Kamis, Juli 26, 2012
Colles fracture
( foto ilustrasi )
( foto ilustrasi )
2 hari yang lalu datang berobat Ibu K, 68 tahun.
Keluhan Ibu K adalah nyeri pada pergelangan tangan kanan, sejak 1 hari yang lalu. Suatu saat Ibu K terjatuh dan tangan kanannya menahan badannya. Setelah itu terasa nyeri pada pergelangan tangannya.
Pada pemeriksaan: lengan bawah kanan tampak tidak lurus ( deformitas ), sedikit bengkak, nyeri bila tangan digerakkan.
Saya menduga ada patah tulang lengan bawah kanan ( Colles fracture ). Saya membuatkan Surat Pengantar ke Klinik Rontgen terdekat untuk memastikan adanya patah tulang tersebut.
Untuk mengurangi rasa nyeri, saya membuatkan resep tablet pain killer.
Sampai hari ini Ibu K belum kembali datang membawa Foto Rontgen yang saya mintakan.
Pada usia 68 tahun termasuk usia lanjut, dimana sudah terjadi pengeroposan tulang ( Osteoporosis ) yang rawan untuk terjadinya patah tulang. Saat menahan berat badan ketika terjatuh, terjadilah patah tulang tersebut. Juga saat naik tangga di rumah atau di Mall, harus hati-hati dan berpegangan pada tepian tangga untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.
Rabu, Juli 25, 2012
Mendadak Tuli
3 hari yang lalu Pak D, 35 tahun datang berobat. Keluhan Pak D, Telinga kanan mendadak tidak dapat mendengar ( tuli ) saat ia mandi pagi.
Dalam riwayat penyakitnya tidak terdapat benturan ( trauma ) pada Telinga kanan.
Saya berpikir pasti ada gangguan pada Liang Telinga atau Selaput pendengaran Telinga Pak D.
Saya mengambil batere dan memeriksa Telinga Pak D. Telinga Kiri tidak ada gangguan, tampak reflex cahaya membrane tympani ( selaput pendengaran ) bagus.
Pada pemeriksan Telinga Kanan: tampak kotoran telinga yang basah, berwarna Coklat, menutup liang pendengaran ( cerumen obturan ). Aha...inilah penyebab mengapa Pak D mendadak Tuli, sebab liang pendengarannya tersumbat total oleh kotoran telinga yang tidak pernah dibersihkan dengan Cotton bud.
Cerumen obturan ini mesti dibersihkan dengan cara dilakukan irigasi, disemprot dengan air agar semua kotorannya keluar. Tindakan ini mesti dilakukan di Klinik THT. Segera saya membuat Surat Rujukan pasien ini ke bagian THT RSU setempat.
Kotoran telinga ada 2 macam:
1.yang basah, biasanya berwarna Coklat yang dapat dengan mudah dibersihkan dengan Cotton bud yang diputar di dalam liang pendengaran.
2.yang kering, ini lebih sukar dibersihkan, dengan cara mengeluarkan dengan alat korek telinga. Sebaiknya dilakukan oleh orang lain.
Tuli mendadak akibat kotoran telinga biasa terjadi mendadak, misalnya sewaktu berenang atau saat mandi, dimana telinga kemasukan air. Oleh karena basah maka kotoran telinga mengembang dan dapat menutup / menyumbat liang pendengaran. Akibatnya suara tidak dapat masuk dan menggetarkan membran tympani.
Minggu, Juli 15, 2012
Abses
( foto ilustrasi )
2 minggu yang lalu datang berobat Pak D, 65 tahun.
Ia mengeluh pangkal paha kanannya sakit. Katanya ada sebuah Bisul yang sudah pecah.
Pada pemeriksaan fisik ternyata dipangkal paha Pak D terdapat sebuah Abses dengan diameter 2 Cm yang sudah pecah. Jaringan sekitarnya tampak kemerahan ( rubor, hiperemi ), bengkak ( edema )dan terasa nyeri ( dolor ). Jadi sudah ada tanda-tanda infeksi pada jaringan kulit tsb.
Segera abses yang pecah ini dibersihkan dengan menekan jaringan sekitarnya sehinga keluar nanah dan jaringan busuk lainnya. Luka ini segera diberikan Betadin kompres.
Saya memberikan resep obat kepada pasien ini berupa tablet Antibiotika, tablet anti peradangan, tablet anti nyeri dan Betadine solution & kasa pembalut ( untuk kompres ).
