Lho, pasien butuh mobil atau dokter?
Pasien menganggap kalau Dokter seharusnya naik Sedan. Jadi pandangan pasien terhadap dokternya sudah begitu tinggi. Padahal Dokter juga  manusia biasa yang bisa juga sakit dan bahkan meninggal dunia  seperti para Presiden, Raja dan Ratu.

Have a nice week end.



Jumat, September 10, 2010

Thank you



Kalau anda memberi tanpa pamrih, Anda tidak akan merasa sedih atau kecewa bila orang yang Anda beri tersebut tidak berterima kasih.
( Dale Carnegie, “Petunjuk hidup tentram dan bahagia”, PT Gramedia Jakarta, 1984 )

---

Thank you atau terima kasih, akan dibicarakan dalam posting kali ini.

Ucapan Dale Carnegie tadi benar sekali dan sebaliknya bila  kita mengharapkan orang berterima kasih kepada kita yang ternyata tidak, maka kita akan kecewa, marah atau bahkan mendapat serangan Jantung, seperti yang dikisahkan dalam buku Carnegie itu.

Jadi  kalau mau memberi, berilah dan lupakanlah.
Makin banyak memberi, akan makin banyak kita menerima.
Bila kita tidak pernah memberi, kapan kita akan menerima?

Kalau kita menanam pohon, kemudian kita tidak pernah merawat, menyirami setiap hari , memberi pupuk dll janganlah kita beharap akan memetik buah atau bunga dari pohon itu. Untuk dapat menerima ( panen ), kita harus memberi dahulu ( air, pupuk, perawatan ).

Kita bekerja ( memberi ) dahulu kemudian kita akan mendapat gaji / upah kerja ( menerima ) pada saatnya. Kita membayar ( memberi ) harga Sembako yang kita  butuhkan, kemudian kita akan  dapat membawa pulang ( menerima ) barang yang kita beli.

Dalam kehidupan sehari-hari juga saya lebih banyak memberi  dahulu untuk dapat menerima sesuatu. Memeriksa pasien  dan memberikan resep obat dahulu, baru kemudian saya menerima fee. Bila pasien membutuhkan pemeriksaan penunjang dari Laboratorium Klinik, sering kali saya mengatakan “Besok saja fee-nya, kalau hasil pemeriksaannya sudah saya terima.” Alasannya kerja saya belum selesai: membaca hasil pemeriksaan penunjang, membuat diagnosa penyakit, memberi resep dan memberi advis selanjutnya.

Pernahkan Anda memberi sejumlah uang kepada orang lain, tetapi mereka tidak mengucapkan terima kasih kepada Anda?

Mungkin Anda punya pengalaman ketika:
  • Memberi uang kecil kepada pengemis yang datang ke rumah anda.
  • Memberi sejumlah uang  kepada orang-orang yang menyetop kendaraan anda di tengah jalan dengan alasan jalan sedang diperbaiki atau untuk alasan lain.
  • Memberi uang kepada mereka disetopan lampu lalu-lintas.
  • Memberi  uang sumbangan kepada orang yang datang ke rumah Anda.
  • Dll

Apakah mereka  mengucapkan terima kasih kepada Anda setelah uang diterimanya? Mungkin ya, mungkin tidak, tapi lebih banyak tidaknya. Sebaliknya kalau tidak diberi, maka mereka akan marah-marah.

Lima tahun yang lalu, ada seorang wanita, usia sekitar 50 tahun, berpakaian lusuh, datang ke rumah kami meminta uang. Saya memberikan uang logam senilai Rp. 500,- Setelah ia menerima uang tersebut dan setelah ia tahu  berapa nilainya, uang logam itu ia lemparkan sambil ngomel-ngomel. Ia keluar dari halaman rumah kami dengan marah. Saya pikir orang itu kurang waras. Ia datang minta uang, saya beri uang, bukannya ia berteima kasih tetapi ia marah dan membuang uang yang telah ia terima. Kalau saja ia rendah hati, dalam sehari ia dapat mengumpulkan beberapa puluh / ratus keping uang logam, maka ia dapat mempunyai uang cukup banyak. Bagaimana akan punya banyak uang, kalau yang sedikit-sedikit saja ia tidak mau mengumpulkannya?  Mana  ada uang banyak turun dari langit seketika begitu saja, bukan? Dia tidak mau memberi, bahkan maunya menerima saja. Bagaimana orang lain akan mau memberi lebih banyak?

