Selasa, Agustus 18, 2009

Karakter Manusia


Dalam Blog ini, saya pernah menulis karakter Pasien dan karakter Dokter. Pada Posting kali ini, saya menulis karakter manusia, tidak melihat apa profesinya atau jabatannya. Selama hidup, saya menjumpai banyak karakter manusia, antara lain:

1. Keep smiling:
Banyak senyum. Diomelin, apalagi dipuji, ia tersenyum. Saya pernah mempunyai Staf ketika saya bekerja di salah satu Puskesmas. Bila bertemu dengan saya, Nn S tersenyum sebagai sapaan terhadap atasannya. Bila mendapat tugas yang menyenangkan, ia tersenyum juga. Pernah suatu saat, tugas yang diberikan kepadanya belum selesai pada waktunya. Saya menegurnya. Ia tersenyum, merasa bersalah. Niat saya akan memarahinya, akhirnya saya batalkan. Toh ia sudah mengakui kesalahannya

2. Sombong:
Merasa dirinya lebih kaya dari saya sering tidak menganggap saya sebagai orang yang layak diajak bicara. Entah mengapa.
Suatu pagi, datang sepasang suami isteri naik mobil yang lebih bagus dari mobil kami yang diparkir di depan rumah kami. Mereka membawa putrinya, 8 tahun yang sakit dan ingin berobat kepada isteri saya ( yang juga dokter umum ).
Ketika saya membukakan pintu rumah kami, saya mendengar sang isteri bertanya “Dokternya, ada?” Padahal ia sedang berhadapan dengan seorang dokter di rumahnya sendiri ( saya ). Maksudnya apakah Ibu dokter ada? ( isteri saya ).
Saya yang berpakaian T Shirt dan celana pendek, disangkanya pembantu Ibu Dokter ( mungkin beum kenal siapa saya ).
“Ada, siapa yang mau berobat?” taya saya sekedar basa-basi.
Sang ibu menunjuk putrinya yang berpakaian seragam SD ( baju putih, rok merah ).
Komunikasi tidak lancar. Sang ibu hemat bicara. Saya menilai orang ini kok sombong ya. Mungkin ia panik o.k. putrinya sedang sakit atau emang ia sombong.

3. Malu-malu mau:
Suatu saat saya menggantikan praktik siteri saya yang sedang bertugas mengikuti Rapat Kantor di Jakarta.
Ibu mengutarakan maksudnya untuk suntik ulang KB setiap 3 bulan satu kali.
Ibu M bertanya ‘Ibu Dokternya mana?” Padahal asisten kami di Ruamng Tunggu sudah memberitahukan bahwa Ibu dokter hari itu tidak raktik.
“Isteri saya sedang keluar kota. Sore ini saya yang menggantikannya,” jawab saya.
“Saya ingin suntik ulang KB”, kata Ibu M.
“Boleh, silahkan Ibu saya ukur tekanan darahnya dulu,” jawab saya.
“Saya tidak mau kalau sama Pak dokter.”
“Kenapa? Disini ada buku catatannya, ada obat suntik KB-nya dan ada dokter yang akan menyuntik Ibu,” kata saya.
“Saya malu”, katanya
“O.k. kalau begitu suntik KB-nya d lengan atas saja ya,” saya memberi solusi.
“Tidak mau, saya malu.”
Astaga, suntik di lengan atas ( bukan di bokong ) juga malu.
 “Ya sudah. Kalau begitu Ibu tunggu saja isteri saya pulang 2 hari lagi atau minta bantuan Dokter wanita lain attau ibu jangan campur dulu dengan suami,” kata saya.
“Suami saya nanti malam pulang dari Jakarta, ia bekerja disana dan 1 bulan sekali pulang ke Cirebon,” katanya dengan sedih.
“Kalau begitu, suami Ibu pakai Kondom saja dulu, o.k. saat ini Ibu tidak terlindungi obat KB,” kata saya.
Ibu M terdiam beberapa saat, lalu ia memohon kepada saya, katanya “Ya sudah, tapi disuntiknya di lengan atas ya, dok.”
“O.k.” kata saya.
Beberapa menit kemudian tindakan menyuntik obat KB selesai. Ibu M tidak perlu memperlihatkan bokongnya.

