Sabtu, Februari 14, 2009

Khasiat Semangka


Menurut para peneliti, Semangka ( water melon ) mempunyai efek yang sama dengan obat / tablet biru Viagra ( sildenafil citrate ) dan obat-oabt yang digunakan untuk kelainan Disfungsi ereksi ( impoten ) http://www.dbtechno.com/health/2008/07/02/research-shows-watermelon-m


Semangka mengandung suatu asam amino yang disebut sebagai Citruline, yang membuat pembuluh darah mengalami relaksasi dan melebar. Efek yang sama terjadi bila minum tablet Viagra dan obat-obat sejenis.

Peneliti dari Texas A&M menyatakan bahwa mereka membutuhkan suatu penelitian lebih lanjut sebelum mereka dapat menyatakan bahwa berapa banyak Semangka yang perlu dikonsumsi untuk mendapatkan efek yang sama seperti pada Viagra. Dikatakan bahwa Semangka ( watermelon ) merupakan Viagra alami.

Di USA Viagra laris manis, sangat laku. Mengingat harganya cukup mahal per tablet, maka ada harapan Semangka juga akan laris manis di negara kita.

Tipes perut


Kemarin sore datang berobat seorang Bapak, Pak Ali ( bukan nama sebenarnya ) mengantar putranya, Sidik ( bukan nama sebenarnya ), 13 tahun.

Sidik sejak 2 hari yang lalu menderita demam, tidak selera makan dan sedikit batuk.

Pak Ali membawa hasil pemeriksaan Laboratorium Klinik milik Sidik ( atas permintaan sendiri ). Hal ini dilakukan kerana Pak Ali khawatir putranya menderita penyakit Tipes perut ( Typhus abdominalis ).

Hasil Lab menunjukkan:
Lekosit ( sel-sel darah putih ): 12.000/cu mm, Thrombosit ( keping-keping darah pembeku ): 300.000 /cu mm, Widal test: titer typhus H: 1/80, lain-lain: negatip / normal.

Pada pemeriksaan fisik, Sidik:
Suhu tubuh 38,5 C, lain-lain dalam batas normal.

Kesimpulan saya:
Sidik menderita ISPA dan bukan penyakit Tipes perut.

Pak Ali ngotot bahwa Sidik menderita Tipes. Dalam hati saya berkata, kalau sudah tahu itu penyakit Tipes, mengapa tidak diobati sendiri dan tidak perlu berkonsultasi kepada Dokter.

Menghadapai pasien yang demikian, perlu diberikan pengertian / penyuluhan dengan sabar.

Saya berkata “Pak Ali, untuk menentukan / mendiagnosa suatu penyakuiut dokter harus mempunyai bukti medis (medicine base evident ). Dari riwayat penyakit ( anamnesa ) Tipes perut memberikan gejala demam tinggi selama 4 hari, terutama pada malam hari. Demam akan turun pada pagi hari. Demam pada putra anda terjadi sepanjang hari dan demam tidak tinggi. Pada Tipes demam tinggi : 38,5 – 40 Celsius. Jadi tidak cocok. Dari hasil lab, Darah Lekosit Sidik: 12.000 cu mm ( lekositosis ), terjadi peninggian jumlah sel darah putih. Pada Tipes terjadi Lekopeni ( penurunan jumlah sel-sel darah putih ). Jadi tidak cocok juga. Pada test Widal pada Sidik: titer Tyhus H: 1/80, lain-lain Negatip / normal. Sedangkan pada Tupes perut yang dilihat adalah Titer O yang menunjukkan kenaikan minimal 4 kali dari hasil test yang pertama ( jadi harus 2 kali test ). Titer O yang hanya : 1/80 belum dianggap Tipes yang Positip. Lihat hasil test ke 2, berapa kenaikannya. Titer H yang Postip dapat terjadi karena vaksinasi alami ( makanan dan minuman yang tercemar bakteri Tipes ) Titer O: 1/80 sering terjadi di negara kita karena penyakit ini merupakan penyakit Endemis ( ada sepanjang tahun di suatu area ).
Kesimpulan saya: Sidik tidak didukung bukti medis ( anamnesa dan hasil pemeriksaan fisik dan hasil Lab untuk dinyatakan sebagai penderita Tipes perut. Jadi anda jangan panik. Minumlah obat dari resep saya ini. Semoga Sidik segera sembuh dan dapat ke sekolah lagi.”

Pak Ali mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda mengerti dan setuju ucapan saya.

