Sabtu, April 28, 2012

Alergi obat Sulfa



( foto ilustrasi )


Dua hari yang lalu datang berobat seorang anak laki, F, 4 tahun.
F diantar oleh Ibunya. Untuk mengobati demam putranya Ibu M membeli tablet SD ( sulfadiazine ) di sebuah warung. F minum ½ tablet SD yang dihancurkan sebelumnya.

Tidak berapa lama F mengeluh rasa gatal seluruh tubuhnya. Di kulitnya timbul bintil-bintil kemerahan. Kelaianan ini menetap sampai sore hari dan F dibawa kepada saya untuk berobat.

Pada pemeriksaan fisik F, tidak didapat kelainan yang serius selain adanya biduran ( urticaria, kaligata ). Demam tidak ada, tidak ada sesak nafas, Jantung dan Paru-paru dalam batas normal. Diagnosa kerja: alergi obat Sulfa.

Saya memberikan resep sirop anti alergi dan sirup yang mengandung Kalsium.
Saya berpesan kepada Ibunya agar F jangan minum obat yang mengandung obat Sulfa dan kalau berobat kepada dokter agar memberitahukan bahwa F menderita alergi Sulfa. Untuk praktisnya: janganlah memberikan obat sembarangan kepada putranya, sebab mungkin sekali bukan hanya obat Sulfa saja ia alergi tetapi dapat juga dengan obat golongan lain.

Sampai artikel ini ditulis, F tidak datang kembali. Semoga ia sudah sembuh dari gejala alergi yang dideritanya.

Jumat, April 06, 2012

Suntik KB musiman



Kemarin sore seorang Ibu memasuki Ruang Periksa saya. Ia ditemani oleh seorang anak wanita umur sekitar 6 tahun.

Saya bertanya “Siapa nama Ibu, berapa umur Ibu dan dimana alamat Ibu?” untuk dicatat dalam Catatan Medis Pasien.

Ia menjawab pertanyaan saya.
Tampaknya ia tidak sakit, lalu saya bertanya kembali “Ibu, apa yang bisa saya bantu?”

Ia menjawab “Saya ingin suntik KB, Dok”

“Ibu sudah pernah disuntik KB?”

Ia menganggukkan kepalanya.

“Boleh saya lihat Kartu Akseptor Ibu?”

“Tidak dibawa, Dok”.

Melihat wajahnya yang acuh tak acuh, saya tidak yakin kalau ia  punya Kartu Akseptor KB. Kalau benar ia seorang Akseptor KB, maka biasanya  Kartu itu dibawa dan diperlihatkan kepada petugas medis dimana saya ( dokter, bidan, Puskesmas, Klinik KB ). Suntik KB dapat dimana saja , tidak harus selalu pada petugas yang sama. Kalau kebetulan sedang berada di kota lain, akseptor dapat minta diruntik oleh petugas kesehatan setempat. Kalau tidak bawa Kartu Akseptor, petugas tidak yakin apakah benar ia adalah seorang akseptor KB atau bukan.

“Kapan, tanggal jatuh tempo Ibu harus suntik ulang?” Saya bertanya untuk mengetahui tanggal berapa ia harus disuntik ulang dan apakah tanggalnya sudah terlewati atau belum?

“Begini, Dok, suami saya bekerja ikut sebuah kapal yang berlayar. Ia pulang tiap  sekitar 6 bulan sekali.  Nah suami saya mau pulang dan kami tidak ingin punya anak lagi. Kami sudah punya 2 anak dan ini anak yang bungsu. Jadi sekarang saya ingin disuntik KB agar tidak hamil lagi.”

“Baik, saya menghargai Ibu dan Bapak yang sudah mengikuti program KB. Kalau Ibu ikut KB dengan cara suntik KB, maka Ibu harus disuntik secara teratur tiap 1 bulan atau 3 bulan sekali tergantung obat yang disuntikan ke badan Ibu. Kalau suami akan pulang Ibu baru disuntik KB, kalau suami tidak pulang Ibu tidak suntik KB. Ini cara yang tidak baik, Bu. Kalau Ibu tidak ingin hamil lagi, kalau mau berhubungan dengan Bapak, mintalah suami memakai Kondom agar aman. Kalau Ibu ingin lebih praktis maka pasanglah Spiral dalam rahim Ibu. Seumur hidup Ibu aman dan tidak pusing lagi kalau suami mau pulang ke rumah.”

Ibu A mengangguk-anggukan kepalanya. Semoga ia dapat mengerti apa yang saya jelaskan kepadanya.

Saya berkata lagi “Silahkan Ibu berpikir dahulu. Sementara ini Ibu bisa beli Kondom di Apotik atau Toko Obat terdekat,” sambil membuka pintu keluar Ruang Periksa.

---

Selama saya melayani pasien sejak tahun 1980, baru kali ini saya menjumpai pasien seperti Ibu A. Minta suntik KB musiman.

Selamat pagi.-