Rabu, Oktober 08, 2008

Sakit Maag


Suatu sore beberapa hari yang lalu datang seorang Ibu yang ingin berobat kepada saya. Ibu Umi ( bukan nama sebenarnya ), 30 tahun, mengeluh sakit di daerah ulu hati sejak 5 bulan yang lalu.

Ibu Umi diantar oleh kakaknya, Pak Amin ( bukan nama sebenarnya ), 35 tahun. Keluhan Ibu Umi yang sejak berbulan-bulan ini tidak kunjung sembuh. Dari tanya jawab antara saya dan Ibu Umi, ternyata ia sudah berobat kepada 4 orang Dokter Umum. Macam-macam obat Maag sudah diminumnya tetapi keluhannya tidak kunjung sembuh.

Hasil pemeriksaan yang saya lakukan, kontak pembicaaran : baik, berat badan 49 Kg, tekanan darah normal, Jantung dan Paru-paru dalam batas normal. Perut terdapat sedikit nyeri tekan. Anggota gerak tidak ada kelainan. Saya tidak menemukan kelaiann yang berarti pada tubuh Ibu Umi.

Pembungkus obat atau kemasan obat-obat yang sudah diminum Ibu Umi berkisar pada tablet anti spasme ( mules ), antacida ( penyerap asam lambung ), vitamin. Setelah minum obat2 tsb keluhan membaik, tetapi bila obat habis maka keluhan akan muncul kembali.

Secara Jasmni , Ibu Umi tidak terdapat kelainan yang berarti. Untuk mencari penyebabnya saya mencarinya dalam bidang Rohani.
Ibu Umi ini bekerja di sebuah toko, pekerjaannya tidak terlalu berat. Sang majikan cukup baik dan bahkan menganjurkan untuk berobat sampai sembuh. Ibu Umi mempunyai seorang anak laki-laki usia 3 tahun. Saat ini ia tinggal dengan saudaranya. Suami Ibu Umi sejak 8 tahun, konon pergi ke Saudi Arabia untuk bekerja. Selama ini ia tidak pernah mengirim surat atau uang bagi isterinya di Indonesia. Ia juga tidak menceraikan isterinya. Ibu Umi tidak dapat kontak dengan suaminya. Nomer telepon genggampun ia tidak tahu. Beberapa bulan yang lalu pernah suaminya menelepon isterinya. Selain bicara basa basi, sang suami juga mengancam isterinya agar tidak kawin lagi.

Saudara-saudara pasien saya ini menganjurkan agar ia menikah lagi saja agar ada yang dapat melindungi dan membiayai hidup keluarganya. Ibu Umi takut akan ancaman suaminya tadi.

Saya membatin kok ada ya laki-laki yang begitu terhadap isterinya. Bertahun-tahun pergi jauh entah kemana ( katanya sih ke Saudi Arabia, tetapi seorangpun tidak ada yang tahu dimana ia sebenarnya berada ). Akhirnya Ibu Umi mengalami Stres yang berkepanjangan yang dapat menjadi dasar penyebab dari penyakit Maagnya.

Pada akhir tertemuan dengannya, saya akhirnya memberikan obat-obat klasik sakit Maag dan tablet anti depresi. Semoga penderitaan Ibu Umi menjadi berkurang. Terapi yang terbaik adalah menikah lagi dengan laki-laki yang jauh lebih baik dari suaminya yang mbalelo itu.-

Senin, September 15, 2008

Shok anafilaktik


Bagi Teman Sejawat Dokter atau Dokter Gigi tentu pernah mendengar istilah Shok anafilakstik, yaitu shok yang terjadi setelah minum atau disuntik sesuatu obat yang pasien alergi terhadapnya.

Kejadian ini sangat menakutkan. Bagaimana tidak kalau seorang pasien yang datang berobat dengan berjalan kaki, kemudian pulang diangkat oleh beberapa orang karena shok atau sudah meninggal dunia. Kejadian ini frekwensinya kecil, mungkin hanya nol sekian persen, tetapi kalau ini menimpa diri kita maka itu berarti 100 % bagi kita.

Sebagai Dokter yang kadang-kadang atau sering menyuntik pasien, harus menyiapkan diri untuk menghadap kejadian diatas. Sebuah artikel yang saya baca di Internet mengatakan bahwa bila seorang dokter di USA akan menyuntik pasiennya, maka di atas meja harus sudah tersedia Antidotum berupa larutan Adrenalin dalam Spuit injeksi yang siap disuntikkan kepada pasien bila terjadi Anafilaktik shok. Shok ini dapat terjadi dalam bilangan detik atau menit, kadang jarum suntik belum sempat dicabut pasien sudah shok. Kejadiannya begitu cepat. Jadi tindakan pertolongannya juga harus cepat. Kita berpacu melawan waktu. Terlambat sekian detik / menit pasien tidak tertolong lagi.

Saya sudah mengalami kejadian ini sebanyak 4 kali.
Tahun 1982 ketika saya bertugas di salah satu Puskesmas di Kabupaten Cirebon, seorang perawat yang membantu saya ketika memeriksa pasein dan menyuntik seorang pasien laki-laki, 25 tahun dengan Tetrasiklin ( yang banyak dalam logistik Puskesmas ). Pasien mengalami Shok anafilaktik. Muka pasien pucat, nadi nyaris tidak ada, tekanan darah tidak terukur. Setelah dilapori, saya segera mengambil ampul Adrenalin dan spuit injeksi yang baru dan segera menyuntik kan kepada pasien sebanyak 0,3 cc. Tiap menit tekanan darah dimonitoring, diukur berulang-ulang setiap menit. Setelah 3 menit pasien mulai sadar, tekanan darah sudah mencapai 90/60. Ada kemajuan. Efek suntikan Adrenalin dramatis sekali, begitu cepat efeknya merangsang Jantung berdenyut kembali. Segera dibuatkan air Teh manis. 5 menit kemudian tekanan darah sudah stabil mencapai 120/80. Pasien diberi minum air Teh manis dengan sedotan. Ketika ia sudah dapat menelan ( reflex menelan sudah berfungsi baik ) air The dengan baik, maka kami bernafas lega. “Terima kasih Tuhan.”

Saya selalu mengingat sebuah Pedoman Penatalaksanaan Shok anafilaktik dari Prof. Dr.Iwan Darmansjah, Fak. Kedokteran Univ. Indonesia yang sangat berguna dalam keadaan gawat darurat Shok anafilaktik. Tahun lalu ketika tempat praktek saya disurvei oleh Staf dari Bagian Perijinan Praktek DKK Cirebon, saya ditanya apakah sudah tersedia Pedoman Penalaksaan Shok anafilaktik? Saya jawab “Sudah. Saya gantungkan di tembok diatas bed pasien.” Sambil menunjuk sebuah Pigura yang berisi Pedoman tadi.

Di Kartu Pasien segera diberi catatan bahwa pasien alergi dengan Tetrasiklin. Jadi jangan sekali-kali lagi memberikan antibiotika itu kepadanya. Setelah keadaan pasien baik dan tidak pusing, saya minta bantuan seorang Staf agar mengantar pulang ke desa tetangga dengan naik becak atas tanggungan Puskesmas.

Kejadian Shok anafilaktik yang lain, juga terjadi ketika:
Saya di tempat praktek menyuntik larutan Hidrokortison untuk pasien Urtikaria ( biduren ) akibat makan / alergi Udang.
Perawat di Puskesmas menyuntik larutan Vitamin B kompleks kepada pasien.
Teman Sejawat Dokter Gigi di Puskesmas tempat kami bertugas di salah satu Puskesmas di Kota Cirebon, suntikan larutan lokal anestesi Procain 2 % menyebabkan pasien mengalami Shok anafilaktik, Wajah pasien pucat, tidak dapat membuka mulut ketika hendak dicabut giginya, nadi nol, tensi tidak terukur.

Beruntung kami dapat mengatasi semuanya dengan tindakan yang cepat dengan menyuntikkan larutan Adrenalin 0,3 cc secara intra muskular ( ke dalam otot bokong ) di sebelah tempat suntikan sebelumnya.

Semua obat yang disuntikkan dapat berpotensi menyebabakan Shok anafilaktik dengan frekwensi yang berbeda-beda setiap obat dan setiap pasien. Bila pasien mempunyai riwayat keluarga yang alergi sesuatu atau ada penyakit Ashma bronchiale maka kita harus lebih hati-hati lagi.

