Minggu, Oktober 24, 2010

Mencapai SEHAT.




Saat ini penyakit yang paling sering menyebabkan kematian adalah: Penyakit Jantung, Stroke, dan Kanker.

Pada Pria Kanker Prostat dan Kanker Paru sering dijumpai dan pada gender Wanita Kanker Payudara dan kanker Leher Rahim.

Pada  usia anak-anak penyebab kematian lebih sering  karena penyakit-penyakit Infeksi seperti: Radang Paru, Demam Bedarah, Radang Selaput Otak, Radang Otak, Tetanus, Kurang Gizi dengan komplikasi penyakit-penyakit infeksi lain.

Penyakit datang tidak diundang dan ada banyak penyakit yang dapat dicegah, mislanya dengan tindakan pencegahan seperti pemberian Imunisasi dasar pada Balita ( TBC, Difteri, Tetanus, Perusis, Polio, Campak ), pada usia  anak dan dewasa juga sudah tersedia vaksin untuk pencegahan penyakit Typhus perut,  Hepatitis B, Kanker Leher Rahim bagi wanita remaja dan dewasa dll.

Meskipun demikian masih banyak masyarakat yang belum atau tidak mendapatkan vaksinasi diatas yang terkendala karena biaya yang harus dibayar sendiri yang masih terasa mahal bagi kebanyakan orang. Kalau dihitung untung ruginya maka bila ingin divaksin harus keluar uang, tetapi kalau terserang penyakit maka uang yang harus dikeluarkan akan jauh lebih banyak lagi ( biaya Rumah Sakit, biaya perawatan, harga obat, biaya pemeriksaan penunjang ). Bila sembuh, tidak kecewa tetapi kalau  sudah mengeluarkan uang banyak tetapi akhirnya meninggal dunia juga maka semuanya seolah tidak ada artinya meskipun punya banyak uang.

Uang bukan segalanya tetapi kalau tidak punya uang maka kita tidak bisa berbuat banyak.
Meskipun punya banyak uang, tetapi kalau sakit-sakitan maka tidak ada artinya. Lebih baik punya uang secukupnya, tetapi badan tetap sehat.

Ada pasien yang berpendapat  lebih baik kalau punya banyak uang dan badan tetap sehat. Amin.
Untuk tetap sehat tentu ada upaya yang harus dikerjakan. Sehat tidak datang turun dari langit begitu saja. Kita harus berupaya keras untuk mempnyai tubuh tetap sehat.

Saat ini banyak orang membeli Sepeda ( yang dahulu tidak dilirik sedikitpun ). Harga yang  2-3 juta rupiah pun dibelinya. Untuk apa? Untuk dapat tetap sehat dengan cara berolah raga secara teratur.

Bagaimana kalau tidak punya / belum punya sepeda ( padahal ia punya mobil )? Ada cara lain untuk tetap sehat yaitu jalan pagi juga boleh lah. Hemat biaya tapi tetap sehat, meski badan basah dengan keringat.

Selain Olah raga masih ada yang perlu dikerjakan. Apakah itu?
Gizi yang  baik! Ah.. Gizi yang baik ada di dalam makanan yang mahal. Tidak selalu benar. Kalau pandai memilih makanan,  maka ada banyak makanan yang bergzi baik dalam mkanan yang murah.

Gizi yang baik umumnya berhubungan dengan Protein, padahal bukan hanya Protein saja yang penting, tetapi juga  Vitamin, Mineral, Serat Anti oksidan yang dibutuhkanbagi tubh kita. Daging, Susu, Keju merupakan protein dengan harga yag cukup mahal. Protein yang lebih murah misalnya berasal dari Nabati / tumbuh-tumbuhan seperti Tahu , Tempe dan Kacang-kacangan.

Untuk meningkatkan daya tahan tubuh juga perlu anti oksidan seperti:
Lycophene yang terdapat dalam Tomat.
Suphoraphene yang terdapat dalam Brokoli.
Polyphenol yang terdapat dalam Teh HIjau.
Vitamin C yang terdapat dalam buah-buhan ( jeruk, mangga dll ).
Vitami E yang terdapat dalam Kecambah, Taoge dll.

Pada akhirnya makanan yang sehat harus terdiri dari bermacam menu yang bervariasi setap hari dan tidak harus terdiri dari Nasi Putih, Daging, Telur dan Susu saja. Nasi Merah lebih baik dari pada Nasi Putih sebab kulit ari beras merah banyak mengandung vitamin B1. Ubi merah juga bagus bagi kesehatan sebab selain mengandung karbo hidrat , juga mengandung vitamin A lebih banyak dari pada Ubi Putih. Lalaban juga  diperlukan sebab merupakan sumber vitamin A, zat Besi dan serat nabati yang perlu untuk merangsang gerakan peristaltik usus agar setiap hari dapat b.a.b dengan lancar dan tidak perlu minum Vegeta lagi.

Masih ada anak dan orang dewasa yang saat ini tidak menyukai Sayur! Tragis.
Apa sebabnya? Siapa yang salah? Mengapa tidak suka sayur?
Sebab sejak kecil tidak dilatih oleh orang tuanya untuk gemar makan sayuran. Padahal Gado-gado, Pecel, Sambel asem  selain enak juga murah harganya.
Cara yang paling mudah adalah semua Sayur dan Buah dimasukkan ke dalam Blender, dihaluskan dan diseruput pakai sedotan.

Mari mulai saat ini kita hidup sehat agar terhindar dari penyakit.-

Rabu, Oktober 20, 2010

Cara mudah dan murah berantas Nyamuk




Saya kutipkan sebuah artikel yang menarik dari milis sebelah.

Nyamuk cukup mengganggu dan sangat berbahaya sebagai penyebar berbagai penyakit mematikan. Cairan pembunuh serangga di pasaran kurang efisien dan bahkan membawa dampak sampingan yang serius.

