Kamis, Maret 19, 2009

Donor Darah


Ketika hari Minggu yang lalu isteri saya pergi untuk melakukan Mobile Unit bersama Staf dari UTD ( Unit Tranfusi darah ) PMI Kota Cirebon di suatu RW ( Warga Siaga ), saya teringat kadang kala stok Darah di PMI kosong untuk golongan Darah tertentu ( biasanya gol. AB ).

Oleh karena itu pelaksanaan M.U. ( Mobile Unit ) dilakukan setiap hari ( tidak peduli kalender merah ). PMI bekerja 24 jam secara bergiliran ( dalam 3 kelompok karyawan ). M.U. dilakukan untuk memenuhi persediaan darah One day before ( untuk 1 hari selanjutnya ) atau kalau memungkinkan Five day before. Paling sedikit stok darah pada bulan Puasa, dimana tidak banyak orang yang bersedia menjadi Donor.

Makin canggihnya tehnologi dan tingginya kesadaran masyarakat akan Donor Darah pada saat ini sudah lebih baik bila dibandingkan keadaan pada tahun 1970-an.

Menjelang Ujian Negara saya dan 49 mahasiswa/i tingkat terakhir ( Koasisten ) dari seluruh Fak. Kedoktrean se Indonesia, pada tahun 1976 bekerja ( magang ) selama 1 tahun di Rumah Sakit Umum Purwokerto ( Jateng ).

Ketika giliran saya bekerja di Bagian Penyakit Kebidanan dan Kandungan, ada seprang ibu dari sebuah desa dirawat karena Placenta previa ( Plasenta menghalangi jalan lahir ). Meskipun sudah bulannya untuk melahirkan, sang bayi tidak dapat lahir karena terhalang Plasenta ( yang tumbuh menghalangi bayi keluar dari Rahim Ibu ). Ibu ini dirujuk ke RSU.

Dokter Obgyn memutuskan untuk melakukan tindakan operasi Sectio Caesaria untuk melahirkan bayi. Persiapan operasi sudah beres, hanya satu yang belum yaitu 2 Labu Darah golongan B. Sang Suami mencari Darah di PMI setempat yang ternyata stok sedang kosong untuk golongan ini. Sang suami menjadi panik.

Rencana Operasi yang akan dilakukan pukul 08.00 pagi belum dapat dilakukan. Sampai pukul 10.00 Darah gol. B belum tersedia juga. Saya yang bekerja di Bagian ini berpikir kalau tidak segera dioperasi, kapan sang bayi akan lahir? Makin lama keadaan Ibu akan semakin lemah.

Saya minta kepada petugas yang biasa mengambil darah di RSU ini untuk menyadap darah saya yang kebetulan bergolongan yang sama dengan pasien yang akan dioperasi. Hanya ada 1 labu darah yang tersedia, tetapi dari pada tidak ada sama sekali maka operasi SC segera dilakukan juga.

Setelah darahku diambil, saya segera mempersiapkan diri untuk masuk O.K. ( Operasi Kamer ) untuk bertugas sebagai asisten Dokter Obgyn ( satu-satunya Obgyn di RSU ini ). Akhirnya Ibu dan Bayi lahir dengan selamat, berat badan 2,9 Kg, panjang badan 49 Cm.

Keesokan paginya ketika visite Ruangan, kami para Koasisten dan seorang Perawat Ruangan menghampiri Ibu tadi. Ibu dalam keadaan sehat.

Perawat berkata “Ibu, kemarin Ibu sudah dioperasi dan Bayi lahir dengan sehat. Untung ada orang yang menyumbang darah untuk Ibu.”

Sang pasien bertanya “Siapakah orang itu Suster?”

Perawat menunjuk saya. Saya jadi malu-malu kucing. Ah…..mengapa rahasia donor dibocorkan? 

“Oh …..dokter ini yang memberikan darah untuk saya. Terima kasih, ya Dok, saya tidak dapat membalas jasa Dokter.”

Saya berkata dengan nada pelan ”Ibu, kita harus saling tolong menolong. Ibu jangan risau, yang penting Ibu dan Bayinya sudah selamat.”

Ada rasa plong di hati saya, semua sudah selesai sesuai dengan rencana Operasi kemarin pagi di RSU ini.

Ketika akhir tugas saya siang itu, motor Vespa saya arahkan ke rumah makan kecil langganan saya, di sudut alun-alun kota Purwokerto. Siang itu saya menikmati Nasi Pecel dan Baso kuah yang rasanya sangat nikmat setelah saya dapat membantu pasien itu. Bagi sang penolong, mungkin bukan apa-apa, tetapi bagi yang ditolong itu merupakan suatu anugerah besar dari Tuhan. 

Kejadian ini yang kedua kalinya. Yang pertama kali terjadi ketika saya masih kuliah di kota Bandung, ada seorang pasien dari keluarga kami yang butuh darah gol. B sebanyak 3 labu. Satu labu darah berasal dari badan saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar