Sabtu, Agustus 23, 2014

JALAN SEHAT 16 AGUSTUS 2014



Dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan R.I. yang ke-69, tahun 2014 ini Komisi Dewasa Gereja Kristen Indonesia Pengampon, Cirebon mengadakan acara jalan sehat pagi hari pada hari Sabtu, tanggal 16 Agustus 2014 yang diikuti oleh para anggota jemaat dewasa.

Pukul 05.00 seluruh peserta jalan sehat sudah berkumpul di halaman GKI Pengampon, Cirebon. Tiap peserta mendaftar terlebih dahulu di Tata Usaha gereja dengan membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 10.000,- per orang. Jumlah peserta kali ini cukup banyak, ada yang masih muda dan banyak pula yang sudah berusia sepuh. Jumlah peserta yang terdaftar sebanyak 160 peserta.

Peserta yang tiba segera mengambil T–shirt berwarna merah dengan logo “Komisi Dewasa GKI Pengampon 31, Cirebon” dengan warna hitam. T-shirt tersebut segera dipakai oleh masing-masing peserta. Di halaman gereja suasana lebih terang dengan adanya warna merah T-shirt yg dipakai peserta jalan sehat ini.

Jalan pagi merupakan olah raga yang paling murah dan menjehatkan badan. Penulis juga mengikuti acara ini dan bersyukur bila saat usia di atas kepala 6 ini masih dapat berjalan tanpa menggunakan tongkat.

Acara dimulai dengan Senam pagi yang dipimpin oleh Ibu H, yang biasa memimpin senam kesehatan di Panti Wreda Kasih Cirebon. Selama sekitar 30 menit para peserta mengikuti senam ini sebagai pemanasan jalan sehat.

Sebelum berangkat peserta berdoa bersama terlebih dahulu yang dipimpin oleh Bapak Penatua S. memohon agar seluruh peserta dapat mengikuti jalan sehat ini mulai start dan finish di gedung gereja dengan selamat.
Selesai berdoa, para peserta sudah tidak sabar untuk segera berjalan menuju jalan Merdeka.

Rute yang dilalui adalah: GKI Pengampon (start) – Jl. Merdeka – Jl. Pasuketan – Jl. Pekiringan – Jl. Pulasaren – Jl. Lemahwungkuk – GKI Pengampon (finish). Rute ini berjarak sekitar 3,5 Km, tidak terlalu jauh, tetapi cukup menyegarkan badan peserta.

Sambil berjalan peserta saling ngobrol diselingi gelak tertawa. Panitia dan peserta gerak jalan sehat ini bersyukur dapat turut memeriahkan HUT Kemerdekanan RI tahun 2014, negara kita tercinta ini.

Peserta memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk mencapai finish. Tiba di gereja para peserta melepaskan lelah sambil menikmati sarapan pagi berupa Nasi Langgi dan air mineral yang disediakan oleh Panitia gerak jalan sehat.

Sampai jumpa di acara yang sama pada tahun 2015 yang akan datang. Tetap semangat.-

--bp--


Senin, Juli 28, 2014

Peduli Kasih GKI Pengampon 2014



Setiap tahun menjelang Hari Raya Idul Fitri di negara kita terjadi arus mudik. Untuk membantu kelancaran arus mudik maka Gereja membentuk Panitia Peka yang pada tahun ini sudah mencapai yang keempat kalinya.

Peka tahun 2014 ini diketuai oleh Bpk. IS. Pelaksanaan PEKA yang semula akan diadakan pada tanggal 22 – 26 Juli 2014 diundurkan menjadi tanggal 23 – 27 Juli 2014. Tanggal 27 Juli 2014 pelayanan hanya setengah hari saja. Tugas pagi mulai pk. 08.00 s/d 14.00 dan tugas sore mulai dari pukul 14.00 s/d 20.00.

Panitia Peka yang terdiri dari beberapa Seksi antara lain: Seksi Usaha, Seksi Perlengkapan, Seksi Kesehatan, Seksi Transportasi, Seksi Konsumsi dan Seksi Dokumentasi. Menjelang hari H Panitia telah mengadakan 4 kali Rapat Panitia Peka bertempat di Ruang Serba Guna GKI Pengampon pada sore sampai malam hari.

