Rabu, Agustus 24, 2011

Mau berobat juga


Dua hari yang lalu, saat saya praktik sore, datang berobat Ibu S,  50 th.
Pasien  ini diantar oleh suaminya Pak A, 60 th. Ibu S mengunjungi tempat praktik saya karena diberitahu oleh tetangganya yang pernah berobat dan sembuh.

Keluhan Ibu S ini adalah Batuk pilek dan perut sering terasa tidak nyaman ( nonjok ). Ia gemar makan sambel. Tidak sedap kalau tidak makan dengan sambel, katanya.

Setelah mendapatkan pemeriksaan, resep untuk membeli obat dan membayar biaya pemeriksaan Ibu S pamit dan keluar dari ruang periksa. Sang suami juga  meninggalkan ruang periksa setelah menyalami saya.

Sejenak terdengar suara percakapan di ruang tunggu pasien. Saya mengira itu adalah suara percakapan antara keluarga Ibu S dengan pasien lain yang hendak berobat. Mungkin mereka saling mengenal.

Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu ruang periksa.
Saya pikir ini adalah pasien lain yang hendak berobat.

Setelah pintu saya buka ternyata yang mengetuk pintu adalah Pak A, suami Ibu S tadi.

Saya bertanya “Ada apa Pak? Adakah barang Bapak yang tertinggal dalam ruangan ini?”

Pak A menjawab dengan wajah serius “Bukan, Dok. Saya ingin berobat juga.”

Kalau hendak berobat juga, mengapa Pak A ini tidak menyampaikan maksudnya tadi sebelum mereka meninggalkan ruang periksa? Atau apakah Pak A tidak membawa uang untuk biaya pemeriksaan dua orang?

Setelah saya tanya apa keluhan Pak A, ia menjawab sering batuk dan kadang-kadang terasa sesak nafas. Saran untuk dibuat Foto Paru dan Jantung ( Foto Toraks ), Pak A menolak dan meminta diberi resep obat saja. Pemeriksaan Aukultasi ( periksa dengar ) pada Paru-parunya menunjukkan adanya gangguan dan kemungkinan penyakitnya sudah lama diderita.

Saya memberikan resep obat untuk Pak A. Sebelum meninggalkan ruang periksa Pak A menyalami saya lagi untuk yang kedua kalinya.

Setelah pasien saya ini  meninggalkan tempat praktik saya, saya membatin lucu juga ya pasien ini. Mau berobat, tetapi rupanya agak ragu-ragu dan setelah  keluar ruang periksa  ia masuk lagi.

Kejadian ini  saya alami beberapa kali dengan pasien yang lain. Semula  anaknya yang berobat, kemudian ayahnya minta berobat juga.

Kamis, Agustus 18, 2011

Miracle of Endorphine



Betapa beruntungnya manusia, karena dianugerahi perasaan bahagia (Dr. Shigeo Haruyama)

Buku kesehatan BEST SELLER di JEPANG: MIRACLE OF ENDORPHINE, edisi Bahasa Indonesia sudah beredar di toko buku, Penerbit Mizan, Jakarta.

Minggu yang lalu saya mendapat forward email dari seorang sahabat tentang Miracle of Endorphine. Ternyata itu merupakan isi dari sebuah buku yang menjadi best seller di Jepang.

---

The Miracle of Endorphin

Dalam kehidupan Anda, Anda akan terluka oleh orang lain, kadang-kadang sengaja, kadang-kadang tidak sengaja.

Bagaimana Anda menangani sakit hati Anda akan menentukan kebahagiaan Anda.


Bila Anda memendam sakit hati dalam hidup Anda dan terus menyimpannya, ini disebut kebencian.


Jika seseorang menyakiti Anda tahun yang lalu dan Anda masih menyimpannya, itu akan meracuni hidup Anda.


Untuk kesehatan dan kebahagiaan Anda sendiri, Anda harus belajar untuk mengampuni.


Jika seseorang marah, cemas, takut, merasa tertekan, otaknya mengeluarkan NOR-adrenalin, hormon yg sangat beracun.


Di antara racun alami, hormon ini menempati urutan kedua setelah bisa ular.

Racun ini membuat sakit, cepat tua & cepat meninggal.
Jika seseorang menghadapi segala sesuatu secara positif & afirmatif, otak akan mengeluarkan hormon BETA-endorfin.


Hormon kebahagiaan ini berkhasiat memperkuat daya tahan tubuh, menjaga sel otak tetap muda, melawan penuaan, menurunkan agresivitas dalam relasi antar manusia, meningkatkan semangat, daya tahan & kreativitas.