Help


Tanggal 9 Pebruari 2009 saya mendapat SMS ke nomer Starone CDMA saya yang biasa dipakai untuk Modem USB Starone yang sudah saya pakai sejak 4 bulan yang lalu. Isi pesannya bahwa sejak tanggal 11 Pebruari 2009, fasilitas MLW ( agar dihitung Rp. 25,- /menit ) akan berakhir. Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Saya mendapat berita rumor bahwa setelah itu akan diberlakukan tarip Rp. 75,-/menit ( 3 kali lebih mahal ). Kalau diperhatikan sebenarnya download speed Starone di tempat saya hanya < 10 Kbs. Lambat.

Semula saya menggunakan Speedy. Yang akhirnya tidak saya pergunakan lagi oleh karena bila saya ada di tempat lain koneksi Internet via Speedy tidak dapat dilakukan karena Speedy menggunakan jalur telepon Telkom rumah. Download speed yang makin mengurang dan billing yang kadang ngaco membuat saya memutuskan berlangganan.

Saya beli 1 unit Modem USB CDMA Starone ( paket Modem Rp. 600.000,- sudah termasuk Kartu perdana pulsa Rp. 10.000,-) . Instalasinya mudah, biaya ringan. Mulai 11 Peb 2009 sudah tidak murah lagi. Biaya Internet makin mahal bagi saya yang pensiunan.

Beberapa hari yang lalu saya baca iklan dan website (
http://www.mobile-8/mobi/prabayar ) tentang Mobi dari PT Mobile-8 Telecom Tbk, Modem 3,5 G ( paket Modem Pawntech PX-500 PCMCIA Rp. 499.000,- ) dengan tarif Prabayar Rp. 0,1/kb, EVDO REV.A. Sayang saat ini untuk kota Cirebon belum terkover 3.5 G sehingga dipakai koneksi CDMA ( yang lebih lambat ).

Adakah Netter yang berkunjung ke Blog ini dapat memberi masukkan kepada saya untuk dapat koneksi Internet Broadband dengan harga terjangkau dan Download/upload speed yang lebih cepat dari CDMA / GSM ) untuk area Cirebon?

Halo IM2 Broom dan Telkomsel flash?

Makasih atas bantuan para Netter.

Jumat, Februari 13, 2009

Budi temanku


Kemarin saya bertemu dengan seorang teman se SMA, namanya Budi ( bukan nama sebenarnya ).
Budi meledek saya dgn ucapan,” Wah, enak ya Bas, jadi dokter.”

Saya diam sejenak, lalu berkata “ Emang kenapa sih, Bud.”
Budi menjawab “ Enak, dokter banyak duitnya.”
Saya menjawab “Yang banyak duit yaitu Pedagang, bukan Dokter.”

Saya teringat ucapan seorang Dosen ketika saya kuliah tingkat II di Fak. Kedokteran.
Beliau berkata “ Kalau mau kaya jangan jadi Dokter, jadilah seorang Pedagang saja. Jadi Dokter baik. Jadi Pedagang baik, tetapi jangan jadi Dokter yang Pedagang”

Budi berkata lagi “ Tapi ngomong-ngomong, doa dokter jelek. Semoga banyak yang sakit. He..he..”

Diledek begitu saya menjawab “ Itu kata kamu lho, bukan kata saya. Saya tidak takut Rakyat Sehat Dokter Melarat, karena yang membutuhkan pertolongan Dokter bukan hanya orang yang sakit saja. Orang sehatpun butuh pertolongan dokter.”

Budi “ Eh, mana bisa begitu!”

Saya menjawab “ Bisa! misalnya orang yang ingin:

· Melahirkan cari Dokter
· Disunat
· Ikut KB
· Chek up kesehatan
· Langsing
· Gemuk, dsb semuanya cari Dokter.

Jadi yang butuh Dokter tidak selalu orang yang sakit tetapi juga yang sehat. Di pintu Ruang Periksa saya tempel tulisan SEMOGA LEKAS SEMBUH. Artinya sebelum diperiksapun, saya sudah mendoakan agar sembuh. Jadi doa saya baik, bukan malah sebaliknya semoga banyak yang sakit”

Budi berkomentar “Wah kalau berdebat dengan Dokter, engga bisa menang nih. Bas, enak ya jadi Dokter.”

Saya jengkel juga, ia selalu meledek saya, akhirnya saya berkata “ Bud, kalau jadi Dokter itu enak, kenapa kamu tidak jadi Dokter saja?

Budi menjawab dengan wajah yang memelas “ Ah…orang tuaku tidak mempunyai dana untuk menyekolahkan saya untuk menjadi Dokter dan lagi pula otakku tidak seencer otak kamu, Bas.”

