Rabu, Maret 19, 2014
Handphone..oh..handphone
Saat ini sudah banyak orang yang mempunyai handphone, mulai anak SD sampai orang Dewasa, baik pria maupun wanita. Mulai dari handphone yang sederhana sampai yang canggih (smartphone) yang mempunyai fasilitas untuk membuat foto, chatting, browsing Internet, sosial media dan lain-lain fasilitas.
Kadang beberadaan handphone dapat mengganggu suatu rapat, pertemuan, kebaktian di gereja dan lain-lain pertemuan. Tidak jarang dihimbau agar handphone dimatikan saat pertemuan tersebut sedang berlangsung.
----
Kejadian ini terjadi sekitar bulan yang lalu. Saya menghadiri undangan pernikahan dari salah satu relasi di suatu gedung pertemuan. Acara resepsi pernikahan ini diadakan dengan memakai meja perjamuan. Satu meja diisi untuk 10 kursi undangan.
Sambil menunggu kedatangan kedua mempelai, saya ngobrol dengan tamu undangan disebelah kiri saya. 2 kursi disebelah kanan saya masih kosong. Tidak berapa lama kemudian datanglah 2 tamu undangan lain, mereka duduk disebelah kanan saya. Persis disebelah kanan saya duduk seorang ibu usia sekitar 40 – 45 tahun. Ia datang bersama putrinya yang berusia sekitar 7-8 tahun.
Ibu ini tanpa basa basi duduk dikursi disebelah saya. Melihat wajah saya juga tidak. Kesan saya terhadap ibu ini kurang baik, acuh dengan orang sekitarnya. Tidak berapa lama kemudian ia mengeluarkan sebuah smartphone handphone dari handbagnya.
Mulailah ibu ini mengutak-utik handphonenya. Entah apa yang dikerjakan dengan handphonenya itu. Saya pikir para undangan hadir diresepsi pernikahan ini untuk bergaul dengan tamu –tamu lain dan menikmati hidangan resepsi dan bukan asik mengutak-utik handphone.
Saat hidangan resepsi nomer satu datang ke meja kami sampai hidangan terakhir datang, ibu ini tetap asik dengan handphonenya. Ada saat-saat dimana ia menyuap hidangan dan lebih banyak ia asik dengan handphonenya.
Kok ada ya orang yang fanatik dengan handphonenya dan cuek dengan orang-orang disekitarnya. Saya pikir dia dapat bergaul dengan handphonenya nanti di rumah dan bukan saat menikmati hidangan resepsi.
Akhirnya saya juga cuek dengan ibu disebelah saya ini. Saya menganggap tidak ada orang yang duduk disebelah kanan saya. Jangan-jangan terhadap suaminya juga tidak peduli lagi, ia lebih asik bergaul dengan handphonenya.
Handphone..oh..handphone.-
Senin, Desember 23, 2013
Sakit kepala
Hari Sabtu, 21 Desember 2013 sekitar pukul 14.30 saya sedang istirahat siang. Terdengar ketukan pintu pagar halaman rumah kami.
Saya melihat ada seorang Ibu bersama seorang putrinya di depan pintu pagar.
Saya bertanya “Ada apa Bu?”
Ibu itu menjawab “Saya ingin berobat, Dok.”
Sambil membukakan pintu pagar saya berkata “Kalau mau berobat belum waktunya, Bu. Nanti pukul 16.00 mulai buka praktik.”
Ibu itu menjawab “Tolonglah Dok, saya tidak tahan lagi. Kepala saya sakit sekali.”
“Mari masuk, Bu.”
Setelah berada di Ruang periksa, saya segera memeriksa pasien ini yang berusia 59 tahun. Pada pemeriksaan tekanan darahnya ternyata cukup tinggi, 200/100 mmHg. Tekanan darah normal sekitar 120/80 mmHg. Lain-lain dalam batas normal.
Saya berkata kepada pasien “Bu, tekanan darahnya tinggi. Apakah Ibu ada darah tinggi sebelumnya?”
Ibu ini berkata “Saya tidak tahu, Dok. Sudah lama tekanan darah saya tidak diukur. Beberapa hari yang lalu kedua kaki saya sakit dan saya minum obat herbal. 2 hari kemudian sakit kaki saya hilang tetapi kepala saya sakit sekali. Sakit di kaki sembuh tetapi pindah ke kepala saya, Dok.”
“Obat herbal apa, Bu?”