Seorang Teman sejawat pernah bercerita bahwa ia pernah satu kali menyuntik Obat KB yang dilakukan setiap 3 bulan, dan ibu akseptor KB ini mengalami Shok anafilaktik pada suntikan KB pertama kalinya. T.S. ini mengatasinya dengan menyuntikan Adrenalin 0,3 cc dan pasien tertolong. Sejak itu T.S. ini tidak menyuntik pasiennya kecuali suntikan KB yang mau tidak mau memang harus disuntikkan ke dalam otot bokongnya.

Sangat dianjurkan kita selalu menyediakan Adrenalin ampul dan injeksi spuit 2 cc di atas meja tempat alat-alat kerja, ketika kita memeriksa dan menyuntik pasien.-

Pemberian tidak ikhlas


Sehari menjelang hari H, syukuran Pernikahan putra kami pada bulan Juni 2008, datang seorang relasi kami, Pak A ke rumah kami. Pak A ini mengirimkan sebuah bingkisan berupa 1 Ember warna hitam yang berisi tiga perempat penuh Tape Ketan.

Tape ketan yang manis ini enak dimakan pada siang hari setelah makan siang. Dalam waktu beberapa hari habislah Tape itu. Ember plastik hitam kapasitas 5 liter itu saya simpan di bawah meja dapur.

Sebulan kemudian Pak A datang ke rumah kami dan bermaksud ingin mengambil kembali Ember, tempat bingkisan Tape ketan. Saya tidak menyangka kalau Pak A ini akan mengambil kembali Ember yang sudah diberikan kepada kami.

Saya bertanya “ Pak, untuk apa ember itu? kan sudah diberikan kepada kami”.

Pak A menjawab “ Maaf, Dok. Ember itu saya pinjam dari tetangga.”

Glek. Saya membatin “Saya kira parsel itu diberikan kepada kami lengkap dengan embernya, ternyata hanya isinya saja yang diberikan.” Di daerah kami kalau membeli Tape ketan lengkap dengan wadah yang berupa sebuah Ember warna hitam. Jadi kalau ingin memberikannya kepada orang lain sebagai oleh-oleh, praktis dengan wadahnya itu. Kalau wadahnya diminta kembali? Wah…saya dianggap sebagai orang yang Cumi, Cuma minjam aja. Ya udah lah mau apa lagi.

Saya berkata kepada Pak A “Ini Pak embernya. Makasih ya Tapenya.”

Pak A pamit kepada saya dan balik kanan pulang.

Hari itu pengalaman hidup saya bertambah satu lagi. Saya dianggap orang yang Cumi. Saya tidak menceritakan kejadian ini kepada isteri saya, khawatir kalau saya dianggap benar-benar orang yang cumi, padahal kalau mau saya masih mampu membeli 10 buah Ember hitam itu di pasar tradisionil.-

Sabtu, September 13, 2008

Pasfoto pasien


Hobi Fotografi ayahku menurun kepadaku. Sejak duduk di SMA tahun 1964 aku gemar memotret dengan kamera pinjaman ayahku.

Membuat dan memelihara Catatan medis ( medical record ) pasien yang berjumlah ribuan dalam waktu puluhan tahun dirasa merupakan pekerjaan yang berat, apalagi kalau sang asisten tidak datang. Kartu pasien harus diambil dan dikembalikan ke rak Medrec yang banyak mengambil waktu.

10 tahun yg lalu saya menggunakan Medrec dengan operating sytem DOS. Dalam kurun waktu 8 tahun akhirnya Medrec itu tidak dapat digunakan lagi oleh karena sering Hang ketika menyimpan data. Sang programer yang saya minta untuk memperbaikinya, tidak kunjung datang ke rumahku. Akhirnya aku googling di Internet untuk mencari atau membeli software Medrec yang baru.

Saya menemukan software Medrec SIDP ver 1.3 produksi seorang prgramer yang baik hati (
www.kunang.com ) yang berdomisii di Yogyakarta. SIDP ini akan bekerja dalam lingkungan OS Windows dan aku mengunakan OS Windows XP SP2. Perkembangan software cukup pesat dan versi berubah menjadi SIDP v2.1. Versi baru ini menuntut Hardware yang lebih baik sehingga aku membeli sebuah Laptop Acer Pentium 4 yang berfasilitas Bluetooth.

Dalam versi ini ada fasilitas untuk menampung Foto-foto ( Rontgen atau wajah pasien atau kelainan anggota tubuh pasien ). Mau tidak mau maka saya juga harus mempunyai sebuah Camera yang selama ini saya pergunakan. Wajah pasien yang diambil dengan Digital camera Nikon Coolpix 7900 ( 7 megapixel ) dan kabel data USB memungkinkan foto digital pasien dapat berpindah dari Camera ke Laptop.

Dari pada cabut pasang kabel USB di laptop dan Nikon 7900, maka saya menggunakan sebuah Handphone yang mempunyai fasilitas Camera 1,3 megapixel dan Bluetooth untuk menggantikan tugas Nikon 7900. Pasfoto yang diset 240 x 340 cukuplah untuk membuat sebuah wajah pasfoto pasien. BT sangat membantu pekerjaanku. BT di laptop dan HP diaktipkan maka dalam 2 detik digital file dari HP akan pindah ke laptop.

Saat ini Medrec pasienku dilengkapi dengan sebuah pasfoto yang dapat ditampilkan ketika aku membuka Medrec seorang pasien. Jadi pasien bernama: Siti Fatimah, Siti Muhidin, Siti Rositi dll Siti akan menampilkan wajah yang berbeda. Aku tidak bingung lagi kalau membaca Medrec pasien yang bernama Siti Muhidin itu yang mana ya, sebab sekarang akan ditampilan wajahnya.

Kalau ada pasien yang mempunyai penyakit TBC paru, maka Foto Rontgen pasien tsb dapat aku foto dengan HP dan akan berpindah file digitalnya di dalam Medrec pasien tsb. Jadi ada 2 Foto yaitu Foto wajahnya dan Foto Rontgennya.

Dengan menggunakan Medrec SIDP ver 2.1 ini aku dapat mempunyai data pasien lebih baik dari pada versi sebelumnya.

Bulan demi bulan aku rajin mengambil Pasfoto pasien sebelum pasien diperiksa, tentu saja dengan persetujuan sang pasien. Asik juga.

Reaksi pasien ketika mendengar bahwa aku akan mengambil pasfotonya ada bermacam-macam. Ada yang gembira, ada yang merengut dan ada yang tidak mau difoto. Setelah saya jelaskan bahwa Foto itu hanya akan ad di Laptopku bukan akan disebarluaskan, maka pasien akhirnya setuju. Bagi yang tidak setuju umumnya kaum wanita alasannya rambutnya kusutlah , wahjahnya belum di make up -ah dll. Orang sakit mana sempat bersolek bukan dan mereka tidak menyangka wajahnya akan difoto. Tentu saja antara dokter dan pasien ada rahasia jabatan yang mesti dipergang teguh oleh pasiennya. Data pasien tidak boleh diketahui oleh pihak ketiga meskipun itu adalah suami / isteri pasien sendiri, tanpa persetujuan dari sang pasien. Foto yang tampak di LCD HP selalu saya perlihatkan kepada pasien bahwa benar saya membuat Foto sesungguhnya dan bukan Foto bohongan.

Bila pasien mempunyai kelainan Kulit, misalnya Herpes simplex atau Herpes zoster atau penyakit kulit lainnya maka perkembangan penyakitnya dapat di bandingkan antara Foto pada kunjungan pertama dan Foto pada ketika pasien kontrol seminggu kemudian.

Penggunaan Laptop di Ruang Praktek Dokter saat ini sudah merupakan hal yang biasa. Aku sering berpikir kalau si Unyil di siaran TV dan Tukul Arwana di TV juga sudah lama menggunakan sebuah Laptop, lalu mengapa seorang Dokter masih belum menggunakan Laptop untuk merekam Medical Records pasien-pasiennya? Mau tidak mau sang Dsokter juga harus tidak gaptek lagi. Anda setuju bukan?