Ah..saya sudah menyinggung perasaan hatinya. Maafkan aku, teman.

Lalu saya berkata “ Bud, kalau semua orang menjadi Dokter, lalu siapa yang menjadi pasien?”

Budi berkomentar “Iya benar. Di dunia ini harus ada keseimbangan, ada yang jadi Dokter dan ada yang jadi pasien. Ada siang dan ada malam. Iya sudah, Bas, semoga banyak pasiennya.”

“Amin, “ kata saya, sebelum kami berpisah.



Kamis, Februari 12, 2009

Manfaat Komputer (2 )



Berbeda dengan posting saya sebelumnya ( Manfaat Komputer ), kisah ini yang semula ada masalah, akhirnya happy ending. Saya gembira karena motivasi saya berdaya guna.

Ketika saya bekerja di salah satu Puskesmas yang mempunyai staf sekitar 26 orang, ada seorang karyawan yang bertugas sebagai Penyuluh Kesehatan Masyarakat. Tugasnya banyak di lapangan seperti: Posyandu dan tiap R.W dari wilayah kerja Puskesmas kami. Di dalam pergaulan Pak Edi ( bukan nama sebenarnya ) enak diajak bicara, cepat familier dan humoris.

Pak E selain menjalankan tugasnya, sering diberi tugas oleh saya untuk hal-hal yang lain. Tidak heran hubungan antara saya dan Pak E begitu dekat. Saya mengenal baik isteri dan kedua putranya. Kedua putra Pak E ini duduk di SMP dan SMU.

Pak E semula tidak begitu acuh kepada Laptop merk A milik saya. Makin hari makin besar keinginan Pak E untuk memiliki sebuah Komputer melihat saya banyak bekerja mengolah data dengan Laptop.

Suatu saat saya ajak Pak E berbincang-bincang tentang putra-putranya, tentang Komputer dll. Pada saat yang tepat saya menganjurkan agar Pak E memiliki sebuah Komputer. Selain dapat digunakan olehnya, juga oleh putra-putranya. Di dalam kegiatan sekolah mereka, sudah banyak tugas yang harus dikerjakan dengan Komputer sehingga mereka pergi ke teman mereka atau Warnet untuk menyelesaikan tugas sekolahnya. Pak E setuju anjuran saya. Ia menyampaikan hal ini kepada sang isteri yang juga PNS, Pegawai Negeri Sipil.

“Bu, bulan depan saya akan beli Komputer.” Katanya

“Buat apa Komputer, buang-buang uang saja” jawab isterinya dengan sengit.

“Bu, putra-putra kita kan banyak mengerjakan tugas sekolahnya dengan Komputer dan mereka selalu meminjam dari teman mereka. Sudah saatnya kita memiliki Komputer demi proses belajar anak-anak kita.” Pak E merayu isterinya.

Melihat sikap isterinya yang tidak mendukung maksudnya, Pak E nekat juga. Bulan berikutnya setelah bertanya-tanya kepada saya, ia membeli 1 unit Komputer. Saya gembira mendengarnya. Dalam bekerja dengan Komputer, putra-putra Pak E yang banyak memberi petunjuk kepada ayahnya. Keberadaan Komputer dirumah mereka menimbulkan semangat belajar mereka menjadi makin baik.

Beberapa tahun kemudian saya pindah kerja dari Dep. Kesehatan ke Dep. Kehakiman. Ketika bertemu dengan Pak E di suatu pertemuan, Pak E curhat kepada saya dan berterima kasih.

“Dok, akhirnya isteri saya membenarkan dan mendukung kami memiliki Komputer sesuai anjuran Dokter. Makasih, Dok.” Kata Pak E.

“Oh…kalau demikian, baguslah Pak E. Semua kerja yang baik akan menghasilkan hasil yang baik pula. Mempunyai sebuah Komputer, kan tidak ada ruginya. Komputer akan membantu kita di dalam pekerjaan kita sehari-hari bukan. Ngomong-ngomong, apa yang membuka hati isteri Pak E terhadap Komputer? Dulu kan ia tidak senang anda membeli Komputer. Buang-buang uang saja katanya. He..he..” jawab saya menggoda Pak E.

“Begini Dok. Ketika isteri saya mengikuti sebuah Pelatihan, seluruh peserta mendapat tugas membuat sebuah paper / makalah sepanjang 5 halaman Folio dengan Topik tertentu. Makalah itu harus sudah diserahkan dalam waktu 1 minggu. Isteri saya panik juga dan menyampaikan tentang tugas makalah itu kepada saya kata Pak E.

