Sabtu, November 12, 2005

Montir ngerjain dokter.

Kejadian ini terjadi pada pertengahan tahun 1995. Suatu saat mobil saya ”batuk-batuk” alias mesin tersendat-sendat. Saya membawanya ke bengkel mobil terdekat.

Sang montir, Pak A, setelah memeriksa mesin mobil saya, berkata “ Karburatornya mesti disetel ulang. ( karburator adalah alat untuk merubah bensin dalam bentuk cair menjadi bentuk uap yang bila tercampur udara dan panas api busi akan mudah terbakar dan menjadi energi penggerak mesin mobi ). Disini ada 2 buah sekrup untuk setelan bensin dan untuk setelan udara. Kedua sekrup inilah yang disetel ulang.

Saya katakan, “Baiklah, tolong setelkan karburatornya.”

Tidak sampai 10 menit mesin mobil saya berjalan lancar dan tidak “batuk-batuk” lagi.

Saya bertanya, “ Berapa ongkos setelnya, Pak?”

Pak A menjawab “ Murah, dok, hanya lima belas ribu rupiah.”

Saya agak terkejut karena montir hanya memutar-mutar sekrup dan tidak ada sparepart( onderdil ) yang diganti, kok ia minta bayaran yang menurut saya agak mahal.

Saya berkata, “ Kok mahal, Pak. Kan tidak ada yang diganti dan hanya memutar sekrup saja.”

Sang montir berkata dengan enteng ( rupanya kalau dokter itu banyak duitnya, padahal tidak selalu demikian ), “ Ongkos memutarnya sih murah, tetapi untuk mencari sekrup mana yang harus diputar, itu yang mahal. Di mobil dokter ada ribuan sekrup dan hanya 2 sekrup yang saya cari dan saya setel kembali.”

Seminggu kemudian Pak A. sang montir yang perokok berat ini datang berobat. Rupanya ia menderita Bronchitis ( radang bronchus, saluran nafas ). Setelah saya memeriksanya, saya berkata, “ Bapak kena Bronchitis dan sebaiknya berhenti merokok.”

Ia bertanya, “Berapa saya harus bayar?”

Saya katakan, “Lima belas ribu rupiah.”

Ia protes, “ Hanya tul-tul ( maksudnya meletakkan stetoscope di tempat tertentu ) saja kok biayanya mahal, dok.”

Saya teringat argumentasi sang montir ketika mobil saya “batuk-batuk” dan berkata,” Biaya meletakkan stetoscope sih gratis Pak, tetapi biaya untuk mencari dimana saya harus meletakkan stetoscope itu yang mahal. Kalau saya meletakkannya di sembarang tempat kan penyakit Bapak tidak ketemu. Di dalam badan Bapak ada ribuan organ tubuh dan hanya 1 organ tubuh Bapak saja yang perlu saya periksa.”

Sang pasien ini mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda setuju argumentasi saya tadi. Makanya jangan suka ngerjain dokter.-

Jumat, November 11, 2005

Olahraga, sehat atau sakit?

Kejadian ini terjadi pada medio 2003.

Suatu sore sekitar pukul 17.00, ketika saya sedang praktek sore, ada panggilan melalui telepon dari seorang isteri, Ny. A. Ia memanggil Dokter untuk memeriksakan keadaan suaminya, Tn. A, 35 tahun dengan keluhan badannya sakit sampai tidak dapat bangun dari posisi berbaring..

Ia mengatakan bahwa suaminya hampir setiap hari berolahraga naik sepeda sejak 1 tahun yang lalu. Pagi hari pukul 06.00, Tn A. bersama teman-temannya bersepeda ke daerah Waduk Darma, Kabupaten Kuningan. Tempat ini berjarak sekitar 35 km dari kota Cirebon dimana ia tinggal. Saya pikir jarak itu terlalu jauh bagi pengendara sepeda sehat, lagi pula jalannya menanjak karena Waduk Darma berada di daerah Gunung Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat.

Ketika saya memasuki kamar tidur dimana Tn. A berbaring, disekililing bed hadir isteri, ketiga putra/inya, Ibu Mertua dan seorang pembantu rumah tangga. Keadaan ini biasa terjadi bila seorang pasien sakit berat.

