Jumat, Desember 07, 2012
Pasien minta suntik
Hari Jumat, 7 Desember 2012, pagi hari sejak pukul 06.00 turun hujan. Hujan terus turun sampai siang dan sore hari. Jemuran pakaian tidak bisa kering.
Sekitar pukul 08.00 datang berobat Pak M, 55 tahun. Ia naik sepeda motor dan memakai jaket. Dihujan gerimis ia masih mau bepergian ke luar rumah.
Pak M ini pasien langganan saya, ia menderita Flu berat, mungkin karena cuaca dingin. Selesai diperiksa Pak M berkata “Dok, biasa saya minta disuntik.”
Pasien langganan saya ini memang kalau berobat selalu minta disuntik alasannya agar lekas sembuh. Kalau saya berkata “Tidak usahlah, minum obat saja pasti sembuh.”
Ia menolak dan berkata “Dok, saya minta disuntik, titik.”
Wah... ngotot juga nih pasien yang minta disuntik. Saya beri suntikan vitamin B di bokongnya agar badannya segar dan nafsu makannya baik. Setelah disuntik sang pasien tersenyum lebar, dengan keyakinan sakitnya cepat sembuh.
Semoga cepat sembuh, Pak.-
Kamis, Desember 06, 2012
Lebih mudah mencari Dokter dari pada mencari Tukang
Sore hari 2 hari yang lalu turun hujan besar di kota kami, kota Cirebon.
Saya memeriksa apakah ada plafond ( langit-langit ) rumah yang bocor.
Ternyata plafond di kamar mandi ada bercak air yang cukup banyak, berarti ada kebocoran dari atap rumah. Mungkin ada genting yang retak atau wuwungan atap yang retak sehingga air hujan dapat masuk dan membasahi plafond.
Malam itu juga saya mencari Tukang untuk membetulkan atap rumah kami. Ada 3 orang tukang bangunan rumah yang pernah dipanggil oleh saya untuk memperbaiki rumah. Nomer HP mereka saya catat. Semua Tukang yang saya hubungi menyatakan tidak bisa bekerja di rumah kami sebab masih bekerja di tempat lain. Ada seorang Tukang yang dapat membantu saya tetapi di hari Minggu. Hari Minggu berarti 4 hari lagi. Bagaimana kalau nanti malam turun hujan dan plafond akan makin rusak.
Saya membatin “Susah juga mencari Tukang. Lebih mudah mencari Dokter dari pada mencari Tukang.”
Keesokan harinya saya berbicara dengan Pak O, 50 tahun. Ia adalah seorang Tukang Becak yang biasa mangkal dekat dengan rumah kami. Dahulu sebelum menikah pekerjaannya adalah Tukang juga. Pak O bersedia membantu saya untuk memperbaiki atap rumah kami.
Setelah diperiksa ternyata ada wuwungan atap rumah yang retak akibat panas pada musim kemarau. Dengan menggunakan cairan merk “N” Pak O ini memperbaiki atau mencat bagian yang retak. Dalam waktu sekitar 1 jam selesai sudah tugas Pak O. Tidak sampai 1 hari bekerja, tugas memperbaiki wuwungan itu sudah selesai.
Saya lega, kalau nanti malam turun hujan semoga tidak ada air yang membasahi plafond rumah kami lagi.
Rabu, Desember 05, 2012
Pasien gratis
Pagi ini sekitar pukul 10.00 saya bermaksud membeli sebuah Kran ledeng di sebuah Toko Besi, tetangga saya.
Saat saya memasuki Toko Besi tersebut, saya bertemu dengan Ny. B, 55 tahun yang sedang duduk di dekat pintu masuk Toko tersebut. Ny. B adalah ibunda pemilik Toko ini. Sudah lama saya mengenal keluarga ini yang sering datang berobat kepada saya.
Melihat kedatangan saya , Ny. B berkata “Wah…kebetulan nih ada dokter. Dok, lutut kanan saya sering nyeri dan saya tidak bisa jongkok karena nyeri. Apa ya obatnya, dok?”
Saya memeriksa lutut kanan dan kiri Ny. B, Saat digerakkan lutut kanannya terasa nyeri. Saya pikir Ny. B sudah mulai Osteoporosis ( keropos tulang ) dan ada Osteoarthritis (OA ). Saya menuliskan resep di blangko resep yang selalu saya bawa dalam dompet saya untuk keperluan mendadak seperti saat ini. Saya menuliskan tablet pain killer dan tablet yang mengandung Glukosamin dan Chondroitin sulfat untuk Ny. B ini.