Tujuh tahun yang lalu ketika kami  hendak makan siang disebuah Warung Makan,  pesanan kami belum datang, datanglah seorang Pengamen. Saya beri uang logam senilai Rp. 500,- Lagi-lagi uang itu dibuang ke halaman. Saya kejar Pengamen itu  yang lari terbirit-birit. Saya ingin bertanya mengapa ia tidak menghargai uang pemberian saya? Maunya berapa sih? Pengamen kok ada tarifnya! Kalau saja ia  rendah hati, menyanyi baik-baik, bisa saja orang akan memberi lebih banyak. Kalau minta semaunya dan seenaknya, mana ada orang yang memberi.

Belajar dari semua yang pernah saya alami, maka ketika saya sudah memberi ( uang, jasa pelayanan, pinjaman, tumpangan dll ), saya melupakan apa yang sudah saya berikan.

Yang lebih  heboh lagi bila memberi pinjaman kepada seorang teman, maka kedua-duanya akan hilang ( uang dan teman ).

Seorang teman yang datang meminjam uang, saya beri semampu saya. Janji tetap janji, jatuh tempo telah lewat, jangankan uang yang kembali, teman itu juga tidak kembali lagi alias menghilang. Saya  kehilangan kedua-duanya. Ini pernah saya alami. Mengapa saya jengkel, karena ia berjanji akan mengembalikan pinjaman tsb. Kalau ia bilang mohon bantuan, maka saya tidak mengharapkan uang itu akan kembali lagi dan saya akan melupakannya. Jadi lebih nyaman kalau setelah memberi, lalu lupakanlah. Saya tidak peduli apakah mereka akan berterima kasih atau tidak.

Dalam kehidupan saat ini yang  jauh lebih sulit, maka kita hendaknya lebih berhati-hati lagi dalam pinjam meminjam uang. Tagihan Kartu Kredit, pinjaman dari Bank, sebaiknya kita lunasi pada waktunya ketika tiba jatuh temponya. Mereka tidak peduli apakah ada hari libur nasional sehingga usaha kita berhenti dan tidak mendapat uang, apakah kita jatuh sakit sehingga usaha kita berhenti sejenak. Kalau sudah jatuh tempo maka semua tagihan  harus dibayar. Sudah kewajiban kita bila kita sudah menerima ( pinjaman ), maka kita  wajib mengembalikan ( memberikan kembali ) uang mereka.

Dari pada ribet urusan tagihan, maka dalam hidup saya kalau tidak terpaksa sekali, maka saya tidak mau pinjam  dari pihak lain, apalagi dengan bunga yang besar.

Hiduplah dengan uang yang kita  terima setiap bulan dan jangan hidup besar pasak dari pada tiang. Pola hidup yang konsumtip lebih baik dihindari, kalau kita tidak mau menanggung akibatnya.


“Ingatlah bahwa satu-satunya jalan untuk menemukan kebahagiaan bukanlah mengharapkan terima kasih, tetapi bergembira  karena dapat memberi” ( Dale Carnegie )

Selasa, September 07, 2010

Hari Raya Idul Fitri 1431 H





Kemarin pagi, 6 September 2010 ketika saya membaca harian “Kompas”, datang Pak M, 82 tahun.

 “Met pagi, Dok. “ kata Pak M yang tampak masih segar, meskipun tubuhnya sudah  tergolong usia Lansia, sebaya dengan usia Ibu saya. Umur mereka tidak jauh berbeda.

“Ah…jangan panggil Dok, panggil saja nama saya “ kata saya kepada Pak M, sebagai salah seorang yang telah berjasa kepada saya.

Selain kedua orang tua saya yang sudah susah payah membesarkan dan menyekolahkan saya, Pak M juga sangat berjasa kepada saya. Kesibukan ibu dan ayah saya setiap hari mencari sesuap nasi bagi keluarga kami, tidak sempat mengantar saya pergi ke Sekolah Dasar. Pak M telah mengantar dan menjemput saya dari sekolah dengan naik sepeda ayah saya. Tanpa bantuan Pak M, saya tidak sekolah dan dapat menjadi Dokter. Sejak bertahun-tahun Pak M setiap bulan menunjungi tempat saya.

