Minggu, Juli 14, 2013
Ingin hidup 100 tahun?
Kalau kita menghadiri perayaan hari ulang tahun seseorang atau memberi ucapan selamat, sering kita melihat tulisan atau menuliskan perkataan “Selamat ulang tahun dan semoga panjang umur”. Hampir semua orang menghendaki panjang umurnya, tetapi apalah artinya panjang umur, bila dalam keadaan lanjut usia ia menderita penyakit. Jangankan melayani orang lain ( suami/isteri ), melayani diri sendiri saja sudah tidak bisa dan harus dibantu oleh orang lain. Mungkin ucapan selamat tadi lebih baik bila diganti dengan ucapan “Selamat Ulang Tahun“ dan “Semoga awet muda“.
Seorang pengusaha dan Direktur perusahaan jamu terkenal di Jawa Tengah di dalam sebuah artikel sebuah majalah pernah menyatakan dalam wawancara dengan seorang wartawan bahwa kalau bisa ia ingin mati muda. Sang wartawan terkejut, bagaimana mungkin seorang yang begitu sukses mempunyai keinginan yang lain dari orang lain dan ingin mati muda saja. Sang Direktur menjawab, “Bila mati muda kan tidak mengalami penderitaan bertahun-tahun karena menderita sakit di hari tuanya dan saya tidak ingin mengalaminya.”
Kami pernah menemui contoh kasus seorang yang ingin berumur panjang dan bahkan ingin hidup sampai umur 100 tahun. Ingin mengetahui ceritanya. Inilah kisahnya.
Suatu hari kira-kira 15 tahun yang lalu isteri saya yang juga seorang dokter umum mendapat pangilan berulang-ulang kali dari seorang nenek yang berumur 99 tahun dengan sakit usia lanjut.
Penderita sudah lama hanya berbaring di tempat tidurnya. Makan sedikit sedikit dengan cara disuapi oleh anaknya. B.a.k. ( buang air kecil ) dan b.a.b ( buang air besar ) diatas tempat tidur. Kadang-kadang demam, sedikit batuk dll keluhan diusia lanjutnya.
Beberapa kali saya ikut mengantar isteri saya bila mereka memanggil dokter dan ikut melihat pasien tadi. Kami pernah menyarankan agar dirawat di Rumah Sakit saja agar perawatannya dapat lebih intensif, tetapi hal ini ditolak oleh keluarganya.
Suatu saat ia mengalami krisis, demam tinggi dan tidak mau menelan minuman ataupun makanan cair selama 2 hari. Semua sanak saudaranya dipanggil datang dan bahkan anaknya yang tinggal di Hongkong juga sudah datang. Maklum mereka keluarga yang terpandang di kota kami.
Anaknya memohon kepada kami agar dapat menyembuhkan sakitnya. Meskipun kami menyarankan agar dirawat oleh T.S. spesialis/ahli penyakit dalam, mereka menolak dan minta agar kami saja yang merawat ibu mereka. Mereka begitu ngotot agar ibunya segera sembuh. Hal ini bisa dimaklumi, siapa yang tega ibunya sakit berat?
Ketika anaknya datang dari Hongkong eh… sang pasien mendadak mau makan, sadar, bisa bicara dengan sanak keluarganya. Karena dianggap kondisi kesehatan ibunya membaik, sang anak kembali pulang ke Hongkong.
2 hari kemudian kami dipanggil lagi karena kondisi pasien merosot lagi dan bahkan lebih parah. Kami rasanya tak sanggup lagi untuk mempertahankan keadaan yang sudah lemah.
Saya pernah berbisik kepada salah satu anak yang merawatnya ( serumah ) bahwa bila Tuhan memanggil ibunya maka relakan saja, karena kami kasihan melihat ibunya hidup dalam keadaan yang makin mengkhawatirkan, toh usianya sudah lanjut. Kami mendapat jawaban yang menolak pernyataan saya dan sekali lagi memohon agar kami dapat merawatnya selama mungkin. Glek….. saya terhenyak.
Saya tak dapat menjawab pertanyaan saya sendiri: untuk apa lagi ia hidup menderita dan juga membuat semua sanak keluarganya siang malam ikut menderita dengan menunggui ibu mereka siang malam?
Saya pada suatu hari kunjungan sempat mengeluarkan isi hati saya bahwa kalau mereka selalu ingin agar ibunya sehat kembali ( meskipun mereka juga tahu keadaan ibunya yang sudah payah karena usia lanjut ) dan menolak suatu saat Tuhan memanggil ibunya maka berarti anda sudah melawan takdir. Dan itu tidak baik karena tidak merelakan ibunya pergi dan ibunya juga sulit pergi karena dihalangi oleh anaknya. Mereka terdiam.
2 hari kemudian kami mendapat berita bahwa pasien kami ini meninggal dunia dan jenasahnya tetap berada di rumah mereka dan tidak dibawa ke rumah duka. Kami pergi melayat kerumah mereka. Saya berbicara dengan anaknya dan ia mengeluarkan isi hatinya. Anda ingin tahu apa yang disampaikannya? Inilah “rahasianya”:
Ibunya pernah menyatakan bahwa ia ingin berumur sampai 100 tahun yang berarti kira2 1 bulan lagi sejak ia meninggal dunia dan ia ingin meninggal dunia di rumah sendiri. Ya Tuhan….. saya membatin. Saya belum pernah selama menjadi dokter menemui kasus seperti ini yang ngotot ingin hidup terus sampai 100 tahun ( kalau di sajak Chairil Anwar sih memang ada tertulis “ Aku ingin hidup 1000 tahun lagi” ). Tetapi apa bisa?
Anaknya juga memohon maaf kepada kami karena “keras kepalanya” sehingga ia selalu memanggil kami bila kesehatan ibunya menurun sedikit saja sudah memanggil dokter at any time. Memang repot sih menghadapi orang yang demikian. Tapi mau apa lagi? Setelah kami mengetahui “rahasia” ini, maka terjawab sudah pertanyaan saya di atas tadi.
Anda ingin hidup sampai 100 tahun ? Hanya kita masing-masing yang dapat menjawabnya.-
Sabtu, Juli 13, 2013
Dokter sakit kepala
Keluhan sakit kepala,pusing merupakan gejala yang paling banyak dikeluhkan oleh pasien. Pasien sering bertanya,”Sakit apa saya ini, Dok?”
