Minggu, Oktober 04, 2015

Hidup makin susah


Kemarin pagi saya hendak berolahraga, bersepeda, sudah berada diluar halaman rumah kami.
Saya melihat ada sebuah becak di seberang jalan. Seorang tukang becak datang menghampiri saya. Saya melihat seorang laki-laki berumur sekitar 50 tahun, berbadan kurus, gigi sudah banyak yang tanggal datang menghampiri saya.

Ia berkata “Pak, saya minta uang untuk makan.”

Saya tertegun mendengar permohonannya itu. Belum pernah seorang penarik becak meminta uang kepada saya untuk makan. Paling tidak penarik becak menawarkan becaknya untuk ditumpangi agar bisa memperoleh uang untuk makan dan lain-lain keperluan.

Saya menjawab “Apakah bapak belum mendapat penumpang ?”
Laki-laki itu terdiam dengan wajah yang lusuh.
Saya merasa kasihan terhadap penarik becak ini. Saya merogoh saku celana saya untuk mengambil dua lembaran uang yang ada dalam saku celana dan memberikannya kepada penarik becak itu.

Sambil menerima uang, ia mengucapkan terima kasih.
Saya tidak sempat bertanya: dimana rumahnya dan berapa anggota keluarganya.

Sambil mengayuh sepeda saya berkata di dalam hati “Sekarang hidup makin susah, sampai-sampai seorang penarik becak tidak punya uang untuk sekedar sarapan pagi.”

Selasa, Juli 07, 2015

Rekreasi ke Cirebon Super Block Mall, Cirebon.




Tanggal 28 Juni 2015 Pengurus Panti Wreda Kasih mengajak para Opa dan Oma yang tinggal di Panti untuk rekreasi. Ada seorang donatur yang mensponsorin acara rekreasi ini. Rencana semula rekreasi akan pergi ke Hotel Grage Sangkan, Sangkan Urip, Kabupaten Kuningan yang berudara sejuk. Rombongan akan makan siang di Restaurant yang ada di Hotel ini. Berhubung dalam bulan puasa tahun ini Restaurant tutup pada siang hari, maka acara rekreasi dipindahkan ke CSB Mall Cirebon dan akan menikmati makan siang di Restaurant D’cost.

Rombongan berkumpul di gedung Panti pukul 11.00. Pukul 11.15 para Opa dan Oma sehabis mengikui Kebaktian ke II, tiba di gedung Panti. Para pengurus Panti juga mulai berdatangan sejak pukul 11.00.

Pukul 11.30 rombongan berangkat ke CSB Mall naik mobil Minibus gereja dan 2 mobil sedan milik pengurus Panti. Dari 12 Opa dan Oma yang tinggal di Panti, hanya 6 Oma dan 3 Opa yang ikut, sisanya tidak dapat ikut sebab kondisi kesehatannya. Selain itu ada 4 orang karyawan Panti, 11 orang Pengurus Panti dan 1 orang Supir mobil gereja.
Pukul 11.45 rombongan tiba di CSB dan langsung menuju tempat parkir mobil dilantai 4A. Rombongan turun dari mobil masing-masing dan langsung menuju Restaurant D’cost yang juga berada di lantai 4A.

Rombongan sebanyak 25 orang ini memasuki ruangan Restaurant yang berudara sejuk dari AC. Ibu Mey Lan sudah booking tempat dan hidangan. Kami duduk di kursi masing-masing menghadapi meja yang ditata memanjang.

Hidangan segera dihidangkan, yang terdiri dari: Nasi putih, Puyonghay, Ikan Gurame Asem Manis, Sapo Tahu, Ayam Goreng Tepung, Taoge Goreng, Acar, Sambel, Air Kelapa Jeruk dan Air Teh Hangat. Setelah berdoa makan, hidangan makan siang ini langsung dinikmati oleh para peserta rombongan. Waktu makan siang tepat waktunya.

Kami para Pengurus Panti merasa senang dapat memberikan pelayanan kepada para Opa dan Oma. Mereka juga merasa senang dalam usia lanjutnya masih dapat menikmati makan bersama dalam suasana yang berbeda dengan suasana di dalam Gedung Panti.