Keadaan sosial ekonomi keluarga Pak M yang pas-pasan  membuat hati saya ikut prihatin. Saya selalu membantunya setiap Pak M datang berkunjung ke tempat saya.

Bila sedang tidak ada pasien, Pak M yang ingatan jangka panjangnya masih cukup baik selalu berkisah tentang kejadian-kejadian dimasa lampau. Kisah selanjutnya dapat dibaca disini

Kondisi kesehatannya yang main menurun dan menderita suatu penyakit membuat Pak M menjadi sedih. Beruntunglah Pak M dapat mempunyai Kartu Jamkesmas. Dengan kartu sakti ini ia dapat pergi berobat dengan gratis ke RS Umum di kota kami.

Pagi itu saya memberikan sebuah Kain sarung, sebuah Kemeja lengan pendek dan sejumlah uang. Semoga dapat dimanfaatkannya untuk  merayakan Hari Raya Idul Fitri 1431 H yang jatuh pada tanggal 10-11 September 2010.

Sudah saatnya saya mengucapkan:

“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H. Mohon maaf lahir dan batin”

kepada semua Relasi, Teman dan para Blogger yang sering berkunjung ke Blog saya yang merayakannya.


Jumat, September 03, 2010

Dukungan moril




Hari Jumat yang lalu saya memeriksa kesehatan salah satu Opa yang baru masuk / dirawat di Panti Wreda Kasih milik gereja kami.

Opa S, 74 tahun  tinggal di Panti untuk sementara waktu. Selama ini ia tinggal di sebuah kota, 1 jam perjalanan dari kota Cirebon, Jabar. Isterinya sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Opa S ini mempunyai  2 putra, 1 orang putranya tinggal bersama keluarganya di luar negeri dan  putra yang lain tinggal bersama keluarganya di kota kami.

Opa S yang sudah sepuh ini hidup dengan ditemani oleh  seorang pembantu. Putra-putranya menghendaki agar Opa S tinggal dengan putranya yang tinggal di kota besar sehingga dapat di tinggali oleh keluarga putranya dan Opa S. Nah waktu menuggu mendapatkan rumah baru ini  untuk sementara Opa S diminta agar tinggal di Panti Wreda. kami sehingga dapat merawat orang tuanya dengan baik. Mengingat rumahnya yang kecil maka mereka berniat akan membeli rumah yang lebih

Sebelum tinggal di Panti, Opa S diwawancara oleh Ketua Pengurus Panti dan diperiksa kesehatnnya oleh Dokter ( saya ). Dari segi medis tidak ada masalah. Opa S dapat melayani diri sendiri dan tidak mempunyai penyakit yang khronis. Oleh karena biasanya ia hidup sendiri dengan ditemani seorang pembantu, maka sudah menjadi kebiasaannya untuk mengatur keperluan pribadinya menurut keinginannya. Suatu hal yang wajar saja.

Dalam pembicaraan dengan Pak T, Ketua Pengurus Panti, Opa S minta agar baginya disediakan sebuah kamar khusus, kamar mandi khusus dan fasilitas khusus bagi dirinya. Suatu permintaan yang wajar mengingat keluarga Opa S mampu membayar biaya tinggal di Panti. Keinginannya  tidak dapat dikabulkan  dengan alasan bahwa Panti Wreda ini bukan sebuah Hotel yang mempunyai fasilitas seperti yang Opa S inginkan. Kami memberi pengertian bahwa tinggal di Panti tidak bersifat eksklusif, tetapi harus dapat  hidup bermasyarakat sesama Opa dan Oma  lain. Opa S  akan tinggal sekamar dengan Opa yang lain.

Bila Opa S dan keluarga tidak setujui, kami tidak dapat memaksa siapapun untuk tinggal di Panti yang mempunyai aturan yang sudah dibuat dan dilaksanakan sesama berpuluh tahun. Akhirnya Opa S mau tinggal di panti dengan mencoba hidup disini selama 1 minggu dahulu. Bila betah maka akan diteruskan dan bila tidak betah maka Opa S tidak jadi tinggal di Panti.

