Tugas Penyuluhan Kesehatan dan KB saat masih bertugas di Puskesmas akhirnya saya harus membuat arsip pribadi. Makin lama makin banyak jumlah artikel.
Kata orang bijaksana: “Menulis adalah salah satu cara untuk menghilangkan Stres”.
Stres? Dokter kok punya Stres.
Ya bisa saja. Stres karena: kesepian, uang Pensiun belum tiba, tidak ada pasien yang datang berobat, mobil perlu biaya besar untuk perbaikan dll.
Akhirnya saya mencoba menulis. Menulis apa saja. Catatan harian sampai webblog atau Blog. Saya coba menulis via Blogger yang gratisan sampai sekarang masih berlanjut. Tidak terasa sudah bertahun-tahun saya menulis di Blog ini.
Ada komentar yang masuk seperti:
1. ucapan terima kasih yang sudah tertolong setelah membaca salah satu artikel saya,
2. bertanya tentang sesuatu dalam perjalanan Sydney Trip atau Melbourne Trip yang pernah saya tulis.
3. numpang pasang iklan, produk yang mereka jual.
Ya silahkan saja memanfaatkan Blog saya. Selama dapat membantu orang lain, mengapa tidak?
Yang paling menjengkelkan ada Blogger yang meng-copy paste-kan salah satu artikel dalam Blog saya tanpa minta ijin / memberitahukan lebih dahulu.
Artikel itu di-pastekan ke dalam Blog yang dimiliknya, seolah-olah artikel itu dia yang menulis karena tidak dicantumkan dari mana sumbernya! Hal ini saya ketahui saat saya berkunjung ke Blog-nya. Kok ada artikel saya disitu! Digabung dengan artikel lain jadi hebat, seolah posting-nya dia yang buat padahal hasil copy and paste dari Blog orang lain.
Saya putar otak, bagaimana caranya agar artikel dalam Blog saya tidak dapat di-copy & paste-kan lagi? Tampaknya saya harus mengedit HTML pada dalam tata letak ( lay out ) Blog saya itu.
Dengan sebuah Buku, pengetahuan saya dapat bertambah maju.
Itulah sebabnya mengapa hobi menulis merupakan sebuah Talenta yag dapat membantu diri sendiri ( menghasilkan uang dari royalty hasil penjualan buku ) dan membantu orang-orang lain ( menambah pengetahuan orang lain ).
Saya pernah membaca, jangankan sebuah artikel di Blog, skripsi saja banyak yang dijiplak oleh mahasiswa/i lain.
Nah lho. Mau dapat nilai bagus tetapi dari hasil keringat orang lain. Kok tega ya? Jangan begitu ah…
Setupatok merupakan nama sebuah danau kecil di sebuah Desa Setupatok, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon. Dari kotaCirebon ke arah kota Tegal ( Jateng ), sesampai perbatasan Kota Cirebon – Kabupaten Cirebon, belok ke kanan. Jarak dari titik ini ke Setupatok sekitar 5 Km. Jalan yg semula rata, selanjutnya masuk jalan pedesaan. Permukaan jalan banyak yang terkelupas Aspalnya. Dalam musim hujan ini banyak ruas jalan seperti kubangan kerbau.
Setupatok terkenal dengan adanya danau ini yang konon di dalam danau ini banyak hidup binatang Bulus sejenis Kura-kura. Yang menarik adalah adanya sebuah bukit, semacam pulau di tengah danau Setupatok ini, mirip Pulau Samosir yang berada di tengah Danau Toba di Sumatra Utara.
Di dekat danau tsb, kini dibangun sebuah Siwalk, suatu daerah wiata dengan fasilitas Meeting room, Vila-vila, Kolam renang, kolam terapi Ikan dan padang Golf.
Belum banyak promosi yang kami dengar sehingga ketika saya dan isteri mendapat Undangan untuk hadir pada Presentasi Synbio kapsul dari sebuah perusahaaan obat, saya yang lahir di Cirebon ini agak heran juga. Mana ada padang Golf di Setupatok. Ketika kami datang, memang ada meskipun masih dalam perapihan area.
Tampak vila-vila ukuran kecil ber-AC, maklumlah udara Cirebon panas menyengat pada siang hari. Meeting room tempat kami mendengar Presentasi Synbio juga dilengkapi udara sejuk dari banyak AC.
Lokasi yang kurang dikenal para dokter undangan, menyebabkan banyak yang nyasar ke daerah lain. Rambu-rambu petunjuk menuju area Siwalk juga nyaris tidak ada, sehingga kami harus bertanya-anya kepada penduduk sekitar.
Mengingat jalan yang berbukit-bukit dan banyak jalan aspal yang rusak maka lebih bijaksana bila berkendaraan Minibus dari pada Sedan.
Synbio kapsul yang dipromosikan sebagai kombinasi Pre dan Probiotik, ideal untuk gangguan Flora normal saluran pencernaan. Synbio memberikan jawaban terhadap kebutuhan pasien untuk mengatasi ganggan pencernaan seperti: Diare pada anak-anak & dewasa, IBS ( Irrtitable Bowel Syndrome ), Dispepsia, Sembelit, perasaan tidak enak pada perut dan Intoleransi laktosa.
Dalam presentasi pembicara dr. Samuel Oetoro, MS, SpGK dari Jakartaselanjutnya yang menarik adalah penggunaan Synbio untuk mengatasi keadaan alergi. Kapsul Synbio sendiri mengandung zat berkhasiat: Bifidobacterium longum 5 x 10 pangkat 9 CFU dan FOS 15%.