4. Enak diajak bicara:
Saya duduk di Satsiun k.a. Gambir, Jakarta menunggu kereta api yang akan membawa saya ke kota Cirebon.
Di sebelah saya duduk seorang Bapak K menunggu kereta api yang sama.
Pak K ini seorang PNS yang 2 tahun lagi Pensiun dari suatu Departemen.
Sebentar saja kami sudah akrab, apalagi ketika ia mengetahui bahwa saya adalah mantan PNS yang sudah Pensiun Dini TMT 1 April 2000. Pak K ini mempunyai kepribadian yang Extrovert, mudah dan enak diajak bicara dan periang.

5. Tertutup:
Kebalikan dari kepribadian di atas ada orang yang tertutup ( Introvert ). Mereka sulit diajak bicara, menutup diri. Kita sulit bergaul dengan mereka. Suasana hatinya Melancholis, sedih. Kalau ditanya jawabnya pendek “Iya “ atau “Tidak “ saja. Mereka tidak banyak mempunyai teman.

6. Berbelit-belit:
Ada orang yang kalau ditanya jawabannya berbelit-belit, padahal sebagai dokter ingin membantu apa yang diderita pasiennya.
Kalau sudah begini, biasanya ( hampir selalu ) ia menyembunyikan sesuatu. Ia mempunyai rahasia yang tidak boleh diketahui oleh orang lain.
Saya mengajukan suatu pertanyaan pancingan agar ia menjawab atau berupaya menjawab pertanyaan saya.
Dalam menghadapi kasus G.O. pasien pria biasanya tidak mau perbuatannya dengan wanita lain diketahui oleh orang lain tidak peduli itu adalah dokter yang akan mengobatinya.
Saya mengajukan pertanyaan “Kapan anda berhubungan dengan wanita yang bukan isteri sendiri?”
Sang pasien balik bertanya “Kok dokter tahu saya melakukannya? Dari siapa dokter tahu?”
Saya jawab “Dari pandangan mata anda!” Pandangan mata orang yang diajak bicara selalu tidak mau tatap muka, patut dicurigai ada sesuatu yang disembunyikannya. Indra ke-6 lah yang perlu digunakan.

7. Lebih pandai menyalahkan orang lain:
Ada orang yang selalu menyalahkan orang lain kalau terjadi suatu kesalahan. Mereka berprinsip “Mesti ada orang yang patut disalahkan atau yang bertanggung jawab.” Tidak peduli ada buktinya atau tidak. Wah gawat kalau menghadapai orang seperti ini.
Setiap orang mempunyai sisi baik dan sisi buruk. Mereka banyak melihat keburukan-keburukan orang lain, tetapi mereka lupa mencatat kebaikan-kebaikan orang-orang itu. Mereka akan dijauhi dari pergaulan dan sukar mempunyai teman, apalagi sahabat.
---
Setelah membaca posting ini, anda termasuk mempunyai karakter yang mana? Yang ke 4 ? Selamet merenung.


Senin, Agustus 17, 2009

17 Agustus 2009



DIRGAHAYU KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
KE 64.


Sabtu, Agustus 15, 2009

Kebaikan


Gunung Ciremai, Jawa Barat. Suatu pemandangan alam yang baik.

Kemarin dore datang seorang Ibu Aminah ( bukan nama sebenarnya ) membawa putrinya Siti ( bukan nama sebenarnya ), 4 tahun untuk berobat. Siti menderita demam 2 hari, ada batuk dan pilek. Belum diberi obat apapun. Pekerjaan ayah Siti pelayan sebuah Toko kelontong. Siti baru pertama kali datang berobat kepada saya.