Karena itu tersenyumlah & bersikaplah positif jika ingin hidup bahagia, sehat & berumur panjang.


Dikutip dari :

The miracle of Endorphin
Dr Shigeo Haruyama

---

Semoga dapat bermanfaat.-


Selasa, Agustus 16, 2011

Masih adakah kejujuran


( foto ilustrasi )

Kemarin sore sekitar pukul 17.00 datang berobat Pak EK, 51 th. Ia diantar seorang putrinya, 20 th.

Penampilan pasien ini sesuai dari golongan ekonomi lemah.
Keluhan pasien saya ini  sakit pinggang sejak tadi siang. Rasa sakit ini tidak tertahankan sampai Kaos oblong kumal yang ia pakai basah dengan keringat.

Setelah dilakukan wawancara ( anamnesa ) keluhan yang dideritanya dan melakukan pemeriksaan fisik, saya membuat Diagnosa sementara Renal kolik ( kolik ginjal ), rasa nyeri yang diakibatkan oleh gangguan pada Ginjal, kemungkinan Batu Ginjal dan atau Batu saluran kencing.

Untuk melakukan pemeriksaan penunjangpun tidak tersedia dana.  Keadaan ini membuat sulitnya menegakkan Diagnosa penyakit Pak EK. Ia sudah berusaha membeli kapsul untuk mengurangi rasa sakitnya di sebuah toko obat terdekat. Pasien ini sudah meminum 2 kapsul obat  herbal yang konon untuk menghancurkan Batu saluran kencing. Rasa sakit masih ada setelah 2 jam ia minum obat ini.

Saya buatkan sebuah resep obat yang terdiri dari 3 macam obat untuk selama 3 hari. Bila masih belum sembuh harus membuat Foto Rontgen perut ( BNO ) atau pemeriksaan USG ( Ultra Sonografi ) Ginjal dan Saluran kencing.

Saya memberikan resep obat ini yang diterima oleh Pak EK sambil berkata “Dok, kami akan pulang dulu untuk ambil uang. Berapa biaya pemeriksaan nya? Setelah pulang sebentar putri saya ini ( sambil menunjuk kepada putrinya yang duduk disebelah Pak EK ) akan datang mengantarkan uangnya.”

Saya menganggukkan kepala tanda setuju.
Saya memeriksa 2 pasien lain. 1 jam kemudian, 2 jam kemudian dan sampai keesokan harinya  tidak ada orang suruhan Pak EK yang mengantarkan biaya pemeriksa bagi kesehatannya. Ia telah menipu dokter yang telah menolongnya.

Perbuatan pasien ini saya ihklaskan saja. Mau bagaimana lagi, kalau memang tidak punya uang untuk berobat?

Sebelum menutup pintu Ruang Tunggu malam itu, saya membatin sambil geleng-geleng kepala: “Pasien ini sudah membuat kebohongan sebanyak 4 kali:1. kepada diri sendiri, 2. kepada putrinya ( yang diajak bekerja sama untuk berbohong ), 3. kepada dokternya, 4. kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui. Dalam bulan Puasa yang suci ini seharusnya berbuat suatu kebaikan, bukan menipu orang lain. Bagaimana mau mendapat Pahala? Semoga keluhannya membaik.”

Masih adakah kejujuran saat ini?
Kejadian ini sering saya alami, baik oleh gender Pria maupun gender Wanita dari usia Dewasa.

Kalau seandainya pasien itu berkata sejak awal “Dok, saya tidak punya uang, tetapi saya ingin berobat kepada dokter.”

Bagi saya tidak masalah. Untuk berbuat baik, apa salahnya? Tetapi kalau berbohong seperti itu bagi sayapun tidak masalah, tetapi bagi kehidupan rohani pasien itu sangat disayangkan. Mengapa masih gemar berbuat bohong kepada orang lain yang justru telah menolongnya, yang dilakukan pada bulan Puasa lagi.

Kebohongan yang satu ini akan dilanjutkan dengan kebohongan yang lain. Mengapa sejak awal ia tidak mau berkata jujur bahwa ia tidak punya uang? Saya tidak bisa menebak apa jawabnnya.  Saya tidak dapat menemukan jawaban yang pas.

Selamat pagi.-

Senin, Agustus 15, 2011

Bayar Kontan atau Kredit



3 hari yang lalu saya membutuhkan Buku MIMS edisi terbaru untuk mengetahui obat-obat produksi terbaru.

