Selasa, November 06, 2007

Berubah profesi


Pak S. selama bertahun-tahun bekerja sebagai salah satu Staf di salah satu Rumah Sakit di Cirebon. Keramah-tamahannya membuat ia mempunyai banyak teman di tempat bekerja antara lain dengan karyawan di bagian Fisioterapi. Dalam waktu senggangnya ia belajar sedikit demi sedikit tentang Fisoterapi.

Saya mengenalnya ketika orang tua saya mempekerjakan seorang tukang cat di rumah orang tua saya. Pak S. yang ramah ini enak diajak ngobrol dan akhirnya saya juga sering minta bantuannya untuk mencat rumah kami, memperbaiki atap dll.

Saat kisah ini saya tulis Pak S. berumur 50 tahun, sembilan tahun lebih muda dari saya. Sudah sekitar 1 tahun kami tidak saling bertemu. Ketika suatu saat saya membutuhkan bantuannya untuk mencat pagar rumah kami, saya menghubunginya melalui handphonenya. Ternyata ia berada di Majalengka, 45 menit naik mobil ke arah Bandung dari Cirebon.

“Sedang apa Pak di Majalengka?” saya bertanya kepada Pak. S.
“Dok, saya sedang mengobati orang disini.”
“Ngobati orang?”
“Iya, Dok. Sudah beberapa hari saya disini. Banyak yang minta bantuan saya untuk disembuhkan penyakitnya. Ada apa Dok sampai menghubungi saya. Apa yang dapat saya bantu untuk Dokter?”

Saya tidak enak untuk minta bantuannya mencat pagar rumah kami. Kok Pak S sudah berubah profesinya.

“Sebenarnya saya ingin minta bantuannya untuk memperbaiki rumah kami, tetapi tidak buru-buru kok. Nanti saja kalau Bapak sudah berada di Cirebon. Saya hubungi lagi. Terima kasih Pak.”

Saya bertanya dalam hati, dari mana Pak S. mendapat ilmu sampai ia dapat menyembuhkan orang. Ilmu apa yang dipakainya untuk menyembuhkan pasien dan penyakit apa saja yang ia dapat sembuhkan? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dapat terjawab sampai akhirnya pada bulan Oktober 2007 saya bertemu dengan Pak. S.

Awal Oktober 2007 suatu hari sekitar pukul 08.00 saya mengharapkan agar saya dapat bertemu lagi dengan Pak S. Sore hari ketika saya buka praktek dokter umum, saya mendengar suara bel pintu ruang tunggu. Ketika saya membukakan pintu saya melihat Pak S. berdiri dihadapan saya.

“Ini Pak S?” saya bertanya tidak percaya.
“Iya Dok, saya S. Masih ingat kan dengan saya?”
“Iya saya masih ingat. Tadi pagi saya mengharapkan saya dapat bertemu. Eh..sore hari ini kita dapat bertemu. Kok bisa begitu ya.” jawab saya.

Pak S menjawab “Tadi pagi istri saya menyuruh saya agar datang ke rumah dokter Basuki karena sudah 2 kali dokter menelepon. Kok belum juga datang ke rumah dokter. Mungkin dokter memerlukan bantuan. Jadi saya sore ini menyempatkan datang ke rumah dokter.”

“Wah hebat ya. Rupanya kontak batin kita bisa nyambung. He..he..” saya menjawab ucapan Pak S.

“Apa yang dapat saya bantu Dok?”
“Sebenarnya saya ingin minta bantuan untuk mencat pagar rumah kami yang sudah mulai berkarat? Bisakah Bapak mengerjakannya?”

“Bisa dok. Kapan mulainya?”
“Mulai besok pagi saja”, saya menjawabnya.

“Pak. S, ngomong-ngomong bagaimana ceritanya sampai Bapak alih profesi sebagai penyembuh?” saya bertanya.

“Begini dok, beberapa bulan yang lalu saya dimintai pertolongan oleh tetangga saya. Saya mencoba mengurut tubuh pasien itu. Ternyata sembuh. Setelah itu banyak orang yang memanggil saya untuk menyembuhkannya. Ketika Dokter menghubungi handphone saya, ketika itu saya berada di Majalengka selama 1 minggu. Ada banyak orang yang minta bantuan saya untuk disembuhkan penyakitnya.”

“Emang penyakit apa saya yang disembuhkan?” saya bertanya ingin tahu lebih lanjut kehebatan ilmu Pak S. ini.
“Banyak penyakit yang saya coba sembuhkan, mulai dari sakit kepala hebat, perdarahan lewat jalan lahir, sudah tidur, stres dll. Ketika saya memijat bagian tubuh pasien, saya merasakan ada suatu organ tubuh yang berkerja tidak normal. Lalu saya urut bagian-bagian tertentu. Berkat bantuan Yang Maha Kuasa, penyakit pasien sembuh.”

Saya takjub dengan kemampuan Pak S. ini.
Saya bertanya lagi “Kalau mengobati pasien, berapa kali Bapak memijatnya?”

“Ada yang satu kali pijat sudah sembuh. Kalau masih belum tuntas penyakitnya. Saya lakukan pijatan yang kedua. Umumnya penyakit pasien sembuh.”

“Pasien itu dimana saja. Pak”
“Ada yang di dalam kota Cirebon dan ada pula yang panggil saya karena paseinnya berada di luar kota seperti Jakarta, Bandung dll. Ada yang datang menjemput saya dengan mobil dan ada yang ingin agar saya datang ke rumahnya. Saya naik bus untuk mendatangi kota dimana pasien tinggal.”