Dalam tanya jawab ( anamnesa ) penyakit yang diderita pasien antara saya dan Tn. A. tidak dapat berlangsung dengan baik ( kontak inadekwat ), sehingga Ny. A lah yang banyak menceritakan riwayat penyakit suaminya. Tn. A sebelumnya sehat dan tidak ada keluhan. Suaminya tampak sakit dan lemas sekembalinya ia naik sepeda dari Waduk Darma.

Pemeriksaan fisik yang saya lakukan semuanya dalam batas normal, kecuali kontak yang inadekwat, sepertinya ia menyembunyikan rasa bersalahnya kepada keluarganya bahwa ia naik sepeda terlalu jauh sehingga badannya kelelahan yang sangat. Ia menderita fatique syndrome. Saya memberikan resep 2 macam obat, tablet anti nyeri dan tablet multivitamin & mineral. Saya memberi anjuran agar setelah mandi air hangat dan makan malam pasien segera tidur untuk memulihkan kesehatannya. Tn. A tidak diperkenankan naik sepeda untuk 2-3 hari dan lain kali jangan bersepeda terlalu jauh jaraknya sehingga tujuan bersepeda untuk menjadi sehat tidak tercapai dan bahkan menjadi sakit.

Keesokan paginya sekitar pukul 06.30, untuk suatu keperluan saya naik mobil dan melewati rumah Tn A. Saat itu saya melihat Tn. A. membawa sepedanya keluar dari pintu pagar rumah. Rupanya Tn. A sudah pulih kembali kesehatannya dan ingin bersepeda lagi. Ia sudah lupa anjuran Dokter kemarin sore. Bersepeda rupanya sudah merupakan habituasi, kebisaan sehari-hari. Tn. A. mempunyai moto “ Tiada hari tanpa bersepeda.” Di dalam mobil saya menggeleng-gelengkan kepala.-

Kamis, November 10, 2005

Buah Merah Papua.

Buah Merah Papua "Pandanus conoideus lam" tidak pelak lagi menjadi primadona ajang Indonesian Herbal Fair 2005 yang berlangsung bersamaan pada saat libur 11-12-13 Maret di ibu kota. Pameran terbilang cukup sukses jika menilik kehadiran banyaknya pengunjung dan dukungan partisipasi instansi pemerintah. Maraknya peserta pameran yang hampir mencapai jumlah 100 stand pun dapat dianggap menjadi keberhasilan tersendiri hingga pantas jika penyelenggara berencana akan menjadikan expo sebagai ajang kegiatan tahunan.

Pembukaan resmi pada hari pertama dihadiri oleh Kepala BPOM Badan Pengawas Obat dan Makanan Dr. Sampurno yang membuka acara seminar bertema "Obat Herbal Indonesia, Aman, Efektif dan Berkualitas".
Kemunculan Buah Merah Papua dalam pameran di ibu kota untuk pertama kalinya sebenarnya berlangsung saat Agro and Food Expo 2002 di JHCC Jakarta dalam rangka menyambut program Tahun Hortikultura Nasional awal Mei 2002. Saat ini publikasi tentang khasiat Buah Merah Papua sebagai obat multi-guna -yang bahkan diperkirakan ampuh dalam melawan penyakit HIV-Aids dan kanker- tengah meluas dan amat menarik minat publik.

Sesungguhnya fenomena tingginya minat publik atas obat herbal agaknya sejalan dengan trend dunia yang cenderung gandrung akan pola hidup "kembali ke alam" atau "back to nature" dekade belakangan ini. Selain itu sebagian masyarakat berupaya mencoba mencari alternatif obat berbahan ramuan tanaman/herbal tradisional yg berharga lebih murah dibanding dengan obat kimiawi buatan pabrik farmasi.Heboh Buah Merah Papua berlanjut tersendiri lewat acara seminar sehari "Pro Kontra Khasiat Buah Merah Papua" oleh peneliti pertama khasiat Buah Merah Papua Drs. Budi Made MSc di Jakarta Maret dan medio April 2005. Dapat disimpulkan bahwa kalangan masyarakat luas benar-benar berkepentingan agar penelitian akan khasiat Buah Merah Papua menjadi program prioritas yang amat mendesak. Penelitian yang amat pantas menjadi prioritas teratas dalam program RUT -Riset Unggulan Terpadu penelitian obat herbal nasional pada tahun mendatang.

Seperti diungkapkan kepala BPOM penelitian obat herbal nasional -tahun 2005 mencakup 19 tanaman berkhasiat obat- dilaksanakan oleh pusat penelitian di beberapa Universitas ternama nasional, adalah program tahunan yg memang diarahkan guna menghasilkan jenis obat herbal baru yang dapat diproduksi massal oleh industri farmasi nasional berbasis herbal.

