Selasa, Februari 03, 2009

Bingkisan di hari jadi


Kemarin saya pergi ke G. Book Store di kota saya. Alasannya untuk membuktikan kebenaran isi pesan SMS yang saya terima pada hari jadi saya pada akhir Januari 2009 yang lalu.

Kalau menerima SMS berupa mendapatkan hadiah atau bingkisan saya harus hati-hati dan waspada, sebab sudah banyak orang-oarng yang dirugikan.

Isi pesan yang saya terima dari G. Book Store Centre itu mengucapkan selamat atas ulang tahun saya dan disilahkan datang untuk mendapatkan suatu bingkisan dan diskon sebanyak 10% bila belanja di Store ini.

Wah..senangnya. Siapa yang tidak senang kalau mendapatkan bingkisan, apalagi di hari jadi. Selama hidup saya belum pernah mendapatkan bingisan yang diberikan secara istimewa dari orang / pihak yang belum saya kenal.

Kemarin saya memang ingin membeli buku tentang Blog Wordpress di Book Store tsb. Jadi pas kalau saya mengunjunginya sambil menanyakan bingkisan apakah gerangan yang saya terima?

Dalam perjalanan menuju Store ini sambil mengenudikan Minibus saya bertanya dalam hati “Dari mana G. Book Store Centre mendaptakan identitas saya?” lengkap dengan hari jadi. Ah...mungkin dari data Kartu Kredit yang digesek ketika membayar belanja buku-buku di toko ini. Saya tidak yakin apakah benar identitas saya dalam Kartu Kredit saya itu berisi hari jadi juga?

Setiba di toko buku ini saya bertanya kepada salah satu karyawan. Ia menganjurkan agar saya datang ke bagian Informasi di lantai 2. Sambil menunjukkan Ponsel saya yang berisi text isi SMS , saya bertanya apakah hal itu benar?

Wanita petugas dibagian ini segera mengetuk-ngetuk keyboard Komputernya.
“Benar dan Selamat ya, Pak. Boleh saya lihat KTP Bapak?. Bapak seharusnya mengambil pada hari jadi Bapak. Sekarang sudah lewat, Pak “, ia menyalami saya berkenaan hari jadi saya itu.

Saya berkilah ”Saat itu kami berada di luar kota, mbak. Jadi saya tidak dapat segera datang. Baru sekarang saya dapat datang. Kalau sudah lewat ya tidak apa-apa lah. Saat ini saya mau belanja buku-buku disini”.

Dengan argumentasi saya dan janji akan belanja buku di tokonya, sang petugas menjawab “Sebentar ya Pak, saya ambilkan bingkisannya.”

Wah… ini benar. Bukan penipuan, tetapi bingkisan itu berupa apa ya? Jangan-jangan sebuah buku, karena toko ini adalah toko buku langganan saya.

Tidak lama kemudian sang petugas datang membawa sebuah Tas karton belanjaan dengan Logo Toko tsb yang berisi bukan 1 buku tetapi 2 buah buku. “Trend Mode 2009, majalah Pernikahan Pertama di Kota Cirebon “ dan “Pengenalan Komputer, Dasar Ilmu Komputer, Pemrograman, Sistem Informasi dan Intelegensia”, Penerbit Andi Yogyakarta.

Bagus juga kedua Buku ini. Hobi membaca dapat terpenuhi dengan mendapat buku-buku baru. Berharap dapat 1 buku ternyata dapat 2 buku. Hati saya berbunga-bunga. Rejeki nomplok nih.

Sebelum meninggalkan konter Informasi tsb, saya bertanya “Mbak, dari mana anda mempunyai data base tentang diri saya?”
“Dari Formulir isian seperti ini.” Sambil menunjukkan tumpukan Formulir isian tentang identitas oarang yang pernah belanja di toko buku ini.
“Rasanya saya belum pernah mengisinya dan saya baru kali ini melihat ada Formulir seperti ini. Ah.. mungkin dari data Kartu Kredit yang saya gunakan setiap kali belanja di sini.” Maklumlah kalau belum terima pensiunan, saya gunakan saja gesekan Kartu Kredit saya.

Sebelum berpisah saya menyalaminya dan mengucapkan terima kasih atas bingkisan dan perhatian tokonya terhadap para pelanggan. Belum pernah seumur hidup saya mendapat perhatian begitu baik dari sebuah toko. Semoga toko ini semakin laris.

Saya juga belanja beberapa buah buku. Apakah benar saya mendapat diskon 10% juga? yang ditandai dengan pemberian sebuah kartu sebagai tanda untuk mendapat Diskon 10% dibagian Kasir. Memang benar, sang Kasir memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada saya ketika saya menyodorkan buku-buku pembelian saya.
“Bapak mendapat diskon sebesar 10% saat ini.”
“Terima kasih, mbak” jawab saya.

Wah..saya menjadi pembeli yang paling dihormati saat belanja Buku di toko ini. Kapan lagi ya. Apakah saya masih mendapat perlakuan dan kesempatan yang sama pada tahun depan? Semoga saya diberi umur panjang, seperti isi pesan banyak SMS yang saya terima dari para relasi saya.