Saya masih penasaran dan bertanya lebih lanjut.
“Pak, kalau penyakitnya karena dikirim orang, bisa tidak diobati oleh Bapak?”
“Saya pernah beberapa kali mengobati pasien yang demikian dan sembuh. Sebenarnya saya tidak bisa menyembuhkan tetapi Tuhan yang menyembuhkan mereka,” jawab Pak S. merendah.

Untuk yang terakhir kalinya saya bertanya “Kalau banyak yang disembuhkan, maka penghasilan Bapak banyak berubah menjadi lebih baik. Maaf pertanyaan saya ini Pak, setelah menyembuhkan pasien berapa yang Bapak terima?”
“Macam-macam dok. Ada yang mengucapkan terima kasih saja dan ada pula yang memberi uang mulai dari yang sedikit sampai yang cukup besar terutama kalau saya mendatangi pasien yang berada diluar Cirebon. Praktis penghasilan saya lebih baik dari pada sebelum saya menyembuhkan pasien-pasien saya. Walau demikian saya masih mau membantu dokter memperbaiki rumah dokter.”

Saya bersyukur akan perbaikan penghasilan Pak S.
Suatu pagi ketika Pak S. mau melanjutkan mencat pagar rumah kami, berkata “Dok, kemarin sore sepulangnya saya dari rumah dokter, ketika tiba di rumah saya, sudah ada tamu yang mau menjemut saya untuk minta diobati salah satu keluarganya. Saya minta waktu untyuk mandi dahulu.”

Keluarga pasien yang sudah menunggu selama 1 jam rupanya sudah tidak sabar dan ingin segera membawa Pak S. ke rumah pasien. Akhirnya Pak S. bersedia dijemput keluarga pasien tanpa mandi dulu. Hebat. Antara keperluan pribadi dan pelayanan bagi masyarakat, Pak S. mendahulukan pelayanan bagi masyarakat.

Itulah kisah Pak S. yang telah berubah profesi menjadi tenaga penyembuh.

Ada maunya


5 Nov 2007: pagi sekitar pk. 05.30 saya bermaksud akan membuang sampah yang sudah dimasukkan ke dalam 3 kantong plastik ke gerobak sampah di dekat rumah kami.

Ketika saya akan menutup pintu halmanan rumah ada seorang pria yang menyapa saya “ Selamat pagi Dok. Mau olah raga pagi?”
“Met pagi. O.. saya akan membuang sampah nih.”

Pria itu yang saya tidak kenal namanya, mungkin salah seorang tetangga saya, menawarkan bantuannya untuk membantu membawa kantung plastik yang berisi sampah itu. Seumur hidup saya belum pernah dibantu untuk membuang sampah dalam kantung plastik yang sering saya lakukan. Tumben nih ada prang yang baik hati membantu saya. Saya curiga, jangan-jangan ia orang ytang tidak waras pikirannya. Wah…kok saya paranoid begini. Saya biarkan pria itu membawa salah satu kantung plastik.

Tiba di gerobak sampah, kami memasukkan 3 kantung plastik ke dalam gerobak sampah.
“Terima kasih, Pak” kata saya kepadanya.

Pria itu tidak beranjak dari tempat ia berdiri.
Ketika saya akan melangkah menuju rumah kami, pria itu berkata “ Dok, kalau obat untuk batuk dan Flu yang bagus apa ya?”
Nah ketahuan deh maksudnya kalau ia mau membantu saya. Rupanya ada maunya. Ternyata kebaikkannya itu ada maksudnya yaitu ingin bertanya tentang obat anti batuk dan anti Flu.

Saya menjawabnya dengan menyebutkan beberapa obat anti batuk dan Flu yang dijual bebas, tanpa resep dokter. Pria itu mengucapkan terima kasih atas jawaban saya.

Sambil melangkah menuju rumah kami, saya tertawa geli. Pagi tu saya mendapat satu lagi pengalaman hidup. Win-win solution.

Jumat, Oktober 12, 2007

Jarum Kakek di Tubuh Cuifen


Ketika membaca artikel yang ditulis oleh Aries Kelana dan Elmy Diah Larasati
(Kesehatan, Gatra Nomor 46 , 30 September 2007), saya terkejut. Kok ada ya orang yang berbuat seperti itu, mau membunuh secara perlahan-lahan seorang bocah wanita.

---

Perjalanan hidup Luo Cuifen sungguh mengenaskan. Ibu beranak satu ini menderita depresi berat sejak masih kanak-kanak. Ia selalu cemas dan ketakutan bila sendirian berada di dalam kamar. Kecemasan yang berkecamuk di benaknya itu membuatnya sulit tidur.

Selain itu, Luo Cuifen juga kesulitan menggerakkan badan. Perutnya terasa nyeri manakala ia mengangkat beban berat. Gangguan inilah yang mengakibatkan dia tak bisa melakukan pekerjaan keras.

Wanita asal Desa Songming, Yunnan, Cina, berusia 31 tahun itu pun kerap mengalami sakit perut tanpa sebab. Meski ia sudah berkali-kali berobat ke dokter dan mematuhi diet makanan, keluhannya tak kunjung reda. Semakin hari, penyakitnya justru bertambah parah.

Penderitaan Luo Cuifen mencapai puncaknya dua pekan silam. Ia tak lagi sanggup menahan rasa sakit, lantaran setiap kali kencing dan buang hajat selalu bercampur darah. Begitu menutut laporan situs BBC.com. Akhirnya Cuifen dilarikan ke Rumah Sakit Richland International, Kunming, Yunnan.

Dokter yang memeriksa Luo Cuifen terperanjat. Sebab hasil foto sinar-X menunjukkan, ada 26 batang jarum jahit dengan panjang masing-masing 3,5 sentimeter menyebar di tubuh Cuifen. Ada jarum yang tertanam di paru-paru dan liver. Banyak pula jarum yang bersarang di kandung kemih, usus, dan ginjal.