Sakit kepala merupakan gejala dari suatu penyakit. Gejala sakit kepala ini dapat disebabkan oleh banyak kelainan antara lain di:
1.Daerah kepala: akibat benturan kepala, tumor otak dsb.
2.Daerah Hidung: Sinusitis dsb.
3.Daerah saluran nafas: Flu berat dll.
4.Penyakit Infeksi: Typhus dsb.
5.Gangguan pembuluh darah: Migraine dsb.
6.Stress berat.
7.Kedinginan.
8.Dll.
Nah penyebab yang terakhir ini yaitu kedinginanlah yang merupakan penyebab saya selama 1 minggu menderita.
Kisah ini terjadi 18 tahun yang lalu. Dengan membaiknya rejeki, maka keluarga kami dapat mengganti mobil kami yang tidak ber AC dengan mobil yang ber AC. Kami selalu memanfaatkan AC alam yaitu udara luar/angin, bila naik mobil.
Selama 1 minggu saya menderita sakit kepala. Saya selalu menghidupkan AC mobil agar udara terasa sejuk di dalam mobil. Bila saya naik mobil dari rumah ke Puskesmas yang berjarak sekitar 5 Km. Sakit kepala saya ini terjadi selama saya berada dalam mobil.
Sakit kepala akan hilang secara bertahap setelah saya berada di luar mobil. Saya tidak minum obat penghilang sakit kepala. Saya bertanya-tanya dalam hati, “ Apa penyebab sakit kepala ini?”
Akhirnya saya menemukan penyebabnya yaitu akibat dinginnya udara akibat AC mobil. Kesimpulan ini berdasar analisa dan percobaan:
1.Sakit kepala hanya terjadi bila saya berada dalam udara dingin ( AC).
2.Sakit kepala hilang bila saya berada di dalam ruangan bersuhu sekitarnya ( 29-31 derajat Celsius ).
3.Bila AC mobil dimatikan dan pakai AC alam ( jendela terbuka ), sakit kepala tidak ada.
Setelah tubuh saya beradaptasi dengan AC, sekarang malah terbalik keadaannya. Bila AC mobil off, sakit kepala saya timbul dan badan berkeringat karena kepanasan.
----
Pernah ada kejadian yang menggelikan tentang AC mobil ini. Suatu saat saya dan seorang staf Puskesmas pergi dari Cirebon ke Bandung berkendaraan mobil saya dan AC di on kan. Dalam perjalanan tidak ada masalah. Staf saya tenang-tenang saja.
Keesokan harinya ia ditanya oleh staf yang lain,” Bagaimana rasanya naik mobil ke Bandung bersama dokter?”
Ia menjawab, “Wah enak. Mobil melaju mulus, tapi itu lho.”
“Lho kok ada tetapinya. Apa sih.” yang lain nimbrung.
Ia menjawab,”Saya merasa kedinginan. Habis AC mobil dokter dingin sekali.” ( pantesan dalam perjalanan ia diam saja ).
Saya yang saat itu berada di ruangan sebelah merasa geli dan kasihan kepadanya. Mengapa ia tidak mengatakan kepada saya bahwa AC nya terlalu dingin atau minta di off kan saja. Kasihan ia merasa tidak nyaman sedangkan saya biasa-biasa saja karena sudah terbiasa dengan AC ini. Rupanya ia belum terbiasa dengan udara dingin karena AC ( sama dengan saya pada awal cerita ini ).
----
Kasus lain yang serupa adalah:
Suatu sore datang seorang pasien, ibu untuk berobat. Ia menderita demam sejak 2 hari yang lalu. Setelah duduk, ibu ini berkata “Aduh dingin sekali dok. Saya tidak tahan.Tolonglah AC nya di matikan saja.” ( wah nanti saya yang kepanasan ) Nah….lho.
Saya memahami keadaan ibu yang demam ini. Saya tekan tombol “Sleep mode” sambil berkata “Ibu, AC nya sudah saya matikan.” (padahal hanya mengontrol timernya saja. Kalau benar-benar di off kan maka saya akan kepanasan, karena ventilasi sudah ditutup karena AC di on kan.
Bagi mereka yang mempunyai kamar tidur yang ber AC, sebaiknya anda menekan tombol “Sleep mode” sebelum tidur atau menekan tombol timer untuk AC on selama beberapa jam saja dan akan off secara otomatis agar anda tidak kedinginan saat tidur.
Suhu yang ideal ketika tidur sekitar 23-25 derajat Celsius ( tergantung kebiasaan seseorang ). Dengan suhu 20 derajat Celsius saja kita sudah merasa dingin, bagaimana kalau kita berada di daerah Kutub Utara yang bersuhu udara minus dibawah nol ( beku ). Kita kalah dong dengan Beruang Kutub dan Ikan Hiu Botol.-
Jumat, Juli 12, 2013
Dokter murah
Dokter murah bukan berarti dokter murahan. Pengalaman ini pernah saya alami ketika pada tahun 1998, saya dapat giliran jaga kota Cirebon dimana setiap 3 bulan satu kali kena giliran jaga kota. Tempat praktek swasta pribadi menjadi tempat Dokter Jaga Kota.
Pagi hari sekitar pukul 11.00 datanglah seorang laki-laki berumur sekitar 35 tahun dengan maksud untuk berobat. Pasien ini berasal dari Jakarta dan ketika berada di Cirebon ia merasa kesehatannya terganggu. Ia menderita Flu, setelah saya periksa saya menyerahkan resep obat kepadanya.
Pasien ini bertanya “ Berapa Dokter?’.
Saya menjawab “ Lima ribu rupiah untuk biaya pemeriksaan”.
Pasien saya ini agak terkejut dan ia bertanya lagi” Berapa Dokter?”.
Saya menjawab “Lima ribu rupiah”.
Pasien ini berkata lagi “ Kok murah sekali. Kalau dikota Jakarta saya biasa membayar lima belas ribu rupiah” .
Saya menjawab “ Kalau di Cirebon seorang dokter umum memungut lima belas ribu ya terlampau mahal dan pasti tidak laku. Dokter spesialis ( waktu itu) saja dua puluh ribu rupiah, tetapi kalau Bapak mau membayar lima belas ribu ya saya terima.” ( sambil tersenyum, guyon ).