“Saya juga tidak tahu, Dok. Obat herbal itu pemberian teman saya.”
Saya tidak begitu yakin obat herbal itu yang menyebabkan kepala pasien ini menjadi sakit.
Sakit kepala, demam dan pusing merupakan keluhan pasien yang paling banyak saya dapatkan pada pasien-pasien yang datang berobat. Mungkin Ibu ini sudah sejak lama menderita tekanan darah tinggi dan ia tidak memeriksakannya kepada dokter. Tekanan darah tinggi biasanya tidak memberikan gejala dan baru diketahui saat mereka diperiksa saat ia ingin mendonorkan darah, minta Surat Keterangan Sehat untuk mendapatkan Surat Ijin Mengemudi, saat ingin melamar pekerjaan dan lain-lain.
Saya menuliskan sebuah resep obat untuk diambil di Apotik berupa tablet anti hipertensi yaitu: tablet golongan beta blocker, tablet Calsium Channel Blocker dan tablet pain killer yang juga berisi obat penenang. Kombinasi 3 tablet ini untuk 10 hari dan diharapkan dapat menurunkan tekanan darah pasien ini dan sakit kepalanya.
Saya adviskan agar seminggu kemudian ia datang lagi untuk diperiksa kembali tekanan darahnya.
Sambil mengucapkan terima kasih, pasien meninggalkan Ruangan periksa saya.-
Kamis, Oktober 24, 2013
Kemauan pasien
Dalam waktu seminggu terakhir ini saya menjumpai beberapa kejadian yang unik pada pasien atau keluarga pasien. Kejadian itu sebagai berikut:
1. Mau mendaftar untuk berobat:
Suatu pagi terdengar dering telepon di rumah kami.
“Selamat pagi.” Kata saya.
“Saya mau daftar untuk berobat, Pak”. Terdengar suara seorang wanita di seberang sana.
Saya berkata “Baik, namanya siapa, umur berapa dan dimana alamatnya?”
“Saya mendaftar untuk keluarga saya nama A, umur 48 tahun, alamat jalan Anu nomer sekian.”
Saya berkata lagi “Baik, datanglah pukul 16.00 sore ini.” Pasien itu dapat nomer satu.
“Tapi, Pak, kami inginnya berobat pada jam 05.00 sore ini. Bisa tidak?”
Saya membatin “Diberi nomer satu, tidak mau dan minta diperiksa pukul 05.00 sore. Aneh ini orang.”
“Baik, datanglah pukul 05.00 sore ini ya. Sudah saya catat.”
2. Mau diperiksa hanya oleh dokter wanita:
Tadi pagi saat saya praktik di tempat praktik ke 2, yaitu tempat praktik isteri saya saat sore hari, datang seorang pria usia sekitar 45 tahun.
Ia berkata “Pak, kami mau berobat.”
Saya menjawab “Baik, silahkan masuk Pak.”
“Tapi yang mau berobat isteri saya yang masih berada di rumah di jalan Anu.”
Saya berkata lagi ‘Baik, pak saya tunggu isteri Bapak.”
“Kalau Ibu dokter (isteri saya) ada tidak, Pak.” Ia bertanya.
“O..kalau isteri saya praktiknya sore hari. Kalau mau, Bapak dan isteri datang sore hari mulai pukul 16.00.”
“Iya kalau begitu nanti sore saya kami datang lagi, sebab pasiennya kan wanita jadi lebih afdol kalau diperiksa oleh dokter wanita.” Katanya kemudian, sambil meninggalkan ruang tunggu pasien.
Saya membatin seorang dokter bisa dan boleh memeriksa pasien baik wanita atau pria. Tidak harus pasien wanita hanya boleh diperiksa oleh dokter wanita, bahkan Dokter Ahli Kebidanan dan Penyakit Kandungan yang pria mempunyai pasien semuanya wanita.
Saya menduga isteri bapak itu mempunyai keluhan yang ada hubungannya dengan organ seksualnya, misalnya mau kontrol setelah pasang IUD, gatal-gatal di sekitar alat vitalnya dan lain-lain.
3. Datang mau berobat pada jam 06.00 pagi:
Pagi ini sekitar pukul 06.00 pagi saya membersihkan halaman depan rumah kami. Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita “Dok, saya mau berobat.”
Saya membukakan pintu pagar halaman dan berkata “Mau berobat ya? Kepada dokter yang mana (di rumah kami ada 2 orang dokter umum yaitu saya dan isteri).”