Dalam waktu dekat setidaknya masyarakat memerlukan kejelasan tentang standard minimal pengolahan sari Buah Merah Papua yg memenuhi syarat sebagai suplemen penguat daya tahan tubuh: semacam standar mutu SNI. Sampai saat ini dari sekitar belasan merk yg beredar di pasaran ternyata hanya 5 merk saja yg terdaftar di Balai POM Departemen Kesehatan. Riset pengujian khasiat Buah Merah Papua sebagai obat multi-guna akan memerlukan waktu yang masih panjang.

Jika membandingkan bahwa riset khasiat mengkudu/buah noni "morinda citrifola" -tanaman asli asal Indonesia- butuh waktu puluhan tahun lebih riset intensif dari berbagai pelosok dunia untuk dapat sampai pada kesimpulan, bahwa buah mengkudu memang berkhasiat untuk mengobati, a.l: pencegahan radikal bebas pembentuk terjadinya sel kanker, kholesterol, diabetes, Jantung koroner, anti biotik/ anti-infeksi, dll. Pusat riset terkemuka tentang mengkudu berada a.l. : Tokyo Noni Research Center - Jepang, Universitas Hawaii - AS dan beberapa pusat riset universitas di Perancis.

Zaitun -buah yg minyaknya "olive oil" dikonsumsi bangsa Yunani sebagai suplemen kesehatan sejak zaman kuno pra-Masehi- pun baru saja beberapa bulan y.l. diakui oleh FDA -badan semacam BPOM di AS- sebagai berkhasiat obat guna mengurangi resiko penyakit jantung dan kanker payudara. Kandungan tocopherol dan phenol pada olive oil juga diakui dapat mencegah terbentuknya sel-sel radikal bebas yg erat berkaitan dengan munculnya penyakit kanker dan penyakit degeneratif lainnya.

Penelitian awal Buah Merah Papua menunjukkan kandungan tocopherol yg amat tingggi selain membuktikan bahwa "minyak" atau larutan sari buah mengandung berbagai asam lemak tak jenuh yg dikenal bermanfaat baik guna meningkatkan HDL dalam tubuh dan sebaliknya menurunkan LDL atau "bad cholestrol". Akan menjadi ironi menyedihkan jika terjadi bahwa khasiat lengkap sari Buah Merah Papua lebih dahulu diungkapkan oleh ilmuwan Asing yang bisa jadi amat berkepentingan terutama dalam upaya riset menemukan obat atau zat penangkal penyakit HIV-Aids.-

Jambu Merah dan Demam Berdarah.

SOAL jus jambu biji ini, ternyata ada perkembangan yang cukup mengejutkan. Jika jus itu dibuat dari buah, rasanya bukan sesuatu yang aneh. Tetapi, yang kini tengah dicoba dikembangkan dalam memanfaatkan jambu biji sebagai pencegah demam berdarah adalah pembuatan jus dari bahan daunnya. Betulkah ekstrak daun jambu biji ini bisa meringankan penyakit DBD?
Pada hari Rabu (10/3) kemarin, bertempat di Kantor Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Jakarta Pusat, dilansir sebuah hasil kerja sama penelitian antara Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dengan Badan POM. Meskipun baru bersifat pengujian pre-klinik, dilaporkan bahwa ekstrak daun jambu biji diketahui bisa menghambat pertumbuhan virus dengue, penyebab DBD. Bahan itu juga disebutkan mampu meningkatkan jumlah trombosit hingga 100 ribu milimeter per kubik tanpa efek samping.
Dari pengujian, peningkatan jumlah trombosit diperkirakan dapat tercapai dalam tempo 8 s.d. 48 jam atau dua hari setelah ekstrak daun jambu biji dikonsumsi.
Kepala Badan POM, Drs. H. Sampurno, MBA mengungkapkan, sampai saat ini obat spesifik demam berdarah dengue (DBD) memang belum ditemukan. Tidak mengherankan, apabila pola pengobatan terhadap penyakit yang masuk ke Indonesia sejak 36 tahun lalu itu hanya bersifat pendukung. Sampurno menuturkan, setelah uji lebih lanjut yang dilakukan tim peneliti di bawah pimpinan Prof. Dr. Sugeng Sugiarto itu, diharapkan ekstrak daun jambu biji ini dapat dijadikan obat antivirus dengue. Penelitian sementara menunjukkan, daun jambu biji bisa bermanfaat. Bahkan, kabarnya, kandungan dalam daun jambu biji lebih baik dibandingkan dengan buahnya yang biasa digunakan.