“ Wah.. ya saya bayar lima ribu rupiah saja seperti yang dokter mauin “
Rupanya pasien saya ini termasuk orang yang kikir sehingga merasa rugi bila ia membayar lebih, padahal saat itu adalah hari Minggu dimana sulit mencari dokter yang praktek dan ia saat itu sudah ditolong oleh dokter jaga kota.
“Semoga lekas sembuh, Pak” kata saya sambil membukakan pintu.
----
Pengalaman lainnya juga cukup menggelikan. Seorang ibu pasien langganan saya suatu saat pada tahun yang sama datang berobat. Sakit kulitnya kambuh lagi.
Sambil menerima resep dari saya ia bertanya “ Berapa Dokter?”
Saya jawab “ Lima ribu rupiah.”
Ibu ini pura-pura terkejut dan berkata “ Kok naik Dok, dulu cuma tiga ribu rupiah”
Rupanya ia mau nawar biaya pemeriksaan.
Saya menjawab, “ Ya dulu dulu sih cuma dua rupiah dan naik jadi tiga ribu rupiah. Ibu sudah lama tidak kontrol dan sekarang lima ribu rupiah.”
Ibu tersebut menggumam “ Ya sekarang apa-apa pada naik. Tidak ada yang turun ya Dok.”
Saya menjawab sambil guyon “ Ada Bu.”
“Apa itu Dok”
Saya jawab “ Celana dalam turun, bila mau disuntik “
“ Ah Dokter, ada-ada saja “
Padahal betul kan? Mana ada celana dalam yang naik bila mau disuntik. Ha..ha...ha..
Kadang kala disaat praktek Dokter harus dapat membuat pasien tertawa agar berkurang penderitaaanya. Tertawa itu sehat, karena itu tertawalah sebelum tertawa itu dilarang. Tertawa itu juga dapat mengurangi Stres.-
Mesin Penjawab Telepon
Demi tidak mengecewakan penelepon, pesawat telepon kami dilengkapi dengan mesin penjawab telepon ( answering machine ). Rupanya orang-orang di kota kami belum terbiasa dengan mesin penjawab telepon.
Dengan terpasangnya alat tadi bukannya menjadi lebih nyaman bila menghubungi pesawat telpon kami, tetapi sebaliknya bahkan menjadi lebih kacau. Tujuan untuk mempermudah menghubungi kami tetapi tetap saja kami sulit mengubungi kembali si penelepon.
Semula alat tersebut dipasang agar:
1.Bila kami sedang tidak berada di rumah atau sedang enggan menerima telepon, maka si penelepon dapat meninggalkan pesan, nama dan nomer penelpon agar kami dapat menghubungi kembali secepatnya.
2.Bila si penelepon mengucapkan pesannya, kami dapat mengenali suara sipenelepon, sehingga kami segera dapat mengangkat pesawat telepon.
3.Pasien dapat mendaftar sebelum berobat pada sore hari.
Pengalaman saya selama ini memang benar menunjukkan bahwa masyarakat belum terbiasa menghadapi mesin penjawab telepon. Mesin tadi berisi rekaman suara saya, “ Disini nomer 123456, sebutkan nama, pesan dan nomer telepon anda.” Rekaman suara tadi di ucapkan lambat agar dapat didengar dengan cermat.
Anda dapat menyimak pesan-pesan dari si penelepon:
1.“Nama saya Untung, Dokter harap datang ke rumah saya karena anak saya sakit.” ( tidak ada alamat, tidak ada nomer telepon, lalu saya harus datang kemana? ).
2.“Dokter saya mau daftar untuk berobat.” ( tidak disebutkan namanya, alamatnya, nomer teleponnya & kapan mau berobatnya, lalu apanya yang di daftarkan?.
)
3.“…………”, tanpa ada suara sedikit pun, lalu rekaman suara saya rupanya tidak diperhatikan sehingga si penelepon terbengong-bengong, kok tidak ada yang menyahut lagi. Kasus in adalah yang paling banyak terjadi. Kalau saya bertemu beberapa waktu kemudian maka mereka mengomel bahwa ketika mereka menghubungi kami, hanya disambut oleh suara rekaman saya saja. Lho kami juga kan manusia yang bisa pergi kemana saja semau kami dan kapan saja. Kok repot-repot ngurusin telepon sih. Kalau memang benar perlu sekali kan dapat meninggalkan pesan. Sarananya sudah tersedia silahkan dimanfaatkan, dari pada telepon tidak diangkat-angkat karena memang tidak ada orang di rumah.
4.Terdengar rekaman “Wah tidak ada orangnya“ ( maksudnya kok bicara tidak nyambung dengan si tuan rumah ), lalu hubungan telepon di putuskan.
Terpasangnya mesin penjawab telepon ini sudah banyak di kota-kota besar dan di kantor-kantor. Pernah suatu kali menghubungi suatu kantor di Jakarta. Deringan telepon saya disambut dengan rekaman suara dari seberang sama, lalu saya meninggalkan nama, nomer telepon dan tujuan saya menelepon. Ternyata rupanya saya menelpon hari Sabtu dimana kantor tersebut tutup.
Meskipun kantor tutup, saya mendapat telepon dari kantor tersebut pada hari Senin, 2 hari kemudian dan saya mendapatkan informasi yang saya tinggalkan dalam pesan saya pada mesin penjawab telepon kantor tersebut.
Nah inikan bagus. Komunikasi satu arah ini dapat memberikan hasil juga. Itulah mesin penjawab telepon yang dimanfaatkan dengan benar.
Kamis, Juli 11, 2013
Dokter mengeluarkan uang dulu
Kisah ini adalah lanjutan dari kisah “Dokter melompati pagar”.
Setelah Napi Udin dibawa ke RSU untuk dirawat inap, perawat jaga menyodorkan resep berupa cairan infus, slang infus dan antibiotika suntikan yang semuanya berjumlah Rp. 39.000,- Karena petugas Lapas tidak membawa bekal uang, maka demi kelancaran prosedur perawatan saya nombokin dulu uang tadi. Ah… masa bodoh lah, yang penting ia masuk RSU dulu. Soal duit besok lusa saya akan minta penggantian dari Bagian Keuangan Lapas.
Finally si Udin ini dirawat selama beberapa hari di RSU dan sembuh. Saya bersyukur bahwa saya sudah melakukan tugas dengan baik dan Napi sehat kembali.