Dokter diomelin pasien


13 September 2008.

Kemarin sore datang berobat seorang laki-laki usia 67 tahun. Pak Beni ( bukan nama sebenarnya ) semingu yang lalu mempunyai keluhan nyeri pada pinggang sebelah kanan dan pada permukaan kulit timbul bintil2 berisi cairan yang bergerombol ( herpes ) yang terasa nyeri sejak 3 hari yg lalu. Setelah dilakukan pemeriksaan, saya menegakkan Diagnosa penyakit Pak B sebagai Herpes zoster thoracalis posterior dextra. Herpes zoster pada pinggang sebelah belakang kanan. Tampak bahwa Pak B ini tergolong Goleklem ( golongan ekonomi lemah ).

Sambil menyerahkan resep untuk membeli obat ( berupa tablet, kapsul dan krim kulit ) golongan generik saya berkata bahwa setelah sembuh dari herpes ini, anda kemungkinan masih akan merasa nyeri yang bisa sampai 3 bulan yaitu sebagai: post herpetic neuralgia ( rasa nyeri setelah terserang herpes zoster ). Pak B bertanya apakah penyakitnya bisa sembuh? Saya jawab bisa kalau obatnya diminum sesuai aturan pakai. Minggu depan boleh datang untuk kontrol ulang penyakitnya.

Sekitar 10 hari kemudian Pak B ini datang kembali. Di dalam Ruang periksa Pak B ini ngomel –ngomel.
Dengan wajah yang masam Pak B berkata “Bagaimana ini dokter, kok obatnya tidak ada apa-apanya. Saya merasa masih sakit.”

Saya balik bertanya “ Pak B, apa yang dimaksud tidak ada apa-apanya?”

Pak B ngomel lagi “Saya sudah beli obat setengah resep, tapi saya merasa masih sakit. Bintil-bintilnya sih sudah baikan, tapi ini nih sakitnya tidak berkurang. Obat dokter tidak ada apa-apanya.”

Setelah melihat kulit pinggang Pak B itu hampir mulus dan tidak tampak bintil-bintik ( herpes ). Ada banyak perbaikan penyakitnya, meskipun secara subjektip pasien masih merasa nyeri post herpetic sesuai dengan apa yanag saya katakan minggu sebelumnya kepada sang pasien. Hanya pasien yang tidak memperhatikan perkataan saya itu.

Saya berkata kepada Pak B “ Pak, kalau beli obat setengah resep, maka penyakitnya juga setengah sembuh.” Padahal harga obat generik yang saya resepkan itu tidak akan melebihi dari Rp. 20.000,- Mungkin sekali karena uangnya tidak cukup Pak B membeli setengah dari juulah yang saya resepkan.

Dalam menghadapi pasien yang banyak ngomel, biasanya ada maunya yaitu minta digratiskan biaya berobat. Saya sudah paham betul trik seperti ini selama 28 tahun buka praktek umum.

Sambil menyerahkan resep obat generik lagi kepada Pak B, saya berkata “ Ini Pak, resp tambahan obatnya agar rasa nyerinya berkurang. Bapak tidak usah bayar lagi.”

Mendengar perkataan saya ini, wajah Pak B tampak cerah. Beda dengan wajah yang masam ketika ia masuk ruang periksa. Ada kesan beban dipundaknya hilang.

Sambil tersenyum saya persilahkan Pak B keluar dari ruang periksa.
Dengan wajah yang ramah Pak B mohon pamit kepada saya. Hari itu pengalaman saya bertambah satu lagi. Kalau sudah ngomel-ngomel begitu pasti ada maunya. Ya masih manusiawi juga. Saya tersenyum.

Jumat, September 12, 2008

Dokter dapat Pisang


12 September 2008.
Pagi ini saya diantar supir naik minibus Kijang tua milik Gereja. Setiap hari Jum’at pukul 10.00 – 12.00 saya melakukan pemeriksaan kesehatan warga Panti Wreda Kasih milik Gereja kami. Sejak bertahun–tahun saya melakukan pelayanan kesehatan yang bersifat nonprofit. Saya menyempatkan diri untuk datang ke Panti ini dan bertemu dengan warga Panti beserta Ibu Panti dan staf.

Di Panti ini saya mendapat pengalaman hidup dalam menghadapi pasien-pasien usia lanjut. Usia mereka berkisar antara 60 – 84 tahun. Gangguan kesehatan usila biasanya: darah tinggi, gangguan sendi, mata katarak, gangguan pendengaran, dll.

Setelah isterinya meninggal dunia akibat usia lanjut sekitar 3 bulan yang lalu di Panti ini juga, maka Pak Salam ( bukan nama sebenarnya ) tampak lebih segar. Pak S ini mempunyai hobi mengurus kebun. Disamping banguan Panti Wreda ini ada sebidang tanah kosong yang akn dibangun sebuah Gedung lain. Tanah kosong ini oleh Pak S ditanami bermacam-macam pohon seperti: singkong, jagung, pisang dll. Hasil panennya dikonsumsi oleh warga Panti juga.

Biasanya ketika saya datang ke Panti, Pak S ini masih sibuk di kebunnya. Pak S ini biasa diperiksa kesehatannya setelah pasien-pasien lain selesai diperiksa. Di usia 84 tahun kesehatan Pak S ini masih cukup baik, tidak memerlukan obat khusus, Biasanya saya memberikan resep multivitamin yang di ambil di sebuah Apotik langganan Panti ini.

Ketika saya selesai memeriksa kesehatan warga Panti, Pak S mengatakan bahwa ia telah memanen pohon Pisang di kebunnya. Satu tandan Pisang terlalu banyak untuk dikonsumsi oleh warga Panti yang berjumlah sekitar 12 orang. Pak S spesial memberi 2 sisir Pisang yang masih mengakal ( belum matang betul ) dan menitipkan kepada Supir.

Saya mengucapkan terima kasih kepada pada S. Pak S menimpali bahwa Pisang ini akan matang dalam 2 hari kemudian.

Harganya tidak seberapa tetapi saya sangat menghargai upaya Pak S ini yang sudah bersusah payah memelihara kebunnya dan sebagian hasil panennya diberikan kepada Dokternya. Tindakan Pak S merupakan penjabaran dari ucapan terima kasih kepada saya yang selama bertahun-tahun telah memeriksa Pak S dan isterinya semasa hidupnya. Saya terharu sekali.

Setiba di rumah, saya berkata kepada isteri saya bahwa saya mendapat 2 sisir Pisang dari Panti Wreda, hasil panen kebun yang dirawat oleh Pak S.

Besok lusa kami tidak usah membeli Pisang di pasar karena persediaan Pisang cukup banyak. Kami menyukai Pisang sebagai buah-buahan yang selain mengandung Karbo hidrat, serat nabati juga merupakan sumber mineral Kalium yang menjaga tonus otot-otot kita, agar otot tidak menjadi lemas.

Kamis, September 11, 2008

Jual Alkitab


11 September 2008.
Seminggu yang lalu kisah ini terjadi. Pagi itu ketika saya berada di halaman rumah, berhentilah sebuah becak yang megantarkan seorang laki-laki usia 65 tahun. Ternyata ia pasien saya yang bernama Pak Herman ( bukan nama sebenarnya ). Ia mengaku orang miskin tetapi kalau datang ke rumah saya selalu naik becak, mengapa tidak jalan kaki saja.

Saya bertanya “Ada apa Pak Herman? Mari masuk”.
Kami memasuki ruang tunggu dan duduk berhadapan.
Pak Herman berkata “ Dok, kemarin ada seorang pendeta yang datang ke rumah saya.”
Saya bertanya “Ada masalah apa Pak?”
“Tidak ada masalah apa-apa, pendeta itu hanya datang membesuk saya. Lalu ia memberikan sebuah buku. Dokter mau membayar berapa?”
Saya terkejut. Buku itu adalah sebuah Alkitab yang masih baru lengkap dengan kover berruisleting dan di dalamnya terdapat 2 buah Foto sebagai pembatas buku.
Saya berkata “ Pak Herman itu adalah Alkitab ( Bible ) yang berisi Firman Tuhan, mengapa mau dijual?”
Pak Herman menjawab dengan enteng “ Saya tidak membutuhkan buku ini. Saya butuh uang untuk keperluan saya.”