Penulis mengambil beberapa foto dalam acara rekreasi ini. Ada sebuah foto bersama di depan Restaurant D’cost yang penulis cetak dalam ukuran 4R (jumbo postard). Foto bersama ini penulis bagikan kepada semua peserta. Mereka merasa senang menerima foto bersama sebagai kenang-kenangan dalam acara rekreasi bersama ini.

Selesai acara makan siang bersama ini, rombongan berkeliling di lantai 4 CSB. Penulis melihat sudah ada banyak Rumah Makan baru, yang 6 bulan lalu belum ada sekarang bermunculan. Juga stand Anak-anak yang sebelumnya belum ada sekarang sudah dibuka. Disini ada banyak tempat bermain anak-anak. Pada hari Minggu ( libur) ini ada banyak pengunjung di CSB Mall ini. Suasana cukup ramai dan betah berlama-lama disini.

Setelah berkeliling melihat-lihat toko-toko, tempat hiburan termasuk bioskop, perut yang lapar dapat diisi dengan mengunjungi banyak Rumah Makan dengan bermacam menu yang dapat kita pilih.

Setelah dirasa cukup berkeliling Mall, rombongan menuju tempat parkir mobil. Pukul 13.45 rombongan tiba ke Gedung Panti Wreda Kasih, Cirebon, dengan selamat.

Sampai bertemu lagi di acara mendatang.-

Kamis, Juni 04, 2015

Nyeri otot leher



Kemarin sore datang berobat Pak S, usia 50 tahun. Keluhannya sejak 2 hari yang lalu lehernya terasa kaku dan nyeri. Pekerjaannya juru tulis sebuah perusahaan swasta. Bertahun-tahun ia bekerja, baru kali ini ini mengalami rasa nyeri ini. Pak S jarang berolah raga.

Sebagai juru tulis selama jam kerja ia duduk dan melakukan pekerjaan administrasi kantornya. Dalam posisi duduk dan menulis maka leher akan menahan berat kepala pada posisi yang sama berjam-jam. Hal ini akan membuat otot-otot leher Pak S akan mengalami kekakuan (spasme), akibatnya ia merasa nyeri leher. Juga dengan berjalannya waktu, faktor usia akan bertambah.

Pada pemeriksaan: tekanan darah dan lain-lain dalam batas normal.

Sambil menulis resep obat berupa tablet anti spasme otot dan tablet pain killer, saya memberi saran agar dalam jam kantor, setiap jam Pak S harus istirahat (mengambil air minum, pergi ke toliet atau lain-lain pekerjaan dengan meninggalkan kursi tempat duduknya). Dengan demikian otot-otot lehernya kembali relax.

Pak S dapat memaklumi saran saya ini dan ia berterima kasih sudah diberi saran yang baik ini.

Rabu, Juni 03, 2015

Ada Kapas di dalam telinga



Kemarin sore datang berobat Ibu L mengantar pembantu rumah tangganya, Nn. M, 16 tahun. Keluhannya saat M membersihkan telinga kanan dengan cotton bud (lidi plastik berkapas), kapas yang berada diujung lidi tersebut tertinggal didalam telinganya. M berupaya mengeluarkan kapas tersebut, tetapi tidak berhasil.

M lapor kepada Ibu L tentang kejadian ini. Ibu L kaget bagaimana bisa kapasnya tertinggal di dalam telinga kanan M. Ia memeriksa lubang telinga kanan M, tetapi ia tidak melihat ada Kapas di dalam telinga tersebut.

Ibu L menelepon saya ingin minta bantuan mengambil Kapas tersebut. Kemarin hari libur nasional (Hari Waisak), saya tidak buka praktik. Oleh karena Ibu L meminta bantuan, maka saya mempersilahkan mereka datang ke rumah kami yang merangkap sebagai tempat praktik saya.

Pada pemeriksaan pasien M, tampak M sehat-sehat saja, masih bisa tersenyum.