“ Lalu…...” jawab saya.

“He..he..Ilmu Pak Dokter yang saya serap, dapat mengatasi tugas isteri saya. Saya mempunyai artikel dengan topik itu dan saya edit beberapa bagian dan selesailah makalah isteri saya.” kata Pak E.

“Ketika isteri saya membaca makalah itu, ia berkomentar kok masih ada yang salah ketik. Wah besok harus sudah diserahkan kepada Panitia nih” kata isterinya dengan nada kurang puas ( kalau mau puas ya kerjakan aja sendiri ya ).

“”O.. itu gampang.” Kata Pak E.

“Gampang gimana? Bapak kan harus ngetik ulang dari awal halaman.”

“Dari awal halaman? Enggak usah, Bu. Saya edit aja yang salah ketiknya, di Save dan di Print lagi. Kalau pakai Komputer tidak usah ngetik dari awal lagi. Kalau Ibu pakai mesin tik biasa, kita harus ngetik ulang dari awal halaman dan perlu waktu lebih lama lagi. Komputer lebih praktis dan lebih cepat, Bu“ kata Pak E.

“Dalam 10 menit kemudian makalah isteri saya sudah selesai, Dok” sambung Pak E.

Demikian gembiranya sehingga ia memberi soen kepada sang suami. Wah….rejeki nomplok nih.

“Gitu ceritanya, Dok. Makasih atas semua yang sudah Dokter berikan kepada saya. Kami sekarang tidak ribut lagi masalah Kmputer. Komputer sudah merupakan bagian hidup kami” begitu Pak E berfilosofi he…he….

Saya gembira dan teringat akan tayangan di Metro TV, acara Mario Teguh, Golden Way dengan topik “Stand by me”. Yang inti sarinya: berdiri disamping saya untuk mencapai keberhasilan. Saya anggap keberhasilan itu sudah diraih oleh Pak E yang berdiri di samping saya. Banyak tayangan di Metro TV yang menjadi favorit saya seperti: Kick Andy Show, Ophrah Winfrey Show. Selain melihat dengan mata, kita juga harus meihat dengan hati yang memberikan jangkauan yang lebih luas.

Rabu, Februari 11, 2009

Manfaat Komputer





Sampai saat ini Komputer dipakai untuk banyak keperluan, misalnya: membeli tiket kereta api, memesan tiket pesawat terbang, membuat buku, menulis artikel, menulis Blog, membuat website, memberikan kuliah / presentasi dengan slide show Power Point , membuat Catatan keuangan, mencari macam-macam artikel di Internet, mengirim Foto / lampiran sebuah surat elektronik, mentransfer uang di Bank dll. Semuanya dilakukan dengan sebuah alat yang dinamakan Komputer. Betapa hebatnya kemajuan tehnologi sehingga tanpa Komputer, semua kegiatan sehari-hari akan terhenti. Orang akan naik darah kalau Komputernya Hang atau mengalami gangguan. Semua jadwal penerbangan pesawat akan kacau kalau listrik padam dan Kompter berhenti bekerja. Komputer merupakan alat yang sangat penting dan sangat canggih. Tiada hari, tanpa Komputer.

Kejadian ini sudah bertahun-tahun, sekitar awal tahun 1990, tetapi saya selalu teringat kejadian ini. Masih ada orang yang masih belum mau menggunakan Komputer sebagai alat bantu yang pertama. Bukan sebagai isteri yang pertama.

Ketika saya masih menjabat salah satu Puskesmas di kota Cirebon, saya mengunjungi Kantor Dinas Kesehatan. Saya berbincang-bincang dengan salah seorang Kepala Seksi. Ketika itu saya sudah menggunakan Laptop pribadi merk A yang dibeli dengan uang tabungan saya. Laptop ini saya gunakan untuk membuat Laporan Hasil Kegiatan Program Kesehatan di Kecamatan. Laporan ini saya pergunakan sebagai bahan Rapat Koordinasi di Tingkat Kecamatan.

Di tingkat Puskesmas / Kecamatan saja sudah menggunakan Komputer/ Laptop, tetapi di Kantor Dinas saat itu belum ada Komputer 1 unitpun. Oleh karena itu dalam perbincangan kami, saya mengusulkan agar disediakan Komputer, minimal 4 Unit untuk digunakan di: Bagian Gaji, Bagian Kepegawaian, Bagian Farmasi / Obat dan 1 Seksi Dinas. Idealnya setiap Bagian mempunyai satu alat ini.