Saya segera meluncur ke Toko Buku Gramedia, suatu TB yang lengkap dengan bermacam-macam buku yang terletak di Grage Mall, suatu Mall terbesar di kota Cirebon. Disini terdapat Mall, Hotel Grage, Public swimming pool, dll.

Di Toko Buku ini saya  segera menjumpai Buku yang saya cari, suatu Index of Medical Specialities, edisi bahasa Indonesia, www.mims.com . Buku ini merupakan edisi terakhir yaitu Volume 12, 2011.

Harga buku ini di label harga terlihat Rp. 130.000,- Harga buku saat ini makin mahal. Buku ini saya butuhkan, maka mau tidak mau buku ini harus saya beli juga.

Saat saya akan membayar harga buku ini di Kasir, saya bertanya ( sudah tau kok nanya lagi, dapat bayar dengan KK, belanja  minimal Rp. 50.000,- ) “Mbak, apakah saya bisa bayar dengan Kartu Kredit?” sambil menyodorkan BCA card saya.

“Oh..bisa Pak. Kalau pakai Kartu Kredit BCA dapat diskon 10 %” ia menjawab.

“Ini kartu saya, mbak.”

Saya membatin: kalau bayar kontan mestinya lebih murah atau kalau bayar kredit bayar bulan depan mestinya harga lebih mahal.

Ini kok terbalik ya, bayar kredit bahkan diberi diskon 10 %. Jadi lebih murah. Makin banyak beli buku dan bayar pakai kartu Kredit ini akan lebih banyak diskonnya.

Saya kurang paham,  bagaimana mendapat keuntungnnya dengan sistim pembayara yang demikian ini?

2 tahun yang lalu saya membeli beberapa buku seharga sekitar Rp. 200.000,- an tepat hari ulang tahun saya. Saya mendapat diskon 10 % juga dari Toko ini. Saya juga tidak mengetahui dari mana mereka mempunyai tanggal hari ulang tahun saya.

Semuanya itu merupakan promosi yang positip agar masyarakat berbondong-bondong belanja buku di Toko ini. Semoga Toko ini makin laris. Amin.-

Minggu, Agustus 14, 2011

Tidak ada aliran air ledeng


( berita Koran "Radar" 14-08-2011 )



Pulang dari jalan Santai 13-08-2011, saya mandi. Setelah  bersabun, mau siram air, kok air tidak mengalir dari Kran? Air di ember juga tinggal sedikit. Saya menuju ke kamar mandi pembantu ( yang sedang pulang mudik ) yang masih  berisi air ledeng.

Saya bilang kepada isteri saya,” Kok air tidak mengalir. Jangan2 air di kontainer penampungan air  1.000 liter kita  tidak berisi air.”

Kami menampung air ledeng dalam kontainer logam stainlesssteel kapasitas 1.000 liter. Air ini disedot pakai mesin pompa untuk keperluan di dalam rumah.

Isteri saya menjawab “ Iya benar, kemarin ada seorang detailer farmasi bilang kota Cirebon akan tidak ada air ledeng selama  5 harian, karena ada pipa ledeng PDAM yang pecah. Hal ini membuat tidak ada jatah air ledeng untuk warga kota Cirebon”

Warga kota yang berjumlah sekitar 250.000 orang yang sudah terbiasa memakai air ledeng dan suatu saat tidak mendapat aliran air ledeng, maka akan membuat hidup menjadi susah. Tidak semua rumah tangga mempunyai sumur atau sumur bor. Demikian juga Hotel, Rumah Makan, Kantor juga tidak mempunyai aliran air ledeng selama pipa PDAM belum diperbaiki.

Kalau kita menyantap hidangan untuk buka puasa, saur dll, pasti ini disiapkan dengan air yang bukan air ledeng atau air bersih. Bisa jadi dipakai air sumur dari sumur bor atau air yang tidak terjamin kebersihannya. Repot juga nih.

Selesai mandi, saya periksa  air di bak penampungan air. Ternyata airnya kosong hanya sekitar 3 Cm dari dasar. Koran pagi ini belum saya baca sehingga tidak tahu ada berita apa tentang air Ledeng PDAM.

Setelah saya tiba di tempat praktik kedua atau  di tempat praktik sore isteri saya  dan membaca Koran “Pikiran Rakyat” edisi Jawa Barat, wah… ada artikel tentang pipa besar PDAM ( Perusahaan Daerah Air Minum ) di daerah Plangon, Kabupaten Cirebon yang pecah. Perlu  beberapa hari utk penggantiannya, minimal 5 harian untuk perbaiknnya.