Hal ini baru pertama kali terjadi, ada Opa  menghendaki hal ini. Dalam hati saya lalu bertanya mengapa tidak tinggal di Hotel saja, mungkin hidupnya lebih sesuai dengan keinginannya.

Hidup banyak pilihan dan keputusan ada di tangan kita masing-masing. Suatu hal yang patut kita ingat bahwa  dalam hidup manusia hidup adalah berkelompok artinya  manusia hidup bersama orang –orang lain disekitarnya, tidak menyendiri. Dengan hidup berkelomok kita dapat berbagi pengalaman dengan orang lain, dapat curhat dengan orang lain, dapat saling mendukung dalam hidup dsb. Kalau hidup sendirian, maka hidup akan menjemukan dan untuk apa hidup kesepian seperti  yang Opa S sudah lakukan selama tahun-tahun terakhir ini?

Nah  hari Jum’at yang lalu Opa S ketka bertemu dengansaya, ia mengulangi lagi keinginannya utuk mencoba dahulu tinggal di Panti selama 1 minggu.

Saya berkata “Opa S, jujur saya katakan bahwa hidup di Panti ini sebenarnya cukup enak. Coba bayangan. Dengan uang / biaya  yang layak dapat hidup dengan cukup layak. Kalaupun tidak mampu atau alasan lain, maka Gereja yang akan menanggungnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Mau makan sudah tersedia pada waktunya dengan menu dan gizi yang cukup baik, mau mandi sudah tersedia air bersih, kalau hujan tidak kehujanan, kalau panas tidak kepanasan, kalau sakit ada yang mengobatinya, mau mengikuti kebaktian di Gereja sudah tersedia mobil transport, mau dikunjungi oleh keluarga tidak ada larangan. Lalu mau  hidup yang bagaimana lagi? Mau berkomunikasi dan bergaul dengan orang-orang  yang sebaya, cukup tersedia. Kurang apa lagi?”

Opa S terdiam, lalu saya melanjutkan “ Begini Opa S, kalau Opa dapat hidup selama 1 minggu di Panti ini, maka Opa akan sanggup bertahan selama 1 bulan dan bila sanggup bertahan 1 bulan, maka Opa akan sanggup bertahan selama 1 tahun. Percayalah. Tuhan dan kami akan menyertai Opa tinggal disini. Jadi janganlah pesimis dalam menghadapi hidup di Panti ini. Kalau Opa dan keluarga sudah mendapat rumah yang  jauh lebih layak, kami tidak akan menahan Opa untuk tinggal disini.”

Opa S mengangguk-anggukkan kepalanya dan tersenyum. Ia merasa puas dengan sugesti dari saya. Apakah Opa S dapat bertahan hidup selama 1 minggu ke depan?

Saya berharap  agar keluarga Opa S   segera mempunyai sebuah rumah yang layak untuk tinggal bersama. Semoga.-

Rabu, September 01, 2010

Mobil sebagai petunjuk



Saat ini banyak pasien yang mengambil suatu petunjuk tentang keberadaan dokter dengan melihat mobil yang diparkir di tempat dokter, terutama di tempat praktik pribadi. Untuk Dokter yang bertugas di Rumah Sakit, pasien akan sulit mengambil petunjuk tsb sebab  ada banyak mobil yang diparkir di halaman Rumah Sakit. Bila tidak ada mobil dokter di tempat parkir, maka pasti dokter tidak ada / belum datang.

Petunjuk ini sebenarnya tidak mutlak 100 % benar sebab Dokter datang ke tempat praktik / tempat tugas dapat diantar oleh supir / isteri / suami dan mobil tidak diparkir di tempat praktik / tempat tugas.

Itulah suatu petunjuk atau patokan yang dianut sebagian besar para pasien yang ingin berobat. Bila tidak terlihat mobil dokter, maka dianggap dokter tidak praktik. Ini tidak benar. Dokter dapat saja datang dengan diantar oleh orang lain atau datang menggunakan kendaraan lain seperti sepeda motor, sepeda atau becak sebagai angkutan umum. Alasan yang terakhir ini tidak masuk dalam agenda para pasien.