Berikut ini cara MUDAH dan MURAH yang bisa dicoba. Cocok untuk segala kondisi pemukiman, sekolah, rumah sakit, dll.
Sangat KREATIF bila dikenalkan pada para siswa sekolah untuk dicoba di sekolah dan di rumah masing-masing.

Yang dibutuhkan :
- 200 ml air
- 50 gram gula merah
- 1 gram ragi (beli di toko makanan kesehatan, warung, atau pasar)
- botol plastik 1,5 liter

Langkah-langkah pembuatan :
1. Potong botol plastik di tengah. Simpan bagian atas/mulut botol.
2. Campur gula merah dengan air panas. Biarkan hingga dingin dan kemudian tuangkan di separuh bagian potongan bawah botol.
3. Tambahkan ragi. Tidak perlu diaduk. Ini akan menghasilkan karbon-dioksida.
4. Pasang/masukkan potongan botol bagian atas dengan posisi terbalik seperti corong.
5. Bungkus botol dengan sesuatu yang hitam, kecuali bagian atas, dan diletakkan di beberapa sudut rumah Anda.
Dalam dua minggu, Anda akan melihat jumlah nyamuk yang mati di dalam botol.
Selain membersihkan habitat mereka, tempat berkembang biak nyamuk, kita dapat menggunakan metode ini sangat berguna di sekolah sekolah, TK, rumah sakit dan rumah.

(Sebarkan kepada anak, teman, dan kerabat Anda agar nyamuk bisa diberantas)

Selasa, Oktober 19, 2010

Terbalik



Hari Sabtu malam datang berobat Pak S, 87 tahun diantar putra dan anak mantunya yang berdomisili di Jakarta. Usianya tergolong sudah sangat sepuh, mendekati 90 tahun, tetapi Pak S masih dapat turun dan berjalan tanpa dibantu orang lain menuju Ruang Tunggu tempat praktik saya. Saya sendiri belum tentu diberi umur sepanjang itu.

Putranya dan anak mantunya membantu menceritakan kisah sakit ayahnya. Pak S sebagai pasien masih dapat berkomunikasi meskipun harus berulang-ulang bertanya atau menerangkan, sebab pendengarannya sudah berkurang. Pendengaran yang tidak baik merupakan ciri khas usia lanjut.

Saya bertanya kepada mereka bertiga “Apa yang dapat saya bantu?”

Putranya, Pak S junior berkata “Begini, Dok. Ayah saya ini merasakan sesak nafas dan nafsu makan berkurang sejak 2 hari. Jadi ayah saya ingin berobat kepada dokter disini.”

Saya melihat  suatu berkas hasil pemeriksaan penunjang: Hasil ECG ( Electro Cardio Graphy ), pemeriksaan darah, Foto Thorax ( Jantung dan paru-paru ).

Pak S junior melanjutkan “Ayah saya pernah berobat kepada Dr.E, Ahli Jantung” Sambil menyodorkan hasil pemeriksaan ECG pada tanggal 22-09-2008.
Saya baca: Aritmia cordis ( gangguan irama jantung ), RVH ( Right Ventricular Hypertrophy ), RBBB ( Right Bundle Branch Block ), Sinus Tachycardia ( denyut nadi yang lebih cepat dari normal.
Saya melihat juga  ada sisa obat yang diminum yaitu 2 tablet Isorbide dinitrate, tablet yang ditaruh dbawah lidah, agar penyerapannya lebih cepat, untuk melebarkan pembuluh darah Jantung. Selain itu juga ada tablet Aspilet, Aspirin dosis rendah untuk mengencerkan darah.

Dari hasil ECG dan obat-obat yang diminum Pak S ini, saya dapat membaca bahwa penyakitnya adalah penyakit Jantung Koroner. Yang membutuhkan pengobatan jangka panjang. Selain obat-obatan juga  perubahan pola hidup ( cukup olah raga : jalan pagi, senam dll ) dan perubahan pola makan ( menghindari makanan berlemak )

Dari pemeriksaan Foto Thorax ( Fotonya tidak terbawa ) tgl 22-09-2008, saya melihat hasil : Kesan ASHD ( Arterio Sclerotic Heart Disease ). Suatu gambaran bentuk Jantungnya seperti Sepatu yg menunjukkan adanya pembesaran jantung dan Bronchitis khronis. Suatu penyakit khas pada para smoker. ( diakui oleh putranya bahwa dahulu sang ayah betul seorang perokok, tetapi sejak sakit sudah berhenti merokok ).

Saya mengukur tekanan darah Pak S: 150/80 mmHg, lebih tinggi dari normal, Jantung dan Paru dalam batas normal, Perut: Hati tidak membesar, tidak ada nyeri tekan, kedua kaki tidak bengkak,

Saya perhatikan Pak S tidak mengalami susah nafas ( sesak ) pada posisi duduk dan berbaring.

Saya bertanya kepada putra dan anak mantunya “Mengapa Pak S yang sudah berobat kepada dokter Ahlinya, tidak melanjutkan / kontrol ?

Sang junior menjawab “Ayah saya menganggap penyakitnya tidak sembuh-sembuh.”

Padahal pasien  masih bertahan hidup sejak bulan September tahun 2008 s/d sekarang bulan Oktober tahun 2010. Mestinya pasien bersyukur kalau diberi panjang umur.
Sering kali pasien tidak bersyukur, tetapi malah selalu ingin mendapat yang lebih ( lebih baik, lebih besar, lebih sehat dst ).

