Minggu, Maret 29, 2009

Dokter







Banyak pasien yang datang berobat ke tempat praktek umum saya, melihat beberapa pigura foto yang digantung pada dinding di belakang tempat duduk saya. Pigura itu terdiri dari: Surat Registrasi Dokter, Surat Ijin Praktek, Pasfoto saya, isteri dan 2 foto Wisuda putra dan putri kami. Banyaknya pigura itu membuat rame, ada banyak penampakan bagi pasien saya, setelah itu mereka berkomentar “Wah...Dokter sudah enak, anak-anak sudah lulus Perguruan Tinggi. Enak jadi Dokter.”

Penilaian mereka bahwa saat ini kami yang suami-isteri dokter, sudah punya rumah sndiri, mobil mininus, sudah pensiun dari PNS, putra/i sudah selesai study S1 & S2 dinilai sudah sukses.

Ucapan mereka ada benarnya. Kalau dilihat saat ini, ucapan mereka benar, tetapi mereka tidak tahu bagaimana saya harus melewati masa-masa sulit saya ketika baru buka prakter dokter umum.

Juni 1979 saya diwisuda sebagai Dokter Umum. Isteri saya 1 tahun kemudian.
Ketika saya dan banyak lulusan dokter dari Fak. Kedokteran seluruh Indonesia mendaftar di Departemen Kesehatan yang saat itu berlokasi di Jl. Prapatan, Jakarta (sekarang di Jl. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta ), saya kena damprat dari Dokter Br. yang bertugas menerima pendaftaran dokter yang baru lulus.

Di depan antrian saya ada 2 Teman Sejawat se Alma Mater saya yang sama-sama baru lulus .
Ketika Dr. Suherman ( bukan nama sebenarnya ) menjawab mau pilih Propinsi Kalimnatan Barat, Dokter Br. memberi komentar “ Bagus, ini putra Indonesia.” Tentu saja ia pilih Kalbar sebab ia berasal dari Pontianak, mosok pilih Propinsi lain untuk tempat bertugas.
Ketika Dr. Joni ( bukan nama sebenarnya ) menjawab mau pilih propinsi Irian Jaya, Dokter Br lagi-lagi berkomentar “Bagus, ini putra Indonesia.” Lha wong dia berasal dari Biak, tentu ia ingin pulang kampung, jadi dokter disana.
Kalau saya yang berasal dari Jabar, ya kembali ke Jabar lah, mosok pilih Kalbar. Ngapain?

Para lulusan dokter yang mendaftar dan mau pilih Propinsi diluar P. Jawa dianggap bagus ( putra Indonesia. Emang kalau pilih dalam Jawa bukan putra Indoinesia? ), artinya mau kerja tidak hanya di P. Jawa saja.

Ketika saya ditanya oleh Dr. Br “Mau pilih Propinsi mana?”
Jawaban saya “Mau pilih Jawa Barat, Dok.”
Tampaknya Dr. Br tidak suka dan wajahnya ditekuk, sambil mendamprat saya “Ah elu banci.” Lah… kalau semua dokter pilih luar Jawa, siapa yang kerja di dalam Jawa?

Dr.Br bertanya “Apa alasannya saudara pilih Jawa, heh?”
Saya jawab “Isteri saya masih kuliah di tingkat terakhir Fak. Kedokteran di Maranatha, Bandung. Ini Dok, surat dari Dekan kami,” sambil menyerahkan Surat tsb.

Melihat memenuhi persayaratan untuk dapat jatah Propinsi di P. Jawa, Dr. Br berkata “Kalau begitu, saudara, minggu depan datang lagi untuk proses selanjutnya.”
Para Dokter baru yang daftar minta kerja di P. Jawa dikumpulkan lagi pada minggu berikutnya. Saya bolak balik dari Bandung ke Jakarta beberapa kali, demi penempatan yang menyangkut nasib saya. Dep. Kes hanya menentukan tingkat Propinsi mana para lulusan dokter baru ini akan ditempatkan.