Menurut keterangan, penelitian tersebut menghabiskan dana hingga Rp 500 juta. "Kami menargetkan, tahun sekarang bisa dilakukan uji klinik karena penelitian ini merupakan terobosan berharga untuk menanggulangi DBD," kata Sampurno yang juga alumnus Fakultas Farmasi UGM.

Rencananya, hasil pengujian itu pun akan dilaporkan ke Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO). "Apabila nanti uji klinik yang dilakukan hasilnya paralel, maka kemungkinan ekstrak daun jambu ini akan menjadi suplemen dalam mengobati DBD," tuturnya.
Hasil lain dari pengujian pre-klinik di Jawa Timur, terindikasi bahwa daun jambu biji tersebut tidak memiliki kandungan zat beracun. Sebaliknya, daun jambu biji ternyata memiliki komponen yang berkhasiat, yakni kelompok senyawa tanin dan flavonoid. Diketahui, keduanya dapat menghambat aktivitas pertumbuhan virus dengue.

Menurut rencana, dalam waktu dekat ini Badan POM akan melakukan pengkajian mendalam, untuk mengetahui apakah ekstrak daun jambu biji bisa diproduksi secara besar-besaran. Misalnya, dalam bentuk kapsul untuk orang dewasa dan sirup untuk anak-anak.Sampurno mempersilakan apabila ada masyarakat ingin membuat ekstrak sendiri.
Caranya, daun jambu dibersihkan, ditumbuk, dan direbus. Setelah itu, airnya disaring, sebelum kemudian diminum. Namun, diingatkannya, standar pengobatan DBD dengan dokter harus tetap dilakukan, mengingat ekstrak daun jambu biji ini hanya suplemen. Kalau begitu, apa salahnya kita coba.-

Alergi Antalgin.

Keadaan alergi ini tidak diinginkan oleh banyak orang, tetapi keadaan yang bersifat bawaan lahir ini sering terjadi di masyarakat. Alergi yang merupakan manifestasi dari keadaan tidak tahannya seseorang terhadap sesuatu yang menimbulkan gejala-gejala berupa : gatal, kaligata/biduran, sesak nafas dan bahkan anafilaktik shok serta kematian. Sesuatu itu dapat berupa: makanan, minumam, kosmetik, obat, perubahan hawa, tepung sari dan lain-lain.

Suatu malam 5 Sept 1990, rumah kami didatangi oleh sepasang suami-isteri yang ingin berobat. Waktu menunjukkan pukul 21.30 malam, setelah mempersilahkan pasien yaitu sang suami dengan umur sekitar 35 tahun berbaring di bed periksa, saya mewawancarai isterinya ( melakukan heteroanamnesa dari isterinya ) keluhan, riwayat penyakit dsb. Sang Isteri mengatakan bahwa sang suami yang alergi tablet Antalgin, pada pukul 19.30 minum obat Antalgin ( yang dibeli di warung ) karena ia merasa pusing kepala. Oleh isterinya dilarang minum Antalgin tetapi karena saat itu sudah malam dan mereka tidak mempunyai obat pusing yang lain, terpaksalah Antalgin itu yang diminum sang suami.

Saya memeriksa keadaan suaminya itu: tekanan darah 100/60mmHg ( cukup rendah dari keadaan normal, gejala awal shok ), kesadaran menurun, kontak inadekwat, badan terasa dingin, tidak ada sesak nafas. Secepatnya saya mengatakan kepada sang isteri bahwa keadaan suaminya cukup parah dan sebaiknya segera dibawa ke Rumah Sakit ( ada 1 Rumah Sakit yang jaraknya hanya 100 meter dari rumah saya ). Perkiraan saya dengan naik Jip yang dikendarai supir mereka dalam waktu cepat ( 2 menit ?) pasti sudah sampai di Bagian Gawat Darurat. Saya menuliskan Surat Rujukan ke RS tadi dan menyerahkannya kepada sang isteri. Tanpa mengharap jasa pelayanan, saya membukakan pintu ruang praktek agar mereka segera ke RS. Dengan dibantu isterinya pasien saya ini keluar dan ketika tiba di teras rumah, pasien ini muntah-muntah mengeluarkan banyak is lambung yaitu berupa nasi ( tanda shok lain muncul lagi ). Setelah mereka meninggalkan rumah saya, saya masih harus membersihkan lantai akibat muntahan pasien tadi ( sang pembantu rumah tangga sudah tertidur ).