Kemudian saya bertanya ( banyak bertanya untuk mengambil kesimpulan apakah pasien masih dapat melayani diri sndiri atau harus dibantu oleh orang lain untuk keperluan pribadinya ) “ Apakah ayah anda  masih dapat mandi sendiri? Dapat berpakaian sendiri? Dapat makan sendiri? Dapat tidur siang dan malam hari? Ada gangguan untuk b.a.k. ( suatu tanda adanya pembesaran kelenjar Prostat )? Dapat b.a.b tiap hari? Kalau sesak nafas ada bunyi ngik-ngik ( adanya penyempitan saluran Bronchus ). Kalau jalan adakah rasa sesak di dada ( gejala payah jantung ).”

Sang junior menjawab” Ayah saya masih dapat melakukannya semua tanpa susah payah”.

Saya menjawab “Baik.”

Kalau seseorang  masih dapat melakukan dengan baik: nafas, makan, minum, tidur, b.a.k , b.a.b tanpa susah, berarti fungsi vital pasien dalam keadaan baik, maka kesehatan orang ini masih cukup baik . Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sangat.

Pasien secara psikologis menganggap bahwa penyakitnya tidak sembuh-sembuh.
Suatu anggapan yang keliru.
Kalau pasien  ingin kesehatannya seperti ketika ia masih muda maka keingian ini tentu harus disesuaikan dengan usianya saat ini ( 87 tahun ).
Jangankan 87 tahun, ada banyak orang yang tutup buku pada usia 48, 55, 65  tahun saja, tidak sepanjang usianya.

Baik. Keinginan tiap orang berbeda-beda.

Pada akhir konsultasi, saya berkata “ Ini kasus yang jarang terjadi. Artinya pasien yang sudah berobat kepada Dokter Ahlinya, akhirnya  datang berobat kepada saya ( dokter umum ). Yang biasa terjadi adalah berobat kepada dokter umum berkali-kali, tidak sembuh, akhirnya berobat kepada Dokter Ahlinya. Kalau dapat berobat kepada Dokter Yang Maha Agung.
Kesehatan ayah anda, masih cukup baik.Untuk melihat lebih jauh maka saya anjurkan membuat pemeriksaan darah dan Foto Thorax yang baru, sebab data yang lama sudah out of date / kedaluwarsa, sudah 2 tahun lewat. Sekarang saya  akan memberi resep, teruskan Aspilet sehari 1 x 1 tablet/ hari dan suatu Kapsul Anti Oksidan sehari 1 x 1 kaps/hari untuk meningkatakan daya tahan tubuh ayah anda. Obat lain menyusul tergantung dari hasil pemeriksaan hari Senin tanggal 18 Oktober 2010. Tolong bila sudah ada hasilnya, saya diberi tahu lagi.”

Saya membuat Surat Pengantar pemeriksaan darah dan pembuatan Foto Thorax ke salah satu Lab. Klinik. Sampai hari Selasa siang  tanggal 19 oktober 2010, belum ada hasil yang dapat saya baca.

Saya tidak tahu, apakah pemeriksaan itu dilakukan atau tidak.
Mungkin juga mereka mengambil kesimpulan bahwa konsultasi kepada saya tidak ada manfaatnya sehingga tidak perlu datang lagi.


Minta obat penenang




Saat ini banyak sekali orang yang mengalami Stres. Beberapa kasus seperti: Lapindo, Bank Century, Bencana alam ( banjir, longsor ) menyebabkan ada banyak orang yang mengalami Stres berat, Gila  dan bahkan bunuh diri.

Secara medis, Stres dapat diatasi dengan obat-obat anti Stres, tetapi tidak menyembuhkan akar masalahnya. Selama akarnya belum diatasi maka selama itu pula Stres akan tetap berlangsung.

Dalam praktik sudah banyak kali orang-orang datang minta diberikan obat penenang, obat anti stress dan sejenisnya. Dilihat dari kemampuan finansiilnya mereka  kebanyakan dari golongan the have not. Sedangkan golongan the have, nyaris tidak ada. Ini menunjang bahwa masalah finansil besar pengaruhnya terhadap Stres.

---

Kemarin sore datang seorang laki-laki, Pak B, 32 tahun, dari kota Semarang.

Dia berkisah:
Adik iparnya, Pak K, 30 tahun, tukang beca, menikah dengan 1 anak 2 tahun.
Pak B datang ke Cirebon karena mendengar adik iparnya sakit yang bila kambuh, ia marah-marah, susah diatur, teriak-teriak sehingga mengganggu para tetangga ( mungkin menderita Psychotic reaction ). Pak K ini pernah dibawa berobat ke RSU di kota Cirebon. Oleh Dokter Psikiater yang memeriksanya diberi resep beberapa macam obat anti psikotik.

Setelah minum obat tsb, Pak K masih belum membaik,katanya obatnya tidak cocok(?).
Kata Pak B, akhirnya Pak K dibawa berobat kepada dokter lain dan diberi resep obat ( ia memperlihatkan 1 strip tablet Alganax 0,5 mg yang tergolong anti depresi yang harus dibeli denga resep dokter ) dan tablet Valisanbe yang mengandung  diazepam sebagai  obat minor tranquilizer / obat penenang. Setelah minum obta-obat tsb, Pak K menjadi lebih tenang dan sering tertidur. Maklumlah karena semua obat yang diminumnya mempunyai efek samping ngantuk dan dapat membuat orang mudah tidur. Benar tidur, tetapi Stres-nya belum hilang. Setelah efek obat itu  habis, maka ia akan  kumat lagi. Begitu seterusnya, selama akar Stres-nya belum diatasi. Sebagai orang yang berpenghasilan tidak memadai, dengan keluarga  dan 1 orang anak, maka masalah keuangan sangat berpengaruh terhadap kehidupan rohaninya. Bila tidak teratasi, maka akan meledak dan timbullah Psychotic reaction dan bila tidak dapat disebuhkan  dapat menjadi Psychose, keretakan kepribadian.