“Mau berobat kepada Ibu dokter,” jawabnya.
“O.. isteri saya belum siap. Datanglah pukul 07.30 ya.”
Saya membatin rasanya tidak ada dokter yang buka praktik pagi hari seperti saat ini pukul 06.00.
“Baik, nanti saya datang lagi,” jawabnya lagi.
Pukul 07.00 saat saya membaca koran yang baru datang, wanita itu sudah datang lagi, padahal belum pukul 07.30. Rupanya pasien ini sudah kebelet ingin cepat-cepat diperiksa oleh isteri saya.
Saya membukakan pintu pagar halaman rumah untuk mempersilahkan pasien ini masuk.
Saya memberitahukan isteri saya, bahwa ada seorang pasien wanita yang mau berobat dan sudah menunggu di ruang tunggu pasien.
Jumat, Oktober 04, 2013
Kembali ke tanah air
29 September 2013, Minggu.
Tidak terasa sudah 3 minggu kami berada di kota Sydney dan kami harus kembali ke tanah air.
Untuk mempercepat proses check in, maka kami melakukan check in secara elektronik via Internet ke website maskapai penerbangan Qantas. Dalam waktu 24 jam sebelum jam keberangkatan, kami check in. Setelah mengisi nama, nomer paspor dan identitas lainnya, maka kami dapat memilih nomer kursi di dalam pesawat dengan nomer penerbangan QF41. Pesawat akan lepas landas pada 29 Sep 2013 pukul 13.25 Sydney time.
Pukul 10.30 saya dan isteri dengan diantar oleh putra dan putri kami meluncur ke Kingsford Sydney Airport. Di bagian manual check in QF41 tampak banyak penumpang yang antri. Pada bagian electric check in tampak kosong. Kami segera menyerahkan Paspor dan bukti check in yang sudah kami print. Seorang petugas wanita white people membubuhkan nomer gate dimana pesawat berada dan menimbang 3 koper pakaian kami. Dalam penerbangan maskapai Qqantas kelas ekonomi diperbolehkan membawa bagasi seberat 30 kg per penumpang. Jadi untuk 2 penumpang, bagasi diperbolehkan seberat 60 kg. 3 koper kami setelah ditimbang mempunyai berat sebesar 40 kg, jadi tidak melebihi batas ketentuan berat bagasi.
Selesai check in maka kami sudah mempunyai boarding pass yang sudah kami print kemarin siang. Setelah itu kami mengambil foto bersama putra dan putri kami. Selesai semuanya maka kami menuju bagian imigrasi untuk mendapatkan stempel pada paspor kami. Disini kami harus antri juga dalam antrian yang cukup panjang.
Selesai di bagian imigrasi kami menuju rtuangan yang cukup luas yang ternyata adalah toko-toko yang bebas bea. Disini ada di jajakan parfum, sovenir, minuman beralkohol, snack, coklat, koper pakaian, pakaian dan lain-lain. Kami membeli beberapa snack untuk oleh-oleh.
Masih ada cukup waktu sebelum kami memasuki pesawat. Kami duduk di ruang tunggu di gate 35. 30 menit sebelum waktu lepas landas para penumpang diperbolehkan memasuki pesawat Qantas. Kesempatan pertama diberikan kepada penumpang dari kelas bisnis dan kemudian penumpang dari kelas ekonomi.
Pesawat ternyata full house, tidak ada seat yang kosong, semuanya terisi penumpang. Para penumpang dapat melihat layar monitor yang melekat pada bagian belakang seat yang berada di depan penumpang. Pesawat lepas landas tepat waktu pada pukul 13.25 Sydney time. Setelah pesawat berada di udara, saya menyalakan LCD untuk memantau perjalanan pesawat dari Sydney menuju kota Jakarta.
Kami juga dapat melihat bermacam film yang dapat dipilih di layar monitor. Ada film komedi, action, drama dan lain-lain yang bisa dipilih. Saya melihat banyak film Mr. Bean yang kocak itu.
Pesawat berada di ketinggian antara 30.000 – 33.000 feet diatas bumi, kecepatan pesawat ( di darat ) 850 km per jam, suhu diluar pesawat berkisar antara -30 sampai -50 derajat Fahrenheit. Lama perjalanan sekitar 6 jam 30 menit nonstop.
