Kamis, Mei 28, 2015

Efek samping obat


2 hari yang lalu datang berobat, Pak ML 50 tahun. Keluhannya kedua tungkai kaki bengkak sejak 1 minggu yang lalu. Penderita sering minum Bir.

Pada pemeriksaan didapatkan tekanan darah 130/80 mmHg (dalam batas normal ), Jantung , Paru-paru, Perut: dalam batas normal. Kedua tungkai kaki tampat edema (bengkak) dan pada penekanan dengan ujung jari tampak cekungan (pitting edema).

Saya berkata “Tekanan darah anda normal.”

Pasien menjawab “Iya, Dok. Sebenarnya saya menderita darah tinggi dan ayah saya juga menderita darah tinggi. Saya minum obat anti darah tinggi sejak 6 bulan yang lalu.”

Saya bertanya “Anda mendapat obat darah tinggi dari siapa?”

Pasien menjawab “Dari seorang teman, yang juga dokter umum.”

Saya bertanya lagi “Apa nama obat anti darah tinggi itu?”

Ia menjawab nama sebuah tablet 5 mg dari sebuah perusahaan obat (namanya tidak saya sebutkan).

Saya berpikir, mungkin pitting edema pasien ini berasal dari efek samping obat anti darah tinggi tersebut. Obat ini sering menimbulkan efek samping bengkak pada kedua kaki pasien yang minum obat ini.

Untuk memastikan adanya kelainan Ginjal (kedua tungkai bengkak) dan fungsi Hati (karena pasien sering minum Bir/alkohol yang dapat mengganggu fungsi Hati), maka saya membuat surat pengantar untuk pemeriksaan Darah dan Urine ke sebuah Laboratorium Klinik. Untuk sementara saya tidak membuat resep onat untuk pasien ini dan akan diberikan setelah hasil Laboratorium ini datang.

Saya berkata kepada pasien bahwa penyebab bengkak tungkainya kemungkinan besar dari efek samping obat darah tinggi yang diminum sejak 6 bulan yang lalu, tetapi untuk memeriksa apakah ada kelainan fiungsi Ginjal dan fungsi Hati sebaiknya diperiksa Darah dan Urine terlebih dahulu. Setelah ada hasil pemeriksaan Lab, saya akan memberikan obat darah tinggi dari jenis yang lain.

Pasien menyetujui rencana saya ini dan ia meninggalkan ruang periksa.

Keesokan harinya pasien belum datang. Di tunggu sampai pukul 19.00 malam juga masih belum datang. Akhirnya saya menelepon Lab. Klinik tersebut. Setelah memperkenalkan diri saya, saya bertanya “Kemarin saya merujuk pasien nama Tn ML, 50 tahun untuk pemeriksaan Darah dan Urine. Apakah pasien saya sudah diperiksa? Kok sampai saat ini ia belum datang kembali.

Sang petugas Lab. Memeriksa di komputernya dan berkata “Dok, pasien nama ML, 50 tahun tadi pagi telah datang, tetapi tidak menunjukkan surat pengantar Lab dari dokter. Ia datang dengan status atas permintaan sendiri (APS). Ia menyebutkan hasil pemeriksaan Lab, tetapi hasil pemeriksaan fungsi hati tidak ada (tidak diperiksa).

Saya mengucapkan terima kasih atas informasinya. Saya heran akan sikap pasien saya yang satu ini, karena:
1. Diberi surat pengantar ke Lab, tetapi ia tidak menunjukkannya kepada petugas Lab. Ia memeriksakan diri dengan memakai status APS (Atas Permintaan Sendiri).
2. Pemeriksaan darah untuk pemeriksaan fungsi hati, tidak diperiksakan. Apakah ia khawatir kalau hasilnya akan buruk mengingat ia biasa minum Bir sejak lama.
3. Pasien tidak datang kembali untuk berkonsultasi tentang hasil pemeriksaan Laboratorium yang telah ia lakukan.

Saya berpikir apakah ia akan berkonsultasi kepada temannya yang juga seorang dokter umum? Saya tidak tahu. Pasien aneh.

2 komentar:

  1. Pagi dokter
    Saya henggar penderita tbc, sekarang menjalani pengobatan baru 1 bulan lebih.
    Begini dok saya ingin bertanya,
    Saya biasa minum obat pukul 9-10malam, tapi karna ketiduran saya kebangun pukul 4 pagi lalu saya buru minum obat nya,
    Apakah tidak apa2 minum obatnya lebih 8 jam?
    Gimana sih aturan minum obat tbc menurut per jam nya?
    Sebelumnya Terima kasih Dokter

    BalasHapus
  2. To Henggar Noey,

    Obat anti TBC diminum selama 6 bulan dan harus teratur sesuai petunjuk dokter anda. Biasanya minum obat ini pada pagi hari. Besok dst nya juga pagi hari pada jam yang sama, agar konsentarsi obat yg diminum tetap dalam kadar yg sama. Kalau sudah terlanjur minum obat pada jam yg tidak sama, maka usahakan agar besok dstnya minum pada saat yang sama.

    Salam,
    Basuki P.

    BalasHapus