Setelah mendapat SK ( Surat Keputusan ) Mentri Kesehatan R.I. tentang penempatan saya selaku Dokter Inpres ( Instruksi Presiden, yang mengatur Dokter Puskesmas ) di Prop. Jabar, hari berikutnya saya mendatangi Kanwil ( Kantor Wilayah ) Dep. Kes. R.I. Prop. Jabar di Jl. Pasteur, Bandung.

Kepada petugas yang menerima para Dokter lulusan baru, saya berkonsultasi penempatan kerja saya berikutnya. Setelah melewati perbincangan yang agak rumit saya mendapat penempatan di Kabupaten Cirebon. 

Oleh Dr. A.A. ( almarhum ) Kepala Dokabu ( Dokter Kabupaten ) Cirebon, saya diterima dengan baik. Untuk penempatan kerja saya, ada 3 pilihan Kecamatan yang dapat saya pilih ( baik benar Bapak Dokabu ini ). Saya diantar Pak A.S. selaku Sekretaris Dokabu dengan Jip Dinas Dokabu untuk survey 3 wilayah Kecamatan di Kab. Cirebon. Kisah selanjutnya saya tulis dengan topik “Pengalaman bekerja di Puskesmas Cirebon Utara Kabupaten Cirebon” dalam Blog saya ini ( 05//11/05 ). Saya bekerja selama 3 tahun di Kab. Cirebon dan selanjutnya saya mutasi kerja ke Kotamadya ( sekarang Kota ) Cirebon.

6 bulan sebelum saya menerima SK penempatan di Prop Jabar saya bekerja honorer di Poliklinik Polri di Jl. Lodaya. Pasiennya cukup banyak sekitar 150 pasien per hari. Sebagai uang transport setiap bulan saya mendapat Rp. 20.000,- dan sekaleng Susu jatah ABRI. Tidak cukup sih, tapi lumayan, kerja dulu agar ilmu tidak lupa bila dipakai. Setiap tiba di Poliklinik dengan naik Vespa, kadang ditertawakan oleh pasien-pasien yang Polisi. Dokter kok naik Vespa. Apa boleh buat. Vespa dan Honda Bebek belum laku terjual sehingga mobil belum punya.

Bulan April 1980 saya mulai bekerja di Puskesmas Cirebon Utara ( yang saya pilih ).
Singkat kata: rumah Dinas yang dijanjikan tersedia, ternyata baru dibangun setahun kemudian. Saya harus menumpang di rumah Ortu saya di kota Cirebon. Jarak 4,5 Km saya tempuh setiap hari dengan naik Vespa pinjaman ayah saya. Puskesmas punya motor Dinas Suzuki yang sudah tua juga. Saya pilih lebih baik naik Vespa pinjaman ayah saya dan motor dinas dapat dipakai oleh Staf Juru Imunisasi bila bertugas ke desa-desa dalam wilayah kerja Puskesmas kami.

Kalau mobil Fiat 1958 kami tidak mogok, saya mengendari Fiat ini. Fiat jadul ( jaman dulu ) ini saya beli setelah saya jual Vespa 1973 dan isteri saja jual Honda Bebeknya, total dapat uang Rp. 900.000,-. Dengan uang segitu kami hanya dapat beli Sedan Fiat 1958. Meskipun sudah tua, kami masih mengenang dan bersyukur ketika kami pulang kampung dari kota Bandung menuju kota Cirebon. Putra kami yang baru berunur 10 hari ikut dalam perjalanan ini ditemani dengan Ibu mertua saya yang sengaja datang menemani cucunya untuk pindah ke Cirebon setelah bertahun-tahun kuliah dan hidup di Bandung. Kami bersyukur Fiat tidak mogok di jalan.

Gaji sebagai calon PNS dalam 2 tahun pertama hanya menerima 80% dari gaji penuh, tentu tidak cukup. Oleh karena itu saya buka praktek pagi di rumah dinas dan praktek sore di suatu desa dengan ngontrak setiap tahun.

Saya masih ingat kalau musim hujan, pakaian saya sering basah meskipun pakai jas hujan sambil naik Vespa pinjaman ayah saya itu. Kalau punya beberapa pasien ( kadang tidak ada pasien ) malam hari sepulang praktek saya beli lauk untuk makan malam bersama isteri saya. Kami harus berhemat setiap hari sepanjang tahun.

