Jumat, Juli 04, 2008
Pantai Jimbaran
“Don’t die, before see Bali Island.” Jangan mati, sebelum melihat Pulau Bali.
Begitu slogan orang Barat yang berbau promosi. Bahkan bagi sebagian orang Australia, Bali adalah tanah air nereka yang kedua. Bali dan Australia masing-masing mempunyai pantai yang indah, tetapi mengapa orang Australia saat liburan lebih suka pergi ke Bali yang dapat dijangkau selama 5 jam penerbangan pesawat?
Bali mempunyai daya tarik tersendiri. Tidak heran bila ada kesempatan, orang akan berusaha pergi melihat Pulau Bali, Pulau Kayangan. Wisman mancanegara menganggap pesiar di Bali lebih murah dari pada di negaranya sendiri. Shooping di Bali dirasa lebih murah bila memakai dolar ( USA / Australia ) untuk membeli produk dengan harga IDR ( Indonesian Rupiah ). Hal ini bertentangan dengan kemampuan wisman dalam negeri yang membeli produk disana dengan IDR mereka sebab kebanyakan produk telah dihargai dengan Dolar. Saya pernah melihat harga sepasang sandal jepit biasa US$8.0, di salah satu counter di Ngurah-Rai Airport, Denpasar pada tahun 2000. Kurs saat itu sekitar Rp. 7.000,- an. Dengan uang sebanyak itu berapa pasang sandal jepit kalau kita membelinya di Pasar Tanah Abang Jakarta? Bagi mereka US$8.0, no problem.
Sayang promosi yang gencar dilakukan oleh banyak pihak, tidak berdampak positip akibat ulah para teroris yang telah melakukan pemboman di Bali sampai dua kali. Hancurlah dunia pariwisata Bali, jumlah kunjungan yang merosot tajam, hotel-hotel menjadi sepi, bisnis para pedagang sekitar pantai menurun tajam, makin sulit penduduk lokal mencari nafkah. Pendapatan daerah asli pulau ini sebagian besar mengharapkan dari sektor pariwisata. Lebih parah lagi adanya travel warning oleh pemerintah USA dan Australia bagi warganegaranya untuk lebih berhati-hati bila ingin bepergian ke Bali.
Masih ada masyarakat baik dalam negeri maupun luar negeri yang tetap mengunjungi Bali, meskipun situasinya dianggap kurang aman. Mati atau hidup ada di tangan Tuhan, kalau kita berbuat baik, kenapa mesti takut. Begitu alasan mereka.
------
Aku mengikuti rombongan mantan siswa SMA Negeri angkatan tahun 1966 di kota kami. Sejak 3 bulan sebelum keberangkatan rombongan yang berjumlah 44 orang ini telah mengadakan persiapan yang matang. Rombongan ini terdiri dari dari Ibu dan Bapak yang berusia diatas 55 tahun.
Rombongan menggunakan sebuah Bus Pariwisata dari kota Bandung. Bus yang mewah ini berangkat dari depan Mesjid At Taqwa kota Cirebon pada pukul 05.00 WIB tanggal 21 September 2005. Direncanakan kami akan kembali di kota kami kembali pada tanggal 26 Desember 2005 sebelum bulan Ramadhan yang jatuh pada tanggal 5 Oktober 2005.
Bus melintasi Pantai Utara Pulau Jawa, Tegal, Pekalongan, Semarang, dan tiba di Surabaya sekitar pukul 01.30 dini hari akibat padatnya lalu lintas di Pantura, kami datang lebih lama dari perkiraan waktu tiba. Kami beristirahat di rumah Ibu Yati, isteri seorang mantan seorang Kapolres di daerah Surabaya.
Ketua rombonga kami, Pak Wihara mengadakan kontak melalui telepon genggam bahwa kami akan tiba di rumah Ibu Yati pada tengah malam, meskipun kami berjanji akan tiba sekitar pukul 19.00 untuk menghadiri resepsi pernikahan salah seorang putrinya.
“Selamat datang teman-temanku” Ibu Yati menyambut kedatangan kami.
“Sudah tiga puluh sembilan tahun kita tidak berjumpa sejak tahun 1966, tetapi teman-teman masih ingat kepadaku. Mari masuk, makan, minum sepuasnya dan beristirahatlah sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Denpasar” Ibu Yati menerima kami dengan ramahnya. Maklum teman lama. Kami saling melepas kangen dan mengambil beberapa foto bersama.
Satu jam kemudian kami pamit kepada keluarga Ibu Yati dan bus menuju Pasir Putih dan tiba pagi hari sekitar jam 07.30 WIB. Bus kami berjalan sepanjang hari dan sepanjang malam. Hanya berhenti bila mengisi Solar atau tiba di suatu tempat untuk makan atau buang air kecil yang biasanya salah satu pompa bensin. Dengan 2 orang Supir yang bertugas secara bergantian dan 3 orang awak bus Bus kami berjalan nonstop. Di salah satu Rumah Makan kami memanfaatkan fasilitas mandi dan toilet dengan bayaran Rp.2.000,-/orang.
“Wah segernya mandi disini” aku berkata kepada Marku temanku.
“Betul Bud, airnya segar dan kita sudah 1 hari tidak mandi.he..he..” Marku menjawab.
Setelah sarapan rombongan menuju arah Timur menuju kota Ketapang, Banyuwangi, tempat yang paling Timur dari Pulau Jawa. Bus kami menyebrang dari Ketapang dengan menggunakan kapal feri melintas Selat Bali menuju kota Gilimanuk.
Setiba di Gilimanuk, P. Bali, bus meluncur kearah utara P. Bali menuju Lovina Beach. Tengah hari kami tiba di pantai ini. Disini sebenarnya banyak ikan Lumba-lumba yang dapat kita lihat bila kita naik perahu motor ke tengah laut. Tidak seorangpun yang mau pergi ke tengah laut di tengah hari yang sangat panas.
Kami melanjutkan perjalanan ke Bali Tengah, mengunjungi Danau Bedugul. Kami melanjutkan perjalanan ke Bali Selatan menuju Sanur. Kami bermalam dua malam di Hotel Abian Srama (*) untuk melepaskan lelah dan mandi sepuasnya.
Kesokan hari sebelum kami ramai-ramai berjalan kaki ke Pantai Sanur, setelah kami sarapan pagi di Hotel.
Marku temanku memesan secangkir kopi. Ketika ia akan membayar Kopinya ia terkejut karena disodori bon sebesar Rp. 10.000,- ( sekitar US$1.0 ).
“Kok mahal amat, harga Kopi di hotel ini. Di Pasar Sukowati ( pasar trdisionil diluar kota Denpasar), harganya hanya Rp.1.500,-”.
Aku menggodanya “Masih untung, kamu tidak ditagih US$4.0 harga normal secangkir Kopi di hotel ini. Mungkin itu sudah harga paket karena kita ini rombongan 44 orang yang nginap disini.”
Tampak kekesalan di wajah Marku, temanku.
Kami mengambil beberapa foto bersama di pantai Sanur ini. Keadaan berawan sehingga kami tidak dapat melihat Sunrise matahari terbit dan matahari tenggelam, Sunset di pantai Sanur yang indah ini. Sepanjang hari banyak para wisman dalam negeri dan luar negeri berjemur di pantai sanur ini.
Rombongan mengunjungi objek-objek pariwisata lain seperti Benoa Beach. Di pantai ini kami tiba tengah hari. Ada 2 rombongan masing-masing 10 orang yang menyewa perahu motor dengan bayaran Rp. 10.000,- per orang untuk menuju ke suatu tempat penangkaran Penyu Bali. Di tengah perjalanan perahu berhenti sejenak untuk memberi kesempatan para wisman ini melihat dasar laut yang dangkal melalui alas perahu yang terbuat dari fiber glass yang transparan sehingga kami dapat melihat rumput laut yang hijau bergoyang-goyang oleh arus air laut, ikan-ikan berwarna-warni.
Tiba di tempat penangkaran Penyu Bali, kami melihat banyak Tukik ( anak Penyu ) dan kami berfoto bersama. Ada beberapa Ibu yang ingin berfoto ketika mereka dalam posisi menduduki salah satu Penyu yang terbesar. Wah kocaknya, karena sang Penyu ogah diduduki manusia. Ia bergerak-gerak dan penumpangnya berjatuhan. Wah heboh….Geerrr. tertawa semua.
Udara panas dan disana ada penjual Kelapa muda. Kami minum masing-masing sebuah Kelapa muda yang dihargai Rp. 10.000,-/buah yang tidak dapat ditawar.
“Lima ribu aja ya.” Nur menawar
“Tidak bisa Bu, kami juga membeli dari tempat lain dengan harga yang mahal” Ibu penjual Kelapa itu menolak tawaran Nur.
Ketika air Kelapa habis tersedot, kami minta Kelapa dibelah dengan golok besar dan tajam. Kami menikmati daging buah Kelapa muda yang kenyal dan nikmat itu.
Kami kembali ke Pantai dan banyak para turis yang bermain ski air yang ditarik kapal motor dengan kecepatan tinggi. Ada juga yang naik Parasut yang di tarik kapal motor sehingga parasut yang membawa seorang penumpang itu naik dan terbang tinggi di udara.