Pembicara pertama Ev. Dr. Kristianto Witono, FAAFM, S.Ked, M.Sc, MBA, MA dari Cirebon, (banyak amat ya gelar akademis ) membicarakan Anti Aging terutama bagi orang yang sudah tergolong Lansia. Dibahas faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan usia lanjut antara lain: faktor genetic, makanan yang sehat, olahraga teratur, Anti oksidan dll.(Th), M. Med ( Nutr) ( c )
Pembicaraan lebih berkembang dengan adanya waktu Diskusi. Banyak undangan yang bertanya masalah Anti Aging dan Synbio kapsul.
Selesai Presentasi para Pembicara, acara dilanjutkan dengan Santap siang bersama di area padang Golf. Selain menikmati makan siang daging panggang ( barbeque ), para undangan juga dipersilahkan berlatih memukul bola Golf yang dibantu oleh para instruktur Golf.
Olahraga Golf masih termasuk olah raga yang mahal ( perlengkapan Golf, sewa lapangan, pelatih dll ) sehingga tidak banyak para undangan yang mempunyai hobi main Golf termasuk saya sendiri. Lokasi yang agak terpencil ini juga merupakan suatu hambatan untuk mempunyai hobi Golf.
Meskipun demikian para undangan dapat menikmati apa yang diberikan oleh PT Kalbe selaku tuan rumah kali ini.
Pada saatnya kami mohon pamit dan kembali pulang ke rumah masing-masing.
Saya dan isteri yang numpang Minibus Toyota Dr.Kris tidak dapat menikmati sepenuhnya kenyaman mobil ini karena jalan banyak yang berlubang-lubang.
Siang itu kami mendapat satu lagi pengalaman hidup.-
Kalau ada yang berulang tahun biasa terdengar ucapan “Selamat ulang tahun dan semoga panjang umur”
Mana yang benar panjang umur atau berkurang umur?
Keduanya benar. Dengan bertambahnya tahun maka akan bertambah umurnya 1 tahun.
Kalau umur manusia sudah ditentukan oleh yang diatas, maka dengan berulang tahun maka sebenarnya akan berkurang jatah umurnya. Jadi keduanya benar.
Bertambahnya umur maka organ tubuh akan makin berkurang kwalitasnya sebab akan terdapat organ-organ tubuh yang aus. Apa lagi kalau tubuh tidak dirawat dengan semestinya.
Ibarat sebuah mobil yang dirawat dengan baik maka mobil itu akan masih dapat berjalan dengan baik meskipun umurnya sudah 10 atau 20 tahun. Kalau sudah 60 tahun pasti sudah banyak sparepart / onderdil yang diganti agar dapat berjalan dengan baik.
Nah bagaimana kalau tubuh manusia yang sudah berumur 60 tahun?
Sulit mencari organ tubuh untuk mengganti organ tubuh yang rusak, misalnya dengan cara transplamtasi organ tubuh ( Hati, Ginjal dll ). Kalaupun ada maka akan membutuhkan biaya yang sangat besar nyaris tidak terjangkau bagi kebanyakan orang.
Lebih bijaksana bila kita sebagai manusia wajib menjaga dan merawat tubuh kita masing-masing agar mengurangi efek kemunduran organ tubuh dengan meningkatnya umur. Dengan demikian diharapkan kita masih dapat hidup nyaman meskipun umur sudah lanjut.
---
Kemarin Pak S, 60 tahun setelah memeriksakan dirinya karena terserang Flu, sempat berbincang-bincang dengan saya. Kebetulan tidak ada pasien yang ingin berobat lagi sehingga ada banyak waktu untuk sekedar sharing.
Pak S berkata “Dok, berapa umur Dokter?”
Saya menjawab “Enam puluh dua tahun 10 bulan.”
Pak S “Ah..umur kita hampir sama, Cuma beda 2 tahunan. Kalau boleh bertanya, Dok, dalam umur dengan KTP seumur hidup apakah dokter masih dapat menikmati hidup dengan nyaman?”
Saya menjawab “Sampai sejauh ini sih, cukup nyaman. Kalau ada gangguan kesehatan seperti Flu, Diare, Pegel linu itu sih sudah wajarlah. Pernah juga sih saya masuk Rumah Sakit akibat penyakit: Radang Usus Buntu, Tipes perut, Operasi Retina, Operasi Katarak, bahkan sampai masuk ICU akibat gangguan pembuluh darah koroner Jantung saya. Puji Tuhan semuanya dapat diobati meskipun dengan fasilitas Askes sebagai PNS dan Pensiunan PNS.
Pak S berkomentar lagi “Ah…ternyata meskipun sebagai dokter tetapi ada banyak penyakit yang diderita ya. Bersyukur ya Dok, semuanya dapat diatasi.”
Saya menjawab “Ya, jangankan Dokter, Pejabat Tinggi, Raja, Ratu, Presiden pun dapat sakit dan bahkan dipanggil Tuhan Pak.”
“Iya benar, Dok.”
Saya bertanya “Pak S, ngomong-ngomong bagaimana dengan kondisi kesehatan anda dan isteri anda?
Pak S menjawab “Puji Tuhan sampai saat ini saya jarang sakit, kecuali gangguan susah tidur dalam 1 tahun terkahir ini.”
Saya bertanya lagi “Bagaimana dengan kesehatan isteri anda?”
Kata Pak S “Nah itu dia, Dok. Isteri saya berumur sama dengan saya 60 tahun juga, tetapi hampir setiap hari mengeluh tentang kesehatannya. Kami mempunyai sebuah toko kelontong dengan omset tidak besar setiap bulannya, tetapi cukuplah untuk menopang hidup kami. Kami punya 2 orang putra dan semuanya sudah berkeluarga. Kami hidup berdua lagi seperti dahulu sebelum mempunyai anak.
Isteri saya sudah 10 tahun dalam masa Menopause. Kalau dahulu sebelum Menopause isteri saya penyabar, lemah lembut, tetapi sekarang tenperamennya berubah banyak, Dok. Ia mudah tersinggung, tidak sabaran, sering ngomel tapi tidak jelas apa yang doiomelin, sering kali mengeluh susah tidur.