Bahkan ada jarum yang sudah patah menjadi tiga bagian berada di otaknya. Seandainya jarum itu menusuk otak Luo Cuifen, tentu saja akan membahayakan jiwanya. Pembuluh darahnya bisa bocor dan timbul perdarahan otak. Namun efek radangnya lebih kecil apabila sudah stabil dan dapat dilokalisasi jaringan otak.

Juru bicara Rumah Sakit Richland International, Qu Rui, mensinyalir jarum-jarum itulah yang membuat Luo Cuifen tak bisa bergerak leluasa. "Ini sebuah keajaiban karena Luo Cuifen bisa bertahan hidup sampai sekarang," kata Qu Rui.

Tim dokter Rumah Sakit Richland International kini berusaha mengeluarkan puluhan jarum yang bersarang di organ vital Luo Cuifen. Untuk keperluan ini, 23 dokter dikerahkan. Mereka adalah dokter ahli berbagai bidang penyakit. Antara lain dokter hali saraf, tulang, jantung, kandungan, dan penyakit dalam.

Untuk mengoperasi Luo Cuifen, didatangkan dokter ahli Amerika Serikat dan Kanada. Pada operasi tahap pertama, dokter akan mencabut enam jarum. "Operasi itu bakal berlangsung lama dan melalui prosedur yang rumit," kata Dokter Xu Mei, Kepala Rumah Sakit Richland International.

Bedah pertama diperkirakan memakan biaya 170.000 yuan atau sekitar Rp 204,8 juta. Untuk operasi ini, Cuifen digratiskan. Tapi, untuk operasi berikutnya, ia harus membayar penuh. Biaya yang lumayan gede memaksa Cuifen mencari donatur yang bisa meringankan ongkos operasi selanjutnya.

Puluhan jarum yang bersarang di tubuh Cuifen itu diduga akibat kelakuan bejat kakeknya. Si kakek tak menyukai kelahiran Cuifen lantaran menghendaki cucu laki-laki. Alasannya, anak-laki-laki dapat membantunya bekerja di ladang. Dan hanya laki-lakilah yang mendapat jaminan sosial dari Pemerintah Cina.

Pemerintah Republik Rakyat Cina memang menerapkan kebijaksanaan satu anak, yang lebih memfokuskan pada anak laki-laki. Jika seorang perempuan Cina melahirkan bayi perempuan, ia diperbolehkan punya anak lagi agar mendapat anak laki-laki.

Si kakek itu kecewa atas kelahiran cucu perempuan. Ia berusaha menghabisi Cuifen. Kakek itu menusukkan puluhan jarum ke tubuh Cuifen yang masih bayi. Tujuannya, agar cucunya meninggal secara perlahan-lahan. Orang pun tak akan mengira ia dibunuh. Sayang, kasus ini terungkap setelah si kakek itu tewas.

Luo Cuifen sendiri mengaku tak terkejut mendengar keterangan dokter. Sewaktu kecil, ibunya pernah bercerita bahwa ketika masih bayi, ia sering menangis tanpa sebab. Pada awalnya hanya disangka rewel biasa, hingga suatu hari ditemukan jarum jahit di luka pada pinggang belakangnya.

Ketika Cuifen berumur tiga tahun, tiba-tiba muncul jarum di sekitar tulang rusuknya. Kasus adanya benda asing di usus sebenarnya sudah jamak. Banyak kasus gigi palsu tertelan atau jarum pentul tertelan pada wanita berkerudung. Tapi jumlahnya tak sebanyak yang dialami Cuifen. Dokter biasanya memutuskan untuk mengeluarkan jarum itu.

Lalu, bagaimana ia bisa bertahan hidup? Menurut Profesor Daldiyono, ahli penyakit pencernaan pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI), organ tubuh terutama usus punya mekanisme tersendiri untuk berkontraksi mengeluarkan benda asing yang masuk. Apabila bendanya tumpul, ia akan keluar sendiri. Tapi, apabila tajam, akan menimbulkan luka sehingga menyebabkan infeksi pada usus.

Tusukan tersebut melukai usus. "Itulah mengapa ketika buang air besar terjadi perdarahan," kata Profesor Daldiyono. Namun akan terjadi kontraksi lagi untuk mengeluarkannya, baik melalui kotoran maupun keluar ke rongga perut.

Menurut Dokter Ari Fachrial Syam, Gastroenterolog FK-UI, mengeluarkan jarum yang masih berada di saluran cerna atas akan lebih mudah bila memakai peralatan endoskopi. "Dengan alat penjepit, kepala jarum diambil dan dikeluarkan melalui endoskopi," katanya.

Jarum yang berada di usus biasanya keluar dengan sendiri melalui kotoran setelah lebih dari 24 jam. Akibatnya, usus mengalami luka karena gesekan jarum dengan dinding saluran pencernaan.

Senin, Oktober 08, 2007

Kejujuran manusia


Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu.
Saya pulang naik becak (karena mobil sedang di service di bengkel) setelah belanja keperluan perbaikan pintu rumah kami. Di sebuah Toko saya membeli 2 kaleng cat dan 1 kwas (seharga Rp. 20.000, -) yang terbungkus dalam kantong plastik (kresek) hitam.

Ketika tiba di rumah saya turun dari becak, tanpa saya sadari kantong plastik tadi tertinggal di becak. Untuk keperluan lain saya keluar rumah setelah menyimpan barang belanjaan yang lain.