“Ini Nyonya obatnya, nanti dibelikan di Apotik terdekat ya. Semoga membantu,” kata saya sambil menyerahkan resep obat tersebut.
Ny. B menjawab “Terima kasih sekali, dokter,” sambil tersenyum kegirangan. Ia dapat resep gratisan dari saya.
Setelah mendapatkan Kran ledeng yang saya maksudkan, saya membayarnya dan langsung meninggalkan Toko Besi itu. Pagi ini saya sudah membantu orang lain lagi. Saya tersenyum sambil berjalan kaki pulang ke rumah.
Selasa, Desember 04, 2012
Pasien tidak datang
Pagi ini hari Selasa, 4 Desember 2012 pukul 06.15 saat saya membuka Inbox saya di gmail.com, terdengar panggilan telepon. Saya bertanya di dalam hati siapa ya yang menelepon pagi-pagi begini?
“Halo, met pagi.” kata saya.
“Dok, apakah benar ini tempat praktik dr. H ( isteri saya )?” terdengar suara seorang wanita.
Saya menjawab “Benar, Bu. Ada ada ya?”
“Saya mau daftar untuk berobat pagi ini.”
“Baik nama pasien siapa, umur berapa dan dimanaq alamatnya,’ saya bertanya.
“Nama pasiennya adalah I, umur 30 tahun, Jalan Anu nomer sekian.”
Saya berkata lagi “Baik, datanglah pukul 07.00 pagi ini.”
“Dapat nomer berapa, Dok.”
Saya menjawab “Nomer satu, Bu.”
“Terima kasih, Dok.” Ia memutuskan pembicaraan.
---
Ditunggu sampai pukul 09.30 sang pasien tidak datang juga. Kejadian seperti itu bukan sekali terjadi tetapi sudah berulang-ulang terjadi di lain waktu. Lalu saya bertanya dalam hati sebenarnya apa maksud mereka menelepon ke rumah kami dan mendaftarkan pasien yang ingin berobat, tetapi pasien tidak datang juga.
Kalaupun tidak jadi datang, mengapa tidak menelepon ulang dan mengabarkan bahwa pasien tidak jadi berobat. Mungkin tidak ada pulsa / pulsanya habis? Saya tidak tahu.
Selamat siang.-
Pasien lama
Hari Senin, 3 Desember 2012 sekitar pukul 14.00 saya menerima panggilan telepon dari seorang wanita.
Ia bertanya “Apakah ini tempat praktik dokter Basuki?”
Saya menjawab “Benar, ada apa Bu?”
“Saya ingin mendaftarkan ayah saya untuk berobat sore ini. Jam berapa buka praktiknya, dok?”
Saya menjawab lagi “Baik, nama pasien siapa, berapa umurnya dan dimana alamatnya. Praktik buka mulai pukul 16.00”
Ia menjawab “Pak U, umur 70 tahun, alamat di Jalan Anu nomer sekian, dok.”
“Baik sudah saya catat, Bu” saya menjawab lagi.
---
Pukul 16.15 datang Pak U, 70 tahun ke tempat praktik saya. Secara fisik Pak U masih baik, ia datang tanpa tongkat dan tidak dibantu berjalan oleh putranya yang mengantar datang ke tempat praktik saya.
Saya bertanya kepada pasien saya ini “Pak, apakah Bapak sudah pernah berobat kepada saya?”
Pak U menjawab “Sudah, dok. Ini Kartu Berobat saya.” Sambil menyerahkan sebuah Kartu Berobat warna putih yang pernah saya berikan saat pasien berobat kepada saya.
Saya melihat bahwa ia pernah sekali berobat pada tahun 1989. Setelah tanggal itu tidak ada cacatan ia berobat lagi, berarti ia hanya sekali pernah datang berobat kepada saya yaitu pada tahun 1989. Saya kagum kepada Pak U yang setia datang berobat kepada saya. Setelah tanggal tersebut mungkin juga Pak U pernah berobat kepada Dokter lain.
Pada tahun 1989 Pak U ini menderita Bronchitis dan terlihat obat-obat yang pernah saya tuliskan untuk Pak U ini. Saat ini Pak mengeluh ada rasa tidak nyaman di daerah ulu hatinya ( maag ).
Setelah saya periksa, saya memberikan resep obat untuk Pak U. Saya memberikan diskon doctor fee sebesar 40 % kepada Pak U ini. Pasien saya yang setia ini berobat sejak 23 tahun yang lalu, suatu kurun waktu yang cukup lama.