Yang lain menaiki perahu karet, bertiga mereka ( dua penumpang dan satu instruktur pendamping ) yang ditarik oleh kapal motor dengan kecepatan sangat tinggi sehingga akhirnya perahu karet ini dapat naik ke udara, seperti ikan terbang, flying fish. Terdengar teriakan-terikan para penumpangnya yang kaget karena tiba-tiba perahu karet yang mereka tumpangi terbang diatas permukaan air laut Benoa beach.
Keesokan harinya kami pindah Hotel, kami menginap semalam di Hotel Ratna (*) di daerah Kuta. Setelah check-in kami ada acara bebas. Kesempatan ini aku dan beberapa teman berjalan kaki menuju Monoment Bom Bali I di daerah Legian, Kuta. Kami sempat mengambil foto-foto yang diambil secara bergantian. Kamera digital Nikon Coolpix7900-ku sangat bermanfaat untuk mengabadikan moment ini.
Kami merasa sedih dan mengutuk keras para teroris yang telah melakukan pemboman di daerah ini. Banyak korban yang meninggal dan luka-luka, Bali makin sepi dikunjungi wisman. Nama-nama para korban diabadikan di di dinding Monomen ini, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Di dekat Hotel Ratna, ada sebuah Toko “Jogger” yang menjual pakaian, T-Shirt, gantungan kunci dan lain-lain produk. Mutu yang lebih bagus dari pada toko-toko lain, Jogger memasang tarif harga yang lebih mahal. Banyak kalimat-kalimat yang menggelitik yang melekat pada T-Shirt, gantungan kunci dll.
Yang unik adalah jam buka toko yang semaunya saja. Toko seharusnya dibuka pada pukul 10.00, calon pembeli sudah berkumpul banyak di depan pintu masuk. Eh….para petugas toko malah membiarkan mereka menunggu lama dan pada pukul 12.00 tengah hari barulah toko dibuka dan para calon pembeli saling berebut masuk. Mungkin mereka senang melihat para pengunjung berdesak-desakan berebut masuk ke toko mereka.
“Sialan bener nih toko. Kami disuruh menunggu berjam-jam untuk masuk” kata seorang Bapak sambil menuntun putra dan putrinya masuk ke toko Jogger.
“Siapa suruh mau datang ke toko ini”, seorang gadis di belakangnya berbisik kepada temannya. Mereka ketawa cekikian, mentertawai orang lain, padahal mereka sendiri pun sudah antri berjam-jam untuk sekedar membeli T-Shirt atau Jean yang ketat, kesukaan anak-anak muda.
Juga ada ketentuan membeli produk mereka yang di beri label Jogger: setiap pembeli hanya diperbolehkan membeli sebanyak 6 buah untuk T-Shirt, 3 buah untuk produk lain, dll dengan tujuan agar pengunjung yang lain pun dapat membelinya. Jadi tidak diperkenankan memborong semua barang. Pembayaran dengan Kartu Kreditpun tidak ditolak. Ada Loket pembayaran yang khusus untuk pembayaran dengan Kartu Kredit ini.
Makin dipermainkan, makin banyak pengunjung Toko Jogger ini. Inilah uniknya.
Antri? Siapa takut! Aku yang masuk paling akhir hanya geleng-geleng kepala saja. Penasaran tidak kebagian T-shirt, aku membeli 2 buah untuk putriku, masing-masing seharga Rp. 59.900,-. Kalau di toko lain mungkin setengah harganya. Kalau di Pasar Sukowati tentu harganya paling murah, hanya sekitar Rp. 10.000,- sampai Rp. 15.000,- dengan keterampilan pandai menawar seperti kaum Ibu belanja. Disini pembeli boleh memborong barang yang diinginkan asal cukup uang untuk membayarnya.
Keunikan Pasar Sukowati adalah lokasinya yang dipinggir jalan keluar dari kota Denpasar menuju Negara dan Gilimanuk, tempat untuk menyebrang ke P. Jawa. Mau tidak mau setiap mobil / bus harus melewati pasar Sukowati. Pasar ini mirip pasar Tegalgubug, di daerah Arjawinangun, Kabupaten Cirebon yang konon pasar pakaian murah terbesar se Asean.
Kami mengunjungi GWK ( Garuda Wisnu Kencana ) di daerah Uluwatu. Tiba di tempat sekitar pukul 15.00 WITA ( WIB + 1jam ). Puluhan Bus pariwisata diparkir di pelataran parkir yang luas. Ketika kami tiba sudah banyak rombongan dari tempat lain antara lain dari suatu pabrik elektronik di Surabaya. Peserta rombongan puluhan Bus mereka disambut dengan Tari Barong dan lain-lain atraksi dan kamipun larut dengan iring-iringan mereka
Kami menuju suatu bukit dimana terletak GWK. Suatu patung Dewa Wisnu yang terbuat dari lempengan logam. Konon dibuat oleh para seniman di Bandung. Patung ini masih perlu disempurnakan, karena masih belum selesai dan masih menunggu sponsor. Di bukit lain tampak patung seekor Burung Garuda.
Disana dipamerkan suatu maket / contoh GWK dalam skala ukuran yang lebih kecil setinggi 1,5 meter. Meskipun belum selesai tetapi aku melihat tinggi patung Dewa Wisnu ini puluhan meter dari permukaan tanah. Dari bukit yang tinggi ini kami dapat melihat pemandangan yang indah disekitarnya. Pemilihan lokasi GWK ini rupanya sudah diteliti matang-matang oleh si pembuatnya.
Puas mengambil foto-foto, kami menuruni bukit untuk b.a.k, di toilet yang terjaga bersih, cukup air mengalir, berbau harum, free of charge alias gratis. Keluar dari toilet aku melihat banyak orang berkerumun di satu tempat. Ternyata itu adalah penjual Es Cendol kesukaanku.
“Berapa harganya segelas, pak?” aku bertanya.
“Opat ribu wae” jawab seorang pemuda sekitar 25 tahunan.
Kok pakai bahasa Sunda sih. Ternyata ia dan kawan-lawannya berasal dari kota Tasikmalaya.
Merasa bisa berbahasa Sunda, aku berkata “Nyuhunkeun deui esna sakedik.” ( minta esnya sedikit lagi ) kepada salah satu penjual.
Tanpa ragu sedikitpun ia memberikan es batu sebanyak yang aku mau, tanpa harga ekstra. Bila satu bahasa, maka semuanya bisa diatur. KKN nih!
Kami juga mengujungi Tanah Lot, dimana ada Pura yang lokasinya ditepi Pantai. Semua objek pariwisata banyak pengunjungnya. Banyak anak-anak muda seusia delapan - sepuluh tahunan mereka menjajakan Foto-foto Tanah Lot dan lain-lain dengan harga Rp. 15.000,- / untuk sepuluh foto ukuran Post card dan dengan mutu cetak yang bagus. Aku membelinya untuk kenang-kenangan. Kami tidak pernah melihat seorang pengemispun di Pulau Bali ini.
Nina, seorang guide tour lokal dari sebuah event organizer yang bekerja sama dengan pemilik Bus Pariwisata yang kami pergunakan, membawa kami ke sebuah rumah tempat menyewakan pakaian adat Bali dan berfoto secara perseorangan atau berkelompok. Rumah ini berada di suatu Gang di suatu jalan raya di kota Denpasar.
Aku difoto ketika berpakaian adat Bali dari seorang Raja ( kata petugas yang membantuku berpakaian ). Foto-foto yang dibuat sudah tiba di Hotel kami tempat bermalam pada sore harinya. Suatu service cetakan yang baik.
Sepanjang perjalanan di Pulau Bali, rombongan kami banyak menemui upacara Odalan ( ulang tahun desa / keluarga ). Upacara bakar mayat ( Ngaben ) kami tidak menjumpai, kerena diadakan pada waktu tertentu mengingat biayanya sangat mahal. Begitu kata pak Wayan Wisnu, guide tour kami yang berdomisili di kota Denpasar.
Kami juga mengunjungi suatu tempat bernama Celuk, di daerah Sukowati. Kota ini terkenal dengan perhiasan Emas dan Perak murni. Di Toko Bali Gold, kami melihat-lihat. Saya sempat membeli sepasang Cincin Perak untuk isteriku dan aku sendiri dengan huruf initial name masing-masing di cincin Perak itu.
Untuk hadiah ulang tahun putriku pada bulan Desember 2005 aku membeli sebuah Cincin mas 23 K yang bermata Mutiara sebesar butiran buah Jagung yang konon hasil produksi Mutiara di P. Lombok. Untuk putraku, aku sudah menyiapkan sebuah cincin bermata Batu Blue Safire yang aku beli dalam kunjungan kami setahun yang lalu ke P. Lombok. Semuanya itu kubayar dengan Kartu Kredit Visa. Cincin itu akan aku bawa dalam kunjungan kami ke Sydney, Australia, pada medio Desember 2005, ketika kami akan menghadiri Wisuda putra kami yang lulus sebagai Dokter di salah satu Universitas di kota Sydney.