Saya menimpali “Iya benar wanita yang sudah menopause ( berhenti haid ) pada usia sekitar 48 – 51 tahun akan banyak mengeluh. Saat organ tubuh sudah mulai menurun fingsinya maka ada banyak keluhan yang timbul.”
Pak S bertanya “Mengapa ya Dok?”
Saya menawab “pada usia Menopause selain banyak organ tubuh yang sudah tua, masa pakainya sudah mulai habis juga hormone Estrogen dan Progesteron yang diproduksi oleh kedua Indung telur ( ovaria ) wanita sudah banyak menurun. Hal ini akan menyebabkan banyak perubahan Fisik dan Psikologis pada wanita Menopause.
Pak S berkata “O..begitu ya Dok.”
Saya melanjutkan “Benar. Mulai dari Kepala sampai Kaki, mereka sudah memperlihatkan banyak keluhan. Antara lain:
Kepala: Warna Rambut berubah menjadi Putih. Rambut banyak yang rontok, tidak jarang kepala menjadi sedikit botak.
Wajah: kulit tampak keriput. Mereka khawatir kalau suaminya tidak akan memperhatikannya lagi. Lalu mereka memakai kosmetik yang menor dan dandanan yang wah. Banyak orang yang memanggil Neli.”
Pak S bertanya “Neli itu apa Dok?”
Saya menjawab “Nenek lincah, tidak mau kalah dengan yang muda, maksudnya agar sang suami tetap mau memperhatikannya. Meskipun demikian sebenarnya kita semua akan menjadi tua dengan bertambahnya umur. Kalau mau mempertahankan kesehatan dan kecantikan, maka kita harus merawat tubuh kita dengan sebaik-baiknya dan semuanya ini tentu memerlukan biaya yang besar. Kesehatan yang baik tidak dating begitu saja dari langit bukan?”
“Ah kalau ngobrol dengan Dokter, saya jadi asyik, tidak terasa waktu sudah menjelang malam. Dok, saya permisi dulu. Lain kali disambung lagi ya.”
“Baiklah, Pak S. hati-hati di perjalanan pulang.
Saya melihat langit sudah gelap. Siang yang terang sudah menjadi sore dan malam yang gelap. Saya membatin “Masih nyamankah kita hidup di usia senja?”
Bebek Mati Seorang wanita membawa bebek yang sangat pincang kepada dokter hewan. Saat ia meletakkan hewan peliharaan di atas meja, dokter hewan mengeluarkan stetoskop dan mendengarkan bunyi jantung di dada Bebek.
Setelah beberapa saat, dokter hewan menggelengkan kepalanya dan sedih berkata, "Maaf, Bebek Anda, telah meninggal dunia." Wanita tertekan meratap, "Apakah Anda yakin?" "Ya, saya yakin. Bebek Anda sudah mati," jawab dokter hewan.
"Bagaimana kau bisa begitu yakin?" dia protes. "Aku yakin Anda tidak melakukan uji coba pada dirinya atau apa dia hanya mungkin dalam keadaan koma atau sesuatu."
Dokter hewan memutar matanya, berbalik dan meninggalkan ruangan.
Ia kembali beberapa menit kemudian dengan seekor Anjing Labrador Retriever hitam. Sebagai pemilik Bebek tampak gembira, Anjing itu berdiri di atas kaki belakangnya, menaruh kaki depannya di atas meja pemeriksaan dan mengendus Bebek dari atas ke bawah.
Dia kemudian menatap dokter hewan dengan mata sedih dan menggeleng.
Dokter hewan menepuk anjing di kepala dan membawanya keluar ruangan.
Beberapa menit kemudian dia kembali dengan Kucing. Kucing itu melompat ke atas meja dan juga hati-hati mengendus burung dari kepala sampai kaki. Kucing itu duduk kembali di paha nya, menggelengkan kepalanya, mengeong lembut dan berjalan keluar kamar.
Dokter hewan memandang wanita itu dan berkata, "Maaf, tapi seperti yang saya katakan, ini paling pasti, 100% certifiably, Bebek mati." Dokter hewan berbalik ke terminal komputer, tekan beberapa tombol dan menghasilkan tagihan, yang ia menyerahkan kepada perempuan itu.
Pemilik bebek, masih shock, mengambil tagihan. "$ 150!" dia menangis, "$ 150 hanya untuk memberitahu saya Bebek saya sudah mati!"
Dokter hewan mengangkat bahu, "Aku minta maaf Jika Anda baru saja mendengar kata-kata saya untuk itu, RUU itu akan menjadi $ 20, tapi dengan Laporan Lab dan Cat Scan., sekarang menjadi $ 150."
----
Luar biasa!
Untuk mengetahui seekor Bebek sudah mati atau masih hidupun harus mengeluarkan biaya besar.
Bulan-bulan terakhir ini terjadi banyak bencana alam di negara kita seperti Tsunami di P. Mentawai, banjir & tanah longsor di banyak lokasi, G. Merapi yang meletus dan lain-lain bencana.
Tim SAR ( Search And Rescue ), PMI ( Palang Merah Indonesia ), para Relawan dari ABRI dan luar negeri turut membantu untuk mencari dan meyelamatkan para korban selain mengirimkan barang-barang bantuan yang sangat dibutuhkan para korban ( makanan, selimut, masker, obat-obatan, air minum, tenda-tenda dll ). Sering kali para relawan dan reporter media massa meliput berita tanpa mengenal lelah dan bahaya yang dapat membahayakan diri sendiri. Semuanya dilakukan tanpa pamrih. Saat bencana tiba yang penting upaya penyelamatan para korban. Darimana bala bantuan tidak penting. Yang penting segera menyelamatkan para korban. Upaya mereka patut diacungi jempol.