Setelah saya melakukan tanya jawab dan pemeriksaan fisik terhadap Siti, saya membuat rekam medis Siti. Terakhir saya membuat resep obat untuk Siti.

Sambil menerima resep itu, Ibu Aminah bertanya “Berapa , Dok?”

Saya mengatakan fee yang harus dibayar. 
Ibu Aminah membuka dompetnya, hanya ada sedikit uang dalam dompetnya. 
Ibu Aminah berkata “Maaf Dok, saya hanya punya segini ( 25 % dari fee dokter ).”

Saya menjawab “Tidak apa-apa, Bu. Semoga Siti lekas sembuh.”

Ibu Aminah termenung sejenak dan bertanya kepada saya “Mengapa Dokter begitu baik kepada kami?”

Mendapat pertanyaan seperti itu saya kaget, tidak menyangka ia bertanya seperti itu. Saya termenung dan akhirnya saya teringat kata-kata Pak Mario Teguh dalam acara “Golden way” dalam siaran Metro TV tiap hari Minggu pukul 19.05 – 20.00, dan saya berkata ”Ibu, apakah orang yang berbuat kebaikan, harus menunggu kaya dahulu?”

Ibu Aminah saat itu yang kaget mendengar jawaban saya tadi.

Untuk mencairkan suasana, saya berkata ”Sudahlah Bu, tidak apa-apa.” sambil membukakan pintu keluar. Saya melihat kedua mata Ibu Aminah berkaca-kaca.



Senin, Agustus 10, 2009

Displin waktu




“Cintailah pekerjaanmu, kalau engkau ingin sukses”, begitu pesan seorang bijak kepada saya beberapa tahun yang lalu.

Banyak jurnalis yang membuat artikel setiap hari yang diposting ke Blog masing-masing. Portal detik.com kemudian memuat Blog-blog mereka. Mereka menulis karena mereka disiplin dalam menulis. Setiap hari menulis, sehinnga kemampuan menulis, pengalaman yang tertuang dalam posting mereka sangat menarik. Memang pekerjaan mereka menulis dan mereka menulis dengan disiplin. Mereka mencintai pekerjaannya dan mentaati disiplin waktu.

Ada banyak Blogger yang mempostingnya tidak teratur, tidak setiap hari meng-update Blog mereka. Saya menemui banyak Blog yang jarang di-update. Berbulan-bulan tetap begitu tidak ada posting yang baru. Mereka tidak disiplin dalam menulis. Akhirnya malas berkunjung ke Blog tadi. Sudah keluar dari kiprah bahwa semula Blog itu berasal dari sebuah Diary, catatan harian yang ditulis secara teratur setiap hari.

Demikian juga pasien. Setiap pasien mempunyai karakter masing-masing. Saya sudah menulis artikel dengan judul Karakter pasien.

Setiap dokter wajib memasang Papan Nama yang tujuannya memberikan informasi bahwa di tempat tsb ada dokter yang buka praktik pada jam sekian sampai dengan jam sekian. Artinya di luar jam tsb, dokter tidak praktik karena sudah pulang atau ada kegiatan lain di Rumah Sakit, Puskesmas atau sedang mengikuti suatu Simposium yang bertujuan untuk menambah ilmu pengetahuan mereka.

Ukul 05.00 pagi ini saya sudah mem-booting Komputer saya dan mulai memeriksa barangkali ada email yang masuk ke dalam Inbox saya di gmail.com dan membuat Reply bagi email yang penting. Selain itu saya juga menulis beberapa artikel yang kemudian di posting ke Blog saya.