Dalam tanya jawab kata M saat ia membersihkan telinganya dengan cotton bud, ia kaget saat ia menarik lidi tersebut, tidak nampak Kapas yang semula berada diujung lidi tersebut. M panik dan berusaha mengeluarkan Kapas tersebut tetapi tidak berhasil, bahkan Kapas tersebut makin masuk ke dalam tubang telinga kanannya.

Dengan menggunakan head lamp untuk menerangi lubang telinga kanan, saya memeriksa lubang telinga kanan M. Tampak di dalam saluran telingan kanan tersebut, sebuah benda berwarna putih. Rupanya itu adalah Kapas yang tertinggal di dalam telinga M.

Dengan menggunakan alat korek kuping yang terbuat dari plastik, saya berusaha mengeluarkan Kapas tersebut. Berkali-kali saya mencoba mengeluarkannya, tetapi tidak berhasil. Lokasinya terlalu dalam, nyaris di depan selaput suara telinga.

Saya mencoba dengan pinset kecil untuk menjepit Kapas tadi dan berhasil. Kapas itu saya keluarkan, tampak seuntai Kapas bercampur kotoran telingan berwarna coklat. Saya ambil sehelai kertas tisue dan meletakkan Kapas tadi diatasnya.

Saya berkata “Ini Kapasnya, sudah saya keluarkan. Lain kali berhati-hati kalau hendak membersihkan telinga. Kapas pada cooton budnya di tarik-tarik terlebih dahalu. Kalau Kapasnya terlepas, ganti dengan cooton bud kapasnya melekat erat pada ujung lidinya. Jadi tidak mudah terlepas.”

Saya memeriksa telinga kiri M juga dan tidak ada kelainan.

Ibu L mengucapkan terima kasih setelah melihat Kapas tadi sudah berhasil dikeluarkan.


Setelah mereka meninggalkan Ruang periksa, saya bernafas lega. Tugas saya sudah selesai dengan baik. Semoga kejadian itu tidak terulang lagi.

Kamis, Mei 28, 2015

Efek samping obat


2 hari yang lalu datang berobat, Pak ML 50 tahun. Keluhannya kedua tungkai kaki bengkak sejak 1 minggu yang lalu. Penderita sering minum Bir.

Pada pemeriksaan didapatkan tekanan darah 130/80 mmHg (dalam batas normal ), Jantung , Paru-paru, Perut: dalam batas normal. Kedua tungkai kaki tampat edema (bengkak) dan pada penekanan dengan ujung jari tampak cekungan (pitting edema).

Saya berkata “Tekanan darah anda normal.”

Pasien menjawab “Iya, Dok. Sebenarnya saya menderita darah tinggi dan ayah saya juga menderita darah tinggi. Saya minum obat anti darah tinggi sejak 6 bulan yang lalu.”

Saya bertanya “Anda mendapat obat darah tinggi dari siapa?”

Pasien menjawab “Dari seorang teman, yang juga dokter umum.”

Saya bertanya lagi “Apa nama obat anti darah tinggi itu?”

Ia menjawab nama sebuah tablet 5 mg dari sebuah perusahaan obat (namanya tidak saya sebutkan).

Saya berpikir, mungkin pitting edema pasien ini berasal dari efek samping obat anti darah tinggi tersebut. Obat ini sering menimbulkan efek samping bengkak pada kedua kaki pasien yang minum obat ini.

Untuk memastikan adanya kelainan Ginjal (kedua tungkai bengkak) dan fungsi Hati (karena pasien sering minum Bir/alkohol yang dapat mengganggu fungsi Hati), maka saya membuat surat pengantar untuk pemeriksaan Darah dan Urine ke sebuah Laboratorium Klinik. Untuk sementara saya tidak membuat resep onat untuk pasien ini dan akan diberikan setelah hasil Laboratorium ini datang.

Saya berkata kepada pasien bahwa penyebab bengkak tungkainya kemungkinan besar dari efek samping obat darah tinggi yang diminum sejak 6 bulan yang lalu, tetapi untuk memeriksa apakah ada kelainan fiungsi Ginjal dan fungsi Hati sebaiknya diperiksa Darah dan Urine terlebih dahulu. Setelah ada hasil pemeriksaan Lab, saya akan memberikan obat darah tinggi dari jenis yang lain.