Upaya-upaya itu merupakan penjabaran dari Kasih terhadap sesama umat manusia.
Seperti yang tertulis dalam Alkitab. Ada 2 Hukum yang utama.
Yang Pertama adalah: Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Yang Kedua adalah: Kasihilah sesamamu manusia, seperti dirimu sendiri.
Dua Hukum utama ini singkat, tetapi padat maknanya.
Pengertian kasih itu sendiri berupa: sabar, rendah hati, tidak cemburu, tidak sombong, tidak mencari keuntungan sendiri, tidak pemarah dan tidak berkesudahan ( terus menerus ). Berbahagialah orang yang sudah melaksanakan 2 Hukum Utama ini.
Pertanyaan yang timbul: masih adakah kasih diantara kita? Seperti topik posting saya kali ini. Ada yang menjawab: masih ada dan ada yang menjawab: tidak ada lagi kasih diantara kita. Benarkah?
---
Ikuilah kisah di bawah ini.
Beberapa hari yang lalu ada sebuah keluarga yang bermaksud membawa dan menitipkan salah satu anggota keluarganya tinggal di Panti Wreda Kasih dimana saya sejak tahun 2004 melayani kesehatan para warga PWK.
Sesuai dengan ketentuan setiap calon warga PWK membawa sebuah Foto Thorax ( Jantung dan Paru-paru ) yang menyatakan bahwa ybs tidak menderita TB paru. Syarat-syarat lain dapat dimusyawarahkan dan tidak akan dibahas disini.
Adalah Nn. Mery, 60 tahun. Sejak lahir mengalami Tuna Netra. Ia hidup dalam kegelapan sepanjang hidupnya. M mempuyai 10 kakak dan adik. Orang tua dan 4 saudaranya sudah meninggal dunia. Ia masih mempunyai 6 saudara.
Sejak beberapa tahun lalu M hidup sendirian di sebuah kamar sewaan yang sangat sederhana. Untuk membeli makanan sehari-hari, M mencoba menjualkan kue / makan basah milik orang lain. Usahanya sering kali mengalami kerugian sebab ada banyak orang yang tidak berperikemanusiaan. Jangankan membantu, bahkan banyak yang merugikan usaha M ini. Ambil 5 buah Kue, bilang ambil hanya 1 buah Kue. Ada juga yang membayar dengan uang palsu. Ah…….. Jahat sekali mereka, jauh dari prinsip Kasih tadi. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
Bertahun-tahun Nn. M ini hidup sendirian meskipun sebenarnya ia mpunyai ada banyak saudara sekandungnya. Pertanyaan yang timbul dalam benak saya: tidak adakah salah satu saudaranya yang mau merawat Nn M ini di dalam keluarganya? Mengapa selama bertahun-tahun sampai usia 60 tahun mereka membiarkan Nn. M hidup tidak layak di sebuah kamar sewaan apa adanya. Masih adakah rasa Kasih diantara mereka?
Ada salah seorang adik perempuan M yang menaruh iba kepada Nn. M ini.
Nyonya ES ingin berbuat baik dengan memohon agar Nn. M ini dapat tinggal di PWK.
Setelah berbicara dengan Ibu E (Ibu Panti ), KeluargaNy. ES ini mengisi Formulir dan bicara via telepon dengan pak T selaku Ketua Pengurus PWK. Pak T menyarankan agar mereka membuat Foto Thorax dan berkonsultasi dengan Dokter PWK ( saya sendiri ). Hasilnya akan dibahas dalam Rapat Bulanan PWK yang akan diadakan seminggu lagi. Tidak ada seorang pun yang boleh memutuskan: apakah seseorang boleh tinggal di PWK atau tidak. Keputusananya hanya dapat diambil dalam Rapat Pleno Pengurus PWK. Seringkali terjadi perdebatan yang diakhiri dengan kata musyawarah. Tidak ada voting atau pengambilan suara, mana yang terbanyak itu yang diambil.
Setelah bercicara dan memeriksa Fisik ( hasil Foto Thorax belum ada ) Nn. M, saya mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya Fisik Nn. M cukup baik. Satu-satunya kekurangan dan penderitaan adalah ia seorang Tuna Netra yang memerlukan bantuan orang lain untuk berpindah tenpat dan melakukan aktifitas sehari-hari.
Kalau hasil Foto Thorax-nya tidak menderita TB paru, ia dapat tinggal di PWK berdasar ketentuan yang dimiliki PWK. Pembayaran dana per bulan dapat dimusyawarahkan sebab untuk biaya makanan, air, listrik, kesehatan dll tentu ada dana yang perlu diberikan oleh pihak Keluarga.
Yang menjadi masalah adalah siapa nanti yang akan membantu Nn. M saat tinggal di PWK, sebab dari karyawan yang adapun sudah sibuk mengurusi 2 Oma yang memakai Kursi Roda untuk mobilisasi mereka dalam Gedung PWK atau pergi mengikuti Kebaktian setiap hari Minggu pagi.
Semoga ada jalan keluar nanti dalam keputusan Rapat Pleno yad.
Tidak ada manusia yang sempurna. Dalam hidupnya pasti manusia pernah berbuat salah, baik disengaja maupun tidak disengaja. Demikian pula saya. Meskipun sudah bertindak sebaik mungkin, tetapi mungkin saja oleh orang lain itu dianggap tidak baik. Berbuat baikpun dapat dianggap oleh orang lain itu tidak baik. Kadang serba salah. Marahpun tidak ada gunanya. Kemarahan bukan menyelesaikan masalah, tetapi dapat menambah masalah.
Kejadian ini sekitar 3 bulan yang lalu.
Dalam suatu Rapat Bulanan Pengurus Panti Wreda Kasih dimana saya melayani kesehatan para warga PWK setelah membahas masalah rutin, saya bertanya kepada semua Pengurus yang hadir ( sekitar 12 orang ).