Ada banyak Donatur yang membantu Panitia dalam pelayanan ini antara lain berupa tempat di halaman SPBU Pangenan, 15 Km dari kota Cirebon ke arah Tegal, mobil boks, makanan dan minuman, air mineral, peralatan kompor, gas Elpiji dll. Kami berterima kasih sekali kepada para Donatur yang memberikan banyak bantuan materi dan moril kepada kami.

Panitia juga dibantu oleh banyak relawan dalam pelayanan ini. Mereka bekerja tanpa pamrih dan dikerjakan dengan rasa gembira dan penuh suka cita untuk membantu para pemudik yang melewati lokasi Pos Peka 2014 ini.

Para pemudik yang berdatangan ke tempat Pos Peka ini merasa tertolong mendapat pelayanan dari Panitia Peka ini. Semua pelayanan diberikan secara gratis. Fasilitas yang tersedia berupa: SPBU untuk mengisi bahan bakar kendaraan roda dua dan roda empat, halaman parkir yang luas, toilet, tempat sembahyang, dan tempat istirahat/tidur.

Dalam perjalanan darat yang melelahkan ini para pemudik dapat beristirahat sambil menimati makanan dan minuman yang disediakan oleh Panitia. Makanan bisa pilih: Nasi bungkus dengan lauk pauk sederhana, Mie instan rebus dengan bermacam merk. Minuman bisa memilih yang panas (kopi, kopi susu) atau yang dingin: orange juice, ale-ale, aqua gelas dll.

Sambil menikmati makanan dan minuman gratis, para pemudik juga dihibur musik dengan lagu-lagu dangdut dan lagu-lagu pop yang dimainkan oleh beberapa anggota Panitia seperti Bapak dan Ibu H. Musik ini diiringi juga dengan gerakan-gerakan menari beberapa orang panitia dan para relawan yang diselingi gelak tertawa yang hadir di tenda Peka ini. Para pemudik merasa sangat terhibur oleh pelayanan kami ini. Kami bersyukur dalam melakukan pelayanan ini.

Penulis yang mendapat tugas pada hari ke 4 (Sabtu pagi) dan ke 5 (Minggu pagi) hari terkahir, berangkat bersama rombongan yang telah berkumpul di halaman GKI Pengampon pada pukul 07.00. Kami berdoa terlebih dahulu memohon agar dalam perjalanan ke tempat tugas dan selama menjalankan tugas, kami mendapat perlindungan. Rombongan naik 3 mobil gereja menuju SPBU tempat dimana kami akan bertugas.

Selama menjalankan tugas kami bekerja diiringi dengan gurauan yang menyegarkan dan diselingi gelak tertawa. Dengan guyonan waktu berjalan terus tanpa terasa.

Saat tengah hari Seksi Konsumsi datang membawakan menu makan siang yang sederhana tapi cukup nikmat untuk dinikmati saat perut mulai keroncongan. Cuaca yang terik disiang hari menyebabkan rasa haus yang dapat diatasi dengan minum minuman dingin yang cukup tersedia dari pihak sponsor yang membantu kegiatan Peka tahun ini.

Keluhan kesehatan para pemudik pada umumnya gangguan mata (kelilipan, mata perih, mata merah) yang segera mendapat obat tetes mata. Ada juga yang mengeluh sakit gigi, perut mual/maag, badan pegel linu, anak batuk. Ada juga pemudik, seorang pemuda yang terjatuh dari sepeda motornya dan mendapat luka robek pada betis kakinya. Pemuda ini segera diantar petugas ke Puskesmas terdekat untuk mendapat jahitan selanjutnya.

Saat para pemudik mulai bersiap untuk melanjutkan perjalanan yang masih jauh, kami mengucapkan: “Selamat jalan dan semoga sampai dengan selamat di tempat tujuan Bapak dan Ibu sekalian”.