Saya telah menjalankan amanat dari Kepala Lapas, bahwa “Jangan ada Napi yang meninggal dunia di dalam Lapas I Cirebon.” Bila ini terjadi maka kami akan repot menghadapi pertanyaan: Kanwil Kehakiman Jabar, Departemen Kehakiman Pusat/Jakarta dan pihak keluarga Napi yang mungkin tidak mau menerima kenyataan bahwa Napi tsb telah meninggal dunia karena penyakitnya.
Pihak keluarga mengira ia meninggal dunia akibat penganiayaan petugas Lapas. Bila ada Napi yang sakit apalagi sakit berat, maka pihak Keluarga segera diberitahu dan diminta agar segera hadir di Lapas untuk melihatnya sendiri dan untuk keperluan meminta bantuan dana dari keluarga bila diperlukan untuk perawatan di RSU ( obat-obatan ) yang tidak semuanya gratis.
Wah…. kejadian malam itu benar-benar pengalaman yang sulit terlupakan. Sudah melompati pagar Lapas, nombokin ( keluar uang ) lagi. Ya sudah mau apalagi. Kejadian itu berlangsung begitu cepat, tanpa ada scenario dari sutradara.
Dokter melompati pagar
Suatu malam pada tahun akhir 1998 sekitar jam 23.00 telepon dirumah kami berdering. Ada laporan dari Lapas Cirebon yang mengabarkan bahwa ada seorang Napi yang menderita sakit perut.
Keluhan didaerah perut ini cukup kompleks. Dengan mengendari Kijang Pusling Puskesmas isteri saya, saya berangkat ke Lapas. Setibanya di depan Lapas Kelas I Cirebon, saya bingung karena kedua pintu halaman terkunci dengan gembok.
Saya lupa membawa Handphone untuk menelepon petugas jaga malam. Saya pikir, bagaimana saya bisa masuk bila semua pintu terkunci. Akhirnya saya nekat untuk melompati pagar besi yang setinggi 1 ½ meter. Setelah tengok kiri dan kanan ternyata saat itu sudah sepi ( tidak tampak seorangpun ) karena sudah larut malam, saya masuk ke halaman Lapas lewat udara alias melompati pagar.
Saya mengetuk pintu kayu untuk dapat masuk ke bagian Portir depan. Setelah pintu dibukakan oleh petugas yang bertugas malam itu, saya bertanya, “ Kenapa kedua pintu besi sudah tergembok, sehingga saya tidak bisa masuk ke halaman?”
Petugas tadi menjawab, “Karena sudah lewat jam 22.00 maka semuanya digembok, Dok”
Saya meradang lagi, “Saya mendapat laporan per telepon ada Napi yang sakit dan saya segera datang, tetapi kenapa Bagian Keamanan tidak berkoordinasi dengan bagian Portir Depan untuk membukakan pintu bagi dokter yang akan datang?”
Eh… bukannya mengakui kesalahannya, ia malah berkata,”Sebenarnya dokter bisa masuk lewat pintu gerbang di belakang.” ( konyol…..dokter dipingpong ke pintu belakang, padahal saat itu keadaannya cukup gawat karena ada Napi yang sakit ).
Saya menjawab lagi “Dokter tidak pernah lewat pintu belakang, saya lebih enak masuk dan keluar dari pintu depan Lapas.” Memang ada 1 pintu gerbang lagi untuk masuk Lapas yaitu dekat perumahan karyawan Lapas. Tetapi saya tidak terpikir untuk masuk lewat pintu itu, lebih enak lewat pintu depan persis dipinggir jalan raya Kesambi, Cirebon.
Seumur hidup menjadi dokter baru kali itulah saya melompati pagar kantor tempat bertugas. Untung saat itu sudah larut malam sehingga tidak ada orang yang melihat saya. Ah …..sial banget saya malam ini……Bekerja di Lapas sebenarnya bekerja 24 jam. Bila ada Napi yang sakit maka dokter wajib datang.
Ternyata Napi yang sakit ini adalah si Udin ( bukan nama sebenarnya ), karena parahnya kondisi Napi ini, saya menganjurkan agar di rawat inap saja di RSU.
Dokter diomelin Ibu pasien
Sebelum era Reformasi jarang sekali pasien atau keluarga pasien menyalahkan / ngomelin dokter. Kejadian ini berlangsung pada tahun 2001. Pada era Reformasi banyak hal tersebut dialamai oleh saya. Kalau ditelusuri sebabnya adalah lebih banyak anjuran dokter yang tidak dituruti oleh mereka. Penyakit tidak/belum sembuh kemudian mereka mengajukan keluhan kepada dokter. Salah satu contoh dari kejadian tersebut adalah kisah dibawah ini.
Sepuluh hari yang lalu datang seorang pasien Hadi ( bukan nama sebenarnya ), laki-laki 14 tahun, diantar oleh Ibunya berobat kepada saat jam praktek sore. Pasien mengeluh demam sejak 2 hari yang lalu, kepala pusing, tidak selera makan, badan terasa lesu.
Ibunya mengatakan pasien sudah minum tablet penurun panas yang dapat dibeli bebas, tetapi demam masih berlanjut sehingga ia mengantar putranya berobat kepada dokter ( saya ).
Setelah melakukan: anamnesa ( wawancara dengan pasien & ibunya ) dan melakukan pemeriksaan fisik, saya mengambil kesimpulan bahwa pasien menderita gejala Typhus ( Typhus abdominalis ). Mengingat pasien tidak begitu mampu, saya tidak membuat pemeriksan darah di Laboratorium Klinik.
Saya memberikan resep: kapsul Antibiotika yang sesuai, tablet penurun panas dan tablet Vitamin untuk selama 5 hari, advis istirahat di tempat tidur selama masih demam ( bed rest ), makan bubur selama masih ada demam, banyak minum, kompres dingin di kepala selama masih demam dan anjuran agar kontrol ulang setelah obat habis ( karena tidak mungkin Typhus sembuh dalam 5 hari, minimal ia harus minum antibiotika selama 10 hari ).
Enam hari setelah kunjungan pertama, mereka datang kembali. Kini ibu pasien meradang, dengan nada marah ia berkata,”Dokter anak saya belum sembuh, ia demam lagi. Bagaimana ini ?”