Pukul 05.25 terdengar dering telepon kami. Seorang wanita bertanya apakah isteri saya ( yang juga dokter umum ) buka praktik? Saya menjawab “Buka, tetapi tetapi jam 16.00 – 20.00 setiap sore pada hari kerja”

Wanita tsb bertanya lagi ”Kalau sekarang bisa tidak?” Disiplin waktu praktek tidak ditaati pasien. Mana ada sih dokter yang buka praktik sepagi ini. Dokter juga perlu istirahat dll sama seperti orang-orang lain. Kalau ingin berobat atau konsultasi, sebaiknya datang pada jam buka praktik, waktu yang memang digunakan untuk maksud itu.

Saya menjawab “Tidak bisa, sebab isteri saya masih bobo.” ( maklum tadi malam kami baru datang dari Bandung setelah mengikuti Konas PDKI.

“Kalau pagi buka praktek tidak?” ah ngeyel juga ni pasien.

Saya menjawab “ Kalau Ibu mau periksa, datanglah pagi antara pukul 07.00 – 07.30 sebelum isteri saya berangkat kerja di UTD ( Unit Transfusi Darah ) PMI Kota Cirebon.”

Wanita itu mengiyakan, tetapi meskipun demikian pada jam tsb tidak datang ( ada banyak kasus seperti itu ). Lalu saya bertanya dalam hati “Untuk apa mereka bertanya , dan setelah mendapat informasi, mereka tidak datang. Buang pulsa percuma dan ....dst. Cape deh....”

Disiplin waktu banyak dilanggar oleh kita semua, termasuk juga oleh para Teman Sejawat. Jam praktik pada pukul sekian sampai pukul sekian, tetapi ada banyak dokter yang datang terlambat sehingga pasien-pasien banyak yang ngomel karena harus menunggu lama kedatangan dokter mereka.

Kalimat “Cintailah pekerjaanmu, kalau engkau ingin sukses”, begitu pesan seorang bijak kepada saya beberapa tahun yang lalu, masih saya ingat sampai sekarang termasuk disiplin waktu. Begitu pentingnya waktu, sehingga orang Barat berkata “Time is money.” Nah lho…….bagaimana dengan kita semua?








Konas VIII PDKI dan PIT 2009:




Ket:
Paling kanan: Dr. Basuki Pramana.
Baju Batik: Dr. Sugito Wonodirekso, MS, PKK, PHK.
9 Agustus 2009 pukul 16.00 saya dan isteri telah tiba kembali di Cirebon dengan selamat. 

7 dan 8 Agustus 2009 kami telah mengikuti Kongres Nasional Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia VIII dan Pertemuan Ilmiah tahunan tahun 2009 yang diikuti oleh 500 peserta. Setiap peserta mendapat sebuah Sertifikat yang mempunyai nilai 9 SKP ( Satuan Kredit Profesi ). Dalam 5 tahun setiap Dokter umum diwajibkan memperoleh 250 SKP yang merupakan syarat dalam penerbitan SIP ( Surat Ijin Praktik ).

Banyak ilmu yang dapat kami serap baik tentang materi yang bersifat ilmiah maupun materi tentang Dokter Kelaurga.

Selesai acara Konas dan PIT, 8 Agustus 2008 pukul 18.00 diadakan acara Santap Malam bersama yang mengambil tempat di tepi swimming pool dengan dimeriahkan sebuah Band dari Hotel G.H. Universal Bandung dan tarian Burung Merak yang dimainkan oleh 2 penari mahasiswi dari Fak. Kedokteran Unpad Bandung. Hiburan malam ini di meriahkan juga oleh beberapa Bapak dan Ibu Dokter yang menyumbangan suara merdu mereka. Kami kagum sebagai dokter, mereka juga mereka dapat berperan sebagai singer dalam acara malam keakraban ini. Aplaus meriah selalu gemuruh setiap sebuah lagu telah dilantunkan. Kami teringat akan acara “Happy Song” di Metro TV yang dipandu oleh Sdr. Choky Sihotang.