Sekitar pukul 13.30 rombongan yang bertugas siang dan malam hari mulai berdatangan untuk menggantikan tugas para petugas pagi hari. Kami naik mobil gereja untuk kembali ke GKI Pengampon, Cirebon.

“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435H. Mohon maaf lahir batin.”
-----

Rekreasi warga Panti Wreda Kasih ke Gronggong



Seksi Kerohanian Panti Wreda Kasih Cirebon yang diketuai oleh Pak T mempunyai rencana kerja mengajak warga panti untuk rekreasi setahun 2 kali. Kali ini 8 Juni 2014 warga Panti diajak untuk makan malam bersama di Rumah Makan Salt yang berlokasi di daerah Gronggong, Cirebon. Rumah Makan ini terletak di daerah yang lebih tinggi dari daerah pantai. Pemandangannya bagus dilihat pada saat matahari akan tenggelam. Pada malam hari akan tampak lampu kelap kelip di kota Cirebon yang berjarak sekitar 10 km dari lokasi Rumah makan.

Peserta terdiri dari 10 orang warga Panti, 3 orang karyawan Panti, 11 orang Pengurus Panti dan seorang pengemudi. Semua peserta berkumpul di gedung Panti pada pukul 16.30. Penulis menyertai rombongan ini. Sebelum berangkat rombongan berdoa terlebih dahulu yang dipimpin oleh Pak T, kami berharap agar rombongan selamat dalam perjalanan pulang-pergi.

Pukul 16.40 rombongan yang terdiri dari Minibus gereja dan 2 sedan pribadi milik pengurus Panti berangkat menuju lokasi Rumah Makan Salt. Perjalanan berjalan mulus, lancar dan tidak macet. Pukul 17.05 rombongan tiba di lokasi dengan selamat.

Para peserta memasuki Rumah Makan dan mengambil tempat dibagian belakang Rumah Makan. Dari tempat duduk rombongan dapat melihat pemandangan yang indah. Di kejauhan tampak bangunan dan rumah penduduk kota Cirebon. Penulis mengambil foto untuk kenang-kenangan yang belum tentu dapat diulang untuk kedua kalinya.

Sebelum kedatangan kami Ibu ML sudah memesan terlebih dahulu menu makanan yang terdiri dari: nasi putih hangat, sayur asam, tahu-tempe goreng, udang goreng, sayur karedok, ayam bakar yang dibawa oleh Ibu ML dan air teh hangat. Doa makan dipimpin oleh Pak H selaku Ketua Panti Wreda Kasih. Hidangan yang cukup sederhana ini tidak mengurangi selera makan para peserta.

Peserta dapat menikmati makan malam yang diselingi obrolan diantara peserta dalam suasana santai dan gembira. Kami para Pengurus Panti bersyukur para warga Panti dapat merasakan suasana makan malam yang berbeda dengan makam malam di Panti yang selama bertahun-tahun telah dijalani oleh mereka. Makanan cukup tersedia dan bila kurang dapat menambah nasi putih atau lauk pauknya.

Setelah dirasa cukup dan perut kenyang, peserta berfoto bersama di ruang tengah Rumah Makan ini. Agar seluruh peserta dapat diambil fotonya, maka penulis menggunakan alat Tripoid untuk menyangga kamera yang akan mengambil foto seluruh peserta. Kami melihat para warga Panti tampak santai, bergembira dan dapat menikmati makan malam mereka.

Pukul 18.10 seluruh peserta memasuki mobil masing-masing dan kami meninggalkan Rumah Makan Salt dan menuju kota Cirebon kembali. Rombongan tiba dengan selamat di gedung Panti dan selesai sudah acara makan malam bersama ini. Kami bersyukur tidak ada peserta yang mengalami gangguan kesehatan dalam rekreasi kali ini. Sampai jumpa di acara makan bersama di lain waktu.-

Rabu, Juli 23, 2014

Abses di telapak kaki


Kemarin pagi datang berobat seorang anak laki-laki si E, 13 tahun. Ia diantar oleh Ibunya.

