Senin, November 07, 2005

Flu Burung

WABAH flu burung yang terjadi pada manusia di berbagai negara saat ini membuat negara-negara di muka bumi ini bahu-membahu menghadapi pandemi influenza. Masih banyaknya tanda tanya terhadap penyakit ini memerlukan kerja sama antarnegara. Berbagai pertemuan internasional pun dilakukan untuk menghadapi munculnya musuh bersama yaitu pandemi influenza.

Bila dikilas balik, pandemi influenza memakan korban yang tidak sedikit. Pandemi pertama terjadi tahun 1918-1919 yang dikenal dengan flu Spanyol. Ketika itu yang menjadi wabah adalah virus influenza tipe A (H1N1). Sebanyak 50 juta orang meninggal ketika itu. Di Amerika Serikat (AS) sendiri menurut Centers for Disease Control (CDC) lebih dari 500.000 orang meninggal ketika itu. Saat wabah terjadi, malah belum diketahui subtipe virusnya.

Pandemi kedua terjadi pada 1957-1958 yang dikenal dengan flu Asian dengan virus influenza tipe A (H2N2). Subtipe virus ini menelan korban 70.000 di AS. Pertama kali kasusnya diidentifikasi di Cina pada akhir Februari 1957. Kemudian, pandemi influenza ketiga terjadi 1968-1969 yang dikenal dengan flu Hong Kong. Adapun virus influenza yang menyebabkan wabah adalah tipe A (H3N2), yang menyebabkan 34.000 orang meninggal di AS. Kasus pertama dideteksi di Hong Kong pada awal 1968.

Pandemi kedua dan ketiga terjadi disebabkan kombinasi gen virus influenza manusia dan virus influenza burung. Hal inilah yang ditakutkan manusia di dunia saat ini terhadap H5N1. Seperti yang diutarakan dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), bila terjadi perpaduan virus influenza manusia dengan virus influenza burung, maka terjadi penularan dari manusia ke manusia. Inilah yang bisa menyebabkan pandemi influenza.

Hal lain yang bisa menyebabkan pandemi influenza adalah mutasi, dalam hal ini terjadi perubahan reseptor virus. Ahli mikrobiologi virus dari Universitas Airlangga CA Nidom berpendapat.-

Peminum Kopi.

Hobi atau sifat seseorang tidak mudah dirubah, contohnya teman saya, Pak T, hobinya minum Kopi. Ia dan isterinya ikut rombongan piknik kami. Kemana-mana ia selalu membawa sebuah termos. Saya mendapat jawaban bahwa termos itu berisi Kopi kegemarannya. Saya bilang Kopi kan mudah dicari dimana-mana. Mengapa mesti repot-repot bawa termos kemana-mana. Ia bilang saya menyukai Kopi dengan merk tertentu. ( ia tidak bilang merk apa, takut ketahuan kali ). Benar argumentasinya setiap saat ia ingin minum maka seketika itu juga Kopinya telah berpindah tempat dari termos ke cangkir plastik, tutup termos itu. Efektip sekali. Hebat idenya. Tapi repot bawanya, kemana-mana ia ditemani oleh sebuah termos dopingnya.

Teman saya yang lain, Pak M. juga hobinya minum Kopi. Sebelum sarapanpun ia sudah menyeruput Kopi. Sekali waktu ia ingin sekali minum secangkir Kopi. Ia pesan secangkir Kopi kepada pramusaji di Hotel tempat kami bermalam. Ia setuju dengan pendapat saya bahwa Kopi dapat dengan mudah ditemui dimana-mana tempat apalagi disebuah Hotel. Ia lupa bahwa Hotel tempat kami nginap adalah Hotel Bintang 1 ( * ). Ketika sang pramusaji datang membawa secangkir Kopi, ia juga menyodorkan sehelai Bill seharga Rp. 10.000,- alias US$1. Teman saya kaget setengah mati, masa sih secangkir Kopi harganya begitu besar? Di pasar kan harganya Rp. 1.500,- dengan Volume yang lebih besar ( dalam sebuah gelas Kopi ). Saya bilang ini kan Hotel Bintang 1, tentu harganya lebih empuk. Ya sudahlah, bayar aja. Tapi bagiamana rasa Kopinya? Wah rasanya enggak karuan, lebih enak Kopi yang di pasar Sukowati, Denpasar. Kopi pasar kok mau disamakan dengan Kopi di Hotel. Mana tahan….. Untuk menghiburnya saya katakan “Masih untung anda tidak di sodori Bill seharga US$4, harga normal secangkir Kopi sebuah Hotel Bintang 1 ( dengan nada guyon )”. Nah lu makanya tanya dulu harganya sebelum pesan sesuatu yang tidak termasuk paket Piknik ini. Ia kena batunya. Lebih baik seperti Pak T yang membawa termos berisi Kopi kegemarannya dan berharga lebih murah. Beli beberapa sachcet Kopi merk ygang disukai, masukkan kedalam termos dan isi air panas minta di dapur. Beres deh. Tinggal diminum Kopinya any time you want. Hari itu saya ketawa terbahak-bahak ketika menceritakan kisahnya kepada teman-teman yang lain.-