Saya menjawab, “Apakah semua obat dan semua advis saya sudah dilakukan?. Kalau obat habis kan harus kontrol/datang berobat kembali. Kemarin obat sudah habis, sekarang kok baru kontrol lagi. Lagi pula kenapa Ibu marah-marah?”.
Ia menjawab lagi,”Demamnya sudah turun setelah minum obat dari dokter selama 2 hari. Pada hari ketiga anak saya bermain badminton meskipun sudah saya larang. Malamnya ia demam tinggi sampai sekarang.”
Nah ketahuan kan, pasien belum sembuh ( gejala Typhus kok sudah berani main badminton ) sudah beraktifitas fisik yang melelahkan. Berarti advis dokter dilanggar, tetapi sang Ibu menyalahkan dokter.
Saya tidak mau bertengkar dengannya ( orang yang sedang kesusahan emosinya sangat sensitif ).
Saya berkata, “Begini saja Bu, saya beri resep lanjutan dan semua advis saya agar dilakukan tanpa ada tawar menawar lagi. Pasti sakit putra Ibu akan sembuh.”
Saya berikan resep antibiotika untuk 7 hari lagi dan obat penurun panas selama 3 hari lagi dengan suatu keyakinan bahwa bila obat dan anjuran saya dilakukan dengan baik maka penyakit putranya akan segera sembuh, seperti ratusan pasien dengan gejala yang sana yang pernah berobat kepada saya. Semoga.
Rabu, Juli 10, 2013
ALERGI KOMPUTER
Kalau menjumpai seorang yang alergi terhadap udang, saya dapat memberi suntikan Avil ( golongan anti histamin, anti alergi ) untuk menghilangkan gejala gatal-gatalnya. Untuk orang yang akergi Komputer, apa obatnya? Sejak lama saya belum menemukan obat yang jitu, meskipun saya mencarinya di dalam bermacam-macam buku dan bahkan di Internet sekali pun. Wah… parah sekali rupanya penyakit “alergi Komputer” ini. Anda tahu obatnya? Tolong beri tahu saya. Terima kasih atas kesediaan Anda.
Kisah ini di mulai pada tahun 1986. Ketika saya berada di Jakarta, saya ditanya oleh adik ipar saya, “Apakah di Cirebon sudah ada took Komputer? dan apakah kakak sudah paham tentang Komputer?” Saya menjawabnya, “Setahu saya di kota kami baru ada 1 toko yang menjual Komputer dan sampai saat ini saya belum paham apa itu Komputer karena saya belum mempunyainya.”
Malu karena nanti saya di anggap kuper ( kurang pergaulan), maka seminggu kemudian saya minta tolong kepada adik ipar saya yang lain yang juga tinggal di Jakarta agar saya dipesankan 1 set Komputer type XT. Waktu itu hanya ada 2 type yaitu XT dan AT yang lebih canggih. Saya pilih yg XT karena harganya masih terjangkau oleh saya dan juga dengan asumsi bahwa kelak bila saya sudah paham benar tentang Komputer maka komputer akan diganti dengan yang type AT atau yang lebih canggih dan tentu lebih mahal harganya.
Sejak kiriman pesanan Komputer saya tiba, maka saya asik menekuni Komputer. Malam pertama sekitar jam 21.30 saya mencoba “memboot” Komputer itu untuk melihat program apa saja yang ada dalam harddisk. Di dalam menu saya melihat ada program word processor ( Wordstar ), ada spread sheet untuk mengolah angka ( Symphoni ) dan ada satu lagi program yang saya sudah lupa namanya. Program ini ternyata tidak mau muncul di layar monitor, meskipun saya telah berulang-ualng memanggilnya. Saking jengkelnya saya sampai membongkar chasing dari CPU ( Central Processing Unit ).
Ketika saya buka chasing tersebut, maka saya makin bingung, begitu banyak sparepart yang saya baru melihatnya dan apa lagi fungsinya pun tidak tahu. Pada Lesson 1 ini saya mendapat pengalaman unik. Selidik punya selidik ternyata ada 1 jack diujung seutas kabel yang tidak menempel pada slot manapun. Saya pikir ini biang keroknya sehingga program tidak muncul di layar. Ketika saya akan menghubungkan jack tadi dengan salah satu slot, saya bingung juga, bagaimana nanti kalau terjadi hubungan pendek arus listrik? Bukannya makin benar tetapi mungkin Komputer saya akan terbakar. Akhirnya saya menyerah dan chasing saya tutup kembali dan saya akan menanyakan kepada adik ipar saya pada keesokan harinya. Saya melihat saat itu jam menunjukan jam 03.00 dini hari. Wah…sekian jam berlalu tidak terasa, saking asiknya menekuni Komputer.
Keesokan harinya saya mendapat Lesson 2 dimana adik ipar saya mengatakan bahwa Komputer saya tidak rusak sedikitpun. Masalah program yang tidak muncul di monitor karena memang programnya belum di install kedalam harddisk. Glek…inilah lesson 2.
Saya terbengong juga karena dalam menu ada programnya tetapi ketika di panggil tidak muncul-muncul. Akhirnya menu sedikit diubah dan program yang saya perlukan berjalan dengan baik.
Nah kini Lesson 3: bagaimana saya mempelajari program pengolah kata ( Wordstar ) ini dengan baik? Ikut Les Komputer? Atau belajar senidir? Akhirnya karena terbentur masalah waktu ( karena saya harus bekerja di Puskesmas dan membuka praktek sore agar dapur kami tetap berasap ), saya memutuskan untuk belajar sendiri ( autodidak ) dari buku-buku Komputer yang saat itu masih langka dan sulit dicari, apalagi di kota kami.
Akhirnya saya bisa juga memanfaatkan Komputer tadi untuk menulis surat, menulis laporan dan membuat data base program kesehatan Puskesmas A dimana saya bekerja, meskipun saya mengetik/menekan keyboard hanya dengan 4 jari saja.
Keesokan harinya saya mendapat Lesson 4 yang menyebalkan. Ceritanya begini: sudah 1 jam saya mengetik dengan Wordstar, karena perut sudah lapar maka tanpa meneliti lagi saya langsung keluar dari Wordstar dan pekerjaan saya belum disimpan ( di “save”) di harddisk.