Saya berpikir mengapa ada orang yang dikunjungi oleh seorang pendeta yang sudah mau datang kepadanya dan memberikan sebuah Alkitab untuk dibaca, tetapi ia mau menjualnya? Bukankah manusia tidak hidup hanya dari Roti saja tetapi juga dari Firman Tuhan?

Setelah diam sejenak, saya berkata kepada Pak Herman “ Pak Herman Saya tidak mau membeli Alkitab itu, sebab saya sudah mempunyai 3 Alkitab. Lebih baik Alkitab ini disimpan saja, apalagi ini adalah pemberian seorang pendeta yang spesial datang ke rumah Pak Herman. Hargailah pemberian ini dengan menyimpan dan membacanya baik-baik.

Pak Herman menjawab “Saya butuh uang, jadi lebih baik buku ini saya jadikan uang saja.”

Semula saya akan membantu Pak Herman, tetapi hati saya tidak tega sebagai orang yang menampung penjualan Alkitab itu. Saya tidak sampai hati. Bukankah lebih baik kalau ia menjual bajunya saja yang sudah tidak dipakai.

Mendengar bahwa saya tidak mau membeli Alkitab itu, Pak Herman bertanya kembali “Dok, dimana ada Toko Buku yang mau membeli Buku ini?”

Saya menjawab “Saya tidak tahu. Mungkin Toko Buku tidak mau membeli Alkitab yang hanya sebuah saja. Silahkan coba datangi Toko A ( saya sebutkan sebuah toko buku di kota saya ), mungkin mau membelinya.”

Pak Herman pamit dari rumah saya dan ia pergi dengan naik becak yang sejak tadi menunggu di depan rumah saya.

Saya membatin “Ya Tuhan, kok ada ya orang yang mau menjual Alkitab yang baru sehari diterimanya dari seorang hamba Tuhan?”

Jumat, Juli 04, 2008

Pantai Jimbaran



“Don’t die, before see Bali Island.” Jangan mati, sebelum melihat Pulau Bali.
Begitu slogan orang Barat yang berbau promosi. Bahkan bagi sebagian orang Australia, Bali adalah tanah air nereka yang kedua. Bali dan Australia masing-masing mempunyai pantai yang indah, tetapi mengapa orang Australia saat liburan lebih suka pergi ke Bali yang dapat dijangkau selama 5 jam penerbangan pesawat?

Bali mempunyai daya tarik tersendiri. Tidak heran bila ada kesempatan, orang akan berusaha pergi melihat Pulau Bali, Pulau Kayangan. Wisman mancanegara menganggap pesiar di Bali lebih murah dari pada di negaranya sendiri. Shooping di Bali dirasa lebih murah bila memakai dolar ( USA / Australia ) untuk membeli produk dengan harga IDR ( Indonesian Rupiah ). Hal ini bertentangan dengan kemampuan wisman dalam negeri yang membeli produk disana dengan IDR mereka sebab kebanyakan produk telah dihargai dengan Dolar. Saya pernah melihat harga sepasang sandal jepit biasa US$8.0, di salah satu counter di Ngurah-Rai Airport, Denpasar pada tahun 2000. Kurs saat itu sekitar Rp. 7.000,- an. Dengan uang sebanyak itu berapa pasang sandal jepit kalau kita membelinya di Pasar Tanah Abang Jakarta? Bagi mereka US$8.0, no problem.

Sayang promosi yang gencar dilakukan oleh banyak pihak, tidak berdampak positip akibat ulah para teroris yang telah melakukan pemboman di Bali sampai dua kali. Hancurlah dunia pariwisata Bali, jumlah kunjungan yang merosot tajam, hotel-hotel menjadi sepi, bisnis para pedagang sekitar pantai menurun tajam, makin sulit penduduk lokal mencari nafkah. Pendapatan daerah asli pulau ini sebagian besar mengharapkan dari sektor pariwisata. Lebih parah lagi adanya travel warning oleh pemerintah USA dan Australia bagi warganegaranya untuk lebih berhati-hati bila ingin bepergian ke Bali.

Masih ada masyarakat baik dalam negeri maupun luar negeri yang tetap mengunjungi Bali, meskipun situasinya dianggap kurang aman. Mati atau hidup ada di tangan Tuhan, kalau kita berbuat baik, kenapa mesti takut. Begitu alasan mereka.
------
Aku mengikuti rombongan mantan siswa SMA Negeri angkatan tahun 1966 di kota kami. Sejak 3 bulan sebelum keberangkatan rombongan yang berjumlah 44 orang ini telah mengadakan persiapan yang matang. Rombongan ini terdiri dari dari Ibu dan Bapak yang berusia diatas 55 tahun.

Rombongan menggunakan sebuah Bus Pariwisata dari kota Bandung. Bus yang mewah ini berangkat dari depan Mesjid At Taqwa kota Cirebon pada pukul 05.00 WIB tanggal 21 September 2005. Direncanakan kami akan kembali di kota kami kembali pada tanggal 26 Desember 2005 sebelum bulan Ramadhan yang jatuh pada tanggal 5 Oktober 2005.

Bus melintasi Pantai Utara Pulau Jawa, Tegal, Pekalongan, Semarang, dan tiba di Surabaya sekitar pukul 01.30 dini hari akibat padatnya lalu lintas di Pantura, kami datang lebih lama dari perkiraan waktu tiba. Kami beristirahat di rumah Ibu Yati, isteri seorang mantan seorang Kapolres di daerah Surabaya.

Ketua rombonga kami, Pak Wihara mengadakan kontak melalui telepon genggam bahwa kami akan tiba di rumah Ibu Yati pada tengah malam, meskipun kami berjanji akan tiba sekitar pukul 19.00 untuk menghadiri resepsi pernikahan salah seorang putrinya.
“Selamat datang teman-temanku” Ibu Yati menyambut kedatangan kami.
“Sudah tiga puluh sembilan tahun kita tidak berjumpa sejak tahun 1966, tetapi teman-teman masih ingat kepadaku. Mari masuk, makan, minum sepuasnya dan beristirahatlah sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Denpasar” Ibu Yati menerima kami dengan ramahnya. Maklum teman lama. Kami saling melepas kangen dan mengambil beberapa foto bersama.

Satu jam kemudian kami pamit kepada keluarga Ibu Yati dan bus menuju Pasir Putih dan tiba pagi hari sekitar jam 07.30 WIB. Bus kami berjalan sepanjang hari dan sepanjang malam. Hanya berhenti bila mengisi Solar atau tiba di suatu tempat untuk makan atau buang air kecil yang biasanya salah satu pompa bensin. Dengan 2 orang Supir yang bertugas secara bergantian dan 3 orang awak bus Bus kami berjalan nonstop. Di salah satu Rumah Makan kami memanfaatkan fasilitas mandi dan toilet dengan bayaran Rp.2.000,-/orang.

“Wah segernya mandi disini” aku berkata kepada Marku temanku.
“Betul Bud, airnya segar dan kita sudah 1 hari tidak mandi.he..he..” Marku menjawab.
Setelah sarapan rombongan menuju arah Timur menuju kota Ketapang, Banyuwangi, tempat yang paling Timur dari Pulau Jawa. Bus kami menyebrang dari Ketapang dengan menggunakan kapal feri melintas Selat Bali menuju kota Gilimanuk.

Setiba di Gilimanuk, P. Bali, bus meluncur kearah utara P. Bali menuju Lovina Beach. Tengah hari kami tiba di pantai ini. Disini sebenarnya banyak ikan Lumba-lumba yang dapat kita lihat bila kita naik perahu motor ke tengah laut. Tidak seorangpun yang mau pergi ke tengah laut di tengah hari yang sangat panas.

Kami melanjutkan perjalanan ke Bali Tengah, mengunjungi Danau Bedugul. Kami melanjutkan perjalanan ke Bali Selatan menuju Sanur. Kami bermalam dua malam di Hotel Abian Srama (*) untuk melepaskan lelah dan mandi sepuasnya.

Kesokan hari sebelum kami ramai-ramai berjalan kaki ke Pantai Sanur, setelah kami sarapan pagi di Hotel.
Marku temanku memesan secangkir kopi. Ketika ia akan membayar Kopinya ia terkejut karena disodori bon sebesar Rp. 10.000,- ( sekitar US$1.0 ).
“Kok mahal amat, harga Kopi di hotel ini. Di Pasar Sukowati ( pasar trdisionil diluar kota Denpasar), harganya hanya Rp.1.500,-”.
Aku menggodanya “Masih untung, kamu tidak ditagih US$4.0 harga normal secangkir Kopi di hotel ini. Mungkin itu sudah harga paket karena kita ini rombongan 44 orang yang nginap disini.”
Tampak kekesalan di wajah Marku, temanku.