Saya mengharapkan agar pasien saya ini mendapat pelayanan RS dan terhindar dari keadaan yang lebih buruk lagi. Keesokan hari pada pukul 06.00 pagi saya menghubungi RS dekat rumah saya untuk menanyakan adakah pasien saya tadi malam masuk RS dan bagaimana keadaannya sekarang? Sungguh terkejut saya mendapat jawaban bahwa tidak ada pasien dengan nama pasien tadi. Saya menghubungi semua RS yang ada di kota saya dan jawabannya sama dengan RS yang pertama. Saya bingung kemana pasien semalam dibawa? Pulang ke rumah ?

3 hari kemudian saya mendapat kunjungan seorang ibu yang ternyata isteri dari pasien saya ini yang ingin memeriksakan anaknya untuk berobat. Saya mendapat informasi tentang suaminya bahwa malam hari sepulang dari tempat praktek saya, sang suami menolak masuk RS dan minta pulang kerumah saja.

Sampai dirumah sang suami tertidur dan terbangun keesokan harinya dengan keadaan sehat. Puji Tuhan, pasien ini tidak mengalami shok yang dapat membahayakan jiwanya. Beruntung sekali pasien ini yang sudah mengetahui bahwa ia alergi Antalgin, masih saja minum Antalgin dan ia sudah merasakan akibatnya. Semoga ia tidak berani lagi minum tablet Antalgin.-


Doa Dokter jelek?

Suatu saat saya bertemu dengan seorang teman yang bukan dokter. Lama kami tidak berjumpa sehingga kami membicarakan banyak hal. Dalam obrolan kami teman saya itu berkata, “Ah…doa dokter sih jelek, semoga banyak yang sakit.” Saya terkejut mendengar perkataannya itu.

Saya mendebat teman saya tadi, “Saya tidak pernah berdoa seperti itu. Itu kata anda, bukan kata saya.” Ia terkejut juga mendengar perkataan saya. “Tapi betul kan, dokter mengharap banyak orang yang sakit?”

“Orang yang sakit bukan karena doa saya atau dokter. Orang yang minta pertolongan dokter tidak semuanya sakit, tetapi karena banyak alasan.

“Apa contohnya, dok?” teman saya bertanya.

Lalu saya menjawab:

“ Alasan-alasan orang datang kepada dokter antara lain:

  1. Anak/orang dewasa yang ingin mendapatkan imunisasi.
  2. Anak yang mau disunat atau dikhitan dengan alasan keagamaan atau kesehatan.
  3. Ibu calon akseptor KB ( Keluarga Berencana ) yang minta disuntik KB atau dipasang I.U.D. ( Intra Uterine Device ).
  4. Orang yang minta Surat Keterangan Sehat untuk keperluan melamar pekerjaan, melanjutkan sekolah atau mengikuti ansuransi.
  5. Ibu hamil yang ingin melakukan pemeriksaan ANC ( Ante Natal Care ).
  6. Orang yang ingin disuntik Vitamin agar badannya tetap fit.
  7. Orang tua yang minta konsultasi agar anaknya terhindar dari Narkoba atau agar prestasi belajar anaknya bagus.

Jadi pekerjaan dokter banyak, selain mengobati orang sakit juga melakukan tindakan pencegahan agar tidak menjadi sakit. Dengan perkataan lain tidak perlu dokter berdoa “Semoga banyak yang sakit” agar dapurnya tetap berasap. Dengan reputasi yang baik, tidak perlu seorang dokter khawatir kekurangan rejeki.”

Setelah mendengar argumentasi saya diatas, teman saya mengerti dan tidak berani mengeluarkan “guyonan” tadi lagi. Dia pikir “Wah repot kalau berdebat dengan dokter.”

Kalau anda setuju dengan argumentasi saya diatas, maka tidak perlu ada debat kusir bukan?-

Rabu, November 09, 2005

Dokter murah .


Dokter murah bukan berarti dokter murahan. Pengalaman ini pernah saya alami ketika pada tahun 1998, saya dapat giliran jaga kota Cirebon dimana setiap 3 bulan satu kali kena giliran jaga kota. Tempat praktek swasta pribadi menjadi tempat Dokter Jaga Kota.