Teman Sejawat saya itu, merasa di Tingkat Dinas masih belum perlu ada Komputer dan lagi pula tidak tersedia dana untuk membelinya.

“Untuk apa Komputer, toh selama ini secara manual semua sistim sudah dapat berjalan dengan baik”, ia berkata sambil tertawa. Ha..ha..ha..
Dalam hati awas lu. Sekarang kamu tertawa, tetapi pada saatnya nanti saya akan tertawa belakangan. Huh….

Saya menjawab “Baik sih baik, tetapi cepat atau lambat, Kantor anda memerlukan Komputer. Lebih baik sekarang sudah mempunyai Komputer dan karyawan yang terlatih untuk mengoperasionalkannya, dari pada nanti anda akan kerepotan kalau alat ini sudah dipakai di Kantor Dinas Kesehatan Tingkat Propinsi. Masalah dana, anda dapat mengusulkan kepada Kepala Dinas Kesehatan anda.”
Teman saya tetap tidak bergeming dan bertahan pada pendapatnya.

Dua bulan kemudian ketika saya berkunjung ke Kantor Dinas, saya ditemui oleh salah satu Karyawati, Staf teman saya tadi.

“Pak Basuki, kami tadi pagi mendapat kiriman 1 Disket dari Kantor Dinas Kesehatan Propinsi dan sepucuk Surat Pengantar. Kami tidak tahu bagaimana cara mengisinya. Tolong bantu.”

Saya menjawab “Bisa saya lihat Surat dan Disketnya?”

Saya baca bahwa itu suatu permintaan / tugas dari Propinsi untuk mengirimkan data-data Kesehatan se Kota Cirebon yang diperlukan oleh Dinas Kesehatan Propnsi Jabar ( yang selama ini di ketik dan dikirim per pos ) yang akan direkap se Propinsi Jabar.

Saya berkata kemudian “ Iya benar, Disket ini harus diisi data-data yang harus dikirimkan dalam waktu 1 minggu kemudian. Isi saja Disketnya, toh semua data yang diminta Propinsi sudah ada dalam arsip laporan.”

Karyawati tsb berkata dengan memelas “Pak Bas, bagaimana ini kami kan tidak punya Komputer. Bagimana kami harus mengisinya?”

Saya bukannya menjawab, tetapi tertawa terbahak-bahak ha…ha….ha…
Karyawati itu heran, kenapa saya tertawa gembira. Aneh, pikirnya.
Saya berkata “Dua bulan yang lalu saya ditertawakan oleh atasan anda. Sekarang giliran saya yang tertawa. Ha..ha..ha..”

“Saya kan sudah bilang, milikilah Komputer untuk mengantisipasi keadaan seperti ini, tapi tidak digubris. Nah sekarang tidak bisa tertawa lagi kan?” kata saya kemudian.

Kemudian saya memberikan solusinya, “Sekarang begini saja, Data sudah ada, tinggal memasukkan ke Disket saja. Carilah karyawan/wati di Kantor ini yang dapat bekerja dengan Komputer. Pergilah ke Warnet terdekat dan segera isikan Data-data yang diminta. Setelah selesai, buatlah sebuah Copy dalam sebuah Disket juga sebagai arsip. Lalu kirimkan ke Propinsi dengan Kilat Khusus. Beres kan?” jawab saya sungguh-sungguh.

Wajah karyawati itu menjadi cerah, secerah langit Cirebon di siang hari itu, setelah mendengar jawaban saya. Saya tertawa terbahak-bahak lagi sambil meninggalkannya. Ha..ha…ha…

Sampai saat ini Teman saya itu masih belum akrab dengan Komputer. Ya sudah…too late. Sudah terlambat. Ibarat mau ke Jakarta naik kereta api. Saya sudah tiba di stasiun Gambir, Jakarta, orang lain sedang antri beli tiket kereta api jurusan Jakarta.

Hilang dua-duanya

Saat itu aku duduk di kelas III SMU, 1965. Mesin sepeda motorku mesti diperbaiki, tenaganya sudah berkurang. Maklum sepeda motor tua. Aku menabung hari demi hari dengan menyisihkan uang saku. Sudah terkumpul sebanyak Rp. 75.000,-cukup untuk biaya perbaikan sepeda motorku atau setara dengan harga beras setengah kwintal saat itu.

Sore ini Jaedi ( bukan nama sebenarnya ) teman sekampugku datang kerumahku. Setelah berbasa-basi ujung-ujungnya temanku ini bermaksud ingin meminjam uang kepadaku. Alasannya uang itu untuk biaya berobat ibunya yang sedang sakit.