Saya melihat ketika mereka memasuki Ruang Periksa, E berjalan tidak wajar. Kaki kanannya tidak dapat berjalan dengan normal.

Saya bertanya kepada mereka “Kenapa kakinya dik?”

Sang Ibu menjawab “Ini Dok, kaki putra saya seperti ada bisulnya.”

Saya mempersilahkan E berbaring di Bed pemeriksaan. Tampak pada telapak kaki kanan dekat jempol ada benjolan berwarna kuning dan merah.

Saya bertanya lagi “Sudah berapa hari, Bu?”

“Ada sekitar 3 hari, Dok”

“Ini ada nanah di bawah kulit telapak kakinya. Nanah itu mesti dibersihkan.”

Saya mengoleskan cairan Betadine (antiseptis) ke benjolan yang besarnya berdiameter 3 Cm. Dengan menggunakan gunting bedah kecil, saya menusuk benjolan tadi dan menggunting sedikit kulit telapak kakinya sepanjang ½ Cm. Keluarlah cairan nanah bercampur darah. Saya menekan-nekan sekitar benjolan tadi dan makin banyak nanah yang keluar. Setelah dirasa cairan nanah keluar semua, tampak benjolan tadi hilang dan kulit telapak kaki itu rata dengan daerah sekitarnya.

Saya mengambil kain kasa steril yg dibasahi dengan cairan Betadin dan meletakkan diatas lubang yang saya buat. Lalu saya membalut kaki E dengan kain kasa pembalut. Selesai sudah tugas saya untuk pasien yang satu ini.

Segera saya menuliskan resep untuk si E ini berupa: tablet antibiotika, tablet anti peradangan, tablet anti nyeri, Betadine dan kain kasa steril, kain kasa pembalut. Saya berpesan kepada E kalau mandi jangan kena air dahulu selama 2-3 hari.

Lega hati saya setelah menyelesaikan tugas membantu mengobati abses pasien saya yang satu ini.

Rabu, Juni 25, 2014

Pasien yang rajin


Kemarin pagi sekitar pukul 05.30 saat saya membersihkan halaman depan rumah, terdengar seseorang mengetok-ngetok pintu pagar. Saya melihat seorang Bapak di depan pintu pagar.

Saya bertanya “Ada keperluan apa Pak? Bapak siapa?”

Ia menjawab “Met pagi. Saya pasien Ibu dokter ( isteri saya ). Saya datang ingin melaporkan hasil pemeriksaan laboratorium milik saya.”

Saya bertanya lagi “Kapan Bapak berobatnya?”

Ia menjawab “Dua hari yang lalu.”

“Oh.. boleh, tapi saat ini isteri saya belum siap buka praktik, Pak. Bagaimana kalau nanti Bapak datang lagi sekitar pukul 07.30. Nanti saya laporkan kepada isteri saya.”

Bapak itu berkata lagi “Baiklah nanti saya datang lagi ya.”

Setelah Bapak itu meninggalkan rumah kami, saya membatin “Kok rajin amat ya pasien ini. Hanya sekedar melaporkan hasil pemeriksaan laboratoriumnya ia datang pagi-pagi sekali, dimana belum ada seorangpun dokter praktik yang sudah siap praktik .”

Saat isteri saya memasuki ruangan keluarga saya melaporkan bahwa tadi ada pasien yang hendak melaporkan hasil pemeriksaan laboratoriumnya dan ia akan datang lagi sekitar pukul 07.30.

Keesokan harinya saya bertanya kepada isteri saya tentang Bapak ini “Bagaimana hasil pemeriksaan laboratorium pasien tersebut?”

Isteri saya menjawab “Hasilnya semua baik setelah mendapatkan terapi seminggu yang lalu.”

Saya bersyukur kalau hasil pemeriksaan Bapak yang rajin itu menunjukkan hasil yang baik. Ternyata pasien tersebut adalah pasien langganan isteri saya.-

Rabu, Maret 19, 2014

Handphone..oh..handphone



Saat ini sudah banyak orang yang mempunyai handphone, mulai anak SD sampai orang Dewasa, baik pria maupun wanita. Mulai dari handphone yang sederhana sampai yang canggih (smartphone) yang mempunyai fasilitas untuk membuat foto, chatting, browsing Internet, sosial media dan lain-lain fasilitas.