Cukup lama juga penerbangan Sydney – Jakarta dan para penumpang harus duduk di seat masing-masing. Saya beberapa kali menuju toilet untuk buang air kecil. Suhu udara di dalam pesawat cukup dingin juga.
Setengah jam setelah pesawat lepas landas para awak kabin yang semuanya berkulit putih menyajikan makan siang, snack dan minumam panas dan dingin. Kwalitas makanan dan minuman cukup baik. Pelayanan awak kabin juga cukup ramah.
Pukul 17.30 WIB pesawat kami mendarat dengan mulus di Bandara Sukarno-Hatta, Jakarta. Setelah turun dari pesawat kami bergegas menuju ke bagian imigrasi untuk mendapatkan stempel di paspor kami. Pelayanan yang cukup cepat sehingga kami tidak harus menunggu lama dibagian ini.
Saat kami menunggu koper-koper pakaian kami di ban berjalan, cukup lama juga. Sekitar 30 menit akhirnya kami mendapatkan 3 koper pakaian kami. Kami keluar dari Bandara dan segera kami dijemput oleh supir mobil kami. Mobil meluncur ke kota Cirebon dan puji Tuhan kami tiba dengan selamat pada pukul 00.30 tengah malam.
Mengunjungi Sydney Darling Harbour
28 September 2013, Sabtu.
Besok kami akan kembali ke tanah air.
Pukul 04.00 p.m. saya, isteri dan putri kami berkunjung ke Sydney Darling Harbour di daerah City, Sydney.
Kami melihat ada banyak pengunjung dari berbagai bangsa. Maklumlah karena hari ini week end. Kami sempat mengambil beberapa foto.
Di tengah sebuah lapangan rumput terdapat panggung live music. Seorang pria sedang bernyanyi lagi pop Indonesia yang diiringi musik dari sebuah band. Di tepi lapangan terdapat banyak kios yang menjual makanan khas Indonesia, seperti: Sate Padang, Lunpia, Nasi Gudeg, Nasi Campur dan sebagainya.
Rupanya hari ini ada Festival Indonesia. Konon setiap akhir pekan disini diadakan Festival dari berbagai bangsa. Tidak terasa hari sudah mulai gelap, tetapi masih banyak pengunjung di Darling Harbour ini dimana terdapat Gedung Opera House yang merupakan ikon kota Sydney.
Siang dan malam hari terdapat banyak pengunjung disini. Luar biasa.
Sebelum kembali ke flat putri kami, kami santap malam bersama di sebuah rumah makan.
Saat hendak keluar dari lantai bawah gedung parkir, putri kami membayar biaya parkir di mesin pembayaran parkir (semacam mesin ATM). Dengan memasukkan Kartu parkir yang diambil saat mobil masuk ke gedung parkir, maka tampak tertera angka $13 (senilai Rp. 143.000,-) di layar monitor, untuk biaya parkir sekitar 4 jam. Biaya parkir yang cukup mahal ini tidak membendung para pengunjung ke daerah City ini. Putri kami memasukkan sebuah kartu Kredit ke dalam lubang khusus pembayaran dan keluarlah sehelai Resi dari mesin pembayaran parkir ini.
Sabtu, September 28, 2013
Mengunjungi kota Berry, NSW, Australia
27 September 2013.
Hari Jum’at pukul 10.30 a.m. saya, isteri dan putri kami meluncur ke kota kecil, Berry. Jarak kota ini dengan kota Sydney sekitar 120 km atau 2 jam drive dengan mobil.
Mobil kami meluncur diatas jalan bebas hambatan dengan 2 jalur searah. Kami bergerak ke arah selatan dari Sydney. Sungguh nyaman mengemudikan mobil di jalan raya yang mulus. Sepanjang perjalanan dari kota besar seperti Sydney sampai ke kota-kota kecil seperti Berry kwalitas jalan baik, tidak ada yang rusak. Cuaca siang ini cerah dan tidak berawan.
Pemandangan di daerah perbukitan sungguh indah, di beberapa tempat terdapat daerah yang datar atau berbukit-bukit dimana terdapat sekawanan Sapi atau Kuda yang sedang merumput.
Saat kami melintas kota Wollongong, NSW, Australia, 80 km dari Sydney, kami melihat lalu lintas yang tidak macet. Di kota ini terdapat sebuah perguruan tinggi yang terkenal yaitu University of Wollongong (www.uow.edu.au). Sekitar 30.000 mahasiswa menuntut ilmu di 9 kampus yang ada disini.