Pada hari jadi, saya selalu mempunyai 2 pertanyaan yaitu: umur saya bertambah satu tahun lagi atau umur saya berkurang satu tahun lagi. Dua-duanya benar. Yang jelas sampai detik ini saya masih dapat mengetik artikel untuk dipublish ke Blog saya.

Nama anda siapa?


Bila isteri saya, yang juga dokter umum sedang berada di luar rumah, saya sering menerima telepon yang kadang-kadang menjengkelkan.

Apa masalahnya?
Nama, ya nama si penelpon.

Hampir setiap hari telepon di rumah kami berdering, baik hari Minggu / libur atau hari kerja. Mungkin dianggap kami buka praktek 24 jam sehari, padahal tidak demikian.

Terdengar suara wanita “Halo, ini rumah dokter H ( isteri saya ).”
“Betul.” Jawab saya.
“Ibu Dokternya ada, Mas?” ( saya dianggap pembantu ibu dokter ).
“Anda jangan panggil saya Mas.”
“Lho emang anda siapa?” sipenelepon.
“Saya dokter B, suami ibu dokter. Anda siapa ya” jawab saya masih dengan ramah.
“Maaf dok, dokter ibu ada?” kaget juga si penelepon bahwa yang diajak bicara adalah Tuan tumah.
“Isteri saya sedang keluar, ibu dokter belum pulang kantor. Anda siapa ya” saya ingin tahu siapa nama si penelopon kalau saya ditanya isteri saya, saya harus tahu siapa dan apa keperluannya?
“Saya, pasien Ibu dokter.”

Hampir saja telepon saya tutup, kalau tidak panjang sabar. Kalau ia menyebutkan sebuah nama misalnya Siti Aminah atau nama lain, saya juga tidak tahu, apakah itu nama sebenarnya atau nama asalan. Rupanya si penelepon malu namanya diketahui oleh saya.
Saya pikir masih wajarlah kalau saya tahu nama lawan bicara saya. Kalau sudah saya kenal, kami bisa bicara lebih akrab. Lain masalahnya kalau saya bertanya “berapa umur anda” kepada seorang wanita. Sering kali tidak diberi tahu atau dijawab sekenanya saja atau ia marah.
Umumnya wanita tidak mau diketahui umurnya oleh orang lain. Kalau ditanya nama, seharusnya menjawab. Sering kali orang mau menerima tetapi tidak mau memberi. Saya berprinsip: makin banyak memberi, makin banyak menerima. Memberi tidak harus berupa uang / materi, tetapi dapat berupa pelayanan medis yang nonprifit, perhatian, advis, menjadi pendengar yang baik apa yang mereka bicarakan dll

Contoh lain dering telepon yang menjengkelkan.
“Halo, Asiong, kamu ini bagaimana sih. Kapan barang pesanan saya mau dikirim? Sudah banyak pesanan nih.”
Saya jawab dengan sabar “ Halo juga. Sebenarnya anda mau bicara dengan siapa?
“Dengan Asiong.” Jawabnya ketus. Tidak ada sopan santun sama sekali dalam bertelepon. Ketuk rumah orang lalu bicara semaunya. Kalau mood saya sedang jelek, telepon langsung saya tutup dan kalau berdering-dering lagi saya cuekin saja.
“Maaf, saya bukan Asiong. Anda salah sambung nih.”
Ia dengan jengkel dan nada tinggi bertanya lagi “ Ini siapa?”
“Budi, Toko Roti.” Saya jawab sekenanya.
Klik….Telepon langsung terputus. Tidak ada ucapan maaf, apalagi terima kasih. Seharusnya kita meyakinkan dulu, apakah benar ini telepon / ponsel dari seseorang akan kita ajak bicara, sebelum bicara murah sepanjang hari ..seperti iklan sebuah operator ponsel.

Sering kali kita lupa. Kita sudah ketuk rumah orang lain, lalu bicara tidak dengan santun. Ada yang memberi advis: kalau kita bicara dengan lawan bicara kita, anggaplah seperti kita saat itu sedang bicara langsung dengannya, dengan tersenyum dan suara yang ramah.
Saya setuju. Ini lebih baik. Berbuat baik kepada orang-orang lain, tidak ada salahnya bukan?

Minggu, Februari 01, 2009

Kalium dalam tubuh



Ketika kita belajar Ilmu Kimia, kita mengenal bermacam-macam unsur kimia, termasuk Natrium ( Na ), Magnesium ( Mg ), Chlorida ( Cl ), Calsium ( Ca ), Kalium ( K ) dll.
Na, Mg, K merupakan eletrolit yang penting dalam tubuh manusia.

Garam dapur atau NaCl sebagai zat untuk memberi rasa asin pada makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Orang yang ngasrep atau tidak makan garam, dalam beberapa hari saja tubuhnya akan terasa lemas.

Kadar Calsium dan Magnesium yang menurun dalam darah kita akan menyebabkan keluhan kramp atau kejang pada otot-otot anggota gerak kita.

Menurunnya kadar K dalam darah akan menyebabkan: badan terasa lemes, mual, tidak selera makan bahkan muntah-muntah. Kadar normal K darah berkisar antara: 3,5 – 5,5 m%.