Pulang dari praktik pagi, saya mengatur slang karet dari Sumur Bor / sumur pompa air tanah untuk mengisi kontainer air yang 1.000 liter, agar semua kran ledeng dapat mengeluarkan air juga  utk kamar mandi di lantai 2. Perlu waktu sekitar 70 menit untuk mengisi penuh kontainer itu.

Saya menutup Kran ledeng yg menuju ke kontainer air 1.000 liter ini dan akan dibuka kembali setelah air PDAM keluar normal lagi. Semoga tidak terlalu lama perbaikan pipa ledeng PDAM kota Cirebon ini.

Kalau air keperluan untuk minum dan memasak sudah habis, kami akan membeli air mineral Aqua dalam botol  plastik a 20 liter di sebuah Mini market terdekat.

Bagi PDAM pecahnya pipa besar ini akan merugikan, sebab banyak air yang terbuang percuma dan meteran pelangganan air ledeng  akan berhenti menambah jumlah pemakaian air yang berarti juga pendapatan PDAM Cirebon akan jauh berkurang.

Hidup tanpa air akan membuat susah. Tubuh manusia  80 % terdiri dari air. Kalau air bersih tidak cukup setiap harinya maka hidup dapat tidak menjadi sehat. Warga kota akan membeli air sumur yang jumlahnya juga terbatas dengan harga yang makin mahal sebab sangat dicari-ari.

Kami berharap dan berdoa agar pipa ledeng yang pecah itu dapat segera diperbaiki oleh PDAM Kota Cirebon agar aliran air ledeng bagi penduduk kota Cirebon  normal kembali. Amin.-

Jalan Santai HUT RI 2011













Cirebon, 13 Agustus 2011.


Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indoesia 17-08-2011, Gereja kami  mengadakan acara Jalan Santai pada tgl 13 Agutus 2011.

Peserta yg mendaftar  ada 170 orang dan tiap peserta mendapat jatah: 1 T Shirt putih dg Logo Lemkra, sponsor perusahaan Lemkra ( bahan bangunan semen pengeras beton dll ) , Breakfast 1 bungkus Nasi Langgi ( nasi putih, irisan telur ayam, sambel, abon sapi, kerupuk, daun kemangi ) dan undian door price (  pigura, handuk, dll hadiah hiburan ).

Oleh Panitia Acara ini, saya diminta untuk dapat menjadi Seksi P3K, barangkali ada peserta yang sakit selama acara ini. Puji Tuhan semua peserta sehat dan dapat mencapai Finish dengan selamat. Start dan Finish di Gedung Yakin ( Yayasan Kristen Indonesia ) Jl.Pulasaren, Cirebon, 100 meter dari rumah kami.

Acara dimulai pada pk. 06.00. Setelah peserta kumpul dan memakai jatah T Shirt masing-masing, kami memulai acara pemanasan ( warming up ) dengan  mengikuti Senam Pagi yang dipimpin oleh Ibu T. Saya dan isteri juga ikut acara ini, hitung2 ikut olah raga pagi bersama-sama.

Pukul 06.20 rombongan mulai meninggalkan Gedung yakin. Saya  naik mobil Gereja untuk memantau  semua peserta dari belakang barisan sampai peserta paling depan. Dari pada bengong dalam mobil, saya beberapa kali turun dari mobil untuk mengambil foto-foto mereka. Sekali-kali supir Pak P, diminta bantuannya untuk mengambil foto saya.

Selama acara jalan santai ini ada  bantuan tenaga 2 orang Polisi lalu lintas yang membantu mengamankan jalan saat kami jalan santai ini. Peserta ada yang berjalan cepat dan ada yang lambat sehingga sering rombongan terbagi 2-3 rombongan kecil. Oleh Pemimpin  rombongan yang didepan diminta  agar jalan lebih santai ( buka jalan cepat ).

Ada 3 peserta  ( usia lanjut ) yg akhirnya minta ikut naik mobil. 
He..he..bukan jalan santai, tapi  naik mobil santai nih…Minta minum air mineral ( gelas plastik ).  Ada juga peserta yg ikut jalan minta minum terutama yang anak2. Yah acara gembira, santai, banyak ngobrol antar sesama peserta. Ada yg muda, anak2, ada juga yang lansia ( lanjut usia seperti kami ).