Mobil kami terus meluncur ke arah selatan diringi lagu-lagu pop Australia dari radio mobil kami. Kota Berry terletak sekitar 40 km dari kota Wollongong. Sebelum tiba di Berry kami melintas beberapa kota kecil lainnya. Kami melihat di tepi jalan raya terdapat beberapa tempat pengisian bensin / solar, rumah makan dan dealer mobil seperti Toyota, Honda, Holden. Sebagian besar mobil yang hendak dijual diparkir di halaman gedung.
Sekitar pukul 01.00 p.m. kami tiba di kota kecil Berry. Meskipun cuaca cerah, sinar matahari terasa hangat, tetapi angin perbukitan di daearah ini terasa cukup dingin juga. Kami segera menuju toilet umum yang tersedia di kota ini.
Waktu lunch sudah tiba, kami mengunjungi sebuah café yang menyajikan makanan setempat. Kami menikmati beefsteak, goreng kentang, goreng ikan, salad dan saos. Setelah lunch kami berjalan kaki melihat-lihat toko-toko disepanjang raya. Kami melihat-lihat toko kerajinan tangan, pakaian dan lain-lain.
Saat kami tiba di sebuah toko yang menjual bermacam-macam teh dalam kotak, kami masuk ke sebuah toko “The Berry Tea Shop” dan memesan 2 macam teh dan secangkir kopi hangat. Kami juga menikmati bersama banana cake. Kami melihat juga ada beberapa pengunjung yang menikmati teh mereka. Sambil ngobrol kami menikmati teh kami. Saat itu pukul 03.00 p.m. saat yang tepat untuk minum teh bersama.
Setelah puas melihat-lihat kota kecil ini maka pukul 03.30 p.m. kami meninggalkan kota ini. Mobil meluncur ke kota Sydney, kota yang besar, multirasial, kota perdagangan dan kota pariwisata. Kota Wollongong kami lewati dan setelah itu di jalur lain dari Sydney ke Wollongong tampak banyak mobil di jalan raya. Mungkin saat pulang kantor ada banyak penduduk Wollongong yang bekerja di Sydney kembali pulang ke kota Wollongong. Meskipun banyak mobil, tetapi kami melihat tidak ada kemacetan lalu lintas.
Sekitar pukul 06.15 kami tiba kembali di flat putri kami di kota Sydney. Cape juga badan kami setelah seharian kami mengunjungi kota Berry yang sejuk ini.
Senin, September 23, 2013
Mengunjungi Sydney Fish Market
23 Sept 2013, Senin.
Pukul 11.00 putra kami menjemput saya dan isteri. Putri kami tidak ikut karena ia bekerja. Kami bermaksud akan pergi ke Sydney Fish Market yang berlokasi di daerah City, di tepi laut kota Sydney ini.
Mobil putra kami meluncur di jalan raya yang mulus. Meskipun banyak mobil di jalan raya tetapi tidak nampak ada kemacetatan lalu lintas. Setiba di halaman parkir yang cukup luas kami melihat ada banyak mobil yang diparkir dan ada sebuah bus pariwisata.
Kami masuk ke gedung pasar ikan yang cukup luas. Disini juga ada beberapa rumah makan yang ramai dikunjungi oleh pembeli. Hidangan yang tersedia umumnya seafood yang digoreng dan minuman dingin yang siap diminum. Kami melihat di dalam gedung pasar ikan ini ada banyak pengunjung yang belanja seafood dan yang makan siang di rumah makan yang ramai dikunjungi oleh para pengunjung.
Di pasar ikan ini tersaji seafood seperti: bermacam ikan ( salmon, trout dan lain-lain ), udang, lobster, cumi, abalone. Pengunjung tinggal memilih mana yang akan dibeli, lalu para pelayan akan menimbangnya dan pembeli dapat membayar di kasir. Seafood disini nampaknya masih segar karena diletakkan diatas butiran es batu yang dingin. Saya perhatikan penjual dan para pelayan di pasar ikan ini umumnya ber ras oriental. Juga banyak pengunjung yang ber ras oriental. Nampak hanya beberapa keluarga white people yang datang kesini.
Kami mencari tempat untuk duduk. Lebih enak kalau duduk dimeja di tepi laut yang berudara segar. Sinar matahari siang itu nampak cerah dan angin laut berhembus dingin. Ada sebuah meja dan bangku di tepi laut yang masih kosong. Kami melihat ada deretan meja dan bangku yang nampak rapih tertata di tepi laut. Disini juga banyak kapal-kapal kecil penangkap ikan yang bersandar di tepi laut pasar ikan ini.