Saya sering menjumpai pasien yang tidak suka Sayuran dan Buah-buahan. Mereka lebih suka makan dengan lauk pauk: Ikan, Daging dan sejenisnya. Mereka tergolong Carnivora, pemakan daging. Mereka yang suka makan sayuran, Buah-buahan tergolong Herbivora, pemakan tumbuh-tumbuhan. Mereka yang suka daging dan sayuran tergolong Omnivora, pemakan segala.

Pasien yang Carnivora sering mengeluh Sembelit atau susah buang air besar. Mereka dapat b.a.b. 3-4 hari sekali dengan konsistensi tinja yang keras. Sembelit akan menyebabkan kita tidak merasa nyaman. Perut terasa selalu penuh. Lama jongkok, kok tidak keluar-keluar. Cara mengatasinya mudah yaitu banyak makan sayuran dan buah-buahan juga.

Pasien yang Herbivora, jarang mengalami Sembelit. Bahkan orang yang banyak mengkonsumsi Sayur dan Buah yang diblender mengalami Diare. Jadi kita harus seimbang dalam mengkonsumsi. Semua ada waktunya. Semua ada batasnya.

Sayuran dan Buah-buahan mempunyai manfaat bagi pencernaan kita yaitu dalam:
1. memperlancar gerakan peristaltik usus. Serat nabati yang ada dalam rongga usus kecil dan usus besar akan merangsang meningkatnya gerakan peristaltik usus sehingga isi usus akan lebih mudah sampai di akhir usus besar yaitu anus.
2. Sayuran dan buah-buahan merupakan sumber bagi Vitamin dan Mineral yang gratis yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita.

Dalam mencukupi kebutuhan Vitamin dan Mineral sehari-hari, saya lebih suka mengkonsumsi sumber alami yaitu sayur dan buah-buahan yang banyak dijual di pasar tradiosionil atau hasil kebun di belakang rumah, dari pada minum Tablet / kapsul multvitamin dan multimineral produksi pabrik obat.

Berikut satu kisah dimana peranan mineral Kalium sangat berperan dalam kehidupan kita. Kebetulan kisah ini menyangkut Ibu kandung saya sendiri yang sudah memasuki usia lanjut ( Lansia ), 80 tahun ( saat kisah ini terjadi, 2008 ).

Sejak beberapa hari Ibu saya mengeluh perut mual dan tidak selera makan. Lauk apa saja tidak menggugah selera makannya. Yang cukup mengkhawatirkan adalah keluhan mual dan muntah. Setelah berunding dengan adik-adik saya yang berdomisili di luar kota, akhirnya kami memutuskan lebih baik segera membawa Ibu kami ke Rumah Sakit terdekat di kota kami.

Ibu kami dirawat oleh Teman Sejawat yang Ahli Penyakit Dalam. Setelah dilakukan pemeriksaan darah terhadap semua zat yang dianggap perlu secara berulang-ulang, diketahui bahwa Ibu kami mempunyai kadar Kalium darah yang rendah ( 2,0 mg% ). Ibu kami mendapat infus cairan yang mengandung Kalium selama 3 hari dan dilanjutkan dengan resep tablet Kalium yang diminum. Setelah kadar K mendekati nilai normal, keluhan mual dan muntah berkurang banyak. Ibu kami sudah dapat makan dan tidak muntah. Sedikit rasa mual masih ada.

Enam hari di rawat di RS, membuat Ibu kami merasa tidak nyaman, inggin segera pulang agar biaya perawatan tidak semakan membesar katanya, padahal kami anak-anak sudah menyiapkan biaya untuk hal itu.

Hari Minggu, ketika kami besuk Ibu di RS, beliau berkata dengan memaksa agar hari ini juga harus pulang.
Kalau ada pasein yang minta pulang, saya selalu mengingat 2 hal yaitu: pulang ke rumah Bapak ( surga ) atau pulang ke rumah sendiri.
Setelah bergumul dalam hati dan pikiran, saya berpendapat bahwa Ibu kami memang ingin pulang ke rumah sendiri, berdasarkan data medis yang makin membaik. Saya minta pulang paksa kepada Dokter yang merawat Ibu kami. Saya menanda tangani Surat yang diperlukan.

Setiba di rumah, kami melihat Ibu merasa lebih nyaman dan kondisi fisiknya cepat pulih kembali. Rupanya faktor psikologis sangat berperan dalam kesembuhan penyakit pasien. 3 hari kemudian Ibu kami sudah normal dalam hal makan, buang air besar dan bahkan sudah minta mandi sendiri. Luar biasa…

Peranan Kalium besar sekali. Kalau dipikir-pikir, setiap hari Ibu kami makan buah-buahan sperti: pisang, pepaya, mentinum, jeruk dll. Kok bisa menderita Hipokalemi ( menurunnya kadar Kalium darah ). Mungkin faktor usia lanjut juga berperan dalam keseimbangan mineral dalam tubuhnya. Fungsi semua organ tubuh sudah banyak menurun.