Ketika 1 jam kemudian saya membuka file yang saya buat dengan susah payah ternyata saya tidak menemukan file ini . Rupanya hilang karena tidak saya “save” terlebih dulu. Betapa kecewanya saya saat itu. Terpaksa saya mengetik ulang file tadi. Waktu banyak terbuang percuma. Inilah Lesson 4 yang kejam dan hal ini sering terjadi pada rekan-rekan lain yang baru belajar. Ingat Lesson 4 ini, agar tidak terjadi pada diri Anda.
Banyak manfaat yang saya dapatkan dari Kompuyter saya ini, misalnya:
Dengan pengolah kata ( word processor ):
1.Membuat makalah untuk saya dan isteri saya dalam waktu 1 malam.
2.Membuat surat-surat pribadi.
3.Membuat blangko surat sakit untuk pasien .
4.Membuat artikel-artikel kesehatan di bulletin Gereja dan buleetin sekolah anak –anak kami, dll ( kiriman artikel ini diberi uang lelah yang lumayan, jadi Komputer saya dapat dipakai untuk mencari uang ).
Dengan pengolah angka ( Lotus ):
1.Membuat hasil rekapitulasi data program kesehatan di 5 Kelurahan di Kecamatan kami.
2.Membuat anggaran pendapatan dan belanja keluarga saya.
3.Membuat grafik dari data yang ada, dll
Dengan program pembuat Grafik ( Harvard Graphic ):
1.Membuat grafik hasil PIN ( Pekan Imunisasi Nasional ).
2.Membuat grafik pencapaian setiap program kesehatan Puskesmas A, dll.
Dengan kemajuan tehnologi di bidang Komputer maka saya meng upgrade Komputer saya setahap demi setahap sehingga saat ini saya memiliki Komputer dengan processor: Pentium 166 Mhz. Dan memory ( RAM ) 64 Mb. Inipun sebenarnya sudah jauh tertinggal karena sampai saat ini sudah beredar di pasaran Processor Pentium III 550 Mz, dsb.
Semula sistim operasi Komputersaya memakai DOS ( Disk Operating System ). Saat ini sistim Komputer saya seperti umumnya Komputer yang orang lain adalah Windows, saya pakai Windows98 dan program aplikasi yang dipakai adalah paket program yang dibuat oleh perusahaan Microsof yaitu MS Office 2000 Premium .
Pada tahun 1987 saya menganjurkan kepada salah satu teman sejawat yang menjabat sebagi Kepala Seksi Pembinaan Kesehatan Masyarakat agar DKK Cirebon ( Dinas Kesehatan Kodya Cirebon ) memiliki 1 atau 2 set Komputer untuk kelancaran tugas rutin sehari-hari. Teman saya menjawab, “Belum perlu”.
Dan bahkan ada teman sejawat saya yang lain berkata dengan nada sinis,”Untuk apa Komputer di Puskesmas?” Saya jawab,”Saat ini mungkin saya akan ditertawakan orang lain, tetapi nanti pada saatnya saya akan tertawa paling akhir.”
Saya menjawab dengan sengit karena saat itu Komputer sudah di pakai di banyak Kantor dan DKK sudah saatnya mempunyai Komputer. Benarlah anggapan saya ini karena 2 tahun kemudian karyawan DKK mengeluh kepada saya karena Kanwil Dep.Kes. Propinsi Jabar mulai saat itu mulai melaksankan laporan program Kesehatan secara computerize, blangko laporan dikirim dari Bandung dalam bentuk disket Komputer dan setelah diisi oleh seluruh DKK se Jabar, disket tadi harus dikirimkan kembali ke Bandung.
Bagaimana membuat laporan dalam disket, bila komputernya saja tidak ada dan petugas yang terlatih pun belum disiapkan. Ketika saya dimintai tanggapan tentang masalah ini, saya tidak menjawab tetapi tertawa terbahak-bahak.
Nah rasain lu, sekarang baru sadar kan, bahwa masalah Komputer ini jangan dianggap sepele. Ya sekarang semuanya harus berlari untuk mengejar ketinggalan. Akhirnya DKK Cirebon mempunyai beberapoa set Komputer dan sejumlah karyawan yang sudah terlatih baik. Bahkan ada yang lebih terampil dari saya sendiri seperti mengetik dengan 10 jari.
Perkembangan tehnologi demikian pesatnya dan komputer sudah tersambung dengan Internet sehingga kita dapat saling mengirim electonic mail ( e-mail ) dari 1 tempat atau 1 negara ke tempat/negara lain dalam waktu singkat dan biaya yang jauh lebih murah dari pada biaya telepon Sambungan Lintas Internasional ( SLI ).
Tahun yang lalu saya pernah membaca di sebuah harian ibukota yang menuliskan pengalaman seorang ibu rumah tangga. Ketika putranya melanjutkan study di USA, demi keperluan komunikasi antara keluarganya dan putranya tadi, putranya mengusulkan agar ibunya belajar Komputer dan agar Komputer tadi dilengkapi dengan alat Modem yang tersambung ke line telepon, sehingga bisa mengakses Internet dan dapat saling mengirim atau menerima e-mail.
Akhirnya dengan ketekunan ibu tadi maka mereka dapat menerima e-mail dengan lancar dan dengan biaya murah. Ini berbau promosi tentang Internet, tetapi saya pikir ini ada benarnya. Lalu saya mulai berpikir, kalau ibu rumah tangga saja bisa “go Internet”, saya pun sebagai bapak tumah tangga mesti bisa juga.
Setelah Komputer saya dilengkapi Modem dan mendaftar menjadi user di salah satu ISP ( Internet Service Provider ) di kota saya, maka saya pun sudah dapat “go Internet”. Banyak manfaat yang dapat diambil dari Internet.
Manfaat yang dapat diambil dari Internet, antara lain:
1.Dapat mengirim/menerima e-amil dari mana saja di dunia ini asal komputer bisa mengakses Internet.
2.Dapat mengambil berita apa saja ( social, politik, bisnis, kesehatan dll ), dari mana saja ( dari komputer pribadi di rumah, dari dalam mobil, dari Warung Internet dll ) dan kapan saja ( pagi, siang, malam, 24 jam full ) mau dilakukan.
3.Dapat memasang iklan di Internet ( jual barang, mencari pekerjaan, menjual jasa pelayanan dsb ) sehingga iklan kita dapat di baca oleh siapa saja yang berminat, dari mana saja dan kapan saja dalam 24 jam penuh.