Pagi hari sekitar pukul 11.00 datanglah seorang laki-laki berumur sekitar 35 tahun dengan maksud untuk berobat. Pasien ini berasal dari Jakarta dan ketika berada di Cirebon ia merasa kesehatannya terganggu. Ia menderita Flu, setelah saya periksa saya menyerahkan resep obat kepadanya.

Pasien ini bertanya “ Berapa Dokter?’.

Saya menjawab “ Lima ribu rupiah untuk biaya pemeriksaan”.

Pasien saya ini agak terkejut dan ia bertanya lagi” Berapa Dokter?”.

Saya menjawab “Lima ribu rupiah”.

Pasien ini berkata lagi “ Kok murah sekali. Kalau dikota Jakarta saya biasa membayar lima belas ribu rupiah” .

Saya menjawab “ Kalau di Cirebon seorang dokter umum memungut lima belas ribu ya terlampau mahal dan pasti tidak laku. Dokter spesialis ( waktu itu) saja dua puluh ribu rupiah, tetapi kalau Bapak mau membayar lima belas ribu ya saya terima.” ( sambil tersenyum, guyon ).

“ Wah.. ya saya bayar lima ribu rupiah saja seperti yang dokter mauin “

Rupanya pasien saya ini termasuk orang yang kikir sehingga merasa rugi bila ia membayar lebih, padahal saat itu adalah hari Minggu dimana sulit mencari dokter yang praktek dan ia saat itu sudah ditolong oleh dokter jaga kota.

“Semoga lekas sembuh, Pak” kata saya sambil membukakan pintu.

Pengalaman lainnya juga cukup menggelikan. Seorang ibu pasien langganan saya suatu saat pada tahun yang sama datang berobat. Sakit kulitnya kambuh lagi.

Sambil menerima resep dari saya ia bertanya “ Berapa Dokter?”

Saya jawab “ Lima ribu rupiah.”

Ibu ini pura-pura terkejut dan berkata “ Kok naik Dok, dulu cuma tiga ribu rupiah” Rupanya ia mau nawar biaya pemeriksaan.

Saya menjawab, “ Ya dulu dulu sih cuma dua rupiah dan naik jadi tiga ribu rupiah. Ibu sudah lama tidak kontrol dan sekarang lima ribu rupiah.”

Ibu tersebut menggumam “ Ya sekarang apa-apa pada naik. Tidak ada yang turun ya Dok.”

Saya menjawab sambil guyon “ Ada Bu.”

“Apa itu Dok”

Saya jawab “ Celana dalam turun, bila mau disuntik “

“ Ah Dokter, ada-ada saja “

Padahal betul kan? Mana ada celana dalam yang naik bila mau disuntik. Ha..ha...ha.. Kadang kala disaat praktek Dokter harus dapat membuat pasien tertawa agar berkurang penderitaaanya. Tertawa itu sehat, karena itu tertawalah sebelum tertawa itu dilarang. Tertawa itu juga dapat mengurangi Stres.-

Khasiat Urine.

Pengalaman ini ketika saya masih bekerja di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cirebon pada tahun 1996. Ada seorang Napi yang berasal dari suatu negara Timur Tengah yang tengah menjalani hukuman seumur hidupnya, datang berobat ke Poliklinik L.P.

Saya pernah membaca artikel “Khasiat Urine Bagi Kesehatan “. Saya tertarik juga akan hasilnya.
Amir ( bukan nama sebenarnya ) mengeluh jari telunjuk tangan kanannya bengkak akibat gigitan Kelabang pada malam sebelumnya. Saya melihat jari tersebut: bengkak, merah, lebih panas dari pada daerah yang sehat dan nyeri bila tersentuh tangan. Saya membuat Diagnosa Kerja: Gigitan kelabang.

Karena persediaan antibiotika ( amoksisilin kapsul, anti inflamasi dll ) habis , maklum tangal tua, maka pasien Amir hanya saja beri Tablet anti nyeri dan anjuran agar jari tangannya dikencingi saja ( maaf ). Saya ingin mengetahui seberapa jauh khasiat Urine itu.