Istana Presiden Tampak Siring juga kami kunjungi. Ketika kami tiba disana sekitar pukul 16.00 WITA. Kami tidak diperkenankan masuk ke dalam halaman dalam Istana, hanya diperbolehkan masuk sampai di halaman depan. Kami sempat berfoto bersama dua orang Petugas Keamanan Istana. Dari kejauhan kami melihat banyak Rusa yang sedang merumput di halaman di depan bangunan Istana.
Suatu malam hari menjelang kepulangan kami kembali ke P. Jawa, kami makan malam bersama di Jimbaran Beach ( Pantai Jimbaran ). Dinner ini merupakan paket Pariwisata yang kami dapatkan dari trip kami ke P. Bali. Kami memasuki halaman belakang dari suatu Rumah Makan. Halaman ini langsung berada di tepi pantai Jimbaran.
Ada banyak Rumah Makan sepanjang pantai ini. Ratusan bus dan mobil pribadi di parkir di halaman parkir. Jalan raya yang hanya dapat dilalui oleh 2 mobil kecil sehingga sukar bila 2 bus saling berpapasan. Salah satu Bus mesti mengalah memberi jalan bagi Bus lainnya.
Ketika kami datang sekitar pukul 18.15 WITA, suasana pantai belum begitu ramai. Setengah jam kemudian seluruh kursi di seluruh Rumah makan sudah terisi. Sepertinya kami harus pesan tempat, bila ingin Dinner di pantai Jimbaran.
Kami mengharapkan sekali agar malam terakhir ini kami dapat menikmati Sunset di panatai Jimbaran. Lagi-lagi kami kecewa, karena awan hitam mendung banyak menghalangi sinar matahari yang akan masuk keperaduannya.
Kami berfoto bersama ketika hidangan sudah berada di meja masing-masing. Satu meja untuk delapan orang. Nyala lilin-lilin menambah semaraknya suasana di pantai Jimbaran ini. Baru sekali itu aku menikmati Dinner di pantai Jimbaran. Sayang isteriku tidak berada disampingku, karena urusan kantornya tidak mengijinkan mengikuti Trip kami ini.
Hidangan yang kami nikmati malam itu berupa: sebakul Nasi putih hangat, Ikan-ikan bakar ukuran kecil, Kangkung Pelecing ( ca kangkung yang sedikit pedas yang konon sayur Kangkung ini di datangkan dari P. Lombok ), Tahu, Tempe goreng, Sambel Terasi dan segelas Es Sirop. Nikmat juga Dinner ini. Angin berhembus lembut di pantai Jimbaran. Gelak tertawa saling bersahutan. Terasa aman dan damai. Kami menikmati sekali moment itu.
“Kita belum tentu bisa Dinner bersama lagi dalam kondisi yang sama seperti malam ini, Wi” aku berkata kepada Wihara yang duduk di sampingku.
“Betul Bud, mungkin kita hanya sekali ini bisa makan bersama. Lain kali mungkin jumlah teman tidak selengkap malam ini” jawabnya.
Keesokan harinya kami setelah chec-out hotel Ratna menuju Pasar Sukowati. Semua teman Ibu dan Bapak turun dari Bus. Turun hujan cukup besar tidak menghalangi mereka masuk ke dalam Gedung Pasar yang besar ini. Banyak yang memborong pakaian atau sekedar gantungan kunci. Padahal di kota kami ada banyak barang yang dijual dengan mutu yang sama. Mereka rela bersusah payah untuk belanja, katanya untuk oleh-oleh bagi yang di rumah.
Marku, temanku yang pecandu Kopi, memesan segelas Kopi di salah satu warung dan menikmati Kopi dengan harga yang jauh lebih murah dari pada harga secangkir Kopi di Hotel berbintang satu. Wajahnya cerah, secerah sinar matahari yang muncul kemudian setelah hujan reda di Pasar Sukowati. Aku memesan Mie instan kuah hangat ditambah sebutir Telur Ayam yang dilahap nikmat pada saat udara dingin akibat turun hujan di daerah Sukowati ini.
Bus meluncur ke Gilimanuk untuk menyebrangi Selat Bali dan kembali ke P. Jawa setelah melewati Ketapang di ujung Timur P. Jawa. Kami berjalan melewati pantai Selatan P. Jawa. Kami menuju Jember, Lumajang dan Blitar.
Di kota Blitar mobil kami di parkir di suatu tempat khusus parkir Bus. Kami mandi di rumah-rumah penduduk yang menyewakan kamar mandinya bagi para pejiarah makam Bung Karno. Dengan Tarif Rp.2.000,- kami dapat mandi sepuasnya. Makan pagi sekitar pukul 10.00 WIB berupa nasi Pecel, Rempeyek Kacang dan segelar air Teh hangat seharga Rp. 3.000,- sungguh nikmat. Badan segar sehabis mandi, perut kenyang, harga cukup terjangkau, kami bersiap-siap naik becak menuju Museum Bung Karno dan Makam Bung Karno.
Aku naik becak berdua dengan Marku, becak lain diisi isteri Marku dan anak gadisnya. Dengan tarif Rp. 10.000,- pulang pergi ke tempat asal, pelataran parkir Bus, kami mengunjungi Museum Bung Karno.
Musium Bung Karno sebagai Proklamator negera kita terletak di dalam sebuah rumah yang besar. Bangunan yang kuno ini mempunyai halaman yang luas dan dihuni oleh kerabat dekat Bung Karno. Semua ruangan bangunan diisi dengan perabot rumah tangga, lukisan dll barang. Kami dimintakan berfoto instan Polaroid dimana saja dengan membayar Rp. 10.000,- dan kami diperbolehkan untuk melihat-lihat musium Bung Karno sepuasnya.
Di halamanan belakang samping bangunan, diparkir sebuah mobil Mercedes warna hitam keluaran puluhan tahun yang lalu. Tampaknya mobil ini sudah tidak pernah dipergunakan lagi. Mobil yang mempunyai makna bersejarah ini tampak anggun dan aku sempat berfoto di samping Mercy hitam ini.
Kami menuju Makam Bung Karno dengan naik becak yang dengan setia menunggu kami. Kompleks Makam yang sedang dipugar ini cukup bagus. Di halaman depan tampak berdiri beberapa bangunan bergaya modern dan ada kolam air mancur yang belum selesai.
Dibelakang bagunan ini tampak sebuah halaman yang luas. Ditengah halaman ini berdiri sebuah bangunan beratap gaya Jawa. Tampak ada 3 makam. Di tengah adalah Makam Bung Karno dan di sisi kiri dan kanan adalah Makam Ibunda dan Ayahanda Bung Karno. Makam ini terbuat dari bahan yang bagus, lantai makam berupa keramik yang licin mengkilap.
Setelah semua peserta berkumpul di dalam Bus, kami lenjutkan perjalanan pulang. Bus menuju kota Yogya kemudian kami tiba di kota kecil Wates pada pukul 18.30 WIB. Bus berhenti di Rumah Makan Ambarketawang, satu Rumah Makan yang besar. Kami sempat mandi dan Dinner makanan khas Jawa Tengah. Sistim pembayaran yang khas pula. Rp. 10.000,- makan prasmanan sepuasnya. Selesai Dinner, kami masuk ke Toko yang menjual bermacam-macam Snack di sebelah Rumah Makan ini. Beban Bus kami bertambah berat karena hampir semua penumpang memborong makanan / Snack yang dijual disini.
Bus melanjutkan perjalanan ke kota Gombong, Puwokerto, Prupuk, Ketanggungan, Losari dan masuk kota Cirebon. Jalan raya di daerah Selatan Jawa tidak sebaik jalan raya berhotmix di Pantai Utara Jawa.
Kami tiba kembali di depan Mesjid At Taqwa Cirebon pada tanggal 26 September 2005 pukul 02.30 dini hari, tempat Start dan Finish Trip kami ke P. Bali. Seperti ketika Start, kami saat Finish bersama-sama memanjatkan doa dan bersyukur bahwa kami dapat selamat diperjalanan dan tiba kembali di kota kami dengan selamat pula, baik para penumpang, krew Bus dan Busnya sendiri yang tidak pernah mogok, meskipun selama perjalanan lebih banyak mesinnya hidup dari pada berhenti.
5 hari setelah kami tiba di Cirebon, kami mendengar melalui siaran TV bahwa pada tanggal 1 Oktober 2005 malam hari, terjadi ledakan Bom di Pantai Jimbaran dan Pantai Kuta ( Raja’s Bar & Restaurant, Kafe Menage dan Kafe Nyoman ). 22 orang meninggal dunia dan puluhan orang luka-luka. Kami telah dilindungiNya dan terhindari dari bencana maut itu. Kami baru saja meninggalkan Pantai Jimbaran.
Puji syukur dan terima kasih kami panjatkan kepada Tuhan. Para peserta Trip ini saling berkirim SMS menyatakan puji syukur kepada Tuhan yang telah melindungi kami dari ledakan Bom Bali II dan mengutuk keras para pelakunya.
Kamis, Juni 26, 2008
Pak Mamad
Suatu sore terdengar dering bel Ruang periksa saya. Setelah pintu terbuka, aku melihat seorang Bapak yang sudah kukenal sebagai pasien lama dan sangat akrab denganku.
“Selamat sore, Dok,” katanya.
