Kamis, Mei 14, 2015

Mialgia


Milagia atau rasa sakit pada otot, sering didapatkan pada seseorang setelah bekerja berat atau berolah raga.

Suatu sore datang Pak U, 45 tahun. Keluhannya tadi siang sampai saat ia berobat, dada sebelah kirinya terasa sakit.

Pada pemeriksaan didapat: tekanan darah 130/80 mmHg ( normal ), Jantung- Paru-paru: dalam batas normal. Perabaan pada daerah dada sebelah kiri memberikan sensasi nyeri.

Semula saya akan merujuk pasien ke Laboratorium Klinik / Klinik Rontgen untuk meminta pemeriksaan ECG ( Electro Cardiography ), tetapi pasien menolak karena katanya tidak ada biaya.

Lalu saya bertanya kepada pasien “Pak, sebelum merasa nyeri dada apakah Bapak telah bekerja berat?”

Ia menjawab “Betul Pak Dokter. Tadi pagi saya bekerja di kebun. Saya mencangkul tanah untuk menanam beberapa pohon. Saya tidak biasa bekerja di kebun, apalagi mengcangkul tanah. Eh..siang hari saya merasa nyeri pada dada sebelah kiri. Saya khawatir saya mendapat serangan Jantung, Dok.”

Nah.. sekarang saya paham bahwa rasa nyeri dada sebelah kirinya ini bukan gangguan Jantung seperti penyempitan pembuluh darah koroner jantung.

Saya berkata lagi kepada pasien ini’ O..begitu ya Pak. Baiklah nanti saya buatkan resep obat untuk menghilangkan rasa nyeri ini ya Pak.”

Segera saya menuliskan resep obat berupa: tablet pain killer, obat penenang ( agar dapat tidur ) dan multivitamin untuk pasien saya ini.

Semoga kesehatan Pak U pulih kembali. Amin.

Minggu, Mei 10, 2015

Tidak selera makan


Bulan yang lalu, sore hari datang Ibu M, 35 tahun yang mengantar putrinya, ML, usia 3 tahun.

Keluhan Ibu M yaitu putri satu-satunya ini sudah 1 minggu ini tidak selera makan. Tidak ada batuk atau demam. Kalau makan hanya lauk pauknya saja yang dimakan. Sepertinya tidak gairah makan seperti biasanya.

Pada pemeriksaan fisik ML dalam batas normal.

Setelah berpikir akhirnya saya membuat resep sirop obat Cacing, pirantel pamoate 10 mg/hg BB, yg diberikan sekaligus dan dapat diulang setiap 3 bulan sekali pemberian.

Selain itu juga saya memberikan sirop multivitamin, untuk merangsang selera makannya.

2 minggu kemudian Ibu M datang berobat lagi untuk diri sendiri yang menderita demam, batuk dan pilek. Setelah saya memberikan resep obat untuknya, saya bertanya bagaimana hasil pengobataan putrinya yang saya beri resep.

Ibu M melaporkan bahwa setelah minum obat yang saya berikan, keesokan harinya selera makannya kembali normal dan putrinya mau makan seperti sedia kala. Ibu M mengucapkan terima kasih atas pemberian resep obat tadi.

Dalam hati saya bersyukur kalau pasien cilik saya ini kembali normal selera makannya.
Pada pasien anak-anak saya sering kali memberikan obat Cacing. Bila ada Cacing dalam tubuhnya maka akan membantu pencernannya. Bila tidak ada Cacing maka pemberian obat cacing ini tidak membahayakan.

Rabu, Mei 06, 2015

Paronychia



Pagi ini sekitar pukul 07.15 datanglah suami-isteri.
Sang suami Tn. R (pasien langganan isteri saya) bertanya “Ibu dokter ada (isteri saya), Dok?”

Saya menjawab “Belum datang Om, ia sedang senam. Mungkin sebentar lagi pulang.”

“Engga apa-apalah sama dokter saja.”

Ia berkata lagi “Ini jari tangan isteri saya kok bengkak dan nyeri.”

“Mari masuk Om dan Tante,” kata saya.

Di ruang periksa, saya melihat jari tengah tangan kiri Ny. I, 65 tahun ini tampak bengkak dan berwarna coklat. Rupanya habis dibalur dengan larutan tertentu.
Saya bertanya “Apakah tangan Tante kebentur sesuatu atau ketusuk benda tajam sebelumnya?”

Ny. I menjawab “Tidak dok.” Mungkin ia lupa, tetapi yang jelas jari tangan ini tampak ada peradangan kulit disekitar kukunya dan bengkak (paronychia).