Pasien menyetujui rencana saya ini dan ia meninggalkan ruang periksa.

Keesokan harinya pasien belum datang. Di tunggu sampai pukul 19.00 malam juga masih belum datang. Akhirnya saya menelepon Lab. Klinik tersebut. Setelah memperkenalkan diri saya, saya bertanya “Kemarin saya merujuk pasien nama Tn ML, 50 tahun untuk pemeriksaan Darah dan Urine. Apakah pasien saya sudah diperiksa? Kok sampai saat ini ia belum datang kembali.

Sang petugas Lab. Memeriksa di komputernya dan berkata “Dok, pasien nama ML, 50 tahun tadi pagi telah datang, tetapi tidak menunjukkan surat pengantar Lab dari dokter. Ia datang dengan status atas permintaan sendiri (APS). Ia menyebutkan hasil pemeriksaan Lab, tetapi hasil pemeriksaan fungsi hati tidak ada (tidak diperiksa).

Saya mengucapkan terima kasih atas informasinya. Saya heran akan sikap pasien saya yang satu ini, karena:
1. Diberi surat pengantar ke Lab, tetapi ia tidak menunjukkannya kepada petugas Lab. Ia memeriksakan diri dengan memakai status APS (Atas Permintaan Sendiri).
2. Pemeriksaan darah untuk pemeriksaan fungsi hati, tidak diperiksakan. Apakah ia khawatir kalau hasilnya akan buruk mengingat ia biasa minum Bir sejak lama.
3. Pasien tidak datang kembali untuk berkonsultasi tentang hasil pemeriksaan Laboratorium yang telah ia lakukan.

Saya berpikir apakah ia akan berkonsultasi kepada temannya yang juga seorang dokter umum? Saya tidak tahu. Pasien aneh.

Sabtu, Mei 23, 2015

Insect bite


Insect bite atau gigitan serangga sering terjadi saat kita berada di dalam rumah atau di kebun. Gigitan serangga ini dapat menyebabkan reaksi hebat dari penderitanya.
Saya peribadi juga beberapa kali mengalami gigitan semut merah saat bekerja di kebun di halaman rumah kami. Gigitan semut merah ini mengakibatkan, rasa nyeri yang hebat dan kulit terasa sedikit panas. Gigitan semut ini biasanya akan reda dengan segera mengoleskan krim kulit yang mengandung anti peradangan dan antibiotika. Dalam waktu 2 hari sembuhlah dari rasa nyeri ini.

----

Kemarin sore datang berobat Ibu ML, 30 tahun, mengantar putranya S, 9 bulan.
Ibu ML mengatakan tangan kanan putranya sejak 2 hari yang lalu tampak agak bengkak, kulitnya agak kemerahan, putranya sering menggerak-gerakkan tangan kanannya (mungkin karena merasa sakit pada tangan kanannya).

Pada pemeriksaan tangan kanan pasien saya melihat: punggung tangannya tampak hiperemi (kemerahan), sedikit edema ( bengkak) dan ada satu bekas lubang gigitan serangga. Adanya gigitan serangga ini menyebabkan penderita memberikan reaksi peradangan (bengkak, kemerahan, rasa sakit).

Saya mendiagnosa sebagai Insect bite (gigitan serangga) yang disebabkan oleh gigitan nyamuk atau gigitan serangga lainnya.

Segera saya membuat resep: puyer racikan anti nyeri dan anti peradangan dan sirup antibiotika sebagai pencegah infeksi pada kulitnya.

Saya berharap pasien ini segera membaik. Amin.-

Senin, Mei 18, 2015

Berobat di hari libur


Kemarin pagi 17 Mei, hari Minggu / libur. Sekitar pukul 10.15 datang sepasang suami isteri mengendari sebuah mobil.

Sang suami mengetuk-ngetuk pagar halaman rumah kami. Saya yang kebetulan ada di halaman rumah bertanya “Ada apa Pak?”

Ia menjawab “Mau berobat, Dok.”