“O... Pak Mamad, jangan panggil Dokter, panggil saja namaku, Pak . Mari masuk.” Aku mempersilahkannya masuk Ruang Periksa.
“Ada keluhan apa Pak?” aku bertanya.
“Biasalah, pusingnya kumat lagi.”
Segera aku memeriksa pasienku ini. Tekanan darahnya 160/90 mmHg, denyut jantung lebih cepat dari normal, berat badan 80 Kg, lain-lain normal. Dibandingkan 10 tahun yang lalu, tekanan darahnya normal 120/80 mmHg, berat badan 60 kg, tidak teralu jelek untuk tinggi badan 167 Cm. Makin bertambah umur manusia cenderung akan mengalami kenaikan tekanan darah dan berat badan bila pola hidup dan pola makan tidak dijaga ketat. Sosial ekonomi Pak Mamad biasa-biasa saja. Mungkin ada faktor genetik sehingga badannya sekarang menjadi gemuk. Ia dan isterinya satu rumah dengan putra / anak sulungnya yang bekerja di sebuah toko telepon genggam. Dua orang putrinya lainnya sudah berkeluarga dan mengikuti suaminya yang tinggal satu kota.
“Tekanan darahnya sedikit tinggi, Pak. Apa ada masalah keluarga?” saya bertanya kepada Pak Mamad.
“Masalah sih tidak ada, tetapi semalam saya kurang tidur.”
“Mengapa susah tidur?” aku bertanya.
“Gigi geraham saya berlubang. Saya sudah berobat ke Puskesmas di dekat rumah tetapi sakit. Hari ini saya mau ke Puskesmas lagi. Mungkin perlu ditambal.”
Sebuah gigi yang ukurannya relatip kecil bila dibandingkan dengan organ tubuh lainnya dapat menyebabkan seseorang menderita. Bila tidak segera diobati, akan menyebabkan gangguan emosi seperti mudah tersinggung, susah tidur, marah-marah, tidak selera makan dsb.
“Pak Mamad, ini resepnya.” Saya memberikan resep untuknya berupa anti pusing dan sedikit penenang generik .
“Belilah di apotik terdekat.” Sambil menyerahkan resep obat dan 2 lembaran uang dua puluh ribuan kepadanya.
“Wah terima kasih nih. Sudah diberi resep obat, bahkan diberi uang lagi. Semoga hari ini banyak pasiennya, Bud.” Kata Pak Mamad sambil tersenyum meninggalkan Ruang Periksaku.
“Amin.” Aku mengamininya.
“Hati-hati di jalan, ya Pak.” Kataku.
-----
Tahun 1954 memasuki kelas 1 SD Zending school ( SD Kristen, Jl. Kromong Cirebon ), saya masuk sekolah sore hari mulai pukul 13.00 – 17.00. Jarak rumah kami dengan sekolahku cukup jauh, sekitar 3 km. Ayahku bekerja sebagai petugas pembukuan di sebuah toko kelontong. Ibuku menerima jahitan pakaian wanita dan dibantu seorang tukang jahit. Orang tuaku praktis tidak dapat mengantar dan menjemputku pulang dari sekolah setiap hari. Tugas antar-jemput ini diserahkan kepada Pak Mamad. Sekarang istilahnya Tukang ojek sepeda. Aku dudak dibelakang sepeda ayahku yang dikayuh oleh Pak Mamad. Saat itu sepeda motor dan mobil masih sangat sedikit jumlahnya.
Pekerjaan Pak Mamad sebenarnya adalah Montir truk. Pamanku dan ayahku mempunyai 2 buah truk angkutan barang Cirebon – Jakarta. Umur truk yang sudah tua, jarak tempuh yang cukup jauh dan kondisi jalan Pantura yang seperti kubangan kerbau menyebabkan Truk itu hampir selalu harus diperbaiki setelah mengantar barang ke Jakarta dan kembali ke Cirebon. Truk tersebut disimpan di sebuah garasi dengan halaman yang cukup luas diseberang rumah kami ( sekarang telah menjadi T.K. Kristen, Jl. Merdeka ). Paman menyewa tanah itu dari seorang Bapak Haji, tetangga kami.
Suatu sore setelah jam pelajaran selesai, aku mencari-cari Pak Mamad yang biasanya sudah menunggu di halaman SD. Sampai semua murid SD pulang, Pak Mamad masih belum muncul juga. Hari makin gelap karena awan hitam menutupi sinar sang Surya. Aku ingin naik becak, tetapi aku takut dimarahi Ibuku dan takut diculik karena aku belum paham benar jalan-jalan di kotaku saat itu.
Di depan gedung SD aku menangis, takut, marah karena jemputan tak kunjung tiba. Tak seorangpun lagi berada di depan SD-ku. Rupanya Ibuku saat itu juga merasa ada yang aneh, mengapa sudah sore begini aku masih belum pulang dari sekolah dan belum berada di rumah.
“Pak Mamad, mengapa Budi belum dijemput? Sekarang sudah lewat waktu jemputan.” tegur Ibuku kepada pak Mamad.
“Pasang ban Truk ini masih belum selesai dan malam ini truk akan berangkat ke Jakarta, Bu.” Jawab Pak Mamad.
“Iya sekarang saya, akan jemput Budi di sekolah.”
Aku menggerutu selama waktu yang ditempuh sepeda Pak Mamad menuju SD-ku. Apa jadinya nanti bila aku benar-benar tidak dijemput?
“Sudah jangan menangis lagi, Bud. Saya lupa menjemput. Mari kita pulang.” bujuk Pak Mamad kepadaku.
Kejadian seperti itu terjadi beberapa kali, tetapi kali yang kedua dan seterusnya aku tidak menangis lagi. Aku sudah menghafalkan route jalan dari SD ke rumahku dan sebaliknya. Bila jemputan terlambat lagi aku akan pulang jalan kaki saja. Aku malu diledek tukang nangis oleh Pak Mamad. Saat itu ia tidak menyangka bahwa anak tukang nangis ini kelak menjadi seorang Dokter dan dimasa tuanya anak ini bisa mengobati penyakit tuanya.
-----
Waktu berjalan dengan cepat, aku lulus menjadi Dokter, menikah dan mempunyai 1 orang putra dan 1 orang putri. Sejak April 2000 aku sudah pensiun dari Departemen Kesehatan R.I. Umurku sudah 61 tahun, putra kami sudah lulus juga sebagai Dokter Umum dan sujah bekerja selama 3 tahun di salah satu Rumah Sakit di kota Sydney. Adiknya juga sudah menyelesaikan study S1 dan S2 nya pada tahun 2007 dan sudah bekerja sejak 6 bulan yang lalu di salah satu pabrik pengolahan susu di kota Sydney. Aku merasa sudah S2 ( Sudah Sepuh ). Sudah waktunya alih generasi.
Bila bertemu dengan Pak Mamad, saya bersyukur bahwa ia masih diberi umur yang panjang, sepanjang umur Ibuku saat ini, 81 tahun. Mereka diberi umur yang panjang. Sayang ayahku sudah dipanggil Tuhan 16 tahun yang lalu akibat serangan Stroke. Ayahku tidak bisa lagi ngobrol dengan Pak Mamad montir pamanku. Hari-hari tertentu atau menjelang Hari Raya Idul Fitri, Pak Mamad mampir ke tempatku hanya untuk ngobrol-ngobrol atau berkonsultasi tentang kesehatannya. Tak lupa saya memberikan uang transport yang ia terima dengan senang hati. Lumayan katanya untuk beli beras, teh kesukaannya dan makanan burung Perkututnya.
Kring…….aku terkejut mendengar bel pintu Ruang Periksa ditekan oleh pasien berikutnya.-
Perokok berat
26 Juni 2008.
Beberapa bulan yang lalu saya kedatangan pasien, Pak A, 64 tahun. Ia diantar isterinya berobat kepada saya.
Pak A mengatakan bahwa ia ingin berobat dengan keluhan utama batuk-batuk sejak 1 minggu yang lalu. Isterinya Ibu A mengeluh bahwa selama suaminya sakit batuk-batuk, ia sukar tidur.
Saya bertanaya kepada Ibu A “ Mengapa Ibu sukar tidur, padahal yang sakit suami Ibu?”
Ibu A menjawab “Begini, Dok. Kalau suami saya batuk, terutama malam hari ketika kami tidur, maka ranjang kami ( tempat tidur yang terbuat dari besi, model lama ) bergoyang-goyang. Goyangan itu yang membuat saya terbangun dari tidur dan sukar tidur kembali.”
“Sudah berapa lama, Ibu sukar tidur?”
“Sejak 3 minggu yang lalu, Dok.”
Jadi saya tahu bahwa Pak A batuk-batuk bukan sejak 1 minggu yang lalu tetapi sejak minimal 3 minggu yang lalu.
Saya memeriksa fisik Pak A, mulai dari mengukur tekanan darah, memeriksa bunyi Jantung dan Paru-paru. Ternyata bunyi pernafasannya tidak normal. Terdengar bunyi yang khas untuk Bronchitis. Saya mencium bau nafasnya yang khas perokok.
Saya bertanya kepada Pak A “ Apakah Bapak merokok?”
“Benar, Dok.”
“Berapa banyak Bapak merokok?”