---

Tadi pagi Ibu M, 35 tahun datang berobat ke tempat praktik saya.
“Dok, kemarin pagi kok tidak praktik sih?” ia berkata

Saya menjawab “Lho, kemarin saya buka praktik kok!”

“Saya tidak melihat mobil Dokter.”

“Lho, saya kan dapat datang diantar isteri saya dan mobilnya  digunakan oleh iteri saya untuk keperluan lain.”

“O…gitu, Dok.” Pasien  menjawab.

“Ibu lain kali kalau tidak melihat mobil kami, Ibu  dapat bertanya kepada orang yang ada di dalam rumah ini. Ibu boleh bertanya, gratis kok. Mau bertanya, sesat di jalan lho.” Kata saya.”

---

Pak B, 40 tahun berkata “Dok, dokter kemarin tidak praktik ya?”

Saya menjawab “Kemarin saya buka pratik. Saya menggunakan mobil isteri saya, sebab mobil saya masuk bengkel untuk suatu perbaikan.”

“O…saya kira dokter tidak buka praktik, sebab saya tidak melihat mobil dokter. Jadi saya  datang  lagi hari ini.” Kata Pak B.

---

Itulah sekedar contoh yang menunjang bahwa sebuah mobil dapat dijadikan petunjuk apakah seorang Dokter ada di tempat praktik atau tidak.

Kalau Dokter tsb tidak mempunyai mobil, apa yang dapat dijadikan petunjuk bagi para pasiennya? Apa lagi kalau pasien malu bertanya atau tidak mau bertanya. Kalau tidak ada mobil, langsung lewat saja dari tempat praktik. Kapan bisa sembuh?

Kalau dokternya naik speda motor, pasien  pernah  nyeletuk “Huh…dokternya tidak bonafid” atau berkomntar ” ah…dokter tidak pantes naik sepeda” dll.

Lho, sebenarnya pasien  perlu dokter atau perlu mobil? Dokter bisa datang  dengan  cara apa saja termasuk: jalan kaki, naik sepeda, naik sepeda motor, naik becak, naik mobil,  di antar supir dll.-

Senin, Agustus 30, 2010

Traffic jam



Traffic jam atau kemacetan lalu-lintas, terjadi di kota-kota besar di seluruh dunia pada saat ini. Tiada hari tanpa macet. Bahkan saat ini di kota-kota kecilpun sudah terjadi termasuk di kota kami, Cirebon, Jabar.

Sudah banyak upaya yang diberlakukan, tetapi hasilnya  nyaris tidak ada.
Kemacetan lalu-lintas akan berdampak:
  1. Banyak bahan bakar dengan harga yang makin tinggi akan  terbuang sia-sia
  2. Banyak waktu yang terbuang, apalagi kalau  falsafah “time in money” diberlakukan ketat.
  3. Membuat susah orang-orang yang harus tiba di suatu tempat dengan cepat ( wanita hamil yang mau melahirkan, korban kecelakaan lalu-lintas, rapat penting dan mendesak, mobil pemadam kebakaran dll ).
  4. Membuat banyak orang menjadi Stres terutama pasien Hipertensi, murid-murid sekolah, para karyawan.

---

Kemarin siang saya dan isteri terjebak macet dalam perjalanan pulang kerumah, 200 meter sebelum sebuah lintasan kereta api.

Dalam keadaan sehari-hari saja lintasan ini  sering membuat macet setiap 30 menit sebab harus mendahulukan rangkaian kereta api rutin yang akan melintas.
Ada 3 sedan yang menghindari kemacetan tadi dengan berbelok kanan, ke arah yang sebaliknya ( dan ini membuat kedaan makin macet lagi ). Suara klason mobil-mobil besahutan. Menambah masalah baru dengan timbulnya suara bising ini.

Setiap mobil jalan merayap mendekati lintasan kereta api. 100 meter dari lintasan k.a. ini saya melihat ada sebuah truk pengangkut kontainer berputar yang berisi adukan semen diparkir di tepi jalan. Truk ini sudah mengambil setengah ruas jalan raya yang sudah sempit dan jalan makin sempit sehingga tidak heran membuat traffic jam .