Saat ini obat tsb hampir habis.
Pak B minta saya membuatkan resep obat-obat tsb.
Kalau sudah cocok dengan obat-obat tsb, mengapa tidak memintanya lagi kepada dokter yang memberikan resep obat tadi?

Saya berkata kepada Pak B ”Maaf saya tidak bisa membuat resep obat bagi pasien yang saya  belum / tidak  diperiksa terlebih dahulu.”

Pak B berkilah “Tadinya kami akan membawa Pak K kesini tetapi ia berontak dan susah membawanya.”

Saya memberi jalan keluarnya “Begini saja,  malam nanti minumkanlah obat yang masih ada dan besok pagi bawalah Pak K ke Puskesmas terdekat didaerah Perumnas. Kalau masih susah juga membawanya, mintalah agar Dokternya yang dating mengunjungi Pak K. Tempat tinggal Pak K  masih dalam wilayah kerja Puskesmas tsb sehingga petugas Puskesmas akan dapat mengunjungi rumah Pak K.”

Melihat penampilan Pak B ini saya ragu-ragu akan  kebenaran kisahnya itu.
1. Apakah benar Pak K ini adalah anggota keluarganya
2. Mengapa ia datang kepada saya dan langsung minta dibuatkan resep obat untuk orang yang belum saya periksa, apalagi minta obat anti psikotik yang mesti diberi dengan resep dokter? Kalau saya berikan resep obat tsb bagaimana kalau kemudian kisahnya tidak benar dan bat-obat itu diminumnya sendiri ( pengguna obat-obat terlarang ) atau dijual kepada orang lain ( pengedar obat-obat terlarang )?

Akhirnya saya memberikan jalan keluar tsb.
Kalaupun  keragu-raguan saya tidak benar, maka  paling tidak anjuran untuk minta bantuan Puskesmas wilayahnya adalah sudah benar. Pak K dapat diberi pelayanan kesehatan yang benar dan kalau perlu dirawat saja di RSU dengan minta Kartu Jamkesmas  dari Pemerintah Daerah.


Sabtu, Oktober 16, 2010

Darah



Darah. Ya darah. Siapa yang tidak kenal dengan darah?
Bila kita  mengalami luka sayat, luka potong atau luka tusuk, maka  darah  akan keluar dari luka tadi.

Bila ada pasien yang membutuhkan tambahan darah , maka orang lain ( donor darah ) dapat membantunya dengan memberikan darah kepada orang yang membutuhkan dengan syarat darahnya cocok setelah diperiksa golongan darah dan lulus test cocok serasi antara darah donor dengan darah orang yang membutuhkan darah ( resipien ).

Isteri saya  pernah menjadi Kepala Unit Transfus Darah PMI Cabang Kota Cirebon selama 5 tahun yang berakhir masa jabatannya pada akhir tahun 2009.

Kisah posting kali ini dimulai dari sini.

Pagi ini saya ketika pulang dari praktik pagi, isteri saya berkisah.

“Tadi Pak Amad ( bukan nama sebenarnya ) datang kesini. Isteri Pak Amad katanya dirawat di RS Umum. Ia membutuhkan darah sebanyak 3 labu. Oleh PMI diberi 1 labu saja. Pak Amad minta tolong saya untuk dapat minta bantuan PMI untuk menambah 2 labu darah lagi.”

Isteri saya menjawab “ Saya sudah tidak bekerja di PMI lagi.”

Pak Amad memohon agar isteri saya  dapat membantu sebab kalau mantan pejabat disana tentu urusannya bisa menjadi lebih mudah.

Setelah Pak Amad meninggalkan rumah kami, menuju RSU kembali, isteri saya menelepon salah satu mantan staf di Unit Transfusi Darah. Kepada mbak A, isteri saya mohon bantuan agar Ibu Amad yang dirawat di RSU, dibantu 2 labu darah tambahannya. Mbak A menjawab, siap Bu.

Singkat cerita ketika Pak Amad tiba di kamar perawatan isterinya, seorang perawat wanita berkata kepada Pak Amad  “ Pak, 2 labu darah untuk Ibu sudah dikirim dari PMI. Nanti akan kami berikan untuk Ibu.”

Glek….. pak Amad merasa gembira dan terharu.
Kok cepat amat datangnya bantuan dari isteri saya.
“Benar kan, kalau mantan pejabat selalu diperhatikan oleh mantan stafnya”.

Pak Amad melalui telepon umum, berkata kepada isteri saya “Terima kasih banyak, Bu atas bantuannya. Darah untuk isteri saya sudah datang.”

Isteri saya menjawab “Iya, sama-sama, pak. Semoga Ibu segera sembuh dan sehat kembali.”

Ada perasaan lega dalam hati isteri saya. Pagi ini sudah menolong orang lain, meskipun sudah tidak bekerja di Unit Transfusi PMI.

Saya berkata kepada isteri saya “Iya kita patut bersyukur kepada Tuhan. Maksud baik kita, dapat menolong orang lain. Setidaknya dapat meringankan penderitaan orang lain. Amin.”

----

 

* Pak Amad, 81 tahun adalah orang yang  telah berjasa dalam hidup saya. Ia yang mengantar dan menjemput saya sekolah ketika saya duduk di kelas 1 - 3 SD. Tanpa lulus dari SD, saya tidak dapat melanjutkan ke Sekolah Dokter. Jasa Pak Amad  selalu teringat di hati saya. Setiap bulan saya pribadi selalu memberikan bantuan untuk hidup sehari-hari di hari tuanya..-

Jumat, Oktober 15, 2010

D.M.




Pada posting kali ini saya akan menulis suatu komplikasi dari penyakit yang disebut sebagai: D.M. atau Diabetes mellitus, penyakit Kencing Manis.