Saya bertanya kepada diri sendiri “Mengapa ada pasien yang sudah lama, masih mau datang kepada saya untuk berobat?” Mungkin sudah cocok atau ada sebab lain. Saya tidak tahu.-
Minggu, Desember 02, 2012
Kejang demam
Hari ini, Minggu pukul 14.30, ada seorang Ibu, Ibu M, 45 tahun berteriak memanggil-manggil saya “Dokter, dokter, tolong…” “ Dokter, tolong anak saya...”
Saya yang sedang melihat siaran TV, segera menghampiri Ibu M sambil berkata “Ada apa, Bu?”
“Tolong Dokter dapat ke rumah saya. Anak saya kejang.”
“Baik, saya akan mengambil peralatan saya dahulu” kata saya. Saya masuk ke dalam Ruang Praktik untuk mengambil Tas peralatan.
Saya pamitan kepada isteri saya bahwa saya akan dipanggil pasien ke rumahnya.
Ibu M mengendarai sepeda motornya dan saya diboncengnya, persis seperti naik ojek.
Rumah Ibu M sekitar 300 meter dari rumah kami.
Setiba di rumahnya saya melihat ada banyak warga setempat. Maklum ibu M ini membuka usaha warnet.
Saya melihat ada seorang anak laki-laki, S, umur sekitar 2 tahun sedang dipangku oleh seorang ibu yang lain. Seorang laki-laki, telunjuknya ada di dalam mulut pasien. Mungkin maksudnya untuk mencegah agar lidah pasien tidak tergigit. Saya minta sebuah sendok dan sehelai sapu tangan. Gagang sendok dibungkus sapu tangan tadi dan dimasukkan ke mulut sang pasien, untuk menggantikan telunjuk laki-laki tadi.
Tampak ke 2 lengan pasien kaku dan bergerak-gerak tidak teratur ( kejang ). Pasien tidak sadar.
Saya segera memasukkan obat anti kejang S, 5 mg, per rectum ( ke dalam lubang anus ). Setelah itu ke 2 bokong pasien dirapatkan agar cairan anti kejang tidak keluar lagi. Saya minta laki-laki tadi untuk memegangi bokong pasien. Tidak berapa lama pasien berteriak ( sadar?) dan terdengar ucapan syukur dari warga yang hadir di ruangan tadi.
Saya segera membuat resep obat berupa puyer anti panas dan anti kejang serta sebotol Antibiotika sirup.
5 menit kemudian pasien tampak lemas dan tertidur. Saya berkata kepada Ibu M, orang tua pasien bahwa pasien S sudah diberi obat anti kejang melalui lubang anusnya dan sekarang sedang tertidur, kejangnya reda. Nanti kalau pasien sadar, berilah minum memakai sendok. Lihatlah apakah ia sudah dapat menelan air minum tersebut yang menunjukkan refleks menelannya sudah berjalan kembali dan pasien sudah sadar. Kalau sudah dapat minum, berikanlah sirop dan bubuk puyer untuk mencegah demam dan kejang lagi.
Menurut Ibunya, pasien ini mendadak demam. Kemarin tidak apa-apa. Saat demam timbul kejang yang membuat panik orang tuanya yang segera memanggil dokter.
Penyebab demamnya saya tidak tahu. Mungkin pasien menderita ISPA ( Infeksi saluran Pernafasan Akut ), dan ada sedikit demam. Demam ini membuat kejang, sehingga disebut Kejang demam ( febris confulsi ).
Pada kasus demikian biasanya ambang kejangnya rendah, begitu timbul sedikit demam, pasien sudah menderita kejang.
Saya melihat pasien tampak tertidur dan saya mohon pamit. Semoga penyakit pasien S segera pulih kembali. Amin.
Selamat siang.-
Kamis, November 29, 2012
Chest pain
Siang ini sekitar pukul 14.30 datang Pak M, 30 tahun ke rumah kami. Maksud kedatangannya adalah untuk memanggil saya dan minta tolong untuk memeriksa ayahnya yang sedang sakit.
Dengan dibonceng sepeda motornya saya meluncur ke rumah pasien yang berjarak sekitar 400 meter dari rumah kami. Setiba di rumah pasien, Pak MA, 58 tahun, tampak berbaring di atas kasur yang diletakkan di atas lantai ruang tengah dari rumah pasien.
Putrinya mengatakan bahwa ayahnya ini tadi sempat pingsan selama beberapa menit ( mungkin tidak kuat menahan sakit dadanya ). Keluhan pasien adalah merasa sesak pada daerah dada sebelah kiri. Kontak dengan pasien tidak berjalan baik sebab pasien tampak merasa tidak nyaman.