Kami bersyukur dalam usia lanjut ini kami masih dapat ikut jalan santai dan tiba dengan selamat sampai Finish.

Dalam mobil juga  saya membawa obat2an sederhana untuk persediaan bila ada peserta yang sakit ringan. Obat2an ini saya kembalikan lagi kepada Seksi Acara karena  tidak terpakai.

Seperti tahun-tahun yang lalu, rombongan mulai dari Gedung Yakin yaitu Jl. Pulasaren ke arah Timur Jl. Ariodinoto, belok kiri masuk ke Jl. Yos Sudarso ( melewati Bank Niaga, Bank BCA, Bank Panin, Bank Indonesia ), belok kiri masuk Jl. Pasuketan, Jl. Pekiringan, belok kiri masuk Jl. Pekalipan, tiba disini saya menemani isteri saya  turut berjalan menuju finish, masuk ke Jl. Pulasaren lagi dan finish di Gedung Yakin sekitar  pukul 07.15 pagi. Kami telah berjalan pagi sekitar 3-4 Km.

Ah…cape juga. Masuk Gedung Yakin sudah disambut pembagian nasi Langi yg dibungkus daun Pisang dan Air mineral. Setelah dianggap semua peserta masuk Finish kami berdoa dan doa makan pagi bersama. Lumayan dapat breakfast gratisan pagi ini.

Saat para peserta menikmati breakfast, Panitia dari Seksi Acara membuka Undian Door price dg hadiah Hiburan sebagai penggembira para peserta. Tidak disangka nama saya dipanggil juga yang berarti dapat hadiah.

Wah..kotak bungkusannya besar juga, tapi kok enteng ya.
Ternyata sampai di rumah isteri saya membukanya, itu adalah sebuah tempat untuk simpan Roti tawar ( sandwich box ). Ya lumayan lah.

Kata Ibu H. ( salah satu anggota Panitia Jalan santai tahun 2010 ) konon nama saya  dan isteri dipanggil karena dapat undian door price, tetapi saat itu kami sudah pulang sebab hari sudah agak siang, khawatir di rumah sudah ada pasien yg ingin berobat. Jadi belum beruntung dapat doorprice, tetapi badan dapat sehat sudah ikut jalan santai bersama.

Selamat pagi.


Rabu, Agustus 10, 2011

Perbaikan jalan








Bagian jalan di tengah dihotmix, tetapi kiri kanan tepi jalan dibiarkan bertahun-tahun begitu.



Musim kemarau membuat debu dari pinggir jalan di depan rumah kami berterbangan dan membuat lantai teras rumah kami penuh dengan debu. Kami rarus rajin membersihkan debu itu. Daun-daun kering dari tiga pohon Buah Kersen yang tumbuh di halaman kosong di sebelah rumah membuat lantai bertambah kotor. Sehari 4-5 kali kami harus menyapu lantai itu, suatu pekerjaan tambahan yang tidak nyaman.

Penyebab debu banyak berterbangan karena jalan aspal di depan rumah kami sudah banyak yang berlubang ( rusak ). Lubang-lubang itu oleh penduduk sekitar ditimbuni dengan brankal ( pecahan batu bata dan tanah ), dengan demikian jalan menjadi rata.

Saat siang hari teriknya matahari membuat tanah mengering dan debu berterbangan akibat  banyak kendaraan Angkutan kota yang melintas jalan. Keadaan  membuat jalan menjadi rata ( tidak berlubang-lubang ) tetapi banyak debu  menghinggapi rumah di tepi jalan itu. Susana tetap tidak nyaman.

Akhirnya Dewa Penolong datang juga.
3 hari yang lalu Petugas PU sibuk membersihkan timbunan tanah brankal itu dengan menimbunnya dengan batu split ( batu kecil-becil ), dikucuri aspal cair dan ditimbun dengan pasir. Setelah itu dilindas dengan alat penggilas jalan ( stomwal ). Jalan aspal di sepanjang jalan tempat tinggal kami sudah rata, tetapi mengapa tidak diberi Hotmix ( pasir bercampur aspal yang dilindas alat penggilas jalan ) seperti yang kami lihat di beberapa jalan yang juga sedang diperbaiki. Sepertinya perbaikan ini tanggung. Keadaan ini lebih baik dari pada lubang-lubang di jalan hanya ditimbun dengan tanah brankal yang menyebabkan debu berterbangan.

Pagi ini saya melihat ada 2 kendaraan penggilas jalan dan sebuah dumptruk ( truk pengangkut tanah / aspal hotmix ) yang diparkir di depan rumah kami.