Manfaat senyuman

Senyuman mengandung banyak arti. Itu dapat merupakan hal yang positip misalnya: ungkapan rasa senang, menyapa seseorang, menyalami seseorang atau sebagai tanda kita mengenali seseorang. Senyuman adalah hal yang murah karena tidak dikenai pajak. Dengan senyuman keadaan yang negatip dapat menjadi keadaan yang positip.
Suatu saat ketika saya masih menjabat Kepala Puskesmas, saya mempunyai seorang staf bernama si A. yang murah senyum. Saya sering memberikan tugas kepada si A yang harus diselesaikan tepat pada waktunya. Suatu hari ia belum dapat menyelesaikan tugas berupa laporan yang saya berikan kepadanya. Saya jengkel kepadanya, karena laporan itu harus segera dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kotamadya. Saya memanggil si A dengan maksud untuk menegur atau memarahinya. Ia datang dengan membawa alasan bahwa semalam orang tuanya sakit panas ( suatu alasan yang manusiawi juga ). Ia minta maaf karena belum dapat menyelesaikan tugasnya dengan tersenyum. Melihat senyumannya yang tulus itu, saat itu juga kejengkelan saya menjadi cair. Kemarahan saya kepadanya tidak saya lontarkan kepadanya dan ia berjanji akan menyelesaikan tugasnya hari itu juga.

Demikian juga bila mood saya sedang baik, maka pasien-pasien yang saya periksa baik di Puskesmas atau di tempat praktek sendiri, akan saya layani dengan senyuman. Dengan senyuman maka pasien akan merasa terhibur sehingga penyakitnya akan terasa lebih ringan.

Saya juga mengharapkan menerima senyuman dari orang lain ketika saya akan: membeli perangko di Kantor Pos, membayar barang belanjaan di super market, menabung / mengambil uang di Bank. Harapan saya jarang terkabul di tempat-tempat tadi. Apalagi kalau karyawan yang saat itu sedang bertugas tidak saya kenal sebelumnya. Sulit saya menerima senyuman dari mereka. Entah kenapa senyuman mereka mahal sekali. Mestinya petugas di loket Bank bergembira ada nasabah yang mau menyimpan uang di Bank tempat mereka bekerja, seharusnya mereka bergembira bila ada orang yang datang untuk membeli perangko/benda pos lainnya, seharusnya mereka bergembira bila ada orang berbelanja di tempat mereka bekerja. Keberadaan mereka di tempat-tempat tadi adalah untuk melayani masyarakat yaitu para pelanggan. Katanya “pelanggan adalah raja”, tetapi nyatanya bukan. Para manager di tiap kantor tadi hendaknya memperhatikan hal ini, bagaimana kantor mereka akan maju bila muka para karyawannya di tekuk terus seperti wajah yang tanggung bulan.

Semoga harapan saya ini terkabul. Anda setuju bukan?-

Pengalaman Dr. Elga

Sejak adanya ISP ( Internet Service Provider ) Cirebon Elganet di kota Cirebon 18 Oktober 199, saya quit dari Cirebon Wasantaranet. Sejak itu saya menjadi user Cirebon Elga.net.id

Setelah saya mencoba membuat Personal Home Page ( website ), saya mendapat tawaran agar homepage saya di uploading ke Server Crb.Elga.net.id

Berangkat dari homepage yang sederhana akhirnya berkembang menjadi puluhan page dan yang paling banyak adalah page tentang Kisah/pengalaman praktek saya ( menu Story ). Rupanya homepage saya: http//crb.elga.net.id/~basuki banyak dikunjungi oleh Staf Crb.Ega.net.id, warga Crb Elganet dan para Netter.

Melihat isi homepage saya ini, pihak Cirebon Elganet tertarik untuk bekerja sama dengan saya dalam Ruang Konsultasi Kesehatan di Internet. Di dalam website Cirebon Elganet ada link ke homepage saya dan sebaliknya sehingga kedua website ini saling berhubungan. Untuk memudahkan nama Ruang Konkes ini, di pilih nama Dokter Elga yang akhirnya nama ini merupakan nama samaran dari Dokter Basuki Pramana, bahkan lebih terkenal. : )

Pada bulan-bulan pertama di release nya Ruang Konkes Dr. Elga, ruang ini mendapat kunjungan yang cukup banyak setiap bulannya oleh para Netter yang dapat dilihat dari angka pada Hit counter website yang terus bertambah. Kami tidak menyangka bahwa website ini mendapat sambutan Netter yang cukup baik.