Sambil menunggu putra kami yang membeli seafood goreng dan minuman botol, kami melihat ada banyak burung camar yang berbulu putih dan abu-abu. Burung-burung ini ada yang bertengkar sesama mereka, memperebutkan tempat hinggap di bangku atau diatas payung yang menaungi meja-meja. Burung-burung camar ini nampak dibiarkan hidup bebas dan mencari makan dari sisa-sisa makanan para pengunjung. Bila pengunjung lengah, maka makanan yang terletak di meja akan disambar oleh burung-burung ini. Pemilik makanan tersebut akan ribut mengusir burung-burung camar itu. Mereka tidak peduli diusir pemilik makanan dan tetap akan kembali datang beterbangan ke meja-meja yang nampak tersaji makanan. Nampaknya jumlah burung camar ini kian tahun kian bertambah banyak jumlahnya, karena dibiarkan tetap hidup.
Tidak berapa lama, datanglah putra kami membawa sebuah nampan plastik yang berisi kentang gereng, cumi goreng, udang goreng, ikan goreng beserta semangkuk kecap asin dan wasabi (sambal). Waktu Lunch sudah tiba maka kami segera menikmati seafood goreng ini sambil melihat camar-camar yang berterbangan disekitar kami.
Selesai Lunch kami belanja kepiting untuk dinner kami di flat kami. Pukul 13.30 kami meninggalkan Sydney Fish Market. Setelah putra kami membayar biaya parkir mobil di sebuah mesin khusus, kami memasuki mobil dan meninggalkan kompleks pasar ikan ini. Kami melihat banyak pengunjung yang berdatangan ke pasar ikan ini.
Tarif potong rambut pria
22 September 2013.
Hari ini Minggu ini sepulang dari kebaktian di gereja IPC, saya , isteri dan putri kami berjalan-jalan di daerah Randwick.
Disini selain daerah perumahan juga terdapat pertokoan, Mall, Mini market, Bank, Rumah makan dan lain-lain. Saat kami melintas di sebuah jalan, saya melihat ada sebuah toko berukuran 4 x 4 meter yang merupakan tempat potong rambut pria. Di setiap Mall juga terdapat salon rambut yang dapat memotong rambut pria dan wanita. Disini selalu ramai dengan pengunjung yang hendak merapihkan rambutnya.
Yang unik di tempat potong rambut pria ini adalah terdapat papan pengumuman tarif potong rambut yang diletakkan di depan toko. Untuk dewasa dipungut $17 ( dollar Australia ), Mahasiswa$15, Pensiunan $13 dan Anak dibawah 12 tahun $13. Dengan nilai tukar 1 AUD = Rp. 10.800,- maka tarif itu untuk dewasa sekitar Rp. 183.600,- dan bagi pensiunan seperti saya / anak dibawah 12 tahun sekitar Rp. 140.400,- Kalau di salon yang ada di Mall tentu tarif ini akan lebih tinggi. Tarif ini sudah wajar bagi penduduk Australia, tetapi bagi saya yang datang dari Indoensia, merasa tarif itu cukup tinggi.
Di kota kami bila saya potong rambut sebulan sekali dipungut biaya Rp. 15.000,- dengan biaya potong rambut disini maka saya dapat 8 kali potong rambut di tempat saya. Saya pikir tiap negara mempunyai ketentuan keuangan masing-masing. Pendapatan besar pengeluaran akan besar pula dan bila pendapatan kecil maka pengeluaran harus kecil pula agar seimbang. Kalau besar pasak dari pada tiang ,misalnya belanja dengan kartu kredit, maka tagihan tiap bulan akan membengkak kalau gaji tidak memadai.
Di tempat potong rambut / salon selalu ada foto-foto pria dan wanita dengan bermacam-macam potongan rambut. Dengan menunjuk ke sebuah foto maka barber akan maklum dan segera bekerja memotong rambut seperti keinginan langganannya.
Mahalnya gaji karyawan menyebabkan di setiap Mall atau perkantoran tidak banyak karyawan yang bertugas. Langganan lebih banyak self service untuk setiap keperluan seperti: mengambil air minum, sendok garpu di rumah makan.
Sabtu, September 21, 2013
Sakit gigi di Sydney
18 Sept 2013.
Hari Rabu ini isteri saya hendak berobat ke dokter gigi, karena gigi kanan atas terasa sakit.