Saya berkata lagi “Pak, ini kan hari libur, kami tidak buka praktik.”

Sang suami, Pak Z berkata “Iya saya tahu, tolonglah Dok.”

Sang membukakan pintu halaman rumah dan membuka ruang periksa.

Setelah mereka masuk sang isteri berkata “Saya mau berobat kepada ibu dokter ( isteri saya)”.

“O.. isteri saya sedang pergi ke Jakarta. Lusa baru datang dan praktik kembali.”

Ibu ini berkata “Iya kalau begitu lusa saja saya datang lagi ya Dok.”

Saya menjawab “Kalau diperiksa oleh saya mau tidak.”

Ia menggelengkan kepalanya.

“Iya sudah kalau begitu datanglah lusa”, saya berkata lagi.

Setelah mereka meninggalkan rumah kami, saya membatin “ Mereka sudah tahu kalau hari itu adalah hari libur ( Minggu). Setiap dokter praktik tentu tutup, kecuali dokter jaga kota dan dokter yang bertugas di Unit Gawat Darurat di tiap Rumah Sakit. Itupun tugas bergiliran tiap 8-12 jam. Tidak mudah mencari dokter praktik di hari libur. Saya yang berusaha membantu pasien, tetapi sang pasien menolak diperiksa oleh dokter yang akan menolongnya. Mungkin karena: sakitnya tidak parah, sehingga bisa diperiksa lain hari atau pasien sudah biasa diperiksa oleh dokter tertentu ( isteri saya ) dan tidak mau diperiksa oleh dokter lain. Kalau dokternya berhalangan, bagaimana?”

Sambil menutup pintu halaman rumah kami, saya menyatakan seperti yang sudah berulang kali terjadi bahwa: “Untuk berbuat baikpun, ternyata tidaklah mudah.”

Saya ingin menolong orang lain, tetapi yang bersangkutan tidak mau ditolong. Saya mengelus dada.

Minggu, Mei 17, 2015

Febris convulsi


Suatu sore seminggu yang lalu ada Ibu K, 35 tahun yang datang berobat mengantar putrinya L, 8 bulan. Ibu K langganan isteri saya yang juga dokter umum.

Sejak 2 hari yang lalu L sedikit demam, batuk dan pilek.
Setelah diperiksa oleh isteri saya dan menerima resep obat Ibu K meninggalkan ruang periksa. Kemudian terdengar kegaduhan di halaman depan rumah kami.

“Dokter, dokter, tolong, anak saya kejang” terdengar suara Ibu K.

Segera pasien L dibawa masuk kembali ke ruang periksa. Tampak kedua mata L melotot ke atas, kedua tangannya mengepal dan kedua kaki tampak kaku.

Segera saya bantu menyiapkan obat anti kejang untuk dimasukkan ke dalam lubang anus L. Setelah beberapa menit kemudian tampak pasien L kembali normal. Kedua matanya menutup, mungkin ngantuk. L tidak kejang lagi.

Kami semua merasa lega. Sebelum diperiksa pasien tidak ada kejang, saat hendak pulang mengalami kejang karena ada demam ( febris convulsi ).

Isteri saya berkata “Ibu, segera belikan obatnya untuk diminum oleh L. Lain kali kalau L tampak mengalami sedikit demam, segera berikan sirup penurun demam, misalnya Parasetamol sirop, 3 kali setengah sendok takar. Ibu mesti menyediakan 1 botol sirup penurun demam ini yang mudah dijangkau, misalnya di taruh di atas Kulkas. Kalau tampak ada kejang, segera masukkan cairan obat anti kejang dalam bentuk supositoria yang nanti Ibu beli di apotik sebagai persiapan mengatasi kejang putri Ibu.”

Ibu K berkata “Terima kasih Ibu Dokter yang sudah menolong putri saya.”

“Iya Bu, hati-hati di jalan ya.”

Segera Ibu K dan suaminya memasuki mobilnya.

--------

Kejadian Febris colvulsi ini sering dihadapi oleh kami, baik di tempat praktik atau ada panggilan ke rumah pasien.