Kami mengambil beberapa foto bersama di pantai Sanur ini. Keadaan berawan sehingga kami tidak dapat melihat Sunrise matahari terbit dan matahari tenggelam, Sunset di pantai Sanur yang indah ini. Sepanjang hari banyak para wisman dalam negeri dan luar negeri berjemur di pantai sanur ini.

Rombongan mengunjungi objek-objek pariwisata lain seperti Benoa Beach. Di pantai ini kami tiba tengah hari. Ada 2 rombongan masing-masing 10 orang yang menyewa perahu motor dengan bayaran Rp. 10.000,- per orang untuk menuju ke suatu tempat penangkaran Penyu Bali. Di tengah perjalanan perahu berhenti sejenak untuk memberi kesempatan para wisman ini melihat dasar laut yang dangkal melalui alas perahu yang terbuat dari fiber glass yang transparan sehingga kami dapat melihat rumput laut yang hijau bergoyang-goyang oleh arus air laut, ikan-ikan berwarna-warni.

Tiba di tempat penangkaran Penyu Bali, kami melihat banyak Tukik ( anak Penyu ) dan kami berfoto bersama. Ada beberapa Ibu yang ingin berfoto ketika mereka dalam posisi menduduki salah satu Penyu yang terbesar. Wah kocaknya, karena sang Penyu ogah diduduki manusia. Ia bergerak-gerak dan penumpangnya berjatuhan. Wah heboh….Geerrr. tertawa semua.

Udara panas dan disana ada penjual Kelapa muda. Kami minum masing-masing sebuah Kelapa muda yang dihargai Rp. 10.000,-/buah yang tidak dapat ditawar.
“Lima ribu aja ya.” Nur menawar
“Tidak bisa Bu, kami juga membeli dari tempat lain dengan harga yang mahal” Ibu penjual Kelapa itu menolak tawaran Nur.
Ketika air Kelapa habis tersedot, kami minta Kelapa dibelah dengan golok besar dan tajam. Kami menikmati daging buah Kelapa muda yang kenyal dan nikmat itu.

Kami kembali ke Pantai dan banyak para turis yang bermain ski air yang ditarik kapal motor dengan kecepatan tinggi. Ada juga yang naik Parasut yang di tarik kapal motor sehingga parasut yang membawa seorang penumpang itu naik dan terbang tinggi di udara.

Yang lain menaiki perahu karet, bertiga mereka ( dua penumpang dan satu instruktur pendamping ) yang ditarik oleh kapal motor dengan kecepatan sangat tinggi sehingga akhirnya perahu karet ini dapat naik ke udara, seperti ikan terbang, flying fish. Terdengar teriakan-terikan para penumpangnya yang kaget karena tiba-tiba perahu karet yang mereka tumpangi terbang diatas permukaan air laut Benoa beach.

Keesokan harinya kami pindah Hotel, kami menginap semalam di Hotel Ratna (*) di daerah Kuta. Setelah check-in kami ada acara bebas. Kesempatan ini aku dan beberapa teman berjalan kaki menuju Monoment Bom Bali I di daerah Legian, Kuta. Kami sempat mengambil foto-foto yang diambil secara bergantian. Kamera digital Nikon Coolpix7900-ku sangat bermanfaat untuk mengabadikan moment ini.

Kami merasa sedih dan mengutuk keras para teroris yang telah melakukan pemboman di daerah ini. Banyak korban yang meninggal dan luka-luka, Bali makin sepi dikunjungi wisman. Nama-nama para korban diabadikan di di dinding Monomen ini, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Di dekat Hotel Ratna, ada sebuah Toko “Jogger” yang menjual pakaian, T-Shirt, gantungan kunci dan lain-lain produk. Mutu yang lebih bagus dari pada toko-toko lain, Jogger memasang tarif harga yang lebih mahal. Banyak kalimat-kalimat yang menggelitik yang melekat pada T-Shirt, gantungan kunci dll.

Yang unik adalah jam buka toko yang semaunya saja. Toko seharusnya dibuka pada pukul 10.00, calon pembeli sudah berkumpul banyak di depan pintu masuk. Eh….para petugas toko malah membiarkan mereka menunggu lama dan pada pukul 12.00 tengah hari barulah toko dibuka dan para calon pembeli saling berebut masuk. Mungkin mereka senang melihat para pengunjung berdesak-desakan berebut masuk ke toko mereka.

“Sialan bener nih toko. Kami disuruh menunggu berjam-jam untuk masuk” kata seorang Bapak sambil menuntun putra dan putrinya masuk ke toko Jogger.
“Siapa suruh mau datang ke toko ini”, seorang gadis di belakangnya berbisik kepada temannya. Mereka ketawa cekikian, mentertawai orang lain, padahal mereka sendiri pun sudah antri berjam-jam untuk sekedar membeli T-Shirt atau Jean yang ketat, kesukaan anak-anak muda.

Juga ada ketentuan membeli produk mereka yang di beri label Jogger: setiap pembeli hanya diperbolehkan membeli sebanyak 6 buah untuk T-Shirt, 3 buah untuk produk lain, dll dengan tujuan agar pengunjung yang lain pun dapat membelinya. Jadi tidak diperkenankan memborong semua barang. Pembayaran dengan Kartu Kreditpun tidak ditolak. Ada Loket pembayaran yang khusus untuk pembayaran dengan Kartu Kredit ini.
Makin dipermainkan, makin banyak pengunjung Toko Jogger ini. Inilah uniknya.

Antri? Siapa takut! Aku yang masuk paling akhir hanya geleng-geleng kepala saja. Penasaran tidak kebagian T-shirt, aku membeli 2 buah untuk putriku, masing-masing seharga Rp. 59.900,-. Kalau di toko lain mungkin setengah harganya. Kalau di Pasar Sukowati tentu harganya paling murah, hanya sekitar Rp. 10.000,- sampai Rp. 15.000,- dengan keterampilan pandai menawar seperti kaum Ibu belanja. Disini pembeli boleh memborong barang yang diinginkan asal cukup uang untuk membayarnya.

Keunikan Pasar Sukowati adalah lokasinya yang dipinggir jalan keluar dari kota Denpasar menuju Negara dan Gilimanuk, tempat untuk menyebrang ke P. Jawa. Mau tidak mau setiap mobil / bus harus melewati pasar Sukowati. Pasar ini mirip pasar Tegalgubug, di daerah Arjawinangun, Kabupaten Cirebon yang konon pasar pakaian murah terbesar se Asean.

Kami mengunjungi GWK ( Garuda Wisnu Kencana ) di daerah Uluwatu. Tiba di tempat sekitar pukul 15.00 WITA ( WIB + 1jam ). Puluhan Bus pariwisata diparkir di pelataran parkir yang luas. Ketika kami tiba sudah banyak rombongan dari tempat lain antara lain dari suatu pabrik elektronik di Surabaya. Peserta rombongan puluhan Bus mereka disambut dengan Tari Barong dan lain-lain atraksi dan kamipun larut dengan iring-iringan mereka

Kami menuju suatu bukit dimana terletak GWK. Suatu patung Dewa Wisnu yang terbuat dari lempengan logam. Konon dibuat oleh para seniman di Bandung. Patung ini masih perlu disempurnakan, karena masih belum selesai dan masih menunggu sponsor. Di bukit lain tampak patung seekor Burung Garuda.

Disana dipamerkan suatu maket / contoh GWK dalam skala ukuran yang lebih kecil setinggi 1,5 meter. Meskipun belum selesai tetapi aku melihat tinggi patung Dewa Wisnu ini puluhan meter dari permukaan tanah. Dari bukit yang tinggi ini kami dapat melihat pemandangan yang indah disekitarnya. Pemilihan lokasi GWK ini rupanya sudah diteliti matang-matang oleh si pembuatnya.