Rupanya truk itu akan menumpahkan adukan semen untuk membuat / memperbaiki lintasan kereta api. Ada angkutan kota, becak, sepeda motor  dan semerawutnya para supir, tentu saja akan membuat petugas makin pusing dan hanya dapat mengawasi traffic jam ini. Mau bagaimana lagi? seorang polisi lalu lintas yang bertugas tetapi nyaris tidak banyak membantu mengatasi traffic jam ini. Jalan makin sempit, jumlah kendaraan ( sedan, minibus angkutan

Saya bertanya  dalam hati “Mengapa tidak dilakukan pada malam hari saja, dimana arus lalu lintas sepi?” Biaya  lebih mahalnya ongkos karyawan akan terkompensasi dengan tidak terjadinya traffic jam pada siang hari. Seperti yang saya lihat di sebuah negara tetangga dekat.

Tahun 1993 kami pernah mengunjungi  negara tetangga  tadi. Ketika malam hari pukul 20.00 kami berjalan kaki di sebuah trotoir jalan ( yang nyaman dilewati pejalan kaki dan tidak dipakai untuk tempat berjualan seperti di negara kita ), saya melihat beberapa petugas sedang memperbaiki jalan raya hotmix.

Rupanya pada siang hari ada petugas lain yang  sudah memberi tanda dengan kapur putih, dimana ada jalan yang aspal hotmix-nya terkelupas yang perlu segera diperbaiki. Petugas yang malam hari segera bekerja dengan menumpahkan campuran aspal hotmix dan segera diratakan dengan sebuah slender ( alat penggiling jalan ). Pekerjaan rutin ini  tidak memakan waktu lama dan tidak membuat traffic jam. Kerjanya sangat efektip dan cepat  karena dikerjaan oleh petugas yang profesional yang sudah rutin melakukannya.

Jalan raya yang rusak berat, karena sudah lama tidak diperbaiki tentu akan memakan waktu dan biaya yang besar dan waktu yang lebih lama dan tentu akan membuat arus lalu lintas sangat terganggu seperti di jalur Pantura menjelang Hari Raya Idul Fitri tiap tahun.

Jalan  yang rusak dan segera diperbaiki,  akan membuat pekerjaan lebih ringan, lebih cepat, biaya tidak besar dan tidak ada traffic jam. Suatu cara kerja  yang efektip dan bermanfaat bagi semua pengguna jalan raya. Tidak ada kemarahan dan bisingnya bunyi klakson mobil yang tidak perlu. Di negara  tetangga tadi, saya jarang mendengar bunyi klakson mobil. Kalau ada bunyi klakson mobil pasti ada yang tidak beres.-

Sabtu, Agustus 28, 2010

Sudah berobat tetapi belum sembuh juga




Pagi ini datang berobat Pak  A, 53 tahun.
Ia mengeluh: demam sejak 3 hari yang lalu, sakit tenggorokan dan batuk, tanpa dahak.

Tekanan darah  dalam batas normal, bunyi Jantung dan pernafasan: normal, Suhu tubuh sedikit meninggi, dinding Tenggorokan: merah / hiperemis.
Dibuat Diagnosa ( penentuan penyakit ): Pharyngitis acut ( radang tenggorok akut  ).

Saya bertanya “Bapak bekerja dimana?”

Pak A menjawab “Saya mengajar, Dok”

“O..kalau  mengajar, pekerjaan Bapak, Guru? Peserta Askes?” saya bertanya lagi.

Ia menjawab “Benar, dok.”

“Mengapa Bapak tidak menggunakan fasilitas Askes saja, agar tidak usah mengeluarkan biaya berobat?”

“Saya sudah berobat ke Puskesmas terdekat, tapi belum sembuh demamnya. Saya juga sudah berobat ke Dokter yang buka praktik dekat rumah kami, tapi demamnya masih ada, dok.”

Wah…sudah berobat kok masih belum reda juga demamnya.
Saya buatkan sebah resep: antibiotika kapsul, anti flu tablet dan tablet obat batuk dan berpesan kepada Pak A, agar banyak minum dan cukup istirahat.

Setelah pasien meninggalkan ruang periksa, timbul pertanyaan di benak saya “Mengapa sudah berobat di 2 pelayanan kesehatan tetapi, demam dan  sakit tenggorokannya belum reda? Apakah obatnya tidak tepat atau ada faktor lain?” Obat-obat yang saya resepkan juga kurang lebih mungkin sama dengan  tenaga kesehatan sebelumnya.