Saat saya raba jari tangan tersebut, Ny. I mengaduh karena kesakitan.

Saya mengukur tekanan darahnya dan ternyata agak tinggi 160/90 mmHg.

Segera saya membuat sebuah resep untuk Ny. I ini berupa krim kulit antibiotika, kapsul antibiotika, tablet anti peradangan , tablet pain killer dan tablet anti hipertensi.

“Krim kulitnya dioleskan sehari 3 kali ya Tante. Minggu depan kontrol lagi. “ kata saya.

Tn R berkata “Terima kasih ya dokter.”

Setelah itu mereka meninggalkan ruang periksa.

Minggu, Mei 03, 2015

Opa dan Oma Panti Wreda makan siang di Rumah Makan Laksana




Hari Minggu 3 Mei 2015 kami Pengurus Panti Wreda Kasih Cirebon mengajak Opa dan Oma yang tinggal di Panti untuk makan siang sebagai rekreasi di Rumah Makan Laksana, Sangkan Urip, Kabupaten Kuningan. Lokasinya sekitar 25 km dari kota Cirebon, Jawa Barat. Udara disini terasa lebih sejuk dari kota Cirebon karena dekat dengan Gunung Ciremai, gunung yang tertinggi di Jawa Barat.

Opa dan Oma yang ikut berjumlah 9 orang dari 12 orang seluruhnya. Pengurus Panti yang ikut berjumlah 10 orang. Selain itu juga turut dalam rombongan: 4 orang karyawan, Ibu Pendeta, Ibu Panti dan seorang supir mobil Gereja. Rombongan naik 1 mobil gereja dan 2 mobil milik Pengurus Panti.

Sepulang dari Kebaktian di Gereja pukul 11.00, rombongan berkumpul di Gedung Panti, Jl. G. Merbabu, Cirebon. Pukul 11.30 rombongan berangkat menuju Sangkan Urip. Dalam perjalanan kami melewati beberapa Rumah Makan yang banyak dikunjungi oleh orang-orang yang akan bersantap siang.

Setiba di Rumah Makan Laksana, rombongan langsung menempati kursi-kursi menghadap meja makan yang sudah ditata untuk rombongan kami. Sehari sebelumnya Ibu ML sudah booking tempat dan hidangan untuk rombongan kami. Tidak berapa lama kami sudah menghadapi hidangan sudah dipesan sebelumnya. Ibu Pendeta S memimpin doa sebelum makan siang ini. Selesai berdoa rombongan segera menyantap hidangan yang telah tersedia yang berupa Nasi Putih, Gurame bakar, Sop Ikan gurame, Karedok, Mie goreng, Goreng Tahu dan Tempe, Sambel dan Air Teh hangat.

Makan siang sudah tiba dan perut sudah lapar, maka cocoklah makan siang kami ini.
Sebelum santap siang dimulai, Ibu Pendeta S. memimpin doa. Penulis sebelum menyantap hidangan mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan.

Kami bergembira melihat para Opa dan Oma dapat menikmati hidangan yang tersedia. Mereka tampak gembira dapat menikmati hidangan makan siang dalam usia lanjut mereka.

Sambil ngobrol kami, para pengurus juga menikmati makan siang ini.
Kami melihat ada banyak tamu yang makan siang di Rumah Makan ini. Waktu hari libur, hari Minggu disini ada banyak tamu yang makan.

Selesai kami menikmati makan siang ini, kami berfoto bersama. Penulis yang membawa alat Tripoid untuk mendukung sebuah kamera yang disetel otomatis, yang dalam waktu 10 detik akan mengambil foto bersama kami.

Setelah dirasa cukup maka rombongan kembali ke kota Cirebon. Dalam perjalanan pulang, saya melihat para pengurus Panti yang ikut mobil penulis ada yang ngobrol dan ada pula yang mengantuk menikmati suara musik Compact Disk mobil dalam udara yang sejuk dari AC mobil.

Sekitar pukul 14.00 rombongan tiba dengan selamat di Gedung Panti. Kami bersyukur kepada Tuhan yang sudah menyertai rombongan dan melindungi kami dalam perjalanan makan siang kami ini.

Sampai jumpa lagi di kesempatan yang akan datang.


Jumat, Mei 01, 2015

Mau berobat di hari libur



Hari ini 1 Mei 2015 hari libur nasional, Hari Buruh Internasional.
Kami juga tidak buka praktik di rumah.

Pagi ini sekitar pukul 08.30 saat saya membersihkan halaman rumah ada seorang wanita sekitar usia 30 tahun, turun dari mobilnya. Ia mengetuk-ngetuk pagar halaman rumah kami.