D.M. merupakan penyakit akibat hormon Insulin yang dihasilkan oleh sel-sel Beta Pankreas ( kelenjar ludah perut ) tidak mampu membuat kadar glucose / gula  dalam darah ke dalam batas normal. Akibatnya kadar Glukose darah meninggi dan dilepaskan ke dalam Urine sehingga terdapat glucose dalam urine ( glukosuri ). Sering  masyarakat menemukan  urine penderita D.M. di dekati oleh semut.

Terdapat 2  tipe D.M. Tipe 1 yaitu D.M. yang menyerang pada usia muda dan D.M. tipe 2 yang menyerang umur dewasa. Tipe 1 biasanya  perlu mendapatkan injeksi hormone Insulin setiap hari. Penderita  harus menyuntik diri sendiri ( dibantu orang lain )  Insuin setiap hari.

Pengobatan Tipe 2 dapat  merupakan kombinasi:  perubahan gaya hidup, perubahan pola makan ( hindari makanan yang manis atau yang mengandung Karbohidrat secara
 berlebihan ), minum Obat Anti Diabetes ( OAD ), suntikan Insulin ( bila terdapat komplikasi  atau infeksi pada  bagian tubuh lain ).

Saya akan menuliskan pengalaman dalam menghadapi pasien dengan D.M. tipe 2 ( dewasa ).

---

Pak H, 58 tahun , menderita DM sejak muda. Faktor genetic positip ( Ibunya juga penderita DM ).Obat yang diminumnya tablet OAD. Suatu haru Pak H merasa gatal di punggungnya, digaruk dan terjadi Infeksi kulit ( dermatitis ). Warna kulit kemerahan ( hyperemia ), sedikit bengkak ( edema ), dan terasa agak nyeri. Oleh Dokter Keluarganya diberi kapsul antibiotika, tablet pain killer dan krim kulit antibiotika.

Pak H berobat ke dokter spesialis Kulit di kota Bandung yang kemudian merujuk untuk di rawat di sebuah Rumah Sakit.Seminggu kemudian keluhan kulit tsb tidak membaik dan bahkan makin hebat. Kata isterinya tampak ada benjolan di punggungnya. Ada sedikit demam.  Kelainan kulit Pak H ini berubah menjadi Abses, semacam bisul yang harus di sayat ( operasi kecil ) oleh Dokter Bedah untuk mengeluarkan nanah yang terdapat di dalam benjolan tsb. Seminggu kemudian Pak H diperbolehkan pulang dari Rumah Sakit. Biaya semuanya jutaan rupiah.

---

Ibu M, 62 tahun, penderita D.M. sejak bertahun-tahun.
Kalau berada di dalam rumah Ibu M tidak pernah memakai alas kaki, karena  pagi dan sore seluruh lantai rumahnya dipel oleh pembantu. Suatu hari Ibu jari kaki kanan Ibu M tertancap kawat klip kertas. Ia mencabut kawat klip itu dan bekas lukanya diberi larutan Betadine ( anti septis ). Keesokan harinya Ibu M berobat kepada Dokter Keluarganya dan diberi kapsul antibiotika, tablet pain killer dan salep kulit antibiotika.

Seminggu kemudian ibu jari kaki tsb membengkak dan ada demam. Dokter keluarganya  menganjurkan agar berobat kepada Dokter Ahli Penyakit Dalam. Keesokan harinya , Ibu M diantar ke Bandung oleh putrinya. Dokter yang memeriksanya memberikan advis agar Ibu M dirawat di Rumah Sakit..

10 hari kemudian Ibu jari kaki kanan Ibu M , tidak membaik, bahkan tampak kehitaman ( gangrene ). Akhirnya Ibu jari kaki tsb diamputasi oleh seorang Dokter Bedah. Ibu M ini dirawat total selama 3 bulan di RS tsb untuk menormalkan kadar gula darahnya dan penyembuhan luka amputasi. Biaya semuanya  puluhan juta rupiah.

Pulang dari RS. Luka amputasi membaik tetapi meniggalkan sebuah lubang kecil berdiameter 2 milimeter. Tahun berikutnya Ibu M dipanggil Tuhan dan lubang itu tetap tidak menutup.


Dari contoh 2 kasus di atas, tampak bahwa komplikasi penyakit D.M. sangat serius. Semula dianggap sepele, akhirnya memberikan komplikasi berat. Ada yang sembuh dan ada yang belum sembuh meskipun diterapi berbulan-bulan dan memerlukan biaya jutaan rupiah.

---

Bila ada penderita penyakit D.M.:
1. Hendaknya bertindak hati-hati bila mendapat luka lecet, luka tersayat, atau luka tertusuk benda tajam.
2. Segera berobat kepada Dokter Ahli Penyakit Dalam untuk mendapat perawatan yang terbaik.
3. Tindakan terakhir sering kali berupa tindakan amputasi jari kaki atau kaki.

Minggu, Oktober 10, 2010

Egois



Saat ini  setiap bulan kami selalu mendapat Undangan Pertunangan / Pernikahan / Khitanan baik dari relasi, teman, keluarga dan bahkan dari para pasien kami. Kadang kami  tidak mengenal siapa yang mengundang. Tidak jarang dalam 1 hari ada 1-3 Undangan tsb. Tentu kami berterima kasih atas Undangan tadi. Bukan karena  diundang untuk mengikuti Resepsi, tetapi minimal masih ada perhatian kepada kami untuk dimohon hadir dalam acara penting para pengundang.

Kalau beberapa tahun yang lalu, Undangan hanya pada tanggal dan bulan baik saja, sekarang setiap bulan ada saja yang menikah. Luar biasa.

---

Kemarin kami hadir pada suatu Resepsi Pernikahan salah seorang relasi kami.
Nah disinilah awal dari judul posting saya kali ini. Ikuti kisahnya.