Kadang beberadaan handphone dapat mengganggu suatu rapat, pertemuan, kebaktian di gereja dan lain-lain pertemuan. Tidak jarang dihimbau agar handphone dimatikan saat pertemuan tersebut sedang berlangsung.

----

Kejadian ini terjadi sekitar bulan yang lalu. Saya menghadiri undangan pernikahan dari salah satu relasi di suatu gedung pertemuan. Acara resepsi pernikahan ini diadakan dengan memakai meja perjamuan. Satu meja diisi untuk 10 kursi undangan.

Sambil menunggu kedatangan kedua mempelai, saya ngobrol dengan tamu undangan disebelah kiri saya. 2 kursi disebelah kanan saya masih kosong. Tidak berapa lama kemudian datanglah 2 tamu undangan lain, mereka duduk disebelah kanan saya. Persis disebelah kanan saya duduk seorang ibu usia sekitar 40 – 45 tahun. Ia datang bersama putrinya yang berusia sekitar 7-8 tahun.

Ibu ini tanpa basa basi duduk dikursi disebelah saya. Melihat wajah saya juga tidak. Kesan saya terhadap ibu ini kurang baik, acuh dengan orang sekitarnya. Tidak berapa lama kemudian ia mengeluarkan sebuah smartphone handphone dari handbagnya.

Mulailah ibu ini mengutak-utik handphonenya. Entah apa yang dikerjakan dengan handphonenya itu. Saya pikir para undangan hadir diresepsi pernikahan ini untuk bergaul dengan tamu –tamu lain dan menikmati hidangan resepsi dan bukan asik mengutak-utik handphone.

Saat hidangan resepsi nomer satu datang ke meja kami sampai hidangan terakhir datang, ibu ini tetap asik dengan handphonenya. Ada saat-saat dimana ia menyuap hidangan dan lebih banyak ia asik dengan handphonenya.

Kok ada ya orang yang fanatik dengan handphonenya dan cuek dengan orang-orang disekitarnya. Saya pikir dia dapat bergaul dengan handphonenya nanti di rumah dan bukan saat menikmati hidangan resepsi.

Akhirnya saya juga cuek dengan ibu disebelah saya ini. Saya menganggap tidak ada orang yang duduk disebelah kanan saya. Jangan-jangan terhadap suaminya juga tidak peduli lagi, ia lebih asik bergaul dengan handphonenya.

Handphone..oh..handphone.-

Senin, Desember 23, 2013

Sakit kepala


Hari Sabtu, 21 Desember 2013 sekitar pukul 14.30 saya sedang istirahat siang. Terdengar ketukan pintu pagar halaman rumah kami.

Saya melihat ada seorang Ibu bersama seorang putrinya di depan pintu pagar.

Saya bertanya “Ada apa Bu?”

Ibu itu menjawab “Saya ingin berobat, Dok.”

Sambil membukakan pintu pagar saya berkata “Kalau mau berobat belum waktunya, Bu. Nanti pukul 16.00 mulai buka praktik.”

Ibu itu menjawab “Tolonglah Dok, saya tidak tahan lagi. Kepala saya sakit sekali.”

“Mari masuk, Bu.”

Setelah berada di Ruang periksa, saya segera memeriksa pasien ini yang berusia 59 tahun. Pada pemeriksaan tekanan darahnya ternyata cukup tinggi, 200/100 mmHg. Tekanan darah normal sekitar 120/80 mmHg. Lain-lain dalam batas normal.

Saya berkata kepada pasien “Bu, tekanan darahnya tinggi. Apakah Ibu ada darah tinggi sebelumnya?”

Ibu ini berkata “Saya tidak tahu, Dok. Sudah lama tekanan darah saya tidak diukur. Beberapa hari yang lalu kedua kaki saya sakit dan saya minum obat herbal. 2 hari kemudian sakit kaki saya hilang tetapi kepala saya sakit sekali. Sakit di kaki sembuh tetapi pindah ke kepala saya, Dok.”