Nah… bagi anda bila suatu saat mengalami badan lemah, mual, tidak selera makan, muntah-muntah. Jangan lupa mungkin anda menderita Hipokalemi. Obatnya mudah: makanlah Pisang setiap hari. Buah Pisang merupakan sumber K yang mudah didapat, murah harganya, enak rasanya. Seenak makan Pisang Goreng dan teh hangat, saat saya menulis artikel ini.

2 Kali Suntik


Kisah ini cukup unik.
Banyak pasien saya kalau datang berobat, minta suntik. Mereka beralasan kalau disuntik, keluhan mereka akan cepat reda, misalnya keluhan demam disuntik antipiterika ( pereda demam ), pegel linu disuntik analgetika ( pereda nyeri ), tidak selera makan disuntik vitamin B kompleks ( dalam waktu setengah jam pasien akan timbul selera makan ).

Pernah ada pasien seorang anak usia 6 tahun, yang datang berobat dengan keluhan demam dan batuk pilek. Ketika saya tidak menyuntiknya ( jarang saya menyuntik pasien anak ), pasien ini berkata kepada Ibu yang mengantarnya “Bu, kalau berobat ke Dokter dan tidak disuntik, kita seperti berobat ke Dukun ya Bu!”
Apa yang saya perbuat?
Saya berkata kepada pasien dan Ibunya untuk memberi sugesti “ Ibu, si Udin ( bukan nama sebenarnya ) tidak perlu disuntik, cukup minum obat dengan resep saya ini. Kalau dalam 5 hari belum sembuh, boleh datang kontrol lagi dan gratis.
Ibu dan Udin ternyata tidak datang lagi. Mungkin sembuh atau pindah Dokter atau pergi ke Dukun. Semoga kemungkinan yang pertama itulah yang terjadi. Amin.

Kisah dibawah ini terjadi setahun yang lalu.
Suatu sore datang berobat seorang pelaut diantar seorang Tukang Becak.
Pak Ali ( bukan nama sebenarnya ) mengeluh: demam sejak 3 hari, badannya pegel linu, ada sedikit batuk. Pada pemeriksaan fisik: suhu sedikit meninggi, lain-lain dalam batas normal. Pak A menderita Flu. Sejak 3 hari kapal layarnya berlayar dari Pulau Madura ke pelabuhan kota Cirebon dengan cuaca yang panas.

Setelah dilakukan anamnesa ( tanya jawab riwayat penyakit ) dan pemeriksaan fisik membuat Diagnosa ISPA / Flu, saya akan membuat resep obat sambil berkata “ Sudah Pak, silahkan turun.”

Pak A berkata “ Saya minta disuntik, Dok.”
Saya menjawab “ Pak, tidak usah disunik, minum obat resep ini saja pasti sembuh!”
“Saya kalau berobat di Surabaya, Dokter selalu suntik saya.”
Dalam hati saya berkata yang jadi dokter saya atau dia sih. Kalau tidak disuntik, pasien kapok dan bisa tidak datang berobat lagi. Kalau disuntik, kok sepertinya tidak perlu benar pasien ini disuntik. Akhirnya, ya okelah, saya suntik Vitamin B12 saja.
“Baik, pak saya suntik.”

Setelah Pak A disuntik, ia tetap tidak mau turun dari bed pemeriksaan.
Ia berkata “ Dok, suntik sekali lagi.”
Glek….jengkel juga menghadapi pasien yang satu ini.
“Kalau 2 kali suntik, Bapak harus bayar dobel” sambil guyon. Eh dianggap serius.
“Boleh, Dok. Berapa Dokter minta” Tutur katanya yang lugas sepertinya cocok bagi orang yang berasal dari P. Madura. Setelah turun dari bed, ia menyingkap kain sarung yang dipakainya. Nampak celana kolor yang berkantung tebal. Rupanya di dalam kantung itu berisi segepok uang dua puluh ribuan.
“Satu kali suntik dua puluh ribu, jadi dua kali suntik empat puluh ribu rupiah.” Saya berkata sambil guyon. Pak A menyodorkan dua lembar dua puluh ribuan.

Setelah saya suntik dengan obat analgetika, wajah Pak A cerah. Ia merasa sudah berobat, sudah disuntik 2 kali dan pasti penyakitnya akan segera sembuh.
“Ini Pak, resep obat yang harus dibeli di Apotik. Bapak bisa minta diantar oleh Tukang Becak yang sedang menunggu Bapak.”

Setelah pak A keluar dari Ruang periksa, saya membatin: kalau ada sepuluh pasien yang demikian, hari ini saya tidak perlu lama-lama buka praktek. Sore itu pengalaman saya bertambah satu lagi.

Ketinggalan Dompet


Kisah ini terjadi sudah lama, sekitar 5 tahun yang lalu.

Suatu malam sekitar pukul 22.30 rumah kami di ketok seseorang. Saya melihat ada seorang Ibu yang membawa seorang anak Balita. Udin ( bukan nama sebenarnya ), usia 3 tahun, putra Ibu Aminah ( bukan nama sebenarnya ).

Saya bertanya kepada Ibu A “ Ada keperluan apa Bu?” ( tidak semua tamu yang datang akan berobat apalagi sudah larut malam begini, mungkin ada maksud lain ).

Ibu A menjawab dengan sopan “ Met malam Dok. Maaf saya menggangu, putra saya sakit demam dan berak-berak.”