Semula advis saya ini dianggap guyonan oleh Amir dan roman mukanya menunjukkan bahwa ia tersinggung oleh ucapan saya tadi.
Saya berkata lagi “ Maksud saya, tampunglah urine anda dan oleskan ke jari telunjuk anda yang bengkak, agar cepat sembuh. Amoniak yang terdapat di dalam Urine mempunyai khasiat untuk menghilangkan bengkaknya. Urine mempunyai khasiat yang bagus untuk penyakit .”

Perkataan saya ini dibenarkan oleh Napi lainnya yang duduk disebelahnya.
Ia berkata “Benar dokter, air kencing dapat berguna bagi kesehatan. Minggu yang lalu mata saya merah setelah bekerja di kebun. Saya membersihkan mata saya dengan air kencing saya sendiri dan keesokkan harinya mata saya sembuh.”

Mendapat dukungan argumentasi, maka saya berkata lagi kepada Amir “ Nah benar kan ucapan saya tadi. Cobalah dulu oleskan urine ke jari telunjukmu. Kalau kamu punya uang saya akan beri resep kapsul Antibiotika dan tablet anti bengkak untuk dibeli di apotik. Kalau kamu tidak punya uang, tidak ada ruginya mencoba advis tadi, siapa tau ada manfaatnya.”

Amir menjawab dan berterima kasih atas advis saya tadi “ Baiklah dokter. Saya akan mengolesinya.”

Keesokan harinya saya panggil Amir ke Poliklinik, dan saya melihat bahwa bengkak pada jari tekunjuk kanan Amir sudah mereda dan nyerinya berkurang alias sembuh.
Saya berkata kepada Amir “ Mir, benar kan perkataan saya kemarin itu .”
Amir menjawab malu-malu “ Iya dokter. Terima kasih atas advisnya “.

Rupanya Urine sangat bermanfaat bagi penyakit-penyakit seperti: luka, hipertensi, menghaluskan kulit, menurunkan berat badan, hepatitis dll. Ketika saya melakukan surfing di Internet maka dengan kata kunci “ Urine therapy “, saya menemukan banyak artikel yang membicarakan tentang Khasiat Auto Urine therapy ( khasiat minum urine sendiri ). Di beberapa negara seperti: Perancis, USA, India, RRC dsb rupanya sejak lama penggunaan Urine ini sudah banyak dikenal dan sudah sejak lama dilakukan.-

Dokter menjadi Artis.

Berdasar Surat Edaran dari Dirjen Pemasyarakatan tanggal 4 Maret 1998 dan Kepala Kantor Wilayah Dep. Kehakiman Jawa Barat tanggal 10 Maret 1998 tentang: Pembuatan Audio Visual Pemasyarakatan, maka tampak kesibukan ekstra didalam LP Cirebon. Menurut rencana pengambilan Audio visual ini akan dilaksanakan pada hari Kamis pada pukul 12.00.Tim pelaksana dari Jakarta nyatanya baru tiba di LP Cirebon pada pukul 16.00, sehingga kegiatan baru dapat dilaksanakan pada hari Jumat mulai pukul 9.00. Tim yang terdiri dari 8 orang petugas ini bekerja secara maraton di LP Cirebon, Kendal, Semarang, Cilacap dll.

Pada pengambilan Audio visual ini direncanakan skenario : 3 orang Napi yang datang di LP Cirebon, turun dari kendaraan khusus, dikawal para petugas masuk melalui portir, diperiksa surat-surat pengantarnya. Dari sini diterima di bagian KPLP ( Komandan Pengamanan LP ) untuk pengecekan surat-surat dan penggeledahan badan dan barang bawaan. Dari KPLP diserahkan kepada Tim Penerima ( Registrasi, Perawatan) untuk penerimaan Napi. Pada bagian Perawatan diambil Audio visual ketika Napi diperiksa kesehatannya. Solihin, paramedis kami mencatat pada Kartu Catatan Medis Napi. Amir, karyawan LP di seksi Perawatan bertugas mengukur Tinggi badan dan berat badan Napi. Saya sendiri sebagai dokter LP bertugas mencatat riwayat penyakit sebelumnya, hasil pemeriksaan fisik pada saat itu dan melengkapi Kartu catatan medis napi. Selanjutnya pengambilan audio visual ini dilanjutkan dibagian A.O. ( admisi orientasi ) dan lain-lain.