Puas mengambil foto-foto, kami menuruni bukit untuk b.a.k, di toilet yang terjaga bersih, cukup air mengalir, berbau harum, free of charge alias gratis. Keluar dari toilet aku melihat banyak orang berkerumun di satu tempat. Ternyata itu adalah penjual Es Cendol kesukaanku.
“Berapa harganya segelas, pak?” aku bertanya.
“Opat ribu wae” jawab seorang pemuda sekitar 25 tahunan.
Kok pakai bahasa Sunda sih. Ternyata ia dan kawan-lawannya berasal dari kota Tasikmalaya.
Merasa bisa berbahasa Sunda, aku berkata “Nyuhunkeun deui esna sakedik.” ( minta esnya sedikit lagi ) kepada salah satu penjual.
Tanpa ragu sedikitpun ia memberikan es batu sebanyak yang aku mau, tanpa harga ekstra. Bila satu bahasa, maka semuanya bisa diatur. KKN nih!

Kami juga mengujungi Tanah Lot, dimana ada Pura yang lokasinya ditepi Pantai. Semua objek pariwisata banyak pengunjungnya. Banyak anak-anak muda seusia delapan - sepuluh tahunan mereka menjajakan Foto-foto Tanah Lot dan lain-lain dengan harga Rp. 15.000,- / untuk sepuluh foto ukuran Post card dan dengan mutu cetak yang bagus. Aku membelinya untuk kenang-kenangan. Kami tidak pernah melihat seorang pengemispun di Pulau Bali ini.

Nina, seorang guide tour lokal dari sebuah event organizer yang bekerja sama dengan pemilik Bus Pariwisata yang kami pergunakan, membawa kami ke sebuah rumah tempat menyewakan pakaian adat Bali dan berfoto secara perseorangan atau berkelompok. Rumah ini berada di suatu Gang di suatu jalan raya di kota Denpasar.

Aku difoto ketika berpakaian adat Bali dari seorang Raja ( kata petugas yang membantuku berpakaian ). Foto-foto yang dibuat sudah tiba di Hotel kami tempat bermalam pada sore harinya. Suatu service cetakan yang baik.

Sepanjang perjalanan di Pulau Bali, rombongan kami banyak menemui upacara Odalan ( ulang tahun desa / keluarga ). Upacara bakar mayat ( Ngaben ) kami tidak menjumpai, kerena diadakan pada waktu tertentu mengingat biayanya sangat mahal. Begitu kata pak Wayan Wisnu, guide tour kami yang berdomisili di kota Denpasar.

Kami juga mengunjungi suatu tempat bernama Celuk, di daerah Sukowati. Kota ini terkenal dengan perhiasan Emas dan Perak murni. Di Toko Bali Gold, kami melihat-lihat. Saya sempat membeli sepasang Cincin Perak untuk isteriku dan aku sendiri dengan huruf initial name masing-masing di cincin Perak itu.

Untuk hadiah ulang tahun putriku pada bulan Desember 2005 aku membeli sebuah Cincin mas 23 K yang bermata Mutiara sebesar butiran buah Jagung yang konon hasil produksi Mutiara di P. Lombok. Untuk putraku, aku sudah menyiapkan sebuah cincin bermata Batu Blue Safire yang aku beli dalam kunjungan kami setahun yang lalu ke P. Lombok. Semuanya itu kubayar dengan Kartu Kredit Visa. Cincin itu akan aku bawa dalam kunjungan kami ke Sydney, Australia, pada medio Desember 2005, ketika kami akan menghadiri Wisuda putra kami yang lulus sebagai Dokter di salah satu Universitas di kota Sydney.

Istana Presiden Tampak Siring juga kami kunjungi. Ketika kami tiba disana sekitar pukul 16.00 WITA. Kami tidak diperkenankan masuk ke dalam halaman dalam Istana, hanya diperbolehkan masuk sampai di halaman depan. Kami sempat berfoto bersama dua orang Petugas Keamanan Istana. Dari kejauhan kami melihat banyak Rusa yang sedang merumput di halaman di depan bangunan Istana.

Suatu malam hari menjelang kepulangan kami kembali ke P. Jawa, kami makan malam bersama di Jimbaran Beach ( Pantai Jimbaran ). Dinner ini merupakan paket Pariwisata yang kami dapatkan dari trip kami ke P. Bali. Kami memasuki halaman belakang dari suatu Rumah Makan. Halaman ini langsung berada di tepi pantai Jimbaran.

Ada banyak Rumah Makan sepanjang pantai ini. Ratusan bus dan mobil pribadi di parkir di halaman parkir. Jalan raya yang hanya dapat dilalui oleh 2 mobil kecil sehingga sukar bila 2 bus saling berpapasan. Salah satu Bus mesti mengalah memberi jalan bagi Bus lainnya.

Ketika kami datang sekitar pukul 18.15 WITA, suasana pantai belum begitu ramai. Setengah jam kemudian seluruh kursi di seluruh Rumah makan sudah terisi. Sepertinya kami harus pesan tempat, bila ingin Dinner di pantai Jimbaran.

Kami mengharapkan sekali agar malam terakhir ini kami dapat menikmati Sunset di panatai Jimbaran. Lagi-lagi kami kecewa, karena awan hitam mendung banyak menghalangi sinar matahari yang akan masuk keperaduannya.

Kami berfoto bersama ketika hidangan sudah berada di meja masing-masing. Satu meja untuk delapan orang. Nyala lilin-lilin menambah semaraknya suasana di pantai Jimbaran ini. Baru sekali itu aku menikmati Dinner di pantai Jimbaran. Sayang isteriku tidak berada disampingku, karena urusan kantornya tidak mengijinkan mengikuti Trip kami ini.

Hidangan yang kami nikmati malam itu berupa: sebakul Nasi putih hangat, Ikan-ikan bakar ukuran kecil, Kangkung Pelecing ( ca kangkung yang sedikit pedas yang konon sayur Kangkung ini di datangkan dari P. Lombok ), Tahu, Tempe goreng, Sambel Terasi dan segelas Es Sirop. Nikmat juga Dinner ini. Angin berhembus lembut di pantai Jimbaran. Gelak tertawa saling bersahutan. Terasa aman dan damai. Kami menikmati sekali moment itu.

“Kita belum tentu bisa Dinner bersama lagi dalam kondisi yang sama seperti malam ini, Wi” aku berkata kepada Wihara yang duduk di sampingku.
“Betul Bud, mungkin kita hanya sekali ini bisa makan bersama. Lain kali mungkin jumlah teman tidak selengkap malam ini” jawabnya.

Keesokan harinya kami setelah chec-out hotel Ratna menuju Pasar Sukowati. Semua teman Ibu dan Bapak turun dari Bus. Turun hujan cukup besar tidak menghalangi mereka masuk ke dalam Gedung Pasar yang besar ini. Banyak yang memborong pakaian atau sekedar gantungan kunci. Padahal di kota kami ada banyak barang yang dijual dengan mutu yang sama. Mereka rela bersusah payah untuk belanja, katanya untuk oleh-oleh bagi yang di rumah.

Marku, temanku yang pecandu Kopi, memesan segelas Kopi di salah satu warung dan menikmati Kopi dengan harga yang jauh lebih murah dari pada harga secangkir Kopi di Hotel berbintang satu. Wajahnya cerah, secerah sinar matahari yang muncul kemudian setelah hujan reda di Pasar Sukowati. Aku memesan Mie instan kuah hangat ditambah sebutir Telur Ayam yang dilahap nikmat pada saat udara dingin akibat turun hujan di daerah Sukowati ini.

Bus meluncur ke Gilimanuk untuk menyebrangi Selat Bali dan kembali ke P. Jawa setelah melewati Ketapang di ujung Timur P. Jawa. Kami berjalan melewati pantai Selatan P. Jawa. Kami menuju Jember, Lumajang dan Blitar.

Di kota Blitar mobil kami di parkir di suatu tempat khusus parkir Bus. Kami mandi di rumah-rumah penduduk yang menyewakan kamar mandinya bagi para pejiarah makam Bung Karno. Dengan Tarif Rp.2.000,- kami dapat mandi sepuasnya. Makan pagi sekitar pukul 10.00 WIB berupa nasi Pecel, Rempeyek Kacang dan segelar air Teh hangat seharga Rp. 3.000,- sungguh nikmat. Badan segar sehabis mandi, perut kenyang, harga cukup terjangkau, kami bersiap-siap naik becak menuju Museum Bung Karno dan Makam Bung Karno.