Wah..mungkin jalan aspal di depan rumah kami akan di hotmix juga. Baguslah kalau akan di hotmix.

Para petugas PU sibuk melakukan  tugas masing-masing. Seperti tahun-tahun yang lalu, kalau jalan di depan rumah kami diperbaiki dengan menimbun  Hotmix, biasanya hanya bagian jalan yang di tengah saja. Bagian pinggir kalan ( kiri dan kanan selebar 60 Cm ) tidak disentuh apapun alias tidak sekalian dihotmix. Dibiarkan begitu saja. Jadi debu akan berterbangan juga tertiup  hembusan angin Angkot yang lewat.

Penasaran juga saya dan menghampiri Petugas.
Saya  bertanya  kepada salah seorang Petugas yang sedang ngobrol dengan supir Truk. “Pak, apakah pinggir jalan ini akan dihotmix juga? Bertahun-tahun pelebaran jalan sudah dilakukan tetapi tepi jalan itu  kok tidak dipelihara dengan memberi aspal atau di hotmix?”

Petugas itu menjawab “Kami hanya akan memberi hotmix pada tengah jalan saja berdasar tugas yang kami terima.”

Saya melanjutkan “Pak, kalau jalan dibagian tengah ini milik Negara, tentu tepi jalan ini juga milik Negara, tetapi kenapa tidak dipelihara, minimal diberi batu dan aspal agar jalan itu keras dan tidak berdebu? Selama kami tinggal disini bertahun-tahun tepi jalan ini  dibiarkan begitu saja, tetap jalan itu tertutup tanah. Jalan dilebarin tetapi tidak dikeraskan dengan aspal.”

Petugas berkata lagi dengan enteng “Anggarannya hanya untuk jalan dibagian tengah saja, Pak.”

Saya nimbrung “Lalu  tepi jalannya diapain?”

Petugas tidak dapat menjawab pertanyaan saya.
Saya juga tidak dapat menjawab pertanyaan  saya “Kenapa pinggir jalan itu tidak sekalian dihotmix?”

Kalau dananya tidak cukup mengapa tidak minta tambahan anggaran dalam APBD ( Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ) Kota Cirebon? Pajak yang di dapat dari rakyat seharusnya dikembalikan lagi kepada rakyat dalam bentuk antara lain perbaikan jalan yang memadai, pemeliharaan rambu-rambu lalu lintas, pencegahan banjir dll.

Selamat siang.-

Selasa, Agustus 09, 2011

Appendicitis acuta



Appendicitis acuta adalah peradangan Appendix ( usus buntu ) yang bersifat akut ( mendadak ). Penyakit ini datang mendadak dan memberikan rasa nyeri pada  perut.

Gejala yang menonjol adalah rasa nyeri yag tidak tertahankan pada perut sebelah Kanan bawah. Mula-mula rasa nyeri timbul pada Ulu hati ( epigastrium ) beberapa puluh menit kemudian nyeri itu menjalar  dan menetap di titik Mc Burney, atau 1/3 lateral  pada garis antara ujung tulang panggul dan puser ( umbilicus ). Pada tahap awal tidak ada gejala Demam, tidak ada kelainan pada pemeriksaan Urin rutin, pada darah: jumlah sel-sel darah putih akan meninggi ( Leucocytosis ).

Saat masih kuliah, saya pernah mengalami penyakit ini dan sempat juga dioperasi ( Appendectomy ) di sebuah RS di kota Bandung.

---

3 bulan yang lalu saya mendapat telepon dari Tn. E, 55 th sekitar pukul 17.30.
Ia ingin berkonsultasi tentang anak gadisnya, Nn. S, 22 th.
Saat itu S  sudah berada di sebuah RS di kota Yogyakarta. Ia ditemani oleh seorang temannya.

Nn. S menyatakan bahwa ia menderita sakit perut kanan bawah. Sudah berobat ke dokter langganannya. Oleh Dokternya dirujuk ke RS untuk dikonsultasikan kepada Dokter Bedah. Beliau menyatakan bahwa  S menderita Appendicitis acuta  dan perlu segera dioperasi.

Hampir semua orang bila mendengar kata “Operasi” ada perasaan takut.
Mendengar harus dioperasi, ia  menyampaikan berita ini kepada orang tuanya, Tn. E,  di kota Cirebon dan Tn. E berkonsultasi kepada saya yang sedang praktik. Ini sebuah konsultasi jarak jauh dengan tidak melihat pasien terlebih dahulu ( percaya kepada hasil pemeriksaan Teman Sejawat di Rumah Sakit tsb ).