“Tiga, Dok”
“Tiga apa? Tiga batang atau tiga bungkus?”
“Tiga bungkus per hari”
“Wah, Bapak mesti berhenti merokok, kalau Bapak ingin sembuh dari batuk-batuk”
“Tidak bisa berhenti, Dok.”
“Kalau tidak mau berhenti merokok, percuma minum obat selama bapak merokok terus. Lebih baik berhenti merokok.”
‘Percuma, Dok.”
“Mengapa percuma?”
“Saya sudah terbiasa merokok”
“Kalau begitu lebih baik Bapak pulang saja, tidak usah saya beri obat lagi.”
“Lho, saya kan datang kesini mau berobat agar batuk-batuk saya sembuh”
“Percuma diberi obat sebakul juga, kalau Bapak tetap merokok, maka batuk-batuk Bapak tidak akan sembuh” kata saya sambil guyon.
Saya melanjutkan “Tadi Bapak berkata percuma berhenti merokok, kenapa?”
“Percuma, sebab merokok atau tidak merokok orang akan mati juga”
Glek..saya terkejut mendengar ucapan pasien saya itu.
Lalu saya menjawab “Iya betul, semua orang akhirnya akan mati juga, tetapi Bapak akan mati duluan” sambil guyon.
Tampak wajah Pak A menjadi sedih.
Setelah dipersilahkan duduk, saya berkata kepada Pak A dan Ibu A “ Kalau harga 1 bungkus rokok Rp. 6.000,-, maka 3 bungkus adalah Rp. 18.000,-. Dengan uang sebanyak Rp. 18.000,-, saya dapat membeli 1 Kg Beras, 1 Kg Telur Ayam dan 1 Liter Susu sapi setiap hari. Kalau semuanya saya berikan kepada Ibu, apakah Ibu mau?”
Ibu A langsung menjawab “Mau, Dok. Dari pada uang itu diberikan kepada suami saya dan dibakar setiap hari”
“Nah Pak, apakah Bapak mulai saat ini mau berhenti merokok?”
Pak A menjawab “Iya sudah Dok, saya mau berhenti merokok”
Ibu A berkomentar “Pak, jangan bilang mau berhenti merokok di depan Pak Dokter saja, nanti sepulang dari sini Bapak merokok lagi. Betul ya berhenti merokok, agar Bapak cepat sembuh dan saya dapat tidur lagi.”
Saya tersenyum dan ingat ada ranjang yang bergoyang-goyang ketika Pak A batuk-batuk dimalam hari.
Dari kisah singkat itu saya menjadi terharu, tidak mudah untuk memotivasi seseorang agar berhenti merokok. Sore itu minimal saya sudah berupaya untuk membujuk Pak A agar mau berhenti merokok demi kesehatannya dan demi isteri tercinta agar mereka dapat hidup lebih lama dalam kondisi sehat, sampai dipanggil Tuhan suatu saat kelak.-
Sabtu, Maret 08, 2008
Mengaku orang miskin
Sebenarnya saya enggan menulis pengalaman saya ini, tetapi makin lama makin menggelitik perasaan saya.
Suatu sore ketika saya buka praktek umum, datanglah Pak ATW, 65 tahun yang ingin berobat. Ia mempunyai keluhan pusing dan ingin diukur tekanan darahnya. Rasa pusing bersifat subjektip sehingga saya tidak dapat menyatakan berapa besar rasa pusingnya. Tekanan darahnya 140/80 mmHg, masih dalam batas wajar baginya. Lain-lain dalam batas normal, kecuali kulitnya yang sudah mulai berkeriput.
Dalam perbicaraan kami, Pak ATW ini menyatakan bahwa ia saat ini merupakan orang miskin, artinya tidak mempunyai uang untuk biaya berobat ( aneh juga ya katanya orang miskin tetapi kemana-mana ia naik becak ). Saya tidak ambil pusing kalau ia tidak membayar biaya pemeriksaan. Ketika saya persilahkan keluar dari ruang periksa, Pak ATW ini ingin curhat kepada saya.
Saya persilahkan ia berkisah, karena di ruang tunggu saat itu belum ada pasien berikutnya.
Sewaktu muda ia adalah seorang wiraswastra yang sukses. Ia dan keluarga bertempat tinggal sekitar 3 blok, sekitar 800 meter dari tempat praktek saya. Ia dan isteri dikarunia 3 orang anak. Saat ia berkisah 2 orang anaknya tinggal di
Pak ATW saat curhat dan sampai sekarang sudah pisah rumah dengan isterinya yang katanya tinggal di salah satu
Saya melihat pakaian Pak ATW cukup bagus, bahkan bahannya lebih bagus dari pada bahan pakaian yang saya pakai sehari-hari. Saat ini tinggal dimana? Dirumah sendiri. Dari mana uang untuk membayar rekening listrik, air ledeng, beli makanan dll? Pak ATW menjawab semua dari adiknya. Katanya adik-adiknya yang tinggal sekota dengannya mau memberikan uang untuk keperluan hidupnya. Untuk beli obat ia ngutang di salah satu apotiik milik temannya dan ia membayar pada akhir bulan dengan uang yang ia dapat dari adiknya.
Saya bertanya apakah selama ini Pak ATW sudah berdoa dan mohon bantuan dari Tuhan sesuai dengan imannya? Ia menjawab ia rajin datang ke rumah ibadahnya dan ia sudah banyak kali berdoa. Ia mengaku sudah pernah bertemu dengan Tuhan. ( dalam hari saya pikir ini bagus kalau dapat bertemu dengan Tuhan, tetapi apakah ini hanya halusinasi Pak ATW saja. Ia ngotot bahwa ia pernah bertemu dengan Tuhan. Ya sudah kalau begitu. ).
Pada akhir tahun 2007 ia mengaku telah mengirimkan Fruit parcel ke rumah kami. Saya mengucapkan terima kasih atas kirimannya dan berkata kepadanya agar lain kali tidak usah kirim apa-apa kepada saya ( katanya ia orang miskin ). Ia berkata uangnya didapat dari adiknya untuk membeli Fruit parcel tsb. Saya tidak melihat parcel tsb karena saya dan isteri pada akhir tahun 2007 sampai awal tahun 2008 pergi ke Australia mengunjungi putra dan putri kami yang tinggal dan bekerja di salah satu kota di negara Kangguru. Setiap Fruit parcel yang kami terima saya minta kepada penunggu rumah kami agar segera dikirim ke rumah ibu saya untuk dinikmati dan boleh diberikan kepada sanak famili kami. Jadi saya tidak tahu adakah nama Pak ATW pengirim parcel tsb.
Bulan Peb 2007 ia datang dengan keluhan susah tidur. Ia minta dibuatkan resep sesuai dengan obat yang pernah diberikan dari dokter umum lain. Saya lihat obat penenang dengan merk paten dari salah satu pabrik obat yang isinya Diazepam 5 mg. Saya buatkan resep baginya dengan pesan agar tidak sering-sering minum obat tsb karena dapat menyebabkan ketergantungan obat. Dari pada minum obat lebih baik rajin berdoa dan beribadah saja. Pak ATW meletakkan sejumlah uang dibawah map diatas meja tulis saya. Saya bilang tidak usah, bawa saja uang itu untuk membeli obat. Ia tidak mau.
Minggu yang lalu Pak ATW datang lagi khusus untuk minta resep obat seperti yang minggu lalu saya buatkan. Nah terbukti
Dengan maksud agar ia berhenti minum obat tsb saya bilang, ini resep obat tsb tetapi untuk yang teakhir kalinya. Anda harus berhenti kebiasaan minum obat. Milikilah kemauan untuk berhenti minum obat dan makin tekunlah beribadah agar Tuhan memberikan kekuatan untuk melawan keinginan duniawi. Ia bilang baik dok, lalu ia menyodorkan sehelai uang kecil diatas meja tulis saya. Aneh juga ya katanya orang miskin tetapi pakaiannya bagus, selalu naik becak dan masih memiliki uang di saku celananya.
Jadi miskin itu relatip. Miskin menurut pendapatnya, tetapi tidak miskin menurut pandangan orang lain.
Sampai saat artikel ini saya tulis Pak ATW belum datang lagi. Semoga ucapan saya ditaati olehnya. Semoga. Amin.
Selasa, November 06, 2007
Berubah profesi
Pak S. selama bertahun-tahun bekerja sebagai salah satu Staf di salah satu Rumah Sakit di Cirebon. Keramah-tamahannya membuat ia mempunyai banyak teman di tempat bekerja antara lain dengan karyawan di bagian Fisioterapi. Dalam waktu senggangnya ia belajar sedikit demi sedikit tentang Fisoterapi.
Saya mengenalnya ketika orang tua saya mempekerjakan seorang tukang cat di rumah orang tua saya. Pak S. yang ramah ini enak diajak ngobrol dan akhirnya saya juga sering minta bantuannya untuk mencat rumah kami, memperbaiki atap dll.
Saat kisah ini saya tulis Pak S. berumur 50 tahun, sembilan tahun lebih muda dari saya. Sudah sekitar 1 tahun kami tidak saling bertemu. Ketika suatu saat saya membutuhkan bantuannya untuk mencat pagar rumah kami, saya menghubunginya melalui handphonenya. Ternyata ia berada di Majalengka, 45 menit naik mobil ke arah Bandung dari Cirebon.