Pertanyaan saya adalah “Kalau saya ( dokter Panti ) sakit dan perlu minum obat, bolehkah saya menulis Resep obat dan biayanya ditanggung Panti?”
Terdengar suara gaduh. Ada yang Pro dan ada yang Kontra.
Terdengar suara seorang Ibu “Ah..jangan jangan Dok. Moso dokter tidak punya uang sehingga minta dibayarin Panti!”
Terdengar suara seorang bapak “Ya boleh, asal…” ( maksudnya asal jangan terlalu besar ).
Semua yang hadir melihat wajah saya. Saya tenang saja.
Setelah hening sejenak saya berkata “Ibu dan Bapak sekalian, pertanyaan saya bukan apakah saya punya uang atau tidak, tetapi boleh atau tidak kalau saya sakit diberi obat oleh Panti via Apotik”
Tidak ada yang menjawab.
Saya ulangi lagi pertanyaan saya “Kalau saya sakit, bolehkah saya bikin resep obat ke Apotik dan dibayar oleh Panti? Pilihannya tentu obat Generik dengan harga yang terjangkau”
Akhirnya Pak T, selaku Ketua Pengurus PWK, menyetujui dn mengijinkan saya memperoleh obat dari Apotik langganan PWK.
Pak T bertanya “Mengapa sih Dok?”
Saya menjelaskan lebih lanjut
“Begini Bapak dan Ibu sekalian. Saya bicara realistis saja. Kita semua selaku Pengurus PWK bekerja dengan prinsip sukacita dan ikhlas. Tidak pernah digaji dan tidak pernah minta gaji, karena kita semua bukan karyawan. Kita hanya melayani yang bersifat nonprofit.
Kalau suatu waktu saya sakit Flu misalnya. Tentu saya ingin agar lekas sembuh dengan minum obat. Obat tidak diminum karena tidak ada obat. Minta juga tidak diberi. Hari Jum’at saat saya tidak bisa datang ke PWK untk memeriksa warga PWK. Akibatnya warga PWK tidak dapat menerima obat / vitamin sebab jatah obat seminggu sudah habis. Bagi yang sakit tidak dapat menerima obat sebab dokter tidak hadir karena sakit. Lalu kerugian akan bertambah banyak. Hari Jum’at berikutnya begitu juga sebab dokter masih sakit. Kerugian makin membesar. Lalu yang rugi siapa dan mengapa?
Kalau saya datang juga meskipun masih Flu, ini akan menularkan Flu kepada warga Panti yang sudah lanjut usianya sehingga mudah terkena Flu juga. Akibatnya makin banyak yang sakit. Yang rugi siapa dan mengapa?
Itulah sebabnya saya bertanya apakah saya boleh mendapat obat yang dibayar PWK?
Sekarang saya bicara secara ekonomis:
Saya perhatikan selama 2 tahun terakhir dari Laporan Keuangan Bendahara, pengeluaran obat-obatan bagi warga PWK sebanyak 12 orang ( diluar biaya Pemeriksaan Laboratorium atau biaya perawatan di Rumah Sakit ) berkisar antara Rp. 1,4 – Rp. 2,8 juta/bulan. Kalau dibagi rata per warga PWK sekitar Rp. 200.000,-/bulan yang masih masuk akal untuk memelihara kesehatan Opa dan Oma yang rata-rata sudah sepuh. Kalau saya bikin resep untuk pribadi sebagai anti Flu tentu tidak akan sebesar itu biayanya. Rasanya ini masih masuk akal juga. Begitulah penjelasan saya, Pak”
Semua yang hadir akhirnya menyetujui dan mengijinkan saya mendapat jatah obat kalau diperlukan.
Minggu depan berikutnya, saya membuat resep 3 macam obat yang rutin saya minum rutin sebab logistik sudah habis. Saya perkirakan harganya sekitar Rp. 150.000,- untuk 3 macam obat sebanyak a 30 tablet jatah untuk 1 bulan.
Sore hari petugas Apotik mengirim obat ke rumah kami. Saya berterima kasih.
Anehnya setelah saya menerima bungkusan 3 macam obat tsb saya menjadi gelisah dan bertanya-tanya kepada diri sendiri ”Apakah saya sudah bertindak salah? Kalau salah, kan Pengurus sudah mengjinkan. Lalu mengapa merasa bersalah?”
Gelisah tidak kunjung reda. Malampun tiba, isteri saya sudah terlelap tidur, saya masih belum dapat tidur. Insomnia menyerang saya sampai pukul 02.30 saya masih belum terlelap.
Saya membatin ”Mengapa jadi begini ya? O..Tuhan mengapa begini? Ampuni saya kalau saya sudah berbuat salah.” Saya minum 1 tablet obat penenang. Saya tertidur juga. Pukul 05.00 alarm HP yang saya setting berdering setiap pk. 05.00 pagi ( wake up ). Saya terbangun dan sudah waktunya untuk bangun untuk melakukan pekerjaan rumah tangga rutin sebab kami tidak mempunyai Maid yang pulang mudik dan belum kembali bekerja.
Untuk mencegah tidak terulang lagi kejadian ini, sejak saat itu saya lebih baik membeli obat yang dibayar sendiri dan tidak minta dibayarin oleh pihak lain.-
Tampaknya topik artikel kali ini agak aneh. Cobalah anda simak lebih lanjut.
Untuk berbuat jahat tampaknya lebih mudah dari pada untuk berbuat baik.
Contoh: mengancam seseorang sambil memegang sebuah pisau untuk memaksa meminta uang, mudah dilakukan. Bila tertangkap maka dia akan dihabisi oleh masa sekitarnya. Kalau tidak tertangkap maka ia akan melenggang dan tertawa senang.