Ketika saya pulang 1 jam kemudian pembantu kami melaporkan bahwa tadi ada tukang becak yang ingin menyerahkan kantong plastik berwarna hitam (belanjaan saya yang tertinggal di becak tadi). Pembantu saya menolak menerimanya (sesuai dengan pesan kami: jangan menerima sesuatu dari orang yang tidak dikenal sebelumnya) dan mengatakan agar ia datang kembali sore hari ketika saya ada di rumah.

Sore hari tukang becak tadi tidak datang dan saya menganggap belanjaan saya sudah hilang akibat kelalaian saya sendiri. 2 hari kemudian saya di dekat rumah saya bertemu dengan seorang tukang becak yang menyerahkan sebuah kantong plastik berwarna hitam sambil berkata, “Pak, ini barang Bapak yang tertinggal di becak saya.”

Rupanya ia masih mengenali saya. Saya menerima barang saya yang telah saya anggap hilang sambil berkata, ”Terima kasih, Pak. Bapak telah menyimpan barang saya dengan baik.”

Saya sangat menghargai kejujuran tukang becak tadi yang dalam keadaan serba kekurangan toh ia masih mau bersikap jujur.

Minggu, Oktober 07, 2007

Mengapa Dokter Hewan?


Suatu sore, 3 bulan sebelum Ujian akhir SMA pada tahun 1965, saya berbincang-bincang dengan ayah.

Ayah bertanya kepada saya “Sebentar lagi kamu Ujian SMA dan setelah lulus ujian kamu akan melanjutkan ke Falultas apa?”
Saya kaget juga ditanya begitu. Ujian saja belum mulai dan apakah saya lulus atau tidak, juga belum tahu.

Setelah berpikir sejenak lalu saya menjawab, ”Kalau saya lulus nanti, saya ingin menjadi menjadi Dokter Hewan, sekolahnya di IPB, Bogor”

Mendengar jawaban saya, wajah ayah sedikit tegang dan berkometar “Apa bagusnya jadi Dokter Hewan?”

Saya menjawab dengan pasti “Dokter Hewan lebih pandai dari pada Dokter Manusia. Saya ingin melanjutkan sekolah yang dapat membuat saya menjadi orang yang paling pandai.” Jawaban saya ini rupanya membuat ayah kecewa.

Ayah bertanya dengan wajah tegang “Apa buktinya kalau Dokter Hewan lebih pandai dari Dokter Manusia?”

Saya berargumentasi “Yah, kalau saya jadi Dokter Hewan, saya dapat mengobati Sapi yang sakit. Sapi tidak bisa bicara, tetapi saya dapat menyembuhkan penyakitnya. Kalau manusia, ketika ditanya oleh Dokter, apanya yang sakit, sudah berapa lama sudah minum obat apa. Ia akan menjawab: badan saya demam, sudah 3 hari dan saya sudah minum obat Aspirin tablet. Nah penyakitnya kan sudah dikasih tahu oleh pasiennya. Jadi Dokter akan mudah mengobati pasiennya. Kalau Sapi sakit kan tidak bisa kasih tahu sakit apa. Jadi Dokter Hewan lebih pandai dari pada Dokter Manusia, kata saya.

Ayah terpojok mendengar jawaban saya, tetapi ayah saya tetap ngotot agar saya menjadi Dokter Manusia.

Saya bertanya “Mengapa ayah ingin agar saya menjadi Dokter Manusia sih”

Ayah menjawab dengan nada lebih lembut “Ayah ingin agar ada anak ayah yang menjadi Dokter Manusia, sebab diantara keluarga besar kita belum ada yang menjadi Dokter.”

Saya bertanya lagi seperti anak yang bego “Apa rasanya sih kalau saya menjadi Dokter Manusia?’

“Kita akan bangga dan kalau ada keluarga yang sakit, kamu dapat mengobatinya tanpa harus membayar lagi. Kamu dapat menolong orang lain.”

Saya terdiam beberapa saat.
Ayah bertanya kepada saya “Mengapa kamu diam. Kamu mau kan?”

Saya menjawab dengan suara kecil “Mau sih mau, tapi...”

Ayah terus mendesak “Tapi apa? Kok ada tapinya”

Saya berterus terang ”Ada 2 masalah yang harus saya hadapi”

“2 masalah apa, coba sebutkan saja.”

Saya berkata “Masalah yang kesatu adalah masalah uang. Kalau saya sebagai anak sulung dari 7 bersaudara, banyak menghabiskan uang ayah untuk sekolah Dokter, lalu apakah 6 adik-adik saya masih dapat sekolah atau tidak, sebab Sekolah Dokter membutuhkan biaya yang besar.”

Ayah segera berkata “Masalah uang biar ayah yang tanggung dan tugas kamu adalah sekolah sampai lulus jadi Dokter. Masalah yang kedua apa?”

Saya menjawab dengan nada yang lebih kecil lagi “Selanjutnya apakah saya mampu menjadi Dokter, sebab sekolahnya sulit.”

Dengan mantap ayah menenangkan perasaan saya dengan berkata “Asal kamu rajin belajar pasti kamu dapat lulus Sekolah Dokter.”

Ayah menyebutkan 8 nama Dokter Umum yang praktek di kota Cirebon. Saat itu memang hanya ada 8 orang Dokter yang praktek di kota kami. Saat ini Oktober 2007, sudah ada sekitar 180 orang Dokter dan Dokter Spesialis, belum termasuk Dokter Gigi.

“Kalau mereka dapat menjadi Dokter, maka kamu juga bisa menjadi Dokter.”

Saya membatin ‘Aduh. Ayah kok ngotot banget sih, minta agar saya menjadi Dokter.” Apakah saya mampu? Saat itu saya tidak tahu, apakah saya mampu atau tidak memenuhi permintaan ayah. Rasanya saya mempunyai beban berat di pundak saya.