Pada waktu syuting di bagian Perawatan, kami disinari dengan 1 set lampu yang terdiri dari 3 lampu sorot dengan sinar yang sangat terang dan juga panas menjengat. Beruntung kami sebelumnya telah menyiapkan 1 buah kipas angin untuk mengurangi panasnya lampu tadi. Untuk menghindari pantulan sinar lampu, terpaksa saya sampai melepas kacamata saya. Untuk memberikan tampilan wajah yang camera-face, wajah saya diberi bedak. Ah… seperti bintang film saja, padahal benar dokter saat ini menjadi aktor alias bintang film. Rasanya tegang juga saya pada waktu itu, karena 2 alasan yaitu : pertama seumur hidup saya belum pernah disyuting dan kedua bila sampai gagal pada syut kesatu. Maka adegan akan diulang lagi yang jelas akan menambah kerepotan bagi saya. Tapi syukurlah pengambilan adegan pemeriksaan hanya diulang 1 kali. Semuanya hanya mengambil waktu kira-kira 5 menit, padahal kami menunggu selama 2 hari. Untuk waktu yang sesaat itu kami harus menerima sinar lampu yang cukup panas apalagi 3 orang Napi yang juga menjadi bintang film ( peran utamanya ) tentu menerima lebih banyak sinar panas mulai dari Portir sampai selesai pengambilan Audio visual ini.

Semoga audio visual ini banyak manfaatnya bagi kepentingan program kerja Departemen Kehakiman. Semoga wajah kami tetap dikenal oleh Departemen Kehakiman.-

Selasa, November 08, 2005

Pasien marah


Ketika mengikuti rombongan piknik Alumni SMA Negeri Cirebon angkatan tahun 1966 ke Bali, saya bertugas sebagai Seksi kesehatan, saya memeriksa beberapa peserta yang sakit.
Ny. L, 55 tahun: Ia seorang penderita Kencing Manis ( Diabetes mellitus ). Sejak 1 minggu yang lalu ia mengeluh sakit pada lutut kanan dan otot sekitarnya. Ia minta resep obat dari saya. Saya menduga ia menderita Myopathy yang sering dikeluhkan pada seorang pasien D.M. Saya membuat sehelai resep yang berisi kapsul Neurontin dengan dosis 2 kali sehari.
Ia berteman dengan Ny.Y. yang mempunyai seorang putra yang Apoteker dan bekerja di sebuah Apotik di Denpasar. Melalui SMS handphone Ny. L dapat membeli kapsul Neurontin. Sore harinya ia mencari saya dan protes. “ Dokter, saya bukan penderita Epilepsi ( Ayan ). Mengapa saya diberi obat Anti Epilepsi?” dan ia tidak mau minum obat itu.
Saya balik bertanya “ Dari siapa Ibu tahu?”
“Dari putra Ny. Y yang Apoteker. Katanya obat ini berkhasiat sebagai anti Epilepsi. Ibu bukan penderita Epilepsi”
Dengan sabar saya jelaskan bahwa betul itu kapsul anti Epilepsi tetapi juga berkhasiat sebagai anti myopati bagi penderita D.M. Khasiat ini sudah banyak digunakan oleh dokter-dokter lain.
Saya melanjutkan “Bila anda tidak setuju, tak usah minum obat itu.”
Akhirnya ia dapat mengerti. Keesokan harinya ia mencari saya lagi dan melaporkan dengan sedikit kecewa bahwa rasa nyerinya berkurang tetapi belum sembuh betul, meskipun obat tadi sudah diminumnya.
Saya menjawab “Keluhan anda sudah berkurang, meskipun belum 100% hilang, tetapi sudah ada perbaikan bukan? Saya mengobati keluhan anda tidak secepat membalikan tangan. Sim Salabim, sakitnya segera hilang seperti makan cabe. Jadi sabarlah, pasti sakitnya lenyap bila obat yang saya berikan anda minum terus.”
Ny. L. diam mengiyakan perkataan saya.
Ia meninggalkan saya, tanpa berkata apa-apa. Saya tidak mengharapkan imbalan apa-apa di dalam acara piknik itu. Ucapan terima kasih juga tidak, yang emang tidak saya dapatkan dari semua pasien saya itu.
Mungkin ia tersinggung ketika ia mendapat resep obat anti Epilepsi yang ternyata banyak membantu menghilangkan rasa nyeri lututnya itu. Ia lebih percaya mendengar ucapan seorang Apoteker dari pada seorang Dokter. Pengalaman Dokter akhirnya dapat menyembuhkan keluhannya. Yang penting bukan mereknya tetapi khasiatnya seperti promosi iklan obat generik di TV. -