Apakah ada faktor sugesti terhadap saya?
Saya tidak yakin benar, sebab pasien belum pernah datang berobat sebelumnya.
Mungkin ada relasi atau familinya yang pernah berobat kepada saya dan ternyata sembuh? Semoga.-

Jumat, Agustus 27, 2010

Saat bantuan tiba




Siang ini pukul 13.30 saya mengantar isteri pergi ke salah satu bank di kota kami untuk sebuah urusan perbankan. Setiba di halaman parkir isteri saya segera memasuki Bank tsb. Saya mencari tempat parkir dan memasang kunci pengaman mobil kami.

Ketika saya memasuki Bank ini, saya melihat isteri saya sudah berada di sebuah antrian yang cukup panjang. Hebat Bank ini, hampir tutup ( pk. 15.00 ) masih banyak nasabah yang berada dalam antrian.

Saya mencari kursi kosong untuk duduk. Setelah 10 menit, istri saya sudah berada di depan salah satu loket teller.  Setelah berbicara sejenak, konon isteri saya  salah antri. Seharusnya  antri di antrian di sebelah kiri yang dapat untuk menerima uang transferan.

Isteri saya yang tidak tahu salah antri, mendongkol karena sudah antri cukup lama tapi harus antri lagi di antrian yang lain. Untuk masuk dalam antrian ini, setiap nasabah harus mengambil nomer antrian di mesin khusus. Sang Satpam ikut membantu mengambil nomer antrian. Nomernya D444, nomer yang sudah boleh masuk antrian baru nomer D397. Jadi harus menunggu 53 orang nasabah lagi. Cukup lama, meskipun ada  banyak Loket yang masih melayani.

Isteri saya berniat mengurungkan antri, sebab pasti akan menuggu lama lagi. Ia menyesal sudah ikut salah antrian tadi sehigga buang waktu.

Saya menghibur dengan berkata “Sabarlah. Kita sudah datang ke Bank ini, tunggulah sampai urusan selesai. Biar saya temani disini.”

Isteri saya akhirnya setuju dan duduk di bangku yang kosong yang tersedia bagi nasabah –nasabah yang menunggu nomer antrian. Sekira 8 menit kemudian, seorang wanita, 35 tahun yang sedang berdiri dalam antrian bertanya kepada saya “ Om ..berapa nomer antriannya?”

Saya menjawab dengan bahasa tubuh  sambil mengangkat  4 jari tangan kanan saya sebanyaka 4 kali yang berarti nomer 444. Nomer antrianya adalah: D435.

Wanita itu berkata lagi “Om, pakai saja nomer antrian teman saya yang batal ikut antrian. Ini  kertasnya.” Saya lihat bernomer D 436. Jadi dapat menghemat waktu antrian sebanyak 8 orang nasabah. Lumayan juga nih.

Saya berkata “Terima kasih.” Sambil menerima kertas antrian itu.

Segeralah isteri saya  ikut antri dibelakang wanita itu sambil berkata “ Terima kasih ya.”

Tidak sampai 10 menit kemudian, urusan isteri saya di Bank ini sudah selesai. Wajah isteri saya lebih cerah dari sebelumnya. Urusan di Banknya selesai sudah.

---

Kesimpulan yang dapat saya ambil adalah:
  1. Sikap sabar sering kali ada manfaatnya.
  2. Orang yang sabar sering kali mendapat hikmahnya, misalnya datang bantuan / pertolongan dari orang lain yang tidak terduga.
Mengapa wanita itu peduli kepada kami? Kami tidak tahu jawabannya. Kami tidak saling mengenal, bahkan  kami belum pernah melihat sebelumnya.

Kalau dia tidak care kepada kami, bisa saja kertas antrian temannya itu dia sobek-sobek. Dari pada dibuang, kok ia mau memberikannya kepada kami. Rasanya  ada suatu kekuatan yang menggerakkan hatinya untuk berbuat baik kepada kami. Kami hanya dapat mengucap “Terima kasih, ya.” Kami sudah ditolongnya.-