Tahun demi tahun saya sekolah Dokter dan akhirnya saya dilantik menjadi Dokter sesuai keinginan ayah. 6 adik-adik saya tidak seorangpun yang tidak sekolah. Tuhan Maha Pengasih. Ayah minta ada 1 anak yang menjadi Dokter, tetapi Tuhan memberikan ayah 2 orang Dokter masuk ke dalam keluarga besar kami. Mengapa? Karena saya menikah degan teman sekuliah dan tahun berikutnya ia lulus menjadi Dokter juga dan setelah menikah dalam keluarga kami ada 2 orang Dokter. Keinginan Ayah sudah terkabul.

Ayah sangat puas dan nampak bahagia dapat menyekolahkan saya menjadi Dokter Manusia dan bukan Dokter Hewan seperti keinginan saya.

Ketika bulan Desember 2005 kami menghadiri wisuda anak kami yang sulung mendjadi Dokter di UNSW, Sydney, berarti ada 3 Dokter dalam keluarga kami. Ayah tentu merasa senang sekali. Minta satu dapat tiga. Puji Tuhan.

Ayahku tidak mengetahui bahwa dalam keluarga kami sudah ada 3 Dokter, bukan hanya 1 Dokter. Ayah telah dipanggil oleh Tuhan pada 4 Mei 1992. Saya yakin disana ayah tersenyum, keinginanya mempunyai anak yang Dokter sudah terkabul.-

Rabu, Oktober 03, 2007

Mie Goreng atau Mie Rebus?


Kisah ini terjadi sebelum Ayah saya dipanggil Tuhan pada tanggal 4 bulan Mei tahun 1992.

Ayah saya menderita Hypertensi. Saat itu saya dan isteri sedang berada di rumah ayah. Malam itu sekitar pukul 20.00 ayah meminta agar Ibu meyuruh Pembantu untuk membeli Mie Goreng di penjual Mie Goreng yang bisa mangkal di dekat rumah Ayah. Rupanya saat itu Ayah ingin sekali makan Mie Goreng. Entah kenapa Ayah ingin makan Mie Goreng, padahal Ayah sudah malam malam pukul 18.00.

Pembantu Ibu kembali dengan tangan kosong, katanya penjual Mie Goreng malam itu tidak berjualan. Akhirnya Ibu membuat Mie Goreng di dapur yang sudah tidak ada kegiatan memasak pada malam itu. Dengan bahan seadanya Ibu membuat seporsi Mie Goreng pesanan Ayah. Di sebuah panci masih ada tersisa kuah Ayam untuk disantap besok pagi. Ibu menambahkan sedikit kuah Ayam ke dalam wajan Mie Goreng.

Ibu membawakan semangkuk Mie Rebus, karena Mie Goreng sudah berkuah kaldu Ayam.

Ibu berkata “ Pah ini, Mie Gorengnya. Makanlah mumpung masih hangat.”

Wajah Ayah yang semula berseri berharap akan menikmati Mie Goreng segera berubah menjadi tegang.

Ayah bertanya kepada Ibu “Ini Mie Goreng atau Mie Rebus sih. Pesanan Ayah kan MIe Goreng.”

Saya, isteri dan adik-adik saya yang hadir dalam Ruang keluarga merasa khawatir akan terjadi pertengkaran antara Ibu dan Ayah.

Ibu menjawab “Mie Gorengnya diberi sedikit kuah Ayam agar mudah ditelan. Mie Kuah juga enak.”

Ayah menjawab “Papah kan pesannya Mie Goreng. Kenapa diberi Mie Rebus?”

Ibu menjawab lagi “Pah, Mie Goreng kalau sudah masuk ke dalam perut dan minum segelas air maka jadilah Mie Kuah dalam perut.”

Ayah berkilah “Saya ingin Mie Goreng yang dapat dinikmati di ujung lidah. Saya tidak peduli setelah masuk kedalam perut, Mie itu akan tetap jadi Mie Goreng atau Mie Rebus. Saya hanya ingin menikmatiMie Goreng di ujung lidah, bukan dalam perut.” Tampak Ayah merasa kesal.

Ayah menolak makan Mie Rebus yang sudah dibuat Ibu dengan susah payah.

Ibu tampak kecewa dan sedih karena sudah membuat Ayah yang sedang sakit menjadi marah.

Ibu berkata kepada kami, anak-anak Ibu. “Kamu makanlah Mie Rebus ini, sayang kalau tidak dimakan. Besok Ibu akan membuat Mie Goreng beneran untuk Ayah kalian”.

Kami berbagi dan mencicipi Mie Rebus karya Ibu secara diam-diam di Ruang Makan. Agar Ibu tidak menjadi marah mendapat perlakuan dari Ayah, kami semua memuji kecakapan Ibu membuat Mie Rebus yang memang rasanya enak kalau disantap ketika Mie Rebus itu masih hangat.

Keesokan paginya adik wanita saya pergi ke pasar tradisionil untuk membeli bahan-bahan untuk membuat Mie Goreng pesanan ayah kami. Ia membantu Ibu di dapur untuk membuat Mie Goreng dan bukan Mie Rebus lagi. Kali ini mereka membuat dalam jumlah yang lebih banyak karena akan disantap oleh seluruh penghuni rumah kami.

Pagi itu kami seluruh keluarga besar kami makan pagi berupa Mie Goreng hasil karya Ibu kami. Mie Goreng dan Mie Rebus buatan Ibu sama-sama enaknya, tetapi Ayah lebih suka Mie Goreng yang katanya nikmat ketika digoyang di ujung lidah.