Saya tidak sampai hati untuk menolak permintaan Ibu A.
Setelah saya persilahkan Ibu A dan putranya masuk ke Ruang periksa, saya segera melakukan tanya jawab ( anamnesa ) dan melakukan pemeriksaan fisik Udin. Suhu badannya cukup tinggi, turgor kulit masih baik yang berarti belum ada tanda dehidrasi ( kekurangan cairan tubuh ). Saya membuat Diagnosa sebagai Enteritis acuta ( radang usus akut / mendadak ) tanpa dehidrasi.

Ketika saya menulis sebuah resep obat, saya mendengar suara khas ketika seseorang buang air besar dan tercium bau tidak sedap. Oh.... rupanya Udin b.a.b di atas bed pemeriksaan. Ibu A segera mengangkat Udin dari bed, tanpa banyak bicara. Tampaknya Ibu A ingin membuktikan bahwa Udin benar menderita diare. Tidak ada upaya Ibu untuk sekedar membersihkan cairan tinja diatas bed.

Saya memberikan resep obat yang dapat dibeli di Apotik 24 jam di kota Cirebon.
Ketika Ibu A menerima resep obat tsb, berkata “Aduh, dompet saya ketinggalan Dok. Saya panik anak saya diare dan langsung membawanya ke rumah Dokter.”

Saya berpikir dalam hati, kalau tidak bawa dompet lalu bagaimana Ibu A ini membayar jasa Tukang Beca yang membawanya ke rumah kami dan nanti bayar harga obat di Apotik?

Saya ingin agar pasien saya segera pulang.
Lalu saya berkata “ Tidak apa-apa Bu. Besok atau lusa kalau kebetulan Ibu lewat rumah kami, titipkan saja uang biaya periksanya kepada orang di rumah kami ( pembantu atau isteri saya ).

“Baik, Dok, besok akan saya antarkan uang periksanya.” tanpa bertanya berapa yang harus ia bayarkan.

Setelah mengucapkan terima kasih, Ibu A dan Udin meninggalkan rumah kami dengan naik Becak yang sejak tadi menunggu. Segera saya membersihkan bed periksa dengan lap dan cairan lisol. Setelah membersihkan tangan saya duduk di kursi dan merenung.

Kok ada ya orang seperti Ibu A tadi.
Malam-malam minta tolong, anaknya b.a.b di bed tanpa mau membersihkan, pura-pura tidak bawa uang atau tidak mau bayar? Malam ini bukannya dapat duit, malah dapat kerjaan lagi. Dibalik kekesalan saya, saya berharap semoga Udin segera sembuh dari penyakitnya. Amin.

Oleh karena Ibu A berjanji akan membayar, maka setiap hari saya bertanya kepada pembantu saya, apakah ada seseorang yang menitipkan uang sebagai biaya periksa? Jawabnya “Belum, Pak”.

Saya tunggu sehari, seminggu, sebulan, setahun, uang itu tidak tidak juga datang. Saya sudah, mau apa lagi. Alamat pasien juga palsu.

Teman Sejawat saya yang buka praktik di tempat lain, sering bertanya sebelum memeriksa pasiennya “ Ibu/Bapak bawa uang berapa?”. Rasanya pertanyaan itu tidak etis. Kalau ia tidak bawa uang, apakah pasiennya akan diusir? Saya tidak tega berbuat seperti itu.

Minggu, Januari 25, 2009

Stroke

Selain Serangan Jantung, Stroke juga merupakan penyebab kematian yang banyak terjadi di negara kita. Penyakit Darah Tinggi ( hipertensi ) dan meningginya kadar Kolesterol ( Hiperkolesterolemi ) sering mendahului terjadi penyakit Stroke ini.

Umumnya kita menyenangi makanan yang enak. Makanan yang enak bisanya berminyak ( Empal Gentong Cirebon, Rendang, Yamien, Martabak manis / asin dll ). Tanpa kita sadari makan ini akan meninggikan kadar Kolesterol kita kalau kita tidak rajin berolah raga untuk membakar lemak tubuh.

Beberapa tahun yang lalu saya kenal dengan seorang relasi, Pak A, usia saat itu sekitar 56 tahun. Pekerjaan yang dilakukan adalah wiraswasta, menjual soft drink dan mie Baso yang cukup laris. Isterinya yang cekatan dapat diandalkan menunggu Kios makanan mereka yang dibantu beberapa asisten.

Pak A ini akhirnya berubah profesi sebagai pemijat refleksi telapak kaki pasien. Pasien yang banyak ditangani adalah penderita Stroke. Pak A mengklaim bahwa sudah banyak pasien Stroke yang sembuh setelah dipijatnya. Saya tidak bertanya sudah berapa jumlah pasien Stroke yang tertolong.

Ketika saya tanya dari mana kemampuan yang dimilikinya. Pak A menjawab ia belajar dari buku-buku Pijat Refleksi. Hebat. Di usia setangah baya, Pak A masih rajin belajar. Pak A berkilah bahwa kemampuannaya ditujukan untuk menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Saya berkomentar kepadanya bahwa profesinya bagus oleh karena untuk menolong orang lain.