Bila Abses ini sudah matang, maka perlu diberi sebuah incisi ( sayatan ) pada kulit untuk mengeluarkan Nanah ( pus ) dan jaringan busuk lainnya. Pada pasien ini tidak perlu dilakukan incisi karena sudah terjadi lubang untuk mengeluarkan Nanah.
Seminggu kemdian kami bertemu dengan Pak D ini di sebuah Mall. Saya mendapat kabar bahwa Absesnya sudah sembuh.
Obat Generik
Suatu pagi datang berobat Ibu M, 45 tahun mengantar seorang putranya yang ingin berobat. Putranya ini L, 5 tahun, menderita Flu.
Setelah selesai saya memeriksa L, Ibu ini berkata "Dok, obatnya minta obat generik saja ya?"
Saya menjawab "Baik, Bu." Rupanya Ibu ini sudah paham bahwa Obat Generik yang harganya terjangkau, juga dapat menyembuhkan penyakit putranya. Mereka dari keluarga gologan ekonomi bawah.
Saya menulis sebuah resep obat berupa 3 macam obat generik.
---
Suatu sore datang berobat sepasang suami-isteri. Sang suami yang sakit. Ternyata Pak K, 40 tahun ini menderita gangguan pencernaan ( Maag ).
Setelah selesai memeriksa pasien, saya menulis resep obat Generik untuk Pak K ini.
Saya berkata "Ini Pak, resep obatnya," sambil menyerahkannya kepada Pak K.
Pak K segera membacanya, setelah itu ia berkata "Wah..Dok, saya jangan diberi obat Generik. Beri saja obat paten.
Saya menjawab "Kenapa? Meskipun obat Generik, itu dapat juga menyembuhkan penyakit anda."
"Saya tidak mau minum obat Generik, Dok" ia menjawab. Rupanya ia karyawan sebuah Apotik sehingga sudah paham nama-nama obat Generik.
"Baiklah, saya akan ganti resep obatnya dengan obat yang paten." kata saya kemudian.
Tampak wajah Pak K ini lebih cerah dari pada sebelumnya. Rupanya ia dari golongan ekonomi menengah.
---
Dari 2 kejadian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa ternyata memberi obat Generik, tidaklah mudah. Persoalannya menjadi lebih mudah bila sang pasien yang minta diberikan bukan obat Generik, karena ia merasa mampu membeli obat yang patent.
Kamis, Juli 12, 2012
Memperpanjang Paspor
Pada tanggal 10 Juli 2012, saya melihat masa berlakunya Paspor saya sampai dengan 19 September 2012. Jadi tinggal 2 bulan lagi akan kedaluwarsa. Bila bepergian ke luar negeri ada ketentuan masa berlaku Paspor minimal masih 6 bulan lagi. Mau tidak mau saya harus memperpanjang Paspor saya. Persyaratan memperpanjang Paspor, sama saja dengan membuat Paspor baru.
10 Juli 2012 pukul 07.30 saya meluncur ke Kantor Imigrasi Cirebon yang berlokasi di jalan Sultan Ageng Tirtayasa, Sumber, Kabupaten Cirebon. Untuk menuju kesana saya mengambil jalan dari arah Utara Kantor tersebut. Di pertigaan Jalan Tuparev – Jalan A. Yani, mobil saya terjebak kemacetatan lalu lintas. Rupanya ada perbaikan jalan raya. Jalan raya yang dapat dipergunakan hanya 1 jalur, yang biasanya 2 jalur. Saat saya melintas jalan yang menuju Kantor Imigrasi, jalan ini diblokir. Terpaksa saya melanjutkan perjalanan ke arah Bandung dan melakukan balik arah menuju kota Cirebon kembali. Saya sudah menghabiskan waktu akibat kemacetan ini selama hampir 1 jam.
Saya mencoba mengambil jalan ke Kantor Imigrasi ini dari arah Selatan yaitu melalui jalan yang menuju Ibukota Kabupaten Cirebon, Sumber. Oleh karena jarang ke Sumber, saya agak kesulitan saat akan berbelok ke Jalan Sultan Ageng Tirtayasa. Mobil saya kemudikan dengan lambat mencari Jalan tersebut dan akhirnya ketemu juga. Saya berbelok ke arah kiri untuk menuju Kantor Imigrasi. Jaraknya sekitar 2 Km dari belokan jalan ini.