“Obat herbal apa, Bu?”

“Saya juga tidak tahu, Dok. Obat herbal itu pemberian teman saya.”

Saya tidak begitu yakin obat herbal itu yang menyebabkan kepala pasien ini menjadi sakit.

Sakit kepala, demam dan pusing merupakan keluhan pasien yang paling banyak saya dapatkan pada pasien-pasien yang datang berobat. Mungkin Ibu ini sudah sejak lama menderita tekanan darah tinggi dan ia tidak memeriksakannya kepada dokter. Tekanan darah tinggi biasanya tidak memberikan gejala dan baru diketahui saat mereka diperiksa saat ia ingin mendonorkan darah, minta Surat Keterangan Sehat untuk mendapatkan Surat Ijin Mengemudi, saat ingin melamar pekerjaan dan lain-lain.

Saya menuliskan sebuah resep obat untuk diambil di Apotik berupa tablet anti hipertensi yaitu: tablet golongan beta blocker, tablet Calsium Channel Blocker dan tablet pain killer yang juga berisi obat penenang. Kombinasi 3 tablet ini untuk 10 hari dan diharapkan dapat menurunkan tekanan darah pasien ini dan sakit kepalanya.

Saya adviskan agar seminggu kemudian ia datang lagi untuk diperiksa kembali tekanan darahnya.

Sambil mengucapkan terima kasih, pasien meninggalkan Ruangan periksa saya.-

Kamis, Oktober 24, 2013

Kemauan pasien



Dalam waktu seminggu terakhir ini saya menjumpai beberapa kejadian yang unik pada pasien atau keluarga pasien. Kejadian itu sebagai berikut:

1. Mau mendaftar untuk berobat:

Suatu pagi terdengar dering telepon di rumah kami.
“Selamat pagi.” Kata saya.
“Saya mau daftar untuk berobat, Pak”. Terdengar suara seorang wanita di seberang sana.
Saya berkata “Baik, namanya siapa, umur berapa dan dimana alamatnya?”
“Saya mendaftar untuk keluarga saya nama A, umur 48 tahun, alamat jalan Anu nomer sekian.”
Saya berkata lagi “Baik, datanglah pukul 16.00 sore ini.” Pasien itu dapat nomer satu.
“Tapi, Pak, kami inginnya berobat pada jam 05.00 sore ini. Bisa tidak?”
Saya membatin “Diberi nomer satu, tidak mau dan minta diperiksa pukul 05.00 sore. Aneh ini orang.”
“Baik, datanglah pukul 05.00 sore ini ya. Sudah saya catat.”

2. Mau diperiksa hanya oleh dokter wanita:

Tadi pagi saat saya praktik di tempat praktik ke 2, yaitu tempat praktik isteri saya saat sore hari, datang seorang pria usia sekitar 45 tahun.
Ia berkata “Pak, kami mau berobat.”
Saya menjawab “Baik, silahkan masuk Pak.”
“Tapi yang mau berobat isteri saya yang masih berada di rumah di jalan Anu.”
Saya berkata lagi ‘Baik, pak saya tunggu isteri Bapak.”
“Kalau Ibu dokter (isteri saya) ada tidak, Pak.” Ia bertanya.
“O..kalau isteri saya praktiknya sore hari. Kalau mau, Bapak dan isteri datang sore hari mulai pukul 16.00.”
“Iya kalau begitu nanti sore saya kami datang lagi, sebab pasiennya kan wanita jadi lebih afdol kalau diperiksa oleh dokter wanita.” Katanya kemudian, sambil meninggalkan ruang tunggu pasien.
Saya membatin seorang dokter bisa dan boleh memeriksa pasien baik wanita atau pria. Tidak harus pasien wanita hanya boleh diperiksa oleh dokter wanita, bahkan Dokter Ahli Kebidanan dan Penyakit Kandungan yang pria mempunyai pasien semuanya wanita.
Saya menduga isteri bapak itu mempunyai keluhan yang ada hubungannya dengan organ seksualnya, misalnya mau kontrol setelah pasang IUD, gatal-gatal di sekitar alat vitalnya dan lain-lain.