Selesai santap malam, acara dilanjutkan di sebuah hall dan sebanyak 143 orang Dokter umum dari berbagai kota di Indonesia dilantik sebagai Dokter Keluarga. Jumlah peserta yang terbanyak berasal dari Kota & Kabupaten Cirebon sebanyak 43 dokter. Satu per satu setiap Dokter tampil ke podium untuk menerima Sertifikat Dokter Keluarga Indonesia yang ditandatangai oleh: Ketua Program Konversi Dokter Praktik Umum: Prof. Dr. Hj. Qomariyah, MS, PKK, AIFM dan oleh Ketua Pengurus Pusat PDKI: Dr. Sugito Wonodirekso, MS, PKK, PHK.

Sertifikat ini sebagai bukti bahwa setiap peserta telah menuntaskan ( telah mengikuti Pelatihan ) Program Konversi Dokter Praktik Umum menjadi Dokter Keluarga. Piagam ini juga dapat digunakan untuk mendapatkan Sertifikat Kompentensi sebagai Dokter Keluarga ( SK PP PDKI IV/Konversi/8/2009 ). 

Dengan demikian saat ini para dokter umum telah mempunyai perhimpunan sendiri yaitu PDKI ( Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia ).



Kamis, Agustus 06, 2009

Mengikuti Konas PDKI dan PIT di Bandung.


Tangal 7,8,9 Agust 2009 saya dan isteri dan teman sejawat seluruh Indonesia akan mengikuti Kongres Nasional Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia VIII dan Pertemuan Ilmiah Tahunan 2009 di Bandung.

Pada Konas tsb para Dokter Umum yang sudah mengikuti pelatihan akan dilantik sebagai Dokter Keluarga DK ).

Oleh karena itu saya tidak melakukan kegiatan akses Internet pada tanggal tsb. Harap para Neter memakluminya. Makasih.

Rabu, Agustus 05, 2009

Dering HP yang menjengkelkan (2)


Berkat kemanjuan tehnologi saat ini kita dapat mendengarkan alunan suara musik dari sebuah alat yang kecil, yang dapat dimasukkan ke dalam saku baju atau celana kita. 

Bukan itu saja tetapi juga kita dapat mengirimkan pesan pendek berupa tulisan dan saling berbicara kepada seseorang: dimanapun, kapanpun, siapapun, mirip slogan Coca-cola. Kita bisa bicara dengan lawan bicara kita tidak peduli berapa jauhnya jarak antar kita. Jakarta – Denpasar o.k., Cirebon- Sydney o.k. tidak masalah kita dapat saling bicara dan mendengar dengan mutu suara yang jernih.

Alat itu bernama Handphone atau telepon genggam. Harga HP saat ini sudah mulai lebih terjangkau dari pada saat HP dipasarkan beberapa tahun yang lalu. Dengan sebuah HP, murid SD sudah dapat saling bertanya tentang soal dan jawaban Pekerjaan Rumah yang diberikan oleh Guru di sekolahnya. Luar biasa……

Saya tidak akan membicarakan kehebatan HP tetapi justru kejengkelan saya bila HP pasien berdering ketika pasien sedang diperiksa oleh dokter ( saya ).

Tiap benda ada kebaikan dan ada keburukannya.

Saat ini saya akan menceritakan kejengkelan saya ketika HP pasien berdering.