Mekanisme yang sengaja dibuat sangat mudah yaitu hanya meng klik menu Dokter Elga, mengisi pertanyaan, mengisi identitas/e-mail address si penanya dan meng Klik menu Submit, maka sampailah e-mail pertanyaan tsb ke Server Cirebon Elganet dan juga ditembuskan ( c.c / carbon copy ) ke e-mail address saya, basuki@crb.elga.net.id Dengan demikian bila saya membuka mailbox saya, saya akan mengetahui ada pertanyaan untuk Dr. Elga. Setelah menjawab pertanyaan dengan mengetiknya saya melakukan uploading ke Server Crb Elganet melalui software Cute FTP. Pertanyaan dan jawaban Dr. Elga ini saat itu juga sudah dapat dibaca di website Crb Elganet.

Sejak saat itu nama Dr. Elga dapat berkibar, dikenal oleh para Netter baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Hal ini membuat saya lebih rajin dan disiplin dalam membuka mailbox dan menyebabkan saya lebih sering membuka catatan kesehatan / textbook untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk. Untuk mengetahui perkembangan Ilmu Kedokteran, saya sering mencarinya di website yang ada di Internet misalnya: Yahoo.com, Google.com dsb .

Lokasi tempat tinggal para Netter yang mengirim pertanyaan kepada Dr. Elga juga sangat bervariasi, mulai dari Cirebon dan sekitarnya, Bandung, Jakarta bahkan sampai dari Melbourne ( Australia ) dan Afrika Utara. Lokasi ini saya ketahui dari jawaban atas pertanyaan saya “ Dari mana Anda tahu website Dr. Elga dan dari kota mana Anda saat ini mengirim e-mail ?” kepada para penanya.

Umumnya mereka menemukan website : http://crb.elga.net.id/ ( Dr. Elga ) ketika mereka surfing di Yahoo.com, padahal webmaster crb.elga.net.id tidak mempromosikan website ini ke Yahoo.com Kehebatan Search engine Yahoo.com yang dapat menemukan nama Dokter Elga sehingga nama tsb dapat dihubungi oleh para Netter yang sedang surfing di Yahoo.com patut dipuji.

Rupanya Dr. Elga sudah go international sehingga sudah dapat dimintakan jawabannya oleh para penanya dari luar R.I. Dua contoh kasus misalnya dari:

Seorang Ibu Rumah Tangga Indonesia yang sedang mengikuti sang suami yang sedang berada di Melbourne, Australia bertanya tentang keluhan Keputihan ( Fluor albus ) dan Kehamilannya, pernah mengirim pertanyaan dalam 2 e-mail nya.

Seorang pemuda Indonesia yang sedang bertugas mengikuti salah satu Tim Kesehatan di Afrika Utara, bertanya tentang keluhannya yang berupa lecet/ulcus pada Glans penisnya. Saya balik bertanya “ Mengapa Anda tidak berkonsultasi dengan Dokter yang ada di Tim Anda saja ?” Jawabannya sungguh menggelikan “ Karena malu. Lebih enak bertanya di Internet sehingga tidak diketahui orang lain.” Nah lho….

Setelah diketahui bahwa di Cirebon Elganet mempunyai Ruang Konsultasi Kesehatan, maka webmaster Bandung Elganet meminta kepada saya agar saya dapat pula menjadi pengasuh Ruang Konkes yang akan dibuat di websitenya. Permintaan ini tidak dapat saya sanggupi , dengan alasan:

“ Di Bandung banyak dokter yang hobby komputer / Internet dan saya tidak ingin mengambil lahan mereka. Biarlah Teman Sejawat saya saja di Bandung yang mengasuhnya. Bila anda berminat, silahkan menghubungi Bandung Elga.net.id "

Khusus tentang homepage saya, ada beberapa e-mail yang ditujukan kepada saya yang memberikan kesan pribadinya setelah mengunjungi : http://crb.elga.net.id/~basuki

Tiga contoh diantaranya adalah dari:

Seorang Bapak, wiraswasta, yang berkomentar bahwa homepage saya cukup komunikatif dan enak dikunjungi, karena Sistim flowchart nya yang baik. Saya tidak menyangka ada pujian seperti ini, karena “ilmu” saya masih sangat sedikit dan masih harus belajar banyak tentang website.

Seorang Pendeta yang berdomisili di sekitar kota Cirebon, yang menyatakan di dalam e-mail nya bahwa beliau sudah habis-habisan berkunjung ke homepage saya. Bapak Pendeta ini sudah membaca semua tulisan yang ada di dalamnya. Tentunya beliau sudah menghabiskan sekian puluhan jam pulsa telepon on line untuk membaca homepage saya itu. Wah…..rupanya Bapak Pendeta ini asyik sekali membaca kisah pengalaman saya. Saya terharu

Seorang Bapak, Dosen AMIK ( Akademi Manajemen dan Ilmu Komputer ? ) dari kota Palangkaraya ( Kalimantan Tengah ) mengirim 2 e-mail yang mengatakan bahwa ia terkesan dengan homepage saya dan bahkan bertanya bagaimana caranya membuat “Guest book “ yang tidak ada dalam homepage saya. Saya tidak membuatnya karena di Server ISP saya tidak di install Front Page Extention yang dapat merupakan lubang bagi para Hacker yang mencoba menyusup ke Server ini. Oleh karena itu saya hanya mencantumkan e-mail address saya dalam homepage tadi. Ia juga memberikan alamat Personal Home Pagenya. Tentu saja homepagenya lebih bagus dari pada saya punya. Bukankah ia seorang Dosen di bidang komputer, sedangkan saya hanya seorang autodidak yang beruntung mendapat bantuan dari webmaster ISP saya.-

Minggu, November 06, 2005

Dokter diomelin Ibu pasien.