Setelah lama saya tidak berjumpa dengan Pak A, maka suatu saat ketika saya bertemu dengan Pak A, saat menghadiri undangan pernikahan salah satu relasi saya. Saya perhatikan tangan kanannya yang selalu dimasukkan ke dalam saku baju jasnya. Sambil berbisik saya mendekati Pak A dan bertanya mengapa tangan kanannya selalu berada di dalam saku jas?

Pak A menjawab dengan serius bahwa saat itu ia terserang Stroke. Meskipun ringan, tangan kanannya praktis lemas dan sulit digerakkan. Untuk menutupi hal ini, ia memasukkan tangan kanannya ke dalam saku jas yang dipakainya.

Wah.. dalam hati saya berkomentar, orang yang biasa menolong Stroke, akhirnya kena Stroke juga. Hal ini dimungkinkan oleh karena ia jarang memeriksakan tekanan darah, memeriksa kadar Kolesterol darahnya dan tidak berolahraga.

Tidak berapa lama Pak A meninggal dunia. Hal ini saya baca iklan berita kematian di salah satu harian lokal dikota Cirebon. Saya masih sempat melayatnya di rumah keluarga mereka. Saya kehilangan seorang relasi, seorang tenaga penyembuh. Pada saatnya kita semua akan menghadapNya. Tuhan Maha Besar.

Dapat ayam lagi

Hari Minggu pagi ini sepulang kami dari kebaktian di Gereja, selesai sarapan dan baca koran saya duduk menghadapi layar monitor kompi saya yang merupakan saat-saat nyaman untuk mengetik artikel yang akan di publish ke Blog saya. Umumnya kisah pasien yang saya alami dalam kehidupan praktek dokter sehari-hari.

Dokter yang buka praktek di kota saat ini sudah jarang dibayar dengan barang kebutuhan sehari-hari seperti pisang, beras, ikan, ayam dll. Mungkin masih ada, termasuk kami, saya dan isteri yang dokter masih buka praktek di kota Cirebon, Jabar meskipun kami sudah pensiun dari PNS.

Sejak 1 minggu yang lalu ada pasien isteri saya, seorang wanita, 40 tahun yang menderita KM ( Kencing manis, diabetes mellitus tipe II ). Ibu H ini selain menderita KM juga mendapat penyulit / komplikasi penyakit lain, sehingga perlu mendapat suntikan obat Insulin agar kadar gula darah tidak terlalu tinggi atau dalam batas normal.

Ibu H ini mendapat suntikan Insulin sehari 2 kali, pukul 17.00 ( di tempat praktek isteri saya ) dan pagi hari ( di rumah kami ). Oleh karena saya bangun lebih pagi dari isteri saya maka saya mendapat tugas untuk memberikan suntikan tsb pada pagi hari sekitar pukul 05.00 – 05.30 agar pasien dapat makan pagi pada waktunya. Ibu H juga tidak berkeberatan kalau Insulin tsb di suntikkan di bawah kulitnya oleh saya. Ibu H bersyukur kalau ia disuntik oleh dua orang dokter, sepertinya ia mempunyai 2 orang Dokter Keluarga.

Tiap 2 hari sekali setelah disuntik Insulin Ibu H menyerahkan sebuah bingkisan berupa 2 ayam mentah segar baru dipotong yang siap di masak. Kami bilang tidak usah repot-repot bawa ayam.

Ibu H menjawab “Engga repot kok. Keponakan saya yang bawain untuk Dokter.” Maklumlah Ibu H ini pekerjaannya jualan ayam potong sejak pagi hari di suatu pasar tradisionil di kota kami. Keponakannya itu yang selalu mengantar Ibu H datang ke rumah kami / tempat praktek isteri saya. Mungkin Ibu H belum mendapat uang hasil penjualan ayam-ayamnya sehingga ongkos suntik dibayar dengan ayam potong.

Ya sudah… mau apa lagi, tidak minta tetapi mendapat ayam potong. Rejeki jangan ditolak bukan? Jadi kami saat ini jarang beli ayam potong. Kulkas kami penuh dengan daging ayam. Kami membagi ayam potong kepada Ibu saya sebagai tambahan lauk. teman nasi.

Pagi ini bertambah satu pengalaman hidup lagi.

Sabtu, Januari 24, 2009

Kue Keranjang


Hari ini saya mau menulis apa ya?

O..ya, kemarin ketika hari Jumat kunjungan saya ke Panti Wreda Kasih milik Gereja kami, seperti biasa saya memeriksa kesehatan para warga Panti.

Ketika Oma T, 68 tahun, masuk ruang periksa, ia membawa sebuah Kue Keranjang atau Dodol Cina yang berwarna coklat. Ia berkata kepada saya “ Dok, ini buat Dokter” sambil
memberikan Kue Keranjang itu.

Saya menjawab “ Wah, terima kasih Oma. Kue ini untuk Oma saja, padahal saya sudah punya kue ini di rumah.”

Oma T berkata lagi “ Tidak apa-apa, ini buat Dokter.”