Saya tidak sampai hati bertanya kepada Ayah, apakah semalam Ayah bermimpi makan Mie Goreng atau Mie Rebus.

Saat ini tiga belas tahun Ayah sudah meninggalkan kami, tetapi kenangan manis dan kenangan pahit tetap melekat dalam pikiran kami. Meskipun saat ini saya sudah menjadi Dokter tetapi di mata Ayah dan Ibu, saya dan adik-adik saya tetap dipanggil dengan sebuatan anak ( anak-anak ). Emang benar sih. Namanya juga anak.-

Minggu, September 30, 2007

Sebuah harapan


Hari Jum’at pagi pukul 10.00 dua hari yang lalu, sebelum melaju ke Gedung Panti Wreda Kasih, mobil Gereja yang membawa saya mampir di Apotik P, langgangan Panti. Saya minta kepada supir untuk menyerahkan selembar resep untuk saya sendiri. Resep itu terdiri dari 2 macam obat batuk dan 1 macam kapsul suplemen. Obat yang diresepkan itu akan saya ambil setelah pelayanan kesehatan di Panti selesai, 2 jam kemudian.

Saya memberikan pelayanan bagi Opa dan Oma di Panti sejak beberapa tahun yang lalu. Pelayanan ini bersifat nonprofit. Dalam masa pensiun, saya ingin memanfaatkan waktu saya yang masih tersedia untuk melayani 12 orang Opa dan Oma yang tinggal di Panti. Usia mereka antara 60 – 88 tahun. Pendengaran dan penglihatan yang sudah banyak berkurang mengharuskan saya mesti sabar dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi mereka. Bicara harus keras dan berulang-ulang agar ucapan saya dapat didengar dengan baik oleh mereka.

Ketika kami tiba di Apotik P, saya menyerahkan sejumlah uang untuk menebus obat yang saya resepkan. Tidak berapa lama kemudian supir masuk kedalam mobil dan menyerahkan sebungkus obat dan catatan harga obat. Mobil melaju ke rumah saya. Dalam perjalanan saya melihat bahwa masih ada 1 macam obat yaitu kapsul suplemen yang tidak ada dalam kantong plastik. Wah…pasti ada kesalahan nih, pikir saya.

Saya minta agar supir kembali ke Apotik P. Saya tanyakan kepada petugas Apotik dan bertanya mengapa hanya 2 macam obat yang saya terima? Padahal seharusnya 3 macam. Petugas Apotik mengatakan 1 macam yang diresepkan tidak tersedia dan sudah menelepon Apotik lain tetapi katanya tidak ada. Saya berpikir dan berharap bahwa kapsul suplemen yang banyak dijual di toko obat dan tentu juga ada tersedia oleh Apotik P. Saya minta agar suplemen dapat diganti dengan merk lain yang sejenis. Petugas Apotik masuk kedalam untuk mencarinya.

Saya tidak sabar menunggu, hari sudah siang, saya ingin cepat kembali ke rumah untuk istirahat. 5 menit kemudian saya putuskan untuk masuk ke dalam mobil dan minta agar supir mengantar saya pulang ke rumah. Saya tidak berharap bahwa saya akan dapat menerima kapsul suplemen tsb di Apotik tadi. Saya akan mencarinya di Toko obat atau Apotik lain.

Setelah santap siang, ketika saya membalas beberapa email yang masuk ke Inbox saya, saya mendengar ada ketukan di pintu pagar halaman rumah kami. Beberapa menit kemudian pembantu kami, membawa sekantung plastik yang bersisi 10 kapsul suplemen yang saya serepkan beberapa jam sebelumnya di Apotik langganan Panti.

Surprise!! Saya sudah melupakannya kapsul itu. Saya tidak mengharapkan lagi mendapat suplemen tsb, tetapi akhirnya saya mendapatkannya.

Saya berpikir:

“Lebih baik tidak mengharapkan tetapi akhirnya mendapatkannya, dari pada mengharapkan sesuatu tetapi akhirnya saya tidak mendapatkannya.”
Seharusnya yang benar adalah:

“Berharaplah akan mendapatkan sesuatu, maka kita akan mendapatkannya.”

Ketuklah pintu, maka pintu akan dibukakan.
Kalau pintu tidak diketuk, mana mungkin pintu akan terbuka bukan?

Siang itu saya mendapat satu pencerahan lagi.

Seharusnya saya lebih sabar dan terus mengharap agar suplemen itu dapat saya terima. Ternyata petugas Apotik berusaha agar pesanan saya dapat dipenuhi dengan melakukan kontak dengan Apotik-apotik lain dan mengirimkannya kepada saya melalui seorang kurir Apotik. Saya salut kepada Petugas dan pemilik Apotik tsb.

Dari kisah diatas, saya mendapat suatu pembuktian bahwa bila kita memohon dengan sungguh-sungguh maka permintaan kita akan terpenuhi. Tuhan akan memberikan sesuatu kepada umatnya pada saatnya.



Selasa, September 25, 2007

Electronic Medical Record


Dalam tayangan “Empat mata”, Tukul A., di siaran TV, saya melihat peranan sebuah Laptop diatas meja yang sangat mendukung jalannya acara tsb. Tanpa Laptop itu rasanya Tukul tidak bisa bicara apalagi membuat para pemirsa tertawa terpingkal-pingkal. Kemudian saya berpikir, kalau Tukul saja sudah menggunakan sebuah laptop, masa sih para Dokter kalah dengan Tukul?

Berangkat dari itu, saya sajikan pengalaman saya dengan sebuah Laptop, Pentium III.