4/15/2001 12:27:10 AM.

Sebelum era Reformasi jarang sekali pasien atau keluarga pasien menyalahkan / ngomelin dokter. Pada era Reformasi banyak hal tersebut dialamai oleh saya. Kalau ditelusuri sebabnya adalah lebih banyak anjuran dokter yang tidak dituruti oleh mereka. Penyakit tidak/belum sembuh kemudian mereka mengajukan complaint kepada dokter. Salah satu contoh dari kejadian tersebut adalah kisah dibawah ini.

Sepuluh hari yang lalu datang seorang pasien Hadi ( bukan nama sebenarnya ), laki-laki 14 tahun, diantar oleh Ibunya berobat kepada saat jam praktek sore. Pasien mengeluh demam sejak 2 hari yang lalu, kepala pusing, tidak selera makan, badan terasa lesu. Ibunya mengatakan pasien sudah minum tablet penurun panas yang dapat dibeli bebas, tetapi demam masih berlanjut sehingga ia mengantar putranya berobat kepada dokter ( saya ).

Setelah melakukan : anamnesa ( wawancara dengan pasien & ibunya ) dan melakukan pemeriksaan fisik, saya mengambil kesimpulan bahwa pasien menderita gejala Typhus ( Typhus abdominalis ). Mengingsat pasien tidak begitu mampu, saya tidak membuat pemeriksan darah di Laboratorium Klinik.
Saya memberikan resep: Kapsul Antibiotika, Tablet penurun panas dan Tablet Vitamin untuk selama 5 hari, advis istirahat di tempat tidur selama masih demam ( bed rest ), makan bubur selama masih ada demam, banyak minum, kompres dingin di kepala selama masih demam dan anjuran agar kontrol ulang setelah obat habis ( karena tidak mungkin Typhus sembuh dalam 5 hari, minimal ia harus minum antibiotika selama 10 hari ).

Enam hari setelah kunjungan pertama, mereka datang kembali. Kini ibu pasien meradang, dengan nada marah ia berkata,”Dokter anak saya belum sembuh, ia demam lagi. Bagaimana ini ?”
Saya menjawab, “Apakah semua obat dan semua advis saya sudah dilakukan?. Kalau obat habis kan harus kontrol/datang berobat kembali. Kemarin obat sudah habis, sekarang kok baru kontrol lagi. Lagi pula kenapa Ibu marah-marah?”.
Ia menjawab lagi,”Demamnya sudah turun setelah minum obat dari dokter selama 2 hari. Pada hari ketiga anak saya bermain badminton meskipun sudah saya larang. Malamnya ia demam tinggi sampai sekarang.”

Nah ketahuan kan, pasien belum sembuh ( gejala Typhus kok sudah berani main badminton ) sudah beraktifitas fisik yang melelahkan. Berarti advis dokter dilanggar, tetapi sang Ibu menyalahkan dokter.
Saya tidak mau bertengkar dengannya ( orang yang sedang kesusuahan emosinya sangat sensitive ).
Saya berkata, “ Begini saja Bu, saya beri resep lanjutan dan semua advis saya agar dilakukan tanpa ada tawar menawar lagi. Pasti sakit putra Ibu akan sembuh .”
Saya berikan resep anti biotika untuk 7 hari lagi dan obat penurun panas selama 3 hari lagi dengan suatu keyakinan bahwa bila obat dan anjuran saya dilakukan dengan baik maka penyakit putranya akan segera sembuh seperti ratusan pasien dengan gejala yang sana yang pernah berobat kepada saya. Amin.-

Dokter tidak bonafid.

Pandangan masyarakat terhadap dokter terlalu bersifat materi, artinya dokter itu orang yang kaya, punya mobil bagus dan sebagainya. Semula saya tidak percaya akan hal ini, tetapi akhirnya saya mempercayainya, karena saya pernah mendengar langsung dari masyarakat.