Ibu D, asisiten di Panti yang hadir dalam ruang periksa berkata kepada Oma T “ Oma, kok Cuma Dokter aja yang dikasih. Itu Pak S kok tidak diberi?” sambil guyon.
( pendamping seksi kesehatan Pengurus Panti yang juga hadir dalam ruang periksa itu, yang biasa membantu saat Opa / Oma warga Panti diperkisa Dokter ).

Oma T menjawab “ Engga usahlah. Ini buat Pak dokter saja.” Sering kali Oma T kalau bicara ceplas-ceplos saja.

Wah saya jadi GR nih. Saya juga terharu, bahwa masih ada orang yang sudah lanjut usia masih ada perhatian kepada saya. Pak S hanya tersenyum saja, maklumlah orang sudah sepuh, kadang kelakukannya aneh-aneh juga.

Ketika Oma T selesai diperiksa, saya bertanya kepada Ibu D, “Dari mana Oma T punya Kue Keranjang?”

Ibu D menjawab “ Dok, kemarin ada yang besuk Oma T dan membawa beberapa Kue Keranjang. Hari Senin, 26 Januari 2009 kan Tahun Baru Imlek.”

Saya mengomentari “ O..gitu.”
Sejak bertahun-tahun melayani pemeriksaan kesehatan warga Panti, jarang ada Opa / Oma yang memberikan sesuatu kepada saya, selain tatapan ucapan terima kasih bagi saya. Sayapun tidak berharap akan hal itu. Saya hanya melayani orang lain yang membutuhkan pertolongan. Jadi kalau Oma T saat itu memberikan sesuatu ( Kue Keranjang ) kepada saya, ini merupakan suatu pemberian yang luar biasa. Ia memberi dari kondisi minim yang ia miliki.

Saya bersyukur dan mendoakan agar semua warga Panti ini mendapat berkat dari Tuhan. Amin.-

Rabu, Januari 21, 2009

Kencing Manis

Penyakit Kencing Manis ( Diabetes mellitus ) termasuk suatu penyakit yang sering dijumpai di tempat praktek Dokter. KM dapat pada usia dewasa ( tipe II ) dan dapat pada usia anak ( tipe I ). KM bersifat familier atau keturunan artinya bila salah satu atau kedua-dua orang tuanya ( ayah dan atau ibunya ) menderita KM maka anak-anaknya juga dapat mengidap KM.

Gejala KM biasanya: polifagia ( banyak makan ), polidipsi ( banyak minum ), poliuri ( banyak pipis ), pruritus vulva ( gatal-gatal alat kelamin pada wanita), parestesi ( kesemutan ). Luka yang lama sembuh. Urine akan didatangi semut kerena terdapat adanya glukose ( gula 0 di dalam urine ( glukosuri ). Pada wanita dengan penyakit KM seringkali mempunyai bayi yang lebih besar dari 4.000 gram ( giant baby ).

Penyakit KM sering kali disertai dengan penyakit lain seperti infeksi Paru-paru yang sering berupa TBC paru-paru. Jadi bila ada pasien yang menderita KM , maka jangan lupa diperiksa juga Paru-paru, apakah menderita TBC atau tidak. Demikian pula sebaliknya bila penderita mengidap TBC Paru, maka jangan lupa diperiksa juga kadar Gula darahnya, apakah menderita KM atau tidak.

Saya tidak akan membicarakan penyakit KM ini lebih rinci, tetapi saya akan menceritakan kisah salah satu pasien KM ini.

2 bulan yang lalu, pada hari Minggu sekitar pukul 11.30 saya mendapat telepon dari suami Ny. E, sekitar 50 tahun yang meminta kedatangan saya ke rumah Ny. E. Ny. E yang menderita KM sejak setengah jam yang lalu mengeluh: badan lemas, agak pusing, tangan dan kaki kesemutan, gelisah.

Ny. E dan suaminya merupakan kenalan dekat saya. Saat itu suami Ny. E ( Tn. K ) menelepon saya dari Jakarta oleh karena ada suatu keperluan di kota ini. Tn. K minta saya datang dan kalau perlu membawa isterinya ke Rumah Sakit. Saja jawab, saya akan memeriksa Ny. E dulu sebelum melakukan pesannya.

Lima belas menit kemudian saya sudah tiba di rumah mereka. Ny. E di temani kakak perempuannya ( Ny. B ). Saya memeriksa kondisi kesehatan Ny. E: sadar, dapat diajak bicara, agak gelisah, mengeluh sedikit pusing, tekanan darah: 110/80 mm Hg, jantung, paru-paru dan perut dalam batas normal, anggota gerak mengalami kesemutan.

Dalam tanya jawab dengan pasien, saya mendapat informasi bahwa Ny. E pagi itu hanya sedikit sarapan, tetapi tablet anti KM tetap diminum, karena ingin lekas sembuh atau kadar gula darahnya menurun. Semua data informasi dan data fisik yang saya dapatkan saya membuat diagnosa penyakit Ny. E adalah keadaan hipoglikemi ( kadar gula darah yang menurun ). Keadaan hipoglikemia yang tidak segera diatasi akan menyebabkan pasien mengalami Shok hipoglikemi. Keadaan shok apapun jenisnya dapat mengancam jiwa pasien.