Pukul 02.15 p.m. putra kami datang untuk mengantar kami berobat kepada salah seorang dokter gigi (dental surgeon) yang buka praktik di daerah Randwick. Cukup lama juga kami mencari tempat parkir karena ada banyak mobil yang parkir di daerah tersebut.
Pukul 02.45 p.m. kami masuk ke tempat praktik dokter gigi tersebut. Beruntung kami datang dapat nomer berikutnya. Masih ada pasien di dalam ruang periksa. Seorang wanita ras oriental memberikan suatu formulir kepada putra kami yang harus diisi tentang: identitas pasien, alamat dan keluhan pasien. Putra kami mengisi formulir pendaftaran itu. Setengah jam kemudian keluarlah pasien itu dan isteri saya bersama putra kami masuk. Saya menunggu di ruang tunggu sambil membaca majalah yang tersedia.
Dental surgeon wanita yang berras oriental ini bertanya dan memeriksa gigi isteri saya. Putra kami yang menerjemahkanya ke dalam bahasa Inggris. Dental surgeon ini membuat foto Rontgen gigi kanan atas. Kemudian terdengar suara mesin entah mesin apa, dokter ini membersihkan gigi dan katanya nampak gusinya sedikit bengkak yang berarti ada infeksi dan disela-sela gigi ada sisa makanan. Gigi tersebut mesti dirawat akar giginya agar tidak nyeri. Oleh karena isteri saya harus kembali ke Indonesia, maka tidak cukup waktu untuk perawatan akar gigi jadi ia menyarankan untuk berobat kepada dokter gigi di Indonesia saja dan ia akan memberikan surat pengantar.
Ia minta email address kami agar ia dapat mengirimkan hasil foto gigi dan surat pengantar kepada dokter gigi di Indonesia. Saya memberikan email address saya. Dokter ini memberikan sebuah resep dan saran untuk membeli dental brush di apotik untuk membersihkan sisa makanan diantara gigi-gigi tadi.
Kira-kira setengah jam isteri saya dan putra kami keluar dari ruang periksa. Saat akan membayar putra kami bertanya berapa? Sang asisten dokter ini berkata AUD160. Isteri saya mengeluarkan Kartu Kreditnya dan pembayaran selesai.
Putra kami berkata biayanya termasuk murah. Kami tidak membeli travel insurance saat hendak pergi ke Australia, sehingga kami tidak dapat meng-claim biaya pemeriksaan dan harga obat.
Kami menuju ke sebuah apotik yang berada disekitar tempat praktik dental surgeon ini. Kami membaca resep tadi yang berisi 30 kapsul antibiotika Amoxycilin 500 mg dan 20 tablet anti nyeri. Di flat kami ada membawa antibiotika, tetapi buan Amoxycilin. Kalau tablet anti nyeri kami membawa jadi tidak usah membeli. Di apotik kami membeli kapsul Amoxycilin dan dental brush. Semua nya AUD50.
Total biaya yang dikeluarkan isteri saya adalah AUD210. Nilai tukar saat ini 1 AUD = Rp. 10.700. Jadi biaya yang telah dikeluarkan lebih dari Rp. 2.100.000,- Kami yang datang dari Indonesia kalau hendak membeli sesuatu barang mesti mengkonversikan nilai uang itu ke dalam IDR (rupiah) dahulu. Melihat jumlahnya itu cukup mahal biaya berobat tadi. Apa boleh buat. Putra kami berkata biaya itu cukup murah. Iya benar mahal bagi siapa dan murah bagi siapa. Mahal bagi orang Indonesia dan murah bagi orang Australia. Kalau bisa kita jangan sakit selama kita hidup dan kita harus mempunyai asuransi kesehatan agar bila kita sakit, biayanya dapat diganti oleh pihak asuransi.
Saat putri kami mengisi bensin yang bernilai oktan 95, saya lihat harganya AUD1,66 per liter atau sekitar Rp. 17.762,- per liter. Harga Solar AUD1,61. Harga ini tiap hari berubah-ubah dan tiap perusahaan minyak harga bahan bakar di SPBU berbeda-beda. Kalau di Indonesia harga bensin Premium Rp. 6.500,- per liter ( yang disubsudi Pemerintah ) masih jauh lebih murah dari harga bahan bakar di Australia.