Pada tahun 1980 ketika saya menjadi Kepala Puskesmas Cirebon Utara saya mengendarai mobil sedan Fiat tahun 1958 ( mobil antik, karena tuanya ). Mobil ini sangat berharga sebagai alat transpotasi dari rumah ke tempat bekerja. Setiap pagi ketika saya sampai di gedung Puskesmas yang berseberangan dengan gedung Balai Desa Mertasinga, saya selalu bertemu dengan Bapak Kepala Desa ( Kades , Kuwu ). Pak Kades selalu berkata “ Dokter, mobilnya diganti dengan yang lebih bagus dong.” Sindiran ini selalu saya jawab dengan “ Ya saya setuju, tapi Bapak harus beri pinjaman uang untuk pembeli mobil yang bagus” Pak Kades sendiri tidak mempunyai motor atau mobil. Ia selalu jalan kaki dari rumah sampai ke Balai Desanya. Setelah mempunyai sedikit tabungan, maka saya membeli mobil Minibus Mitshubisi 500 cc produksi tahun 1981 dengan cara mencicil seharga 3 juta rupiah. Saya pikir pasti Pak Kades tidak akan “menyindir” saya lagi. Ketika Pak Kades mengetahui saya ganti mobil ini, ia mengatakan “ Ya dokter, jangan minibus dong, ganti saja dengan mobil sedan.” Wah kalau dituruti terus “sindiran” Pak Kades, repot saya. Rupanya Dewi Fortuna mendekati saya sehingga saya dapat mencicil mobil sedan Honda Civic tahun 1983. Sekarang Pak Kades tidak “menyindir” saya lagi, karena saya naik sedan untuk alat traspotasi. Bila kami mengikuti Rapat bulanan di Kantor Kecamatan, Pak Kades saya ajak untuk pergi bersama-sama naik sedan ini. Ia merasa senang boleh mencicipi sedan Pak Dokter. Ketika saya mutasi ke kotamadya Cirebon, Pak Kades Mertasinga sudah almarhum akibat penyakit yang dideritanya. Selamat jalan Pak Kades yang selalu mendorong saya untuk memiliki mobil sedan. Terima kasih atas “sindiran” Bapak.

Karena gaji sebagai PNS tidak cukup untuk biaya hidup, maka saya juga buka warung alias praktek sore hari. Saya mengambil daerah Klayan sebagai tempat praktek sore sejak tahun 1980 sampai 1983. Ada pengalaman yang berbau sindiran kepada dokter karena dokter yang dipanggilnya naik motor dan bukan naik sedan. Suatu sore saya berangkat naik motor Vesapa milik ayah saya, karena Fiat saya masuk bengkel. Setelah selesai mengobati pasien di rumahnya yang masuk kedalam salah satu gang di daerah Klayan, saya mohon pamit kepada keluarga pasien. Salah seorang tetangga pasien bertanya kepada saya “ Dok, parkir mobilnya dimana?” Saya jawab “ Saya tidak mengendarai mobil, saya naik Vespa agar dapat lebih cepat dan mobil tidak dapat masuk gang.” Kalau parkir di pinggir jalan, maka saya harus jalan kaki untuk sampai di rumah pasien dan ini tentu akan lebih lama sampai di rumahnya. Mendengar bahwa saya naik Vespa, terdengarlah suara “ Wah .. naik motor, dokternya tidak bonafid.” Saya tidak ambil pusing, yang penting tugas saya dapat diselesaikan dengan baik dan pasien dapat sembuh. Akhirnya pasien ini menjadi pelanggan tetap saya .

Pengalaman lain yang masih ada hubungannya dengan mobil sebagai lambang kebonafidan seorang dokter. Suatu sore datanglah seorang Bapak yang merupakan pasien lama saya. Setelah dipersilahkan duduk, Bapak ini berkata “ Kemarin Dokter tidak praktek ya?” Saya terkejut karena kemarin saya buka praktek. Saya menjawab” Saya ada, Pak.” “ Kemarin saya lihat mobil dokter tidak ada di halaman tempat praktek. Jadi saya pulang lagi.” Saya menjelaskan “ Oh.. kemarin saya naik Vespa, karena mobil saya sedang diservis di bengkel ( maklum mobil antik ) “. Rupanya keberadaan mobil merupakan tanda ada tidaknya dokter di suatu tempat. Padahal hal ini tidak selalu benar. Dalam hati saya membatin: bapak ini sebenarnya perlu sama mobil atau dokternya?

Sebagai kesimpulan dari pengalaman saya ini: bahwa untuk dihormati orang kita harus mempunyai suatu yang menurut masyarakat merupakan lambang kebonafi dan seorang dokter misalnya sebuah mobil sedan. Bila kita tidak punya apa-apa, ya apa lagi. Kita akan sering menerima cemoohan dari masyarakat. Anda boleh tidak percaya dengan kesimpulan saya ini tetapi kesimpulan ini ada benarnya, paling tidak bagi saya. Anda punya pengalaman lain ?-