Untuk berbuat baik, semula saya piker juga mudah.
Perkiraan saya ternyata meleset. Ada yang mudah dan ada yang tidak mudah.
Secara umum: untuk berbuat baikpun tidak mudah.
Ada batu sandungan di depan kita. Mungkin anda tidak percaya.
Mungkin anda berbeda pendapat dengan saya, tetapi cobalah simak kisah-kisah dibawah ini.
---
1. Suatu pagi, saya pergi ke Kantor Pos untuk membayar Pajak Penghasilan Bulanan yang setiap awal bulan saya kerjakan.
Ketika saya tiba di tempat praktik, Ibu saya melaporkan bahwa 5 menit yang lalu ada pasien yang mau berobat. Ibu saya meminta pembantu RT untuk membuka pintu. Dia dipersilahkan untuk menunggu di Ruang Tunggu. Ketika saya tiba, pasien itu sudah pergi. Entah kemana. Padahal jeda wakktu berkisar hanya 5 menit. Dia ingin berobat tetapi enggan menunggu Dokter walau sebentar. Saat itu waktu menunjukkan pukul 07.45, dimana masih banyak dokter yang belum buka praktik pagi ( bagi yang sudah pensiun ). Ibu saya yang sudah berupaya berbuat baik, hanya dapat mengeluh ”Kok begitu ya. Disuruh tunggu sebentar saja tidak mau.” Saya yang sudah biasa menghadapi hal ini menjawab “Sudahlah Mah, mungkin belum rejeki saya pagi ini. Mungkin dia mau cari dokter lain.” Kalaupun benar itu yang terjadi, maka ia akan membuang ongkos lagi ( beca / bahan bakar kendaraannya ) dan akan buang waktu untuk pergi mencari-cari dokter yang praktik pagi hari. Mengapa dia tidak mau bersabar menunggu Dokter? Apakah dia mau yang sebaliknya: Dokter yang harus menunggu pasien? Di Papan Nama Dokter yang terpasang jelas waktu praktik pukul 08.00 – 10.00. Kalau ada pasien yang datang sebelum pukul 08.00, mestinya ya sabar menuggu sampai pukul 08.00. Kantor Pos sudah buka mulai puku 07.30 dan belum banyak antrian. Jadi nyaman untuk setor Pajak pada pagi hari sebelum buka praktik pagi.
2. Pak M, 45 tahun datang berobat. Ternyata dari hasil pemeriksaan: anamnesa ( tanya jawab penyakit ), pemeriksan Fisik dan pemeriksaan penunjang ( Darah dan Foto Thorax ) ia menderita TBC paru. Saya membuatkan resep obat anti TB untuk selama 1 bulan dengan penjelasan bahwa obat minimal harus diminum selama 6 bulan berturut-turut. Sekarang diberi obat untuk 1 bulan agar harga obat tidak terlalu mahal atau masih terjangkau dari pada dibelikan untuk harga obat 6 bulan penuh. Setelah 2 bulan berjalan dan minum obat teratur, Pak M tidak datang untuk kontrol kembali. Alasannya penyakitnya sudah “baik”, kalau batuk sudah tidak keluar darah lagi, selera makan sudah normal dst. 2 bulan kemudian Pak M datang kembali dengan keluhan yang klasik ( batuk darah, selera makan berkurang ). Saya sudah berusaha memberikan informasi dan dorongan agar mau berobat dan minum obat teratur agar kesehatannya pulih kembali. Niat baik saya tidak direspon dengan baik. Akhirnya penyakit Pak M belum sembuh. Pengobatan 2 bulan tadi tidak banyak manfaat. Hanya membuang biaya dan waktu saja. Padahal di rumahnya tinggal seorang bayi, cucunya. Berarti cucunya hidup serumah dengan seorang penderita TB. Contact person: positive. Penyakit ini mudah menular kepada cucunya yang mempunyai daya tahan yang masih rendah. Untuk berbuat baik pun tidak mudah seperti topik artikel ini. Faktor lain adalah: daya beli yang rendah, gizi yang rendah, tingkat pendidikan yang rendah sehingga sulit memberantas penyakit TB ini di negara kita.
3. Sdr. K, 18 tahun datang berobat diantar Ibunya dengan keluhan demam terutama kalau sore dan malam hari sejak 2 hari, sakit kepala, sembelit sejak 3 hari. Hasil pemeriksaan Fisik: lidah putih ujung merah, pemeriksaan penunjang Darah Jumlah sel darah putih rendah,Test Widal Positip ( titer Typhus 0 1/320 ). Saya mebuat Diagnosa: Typhoid fever ( demam Tipes Perut ). Diberi obat antibiotic of choice: Thiamphenikol 500 mg 3x1 kap/hr untuk7 hari. Tablet anti demam dan advis harus istirahat, tidak boleh beraktifitas dahulu selama dalam terapi. Kalau obat habis harus kontrol kembali. Hari ke 5 mereka datang lagi dan Ibunya ngomel kepad dokter “Dok, bagaimana nih. Obat sudah diminum tapi penyakit demamnya belum sembuh juga. Seolah-olah ia menyalahkan dokternya.
Saya balik bertaya” Ibu apakah obatnya sudah habis diminum?”
Ibunya mejawab “Belum, sebab hari ke 2 demamnya sudah normal dan anak saya main badminton dengan teman tetangga kami. Malam harinya demam kumat lagi.”
Benarkan, advis baik pun tidak digubris. Lalu menyalahkan dokter, seolah dokter tidak pandai mengobati sakit anaknya.
Terapi Tipes perut minimal 7-10 hari, tirah baring dan makan yang lunak ( bubur dll ).
Lah ini baru 2 hari minum obat, merasa sudah sembuh lalu main badminton. Siapa yang suruh?