Aku naik becak berdua dengan Marku, becak lain diisi isteri Marku dan anak gadisnya. Dengan tarif Rp. 10.000,- pulang pergi ke tempat asal, pelataran parkir Bus, kami mengunjungi Museum Bung Karno.

Musium Bung Karno sebagai Proklamator negera kita terletak di dalam sebuah rumah yang besar. Bangunan yang kuno ini mempunyai halaman yang luas dan dihuni oleh kerabat dekat Bung Karno. Semua ruangan bangunan diisi dengan perabot rumah tangga, lukisan dll barang. Kami dimintakan berfoto instan Polaroid dimana saja dengan membayar Rp. 10.000,- dan kami diperbolehkan untuk melihat-lihat musium Bung Karno sepuasnya.

Di halamanan belakang samping bangunan, diparkir sebuah mobil Mercedes warna hitam keluaran puluhan tahun yang lalu. Tampaknya mobil ini sudah tidak pernah dipergunakan lagi. Mobil yang mempunyai makna bersejarah ini tampak anggun dan aku sempat berfoto di samping Mercy hitam ini.

Kami menuju Makam Bung Karno dengan naik becak yang dengan setia menunggu kami. Kompleks Makam yang sedang dipugar ini cukup bagus. Di halaman depan tampak berdiri beberapa bangunan bergaya modern dan ada kolam air mancur yang belum selesai.

Dibelakang bagunan ini tampak sebuah halaman yang luas. Ditengah halaman ini berdiri sebuah bangunan beratap gaya Jawa. Tampak ada 3 makam. Di tengah adalah Makam Bung Karno dan di sisi kiri dan kanan adalah Makam Ibunda dan Ayahanda Bung Karno. Makam ini terbuat dari bahan yang bagus, lantai makam berupa keramik yang licin mengkilap.

Setelah semua peserta berkumpul di dalam Bus, kami lenjutkan perjalanan pulang. Bus menuju kota Yogya kemudian kami tiba di kota kecil Wates pada pukul 18.30 WIB. Bus berhenti di Rumah Makan Ambarketawang, satu Rumah Makan yang besar. Kami sempat mandi dan Dinner makanan khas Jawa Tengah. Sistim pembayaran yang khas pula. Rp. 10.000,- makan prasmanan sepuasnya. Selesai Dinner, kami masuk ke Toko yang menjual bermacam-macam Snack di sebelah Rumah Makan ini. Beban Bus kami bertambah berat karena hampir semua penumpang memborong makanan / Snack yang dijual disini.

Bus melanjutkan perjalanan ke kota Gombong, Puwokerto, Prupuk, Ketanggungan, Losari dan masuk kota Cirebon. Jalan raya di daerah Selatan Jawa tidak sebaik jalan raya berhotmix di Pantai Utara Jawa.

Kami tiba kembali di depan Mesjid At Taqwa Cirebon pada tanggal 26 September 2005 pukul 02.30 dini hari, tempat Start dan Finish Trip kami ke P. Bali. Seperti ketika Start, kami saat Finish bersama-sama memanjatkan doa dan bersyukur bahwa kami dapat selamat diperjalanan dan tiba kembali di kota kami dengan selamat pula, baik para penumpang, krew Bus dan Busnya sendiri yang tidak pernah mogok, meskipun selama perjalanan lebih banyak mesinnya hidup dari pada berhenti.

5 hari setelah kami tiba di Cirebon, kami mendengar melalui siaran TV bahwa pada tanggal 1 Oktober 2005 malam hari, terjadi ledakan Bom di Pantai Jimbaran dan Pantai Kuta ( Raja’s Bar & Restaurant, Kafe Menage dan Kafe Nyoman ). 22 orang meninggal dunia dan puluhan orang luka-luka. Kami telah dilindungiNya dan terhindari dari bencana maut itu. Kami baru saja meninggalkan Pantai Jimbaran.

Puji syukur dan terima kasih kami panjatkan kepada Tuhan. Para peserta Trip ini saling berkirim SMS menyatakan puji syukur kepada Tuhan yang telah melindungi kami dari ledakan Bom Bali II dan mengutuk keras para pelakunya.

Kamis, Juni 26, 2008

Pak Mamad


Suatu sore terdengar dering bel Ruang periksa saya. Setelah pintu terbuka, aku melihat seorang Bapak yang sudah kukenal sebagai pasien lama dan sangat akrab denganku.
“Selamat sore, Dok,” katanya.
“O... Pak Mamad, jangan panggil Dokter, panggil saja namaku, Pak . Mari masuk.” Aku mempersilahkannya masuk Ruang Periksa.
“Ada keluhan apa Pak?” aku bertanya.
“Biasalah, pusingnya kumat lagi.”

Segera aku memeriksa pasienku ini. Tekanan darahnya 160/90 mmHg, denyut jantung lebih cepat dari normal, berat badan 80 Kg, lain-lain normal. Dibandingkan 10 tahun yang lalu, tekanan darahnya normal 120/80 mmHg, berat badan 60 kg, tidak teralu jelek untuk tinggi badan 167 Cm. Makin bertambah umur manusia cenderung akan mengalami kenaikan tekanan darah dan berat badan bila pola hidup dan pola makan tidak dijaga ketat. Sosial ekonomi Pak Mamad biasa-biasa saja. Mungkin ada faktor genetik sehingga badannya sekarang menjadi gemuk. Ia dan isterinya satu rumah dengan putra / anak sulungnya yang bekerja di sebuah toko telepon genggam. Dua orang putrinya lainnya sudah berkeluarga dan mengikuti suaminya yang tinggal satu kota.

“Tekanan darahnya sedikit tinggi, Pak. Apa ada masalah keluarga?” saya bertanya kepada Pak Mamad.
“Masalah sih tidak ada, tetapi semalam saya kurang tidur.”
“Mengapa susah tidur?” aku bertanya.
“Gigi geraham saya berlubang. Saya sudah berobat ke Puskesmas di dekat rumah tetapi sakit. Hari ini saya mau ke Puskesmas lagi. Mungkin perlu ditambal.”

Sebuah gigi yang ukurannya relatip kecil bila dibandingkan dengan organ tubuh lainnya dapat menyebabkan seseorang menderita. Bila tidak segera diobati, akan menyebabkan gangguan emosi seperti mudah tersinggung, susah tidur, marah-marah, tidak selera makan dsb.

“Pak Mamad, ini resepnya.” Saya memberikan resep untuknya berupa anti pusing dan sedikit penenang generik .
“Belilah di apotik terdekat.” Sambil menyerahkan resep obat dan 2 lembaran uang dua puluh ribuan kepadanya.
“Wah terima kasih nih. Sudah diberi resep obat, bahkan diberi uang lagi. Semoga hari ini banyak pasiennya, Bud.” Kata Pak Mamad sambil tersenyum meninggalkan Ruang Periksaku.
“Amin.” Aku mengamininya.
“Hati-hati di jalan, ya Pak.” Kataku.

-----

Tahun 1954 memasuki kelas 1 SD Zending school ( SD Kristen, Jl. Kromong Cirebon ), saya masuk sekolah sore hari mulai pukul 13.00 – 17.00. Jarak rumah kami dengan sekolahku cukup jauh, sekitar 3 km. Ayahku bekerja sebagai petugas pembukuan di sebuah toko kelontong. Ibuku menerima jahitan pakaian wanita dan dibantu seorang tukang jahit. Orang tuaku praktis tidak dapat mengantar dan menjemputku pulang dari sekolah setiap hari. Tugas antar-jemput ini diserahkan kepada Pak Mamad. Sekarang istilahnya Tukang ojek sepeda. Aku dudak dibelakang sepeda ayahku yang dikayuh oleh Pak Mamad. Saat itu sepeda motor dan mobil masih sangat sedikit jumlahnya.

Pekerjaan Pak Mamad sebenarnya adalah Montir truk. Pamanku dan ayahku mempunyai 2 buah truk angkutan barang Cirebon – Jakarta. Umur truk yang sudah tua, jarak tempuh yang cukup jauh dan kondisi jalan Pantura yang seperti kubangan kerbau menyebabkan Truk itu hampir selalu harus diperbaiki setelah mengantar barang ke Jakarta dan kembali ke Cirebon. Truk tersebut disimpan di sebuah garasi dengan halaman yang cukup luas diseberang rumah kami ( sekarang telah menjadi T.K. Kristen, Jl. Merdeka ). Paman menyewa tanah itu dari seorang Bapak Haji, tetangga kami.