Kasus Tetanus neonatorum


Cirebon, 6-Sep-00.
Siapapun kalau bisa tidak ingin mati, sehingga sering dimintakan semoga panjang umur bagi mereka yang berulang tahun. Sebenarnya lebih baik bila dimintakan: semoga awet muda. Panjang umur tetapi bila tidak dapat merawat diri sendiri lagi, maka akan merepotkan orang lain. Semua di dunia ini ada waktunya, ada waktu menanam ada waktu untuk menuai, ada waktu berjumpa ada waktu untuk berpisah, ada waktu untuk lahir dan ada waktu untuk meninggal dunia. Tetapi bila meninggal dunia ketika masih berumur beberapa hari setelah dilahirkan, maka ini merupakan kejadian yang menyedihkan sekali, seperti pada kasus ini.
Kasus ini terjadi pada tahun 1981 ketika saya menjadi Kepala Puskesmas Cirebon Utara dan merangkap Kepala Puskesmas Kapetakan. Seminggu setelah bertugas di Puskesmas Kapetakan kira-kira pukul 10.00 pagi ada seorang Bapak yang meminta dokter datang kerumahnya yang berjarak 50 meter dari Puskesmas, karena anak bungsunya sedang sakit parah. Anak ini baru berumur 7 hari yang terbaring di sebuah bale. Pasien ini tampak kejang pada rahangnya ( trimus ), demam dan sudah 1 hari tidak mau minum Asi ibunya. Tampak ibunya sedang menangis diatas bale ( tempat tidur ). Pusar bayi itu masih dibungkus ramu-ramuan. Terlintas dalam pikiran saya bahwa bayi ini mengalami kejang akibat infeksi pada pusarnya sehingga ia demam dan ia sedang menderita Tetanus neonatorum. Segera saya menganjurkan agar bayi ini dibawa ke RSU Gunung Jati, tetapi mereka menolak karena alasan ekonomi. Saya melihat kakak-kakak bayi ini ada 4 orang, rumahnya sangat sederhana dengan lantai dari tanah dan ayahnya in adalah buruh tani. Mereka hidup dalam kesederhanaan dan belum mau masuk program KB. Tak lama setelah saya kembali di Puskesmas, saya mendengar bahwa bayi ini sudah pergi alias meninggal dunia. Duh.. pendek benar umurmu nak. Perawatan tali pusat yang buruk akibat lahir ditolong Ibu paraji ( dukun beranak yang belum mendapat latihan prenatal care bagi bayi ) menyebabkan penyakit Tetanus neonatorum ( tetanus pada bayi baru lahir ). Hal ini merupakan tantangan bagi petugas kesehatan di Indonesia agar jangan ada lagi kasus Tetanus neonarorum. Karena itu program pelatihan Prenatal care bagi para Paraji mutlak harus dilakukan untuk mencegah penyakit Tetanus pada bayi yang baru lahir dimana angka kematiannya sangat tinggi yaitu 80 - 90 %.-

Sabtu, November 05, 2005

Bekerja di Puskesmas Cirebon Utara, Kabupaten Cirebon.


Penempatan saya sebagai Dokter Inpres di Kecamatan Cirebon Utara Kabupaten Cirebon merupakan titik awal perjuangan saya sebagai dokter untuk mulai mencari nafkah untuk menghidupi keluarga saya. Isteri saya yang mendapat tugas sebagai Dokter di PMI Cabang Cirebon, turut menunjang perjuangan kami selanjutnya. Kami suami-isteri, sesama dokter mulai mencari nafkah di kota kelahiran saya sendiri. Cita-cita ayah saya sudah terkabul dan bahkan mendapat menantu yang juga seorang dokter. Di rumah ayah sekarang ada 2 orang dokter umum.

April 1980 – November 1983 saya bekerja di Puskesmas Cirebon Utara, kabupaten Cirebon. Lokasi Puskesmas di Desa Mertasinga, berhadapan dengan Kantor Desa Mertasinga. Minggu I bulan April 1980 saya mulai bekerja. Dr Achmad Ali selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon memberi 3 pilihan Puskesmas yaitu: Puskesmas Susukan, Puskesmas Sedong Lor dan Puskesmas Cirebon Utara. Puskesmas terakhir yang saya pilih, karena lokasinya dekat (4 Km) dengan Kotamadya Cirebon.

Diantar Kepala Tata Usaha Dinkes Kab. Cirebon, Bapak Ali bin Sef, berkendaraan Jip Dinasnya kami melakukan peninjauan ke 3 Puskesmas tadi. Dr A. Ali dan Pak Ali bin Sef orangnya ramah dan mau menerima saya bekerja di wilayah kerjanya, Kabupaten Cirebon.