“Aku tak punya uang sebanyak itu”, kataku kepadanya.
“Tolonglah Bas, lusa ayahku gajian, uangmu akan kukembalikan, jawab Jaedi.
“Aku akan memperbaiki mesin sepeda motorku di bengkel.” aku ngotot tak mau
meminjamkan uangku kepadanya.
“Uang itu kami butuhkan untuk biaya berobat Ibuku, sakit Ashmanya kambuh lagi, semalaman ia tak bisa tidur,” Jaedi merengek.

Aku tak tega kalau Ibu temanku itu meninggal dunia seperti salah satu keluargku yang meninggal bulan lalu akibat penyakit Ashma berkomplikasi Radang paru-paru. Saat itu aku juga perlu uang untuk sepeda motorku, aku tak mau kalau aku naik sepeda lagi ke sekolah.

“Bas, pinjami aku uang. Lusa ayahku gajian, akan kukembalikan uangmu.” Sekali lagi Jaedi merengek.

Lusa kan 2 hari lagi, tidak lama. Biarlah aku pinjamkan uangku kepadanya. Aku
mengalah.
“Berapa sih uang yang kauperlukan?” aku bertanya kepadanya.
“Hanya tujuh puluh ribu rupiah saja”, kata Jaedi.
“Kau ambillah TV 14 inchi kami, kalau kau tak percaya.” Jaedi melanjutkan rayuannya.
Aku takut itu barang curian dan nanti aku dituduh sebagai penadah barang curian. Aku menolak mengambil TV nya.

“Baiklah aku pinjamkan uang sebanyak itu, tetapi segeralah kau kembalikan lusa. Kalau tidak, awas kau,” aku mengancamnya.
“Baik Bas, engkau temanku yang baik sekali.”

Aku benci mendengar rayuan gombalnya.
2 hari kemudian aku naik sepeda untuk sampai di sekolah.
Hari yang dijanjikan tiba. Aku menunggu di rumah kedatangan Jaedi yang akan
mengembalikan pinjamannya kepadaku. Sampai malam hari, aku tidak melihat batang hidungnya.

“Puih..., sialan benar itu orang. Penipu. Penipu,” aku marah besar.
Sudah ditolong lupa mengembalikannya. Aku tunggu lusa-lusa berikutnya, tetapi Jaedi tidak kunjung datang kerumahku. Dengan nekat aku datangi rumahnya di kampungku.

Ternyata Ibunya sehat-sehat saja, tidak pernah menderita sakit Ashma. Ibunya
mengatakan bahwa Jaedi pergi ke Jakarta tepat sehari setelah ia menerima uang dariku. Penipu kau Jaedi.

Aku pulang dengan kecewa dan marah. Kok bisa-bisanya Jaedi temanku
menipuku dengan alasan yang dibuat-buat, Ibunya sakit. Wah kualat tuh orang…..kualat kau Jaedi.

Aku kehilangan uangku dan temanku, aku kehilangan kedua-duanya. Sampai saat ini aku tidak pernah bertemu lagi dengan Jaedi, temanku itu.

Bila anda meminjamkan uang kepada seorang teman, berhati-hatilah. Semoga pengalamanku tidak menimpa anda. .



Selasa, Februari 10, 2009

Manfaat Internert



Seminggu yang lalu, pagi-pagi Teman Sejawat Dokter menelepon saya.

“Pagi, Pak Bas.”

“Pagi juga. Siapa ya?” jawab saya.

“Saya Edi ( bukan nama sebenarnya ). Mau minta tolong nih.”

“Apa yang dapat saya bantu?” jawab saya.

“Apakah anda punya, artikel tentang Lidah Buaya?”

“”Kalau Lidah saya punya, kalau Buaya saya tidak punya. Emang buat apa sih artikel itu?” jawab saya sambil guyon.

“Anak saya yang di SMU dapat tugas dari Gurunya untuk membuat suatu karangan tentang Lidah Buaya, cara menanam, khasiat, nilai ekonomis dll. Cari bahannya di mana ya, Bas?” katanya memelas.

“Gini aja, beri saya waktu 30 menit, nanti saya telepon anda. Saya mau cari di Internet dan akan saya cetak beberapa artikel tentang Lidah Buaya.” kata saya dengan PD.

Saya buka Internet di komputer saya yang sudah online. Saya masukkan kata kunci “lidah buaya” ( tanpa tanda petik ) di mesin pencari ( search engine ) Google. Pak Google ini sudah sering membantu saya dalam mencari banyak artikel yang saya butuhkan. Saya patut berterima kasih kepadanya.