Saya bertanya “Ada keperluan apa Bu?”

Ia menjawab “Ibu dokternya (isteri saya), ada Pak?”

“Ada keperluan apa, Bu? Kalau mau berobat ini hari libur,” saya berkata kepadanya sambil membukakan pintu halaman.

“Iya saya mau berobat.” Seolah ia tidak mendengar bahwa hari ini adalah hari libur.

Akhirnya saya masuk ke dalam rumah dan melaporkan kepada isteri saya bahwa ada seorang wanita yang ingin berobat. Isteri saya melalukan pemeriksaan pasien di ruang periksa pada saat hari libur.

-----

Sore hari sekitar pukul 17.00 saat kami melihat siaran Metro TV, terdengar suara dering handphone saya.

Saya nendengar suara seorang pria “Halo dokter Basuki ya.”

Saya menjawab “Iya benar. Bapak siapa ya?”

“Saya pasien yang mau berobat dan sudah berada di depan pintu halaman rumah dokter.”

Saya keluar rumah dan melihat seorang pria usia sekitar 40 tahun naik sepeda motor.

“Bapak mau berobat?” saya bertanya kepadanya. Sudah kepalang tanggung, pasiennya sudah berada di depan rumah kami.

“Mari masuk, Pak,“ kata saya.

Saya bertanya kepada pasien saya ini “Bapak tahu dari mana nomer handphone saya?”

Ia menjawab “Saya tahu dari teman saya. Saya sedang memancing ikan di sebuah kolam pemancingan dan saya merasa gatal di wajah saya, dok”.

Saya melihat kulit wajah dan kepalanya tampak kemerahan dan ada bintik-bintik kemerahan.

Saya bertanya “Bapak habis mandi dan keramas dengan sampho merk tertentu?”

Pasien saya menjawab “Tidak,dok. Saya kemarin habis mencat rambut saya agar uban saya tidak kelihatan dan hari ini kulit saya terasa gatal dan timbul bintik-bintik.”

Lalu saya membuat diagnosa sebagai Kontak dermatitis (radang kulit akibat kontak dengan zat kimia tertentu).

Sambil membuat resep krim kulit dan tablet anti peradangan, saya berkata “Pak, lain kali jangan mencat rambut bapak dengan cat rambut lagi. Biarkan saja uban itu. Uban kan proses alami yang mengikuti umur.”

Pasien saya ini menjawab “Benar, dok. Saya kapok tidak mau menyemir rambut lagi.”

----

Kejadian seperti ini pasien yang mau berobat di hari libur bukan kali ini saja, sudah sering kali terjadi. Ya ini resiko kalau buka praktik di rumah sendiri. Jadi bila kami ada di rumah, bisa dimintai bantuan pasien yang mau berobat. Selain itu juga kami merasa rejeki jangan ditolak.

Kalau buka praktik di Apotik, maka bila hari libur, Apotik tutup dan dokter yang praktik disitu juga tutup dan pasien tidak bisa meminta bantuan dokternya.

Rabu, April 29, 2015

Tidak mau diajak berobat


2 hari yang lalu datang Pak dan Ibu A ke tempat praktik saya.

Saya bertanya “Siapa yang mau berobat?”

Pak A menjawab “ Begini, Dok, sebenarnya yang mau berobat ayah saya. Saat ayah saya mau diajak berobat ke Dokter, ia tidak mau.”

Saya bertanya lagi “Emang ayah anda sakit apa?”

Pak A menjawab lagi “ Saat kami menengok ayah saya. Ayah saya yang pasien Dokter ( ayahnya, Pak C, 70 tahunan, pernah berobat kepada saya ), ayah saya mengeluh katanya badannya terasa lemas sehingga susah berganti pakaian.’

Saya berkata lagi “Mungkin belum makan, sehingga badannya lemas karena kadar gula darahnya menurun.”

“Tidak, Dok , ayah saya katanya baru saja makan siang. Ayah saya juga tidak menderita penyakit Kencing Manis. Sampai saat ini ayah saya masih tetap minum kaplet untuk gangguan kelenjar Prostat yang diresepkan oleh Dokter ( ayahnya menderita BPH, Benign Prostat Hypertrophy, pembesaran kelenjar Prostat karena usia lanjut ) dan buang air kecilnya normal.”

Saya berkata lagi “Jadi bagaimana? Apa yang dapat saya bantu untuk ayah anda?”

Pak dan Ibu A saling berpandangan. Tampaknya mereka bingung juga atas pertanyaan saya itu.