Tibalah saat serah terima jabatan (Sertijab) Kepala Puskesmas Cirebon Utara yang lama (Dr. Reni) kepada pejabat yang baru (Dr. Basuki Pramana). Acara in dilakukan di aula Kantor Kepada Desa Mertasinga. Hadir dalam acara itu Tripida Kecamatan Cirebon Utara, seluruh Kepala Desa (Kades) dan undangan lainnya.
Lima belas menit sebelum acara dimulai, Pak Ali bin Sef mengatakan kepada saya agar menyiapkan diri untuk berpidato menyampaikan Kata Sambutan. Saya sempat grogi juga karena belum pernah berpidato di depan orang banyak dalam acara resmi seperti ini. Karena belum biasa berpidato secara lisan, saya, menyusun konsep pidato secara garis besar pada sehelai kertas. Saya hafalkan materi pidato singkat ini. Bayangkan dalam waktu lima belas menit saya harus menyiapkan pidato. Ketika tiba acara sambutan dari Kepala Puskesmas yang baru, saya berpidato yang intinya adalah:
Perkenalan diri saya
Ajakan untuk dapat bekerja sama dalam bidang kesehatan dan
Berterima kasih atas kesediaan Bapak Camat dan jajaran Kecamatan Cirebon Utara untuk menerima saya sebagai Kepala Puskesmas yang baru.




Seminggu kemudian saya mendapat tugas dari Kepala DinKes Kabupaten Cirebon untuk mengikuti Penataran P4 tingkat Kabupaten selama 10 hari. Baru seminggu saya buka praktek sore di Jl. Klayan sudah harus menutup pintu praktek lagi. Penataran P4 ini dilakukan di Gedung Pendopo Kabupaten Cirebon yang saat itu terletak di Jl. Kartini, Cirebon.

Masih teringat oleh saya bahwa dalam Penataran P4 ini ada acara Pidato yang merupakan tugas wajib bagi seluruh peserta. Lama pidato tanpa teks ini 5 menit saja bagi setiap peserta. Materi pidato telah ditentukan dan para peserta dapat memilih judul pidatonya. Saya memilih judul yang ada kaitannya dengan KB (Keluarga Berencana) yang ada dalam materi GBHN. Waktu lima menit terasa sangat cepat. Pidato belum selesai, pembina acara telah menghentikan pidato saya. Saya dapat melewati acara pidato ini dengan mulus. Saya merasa kasihan kepada teman sekelompok yaitu Pak A. dari Pertamina. Ia seorang yang pendiam dan sepertinya sulit diajak bicara. Ketika giliran Pak A tiba untuk berpidato, waktu lima menit ini dilewatkan begitu saja (hening) tanpa keluar sepatah katapun dari mulutnya.

Ketika pembina acara bertanya “Mengapa anda diam saja?”
Pak A menjawab “ Maaf Pak, saya tidak dapat berpidato.”
Kami terdiam dan kasihan kepadanya. Tanpa pidato berarti nilainya kosong, tetapi ternyata ia lulus juga dalam penataran P4 ini.

Masayarakat pada umumnya bila datang berobat ke Puskesmas selalu mengharapkan dapat diperiksa oleh dokter. Padahal tugas dokter bukan hanya mengobati saja tetapi menangani seluruh program kesehatan yang berjumlah 12 program. Setiap hari kerja saya dan perawat laki-laki (Sdr. Jarmadi) memeriksa pasien di masing-masing ruang periksa. Rata-rata kunjungan pasien 40-
50 orang /hari. Khusus pada hari Jum’at yang merupakan hari pasaran setempat, kunjungan pasien melonjak sampai 90–100 orang/hari. Hari Pasaran di tiap Kecamatan berbeda-beda, ada yang hari Senin, Selasa dsb. Pada hari itu seminggu sekali masyarakat desa pergi ke pasar untuk menjual hasil pertaniannya dan belanja keperluan sehari-hari. Pasar yang terdekat adalah Pasar Celancang yang lokasinya hanya 100 meter dari Puskesmas terletak di tepi jalan jalur Cirebon – Indramayu.

Rumah dinas yang saya mimpikan di Puskesmas Cirebon Utara ternyata belum dibangun, masih tanah kosong disebelah Kantor Danramil. Tahun ke 2 saya bekerja disana rumah dinas ini dapat dibangun. Rumah ini saya manfaatkan untuk praktek pagi sebelum saya bekerkja di Puskesmas. Lokasi rumah ini disebrang pekuburan Tionghoa (bong Cina) di Desa Mertasinga, sebelum jembatan Sungai Bondet dari arah kota Cirebon. Di kolong jembatan Sungai Bondet ini banyak ikan kakap. Salah seorang karyawan Puskesmas Cirebon Utara mempunyai hobby mancing ikan disana. Hasil pancingannya disantap sebagai lauk makan malam keluarga mereka.

Tahun 1981 saya mendapat tugas merangkap sebagai Kepala Puskesmas Kapetakan, kecamatan tetangga dari Kecamatan Cirebon Utara. Kepala Puskesmas Kapetakan (Dr. Suparman) mengalami mutasi ke Kecamatan Losari. Untuk mengisi kekosongan saya menjadi ban serep.

Suasana di kedua Puskesmas ini tidak jauh berbeda. Keadaan masyarakat ditepi pantai umumnya mempunyai daya beli yang masih rendah dan daerahnya sulit air untuk mengairi lahan pertaniannya. Pada umumnya mereka menjadi nelayan.