Saya minta kepada Ny. B agar segera menyiapkan air teh manis, segelas air teh dengan 2 sendok makan gula pasir. Ny. B ragu-ragu memenuhi permintaan saya.

“Dok, pasien Kencing Manis kok diberi minum air manis. Setahu saya pasien KM tidak boleh minum yang manis-manis.”

Saya menjawab “ menurut Dokter, keadaan kadar gula yang menurun pada pasien KM wajib segera diberi minum air manis atau diinfus glukose. Disini tidak ada cairan infus, jadi pakai air teh manis saja dahulu. Ayo cepat bertindak, kalau adik anda ingin sembuh!”

Dengan ogah-ogahan Ny. B segera menyiapkan segelas air the manis yang hangat. Saya memberikan air teh manis sesendok demi sesendok kepada Ny. E. Setelah saya yakin ia dapat menelan dengan baik, maka saya minta agar sisa air teh tsb dihabiskan saja. Saya minta segelas air teh manis hangat lagi kepada Ny. B, bila mana diperlukan.

Saya mengajak Ny. E bicara tentang suaminya: kapan kembali dari Jakarta, naik apa ke Jakarta, kemana pergi putrinya pada hari Minggu itu dll agar Ny. E tetap sadar. Setelah sepuluh menit kemudian Ny. E berkata kepada saya dan Ny. B bahwa ia merasa badannya lebih segar, pusing menghilang, dan sesemuatan sudah jauh berkurang. Saya bersyukur, kondisi pasien yang KM ini dengan cepat membaik dari keadaan hipoglikeminya.

Saya langsung melaporkan via handphone tentang keadaan Ny. E ini kepada suaminya, Tn. K di Jakarta, bahwa kondisi isterinya sudah membaik dan tidak perlu dibawa ke RS. Tn. K tiba di Cirebon malam hari dan ia mengabarkan kepada saya bahwa ia akan membawa isterinya besok pagi ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Bandung. Saya jawab, iya itu lebih baik.

Keesokan harinya, menjelang malam mereka mengunjungi rumah saya. Tn. K mengabarkan bahwa mereka sudah bertemu dengan Teman Sejawat Dokter tsb di Bandung dan membenarkan tindakan saya yang memberi air teh manis kepada isterinya saat itu dimana dalam keadaan hipoglikemi yang kalau tidak ditolong akan menyebabkan Shok. Dokter Spesialis tsb banyak memberikan petunjuk tentang penyakit KM kepoada Ny. E. Ny. E sekarang sudah lebih banyak mengerti tentang penyakitnya. Makan seperti biasa dan minum obat anti KM. Jangan makan sedikit atau tidak makan sama sekali, tetapi obat anti KM tetap diminum, akibatnya kadar Gula darah akan menurun dengan cepat dan terjadilah hipoglikemi.

Diakhir kisah ini saya bersyukur semuanya dapat diatasi dan pasien tidak mengalami komplikasi.

Kamis, Januari 08, 2009

Hobi meminta


Kejadian yang saya alami ini sudah sering terjadi. Semula saya anggap masih wajar tetapi akhirnya kebiasaan meminta ini saya anggap tidak baik.

Minggu yang lalu datanglah ke rumah kami seorang laki-laki, sekitar 50 tahun. Pak Alimin ( bukan nama sebenarnya ) datang dengan mengendarai sebuah motor bebek. Setelah bersalaman dengan saya, Pak A bertanya kepada saya “ Pak Dokter masih ingat saya?”
Seharusnya ia datang dengan memeperkenalkan diri, siapa dia dll.
Datang-datang main tebak-tebakan. Suatu tindakan yang tidak saya sukai.

Saya jawab “ Entahlah, saya lupa, anda siapa?”
Dijawab demikian Pak A menjawab “Saya kan kenal baik dengan ayah Pak Dokter.”
“Lalu?”

“Begni Dok, kami mau menikahkan anak saya di kota Bandung.”
Saya jawab “:Baguslah kalau anaknya mau menikah” ( dalam hati saya berkata orang yang mempunyai keinginan untuk menikah masih tergolong normal ).
“Tapi kami tidak bikin Kartu Undangan. Mohon bantuannya”

Saya menjawab ”Mestinya kalau orang mau hajatan dan mau mengundang relasi ya harus kirim Kartu Undangan. Itupun belum dijamin semua yang dikirimi Kartu Undanagn dapat hadir.”

Pak A menjawab “Karena hajatannya di Bandung ( 130 Km dari Cirebon ) mungkin Bapak tidak bisa hadir, maka kami mohon sumbangannya saja.”

Glek… wah enak bener ya ngibulin orang. Saya tidak percaya kalau saya beri sumbangan, apakah uang itu benar-benar dipakai untuk hajatan atau untuk keperluan yang lain.

Orangnya perlente, naik motor bebek lagi ( mungkin juga pinjaman ). Mau hajatan kok minta sumbangannya seperti itu. Mana orang percaya sih? Saya tidak melayani permintannya. Saya pergi meningalkannya.

Pak A bertanya “ Pak, Pak, bagaimana urusan saya nih?
Saya jawab sekenanya “ Ah.. kenal juga tidak. Minta sumbangan kok kayak gitu. Saya ada keperluan lain nih.”