Saya bertanya kembali “Ibu, mengapa advis dokter tidak dikerjakan. Mengapa Ibu mengijinkan anak ibu main badminton sebelum penyakitnya sembuh benar.”
Ibunya menjawab dengan lantang dengan nada membela diri “Saya dan suami kan tidak bisa mengawasi anak kami. Kami buka toko untuk mencari uang. Dirumah tidak ada orang lain selain anak kami itu."
Saya menjawab dan bertanya “Ibu kalau anak sedang sakit, mengapa Ibu atau suami Ibu tidak sering-sering tengok anak dirumah untuk melihat kondisi anak Ibu atau salah satu dari suami-isteri ada yang rela tinggal dahulu di rumah selama anak sakit. Apakah uang lebih penting dari kesehatan dan keselamatan anak Ibu?”
Sang Ibu diam tidak dapat menjawab pertanyaan saya. Akhirnya saya menyarankan agar anaknya di rawat di Rumah Sakit saja. Dia menolak dengan berbagai alasan.
Ternyata untuk berbuat baikpun tidak mudah. Harus debat kusir dahulu sampai mulut berbusa karena banyak bicara. Singkat cerita sang pasien sembuh setelah Ibu dan Ayahnya marah-marah kepada anaknya yang sedang sakit agar mau mengikuti advis dokter. Sudah sakit, dimarahi habis-habisan lagi. Kasihan deh elu…….
Saya membatin untuk berbuat baik kok susah ya.
---
Hidup banyak pilihan. Mau yang baik atau mau yang tidak baik. Pilihan ada ditangan kita sendiri.
Keluhannya: sering sakit pinggang. 4 bulan yang lalu mengalami operasi Caesar ( memerlukan transfusi 2 labu darah ), anak pertama.
Kata seorang tetangganya kalau sering sakit pinggang, mungkin ada Sakit Ginjal.
Ibu R merasa panik dan memeriksakan diri kepada saya.
Dari Tanya jawab ( anamnesa ), sakit pinggang ini terasa sejak 2 minggu yang lalu.
Pekerjaan Ibu Rumah Tangga. Suaminya karyawan sebuah bengkel mobil. Hamil pertama kali dan dilakukan operasi Caesar karena ada gangguan kehamilannya. Saat mencuci pakaian keluarga, posisi tubuh Ibu R duduk diatas sebuah bangku kecil sedemikan rupa sehingga punggung terasa tidak nyaman.
Pada Pemeriksan Fisik:
Tekanan darah: 120/80 mmHg ( normal ), BB: 46 Kg, Jantung , Paru-paru: dalam batas normal, Abdomen ( perut ): tampak cicatrix ( bekas luka operasi Caesar ) sepanjang 20 Cm. Nyeri ketok daerah punggung: negatip.
Hasil Pemeriksaan penunjang:
Darah: kadar Hb: 10,2 g%, Jumlah Sel Darah Putih: 6.200 ( normal ), kadar Ureum dan Kreatinin ( fungsi Ginjal ) dalam batas normal. Urine: dalam batas normal.
Dari semua pemeriksaan Ibu R, saya mengambil kesimpulan bahwa Ibu R ini tidak terdapat gangguan fungsi Ginjal, seperti kata tetangga Ibu R. Kelainan dari pemeriksaan Darah terdapat adanya Gejala Anemia ( kekurangan zat besi dalam darah ) yang terjadi karena operasi Caesar 4 bulan yg lalu dan belum terkoreksi sampai normal.
Saya menjelaskan hasil Laboratorium ini kepada Ibu R, bahwa semuanya tidak mendukung adanya gangguan Ginjal.
Rasa nyeri pinggang ( Lumbago ) yang dideritanya kemungkinan besar diakibatkan posisi tubuh ketika mencuci pakaian. Saya menyarankan agar posisi tubuh agar lebih santai saat mencuci pakaian.
Kepada pasien saya ini saya memberikan resep obat Tablet pain killer, kaps. Tambah darah dan obat Cacing. Cacing dapat membuat pasien menjadi Anemia.
Wajah Ibu R tampak lebih cerah setelah mendengar penjelasan saya.
Saya bersyukur kalau pasien mendapat penjelasan yang baik dan benar dari nara sumber yang benar dari pada nara sumber yang tidak jelas atau tidak dapat dipertanggung jawabkan.-
Pagi ini 31 Okt 2010 saya berpartisipasi lagi dalam Baksos yang diadakan oleh Perhimpunan Warga Harapan Kota Cirebon. PWH ini setiap tahun mengadakan Baksos berupa Pengobatan Gratis bagi masyarakat yang membutuhkannya.
Para anggota PWH ini berpartisipasi dalam setiap kegiatan baksos, pengumpulan dana untuk penyediaan obat-obatan yang dibutuhkan dll kegiatan.
Pukul 09.15 Pak GS sebagai Ketua PWH datang menjemput saya dengan mobil yang dikendarai oleh supir Pak GS. Terasa sejuk hembusan udara dari AC mobil ketika saya sudah berada di dalam mobil ini. Berbeda dengan udara luar terasa hangat menyengat. Maklumlah udara di kotaCirebon dan sepanjang Pantai Utara Jawa ( Pantura ) memang panas menyengat. Pada musim hujan udara di Pantura tetap hangat. Paparan sinar matahari selalu tersedia sepanjang tahun, berbeda dengan Negara bermusim empat.
Cukup banyak pasien yang datang berobat. Ada yang memang sakit dan ada pula yang sekedar ingin tahu tekanan darahnya ( mumpung gratis ). Hal ini justeru terjadi pada para anggota PWH. Tenaga dokter yang turut berpartisipasi sebanyak 3 orang dokter umum, termasuk saya. 2 orang dokter lainnya semuanya kaum ibu.