1. Terdengar Bel Ruang periksa berbunyi. Itu tanda ada pasien yang ingin berobat. Beberapa detik kemudian saya mendengar dering HP yang ternyata datang dari HP pasien yang menekan Bel tadi. Cukup lama ia berbicara. Saya menunggu di balik pintu masuk. Bukan pasien yang menunggu dokter, tetapi dokter yang menunggu pasien masuk ke ruang periksa. 5 menit berlalu percakapan mereka belum selesai. Cape deh ..... saya menunggu. Saya menutup pintu kembali kemudian terdengar dering bel ber-ulang-ulang pasien minta masuk. Setelah ia cape mennuuggu, barulah saya membukakan pintu ruang periksa. Pasien memasuki ruang periksa tanpa minta maaf atau sekedar basa-basi kepada saya.
2. Pasien lain memasuki ruang periksa dan duduk berhadapan dengan saya. Saya bertanya siapa namanya, dimana alamatnya, apa keluhannya bla…bla….Sesaat kemudian terdengar dering HP pasien itu. Tanpa minta ijin atau maaf ia langsung bicara cas ces cos dengan lawan bicaranya, diselingi ketawa cecikian. Saya menunggu ia selesai ia bicara dan melanjutkan prosedur pemeriksaan. Nampak disini bahwa pasien cuek terhadap dokternya yang justru akan mengobati penyakitnya, tetapi ia lebih mementingkan pangilan lewat HP yang ia bawa. Saya berkata “Teruskan saja bicaranya, saya mau makan dulu ya.” Pasien tersadar bahwa perbuatannya merugikan diri sendiri. Ia datang ke ruang periksa dokter untuk diperiksa kesehatannya atau mau bicara dengan temannya yang semestinya bisa dilakkan dilain waktu setelah meninggalkan ruang pemeriksaan dokter?
3. Pasien lain lagi saat diperiksa diatas bed pemeriksaan oleh saya, terdengar dering HP yang ada di dalam saku kantongnya. Pasien tanpa minta ijin langsung menyambut panggilan teleponnya dan bicara seenaknya sambil berbaring ( konyol juga perbuatannya itu ), seolah-olah tidak ada dokter yang sedang melakukan pemeriksaan atas kesehatan dirinya. Dokter dicuekin saja. Setelah selesai ia bicara, tanpa minta maaf atau sekedar basa-basi, ia bertanya “Sudah selesai, dok periksanya.” Saya jawab “Kalau anda bicara terus, saya tidak perlu memeriksa andalah. Pulang sajalah.” Ia baru tersadar bahwa perbuatannya telah menyinggung hati sang dokter. Kemudian ia minta maaf. Huh...tiada maaf bagimu!
4. Ini yang paling konyol. Demikian kisahnya: Pak W, 40 tahun, suatu sore datang ingin memeriksakan kesehatannya. Keluhan utamanya: tidak ada selera makan dan susah tidur ( insomnia ) sejak 2 hari yang lalu. Saya mendapatkan semuanya dalam batas normal ( tekanan darah, bunyi Jantung dan Paru-paru, dll ). Saat saya akan memberikan resep Vitamin dan obat penenang. HP yang ada dalam saku bajunya berdering. Pak W bicara denagn seseorang, yang ternyata isterinya yang bertanya suaminya saat itu ada dimana, sedang apa dan mengapa saat pergi dari rumah tidak memberitahukan kepada isterinya? Pak W menjawab bahwa ia sedang berobat kepada dokter ( saya ). Aneh tadi kok tidak mengeluh apa-apa, kok sekarang berobat kepada dokter. Pak W menjawab “Kalau tidak percaya bicara saja sama dokternya”, sambil menyodorkan HPnya kepada saya dan minta agar saya bicara sedikit dengan isterinya agar isterinya yakin bahwa suaminya sedang berobat kepada dokter. Huh….konyolnya. Urusan rumah tangga pasien sebenarnya bukan urusan saya. Rupanya sang isteri curiga atau khawatir, suaminya itu pergi kemana dalam keadaan sehat pada suatu sore itu? Padahal sang suami merasakan badannya tidak fit dan ingin memeriksakan kesehatannya kepada dokter langganannya.

Dari ke 4 contoh tadi ( masih ada contoh-contoh lain ) wajar kalau dering HP pasien sering menjengkelkan saya.

Mulai saat itu, demi kepentingan bersama ( pasien dan dokter ) bila pasien membawa HP saya minta dengan hormat dan sangat, agar HPnya dimatikan dahulu saat berada di dalam Ruang Periksa. Beres dah.........