Pada pemeriksaan tekanan darah terukur 120/80 mmHg, bunyi pernafasan normal, bunyi jantung tampak tachycardia ( denyut jantung lebih cepat dari normal ). Saya menduga bahwa pasien saya ini menderita Chest pain yang diakibatkan oleh Acute Myocard Infarc, suatu serangan jantung. Pasien harus segera ditolong di Rumah Sakit dengan fasilitas yang memadai. Pasien memerlukan pemeriksaan penunjang ECG ( Electro Cardio Graphy ), pemberian infuse, pemberian oksigen. Setelah diketahui Diagnose ( penentuan penyakit ), maka dapat segera diberikan pengobatan untuk mengatasi keadaan pasien ini.
Saya mengatakan kepada Keluarga pasien ( isteri, putra dan putrinya ) bahwa pasien mesti dibawa ke Rumah Sakit untuk mendapatkan pertolongan selanjutnya. Segera saya membuat Surat Rujukan ( Pengantar ) pasien ke UGD ( Unit Gawat Darurat ) Rumah Sakit Umum yang ada di kota kami.
Saya kembali ke rumah dengan diantar oleh Pak M.
Dalam perjalanan Pak M bertanya kepada saya “Apakah ayah saya masih dapat tertolong, Dok?”
Saya menjawab “Kalau segera ditangani oleh Dokter di Rumah sakit, semoga pasien dapat tertolong. Kita berdoa saja.”
Kasus AMI ini disebabkan karena adanya penyempitan pembuluh darah Koroner ( pembuluh darah arteri yang memberikan aliran darah dan oksigen kepada otot jantung / myocard ). Penyempitan ini disebabkan oleh adanya plak, penimbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah arteri. Mungkin sekali pak MA ini jarang melakukan medical check up sehingga kondisi kesehatannya tidak terkontrol.
Semoga Pak MA dapat pulih kembali kesehatannya. Amin.-
Selasa, November 20, 2012
Obatnya kosong
Dalam 2 hari terakhir ini saya setiap hari menerima telepon dari 2 Apotik yang mengatakan bahwa obat yang saya resepkan yaitu obat merk “I”, tidak ada.
Sang petugas Apotik bertanya “Isinya apa ya, dok.”
Obat itu sebenarnya kaplet yang berisi vitamin B1, B6, B12 dan Folic acid.
Menurut Detailer ( Medical representative ) nya obat itu sudah ada di Apotik-apotik.
Oleh karena tidak ada dalam persediaan, maka saya jawab “Ganti saja dengan tablet merek yang lain”.
Saya sudah memberitahukan kepada Detailernya agar dia maklum bahwa kaplet “I” itu tidak ada di 2 Apotik tadi.
Dia menjawab “Baik, dok, nanti diperhatikan.”
---
Jengkel juga saya kalau mendapat laporan bahwa obat tertentu yang saya resepkan tidak ada ( kosong ), padahal menurut Detailernya sudah ada hampir disemua Apotik. Beruntung masih ada tablet merk yang lain yang isinya hampir sama.
Selamat malam.
Minggu, November 11, 2012
Pasien
Sikap pasien bermacam-macam. Ada yang menghargai dokternya dan ada juga yang tidak menghargai dokternya, meskipun para pasien sudah mendapatkan pelayan kesehatan dari dokternya
---
Suatu sore saat saya buka praktik, ada seorang pemuda yang menghendaki agar saya dapat datang ke sebuah rumah di jalan Anu nomer sekian. Rupanya pemuda ini orang suruhan dari keluarga pasien yang bermaksud memanggil seorang dokter.
Saat saya tiba di rumah pasien, pemuda tadi langsung menghilang. Seorang Ibu menemui saya dan berkata bahwa suaminya yang sakit sudah meninggal dunia. Tampak di ruang depan rumahnya banyak tetangga yang berdatangan.
Kalau sudah meninggal dunia, ya saya tidak dapat berbuat banyak untuk menolong pasien. Ibu tadi tampak cuek terhadap saya, yang dipanggil datang ke rumahnya.
Jangankan memberikan doctor fee, bilang terima kasih saja juga tidak.
Saya maklum akan kedaaan ini, mungkin Ibu tadi sedang bingung dan sedih ditinggal pergi oleh suaminya. Segera saya meninggalkan rumahnya untuk kembali buka praktik.
---
Beberapa tahun yang lalu, suatu senja datang berobat sepasang suami-isteri. Mereka turun dari sebuah Sedan yang masih baru. Pakaiannyapun terbuat dari bahan yang lebih bagus dari pakaian saya.