Pertanyaan Tn. E kepada saya “Haruskah kami dilakukan Operasi?”

Setelah bicara panjang lebar dengan tenang untuk tidak membuat orang tuanya panik, saya akhirnya memberikan jawaban konsultasi jarak jauh ( dan gratis lagi ) “Sebaiknya Nn. S dioperasi saja.

Pertimbangannya adalah:
1. Terapi of choice Appendicitis acuta adalah operasi ( Appendectomy ).
2. Kalau tidak dioperasi dan hanya diberikan obat antibiotika dan pain killer, mungin penyakitnya reda dan akan menjadi kronis ( Appendicitis chronica ), dan dapat menjadi bom waktu yang pada  suatu saat akan meledak.
3. Kalau meledaknya pada saat Nn. S sedang menghadapi moment yang sangat penting ( menikah, wawancara lamaran pekerjaan dll ) dan penyakitnya saat itu kambuh, maka akan membuat semuanya berantakan dan gagal total.
4. Untuk menghindari bom itu meledak, biarlah dioperasi saja saat Nn. S tidak sedang menghadapi momen yang penting seperti sekarang ( baru lulus Ujian akhir ).
5. Jangan lupa berdoa semoga cepat sembuh.

Malam itu juga Tn. E minta agar jadi dioperasi malam itu dan setelah itu Tn. dan Ny. E meluncur ke kota Yogya untuk mendampingi putrinya di RS tsb.

Hari ke 4 saya telepon balik kepada Tn. E yang menyatakan bahwa ia sudah pergi ke Yogya dan hari ini ia sudah berada di kota Cirebon kembali. Kemarin orang tuanya mengantar pulang Nn. S dari RS ke tempat tinggalnya setelah dilakukan Appendectomy.

Nn. S dalam keadaan sehat dan dapat tersenyum. Ia bicara langsung via Ponsel dengan saya dan mengucapkan terima kasih atas konsultasi jarak jauhnya.

Saya juga tersenyum lega. Hasil konsultasi jarak jauh dapat berhasil dengan baik. Tentang biaya R.S. bagi keluarga Tn. E tidak menjadi masalah, sebab ekonominya cukup baik.

Saat itu pengalaman saya bertambah satu lagi.-

Senin, Agustus 08, 2011

Pasfoto




Tanggal l1 Mei 2011 kami mengikuti Simposium “Tatalaksana Terkini Masalah Pediatrik dalam Praktek Sehari-hari” di sebuah Hotel di kota Cirebon.

Selain acara Simposum juga terdapat stand pameran dari  perusahaan Farmasi dan Makanan bayi. Saat berkunjng ke stand “Milna” yang memproduksi suatu Bubur bayi, saya diminta difoto.Wah… kayak selebriti aja. Beberapa Teman Sejawat Dokter juga  turut di foto masing-masing.

Kami pikir  ah..ini hanya sekedar  untuk kenang-kenangan mereka saja.
Acara demi acara telah kami lewati dan tibalah saat Coffee break.

Saat melintas di stand “Milna”,  salah seorang petugas berkata “Dok, fotonya sudah jadi.”

Saya pikir  “Wah cepat juga nih bikin fotonya.”

“Ini Dok, pasfoto Dokter “ kata seorang petugas.

Tidak disangka ternyata pasfoto saya ada di sebuah muk / cangkir dengan logo perusahaan tsb. Wah bagus juga nih untuk kenang-kenangan.

Cangkir ini dapat menjadi teman untuk menikmati Teh Hijau atau Kopi hangat.

Saya mengucapkan terima kasih atas kenang-kenangan ini. Belum pernah selama mengikuti acara Simposium Kedokteran mendapat Cangkir berfoto diri sendiri.

Sampai saat ini cangkir tadi menjadi cangkir kesayangan saya  saat menyeruput Teh atau Kopi.

Sabtu, Agustus 06, 2011

Misterius

( foto ilustrasi )

Di dalam kehidupan saya kadang-kadang mengalami suatu kejadian yang tidak dapat diterangkan dan saya tidak mendapatkan jawabannya kenapa hal itu bisa terjadi. Anda mungkin juga pernah mengalami peristiwa yang misterius. Aneh? Bisa ya dan bisa juga tidak. Simaklah kisah saya di bawah ini.