Akhirnya Pak A berkata “Dok, kami minta resep obat apa yang harus diminum oleh ayah saya.”

“Saya tidak memeriksa ayah anda, bagaimana saya dapat menulis resep untuknya,” jawab saya sambil tersenyum.

Akhirnya saya menuliskan sebuah resep obat yang berisi Multivitamin, multimineral dan kapsul Anti oksidan untuk Pak C ini.

Setelah Pak dan Ibu A meninggalkan ruang periksa, saya membatin, benar ada banyak orang usia lanjut ( Lansia) yang merasa ada gangguan kesehatan, tetapi saat keluarganya mengajak berobat kepada Dokter, mereka tidak mau. Alasannya bermacam-macam, seperti: tidak ada biaya untuk berobat ( padahal anaknya bersedia mengeluarkan biaya untuk berobat ), engga apa-apa lah nanti juga akan baik sendiri, penyakit saya tidak serius dan lain-lain alasan. Padahal mereka ingin hidup sehat, tetapi kalau mengalami gangguan kesehatan, mengapa mereka tidak mau berobat? Sukar memahami pikiran Lansia seperti ini.

Pernah ada sebuah keluarga yang datang ke tempat praktik saya dan minta agar saya datang ke rumah orang tuanya untuk memeriksa kesehatan orang tua mereka, sebab mereka tidak mau diajak berobat kepada dokter. Mungkin cara ini yang paling bijaksana sehingga dokter dapat memeriksa kesehatan orang tua yang tidak mau diajak berobat.

Apakah anda pernah mengalami hal yang sama, saat orang tua anda mengalami gangguan kesehatan?


Minggu, Desember 21, 2014

Belitung Tour (02)


17 Desember 2014:

Pukul 07.00 kami menikmati sarapan pagi di Hotel Beliton, lokasinya berada disebelah kolam renang. Sayang kami tidak ada kesempatan untuk berenang disini. Disini ada menu: Kupat dengan kuah sayuran, Nasi Kuning khas Belitung, Roti Tawar yang dapat dibakar ( toast ) dengan diolesi selai Nanas / Strawberi. Minuman tersedia Teh hangat, Kopi, Juice Strawberi, Orange dan lain-lain makanan pagi.


Pukul 07.45 kami menuju Pantai Belayar, ditengah laut kami berfoto di kumpulan batu-batu. Di kejauhan tampak Pulau Babi, lalu kami menuju ke tepi Pulau Lengkuas. Disini ada kompleks bangunan sebuah Mercu suar. Di tepi pulau ini perahu kami berhenti.

Kami terjun kelaut dengan alat snockling untuk melihat ikan-ikan yang banyak di laut. Sekitar 10 menitan kami di laut, turun hujan sangat lebat. Kami segera menuju ke bangunan di kompleks Mercu suar ini untuk berteduh. Disini ada terlihat rombongan


tour yang lain. Rupanya banyak orang yang mengunjungi pulau ini. Disini juga tersedia dapur, toilet dan beberapa ruangan lain yang tampak kosong. Setengah jam kemudian hujan berhenti dan kami segera menuju pulau lain yaitu Pulau Kepayang untuk menikmati makan siang kami berupa Nasi Putih Ikan bakar dan Sop kuah ikan laut lain. Kami minum Teh hangat.

Sekitar pukul 14.00 kami kembali ke kota Tanjung Pandan dan menuju sebuah daerah yang merupakan daerah tambang Kaolin, suatu serbuk berwarna putih. Tempatnya terletak disebuah jalan raya. Di sebrang jalan raya ini ada sebuah danau yang dinamai Danau Biru karena memang warna airnya biru meskipun diatas tampak awan mendung berwarna


kehitaman dan tidak ada sinar matahari yang terang. Konon danau ini cukup dalam. Danau ini terbentuk dari bekas galian tambang yang tidak diratakan kembali. Kalau hujan turun akan masuk ke bekas galian ini. Danau ini cukup luas, mungkin sekitar 3-4 kali lapangan sepak bola.

Selanjutnya kami menuju ke toko yang menjual sovenir di jalan Air Saga No. 8, Tanjung Pandan. Toko disini cukup besar ( 2 ruko dijadikan satu ) dan dijual T shirt berlogo macam-macam khas Belitung, gantungan kunci, pakaian wanita dan lain-lain barang sovenir. Kami membeli secukupnya saja.