Rupanya sang suami yang hendak berobat. Suaminya menderita Flu berat. Setelah diperiksa dan dibuatkan sehelai resep obat, sang isteri bertanya kepada saya “Berapa, Dok?”
Saya menjawab “Dua puluh ribu.”
Wanita ini berkata lagi “Dulu kan sepuluh ribu, Dok.”
Saya menjawab “Iya benar beberapa tahun yang lalu harga beras juga masih murah. Sekarang harganya sudah 4 kali lipat. Jadi dua puluh ribu, tidak mahal, ada penyesuaian.”
Wajah wanita cemberut, tampak tidak puas akan jawaban saya.
Lalu saya berkata lagi “Kalau Ibu tidak punya uang dan tidak ikhlas, Ibu tidak usah bayar. Belilah obat di Apotik dan semoga lekas sembuh suami Ibu.”
Wanita ini terkejut akan ucapan saya ini dan segera mengambil uang sebuah lembaran uang dengan nilai seratus ribu rupiah.
“Ya sudah, ini Dok uangnya,” samba menyodorkannya kepada saya.
Saya bahkan bingung, sebab tidak ada uang kembaliannya. Sore itu mereka adalah pasien pertama saya.
“Pakai uang pas saja,” saya menjawab.
Setelah mereka meninggalkan Ruang Periksa, saya membatin, mereka orang yang kaya, tetapi masih menawar doctor fee. Kalau mereka orang miskin, saya sering menggratiskan doctor fee dan mereka mengucapkan terima kasih kepada saya.
---
Seorang Ibu diantar oleh putrinya datang berobat. Sang pasien menderita batuk-batuk sudah 1 minggu. Setelah pasien diperiksa, saya membuatkan resep obat.
Sang pasien berkata “Kami tidak punya uang, Dok, tapi ingin berobat disini. Uangnya hanya ada segini,” sambil menyodorkan uang selembar sepuluh ribuan.
Saya berkata “Tidak apa-apa Ibu. Semoga lekas sembuh ya. Belilah obat generik ini di Apotik terdekat dan pakailah uang ini untuk bayar obatnya,” sambil menyerahkan kembali uang yang Ibu tadi serahkan kepada saya.
Saya melihat ada tetesan air mata yang keluar dari mata Ibu tadi. Ia berkata “Dok, dokter bukannya dapat uang, tetapi malah memberi uang kepada saya.”
“Tidak apa-apa, Bu. Semoga Ibu cepat sembuh ya,” kata saya sambil membukakan pintu Ruang Periksa.
---
Itulah beberapa kisah yang pernah saya alami dalam melayani kesehatan masyarakat.
Selamat siang.
Senin, Oktober 01, 2012
Mencari bantuan dana
Sore hari sekitar pukul 18.30 dua hari yang lalu saat saya menerima kedatangan seorang Mecical representative ( medailer ) suatu perusahaan obat, terdengar bel pintu ruang tunggu.
Saat itu saya menemui seorang pria usia sekitar 3o tahunan.
Saya bertanya kepadanya “Apakah anda ingin berobat? Silahkan tunggu dahulu, saya sedang ada tamu” sambil mempersilahkan pria itu duduk di Ruang tunggu.
Pria itu berkata “ Rumah saya di jalan Anu, Perumnas.”
Saya tidak mengerti dengan jawabannya itu. Ditanya A jawabnya B.
Saya berkata lagi “Maksud anda, mau apa?”
Tampak wajahnya seperti kebingungan menatap wajah saya. Rupanya ia malu untuk menyampaikan maksud kedatangannya.
Saya bertanya lagi “Pak, ada keperluan apa?”
Dia menjawab “Isteri saya baru melahirkan di Bidan Anu,” sambil tersenyum.
Saya masih tidak mengerti dengan jawabannya itu. Lalu saya berpikir “Isterinya baru melahirkan, lalu suaminya datang kepada saya. Mungkin dia mau minta sumbangan untuk biaya melahirkan.” Tempat praktik saya dengan daerah Perumnas, cukup jauh, sekitar 3 km. Lokasi rumahnya cukup jauh untuk minta sumbangannya.
Saya berkata lagi “O.. isteri anda baru melahirkan dan sekarang anda mau minta sumbangan untuk biaya melahirkan?
Tampak wajah pria itu tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Saya memberikan sejumlah uang untuk keperluan biaya melahirkan.
Setelah mengucapkan terima kasih, pria itu meninggalkan tempat praktik saya.
Pria itu rupanya berkeliling kota, untuk mencari dana untuk biaya isterinya yang baru melahirkan.-
Langganan:
Postingan (Atom)