Seperti biasa sebelum memasuki Gedung Pertemuan, para undangan mengisi Buku Tamu. Buku Tamu ada di 2 deret : Kiri dan Kanan. Masing-masing deret ada 2 buah Buku Tamu. Jadi sebenarnya cukup untuk dimanfaatkan.

Kami antri dalam deret Kiri. Saya sudah hendak megambil Ballpoint yang tersedia untuk menuliskan nama kami. Tiba-tiba ada sebuah tangan kanan dari seorang wanita usia baya yang dengan cepat mengambil Ballpoint itu dari sisi kiri saya. Wanita baya ini tidak antri lagi. Rupanya ia ingin segera memasuki Gedung Pertemuan. Saya tidak ingin mempermalukan wanita baya  yang kami tidak kenal sama sekali dengan pakaian yang cukup menor. Bisa saja saya menegurnya, dan pasti ia akan kehilangan muka  di hadapan para Tamu dan Panitia. Saya diam sebentar menunggu ia selesai menuliskan namanya dalam Buku Tamu.

Pesta Penikahan ini kami  nilai sukses. Tamu undangan yang hadir cukup banyak. Biasanya 1 Kartu Undangan untuk 2 orang, tetapi nyatanya  yang datang bisa lebih dari 2 orang ( suami, isteri, anak dan pembantunya atau suami-isteri, anak dan cucu-cucunya ). Oleh karena itu bagi yang punya hajat, bijaksana kalau mempunyai logistik hidangan ditambah sekitar 10 % dari undangan yang diperkirakan akan hadir.

Ruangan Gedung yang ber-AC nyaris tidak membuat suhu ruangan adem, sebab ada begitu banyak tamu yang hadir dan beberapa pintu terbuka lebar untuk dilalui para Tamu Undangan.

Ada 4 jalur meja untuk mengambil hidangan santap siang bagi para Tamu. Kami antri di salah satu jalur. Ketika saya hendak mengambil piring dan Sendok, Tiba-tiba nyelonong sebuah tangan kanan seorang wanita. Ia nyerobot begitu saja dari samping. Rupanya ia enggan ikut antrian dan ternyata ia adalah wanita baya tadi.

Ini sih udah keterlaluan. Ia egois sesuai judul posting kali ini.
Orang lain  tertib antri, ia selalu ingin  lebih dahulu dari  orang lain. Mungkin wanita baya ini sudah lapar, sehingga ia berbuat begitu. Benar semua orang sudah lapar, sebab waktu sudah menunjukkan pukul 12.30, saat tiba  makan siang. Kalau harus antri sebentar, kenapa sih?

Kalau saja saya tidak sabar, maka saya akan mengucapkan perkataan “Ibu, sudah lapar ya?” di depan orang banyak. Pasti ia akan malu sekali. Untung saya dapat menahan diri. Beda sekian menit tidak apalah untuk memberi kesempatan bagi wanita baya yang sudah lapar ini mengambil jatah hidangan terlebih dahulu.

Budaya antri ( Please queue ) tidak ada dalam diri wanita baya itu, sehingga pas kalau saya mengatakan bahwa wanita baya itu egois, mau menang sendiri tanpa memperhatikan orang-orang lain. Sebagai perbandingan, saya pernah  posting artikel “Please queue” yang terjadi di Negara tetangga dalam Blog ini.

Budaya antri  yang pernah kami lihat di negara-negara  tetangga ( Singapore, Australia ) patut diberi pujian. Mereka malu kalau mereka nyerobot dalam antrian. Kalau sudah begitu maka tidak jarang ia akan diteriaki “You have to queue!” Kepada orang-orang yang Lansia saja  mereka akan memberi kesempatan terlebih dahulu atau memberikan kursi yang didudukinya  bagi para Lansia dalam Bus.

Kalau disini terjadi hal yang demikian, paling dicuekin. Tidak ada rasa bersalah atau malu lagi. Patut disesalkan. Sopan santun sudah tidak berlaku lagi?

Kalau dalam hal kecil saja sudah tidak bisa tertib, apalagi dalam hal yang lebih besar!
Kalau uang dalam jumlah yang kecil saja ditilep, apalagi dalam jumlah yang lebih besar!

Nah lho.

---

Bila ingin dihargai oleh orang lain, hargailah orang lain lebih dahulu dulu.
Bila ingin panen, menanamlah dahulu.

Sabtu, Oktober 09, 2010

Do you speak English?



Hari Jum’at yang lalu ketika saya memeriksa kesehatan Opa P di Panti Wreda Kasih milik gereja kami, ia bertanya kepada saya “Dok, do you speak English?” dengan logat Tegal.

Saya agak terkejut juga dengan pertanyaannya itu. Belum pernah ada warga Panti yang bertanya seperti itu. Rupanya ia ingin  berkomunikasi dengan saya dalam bahasa Inggris.

Lalu saya menjawab “I don’t speak English, but if you want to speak English, please tell me.” ( Saya tidak berbicara Inggris, tapi bila anda mau, silahkan ).

Opa P  berkata lagi “ Aha..ternyata Dokter juga bisa berbahasa Inggris, ya.”

Saya berkomentar “My English is not very well, but if you want to speak English I will try .” ( Bahasa Inggris saya tidak baik, tapi akan saya coba berkomunikai )

Opa P dia sejenak. Dari pada bengong lalu saya bertanya kepadanya
“How are you this morning”

Opa P menjawab ”I am fine, thank you.”

Saya bertanya lagi “Mr. P, did you sleep well last night? Have you a nice dream?”

Opa P menjawab “Yes, I sleep well last night. I have a dream, but I don’t remember anymore what is my dream! He..he..” sambil tersenyum.

Ketika Opa P tersenyum, tampak sekilas kecerahan wajahnya. Rupanya Opa P senang dapat berkomunikasi dengan saya dalam bahasa Inggris yang selama ini tidak dapat ia  lakukan.