Setelah memarkir mobil, saya memasuki Gedung Imigrasi untuk mengikuti antrian. Untuk mendapat nomer antrian saya menuju ke sebuah komputer. Saya melihat tampilan “Maaf nomer antrian sudah habis”. Saya melihat arloji saya yang menunjukkan waktu pukul 10.10. Saya mengeluh…ah ini karena terjebak kemacetan lalu lintas. Saya terpaksa harus kembali keesokan hari.
Menurut seorang laki-laki di sebelah saya, sebenarnya kapasitas pembuatan Paspor setiap hari 300 Paspor. Yang 250 jatah Biro Jasa dan sisanya jatah Umum. Saya tidak yakin akan informasi ini. Wah dimana-mana ada Biro Jasa. Ada banyak orang yang kecewa juga karena sudah tidak kebagian nomer antrian untuk membuat paspor. Padahal waktu baru menunjukkan pukul 10.10. Sebelum pulang saya mengambil selembar Formulir dimeja sebuah Loket. Saya isi Formulir pengajuan pembuatan Paspor baru.
Dari petunjuk dalam Formulir ini, berkas surat harus dimasukkan ke dalam sebuah map warna Kuning ( Paspor Umum ) dan warna Biru ( Paspor untuk Tenaga Kerja Indonesia ). Saya menuju ke konter Koperasi, di pinggir area Parkir mobil. Harga Map Kuning ini Rp. 7.500, di dalam map ini juga ada selembar Kover plastik untuk Paspor, warna hijau.
Tanggal 11 Juli 2012 pukul 07.00 saya segera meluncur ke Jalan Sultan Ageng Tirtayasa. Tiba di Kantor Imigrasi pukul 07.30. Langsung menuju mesin untuk ambil nomer antrian. Saya dapat antrian nomer 2. Saat itu baru ada 4 orang yang akan antri. Mesin ini baru akan di aktipkan pada pukul 8.00. Saya berdiri sekitar 30 menit dipinggir mesin ini. 15 menit kemudian sudah ada 10 orang yang antri dibelakang saya yang akan membuat Paspor. Wah…banyak juga orang-orang yang akan membuat Paspor.
Untuk se wilayah 3 ( Indramayu, Kuningan, Majalengka, Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon ) hanya ada satu Kantor Imigrasi. Jadi semua bertumpuk di Kantor ini. Setelah mendapat nomer antrian, saya duduk untuk mendapat penggilan di Loket Paspor Umum.
Di depan petugas saya menyerahkan berkas berupa Paspor yang lama, Fotokopi KTP, Fotokopi Kartu Keluarga, Fotokopi Akte Lahir dan disertai dengan dokumen yang asli. Di Loket ini saya mendapat secarik Resi untuk membayar biaya pembuatan Paspor di Loket 1. Buku Paspor Umum berisi 48 halaman dan untuk Tenaga Kerja Indonesia berisi 24 halaman.
Saat berada di Loket 1 ini , sang petugas berkata “Belum siap. Komputer sedang discanning.” Saya kembali duduk. Cukup lama juga menunggu panggilan. 35 menit kemudian nomer saya dipanggil. Saya membayar biaya pembuatan Paspor baru sebesar Rp.255.00,- Saya mendapatkan Bukti Pembayaran dan Resi nomer 2 untuk pembuatan Pasfoto dan Interview.
Saya duduk kembali untuk menunggu panggilan untuk di Foto. 10 menit kemudian saya melihat dilayar monitor besar, nomer saya harus masuk ke Ruang Foto. Sang petugas dengan cekatan mengatur posisi untuk membuat Pafoto saya. Foto yang dibuat hanyalah dari leher ke atas kepala saja. 5 menit selesai.
Saya menuju ke meja Interview. Sang Petugas bertanya nama dan akan pergi ke Negara mana? Sambil melakukan scanning Paspor lama saya. Ia bertanya apakah ada kesalahan Nama dan tanggal lahir? Saya jawab semua sudah benar. Saya pikir akan ditanya banyak hal dalam Interview ini, tetapi ternyata saya hanya ditanya dengan 2 pertanyaan saja. Sang Petugas mengembalikan Dokumen Asli Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk saya. Jadi Dokumen asli Akte Lahir yang masih belum dikembalikan ( yang biasanya akan dikembalikan saat pemberian Paspor baru ).