“Sedang apa Pak di Majalengka?” saya bertanya kepada Pak. S.
“Dok, saya sedang mengobati orang disini.”
“Ngobati orang?”
“Iya, Dok. Sudah beberapa hari saya disini. Banyak yang minta bantuan saya untuk disembuhkan penyakitnya. Ada apa Dok sampai menghubungi saya. Apa yang dapat saya bantu untuk Dokter?”
Saya tidak enak untuk minta bantuannya mencat pagar rumah kami. Kok Pak S sudah berubah profesinya.
“Sebenarnya saya ingin minta bantuannya untuk memperbaiki rumah kami, tetapi tidak buru-buru kok. Nanti saja kalau Bapak sudah berada di Cirebon. Saya hubungi lagi. Terima kasih Pak.”
Saya bertanya dalam hati, dari mana Pak S. mendapat ilmu sampai ia dapat menyembuhkan orang. Ilmu apa yang dipakainya untuk menyembuhkan pasien dan penyakit apa saja yang ia dapat sembuhkan? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dapat terjawab sampai akhirnya pada bulan Oktober 2007 saya bertemu dengan Pak. S.
Awal Oktober 2007 suatu hari sekitar pukul 08.00 saya mengharapkan agar saya dapat bertemu lagi dengan Pak S. Sore hari ketika saya buka praktek dokter umum, saya mendengar suara bel pintu ruang tunggu. Ketika saya membukakan pintu saya melihat Pak S. berdiri dihadapan saya.
“Ini Pak S?” saya bertanya tidak percaya.
“Iya Dok, saya S. Masih ingat kan dengan saya?”
“Iya saya masih ingat. Tadi pagi saya mengharapkan saya dapat bertemu. Eh..sore hari ini kita dapat bertemu. Kok bisa begitu ya.” jawab saya.
Pak S menjawab “Tadi pagi istri saya menyuruh saya agar datang ke rumah dokter Basuki karena sudah 2 kali dokter menelepon. Kok belum juga datang ke rumah dokter. Mungkin dokter memerlukan bantuan. Jadi saya sore ini menyempatkan datang ke rumah dokter.”
“Wah hebat ya. Rupanya kontak batin kita bisa nyambung. He..he..” saya menjawab ucapan Pak S.
“Apa yang dapat saya bantu Dok?”
“Sebenarnya saya ingin minta bantuan untuk mencat pagar rumah kami yang sudah mulai berkarat? Bisakah Bapak mengerjakannya?”
“Bisa dok. Kapan mulainya?”
“Mulai besok pagi saja”, saya menjawabnya.
“Pak. S, ngomong-ngomong bagaimana ceritanya sampai Bapak alih profesi sebagai penyembuh?” saya bertanya.
“Begini dok, beberapa bulan yang lalu saya dimintai pertolongan oleh tetangga saya. Saya mencoba mengurut tubuh pasien itu. Ternyata sembuh. Setelah itu banyak orang yang memanggil saya untuk menyembuhkannya. Ketika Dokter menghubungi handphone saya, ketika itu saya berada di Majalengka selama 1 minggu. Ada banyak orang yang minta bantuan saya untuk disembuhkan penyakitnya.”
“Emang penyakit apa saya yang disembuhkan?” saya bertanya ingin tahu lebih lanjut kehebatan ilmu Pak S. ini.
“Banyak penyakit yang saya coba sembuhkan, mulai dari sakit kepala hebat, perdarahan lewat jalan lahir, sudah tidur, stres dll. Ketika saya memijat bagian tubuh pasien, saya merasakan ada suatu organ tubuh yang berkerja tidak normal. Lalu saya urut bagian-bagian tertentu. Berkat bantuan Yang Maha Kuasa, penyakit pasien sembuh.”
Saya takjub dengan kemampuan Pak S. ini.
Saya bertanya lagi “Kalau mengobati pasien, berapa kali Bapak memijatnya?”
“Ada yang satu kali pijat sudah sembuh. Kalau masih belum tuntas penyakitnya. Saya lakukan pijatan yang kedua. Umumnya penyakit pasien sembuh.”
“Pasien itu dimana saja. Pak”
“Ada yang di dalam kota Cirebon dan ada pula yang panggil saya karena paseinnya berada di luar kota seperti Jakarta, Bandung dll. Ada yang datang menjemput saya dengan mobil dan ada yang ingin agar saya datang ke rumahnya. Saya naik bus untuk mendatangi kota dimana pasien tinggal.”
Saya masih penasaran dan bertanya lebih lanjut.
“Pak, kalau penyakitnya karena dikirim orang, bisa tidak diobati oleh Bapak?”
“Saya pernah beberapa kali mengobati pasien yang demikian dan sembuh. Sebenarnya saya tidak bisa menyembuhkan tetapi Tuhan yang menyembuhkan mereka,” jawab Pak S. merendah.
Untuk yang terakhir kalinya saya bertanya “Kalau banyak yang disembuhkan, maka penghasilan Bapak banyak berubah menjadi lebih baik. Maaf pertanyaan saya ini Pak, setelah menyembuhkan pasien berapa yang Bapak terima?”
“Macam-macam dok. Ada yang mengucapkan terima kasih saja dan ada pula yang memberi uang mulai dari yang sedikit sampai yang cukup besar terutama kalau saya mendatangi pasien yang berada diluar Cirebon. Praktis penghasilan saya lebih baik dari pada sebelum saya menyembuhkan pasien-pasien saya. Walau demikian saya masih mau membantu dokter memperbaiki rumah dokter.”
Saya bersyukur akan perbaikan penghasilan Pak S.
Suatu pagi ketika Pak S. mau melanjutkan mencat pagar rumah kami, berkata “Dok, kemarin sore sepulangnya saya dari rumah dokter, ketika tiba di rumah saya, sudah ada tamu yang mau menjemut saya untuk minta diobati salah satu keluarganya. Saya minta waktu untyuk mandi dahulu.”
Keluarga pasien yang sudah menunggu selama 1 jam rupanya sudah tidak sabar dan ingin segera membawa Pak S. ke rumah pasien. Akhirnya Pak S. bersedia dijemput keluarga pasien tanpa mandi dulu. Hebat. Antara keperluan pribadi dan pelayanan bagi masyarakat, Pak S. mendahulukan pelayanan bagi masyarakat.
Itulah kisah Pak S. yang telah berubah profesi menjadi tenaga penyembuh.
Ada maunya
5 Nov 2007: pagi sekitar pk. 05.30 saya bermaksud akan membuang sampah yang sudah dimasukkan ke dalam 3 kantong plastik ke gerobak sampah di dekat rumah kami.
Ketika saya akan menutup pintu halmanan rumah ada seorang pria yang menyapa saya “ Selamat pagi Dok. Mau olah raga pagi?”
“Met pagi. O.. saya akan membuang sampah nih.”
Pria itu yang saya tidak kenal namanya, mungkin salah seorang tetangga saya, menawarkan bantuannya untuk membantu membawa kantung plastik yang berisi sampah itu. Seumur hidup saya belum pernah dibantu untuk membuang sampah dalam kantung plastik yang sering saya lakukan. Tumben nih ada prang yang baik hati membantu saya. Saya curiga, jangan-jangan ia orang ytang tidak waras pikirannya. Wah…kok saya paranoid begini. Saya biarkan pria itu membawa salah satu kantung plastik.
Tiba di gerobak sampah, kami memasukkan 3 kantung plastik ke dalam gerobak sampah.
“Terima kasih, Pak” kata saya kepadanya.
Pria itu tidak beranjak dari tempat ia berdiri.
Ketika saya akan melangkah menuju rumah kami, pria itu berkata “ Dok, kalau obat untuk batuk dan Flu yang bagus apa ya?”
Nah ketahuan deh maksudnya kalau ia mau membantu saya. Rupanya ada maunya. Ternyata kebaikkannya itu ada maksudnya yaitu ingin bertanya tentang obat anti batuk dan anti Flu.
Saya menjawabnya dengan menyebutkan beberapa obat anti batuk dan Flu yang dijual bebas, tanpa resep dokter. Pria itu mengucapkan terima kasih atas jawaban saya.
Sambil melangkah menuju rumah kami, saya tertawa geli. Pagi tu saya mendapat satu lagi pengalaman hidup. Win-win solution.
Jumat, Oktober 12, 2007
Jarum Kakek di Tubuh Cuifen
Ketika membaca artikel yang ditulis oleh Aries Kelana dan Elmy Diah Larasati
(Kesehatan, Gatra Nomor 46 , 30 September 2007), saya terkejut. Kok ada ya orang yang berbuat seperti itu, mau membunuh secara perlahan-lahan seorang bocah wanita.
---
Perjalanan hidup Luo Cuifen sungguh mengenaskan. Ibu beranak satu ini menderita depresi berat sejak masih kanak-kanak. Ia selalu cemas dan ketakutan bila sendirian berada di dalam kamar. Kecemasan yang berkecamuk di benaknya itu membuatnya sulit tidur.