Setelah isteri saya lulus, kerja di PMI dan Puskesmas di kota Cirebon maka pendapatan keluarga kami lebih baik, masih dapat nabung untuk biaya sekolah putra/i kami.

Puluhan tahun kami berjuang dan menabung akhirnya kami dapat nicil beli rumah dan mobil sederhana ( minibus Mitsubishi 500 cc, 2 silinder ). Setelah melewati masa-masa perjuangan yang tidak semudah membalikkan telapak tangan, kami memasuki masa Pensiun dini tahun 2000 dan isteri tahun 2001.

Dalam masa Pensiun kami inilah moment yang nampak pada pasien-pasien saya diawal kisah ini. Kalau mereka melihat track record kehidupan saya, tentu ceritanya lain. Dalam bayangan banyak orang, profesi dokter selalu menjanjikan yang bagus-bagus. Kenyataan di lapangan bisa berbeda, kalaupun itu dapat diraih maka itu merupakan suatu perjuangan selama bertahun-tahun dengan kerja keras. Setelah wisuda praktis aliran dana dari Ortu terputus dan kami harus bekerja dan berjuang keras unrtuk memenuhi semua kebutuhan hidup: mensubsidi ortu kami, membesarkan dan menyekolahkan putra/i kami, berupaya agar tetap sehat dengan makanan yang bergizi, kebutuhan tak terduga dll. Saya bersyukur mempunyai isteri, teman sekuliah yang juga bekerja keras. Pendapatan kami berdua lebih baik dari pada kalau hanya suami yang bekerja. Ceritanya akan berbeda kalau kami punya sarang burung walet. Tidak usah bekerja keras, uang akan mengalir deras. Kami bersyukur kalau Tuhan memberkati kerja keras kami, meskipun kami tidak mempunyai Yan o ( sarang burung ).

Apa yang kita tanam, itulah yang kita panen seperti moto hidup saya di halaman pertama Blog saya ini. Semoga Tuhan terus memberkati kami. Amin.




4 komentar:

  1. sepertinya banyak orang yang masih berpendapat demikian ya Dok ?
    "betapa enaknya menjadi xxxxx, bisa begini, bisa begitu"
    Mereka toh tidak tahu apa yang ada dalam mencapai proses akhir saat ini...

    btw, Dokter masih aktif nge-BLoG.
    Salute !!!

    BalasHapus
  2. To Pande Baik: yang baik dan rajin berkunjung ke Blog saya.

    Betul. Banyak orang melihat moment opname saat ini. Lihat akhir ceritanya saja. Spt lihat Film dimana sang aktor Hero itu berhasil melakukan misinya dg baik. Penonton tdk tahu kalau dlm pembuatan Film tadi, sang aktor juga babak belur. Banyak yg minta digantikan oleh Stuntman utk adegan yang berbahaya.

    Kalau kalau dlm hidup sebenarnya, siapa yg akan jadi Stuntman bagi kita? Tidak ada! Kita sendiri yang babak belur.

    Dlm suatu proses ada: input, proses dan output.

    Orang hanya melihat outputnya saja dan beri penilaian.

    Saya sering melihat banyak orang dengan mudahnya menyalahkan orang lain tetapi tidak mau melihat kebaikan orang lain.

    Wah jadi kepanjangan nih ngetiknya....

    BalasHapus
  3. Orang jaman sekarang sudah kebiasaan dengan segala sesuatu yang instant dok. Jadi segala sesuatu hanya dilihat hasil akhir, dianggap instant juga. padahal yang indah itu prosesnya daripada hasil akhirnya...
    Salut untuk perjuangan dokter...

    salam...

    BalasHapus
  4. To Muliblog,
    Benar. Sekarang jaman instant. Ingin serba cepat. Kita bersyukur saat ini, para pasien sudah doctpr minded dan bahkan sudah suntik minded. Sekarang disuntik, besok pasien sudah dapat bekerja lagi. Tapi pasien tidak tahu bahwa kalau menyuntik itu ada resiko shock anaphylactic yang tidak di pahami oleh para pasien. O.k. itu kita harus bekerja secara profesional dan self confidence.

    Salam sukses untuk anda di Heidelberg, Jerman.

    BalasHapus