Selesailah Interview ini. Sang Petugas menjawab pertanyaan saya tentang kapan selesainya Paspor baru ini? Dijawab hari Selasa, 17 Juli pukul 14.00 di Loket Pengambilan Paspor. Saat mengambil Paspor, harus memperlihatkan Bukti Pembayaran. Menurut pengumuman yang dipasang di dinding Ruang Imigrasi, pembuatan Paspor membutuhkan waktu 4 hari ( tidak termasuk hari Sabtu dan Minggu dimana Kantor tutup ).
Pukul 09.30 saya meninggalkan Kantor Imigrasi Cirebon ini. Semoga nanti hari Selasa , 17 Juli 2012 Paspor saya sudah selesai, agar saya tidak bolak-balik dari rumah ke Kantor Imigrasi ini yang berjarak sekitar 7 Km.
Selamat siang.-
Senin, Juni 25, 2012
Hari Ulang Tahun
11 Juni 2012 sore hari sebelum dimulai Rapat Bulanan Pengurus
Panti Wreda Kasih, kami para Pengurus Panti memperingati Hari Ulang Tahun Oma
W, 73 tahun. Oma W ini sejak 3 tahun
yang lalu tinggal di Panti ini, karena sudah tidak mempunyai sanak famili yang
dapat merawat Oma W.
Pada awal acara dibawakan sebuah Renungan yang saya
sampaikan. Renungan ini diambil berdasar ayat Alkitab, Roma 13: 8-9 yang
intinya “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Para Pengurus
Panti yang bekerja nonprofit ini
bertahun-tahun merawat para Oma dan Opa, menyediakan makanan, memberikan
tumpangan, memberikan pelayanan rohani setiap pagi, memberikan pelayanan
kesehatan, mengajak rekreasi di luar Gedung Panti dan lain-lain. Semuanya itu
merupakan penjabaran dari “Kasihilah sesamumu manusia, seperti dirimu sendiri.”
Selesai Renungan dimulailah acara HUT Oma W.
Lagu “Selamat Ulang Tahun” mulai dinyanyikan secara bersama-sama,
tiup lilin kue ulang tahun, pemotongan kue dan pemberian ucapan Selamat Ulang Tahun
kepada Oma W. Tampak wajah Oma W cerah dan gembira. Ia bersyukur kalau Ulang
Tahun yang ke 73 dapat diperingati bersama-sama Oma dan Opa yang tinggal di
Panti ini.
Saya ikut bergembira dan bersyukur pada sore hari itu. Turut
bergembira memperingati Ulang Tahun Oma W. Umur saya belum mencapai umur
tersebut. Saya tidak tahu apakah saya dapat mencapai umur itu, hanya Tuhan yang
tahu.
Selesai acara Ulang Tahun itu, dilanjutkan dengan acara
santap malam bersama. Selesai santap malam, kami para Pengurus Panti
melanjutkan dengan acara Rapat Bulanan Pengurus Panti.
Selamat malam.-
Minggu, Juni 10, 2012
Suntik minded
Pemberian pengobatan kepada pasien yang berobat
dapat berupa pemberian Resep obat yang harus dibeli di Apotik atau pemberian
Resep dan diberi suntikan. Pemberian suntikan bila dianggap perlu, misalnya
serangan Ashma bronchial ( serangan sesak nafas ), Kaligata akut ( menderita
gatal yang hebat akibat alergi terhadap sesuatu ), atau Kejang-kejang. Pada
pasien yang menderita Flu biasanya jarang diberikan suntikan.
---
Ada pasien saya, Tn S, 48 tahun, langganan saya yang
sering berobat bila menderita Daire, Pegel linu, Flu, Luka di kaki, dan
lain-lain. Suatu saat ia menderita Kaligata yang akut, mungkin salah makan
sesuatu. Saya berikan suntikan Antihistamin untuk meredakan alerginya dan resep
obat untuk diminum. Pasien sembuh dalam waktu yang tidak terlalu lama. Katanya
ia merasa cocok dengan pemberian obat dari saya, terutama efek suntikan yang
diberikan.
Lain kali bila pasien ini sakit, ia minta diberi
suntikan. Semula saya menolak memberikan suntikan, karena dianggap tidak perlu,
dan cukup diberikan resep obat saja. Pasien ngotot minta disuntik dengan alasan
agar cepat sembuh dari keluhan yang saat itu dideritanya. Pasien juga tidak
berkeberatan bila ada tambahan fee untuk biaya suntikan tadi. Baginya yang
penting keluhan sakitnya cepat sembuh.