Setelah saya memeriksa kesehatannya, Opa P bertanya lagi “How is my health, Dok?”

Saya menjawab pendek “Your health is fine. No problem and don’t worry.”

Lalu saya berbicara dalam bahasa Indonesia, agar Ibu E ( Ibu Panti ) dan Pak S ( salah satu Pengurus Panti ) yang mendampingi saya dapat juga mengerti apa yang kami bicarakan. Saya ingin ceritakan sebuah kisah nyata yang lucu.

Begini kisahnya:
Ada seorang pria, 40 tahun yang bekerja sebagai Supir ( driver ) di sebuah keluarga white people ( bule ) di kota Jakarta. Sang majikan sering  memberi tugas kepada sang supir. Hamir semua pekerjaan sang majikan minta agar supir dapat mengerjakannya. Rupanya jabatan rangkap.
Suatu saat ia  ngerumpi dengan temannya supir yang lain  dalam bahasa Inggris, ia berkata:
“Litle little to me. Litle little to me, but my salary not up up.” ( Sedikit sedikit tugas diberikan kepada saya. Sedikit sedikit tugas diberikan kepada saya, tetapi gaji saya tidak naik-naik ). Ia ngomel dalam bahasa Inggris dengan Indonesian style.

Mungkin bahasa Inggris-nya kacau, tetapi yang penting orang lain dapat mengerti apa yang ia maksud. Tata bahasa ( grammer ) sering dilupakan dan  kalau sudah mentok dipakailah bahasa Tarzan atau body language, bahasa tubuh agar  lawan bicara dapat mengerti maksud kita.

Temannya tertawa terbahak-bahak.

Opa P, Ibu E dan Pak S akhirnya tertawa juga.
Ketika semua yang hadir dalam Ruang Periksa tertawa, saya merasa sudah membagikan sedikit kegembiraan bagi orang-orang lain.

Rupanya supir tadi hanya dapat berbahasa Inggris sedikit-sedikit, tetapi ia berusaha untuk dapat berkomunikasi  dalam bahasa Inggris. Maklum ia bekerja dalam lingkungan yang berbahasa Inggris. Meskipun ia  mempunyai sedikit Talenta tetapi  saya menghargainya.

Akhirnya Opa P mempunyai kesan lain terhadap saya.

Ia berkomentar “ Dok, you are a nice guy and humorist. I like that.”

Suatu sanjungan bagi saya. Saya malu diberi komentar seperti itu, karena saya merasa saya tidak persis seperti apa yang ia rasakan, tapi ya terserah dia saja. Hanya orang lain yang dapat menilai diri saya. Saya tidak bisa menilai diri sendiri. Yang penting saya sudah dapat memberikan apa yang saya miliki bagi mereka.


---

Sebuah Talenta yang kecil, bila ditekuni maka suatu saat akan memberikan manfaat yang besar.

Minggu, Oktober 03, 2010

Mengikuti Workshop on Hypertension Management:



Cirebon, 2 Oktober 2010.

Hari ini saya dan isteri menghadiri acara Workshop seperti pada topik artikel ini,  yang diadakan di Hotel Grage, Cirebon. Sponsor tunggal adalah perusahaan obat Pfizer Indoneia dengan obat yang dipromosikan Norvask tablet ( Amylodipine besylate ) yang termasuk obat golongan Calcium Channel Blocker (CCB), suatu obat anti hipertensi.

Berbeda dengan acara Seminar / Simposium Kedokteran yang  tidak diadakan test ( Pre Test dan Post Test ), maka pada setiap acara Workshop selalu diadakan  test. Maksud test adalah untuk mengetahui kemajuan ilmu pengetahuan Dokter peserta sebelum dan sesudah Workshop. Bila  nilai Post Test lebih besar dari pada nilai Pre Test, maka Workshop berhasil / ada gunanya dalam meningkatkan pengetahuan para peserta.

Pfizer gemar mengadakan Workshop. Ciri khasnya adalah dengan menggunakan suatu alat Remote yang ber-keypad. Peserta menekan  tombol: A, B, C, D  atau  E sebagai pilihan jawaban masing-masing peserta dan diikuti penekanan Tombol OK. Pancaran gelombang Remote ini akan di tangkap oleh suatu Receiver yang dihubungkan  ke Laptop. Dari Laptop ini Teks akan ditayangkan melalui sebuah Projector. Tampilan jawaban peserta akan ditayangkan dalam bentuk Grafik Batang. Jawaban yang benar berwarna Hijau dan yang salah berwarna Merah. Untuk memperbaiki jawaban yang benar, peserta harus menekan sekali lagi Tombol keypad dan Tombol OK ( jawaban akan ditumpuk kepada jawaban yang salah, sehingga akan didapat jawaban yang terakhir ditekan ).

Soal yang diberikan sebanyak 10 soal dan diberi waktu selama 20 detik  / soal. Penilaian kepada para peserta adalah: ketepatan jawaban dan juga kecepatan menekan Tombol pada Keypad. Kalau jawaban Benar dan Cepat, maka nilai yang didapat juga bagus. Pada  akhr test akan ditayangkan: 10 peserta terbaik dari suatu daftar nilai yang didapat dari jawaban para peserta.

10 peserta terbaik ini akan mendapat  sebuah kotak yang sebagai hadiah. Pada kali ini hadiah tsb dibungkus  oleh kertas kado yang berisi sebuah kontainer / wadah plastik yang konon tahan panas selama 6 jam ( tetap hangat ).