Saat pulang ke hotel kami diajak makan Bakmie khas Belitung. Rumah Makan ini yang tidak jauh dari Hotel Beliton. Disini kami makan Bakmie Belitung. Bakmie ini berkuah agak kental berwarna coklat, berisi udang, irisan daging ayam dan potongan kentang. Rasanya juga nikmat. Kami melihat di dinding ada banyak pigura berfoto. Kami melihat ada Foto Ibu Megawati Sukarnoputri, mantan Presiden kita. Rupanya beliau pernah makan Bakmie disini.

Pukul 17.00 kami diantar pulang ke Hotel Beliton, untuk mandi dan istirahat.

Pukul 19.00 kami dijemput untuk makan malam. Kami menuju kesebuah Rumah Makan yaitu R. M. Tempo Duluk. R.M. ini berupa sebuah rumah jaman dulu. Alat-alat makannya juga sederhana, misalnya untuk minum berupa cangkir dari bahan Alumunium, piring makan berupa piring seng, tempat nasi juga dari bahan pelastik apa adanya. Semuanya sederhana. Ada banyak pengunjung yang makan malam disini. Hidangan yang tersedia juga sederhana. Cukup nikmat juga makan malam disini.


18 Desember 2014:

Hari terakhir kami berada di Belitung ini.
Kami dijemput pukul 08.00 setelah kami sarapan pagi di hotel. Kami menuju ke sebuah mesin ATM BCA yang dekat hotel kami untuk mentransfer sisa uang Tour ke rekening Pak Afandi. Saya mengirim SMS kepadanya dan saya mendapat jawaban bahwa uang yang ditransfer sudah diterima baik. Sdr Egi memberikan surat Invoice Belitung Tour kepada saya.

Pukul 08.20 mobil Avanza segera menuju Belitung Barat menuju kota Gantong. Lama perjalanan sekitar 90 menit.

Pukul 10.00 tiba di Gantong kami segera menuju sebuah bukit tempat replikasi SD Laskar Pelangi yang pernah dibuat filmnya oleh Pak Andrea Hirata ( orang Belitung asli ). Juga ia membuat buku Novel Laskar pelangi yang menjadi best seller dan sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa.


Replika bangunan Sekolah Dasar ini sudah sangat tua dan sebuah dindingnya ditopang oleh 2 batang pohon kayu agar tidak roboh. Kami melihat ada banyak pengunjung yang mendatangi SD ini. Disini kami mengambil beberapa foto.

Pukul 10.30 kami menuju ke Musium Laskar Pelangi. Di sebuah rumah kayu dipajang banyak barang milik Pak Andrea Hirata, Foto-foto, Buku Novel Laskar Pelangi, Sepeda ontel jaman dulu, radio jaman dulu, ruangan perpustakaan, ruangan belajar mirip di Sekolah Dasar dan lain-lainnya.


Setelah puas melihat-lihat kami menuju ke desa Gantong untuk melihat rumah Pak Ahok ( Gubernur DKI saat ini ). Bangunan ini cukup besar dan dibagian belakang konon ada hotel berkamar 10 buah dan sebuah Toko Batik.

Kami bergerak menuju kota Manggar dan berhenti disebuah Rumah Makan “Pega”. RM ini khas bangunannya seperti sebuah kapal, di tepi bangunan ini terdapat sebuah danau yang cukup luas. Kami mendapat hidangan: Nasi Putih, Ikan bakar, Sop ikan dengan kuah yang khas, Ikan Bebulus Goreng Goreng ( ikannya kecil-kecil dan renyah ), Sambel dan Teh Hangat. Pengunjung RM ini ternyata juga para turis seperti kami. Ada yang datang dari kota Jakarta dan bahkan ada rombongan yang dari kota kami yaitu kota Cirebon. Kami sempat ngobrol dengan mereka. Disini turun hujan lebat. Setelah hujan reda kami bergerak menuju pantai Manggar, yaitu Pantai Nyiur Melambai.

Kami juga melewati rumah dari Pak Jusril, mantan Mentri di Kabinet SBY. Rumahnya tampak asri dan cukup besar.

Pukul 13.30 selesai sudah daerah-daerah yang kami kunjungi. Waktu sudah tiba untuk check in di Bandara Tanjung Pandan. Kami segera menuju Bandara dan setibanya di Bandara kami segera melakukan check in. Koper pakaian dan bawaan lain tidak kami masukkan ke bagasi tetapi masuk di kabin pesawat agar setiba di Bandara Sukarno-Hatta kami tidak perlu lagi menunggu keluarnya koper-koper kami, Jadi dapat lebih cepat keluar dari Bandara. Kami menunggu datangnya pesawat Sriwijaya Air dari Jakarta yang akan membawa kami kembali ke Jakarta.