Suatu sore setelah jam pelajaran selesai, aku mencari-cari Pak Mamad yang biasanya sudah menunggu di halaman SD. Sampai semua murid SD pulang, Pak Mamad masih belum muncul juga. Hari makin gelap karena awan hitam menutupi sinar sang Surya. Aku ingin naik becak, tetapi aku takut dimarahi Ibuku dan takut diculik karena aku belum paham benar jalan-jalan di kotaku saat itu.

Di depan gedung SD aku menangis, takut, marah karena jemputan tak kunjung tiba. Tak seorangpun lagi berada di depan SD-ku. Rupanya Ibuku saat itu juga merasa ada yang aneh, mengapa sudah sore begini aku masih belum pulang dari sekolah dan belum berada di rumah.
“Pak Mamad, mengapa Budi belum dijemput? Sekarang sudah lewat waktu jemputan.” tegur Ibuku kepada pak Mamad.
“Pasang ban Truk ini masih belum selesai dan malam ini truk akan berangkat ke Jakarta, Bu.” Jawab Pak Mamad.
“Iya sekarang saya, akan jemput Budi di sekolah.”
Aku menggerutu selama waktu yang ditempuh sepeda Pak Mamad menuju SD-ku. Apa jadinya nanti bila aku benar-benar tidak dijemput?

“Sudah jangan menangis lagi, Bud. Saya lupa menjemput. Mari kita pulang.” bujuk Pak Mamad kepadaku.
Kejadian seperti itu terjadi beberapa kali, tetapi kali yang kedua dan seterusnya aku tidak menangis lagi. Aku sudah menghafalkan route jalan dari SD ke rumahku dan sebaliknya. Bila jemputan terlambat lagi aku akan pulang jalan kaki saja. Aku malu diledek tukang nangis oleh Pak Mamad. Saat itu ia tidak menyangka bahwa anak tukang nangis ini kelak menjadi seorang Dokter dan dimasa tuanya anak ini bisa mengobati penyakit tuanya.

-----

Waktu berjalan dengan cepat, aku lulus menjadi Dokter, menikah dan mempunyai 1 orang putra dan 1 orang putri. Sejak April 2000 aku sudah pensiun dari Departemen Kesehatan R.I. Umurku sudah 61 tahun, putra kami sudah lulus juga sebagai Dokter Umum dan sujah bekerja selama 3 tahun di salah satu Rumah Sakit di kota Sydney. Adiknya juga sudah menyelesaikan study S1 dan S2 nya pada tahun 2007 dan sudah bekerja sejak 6 bulan yang lalu di salah satu pabrik pengolahan susu di kota Sydney. Aku merasa sudah S2 ( Sudah Sepuh ). Sudah waktunya alih generasi.

Bila bertemu dengan Pak Mamad, saya bersyukur bahwa ia masih diberi umur yang panjang, sepanjang umur Ibuku saat ini, 81 tahun. Mereka diberi umur yang panjang. Sayang ayahku sudah dipanggil Tuhan 16 tahun yang lalu akibat serangan Stroke. Ayahku tidak bisa lagi ngobrol dengan Pak Mamad montir pamanku. Hari-hari tertentu atau menjelang Hari Raya Idul Fitri, Pak Mamad mampir ke tempatku hanya untuk ngobrol-ngobrol atau berkonsultasi tentang kesehatannya. Tak lupa saya memberikan uang transport yang ia terima dengan senang hati. Lumayan katanya untuk beli beras, teh kesukaannya dan makanan burung Perkututnya.

Kring…….aku terkejut mendengar bel pintu Ruang Periksa ditekan oleh pasien berikutnya.-

Perokok berat


26 Juni 2008.

Beberapa bulan yang lalu saya kedatangan pasien, Pak A, 64 tahun. Ia diantar isterinya berobat kepada saya.

Pak A mengatakan bahwa ia ingin berobat dengan keluhan utama batuk-batuk sejak 1 minggu yang lalu. Isterinya Ibu A mengeluh bahwa selama suaminya sakit batuk-batuk, ia sukar tidur.
Saya bertanaya kepada Ibu A “ Mengapa Ibu sukar tidur, padahal yang sakit suami Ibu?”
Ibu A menjawab “Begini, Dok. Kalau suami saya batuk, terutama malam hari ketika kami tidur, maka ranjang kami ( tempat tidur yang terbuat dari besi, model lama ) bergoyang-goyang. Goyangan itu yang membuat saya terbangun dari tidur dan sukar tidur kembali.”
“Sudah berapa lama, Ibu sukar tidur?”
“Sejak 3 minggu yang lalu, Dok.”
Jadi saya tahu bahwa Pak A batuk-batuk bukan sejak 1 minggu yang lalu tetapi sejak minimal 3 minggu yang lalu.

Saya memeriksa fisik Pak A, mulai dari mengukur tekanan darah, memeriksa bunyi Jantung dan Paru-paru. Ternyata bunyi pernafasannya tidak normal. Terdengar bunyi yang khas untuk Bronchitis. Saya mencium bau nafasnya yang khas perokok.

Saya bertanya kepada Pak A “ Apakah Bapak merokok?”
“Benar, Dok.”
“Berapa banyak Bapak merokok?”
“Tiga, Dok”
“Tiga apa? Tiga batang atau tiga bungkus?”
“Tiga bungkus per hari”
“Wah, Bapak mesti berhenti merokok, kalau Bapak ingin sembuh dari batuk-batuk”
“Tidak bisa berhenti, Dok.”
“Kalau tidak mau berhenti merokok, percuma minum obat selama bapak merokok terus. Lebih baik berhenti merokok.”
‘Percuma, Dok.”
“Mengapa percuma?”
“Saya sudah terbiasa merokok”
“Kalau begitu lebih baik Bapak pulang saja, tidak usah saya beri obat lagi.”
“Lho, saya kan datang kesini mau berobat agar batuk-batuk saya sembuh”
“Percuma diberi obat sebakul juga, kalau Bapak tetap merokok, maka batuk-batuk Bapak tidak akan sembuh” kata saya sambil guyon.

Saya melanjutkan “Tadi Bapak berkata percuma berhenti merokok, kenapa?”
“Percuma, sebab merokok atau tidak merokok orang akan mati juga”

Glek..saya terkejut mendengar ucapan pasien saya itu.
Lalu saya menjawab “Iya betul, semua orang akhirnya akan mati juga, tetapi Bapak akan mati duluan” sambil guyon.
Tampak wajah Pak A menjadi sedih.

Setelah dipersilahkan duduk, saya berkata kepada Pak A dan Ibu A “ Kalau harga 1 bungkus rokok Rp. 6.000,-, maka 3 bungkus adalah Rp. 18.000,-. Dengan uang sebanyak Rp. 18.000,-, saya dapat membeli 1 Kg Beras, 1 Kg Telur Ayam dan 1 Liter Susu sapi setiap hari. Kalau semuanya saya berikan kepada Ibu, apakah Ibu mau?”
Ibu A langsung menjawab “Mau, Dok. Dari pada uang itu diberikan kepada suami saya dan dibakar setiap hari”
“Nah Pak, apakah Bapak mulai saat ini mau berhenti merokok?”
Pak A menjawab “Iya sudah Dok, saya mau berhenti merokok”
Ibu A berkomentar “Pak, jangan bilang mau berhenti merokok di depan Pak Dokter saja, nanti sepulang dari sini Bapak merokok lagi. Betul ya berhenti merokok, agar Bapak cepat sembuh dan saya dapat tidur lagi.”
Saya tersenyum dan ingat ada ranjang yang bergoyang-goyang ketika Pak A batuk-batuk dimalam hari.

Dari kisah singkat itu saya menjadi terharu, tidak mudah untuk memotivasi seseorang agar berhenti merokok. Sore itu minimal saya sudah berupaya untuk membujuk Pak A agar mau berhenti merokok demi kesehatannya dan demi isteri tercinta agar mereka dapat hidup lebih lama dalam kondisi sehat, sampai dipanggil Tuhan suatu saat kelak.-