Memang efek pemberian suntikan akan cebih cepat (
dalam bilangan menit ) bila dibandingkan dengan minum obat yang perlu waktu
untuk diserap dalam saluran pencernaan ( perlu waktu beberapa jam ).
Jadi tidak aneh bila ada banyak pasien yang minta
disuntik saat berobat kepada dokter, tidak peduli mereka sakit apa atau bila
dianggap suntikan tidaklah perlu diberikan, mereka tidak peduli. Yang penting
cepat sembuh.
---
Sebaliknya ada banyak pasien yang takut disuntik.
Apapun alasannya, pasien-pasien ini selalu menolak disuntik. Alasannya mereka
takut melihat jarum suntik dan takut merasa sakit saat disuntik ( padahal tidak
selalu benar ). Ada pasien yang bertubuh besar, tetapi takut disuntik. Tubuh
yang besar tidak menjamin nyalinya juga besar kalau hendak disuntik. Mereka
minta diberi resep obat saja.
Jadi dalam menghadapi para pasien saya sebelum
menyuntik, saya minta ijin dahulu bahwa pasien akan diberi suntikan. Bila
pasien setuju, suntikan diberikan. Kalau pasien tidak setuju, mereka tidak
diberi suntikan. Jadi ada “win win solution”.
Juga harap diingat pada pemberian suntikan ada
kemungkinan pasien tidak tahan dengan obat yang disuntikkan, mesti ditanya dahulu
apakah pasien alergi terhadap sesuatu obat. Bila ada faktor alergi jangan
diberikan obat yang sama untuk menghindari kejadian Anafilaktik shok.
Lebih bijaksana bila sudah disiapkan obat suntik anti
alergi, saat hendak menyuntik pasien, kalau-kalau pasien mendapatkan reaksi
yang tidak diinginkan.-
Jumat, Juni 08, 2012
Surat Keterangan Sehat
Sebagai Dokter Praktik Umum, saya sering membuat berbagai Surat
Keterangan untuk berbagai keperluan, antara lain: Surat Keterangan Sakit, Surat
Keterangan Sehat dan Surat Keterangan Kematian.
Kemarin pagi datang seorang Ibu, usia sekitar 40 tahun.
Saya bertanya kepadanya “Ada keperluan apa Ibu? Tampaknya
Ibu tidak sakit.”
Ibu tadi menjawab “Dokter, saya ingin mendapatkan Surat
Keterangan Sehat bagi anak saya. Ia akan melanjutkan sekolah.”
“Baik, mana anak Ibu?” saya bertanya kembali.
“O..anak saya masih di rumah.”
“Kalau anak Ibu tidak dibawa, saya tidak dapat membuat Surat
tadi, sebab saya perlu data: Tinggi Badan, Berat Badan, Tekanan darah dan lain-lain
data kesehatan untuknya. Nanti sore saja Ibu datang bersama anak Ibu untuk saya
periksa.” Saya menjelaskan kepada Ibu tadi.
“Baiklah, Dok”
Sore hari dan sampai keesokan harinya Ibu tadi tidak datang kembali.
Mungkin ia sudah mendapatkan Surat Keterangan Sehat bagi anaknya dari Teman
Sejawat yang lain.
Untuk membuat Surat Keterangan Sehat / Sakit / Kematian,
dokter mesti memeriksa atau melihat keadaan pasien terlebih dahulu, sebab
dokter harus yakin dahulu untuk membuat Surat Keterangan tersebut.
Sabtu, April 28, 2012
Alergi obat Sulfa
( foto ilustrasi )
Dua hari yang lalu datang berobat seorang anak laki, F, 4
tahun.
F diantar oleh Ibunya. Untuk mengobati demam putranya Ibu
M membeli tablet SD ( sulfadiazine ) di sebuah warung. F minum ½ tablet SD yang
dihancurkan sebelumnya.
Tidak berapa lama F mengeluh rasa gatal seluruh tubuhnya.
Di kulitnya timbul bintil-bintil kemerahan. Kelaianan ini menetap sampai sore
hari dan F dibawa kepada saya untuk berobat.