Ilustrasi kasus:

Seorang pria umur 40 tahun datang berobat kepada Dokter langganannya.
Pasien berkata “ Dokter wah Ashma saya kambuh lagi. Saya ingin berobat dan minta resep obat yang cocok yang tempo hari Dokter berikan kepada saya.”
Sang Dokter kebingungan karena sang asisten yang biasa mencari kartu Pasien tidak hadir karena rumahnya kebanjiran. Pasien lupa membawa katu Bantu ( Kartu kecil ) yang dapat dipakai untuk melihat Nomer File pasien. Dokter harus mencari kartu Pasien di Rak yang demikian banyaknya. Banyak waktu dan tenaga yang terbuang hanya untuk mencari Kartu Pasien. Dokter tidak ingat lagi apa nama obat Ashma yang telah diberikan dan cocok bagi sang pasien ( Aminofilin, Bricasma, Efedrin atau kombinasi obat ashma ). Dokter menyesal mengapa ia tidak memelihara Catatan Rekam Medis pasien-paseinnya dengan baik.

---

Undang-Undang Republik Indonesia No. 29 tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran, mengatur praktik Dokter dan Dokter Gigi di negara kita.

Dokter dan Dokter Gigi yang ingin melakukan praktek Kedokteran dan Kedokteran Gigi, wajib mempunyai:
1. Surat Registrasi ( pasal 29, ayat 1 ).
2. Surat Ijin Praktek Dokter /Dokter Gigi ( pasal 36 )
3. Memasang Papan Nama Praktik kedokteran ( pasal 41 )
4. Membuat Rekam Medis ( ps 46 ayat 1 ), Rekam Medis dilengkapi setelah pasien selesai menerima pelayanan kesehatan ( ps 46, ayat 2 ) dan setiap Catatan Rekam Medis harus dibubuhi Nama, Waktu & Tanda tangan Petugas yang memberikan pelayanan atau tindakan ( ps 46 ayat 3 )

Ketentuan Pidana:
1. Dokter dan Dokter Gigi tanpa memliki Surat Tanda Registrasi dipidana dengan pidana paling lama 3 tahun atau denda paling banyak Rp. 100.000.000,- ( ps 75 ayat 1 ).
2. Tanpa memiliki Surat Ijin Praktek dipidana dengan penjara paling alam 3 tahun atau denda paling banyak Rp.100.000.000,- ( ps. 76 ).
3. Tidak memasang papan nama, tidak membuat Rekam Medis dipidana kurungan paling lama 1 tahun atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,- ( ps 79 ).

Dalam Penjelasan UU No. 29 Tahun 2004:

Pada Pasal 46, ayat 3:

Yang dimaksud dengan ‘petugas” adalah dokter atau dokter gigi atau tenaga kesehatan lain yang memberikanpelkayanan langsung kepada pasien. Apabila dalam pencatatatan rekam medis menggunakan teknologi informasi elektronik, kewajiban membubuhi tanda tangan dapat diganti dengan menggunakan nomor indentitas pribadi ( personal identification number ).

Kalau para Dokter praktek ingin aman dalam menjalankan Praktik Kedokteran maka UU ini harus diperhatikan dengan baik.

Selama ini masih banyak Dokter dan Dokter Gigi memakai Kartu Pasien di tempat praktek untuk membuat Rekam Medis ( Medrec / Medical Record ) yang diwajibkan dalam pasal 46 ayat 1. Mencari dan menyimpan kembali Kartu Pasien, umumnya dibantu oleh seorang asisten.

Keuntungan Kartu Pasien:
Dokter / Dokter Gigi dapat menuliskan riwayat, diagnosa penyakit dan perkembangan penyakit pada Kartu Pasien yang sudah disediakan oleh asisten ( tidak perlu mengambil sendiri Kartu Pasien ini ).

Kerugian Kartu Pasien:
1.Bila asisten cuti atau sakit, maka pencarian Kartu Pasien dilakukan oleh Dokter / Dokter Gigi sendiri.
2. Mencari dan menyimpan kembali Kartu pasien dalam urutan yang benar akan banyak memakan banyak waktu.
3. Pemberian Kartu Bantu ( Kartu kecil ) kepada pasien sering kali kurang bermanfaat, karena sering kali Kartu Bantu ini tidak dibawa ketika hendak berobat atau hilang. Akibatnya pencarian kartu Pasien makin sulit dan lama.
4. Penyimpanan Arsip Kartu Pasien membutuhkan lemari penyimpanan khusus dan ruangan yang cukup memadai.

Untuk memudahkan membuat Catatan Rekam Medis bagi setiap Dokter atau Dokter Gigi dalam menjalankan praktik kedokterannya ada cara lain yang lebih praktis yaitu membuat Catatan Rekam Medis Elektronik dengan bantuan sebuah hardware: Komputer atau Laptop. Sebagai perangkat lunak ( software ) saya menggunakan SIDP ( Sitem Informasi Dokter Praktek ) v.1.3, Operating system Windows XP, dengan harga sangat terjangkau ( by Albert Pratama Proyogo,
http://www.kunang,com )

Masih ada perangkat lunak sejenis yang lain, tetapi dengan harga yang lebih tinggi. Anda dapat memilih salah satu. SIDP v. 1.3 sangat membantu saya dalam memelihara Catatan Medis pasien saya. Bila saya mendapatkan kesulitan, maka sang programer akan membantu dari jarak jauh ( SMS atau email ) atau kalau sangat diperlukan dapat langsung bicara lewat handphone / telepon. Dengan demikian masalah saya dengan cepat teratasi. Sampai saat ini saya pernah berkonsultasi sebanyak 2 kali via SMS dan Handphone. Jawaban konsultasi yang saya dapatkan sangat menolong kesulitan saya.