Pukul 15.40 kami memasuki pesawat dan pukul 16.00 pesawat Sriwijaya Air- SJ 053 bersiap untuk lepas landas menuju Jakarta. Para penumpang mendapat hidangan air mineral dan sebuah kue Moho coklat.


Pukul 17.10 kami landing di Jakarta dengan selamat. Adik ipar kami sudah menunggu kami untuk menjemput kami. Kami segera ke rumah adik ipar kami di daerah Kelapa Gading.

Selesai sudah Belitung Tour kami. Terima kasih kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Penyayang atas perlindunganNya. Amin.-


Belitung Tour (01)


Tanggal 16 – 18 Desember 2014 saya, isteri saya dan putri kami mengikuti Belitung Tour ( www.belitungvacation.com ) selama 3D2N ( 3 hari 2 malam ). Biaya Rp. 3.000.000,-/orang. Biaya 10 % ditransfer ke rekening BCA a/n Afandi, selaku owner Belitung Tour ini, HP. 081929508893, 082177090012. Sisanya dibayar setelah kami tiba di Tanjung Pandan, Belitung Barat. Biaya ini sudah termasuk tiket pesawat Sriwijaya Air, Jakarta – Tanjung Pandan - Jakarta, jemput antar dari dan ke Bandara HAS Hananjoeddin, Tanjung Pandan, Belitung, dengan minibus Toyota Avanza, No. Pol: BN-2506 LS, bermalam di Hotel Beliton ( 3* ) 1 kamar dengan extrabed, makan siang dan malam, biaya naik perahu motor ke pulau-pulau yang akan dikunjungi, biaya masuk ke objek pariwisata. Biaya tidak termasuk tip untuk Tour guide ( Sdr Egi, 22 tahun ) yang merangkap jadi Supir.

16 Desember 2014,
1 jam sebelum pesawat Sriwijaya Air take off, kami sudah tiba di Bandara Sukarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta. Pukul 08.35 pesawat Sriwijaya AIR SJ-056, Boeing 373 tipe 300, dengan penumpang penuh mulai lepas landas. Lama penerbangan Jakrta – Tanjung Pandan sekitar 1 jam dan selama penerbangan para penumpang mendapat jatah sebuah Roti isi selai dan 1 cup air mineral. 3 orang Pramugari yang bertugas cukup ramah. Pesawat landing di Bandara HAS Hananjoeddin pukul 09.35. Bandara ini tidak terlalu besar dengan fasilitas yang cukup memadai.

Setelah mengambil 2 koper pakaian yang kami masukkan ke bagasi pesawat, kami keluar Bandara. Di pintu Bandara ada seorang pria yang memegang sehelai kertas dengan tulisan Basuki, nama saya. Pria ini masih muda ternyata ia yang akan menjemputkan dan menjadi tour guide selama kami mengikuti Belitung Tour. Ia menyapa kami dengan ramah dan memperkenalkan diri. Kami memasuki mobil minibus Toyota Avanza, warna hitam. Kami menuju Hotel Beliton yang terletak ditengah kota Tanjung Pandan. Hotel ini cukup bersih dan mempunyai kolam renang di disebelah ruang makan hotel. Kami melakukan check in dan kami memasuki kamar no 116 dilantai 1.


Setelah menyimpan koper di kamar, kami diantar oleh Sdr Egi menuju Pantai Laskar Pelangi. Tiba disini pukul 11.45. Di pantai ini ada banyak batu-batu yang berukuran besar di tepi pantai. Kami mengambil foto-foto untuk kenang-kenangan. Pantai ini dinamai Pantai Laskar Pelangi sebab beberapa tahun yang lalu disini dilakukan shooting Film Laskar Pelanginya Pak Andrea Hirata yang juga membuat buku Novel Laskar Pelangi yang merupakan best seller. Novel ini sudah diterjemahkan kebeberapa bahasa asing dan menjadi novel yang laris.


Di sekitar Pulau Belitung ada banyak pulau-pulau kecil. Selanjutnya kami menuju Pantai Tanjung Ketinggi dengan pasir warna putihnya. Waktu makan siang tiba. Kami menunggu hidangan disebuah bangunan kayu yang sederhana. Kami menikmati hidangan berupa Nasi putih, Sop Gangan laut yang berisi ikan Karab, ikan bakar dan udang bakar dengan sambal khas Belitung. Kami menikmati makan siang kami dengan lahap. Disini juga tersedia toilet dan kran air untuk cuci tangan.