Selain itu, Luo Cuifen juga kesulitan menggerakkan badan. Perutnya terasa nyeri manakala ia mengangkat beban berat. Gangguan inilah yang mengakibatkan dia tak bisa melakukan pekerjaan keras.
Wanita asal Desa Songming, Yunnan, Cina, berusia 31 tahun itu pun kerap mengalami sakit perut tanpa sebab. Meski ia sudah berkali-kali berobat ke dokter dan mematuhi diet makanan, keluhannya tak kunjung reda. Semakin hari, penyakitnya justru bertambah parah.
Penderitaan Luo Cuifen mencapai puncaknya dua pekan silam. Ia tak lagi sanggup menahan rasa sakit, lantaran setiap kali kencing dan buang hajat selalu bercampur darah. Begitu menutut laporan situs BBC.com. Akhirnya Cuifen dilarikan ke Rumah Sakit Richland International, Kunming, Yunnan.
Dokter yang memeriksa Luo Cuifen terperanjat. Sebab hasil foto sinar-X menunjukkan, ada 26 batang jarum jahit dengan panjang masing-masing 3,5 sentimeter menyebar di tubuh Cuifen. Ada jarum yang tertanam di paru-paru dan liver. Banyak pula jarum yang bersarang di kandung kemih, usus, dan ginjal.
Bahkan ada jarum yang sudah patah menjadi tiga bagian berada di otaknya. Seandainya jarum itu menusuk otak Luo Cuifen, tentu saja akan membahayakan jiwanya. Pembuluh darahnya bisa bocor dan timbul perdarahan otak. Namun efek radangnya lebih kecil apabila sudah stabil dan dapat dilokalisasi jaringan otak.
Juru bicara Rumah Sakit Richland International, Qu Rui, mensinyalir jarum-jarum itulah yang membuat Luo Cuifen tak bisa bergerak leluasa. "Ini sebuah keajaiban karena Luo Cuifen bisa bertahan hidup sampai sekarang," kata Qu Rui.
Tim dokter Rumah Sakit Richland International kini berusaha mengeluarkan puluhan jarum yang bersarang di organ vital Luo Cuifen. Untuk keperluan ini, 23 dokter dikerahkan. Mereka adalah dokter ahli berbagai bidang penyakit. Antara lain dokter hali saraf, tulang, jantung, kandungan, dan penyakit dalam.
Untuk mengoperasi Luo Cuifen, didatangkan dokter ahli Amerika Serikat dan Kanada. Pada operasi tahap pertama, dokter akan mencabut enam jarum. "Operasi itu bakal berlangsung lama dan melalui prosedur yang rumit," kata Dokter Xu Mei, Kepala Rumah Sakit Richland International.
Bedah pertama diperkirakan memakan biaya 170.000 yuan atau sekitar Rp 204,8 juta. Untuk operasi ini, Cuifen digratiskan. Tapi, untuk operasi berikutnya, ia harus membayar penuh. Biaya yang lumayan gede memaksa Cuifen mencari donatur yang bisa meringankan ongkos operasi selanjutnya.
Puluhan jarum yang bersarang di tubuh Cuifen itu diduga akibat kelakuan bejat kakeknya. Si kakek tak menyukai kelahiran Cuifen lantaran menghendaki cucu laki-laki. Alasannya, anak-laki-laki dapat membantunya bekerja di ladang. Dan hanya laki-lakilah yang mendapat jaminan sosial dari Pemerintah Cina.
Pemerintah Republik Rakyat Cina memang menerapkan kebijaksanaan satu anak, yang lebih memfokuskan pada anak laki-laki. Jika seorang perempuan Cina melahirkan bayi perempuan, ia diperbolehkan punya anak lagi agar mendapat anak laki-laki.
Si kakek itu kecewa atas kelahiran cucu perempuan. Ia berusaha menghabisi Cuifen. Kakek itu menusukkan puluhan jarum ke tubuh Cuifen yang masih bayi. Tujuannya, agar cucunya meninggal secara perlahan-lahan. Orang pun tak akan mengira ia dibunuh. Sayang, kasus ini terungkap setelah si kakek itu tewas.
Luo Cuifen sendiri mengaku tak terkejut mendengar keterangan dokter. Sewaktu kecil, ibunya pernah bercerita bahwa ketika masih bayi, ia sering menangis tanpa sebab. Pada awalnya hanya disangka rewel biasa, hingga suatu hari ditemukan jarum jahit di luka pada pinggang belakangnya.
Ketika Cuifen berumur tiga tahun, tiba-tiba muncul jarum di sekitar tulang rusuknya. Kasus adanya benda asing di usus sebenarnya sudah jamak. Banyak kasus gigi palsu tertelan atau jarum pentul tertelan pada wanita berkerudung. Tapi jumlahnya tak sebanyak yang dialami Cuifen. Dokter biasanya memutuskan untuk mengeluarkan jarum itu.
Lalu, bagaimana ia bisa bertahan hidup? Menurut Profesor Daldiyono, ahli penyakit pencernaan pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI), organ tubuh terutama usus punya mekanisme tersendiri untuk berkontraksi mengeluarkan benda asing yang masuk. Apabila bendanya tumpul, ia akan keluar sendiri. Tapi, apabila tajam, akan menimbulkan luka sehingga menyebabkan infeksi pada usus.
Tusukan tersebut melukai usus. "Itulah mengapa ketika buang air besar terjadi perdarahan," kata Profesor Daldiyono. Namun akan terjadi kontraksi lagi untuk mengeluarkannya, baik melalui kotoran maupun keluar ke rongga perut.
Menurut Dokter Ari Fachrial Syam, Gastroenterolog FK-UI, mengeluarkan jarum yang masih berada di saluran cerna atas akan lebih mudah bila memakai peralatan endoskopi. "Dengan alat penjepit, kepala jarum diambil dan dikeluarkan melalui endoskopi," katanya.
Jarum yang berada di usus biasanya keluar dengan sendiri melalui kotoran setelah lebih dari 24 jam. Akibatnya, usus mengalami luka karena gesekan jarum dengan dinding saluran pencernaan.
Senin, Oktober 08, 2007
Kejujuran manusia
Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu.
Saya pulang naik becak (karena mobil sedang di service di bengkel) setelah belanja keperluan perbaikan pintu rumah kami. Di sebuah Toko saya membeli 2 kaleng cat dan 1 kwas (seharga Rp. 20.000, -) yang terbungkus dalam kantong plastik (kresek) hitam.
Ketika tiba di rumah saya turun dari becak, tanpa saya sadari kantong plastik tadi tertinggal di becak. Untuk keperluan lain saya keluar rumah setelah menyimpan barang belanjaan yang lain.
Ketika saya pulang 1 jam kemudian pembantu kami melaporkan bahwa tadi ada tukang becak yang ingin menyerahkan kantong plastik berwarna hitam (belanjaan saya yang tertinggal di becak tadi). Pembantu saya menolak menerimanya (sesuai dengan pesan kami: jangan menerima sesuatu dari orang yang tidak dikenal sebelumnya) dan mengatakan agar ia datang kembali sore hari ketika saya ada di rumah.
Sore hari tukang becak tadi tidak datang dan saya menganggap belanjaan saya sudah hilang akibat kelalaian saya sendiri. 2 hari kemudian saya di dekat rumah saya bertemu dengan seorang tukang becak yang menyerahkan sebuah kantong plastik berwarna hitam sambil berkata, “Pak, ini barang Bapak yang tertinggal di becak saya.”
Rupanya ia masih mengenali saya. Saya menerima barang saya yang telah saya anggap hilang sambil berkata, ”Terima kasih, Pak. Bapak telah menyimpan barang saya dengan baik.”
Saya sangat menghargai kejujuran tukang becak tadi yang dalam keadaan serba kekurangan toh ia masih mau bersikap jujur.
Minggu, Oktober 07, 2007
Mengapa Dokter Hewan?
Suatu sore, 3 bulan sebelum Ujian akhir SMA pada tahun 1965, saya berbincang-bincang dengan ayah.
Ayah bertanya kepada saya “Sebentar lagi kamu Ujian SMA dan setelah lulus ujian kamu akan melanjutkan ke Falultas apa?”
Saya kaget juga ditanya begitu. Ujian saja belum mulai dan apakah saya lulus atau tidak, juga belum tahu.
Setelah berpikir sejenak lalu saya menjawab, ”Kalau saya lulus nanti, saya ingin menjadi menjadi Dokter Hewan, sekolahnya di IPB, Bogor”
Mendengar jawaban saya, wajah ayah sedikit tegang dan berkometar “Apa bagusnya jadi Dokter Hewan?”
Saya menjawab dengan pasti “Dokter Hewan lebih pandai dari pada Dokter Manusia. Saya ingin melanjutkan sekolah yang dapat membuat saya menjadi orang yang paling pandai.” Jawaban saya ini rupanya membuat ayah kecewa.
Ayah bertanya dengan wajah tegang “Apa buktinya kalau Dokter Hewan lebih pandai dari Dokter Manusia?”