Penyakit yang saya temui pada pasien yang berobat antara lain: Flu, Darah tinggi, Kencing Manis, Eksim, Maag, Usia lanjut.
Umur pasien bervariasi dari 8 bulan sampai 65 tahun.
Perbandngan Gender antara pria dan wanita berimbang 1:1.
Sosial ekonomi pasien pada umumnya dari golongan bawah yang memang membutuhkan pengobatan.
Banyaknya pasien yang dating berobat membuat saya tidak sempat menyentuh Kotak Snak yang tersedia. Saya hanya sempat minum air mineral kemasan botol plastik.
Sampai pukul 12.00 pasien yang saya layani sekitar 60 orang. Kalau dikalikan 3 maka jumlahnya mendekati 200 orang pasien.
Pk. 12.10 isteri saya datang menjemput saya karena kami akan menghadiri Pernikahan salah satu kerabat kami. Sehari sebelumnya saya mengabarkan hal ini, saya hanya dapat periksa pasien sampai pukul 12.00 sebab ada kegiatan lain.
Pak GS dan para anggota PWH menginginkan berfoto bersama sambil menyerahkan sebuah Pigura yang berisi Piagam Perhargaan bagi saya ( dan juga dokter-dokter lain ) yang telah turut berpartisipasi dalam Baksos kali ini. Wah…seperti selebriti aja nih. Difoto bareng. Mereka senang. Saya juga senang. Suara tertawa kami memenuhi ruang periksa yang luas itu.
Pukul 12.00 pelayanan kesehatan di hentikan sementara untuk acara makan siang dan akan dilanjutkan lagi pada pukul 13.oo dst.
Untuk acara makan siang bersama disebuah Rumah Makan bergengsi terdekat ini para anggota PWH mengharapkan kehadiran saya, tetapi saya harus meminta maaf, tidak bisa sebab kami harus menghadiri resepsi pernikahan salah satu kerabat kami. Disini makan, disana makan siang. Mana yang dipilih? Tentu pilih makan siang bersama isteri tercinta.
Seorang senior saya pernah berkata “Bas, makan enak itu bukan tergantung dari makanannya yang enak, tetapi lebih tergantung dengan siapa teman makan kita!”
Wah…filosofi tingkat tinggi lagi nih.
Makan enak, tetapi hanya sendirian tentu berbeda cita rasanya bila dibandingkan dengan makan bareng dengan orang-orang yang kita kasihi ( orang tua, suami, isteri, anak, cucu ).
Pengalaman saya bertambah satu lagi pada hari ini.
Kemarin sore saya mendapat SMS dari relasi saya yang sedang berada di kota KL ( Kuala Lumpur, Malaysia ).
Ia berkisah bahwa setelah ia minta bantuan menantunya yang seorang Pilot sebuah Maskapai Penerbangan, akhirnya ia dapat mempunyai tablet V ( yang berisi Na dikolenak ) 50 mg. Sang menantu keliling kota KL untuk mendapatkan tablet tsb. Kalau di Negara kita tidak susah untuk mendapatkannya sebab ada d jual di apotik-apotik terdekat. Jerih payah menantunya rupanya tidak sia-sia demi kesembuhan nyeri sendi lutut Ibu mertuanya.
Semula relasi saya ini tidak dapat turun dari bed, tidak dapat duduk, apalagi berdiri dan bekerja untuk urusan rumah tangga. Semuanya diakibatkan nyeri sendi lutut yang sangat menyiksanya.
Setelah minum 2 tablet obat tadi, ia surprise. Ia dapat bangun dari bed, duduk dan berjalan tanpa rasa nyeri lagi. Sore itu ia sedang menyiapkan makan malam cucunya yang sebentar lagi akan pulang dari sekolahnya. Ia berterima kasih kepada saya. Saya jawab bahwa untuk semuanya itu saya bersyukur kepada Tuhan YME kalau advis saya dapat menolong relasi yang sedang berada di luar negeri, dengan harga obat yang terjangkau dan konsultasi via SMS dengan biaya yang terjangkau alias gratis. Double murah meriah.
Enaknya punya seorang teman yang seorang dokter antara lain dapat berkonsultasi masalah kesehatan dengan biaya gratis-tis. Selama kita masih dapt berkomunikasi via SMS atau Internet maka dalam bilangan menit masalah sudah dapat diatasi. Tidak heran kalau saat ini Handphone, Laptop, Netbook dan koneksi Internet yang baik merupakan sarana yang sangat bermanfaat bila dipergunakan dengan baik dan benar.
Di setiap Bandara ( Singapore, Sydney, Melbourne, Hanoi ) yang pernah saya kunjungi tersedia beberapa Komputer yang terkoneksi ke Internet yang dapat dimanfaatkan oleh para penumpang dengan gratis selama beberapa menit. Bila terputus maka kita dapat mengakses Internet lagi dengan meng-klik sebuah tombol yang tersedia. Dengan demikian kita dapat membuka account email kita yang bersifat webmail ( google mail, yahoo mail, hotmail dll ) sehingga kita dapat berkomunikasi dengan orang-orang lain dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja yang mempunyai email address selama tersedia koneksi Internet, apalagi dengan biaya gratis. Betapa nikmatnya.
Kita bisa juga berkomunikasi via Handphone, tetapi biaya roaming internasional dll masih cukup mahal setiap menitnya bila dibandingkan dengan fasilitas Internet tadi yng gratis. Tidak ada yang gratis seperti iklan para operator. Ada cost yang harus kita bayar. Nah begitu ada kesempatan mengakses Internet gratis di Bandara, maka ini jangan disia-siakan. Kalau perlu kita antri sebentar, bila ada banyak penumpang yang juga ingin mengakses Internet gratis ini. Hal ini biasa saya lakukan bila dalam keadaan transit di sebuah Bandara ( yang bisa terjadi selama 1-2 jam ). Ciao.-