4.Dapat membeli/memesan barang yang di promosikan ( saya sudah pernah membeli 2 buku melalui Internet di web site Toko Buku Amazon di alamat: http://www.amazon.com, yang dapat dibayar dengan mempergunakan Kartu Kridit Visa, pesanan datang dalam waktu 3 minggu kemudian ).
Semuanya ini dapat kita lakukan dengan hanya duduk dan mengetuk tombol keyboard Komputer kita. Kita dapat melakukannya tanpa susah payah. Kita bisa melakukannya sambil minum kopi.
Yang saya kagumi adalah:
1.Kecepatan dari tehnologi Internet ini. Dalam bilangan detik, maka e-mail yang kita kirimkan sudah keluar dari Komputer kita dan dalam bilangan menit maka e-mail kita sudah sampai di kotak surat ( mail box ) si penerima yang berada di server Komputer ISP mereka entah dimana ia berada.
2.Ketelitian Komputer dan program-program aplikasinya. Bila salah ketik 1 huruf saja, misalnya ketika salah menuliskan User ID atau menuliskan Password ( kata sandi ) bila kita ingin kontak ke ISP saya maka akan error dan selanjutnya program akan berhenti sampai disitu saja atau bila kita salah menuliskan alamat web site tertentu, maka browser kita ( Internet explores atau Netscape ) tidak dapat mencari web site yang kita cari. Jadi kita wajib menuliskan semuanya dengan benar. Sama halnya dengan penggunaan Kartu ATM, yang pada dasarnya sama yaitu memakai program Komputer. Bila kita salah sebanyak 3 kali dalam memasukkan kata sandi ( PIN) kita maka kartu ATM akan ditelan oleh mesin tadi ( untuk mencegah penggunaan kartu ATM oleh orang lain ).
Sampai saat ini saya masih mengharapkan saya dapat mempunyai 1 set Laptop agar saya dapat menuliskan sesuatu ( catatan harian, artikel dll ) dan dapat mengakses Internet sehingga saya dapat menerima atau mengirim e-mail dari mailbox saya dari mana saja, baik di dalam kota atau di luar kota ( Bandung, Jakarta dll ). Dengan demikian saya bisa kerja lebih efektip. Semoga harapan saya ini dapat tercapai pada suatu saat.
Masalah alergi Komputer bisa terjadi pada orang-orang tertentu.
Sudah 3 orang teman saya yang saya anjurkan untuk “go Internet”, tetapi sampai ½ tahun juga masih jalan di tempat, belum sampai ke dunia maya Internet. Alasan mereka dari A sampai Z. Saya masih mencari obatnya. Bila Anda tahu tolong katakan kepada saya .
Saya mempunyai kisah lain tentang alergi Komputer ini.
Ketika saya masih aktip bekerja di salah 1 Puskesmas, saya menganjurkan kepada salah eorang staf saya agar ia membeli 1 set Komputer agar ia dan ke 2 putranya yang duduk di SMU paham tentang komputer.
Ketika ia mempunyai cukup rejeki, ia membeli 1 set Komputer type 486 DX yang saat itu masih cukup memadai untuk program aplikasi yang akan dipakai. Ia merasa tergugah dengan motivasi saya agar segera memiliki Komputer.
Sesudah hal itu terkabul, giliran isterinya ngomel, ”Untuk apa beli komputer dan tidak ada gunanya bagi kami saat ini.” Suaminya menerangkan dengan sabar manfaat Komputer saat ini dan juga demi study putra mereka yang pasti dalam waktu dekat mereka sudah harus bisa menangani komputer karena tugas-tugas di sekolah yang memerlukan Komputer.
Ketika isterinya yang pegawai negeri sipil mendapat tugas menulis laporan, maka suaminya yang membuatnya dalam waktu yang relatip singkat dan tanpa ada goresan “tip ex” ( penghapus tulisan mesin tik ) sehingga laporan itu terlihat rapih.
Barulah isterinya menyadari pentingnya Komputer. Baru tau dia… Suaminya saat ini sedang menyusun skripsi untuk jenjang pendidikan S1 nya yang ia ambil pada kuliah sore hari di salah satu Perguruan Tinggi di kota kami.
Saya anjurkan agar nanti pada waktu mempresentasikan skripsinya, ia memakai program aplikasi untuk presentasi yaitu program “POWER POINT” yang di proyeksikan kelayar dengan alat “In Focus” sehingga memberikan nilai tambah bagi presentasinya. Saya akan mendukungnya presentasi tugas akhirnya ini. Semoga sukses kawan. Semuanya adalah berkat Komputer yang kita pelajari. Jadi janganlah alergi terhadap Komputer.
Berbeda dengan orang lain yang alergi Komputer maka putra saya yang pada tahun 1997 masih duduk di SMU sudah merasakan bahwa ia perlu komputer karena ia sering kali mendapat tugas dari gurunya untuk membuat macam-macam tugas tulis menulis ( daftar piket dll ).
1 tahun kemudian putri kami yang duduk di SMP juga tidak menolak ketika saya memesankan 1 set komputer untunya. Jadi masing-masing kami mempunyai 1 set Komputer agar tidak saling terganggu bila pada saat yang sama memerlukan Komputer. Saat ini kami saling mengirim/menerima e-mail karena mereka melanjutkan study diluar negeri.
Bulan Juli 2000 putra kami mengirimkan alamat personal web site nya di Internet. Ketika saya menerima alamat tsb, saya mempunyai ide bahwa bila putra saya dapat membuat personal web site di Internet, maka saya juga pasti bisa.
Padahal sebelumnya kalau saya pergi ke toko buku yang menyediakan buku-buku tentang program aplikasi pembuatan Web site, saya selalu cepat-cepat berlalu.
Saya alergi terhadap program ini ( alergi juga ni ye..). Saya membayangkan bahwa pembuatan program web site itu sangat rumit, memerlukan bahasa HTML dsb yang tidak saya kuasai. Sekarang apakah saya tetap alergi dengan program ini? Kalau saya alergi, maka sampai kapanpun saya tidak akan dapat membuat personal web site sendiri. Saya harus memesan kepada orang lain untuk membuat personal web site ini dan ini tentu tidak gratis. Yang terakhir ini saya pastikan tidak mau. Jadi saya harus membuatnya sendiri. Terdorong oleh personal web site putra kami, maka saya mencoba membuatnya.