3. Datang mau berobat pada jam 06.00 pagi:

Pagi ini sekitar pukul 06.00 pagi saya membersihkan halaman depan rumah kami. Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita “Dok, saya mau berobat.”
Saya membukakan pintu pagar halaman dan berkata “Mau berobat ya? Kepada dokter yang mana (di rumah kami ada 2 orang dokter umum yaitu saya dan isteri).”
“Mau berobat kepada Ibu dokter,” jawabnya.
“O.. isteri saya belum siap. Datanglah pukul 07.30 ya.”
Saya membatin rasanya tidak ada dokter yang buka praktik pagi hari seperti saat ini pukul 06.00.
“Baik, nanti saya datang lagi,” jawabnya lagi.
Pukul 07.00 saat saya membaca koran yang baru datang, wanita itu sudah datang lagi, padahal belum pukul 07.30. Rupanya pasien ini sudah kebelet ingin cepat-cepat diperiksa oleh isteri saya.
Saya membukakan pintu pagar halaman rumah untuk mempersilahkan pasien ini masuk.
Saya memberitahukan isteri saya, bahwa ada seorang pasien wanita yang mau berobat dan sudah menunggu di ruang tunggu pasien.


Jumat, Oktober 04, 2013

Kembali ke tanah air





29 September 2013, Minggu.

Tidak terasa sudah 3 minggu kami berada di kota Sydney dan kami harus kembali ke tanah air.

Untuk mempercepat proses check in, maka kami melakukan check in secara elektronik via Internet ke website maskapai penerbangan Qantas. Dalam waktu 24 jam sebelum jam keberangkatan, kami check in. Setelah mengisi nama, nomer paspor dan identitas lainnya, maka kami dapat memilih nomer kursi di dalam pesawat dengan nomer penerbangan QF41. Pesawat akan lepas landas pada 29 Sep 2013 pukul 13.25 Sydney time.

Pukul 10.30 saya dan isteri dengan diantar oleh putra dan putri kami meluncur ke Kingsford Sydney Airport. Di bagian manual check in QF41 tampak banyak penumpang yang antri. Pada bagian electric check in tampak kosong. Kami segera menyerahkan Paspor dan bukti check in yang sudah kami print. Seorang petugas wanita white people membubuhkan nomer gate dimana pesawat berada dan menimbang 3 koper pakaian kami. Dalam penerbangan maskapai Qqantas kelas ekonomi diperbolehkan membawa bagasi seberat 30 kg per penumpang. Jadi untuk 2 penumpang, bagasi diperbolehkan seberat 60 kg. 3 koper kami setelah ditimbang mempunyai berat sebesar 40 kg, jadi tidak melebihi batas ketentuan berat bagasi.

Selesai check in maka kami sudah mempunyai boarding pass yang sudah kami print kemarin siang. Setelah itu kami mengambil foto bersama putra dan putri kami. Selesai semuanya maka kami menuju bagian imigrasi untuk mendapatkan stempel pada paspor kami. Disini kami harus antri juga dalam antrian yang cukup panjang.

Selesai di bagian imigrasi kami menuju rtuangan yang cukup luas yang ternyata adalah toko-toko yang bebas bea. Disini ada di jajakan parfum, sovenir, minuman beralkohol, snack, coklat, koper pakaian, pakaian dan lain-lain. Kami membeli beberapa snack untuk oleh-oleh.

Masih ada cukup waktu sebelum kami memasuki pesawat. Kami duduk di ruang tunggu di gate 35. 30 menit sebelum waktu lepas landas para penumpang diperbolehkan memasuki pesawat Qantas. Kesempatan pertama diberikan kepada penumpang dari kelas bisnis dan kemudian penumpang dari kelas ekonomi.