Dengan cara elektronik ini Dokter / Dokter Gigi tidak tergantung oleh asisten, tetapi dapat dilakukan sendiri. Yang paling lama adalah memasukkan data pasien ( data entry ). Untuk mengatasi hal ini maka dapat dibuat suatu Buku Bantu yang berfungsi mencatat Nomer Identitas Pasien, Penyakit pasien, Hasil pemeriksaan penunjang ( Laboratorium, Foto Rontgen, USG dll ) dan terapi yang diberikan. Data entry ini dapat dilakukan oleh Dokter / Dokter gigi setelah pasien pulang atau keesokan harinya disaat dokter tidak sibuk.

Rekam Medis Elektronik ini sangat membantu untuk:
1. Membuat Data pasien baru.
2. Mencari Data pasien lama.
3. Menambah Data pada pasien lama.
4. Mengedit Data Pasien lama.
5. Mencari data pasien dalam hal: obat yang cocok atau obat yang tidak cocok bagi pasien.
6. Membuat Laporan ( pada layar monitor / print out dengan Printer ) jumlah kunjungan Harian / Bulanan dan Laporan Medis masing-masing pasien selama berobat ( beberapa kali kunjungan ) kepada Dokter / Dokter Gigi.
7. Pencarian data pasien yang cepat dan dapat dilakukan sendiri oleh Dokter / Dokter Gigi.

Biaya pembuatan Catatan Rekam Medis Eletronik bervariasi dari yang murah sampai yang mahal ( tergantung dari kelengkapan Catatan Elektronik yang digunakan ). Saya menggunakan yang sederhana dan biaya yang sangat terjangkau ( SIDP v. 1.3 ).

Kesimpulan:

1. Mau tidak mau para tenaga kesehatan harus melek Komputer.

2. Membuat Catatan Rekam Medis Elektronik tidak sesulit yang dibayangkan orang, karena Dokter / Dokter Gigi hanya melakukan tugas Operator komputer ( hardware ). Pembuatan perangkat lunak ( software ) dilakukan oleh seorang Programer komputer.

3. Komputer /Laptop yang dipakai tidak perlu yang canggih, cukup Pentium III, operating system Windows 98 atau Windows XP dan sebuah Printer ( kalau ingin membuat Print out data pasien ). Komputer dan Printer bekas-pun jadilah.

4. Tanpa Catatan Rekam Medis elektronik, maka makin lama makin banyak arsip/berkas Kartu Pasien yang menumpuk. Bila asisten Dokter sedang cuti atau sakit maka Dokter akan sulit mencari sendiri Kartu Pasien dengan misalnya Pasien: Ali Baba dengan nomer: 007/2007. Dengan Catatan Rekam Medis Ekektronik, Dokter dapat mencari File pasien Ali Baba dalam bilangan detik saja ( banyak menghemat waktu dan tenaga ) sambil duduk dibelakang meja prakteknya menghadapi layar Komputer atau Laptop sambil minum Teh manis atau secangkir Kopi.

Demikianlah sedikit corat-coret dari saya. Semoga dapat membantu para Teman sejawat. Amin.

Minggu, September 23, 2007

Harga waktu ayah


Kemarin saya mendapat pencerahan dari buku “Setengah Isi Setengah Kosong”, kisah-kisah Inpsiratif sarat hikmah untuk Bisnis dan Karier, Palindungan Marpaung, MQS Publishing, cetakan X tahun 2007.

Dari 63 Topik bahasan dalam buku itu, ada 1 topik yang sangat menarik bagi saya. Saya tuliskan intisarinya sbb:

---

Andre, seorang anak yang setiap sore selalu menanti kepulangan ayahnya dari kantor untuk sekadar mengajaknya bermain. Suatu sore, sepulang kerja sang ayah ditanya oleh Andre, “Ayah ayah kerja di kantor dibayar berapa sih sebulan?,
Sambil mengernyitkan dahi si ayah menjawab, “ Ya sekitar Rp. 2.500.000,-“

“Kalau sehari berapa, ya” sela Andre.

Ayah mulai bingung, “Seratus ribu rupiah, ada apa sih? Kok nanya gaji segala.”

Andre tetap bertanya lagi, “Kalau setengah hari berarti Rp. 50.000,-, dong?”

“Iya, memangnya kenapa?” sahut ayah mulai jengkel.

Si anak dengan mantap mengajukan permohonan, “Gini Yah! Tolong tambahin dong tabungan Andre, Rp. 5.000,- saja. Soalnya, Andre sudah punya tabungan sebesar Rp. 45.000,- Rencananya, Andre mau membeli ayah setengah hari saja, agar kita bisa pergi memancing ikan bersama.”

---

Nah…. para ayah sudahkah anda meluangkan waktunya untuk anak anda.

Selasa, September 18, 2007

Malaysia ( 2 )

Saya menerima reply email berikutrnya dari Prof Dr Mat Jizat .

Sebagai saluran pertolongan bagi para netter, yang berminat dan memenuhi persyaratannya silahkan menghubungi alamat dibawah ini:

=====================================

reply-to matjizat@instedt.edu.my
to basuki.pramana@gmail.com
date Sep 18, 2007 8:59 AM
subject re: Tawaran bekerja di Malaysia

Terima Kasih atas sudinya Dr memasukkan maklumat di terowong kerja dalam Blog Dr. Untuk makluman gaji pemohon yang berjaya akan dibayar antara $2,000 -$4,000 (Malaysia) sebulan. Jika ingin mengetahui lebih lanjut tentang Kolej, pemohon boleh layar di www.instedt.edu.my

Sekian. Terima Kasih
PM Dr Mat Jizat
matjizat@instedt.edu.my

====================================

Semoga ada yang berhasil bekerja di Malaysia.

Dr. Basuki Pramana