Hasil pencarian, menampilkan artikel Lidah Buaya ( Aloe vera ) dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Saya pilih 2 artikel dalam bahasa Indionesia dan 2 artikel dalam bahasa Inggris. 4 buah artikel rasanya cukup untuk bahan membuat sebuah karangan sebanyak 2 halaman Folio bagi tingkat SMU.

Selesai di print, saya bicara dengan Teman Sejawat saya tadi dan agar segera diambil, sebab saya akan pergi ke luar rumah untuk suatu keperluan.

Teman saya menjawab katanya nanti sore saja diambilnya.
Saya jengkel mendengar perkataannya itu. Kerja saya sepertinya tidak dihargainya. Saya tidak biasa bekerja lambat-lambat. Kalau bahan artikelnya nanti sore diterima anaknya, kapan tugas karangannya selesai?

“Kalau anda mengambilnya nanti sore, saya tidak akan mencetaknya. Nanti sore saya tidak ada waktu, sebab saya akan praktek melayani pasien”, kata saya kemudian.

Sepuluh menit kemudian Teman saya itu tiba di rumah saya dengan pakaian olah raga , siap untuk main Tennis. Print out Aloe vera itu saya berikan kepadanya secara free.

Kejadian seperti ini sudah sering kali saya lakukan bagi Teman Sejawat yang butuh artikel tetapi masih gaptek Internet. Ingin beri ceramah bahannya belum punya. Ia kebingungan dan menelepon saya minta bantuan. Saya minta bantuan juga dari Pak Google di Internet. Dengan setia Pak Google selalu memberikan apa yang saya butuhkan. Makasih Pak Google.

Sabtu, Februari 07, 2009

Menikmati kesendirian

Kadang-kadang saja saya dapat menikmati personal privacy.

Pagi ini setelah jam praktek pagi telah usai, pukul 10.00 WIB, maka meluncur menuju Carrefour Dep. Store di kota kami, Cirebon. Saya belanja barang-barang keperluan rumah tangga, seperti: tissue dapur, buah-buahan, sabun mandi dll.

Suasana yang adem berkat AC sentral gedung dan tidak banyak orang yang shopping pada jam-jam sepagi ini membuat betah saya untuk melihat-lihat barang-barang yang terdapat di D.S. ini.

Ketika dirasa sudah cukup belanja, saya menuju Kasir. Wah…tidak terasa banyak juga uang yang harus dikeluarkan. Ya sudah, gesek saja Kartu Kredit. Bayar bulan depan. Besok lusa saya setor uang ke Bank saya. Beres.
Kadang-kadang bayar dengan Kartu Kredit lebih dihargai, padahal ngutang. Kita merasa lebih PD bila mempunyai Kartu Kredit pada keadaan-keadaan tertentu. Kalau kita bermalam di Hotel di kota besar, membayar di Kasir lebih umum dan praktis bila membawa Kartu Kredit. Para kasir juga begitu. Jaman sudah berubah banyak atau kita yang ketinggalan jaman? He..he..
Keluar dari gedung Dep. Store saya melihat ada banyak konter yang menjual makanan di teras gedung. Saya membeli sebuah kue dadar gulung yang dibuat baru dengan bumbu kacang dan strawberi. Fresh from the oven. Enak dimakan hangat-hangat.

Saya duduk disebuah kursi yang banyak kosong. Bisa pilih mau duduk dimana, mana suka. Saya dapat menikmati semuanya sendirian. Tidak ada teman duduk atau ngobrol. Benar-benar alone.
Udara yang cerah dengan angin sepoi-sepoi membuat saya betah menikmati jajanan ringan ini. Untuk mendorong kue ini, saya membeli 1 cup air teh dingin merk P.
Saya melihat 1 keluarga: ayah, ibu dengan 2 anak Balita mereka. Mereka tampak gembira. Terdengar teriakan gembira anak-anak tadi ketika Ibunya membelikan mereka masing-masing 1 cup es krim.
Saya ikut gembira melihat tingkah laku Balita itu.
Ingatan jangka panjang saya kembali ke tahun 1985 dimana putra dan putri kami juga ketika sebaya dengan mereka. Suasana keluarga saya mirip dengan keluarga yang saya lihat saat ini. Dulu mereka masih Balita, sekarang mereka sudah lulus S1 dan S2 nya, bahkan putra kami yang sulung sudah berkeluarga.
Tidak setiap hari kami dapat melihat putra/i kami. Paling tidak 2 tahun sekali kami dapat berkumpul bersama menikmati Lunch atau Dinner setelah melancong ke tempat-tempat pariwisata di negara Kangguru.
Kami bersyukur masih dapat saling berkomunikasi by phone, by SMS or by email. Saat ini masalah komunikasi sudah tidak menjadi masalah bagi kebanyakan orang. Kita patut berterima kasih kepada kemajuan tehnologi
komunikasi di negara kita dan negara-negara lain dengan harga yang terjangkau.
Lamunan saya terhenti oleh bunyi klakson sebuah Sedan yang akan keluar dari halaman parkir. Jajanan dan air teh sudah habis masuk ke dalam lambung saya. Lalu what next?