Jadi jangan heran, bila anda berobat kepada saya, harap matikan HP atau jangan membawa HP kalau tidak mau dicuekin oleh saya. Pulang sajalah.......

---

Pesan moralnya:
Baik pasien maupun dokter harus saling menghargai dan menghormati.
Suatu kesalahan dapat dimaafkan, tetapi tidak dapat dilupakan.



Dering HP yang menjengkelkan (1)


Kemarin pagi pukul 09.30 terdengar dering panggilan ke HP Nokia saya.

Saya mendengar suara laki-laki dengan background noise yang bising ( mungkin ada disekitar pasar / terminal ) “Halo ini nomer 0811…… ( no HP Telkomsel saya ).

Saya jawab “Benar, anda siapa?” ( o.k. nomernya tidak ada dalam daftar kontak saya ).

“Saya dari Kantor Telkomsel Pusat. Saat ni nomer HP anda bermasalah. Silahkan anda catat dan hubungi nomernya yaitu...bla...bla...”

Saya tidak memperhatikan ucapannya lagi, sebab kalau benar bermasalah pasti sudah diblokir total ( tidak bisa keluar dan tidak bisa masuk ). Saya langsung memutuskan pembicaraan. Dari daftar Log HP saya, terlihat nomer +62812....( Telkomsel ).

Selang 3 jam kemudian seorang pria lain ( mungkin temannya ) dengan memakai nomer Telkomsel juga. Ucapannya mirip dengan yang pertama. Ketika ia bilang bahwa nomer HP saya ada masalah, saya langsung memutuskan pembicaraan.

Dari daftar Log HP saya, terlihat ia bernomer +62813…….( Telkomsel juga ). Kedua panggilan tadi berasal dari operator yang sama dengan nomer HP saya ( Telkomsel ). Ah....cape deh, meladeni panggilan seperti itu. Bila saya tidak waspada, maka akan dianggap bahwa itu benar bahwa HP saya ada masalah.

Setelah itu saya mendatangi Customer Service Telkomsel di kota saya. Saya menceritakan kisah tadi sambil menunjukkan nomer-nomer yang memanggil saya.

Saya bertanya kepada wanita C.S. yang bertugas “Apakah benar nomer HP saya bermasalah?”

---

Mbak R. melihat database pelanggan Telkomsel di Komputernya dan menjawab bahwa nomer bapak tidak ada masalah, baik-baik saja, tidak ada tunggakan dll. Kalau benar ada masalah pasti kami blokir total, untuk pengamanan. Hati-hati, pak mungkin itu nantinya berujung penipuan yang minta nomer Rekening Bank Bapak, dll”

Saya menjawab “saya juga berpendapat seperti itu, o.k. itu saya langsung memutuskan pembicaraan. Makasih ya mbak.”

Dalam perjalanan pulang saya berpikir HP saya mesti di install software yang dapat memblock masuk nomer yang berniat tidak baik ke HP saya. Kalau ia ganti nomer lain, saya akan memasukkan ke dalam daftar blockir. Beres dah….


Saya meluncur ke Toko HP langganan saya dan minta tolong install software Blacklist ke dalam HP saya dengan biaya yang terjangkau dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, sekitar 10 menit saja. 

Semoga dapat bermanfaat bagi para Blogger yang membaca posting saya ini. Ciao………

---

Kutipan:

Rahasia menjadi yang terdepan ( berhasil ) dalam segala hal adalah dengan sesegera mungkin memulainya. ( Mark Twain ).



Senin, Agustus 03, 2009

PDKI

Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Uji Kompentensi Dokter Indonesia di Blog ini..