Saya berargumentasi “Yah, kalau saya jadi Dokter Hewan, saya dapat mengobati Sapi yang sakit. Sapi tidak bisa bicara, tetapi saya dapat menyembuhkan penyakitnya. Kalau manusia, ketika ditanya oleh Dokter, apanya yang sakit, sudah berapa lama sudah minum obat apa. Ia akan menjawab: badan saya demam, sudah 3 hari dan saya sudah minum obat Aspirin tablet. Nah penyakitnya kan sudah dikasih tahu oleh pasiennya. Jadi Dokter akan mudah mengobati pasiennya. Kalau Sapi sakit kan tidak bisa kasih tahu sakit apa. Jadi Dokter Hewan lebih pandai dari pada Dokter Manusia, kata saya.
Ayah terpojok mendengar jawaban saya, tetapi ayah saya tetap ngotot agar saya menjadi Dokter Manusia.
Saya bertanya “Mengapa ayah ingin agar saya menjadi Dokter Manusia sih”
Ayah menjawab dengan nada lebih lembut “Ayah ingin agar ada anak ayah yang menjadi Dokter Manusia, sebab diantara keluarga besar kita belum ada yang menjadi Dokter.”
Saya bertanya lagi seperti anak yang bego “Apa rasanya sih kalau saya menjadi Dokter Manusia?’
“Kita akan bangga dan kalau ada keluarga yang sakit, kamu dapat mengobatinya tanpa harus membayar lagi. Kamu dapat menolong orang lain.”
Saya terdiam beberapa saat.
Ayah bertanya kepada saya “Mengapa kamu diam. Kamu mau kan?”
Saya menjawab dengan suara kecil “Mau sih mau, tapi...”
Ayah terus mendesak “Tapi apa? Kok ada tapinya”
Saya berterus terang ”Ada 2 masalah yang harus saya hadapi”
“2 masalah apa, coba sebutkan saja.”
Saya berkata “Masalah yang kesatu adalah masalah uang. Kalau saya sebagai anak sulung dari 7 bersaudara, banyak menghabiskan uang ayah untuk sekolah Dokter, lalu apakah 6 adik-adik saya masih dapat sekolah atau tidak, sebab Sekolah Dokter membutuhkan biaya yang besar.”
Ayah segera berkata “Masalah uang biar ayah yang tanggung dan tugas kamu adalah sekolah sampai lulus jadi Dokter. Masalah yang kedua apa?”
Saya menjawab dengan nada yang lebih kecil lagi “Selanjutnya apakah saya mampu menjadi Dokter, sebab sekolahnya sulit.”
Dengan mantap ayah menenangkan perasaan saya dengan berkata “Asal kamu rajin belajar pasti kamu dapat lulus Sekolah Dokter.”
Ayah menyebutkan 8 nama Dokter Umum yang praktek di kota Cirebon. Saat itu memang hanya ada 8 orang Dokter yang praktek di kota kami. Saat ini Oktober 2007, sudah ada sekitar 180 orang Dokter dan Dokter Spesialis, belum termasuk Dokter Gigi.
“Kalau mereka dapat menjadi Dokter, maka kamu juga bisa menjadi Dokter.”
Saya membatin ‘Aduh. Ayah kok ngotot banget sih, minta agar saya menjadi Dokter.” Apakah saya mampu? Saat itu saya tidak tahu, apakah saya mampu atau tidak memenuhi permintaan ayah. Rasanya saya mempunyai beban berat di pundak saya.
Tahun demi tahun saya sekolah Dokter dan akhirnya saya dilantik menjadi Dokter sesuai keinginan ayah. 6 adik-adik saya tidak seorangpun yang tidak sekolah. Tuhan Maha Pengasih. Ayah minta ada 1 anak yang menjadi Dokter, tetapi Tuhan memberikan ayah 2 orang Dokter masuk ke dalam keluarga besar kami. Mengapa? Karena saya menikah degan teman sekuliah dan tahun berikutnya ia lulus menjadi Dokter juga dan setelah menikah dalam keluarga kami ada 2 orang Dokter. Keinginan Ayah sudah terkabul.
Ayah sangat puas dan nampak bahagia dapat menyekolahkan saya menjadi Dokter Manusia dan bukan Dokter Hewan seperti keinginan saya.
Ketika bulan Desember 2005 kami menghadiri wisuda anak kami yang sulung mendjadi Dokter di UNSW, Sydney, berarti ada 3 Dokter dalam keluarga kami. Ayah tentu merasa senang sekali. Minta satu dapat tiga. Puji Tuhan.
Ayahku tidak mengetahui bahwa dalam keluarga kami sudah ada 3 Dokter, bukan hanya 1 Dokter. Ayah telah dipanggil oleh Tuhan pada 4 Mei 1992. Saya yakin disana ayah tersenyum, keinginanya mempunyai anak yang Dokter sudah terkabul.-
Rabu, Oktober 03, 2007
Mie Goreng atau Mie Rebus?
Kisah ini terjadi sebelum Ayah saya dipanggil Tuhan pada tanggal 4 bulan Mei tahun 1992.
Ayah saya menderita Hypertensi. Saat itu saya dan isteri sedang berada di rumah ayah. Malam itu sekitar pukul 20.00 ayah meminta agar Ibu meyuruh Pembantu untuk membeli Mie Goreng di penjual Mie Goreng yang bisa mangkal di dekat rumah Ayah. Rupanya saat itu Ayah ingin sekali makan Mie Goreng. Entah kenapa Ayah ingin makan Mie Goreng, padahal Ayah sudah malam malam pukul 18.00.
Pembantu Ibu kembali dengan tangan kosong, katanya penjual Mie Goreng malam itu tidak berjualan. Akhirnya Ibu membuat Mie Goreng di dapur yang sudah tidak ada kegiatan memasak pada malam itu. Dengan bahan seadanya Ibu membuat seporsi Mie Goreng pesanan Ayah. Di sebuah panci masih ada tersisa kuah Ayam untuk disantap besok pagi. Ibu menambahkan sedikit kuah Ayam ke dalam wajan Mie Goreng.
Ibu membawakan semangkuk Mie Rebus, karena Mie Goreng sudah berkuah kaldu Ayam.
Ibu berkata “ Pah ini, Mie Gorengnya. Makanlah mumpung masih hangat.”
Wajah Ayah yang semula berseri berharap akan menikmati Mie Goreng segera berubah menjadi tegang.
Ayah bertanya kepada Ibu “Ini Mie Goreng atau Mie Rebus sih. Pesanan Ayah kan MIe Goreng.”
Saya, isteri dan adik-adik saya yang hadir dalam Ruang keluarga merasa khawatir akan terjadi pertengkaran antara Ibu dan Ayah.
Ibu menjawab “Mie Gorengnya diberi sedikit kuah Ayam agar mudah ditelan. Mie Kuah juga enak.”
Ayah menjawab “Papah kan pesannya Mie Goreng. Kenapa diberi Mie Rebus?”
Ibu menjawab lagi “Pah, Mie Goreng kalau sudah masuk ke dalam perut dan minum segelas air maka jadilah Mie Kuah dalam perut.”
Ayah berkilah “Saya ingin Mie Goreng yang dapat dinikmati di ujung lidah. Saya tidak peduli setelah masuk kedalam perut, Mie itu akan tetap jadi Mie Goreng atau Mie Rebus. Saya hanya ingin menikmatiMie Goreng di ujung lidah, bukan dalam perut.” Tampak Ayah merasa kesal.
Ayah menolak makan Mie Rebus yang sudah dibuat Ibu dengan susah payah.
Ibu tampak kecewa dan sedih karena sudah membuat Ayah yang sedang sakit menjadi marah.
Ibu berkata kepada kami, anak-anak Ibu. “Kamu makanlah Mie Rebus ini, sayang kalau tidak dimakan. Besok Ibu akan membuat Mie Goreng beneran untuk Ayah kalian”.
Kami berbagi dan mencicipi Mie Rebus karya Ibu secara diam-diam di Ruang Makan. Agar Ibu tidak menjadi marah mendapat perlakuan dari Ayah, kami semua memuji kecakapan Ibu membuat Mie Rebus yang memang rasanya enak kalau disantap ketika Mie Rebus itu masih hangat.
Keesokan paginya adik wanita saya pergi ke pasar tradisionil untuk membeli bahan-bahan untuk membuat Mie Goreng pesanan ayah kami. Ia membantu Ibu di dapur untuk membuat Mie Goreng dan bukan Mie Rebus lagi. Kali ini mereka membuat dalam jumlah yang lebih banyak karena akan disantap oleh seluruh penghuni rumah kami.
Pagi itu kami seluruh keluarga besar kami makan pagi berupa Mie Goreng hasil karya Ibu kami. Mie Goreng dan Mie Rebus buatan Ibu sama-sama enaknya, tetapi Ayah lebih suka Mie Goreng yang katanya nikmat ketika digoyang di ujung lidah.
Saya tidak sampai hati bertanya kepada Ayah, apakah semalam Ayah bermimpi makan Mie Goreng atau Mie Rebus.
Saat ini tiga belas tahun Ayah sudah meninggalkan kami, tetapi kenangan manis dan kenangan pahit tetap melekat dalam pikiran kami. Meskipun saat ini saya sudah menjadi Dokter tetapi di mata Ayah dan Ibu, saya dan adik-adik saya tetap dipanggil dengan sebuatan anak ( anak-anak ). Emang benar sih. Namanya juga anak.-