Pesawat ternyata full house, tidak ada seat yang kosong, semuanya terisi penumpang. Para penumpang dapat melihat layar monitor yang melekat pada bagian belakang seat yang berada di depan penumpang. Pesawat lepas landas tepat waktu pada pukul 13.25 Sydney time. Setelah pesawat berada di udara, saya menyalakan LCD untuk memantau perjalanan pesawat dari Sydney menuju kota Jakarta.

Kami juga dapat melihat bermacam film yang dapat dipilih di layar monitor. Ada film komedi, action, drama dan lain-lain yang bisa dipilih. Saya melihat banyak film Mr. Bean yang kocak itu.

Pesawat berada di ketinggian antara 30.000 – 33.000 feet diatas bumi, kecepatan pesawat ( di darat ) 850 km per jam, suhu diluar pesawat berkisar antara -30 sampai -50 derajat Fahrenheit. Lama perjalanan sekitar 6 jam 30 menit nonstop.
Cukup lama juga penerbangan Sydney – Jakarta dan para penumpang harus duduk di seat masing-masing. Saya beberapa kali menuju toilet untuk buang air kecil. Suhu udara di dalam pesawat cukup dingin juga.

Setengah jam setelah pesawat lepas landas para awak kabin yang semuanya berkulit putih menyajikan makan siang, snack dan minumam panas dan dingin. Kwalitas makanan dan minuman cukup baik. Pelayanan awak kabin juga cukup ramah.

Pukul 17.30 WIB pesawat kami mendarat dengan mulus di Bandara Sukarno-Hatta, Jakarta. Setelah turun dari pesawat kami bergegas menuju ke bagian imigrasi untuk mendapatkan stempel di paspor kami. Pelayanan yang cukup cepat sehingga kami tidak harus menunggu lama dibagian ini.

Saat kami menunggu koper-koper pakaian kami di ban berjalan, cukup lama juga. Sekitar 30 menit akhirnya kami mendapatkan 3 koper pakaian kami. Kami keluar dari Bandara dan segera kami dijemput oleh supir mobil kami. Mobil meluncur ke kota Cirebon dan puji Tuhan kami tiba dengan selamat pada pukul 00.30 tengah malam.

Mengunjungi Sydney Darling Harbour




28 September 2013, Sabtu.

Besok kami akan kembali ke tanah air.
Pukul 04.00 p.m. saya, isteri dan putri kami berkunjung ke Sydney Darling Harbour di daerah City, Sydney.

Kami melihat ada banyak pengunjung dari berbagai bangsa. Maklumlah karena hari ini week end. Kami sempat mengambil beberapa foto.

Di tengah sebuah lapangan rumput terdapat panggung live music. Seorang pria sedang bernyanyi lagi pop Indonesia yang diiringi musik dari sebuah band. Di tepi lapangan terdapat banyak kios yang menjual makanan khas Indonesia, seperti: Sate Padang, Lunpia, Nasi Gudeg, Nasi Campur dan sebagainya.

Rupanya hari ini ada Festival Indonesia. Konon setiap akhir pekan disini diadakan Festival dari berbagai bangsa. Tidak terasa hari sudah mulai gelap, tetapi masih banyak pengunjung di Darling Harbour ini dimana terdapat Gedung Opera House yang merupakan ikon kota Sydney.

Siang dan malam hari terdapat banyak pengunjung disini. Luar biasa.

Sebelum kembali ke flat putri kami, kami santap malam bersama di sebuah rumah makan.
Saat hendak keluar dari lantai bawah gedung parkir, putri kami membayar biaya parkir di mesin pembayaran parkir (semacam mesin ATM). Dengan memasukkan Kartu parkir yang diambil saat mobil masuk ke gedung parkir, maka tampak tertera angka $13 (senilai Rp. 143.000,-) di layar monitor, untuk biaya parkir sekitar 4 jam. Biaya parkir yang cukup mahal ini tidak membendung para pengunjung ke daerah City ini. Putri kami memasukkan sebuah kartu Kredit ke dalam lubang khusus pembayaran dan keluarlah sehelai Resi dari mesin pembayaran parkir ini.