Langkah-langkah yang saya ambil adalah:
1.Mencari buku-buku tentang cara pembuatan Web site.
2.Mencari software dan meng install pembuat web site.
3.Mencari informasi dimana saya dapat meng uploading files personal web site yang akan saya buat.
4.Mencoba membuat personal web site dengan cara autodidak.
Kesalahan demi kesalahan saya lewati. Dalam 2 hari di sela-sela jam praktek dan kesibukan rutin saya sehari-hari, akhirnya saya dapat membuat personal web site dan dapat di akses di Internet.
Kalau saya bisa, maka Anda pun pasti bisa. Syaratnya?: kemauan.
Selamat membuat personal web site di Internet. Bye.
Doa dokter jelek?
Suatu saat saya bertemu dengan seorang teman yang bukan dokter. Lama kami tidak berjumpa sehingga kami membicarakan banyak hal. Dalam obrolan kami teman saya itu berkata, “Ah…doa dokter sih jelek, semoga banyak yang sakit.” Saya terkejut mendengar perkataannya itu.
Saya mendebat teman saya tadi, “Saya tidak pernah berdoa seperti itu. Itu kata anda, bukan kata saya.”
Ia terkejut juga mendengar perkataan saya. “Tapi betul kan, dokter mengharap banyak orang yang sakit?”
“Orang yang sakit bukan karena doa saya atau dokter. Orang yang minta pertolongan dokter tidak semuanya sakit, tetapi karena banyak alasan.
“Apa contohnya, dok?” teman saya bertanya.
Lalu saya menjawab:
Alasan-alasan orang datang kepada dokter antara lain:
1.Anak/orang dewasa yang ingin mendapatkan imunisasi.
2.Anak yang mau disunat atau dikhitan dengan alasan keagamaan atau kesehatan.
3.Ibu calon akseptor KB ( Keluarga Berencana ) yang minta disuntik KB atau dipasang I.U.D. ( Intra Uterine Device ).
4.Orang yang minta Surat Keterangan Sehat untuk keperluan melamar pekerjaan, melanjutkan sekolah atau mengikuti ansuransi.
5.Ibu hamil yang ingin melakukan pemeriksaan ANC ( Ante Natal Care ).
6.Orang yang ingin disuntik Vitamin agar badannya tetap fit.
7.Orang tua yang minta konsultasi agar anaknya terhindar dari Narkoba atau agar prestasi belajar anaknya bagus.
Jadi pekerjaan dokter banyak, selain menangani orang sakit. Dengan perkataan lain tidak perlu dokter berdoa “Semoga banyak yang sakit” agar dapurnya tetap berasap. Dengan reputasi yang baik, tidak perlu seorang dokter khawatir kekurangan rejeki.”
Bahkan dipintu masuk Ruang Periksa saya tempel tulisan “SEMOGA LEKAS SEMBUH.” Belum diperiksa saja sudah didoakan lekas sembuh. Jadi doanya baik.
Setelah mendengar argumentasi saya diatas, teman saya mengerti dan tidak berani mengeluarkan “guyonan” tadi lagi. Dia pikir “Wah repot kalau berdebat dengan dokter.”
Kalau anda setuju dengan argumentasi saya diatas, maka tidak perlu ada debat kusir bukan? He…he…
Jangan meremehkan KTP
9 Sept 2000 jam 09.15 pagi saya mendapat panggilan per telepon dari salah seorang tetangga, Ny. A. yang meminta agar saya datang secara asap (as soon as possible ). Katanya ayahnya yang sudah bertahun-tahun menderita Stroke, baru saja tidak sadar alias meninggal dunia. Ia minta agar saya sebagai dokter dapat memastikannya.
Saya segera mengunjungi rumahnya. Saya diterima oleh salah seorang familinya, Ny. B. Saya memeriksa Tn. M ini yang memang sudah meninggal dunia.
Saya katakan bahwa Tn. M sudah meninggal dan saya akan membuat Surat Keterangan Kematiannya. Untuk itu saya minta melihat KTP almarhum. Ny. B minta agar saya menuliskan namanya tanpa mereka harus mencari-cari KTP almarhum lagi ( apa susahnya mencari KTP di lemari atau laci ).
Anaknya ( Ny. A ) sedang sibuk menelepon para familinya sambil tersedu-sedu. Saya katakan kepada Ny. B bahwa bila salah menulis namanya maka nanti akan mengalami kesulitan. Akhirnya saya menuliskan nama yang disebutkan oleh Ny. B ini diatas Surat Keterangan Kematian almarhum.
Sekitar jam 11.30 siang datanglah seorang bapak N., utusan dari keluarga almarhum. Maksud kedatangannya adalah untuk meminta saya mengganti nama almarhum yang sesuai dengan yang tertera di KTP almarhum.
Dugaan saya benar bahwa akan ada kesulitan. Bapak N. sudah melapor kematian Tn. M kepada pak RT dan Pak RT minta agar nama almarhum diatas Surat Keterangan Kematian dari Dokter disesuaikan dengan yang tertera di KTP nya.
Finally saya menulis lagi Surat Keterangan Kematian dengan nama yang benar yang tertera di KTP almarhum. Saya bekerja 2 kali untuk hal yang sama. Oleh karena itu hati-hati menyebutkan nama kita, harus sama dengan yang tertera diatas Kartu Identitas kita ( KTP, Paspor dsb ).
Surat Keterangan Kematian dari Dokter ini akan dipergunakan untuk proses adminstrasi keperluan: pemakaman, kremasi ( pembakaran jenasah ) dan pengangkutan jenasah ke luar kota. Tanpa Surat Keterangan Kematian ini semuanya tidak akan terlaksana.
Di Indonesia nama itu demikian penting. Tidak seperti yang dikatakan seorang pujangga Inggris, William Shakespeare, “ What is a name ?” ( apalah artinya sebuah nama?) seperti dalam sebuah puisinya.
Simpanlah semua surat yang penting anda ( KTP, Paspor, Akte Nikah, Akte Kelahiran, Surat Waris, Surat Deposito, Buku Tabungan di Bank etc ) di tempat yang aman dan mudah dicari dalam keadaan darurat.
Have a nice day.
Langganan:
Postingan (Atom)