6 bulan yang lalu Remote control TV Samsung 29 “ kami mendadak tidak berfungsi dengan normal. Tidak ada riwayat: terjatuh atau kemasukan air.
Saya  berniat memanggil Tehnisi Samsung.

Saat itu hari Jum’at, sepulang dari pelayanan Kesehatan di Panti Wreda, mobil jemputan melewati Kantor Service Samsung di sebuah jalan di kota kami. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 11.50. Sebentar lagi Solat Jum’at.
Saya melihat 2 orang karyawan keluar dari Kantor Service Samsung itu.

Saya berkata kepada salah seorang karyawan “Pak, TV Samsung kami rusak. Tolong tanya….”
Belum selesai saya berkata, ia menjawab “Tidak bisa Pak. Kami mau istirahat.”
Mereka bergegas meninggalkan saya. Tamu yang datang ke Kantor dimana mereka bekerja tidak dilayani dengan baik, walaupun itu sekedar untuk bertanya.

Kalau seandainya ia menjawab “Bagaimana Pak, kalau datang satu jam lagi? Maaf kami sudah waktu istirahat.”

Rasanya masuk akal juga dan kami tentu tidak dapat memaksa mereka harus melayani saya walaupun itu hanya sekedar bertanya.

Saya pulang dengan rasa kecewa yang mendalam  diantar mobil dan Supir yang sama. Saya tidak pernah menolak atau mengusir pasien yang datang ke tempat praktik kami meskipun itu hari Minggu atau hari Libur Nasional.

Selama kami dapat melayani pasien yang datang, kami akan melakukannya. Kalupun tidak dapat menolong  dengan baik, misalnya karena  luka yang parah akibat suatu kecelakaan lalu lintas, maka kami akan memberikan Surat Rujukan ke RS terdekat untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik. Untuk kasus KLL ini  kami tidak memungut doctor fee, walaupun kami sering kali  memberikan Kain Kasa dan Kasa pembalut luka.

Saya membatin,  semoga Remote TV kami dapat berfungsi dengan baik. Mungkin perlu ganti batere baru. Ini saya lakukan degan harapan agar Remote TV ini  dapat bekerja dengan baik. Hasilnya Remote tetap dapat tidak berfungsi! Saya menyerah. Saya biarkan saja.

Keesokan harinya, saya mencoba untuk menelepon Kantor Service Samsung  yang sama. Jawaban petugas disana akan mendatangi rumah kami untuk memeriksa apa kerusakan TV kami.

1 jam kemudian salah seorang Tehnisi ( montir ) Samsung  yang masih muda tiba di rumah kami. Setelah memeriksa Remote tidak berfungsi ia berkata bahwa  ini disebabkan oleh suatu sparepart  yang harus diganti, tetapi sudah tidak diproduksi lagi. Jadi TV tetap tidak dapat diperbaiki.

Ia berkata dengan enteng “Beli TV yang baru saja Pak, yang ini modelnya sudah tertinggal jauh”. Jengkel juga saya mendengar ucapannya ini.

Memang TV itu kami beli sekitar 10 tahun yang lalu, tetapi warna dan suaranya masih bagus, hanya kalau Remote di pencet Layar Monitor tidak memberikan respon  apa-apa. Seolah-olah tidak ada komunikasi antara remote TV dan Reseptor yang ada di dalam TV Samsung 29 “ ini.

Meskipun Tehnisi ini tidak membongkar TV kami, ia tetap menangih jasa transport Rp. 10.000,- karena sudah datang mengunjungi rumah kami, sejauh 2 Km dari Kantor mereka.

Siapa yang mau membeli TV yang tidak bekerja dengan baik?
Akhirnya saya biarkan TV itu berada di tempat tinggalnya  yang sudah didiami sejak berahun-tahun. TV itu tetap kami lihat, tetapi tidak dapat ganti saluran, diam di salah satu saluran TV  (channel ).

Keesokan harinya ada perubahan sikap Remote dan TV ini.
Saya tekan tombol Remote yang mana saja, hasilnya bagus seperti sediakala.
Remote dan TV ini seolah mengerti keinginan kami yang masih ingin melihat penampilan Monitornya.

Sudah 2 bulan hal itu tetap baik seperti semula, padahal TV dan Remte itu tidak pernah di bongkar untuk diperiksa lebih lanjut oleh Tehnisi Samung.

Kenapa bisa begitu? Saya tidak tahu jawabannya! Sampai sekarang hal itu menjadi misteri bagi kami.

Kami bersyukur dan tidak jadi membeli TV yang baru.