Keesokan hari saat saya membuka Mailbox saya di gmail.com, tampak ada kiriman email dari Dental Surgeon tersebut yang melampirkan 1 gambar foto gigi isteri saya dan surat rujukan bagi dokter gigi di Indonesia. Saya membalasnya dengan memberitahukan bahwa kirimannya sudah kami terima dan kami berterima kasih atas kiriman tersebut.
Sabtu, September 14, 2013
Belanja di Eastgarden Mall
13 September 2013.
Pukul 12.00 siang hari saya, isteri dan putri kami meluncur ke Eastgarden Mall. Mall ini merupakan Mall yang besar dan bertingkat dan mempunyai tempat parkir mobil yang luas. Dari luar tidak tampak banyak pengunjung, tetapi di dalam gedung Mall ada banyak pengunjung yang sedang belanja atau sekedar cuci mata. Mall tampak ramai dengan pengunjung padahal hari ini bukan hari libur.
Disini kami belanja keperluan dapur seperti: roti, bumbu dapur, daging, sayuran dan buah-buahan. Seperti biasa maka disinipun tidak banyak karyawan. Pembeli dapat melayani sendiri untuk belanja.
Pukul 13.30 kami menuju Maroubra Road untuk Lunch di Rumah Makan “Mie Kocok Bandung”, suatu Rumah Makan yang khusus menyediakan menu Indonesia seperti: Mie Kocok Bandung, Nasi Gudeg, Nasi Empal dan lain-lain dengan harga rata-rata 10 dolar Australia. Rasanya juga cukup enak dan bagi yang rindu dengan makanan Indonesia di kota Sydney ada banyak Rumah Makan yang menyediakan menu Indonesia. Daftar Rumah Makan Indonesia dapat dilihat di “Buletin Indo” (www.buletinindo.com.au). Maklum di kota ini ada banyak orang yang berasal dari Indonesia. Banyak informasi tentang Indonesia yang dapat dibaca dalam bulletin ini.
Untuk minum para pengunjung harus mengambil sendiri sendok, garpu dan air putih untuk minum. Disinipun tidak banyak karyawan. Pengunjung RM ini cukup banyak, 6 set meja dan kursi penuh oleh tamu, maklum saat itu waktu makan siang.
Pukul 15.00 kami meluncur ke St George Hospital. Ada banyak mobil yang diparkir disekitar rumah sakit ini, sehingga kami parkir mobil di tempat yang agak jauh dengan berjalan kaki. Meskipun udara panas tetapi angin yang berhembus cukup kencang terasa dingin bagi kami yang baru tiba dari Indonesia. Tayangan di layar TV semalam, menunjukkan suhu udara di Sydney 15 derajat Celsius di malam hari dan 25 derajat di siang hari.
Di Rumah Sakit ini jam kunjungan adalah pukul 15.00-17.00. Kunjungan kami kali ini adalah untuk menengok cucu pertama kami dari putra pertama kami yang tinggal dan bekerja di kota ini. Cucu kami lahir tanggal 12 September malam hari.
Kami naik lift ke lantai 3, bagian Kebidanan. Setelah bertemu dengan putra kami, anak mantu dan cucu kami, ada rasa gembira dan ucapan syukur kepada Tuhan bahwa anak mantu kami sudah melahirkan secara alami seorang bayi wanita dengan selamat. Ia lahir dengan berat badan dan panjang badan yang normal. Besan kami dari kota Medan akan datang untuk menengok cucu ini pada minggu depan.
Kami sempat mengambil foto bersama sebagai kenang-kenangan kami. Kami kirim foto cucu kami ini kepada adik-adik kami dan adik-adik ipar kami di Sydney dan di Indonesia melalui aplikasi WhatsApp yang terinstal di HP Andoid saya. Di Flat putri kami di daerah Mascot, dekat dengan Sydney Airport ada hotspot untuk koneksi ke Internet. Saya melepas 2 SIM Card HP saya agar tidak kena biaya roaming International yang biayanya cukup mahal. Untuk kirim SMS bisa melalui wifi dari hotspot ini atau melalui SIM Card prabayar dari operator Telstra yang dibeli oleh putri kami.
Pukul 17.15 kami meninggalkan St. George Hospital ini dan meluncur ke Flat putri kami. Kami Dinner masakan isteri saya. Wah… cape juga hari ini. Setelah mandi air hangat kami istirahat malam.
Langganan:
Postingan (Atom)