Pada pemeriksaan fisik F, tidak didapat kelainan yang
serius selain adanya biduran ( urticaria, kaligata ). Demam tidak ada, tidak
ada sesak nafas, Jantung dan Paru-paru dalam batas normal. Diagnosa kerja:
alergi obat Sulfa.
Saya memberikan resep sirop anti alergi dan sirup yang
mengandung Kalsium.
Saya berpesan kepada Ibunya agar F jangan minum obat yang
mengandung obat Sulfa dan kalau berobat kepada dokter agar memberitahukan bahwa
F menderita alergi Sulfa. Untuk praktisnya: janganlah memberikan obat sembarangan
kepada putranya, sebab mungkin sekali bukan hanya obat Sulfa saja ia alergi
tetapi dapat juga dengan obat golongan lain.
Sampai artikel ini ditulis, F tidak datang kembali.
Semoga ia sudah sembuh dari gejala alergi yang dideritanya.
Jumat, April 06, 2012
Suntik KB musiman
Kemarin sore seorang Ibu memasuki Ruang Periksa saya. Ia ditemani
oleh seorang anak wanita umur sekitar 6 tahun.
Saya bertanya “Siapa nama Ibu, berapa umur Ibu dan dimana
alamat Ibu?” untuk dicatat dalam Catatan Medis Pasien.
Ia menjawab pertanyaan saya.
Tampaknya ia tidak sakit, lalu saya bertanya kembali “Ibu,
apa yang bisa saya bantu?”
Ia menjawab “Saya ingin suntik KB, Dok”
“Ibu sudah pernah disuntik KB?”
Ia menganggukkan kepalanya.
“Boleh saya lihat Kartu Akseptor Ibu?”
“Tidak dibawa, Dok”.
Melihat wajahnya yang acuh tak acuh, saya tidak yakin
kalau ia punya Kartu Akseptor KB. Kalau
benar ia seorang Akseptor KB, maka biasanya
Kartu itu dibawa dan diperlihatkan kepada petugas medis dimana saya (
dokter, bidan, Puskesmas, Klinik KB ). Suntik KB dapat dimana saja , tidak
harus selalu pada petugas yang sama. Kalau kebetulan sedang berada di kota
lain, akseptor dapat minta diruntik oleh petugas kesehatan setempat. Kalau tidak
bawa Kartu Akseptor, petugas tidak yakin apakah benar ia adalah seorang
akseptor KB atau bukan.
“Kapan, tanggal jatuh tempo Ibu harus suntik ulang?” Saya
bertanya untuk mengetahui tanggal berapa ia harus disuntik ulang dan apakah
tanggalnya sudah terlewati atau belum?
“Begini, Dok, suami saya bekerja ikut sebuah kapal yang
berlayar. Ia pulang tiap sekitar 6 bulan
sekali. Nah suami saya mau pulang dan
kami tidak ingin punya anak lagi. Kami sudah punya 2 anak dan ini anak yang
bungsu. Jadi sekarang saya ingin disuntik KB agar tidak hamil lagi.”
“Baik, saya menghargai Ibu dan Bapak yang sudah mengikuti
program KB. Kalau Ibu ikut KB dengan cara suntik KB, maka Ibu harus disuntik
secara teratur tiap 1 bulan atau 3 bulan sekali tergantung obat yang disuntikan
ke badan Ibu. Kalau suami akan pulang Ibu baru disuntik KB, kalau suami tidak pulang
Ibu tidak suntik KB. Ini cara yang tidak baik, Bu. Kalau Ibu tidak ingin hamil
lagi, kalau mau berhubungan dengan Bapak, mintalah suami memakai Kondom agar aman.
Kalau Ibu ingin lebih praktis maka pasanglah Spiral dalam rahim Ibu. Seumur
hidup Ibu aman dan tidak pusing lagi kalau suami mau pulang ke rumah.”
Ibu A mengangguk-anggukan kepalanya. Semoga ia dapat mengerti
apa yang saya jelaskan kepadanya.
Saya berkata lagi “Silahkan Ibu berpikir dahulu. Sementara
ini Ibu bisa beli Kondom di Apotik atau Toko Obat terdekat,” sambil membuka
pintu keluar Ruang Periksa.
---
Selama saya melayani pasien sejak tahun 1980, baru kali
ini saya menjumpai pasien seperti Ibu A. Minta suntik KB musiman.
Selamat pagi.-
Langganan:
Postingan (Atom)