Pada test kali ini, saya surprise karena termasuk 10 peserta terbaik. Sedangkan isteri saya, kali ini mendapat Keypad yang  mungkin rusak sebab, 2 kali menekan tombol OK pada 2 soal , tetapi pada tayangan di layar projector tetap berwarna Abu-abu ( tombol OK belum ditekan, padahal sudah berkali-kali ditekan ) yang seharusnya berwarna Biru ( tombol OK sudah ditekan ). Jadi dianggap tidak menjawab soal, padahal sudah menjawab. Ya sudah, gagal mendapat  nilai yang baik. Untungnya isteri saya sudah pernah mendapat gimmick yang sama  beberapa bulan yg lalu di tempat praktiknya. Dengan demikian kami sudah mendapat 2 Kontainer tsb.

Selesai acara Workshop dibagikan 1 Sertitikat dengan 3 SKP ( Satuan Kredit Profesi ) yang lumayan untuk menambah pecapaian jumlah SKP sampai 250 SKP yang dipersyaratkan  ketika akan mendapatkan STR ( Surat Tanda Registrasi ) Dokter yang kelak didjadikan salah satu persyaratan untuk mendapatkan SIP ( Surat Ijin Praktik ) Dokter oleh Dinas Kesehatan Cabang Kota / Kabupaten.

Untuk mempunyai SIP, para Dokter Praktik Umum ( DPU ) atau Dokter Spesialist diwajibkan mempunyai STR dan SIP, bila ingi membuka praktik. Bagi yang tidak buka praktik tidak diwajibkan mempunyai STR dan SIP.

Untuk mendapatkan STR juga  para dokter harus berjuang untuk melakukan Registrasi dan mengirimkan data-data kegiatan masing-masing dokter. Untuk para DPU diwajibkan mendapatkan 200 SKP sejak bulan April 2007 s/d tahun 2011 sebelum SIP yang lama akan berakhir masa berlakunya.

Pengiriman data tiap dokter dapat secara Online ( ini lebih dianjurkan, yaitu untuk mepercepat dan mempermudah pengiriman) ke P2KB IDI Online ( http://www.p2kb-idi.org ) dan secara Off line bagi yang tidak dapat secara Online.

Setelah data terkirim dan masuk ke server P2KB IDi Online, maka semua data tiap dokter akan di-verifikasi oleh Tim Verifikator yang ada di tiap cabang IDI Kota / Kabupaten masing-masing. 

Data kegiatan tiap dokter diharapkan dapat mengirimkan Bukti kegiatan yang mencakup 5 Ranah Kegiatan yaitu: 
1. Kinerja Pembelajaran, 
2. Kinerja Profesional, 
3. Kinerja Pengabdian Masyarakat / Profesi, 
4. Publikasi Ilmiah / Populer dan KInerja Pengembangan Ilmu ).  
5. Kinerja Pengembangan Ilmu.           

dari bulan April 2004 - 2011.

Ini merupakan penjabaran dari pelaksanaan UUD No. 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran yang memerintahkan setiap dokter yang berpraktik wajib mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Kedokteran Berkelanjutan ( P2KB ) yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Indonesia ( IDI ).

Makin mendekati tahun 2011 dimana banyak SIP para dokter yang akan habis masa berlakunya, maka sudah selayaknya harus segera memenuhi persyaratan untuk mendapatkan STR dan selanjutnya SIP masing-masing. 6 bulan sebelum habis masa berlaku tiap SIP maka harus sudah diurus untuk diterbitkannya STR masing-masing dokter praktik di Indonesia.

Pertanyaan yang sering timbul adalah "Bagaimana kalau dokter tidak dapat mengirimkana data  secara Online ke P2KB IDI?"
Alternatifnya adalah: meminta bantuan Tim Verifikator di tiap cabang IDI Kota / Kab. setempat. untuk melakukan uploading data, seperti yang sudah dilakukan di beberapa IDI Cabang Kota / Kabupaten.

Semoga para dokter di Indonsia segera berbenah diri untuk memperoleh STR masing-masing. Tahun 2011 sudah di ambang pintu.

Saya dan isteri telah melakukan Registrasi secara online ke website P2KB IDI Online ( http://www.p2kb-idi.org  ). Sejak bulan April 2007 s/d awal bulan Oktober 2010  kami sudah mengumpulkan  nilai SKP diatas 250 SKP.  Sampai akhir tahun 2010 nilai ini akan bertambah dengan adanya kegiatan melakukan Praktik pribadi di tempat masing-masing dan nilai dari kegiatan lain seperti Pengabdian Sosial, mengikuti Workshop atau lainnya. Untuk keterangan lebih lanjut silahkan Teman Sejawat mengunjungi alamat website tsb. Semoga dapat bermanfaat. Amin.-



Jumat, Oktober 01, 2010

Perbedaan antara GILA dan BODOH.



Ada selingan dari Milis sebelah. Inilah kisahnya.

Seorang sopir truk  melakukan pengiriman barang ke Rumah Sakit Jiwa. Ia menemukan
ban kempes ketika hendak pulang ke rumah. Dia mendongkrak truk dan mengambil
ban yang kempes. Ketika ia akan memasang ban serep, ia menjatuhkan semua baut ke dalam saluran air. Ia panik ketika tidak dapat mengambil baut-baut itu kembali

Seorang pasien  berjalan melewatinya  dan bertanya kepada supir itu  apa yang terjadi?
Supir menceritakan semua hal yang terjadi.

Pasien itu menertawakannya dan berkata "Engkau tidak bisa memperbaiki masalah yang sederhana, tak heran Anda ditakdirkan untuk menjadi sopir truk. "
Kemudian ia berkata kepada Supir itu ”Ambil satu baut masing-masing dari 3 ban lainnya dan pasanglah ke ban serep ini.  Pergilah ke bengkel terdekat dan mengganti yang baut yang sudah terpakai.”
Sopir sangat terkesan dan bertanya "Anda begitu pintar tapi kenapa Anda ada di Rumah Sakit Jiwa "

Pasien menjawab " Helloooooooo ....., saya tinggal di sini karena aku GILA, tapi tidak BODOH ! "

Simak
Baca secara fonetik