Setelah makan siang kami bergerak menuju ke Pantai yang lain yaitu Pantai Tanjung Ketayang. Dihalaman pantai ada sebuah lapangan yang berlantai semen dan ada bangunan yang menyangga tulisan warna merah “WELLCOM TO BELITONG”. Pantai ini berpasir putih bersih, angin berhembus sepoi-sepoi. Kami sempat membuat beberapa foto.

Kami menuju pantai lain yaitu Pantai Bukit Berahu pada pukul 14.00. Disini kami disuguhi Pisang Goreng yang manis dan Teh Hangat. Nikmat rasanya. Di rumah makan pantai ini terletak diatas sebuah bukit dan ada sebuah kolam renang dengan warna air yang biru. Di bagian bawah rumah makan terdapat 5 buah cottage, bangunan di tepi pantai yang terbuat dari kayu dan memiliki sebuah kamar tidur yang dapat disewa. Dari pintu depan cottage ini pemandangan langsung menuju laut dengan ombak yang tenang. Kami sempat berfoto di depan salah satu cottage ini.

Kemudian kami menuju pantai lain yaitu Pantai Tanjung Pendam. Tidak jauh dari pantai kami melihat ada sebuah perahu yang sedang diperbaiki. Pasir disini pun berwarna putih bersih.

Pukul 16.30 kami diantar ke hotel Beliton untuk mandi dan melepas lelah.

Pukul 19.00 kami dijemput oleh Sdr Egi untuk makan malam disebuah Rumah Makan. Selesai makan malam, kami diantar berkeliling kota Tanjung Pandan.
Pukul 21.30 kami kembali ke hotel untuk beristirahat.

Senin, November 10, 2014

Surat Keterangan Sakit


Pagi hari minggu yang lalu datang ke tempat praktik saya seorang Bapak usia sekitar 55 tahun.

Ia berkata “Dok, saya ingin mendapatkan Surat Keterangan Sakit untuk anak saya.”

Saya menjawab “Baik putra Bapak sakit apa dan mana putra Bapak?”

Ia menjawab “ Anak saya sejak 4 hari yang lalu sakit kepalanya dan ingin mendapat Surat tersebut. Anak saya ada di rumah”

Saya menjawab lagi “Putra Bapak sudah berobat?”

“Belum, Dok. Saya memberikan obat sakit kepala yang dijual bebas, tetapi masih belum sembuh juga.”

Saya menjawab “Mengapa tidak berobat ke Puskesmas atau Dokter praktik sore? Kalau putra Bapak tidak dibawa, saya tidak dapat memberikan Surat tadi, sebab saya tidak yakin kalau putra Bapak sedang sakit dan sedang sakit apa? Bawalah putra Bapak kesini, nanti saya periksa dan kalau benar sakit saya akan memberikan Surat Keterangan tadi.”

Bapak tadi terdiam lalu berkata “Baiklah dok kalau begitu.”

Sampai tutup praktik, Bapak ini tidak datang lagi.

---

Kejadian seperti ini sering kali saya jumpai. Ada pasien yang pergi keluar kota untuk alasan tertentu dan bolos bekerja. Untuk keperluan administrasi kantornya ia membutuhkan surat dan surat itu adalah Surat Keterangan Sakit yang dipakai sebagai alasan bahwa ia sakit selama ia tidak masuk kerja.

Seorang anak diajak oleh orang tuanya mendadak pergi keluar kota untuk sesuatu keperluan. Untuk keperluan administrasi sekolah, orang tuanya mencari Surat Keterangan Sakit dari Dokter yang dianggap ampuh.

Dokter dalam membuat Surat Keterangan Sakit harus yakin bahwa nama yang tertulis dalam Surat itu benar dalam keadaan sakit.

Seseorang yang sedang dalam perkara di Pengadilan, dipanggil beberapa kali tetapi tidak datang. Lalu ia mencari Surat Keterangan Dokter sampai 2-3 kali. Hakim dapat saja akan memanggil Dokter yang menanda-tangani Surat itu dan bertanya apa benar ia sakit dan sakit apa sampai ia tidak dapat memenuhi pangilan pihak Pengadilan. Urusannya bisa jadi panjang. Masyarakat juga harus memaklumi akan hal ini.

Rabu, November 05, 2014

Mata Katarak



Usia rata-rata penghuni Panti Wreda Kasih Cirebon 60 tahun, bahkan ada yang lebih tua. Pada usia yang sudah lanjut secara fisik kesehatan mereka sudah mulai berkurang termasuk berat badan yang menurun, penglihatan yang mulai kabur, pendengaran yang mulai berkurang, ingatan jangka pendek mulai menurun, dan buang air besar tidak lancar setiap hari.