Saat itu saya diberi tugas oleh Camat Kapetakan (Bapak Suhadi) menjadi salah seorang Penatar P4 tingkatan Kecamatan Kapetakan. Sebagian besar peserta adalah guru Sekolah Dasar. Materi GBHN yang tersulit dan terbanyak materinya menjadi jatah saya. Wah repotnya menjadi 2 Kepala Puskesmas. Tugas menjadi 2 kali lebih banyak, tetapi tanpa ada penambahan gaji atau honorarium. Apa boleh buat. Keuntungannya adalah saya mempunyai 2 kali lebih banyak kenalan pejabat tingkat kecamatan.

Bekerja di Puskesmas Cirebon Utara menyebabkan saya lebih akrab dengan para Kades (Kuwu). Berbeda dengan di kodya Cirebon dimana Kepala Kelurahan dan Kecamatan adalah para PNS (Pegawai Negeri Sipil) dan selalu sibuk dengan urusan dinas. Setiap Kades tidak mendapat gaji tetapi mendapat jatah tanah bengkok (garapan) seluas 2 Ha. Tanah ini dapat dikelola sendiri sebagai lahan pertanian atau disewakan kepada orang lain (petani).

Kades Mayung (Pak H. Nurman) lebih akrab dengan saya bila dibandingkan dengan Kades lainnya. Setiap selesai penyuluhan kesehatan (PKM) di desa Mayung, saya beramah tamah dengan keluarganya sambil mencicipi hidangan pasar dan air kelapa muda yang baru dipetik dari pohon kelapa di halaman rumahnya yang luas. Ia mempunyai pabrik penggilingan padi (huler). Ia termasuk orang yang terpandang di kecamatan kami. Ia sering berobat ke praktek sore saya.-

Dokter dapat ayam

Kejadian ini saya alami ketika saya masih menjadi Kepala Puskesmas Kecamatan Cirebon Utara dan merangkap Kepala Puskesmas Kapetakan pada tahun 1981. Ketika melakukan tugas peninjauan ke lapangan, saya bersama staf mengunjungi satu desa Bungko Kecamatan Kapetakan. Penduduk Kecamatan ini sering melakukan tawuran antar desa hanya karena alasan yang kecil saja seperti kaki terinjak warga dari desa lain pada waktu ada hajatan atau keramaian lain di salah satu desa. Tawuran yang sering terjadi ini cukup memusingkan pejabat Muspika bahkan pejabat Muspida setempat. Tawuran ini terus berlanjut sampai tulisan ini dibuat ( 1999 ) bahkan makin parah, sehingga mengganggu lalu lintas Cirebon Indramayu / Jakarta. Bila terjadi tawuran maka jalur lalu lintas tadi terpaksa ditutup untuk menghindari kerusakan kendaraan yang melewati jalur ini.
Dalam rangka pelaksaan program Kesehatan Lingkungan, kami meninjau Desa Bungko tadi yaitu untuk memeriksa tempat penampungan Air Hujan. Daerah ini sulit mendapatkan air pada musim kemarau, karena sumur penduduk mengalami kekeringan. Keadaan ini biasa terjadi di daerah pantai Kecamatan Kapetakan. Pada umumnya tempat penampungan Air hujan ini sudah banyak yang retak/bocor sehingga dikahawatirkan tidak dapat menampung/menyimpan air pada waktu musim hujan sampai musim kemarau tiba. Setelah peninjauan lapangan, kami beristirahat di salah satu rumah warga Desa dan kami berbincang-bincang. Setelah merasa cukup, kami mohon pamit kepada pemilik rumah. Ketika pulang kami diberi oleh-oleh 3 ekor ayam dara dari warga desa tadi. Mereka mengatakan bahwa ayam Bungko lebih gurih dari ayam biasa.
Dalam perjalanan pulang, saya menanyakan kepada staf saya, apa sebabnya ayam Bungko lebih gurih dari pada ayam biasa? Sambil tersenyum ia mengatakan bahwa ayam Bungko seperti juga ayam di desa-desa lain biasanya dilepas ( tidak dikurung dalam kandang ayam ). Untuk makanan ayam-ayam tadi mencari makan sedapatnya yang ada disekitar desa tadi . Karena masih banyak penduduk yang buang air besar di pinggir jalan, tepi saluran air limbah, maka kotoran manusia juga dimakan oleh ayam-ayam tadi. Karena itu ayam Bungko lebih gurih dari ayam biasa. Mendengar penjelasan staf saya, hilanglah selera saya untuk mencicipi kegurihan ayam Bungko tadi. Saya mengatakan kepada staf saya bahwa ayam-ayam tadi silahkan dipotong dan dimasak untuk lauk makan siang ketika kami mengadakan Staf meeting Puskesmas 2 hari lagi. Benarkah ayam Bungko lebih gurih? Silahkan Anda mencoba sendiri.-