Saat ini sudah terbentuk PDKI ( Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia ) yang mempunyai Sektretariat dengan beralamat di: Jl. Sam Ratulangi No. 29, Jakarta 10350, telp. 021-3908435, email: pdki2004@yahoo.com 

Setelah kami mendapat Pelatihan Dokter Keluarga Paket A & B pada tanggl 10, 11, 17 dan 18 Januari 2009 di Gedung RS Pelabuhan Cirebon, oeh Dr. Sugito Wonodirekso, MS, PHK, PKK dan rekan, kami mendapat Kartu Tanda Anggota PDKI ( The Assosiation of Indonesian Family Physicians ), seukuran Kartu ATM Bank, yang berlaku s/d bulan 02 tahun 2012. Para peserta yang sudah mendapat pelatihan tsb akan dilantik pada KONAS ( Kongres Nasional ) PDKI VIII dan PIT ( Pertemuan Ilmiah Tahunan ) 2009 di Bandung, tanggal 6-10 Agustus 2009, di G.H. Universal Hotel, Jl. Setiabudhi 376, Bandung 40143, website: www.ghuniversal.com 

Menurut inormasi yang saya dapat dari Ketua PDKI Cabang Cirebon, setelah dilantik para Dokter Umum se-Indonesia tsb berhak mencantumkan D.K. dibelakang namanya, misal dr. Ali Baba D.K. ( Dokter Keluarga ).

Sejak praktik umum sebenarnya pada dokter umum ini sudah melaksanakan tugasnya sebagai Dokter Keluarga yang meliputi tindakan preventiv, kuratif dan rehabilitatif sesuai kasusnya. Kalau saat ini lebih banyak tindakan kuratif yang dlakukan, karena memang kasusnya lebih banyak yang harus diobati. Tetapi tindakan preventif juga sudah dilakukan, misalnya pemberian Imunisasi bagi Bayi, Anak dan Dewasa, pemberian alat K.B., cek up kesehatan dll. Tindakan Rehabilitasi sederhana juga sudah dilakukan dan bila diperlukan dapat dirujuk ke dokter ahli rehabilitasi medis. Suatu hal yang dilakukan para dokter umum adalah kunjungan rumah ( mendapat penggilan ke rumah pasien, pasien yang meninggal dunia dll ). Hal ini saya lihat justru jarang dilakukan oleh para dokter spesialis apapun. Kunjungan rumah ini sudah menjabarkan konsep sebagai dokter keluarga yang diharapkan dapat dijadikan tempat berkonsulatsi kesehatan dalam keluarga-keluarga sekitar praktek dokter umum. Kedepan para dokter keluarga ini akan lebih banyak dipakai oleh para Asuransi Kesehatan, dari pada yang belum menjadi dokter keluarga.

Dengan demikian pada saat ini para Dokter Umum sudah mempunyai wadah dalam Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia, sama dengan perhimunan Dokter Spesialis, seperti PAPDI ( Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit dalam ), IDAI ( Ikatan Dokter Anak Indonesia ) dll.

Semoga dapat bermanfaat bagi anda dan TS lain.






Sabtu, Agustus 01, 2009

Keledai Tua dan Petani


Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan sebuah kisah yang menarik bagi kita semua.
---
Suatu hari Keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan tu menangis dengan memilukan selama berjam-jam sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditutup karena berbahaya, jadi tidak berguna menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantu.

Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur. Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus
ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan 
sesuatu yang menakjubkan.

Ia mengguncang- guncangkan badannya agar tanah yang menimpa 
punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Sementara tetangga-tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri!
Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari “sumur'” adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran, dan hati kita) dan melangkah naik dari “sumur” dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.
 

Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk 
melangkah. Kita dapat keluar dari “sumur” yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah! Guncangkanlah hal negatif yang menimpa dan melangkahlah naik !
Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :

1. Bebaskan dirimu dari kebencian

2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan

3. Hiduplah sederhana

4. Berilah lebih banyak

5. Berharaplah lebih sedikit

6. Tersenyumlah

Selamat berakhir pekan. Tuhan memberkati kita semua.
---

Kutipan:

Untuk berbuat kebaikan. kita  tidak perlu menunggu kaya dahulu. ( Anonim )