Oma T, 74 tahun sejak sekitar 6 bulan yang lalu kedua matanya mengalami gangguan penglihatan. Dari kamar tidur ke kamar mandi atau ke tempat-tempat lain mesti didampingi oleh orang lain. Kedua lensa matanya sudah tampak putih akibat proses Katarak senilis ( kekeruhan lensa mata akibat proses usia lanjut ). Pemberian obat tetes haya untuk memperlambat proses katarak tampaknya tidak memberikan hasil yang memuaskan. Kedua lensa mata Oma T tampak berwarna putih, lensa mata mengalami kekeruhan, sehingga Oma T tidak dapat lagi melihat dengan jelas.

Saya selaku petugas kesehatan mengusulkan kepada Pengurus Panti Wreda Kasih dalam rapat bulanan, agar salah satu mata Oma T dioperasi. Pengurus Panti setuju. Oleh satu Pengurus Panti diupayakan pembuatan Kartu BPJS ( Badan Pengurus Jaminan Sosial ). Dengan fasilitas kartu BPJS ini maka operasi Katarak Oma T dapat dibebaskan dari biaya.

Pada awal bulan Oktober dengan membawa Surat Rujukan dari seorang dokter yang berwenang Oma T dibawa ke Rumah Sakit MP di Kabupaten Cirebon yang berjarak sekitar 15 km dari gedung Panti. Di Rumah Sakit ini Ibu IS, Bendahara Pengurus Panti Wreda Kasih, bekerja sebawai karyawan yang membidangi BPJS. Jadi Ibu IS dapat membantu sepenuhnya untuk keperluan operasi Oma T.

Oleh karena memerlukan pemeriksaan darah sebagai persiapan operasi Oma T sebaiknya bermalam di RS MP ini. Keesokan harinya sekitar pukul 12.00 saya beserta Ibu Panti Ibu I dan salah satu anggota Pengurus Panti, Pak S menuju RS MP untuk mendampingi Oma T yang akan dioperasi mata Kataraknya.

Kami berkumpul di depan Ruang Operasi. Lama juga kami menunggu sambil berdoa semoga operasi berjalan lancar. Sekitar 30 menit kemudian keluarlah rombongan perawat, Ibu IS dan Oma T diatas bed.

Ibu IS berkata “Operasinya gagal dilakukan.”

Kami bertanya “Kenapa Bu?”

“Oma T saat akan dioperasi berontak, lengan kakinya bergerak-gerak terus. Ia menolak untuk dioperasi. Saat akan dipasang alat Klem untuk membuka kelopak mata kiri yang akan dioperasi, matanya bergerak-gerak terus sehingga tidak dapat dipasang Klem mata tersebut. Oma T terus dibujuk agar dapat tenang dan mau dioperasi, tetapi Oma T tidak mau dan menolak operasi. Saya masih dapat melihat katanya ( padahal tidak benar, matanya sudah tidak dapat melihat lagi )” kata Ibu IS.

Lalu saya nyeletuk “ Iya kalau begitu mesti dibius total agar pasien tertidur dan operasi dapat dilakukan.”

Ibu IS berkata “Dokter Mata juga berkata demikian , tetapi pasien sudah makan jadi sekarang tidak bisa dibius total. Minggu depan saja pasien balik lagi.”

Oma T kembali ke kamar perawatan. Kami mengurus surat-surat untuk pulang dari RS MP. Oma T tidak jadi dioperasi. Kami yang mengharap agar oma T dapat dioperasi agar matanya dapat melihat kembali, kecewa juga. Rasanya usaha kami membawa Oma T ke RS MT yang jaraknya cukup jauh dari gedung Panti, tidak memberikan manfaat bagi Oma T ini.

Saya membatin “ Untuk berbuat baikpun ternyata tidak mudah. Kadang kala ada batu sandungan di depan kita.”

----

3 bulan yang lalu Oma W, 75 tahun, menderita Katarak dan mata kanannya telah dioperasi di Cirebon Eye Center. Sekarang ia sudah dapat melihat kembali dengan mata kanannya. Oma W gembira matanya sudah berfungsi kembali. Mata kirinya yang Katarak juga perlu dioperasi juga.

3 tahun yang lalu Oma LI, 70 tahun yang menderita Katarak juga sudah dioperasi pada salah satu matanya. Ia sangat senang, matanya sudah berfunghsi kembali.

Upaya kami untuk operasi mata Katarak bagi ke 2 Oma ini sudah berhasil dengan baik dan kami gembira sudah dapat menolong orang lain.