Pulang, ya pulang. Di rumah, saya harus memasak nasi by Rice cooker sebelum isteri tercinta pulang dari Kantornya, ngetik artikel ini dan buka inbox saya di gmail.com untuk melihat adakah email yang masuk?

Pagi ini saya telah menikmati kesendirian saya. Semoga di lain hari saya masih dapat menikmatinya lagi dan menulis kisah yang lain lagi.

Kematian


Tidak seorangpun yang dapat mengelakkan kejadian ini. Sebanyak apapun hartanya, setinggi apapun pangkatnya kalau sudah saatnya kematian akan datang juga.

Seperti biasa setiap 6 bulan sekali, saya melakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar gula, kolesterol, asam urat dll sekedar utk mengetahui. Bila ada yang dapat angka merah, maka saya harus mengatasinya dengan merubah pola makan atau minum obat yang dibutuhkan. Makin tinggi usia, kondisi kesehatan makin menurun bila tidak dipelihara dengan baik. Saat ini sakit sudah merupakan suatu kemewahan bagi kebanyakan orang.

Sambil menunggu pasien yang mau berobat, saya minta Pak A, petugas Laboratorium Klinik langganan saya agar datang ke tempat saya untuk mengambil darah dan urine. Saya dalam keadaan puasa. Untuk kadar Glukose 2 jam
sesudah makan, Pak A akan datang kembali pada pukul 09.30.

Saya telepon kepada Ibu M Tata Usaha Gereja kami minta agar Supir yang akan jemput dan antar saya ke Panti Wreda datang menjemput saya pada pukul 09.30.

Supir sudah datang menjemput saya, tetapi Pak A belum juga datang. Saya telepon Pak A, apakah dapat datang atau tidak, sebab saya akan pergi.

Pak A menjawab sebentar lagi tiba di rumah saya utk ambil darah 2 jam sesudah makan. Tidak lama kemudian ia datang dan menuturkan alasan mengapa agak terlambat datang.

Rupanya ada kejadian yang bikin heboh di Lab. Klinik. Ada seorang pasien pria, Tn. K. sekitar 60 tahun, kiriman seorang Dokter yang akan diambil darahnya. Kondisi fisiknya tampak lemah.

Pak A ketika akan mengambil darah Tn.K kebingungan karena ketika akan diambil darahnya, tiba-tiba tubuhnya jatuh dan langsung ngorok. Ketika diperiksa Tn. K sudah tidak bernafas lagi.

Pak A menelepon Dokter yang mengirim Tn. K ini dan melaporkan kejadian tsb. Sang Dokter juga membenarkan bahwa kondisi fisiknya memang lemah, tapi tidak menduga pasiennya akan pergi secepat itu.

Tn. K kemudian diantar pulang oleh supirnya. Sang Supir juga kebingungan. Berangkat masih hidup, pulang sudah meninggal dunia.

Setelah Tn. K meninggalkan Lab, barulah Pak A dapat menuju ke tempat saya. Saya dapat memahami alasan keterlambatan ini dan tidak merupakan masalah.

Dalam perjalanan menuju Panti Wreda saya merenungkan kejadian Tn. K tadi. Batas antara hidup dan mati, tipis. Artinya tadi masih hidup, beberapa menit kemudian meninggal dunia.

Beberapa orang pernah beri komentar, enak begitu dari pada sakit bertahun-tahun, mati belum hidup tidak berarti lagi, misalnya terserang Stroke.

Kematian tidak bisa ditawar. Kematian pasti datang, hanya kita tidak tahu kapan dan saat kita sedang ada dimana?

Sebelum hal itu menjemput kita, marilah kita gunakan hidup kita ini dengan hal-hal yang baik bagi kita, bagi keluarga dan bagi orang-orang lain. Semoga Tuhan memberkati kita. Amin.