Kejang pada saat pasien demam sering dialami oleh pasien berumur 2 tahun kebawah. Dokter praktik harus mempunyai obat anti kejang yang dapat dimasukkan ke lubang anus pasien (supositoria). Onset of action cairan obat supositoria ini cukup cepat, seperti cairan obat yang disuntikan melalui pembuluh darah pembalik ( intra vena ). Biasanya pasien akan tertidur (efek samping obat anti kejang) setelah cairan supositoria ini masuk ke dalam tubuh melalui lubang anusnya.

Jumat, Mei 15, 2015

Tonsilitis


Tadi pagi datang Pak Z mengantar putranya B, 4 tahun untuk berobat.
Keluhannya: sudah 2 hari B sedikit demam dan sakit kalau menelan. Tidak ada batuk. Keluhan sakit menelan baru kali ini terjadi.

Pada pemeriksaan rongga mulut B, tampak kedua Amandel (Tonsila pallatina) membengkak, seukuran T2/T2, tampak kemerahan. Pada perabaan wajah B terasa panas (ada demam).
Jantung, Paru-paru: tidak tampak ada kelainan.
Diagnosa yang saya buat adalah Tonsilitis akuta (radang amandel yang mendadak).

(gambar ilustrasi)

Saya segera membuat resep berupa sirup antibiotika turunan Penisilin dan penurun demam, dengan advis makanan yang cair seperti bubur, banyak minum dan istirahat dahulu.

Pak Z bertanya”Dok, apakah radang amandel ini bisa berulang-ulang?”

Saya menjawab “Bisa, Pak. Kalau daya tahan putra Bapak menurun misalnya karena terlalu lelah, kurang makanan bergizi maka radang amandel ini bisa terjadi lagi.”

Pak Z bertanya lagi “Bagaimana kalau penyakitnya kambuh kembali, Dok.”

“Ya berobat lagi, Pak. Kalau setahun terjadi radang amandel ini 3 kali atau lebih, maka pengobatannya bisa amandelnya dibuang/dioperasi oleh Dokter Ahli THT,” saya menjawabnya.

“Wah pasti biayanya mahal ya Dok.”

“Kalau Bapak ikut asuransi kesehatan atau memakai fasilitas BPJS, biayanya bisa ditanggung oleh mereka,” saya menerangkan.

Kamis, Mei 14, 2015

Retentio urinae


Sore hari sekitar satu bulan yang lalu pukul 17.00 datang berobat Pak E, 66 tahun. Dia diantar oleh putranya Pak L, 30 tahun.

Keluhan Pak E sejak pukul 13.00 tidak dapat buang air kecil.

Pada pemeriksaan didapatkan: pasien kesakitan pada daerah perut.
Tekanan darah: 130/80 mmHg, Jantung-Paru-paru : dalam batas normal, tidak ada riwayat Kencing Manis. Kandung kencing teraba penuh, setinggi 3 jari di bawah pusar.

Saya berkata kepada sang pasien “Pak, kandung kencingnya penuh. Bapak mesti dipasang slang melalui saluran kencingnya agar air kencing dapat keluar. Bapak mesti datang ke Rumah Sakit terdekat.”

Putra pasien, Pak L “Kenapa Dok, ayah saya ini?”

Saya menjawab “Air kencingnya tidak bisa keluar sehingga kandung kencingnya penuh. Kemungkinan besar disebabkan oleh pembesaran kelenjar Prostat yang sering terjadi pada pria usia diatas 60 tahun. Saya akan buatkan surat rujukan ke Rumah Sakit terdekat untuk sementara dipasang slang dahulu untuk keluarkan air kencingnya, ya.”

Setelah menerima surat rujukan Pak E dan putranya meninggalkan ruang periksa.

2 minggu yang lalu saat Pak L datang berobat mengantar putrinya yang sakit, melapor kepada saya bahwa ayahnya Pak E sudah dioperasi kelenjar Prostatnya di Rumah Sakit dimana saya merujuknya dan sekarang buang air kecilnya sudah lancar kembali.

Saya bersyukur Pak E sudah sehat kembali.