Jumat, April 30, 2010

Untuk berbuat baikpun tidak mudah






Pagi ini saya melayani pemeriksaan kesehatan para Opa dan Oma di Pantri Wreda Kasih.

Ibu EE, Ibu Panti melaporkan bahwa Oma L, 66 tahun minggu lalu pulang ke rumah salah seorang sanak familinya dan setelah nginap 2 malam ia datang kembali ke panti Wreda.

Sejak 2 minggu yang lalu Oma L, yang sudah kami bantu dalam operasi Katarak matanya berbicara kasar kepada beberapa warga Panti. Sifat aslinya jadi muncul dan terjadi keributan. Akhirnya Oma L minta pulang ke rumah familinya. Pengurus Panti sudah memberi nasihat dan akhirnya mengijinkan Oma L pulang bila memang sudah tidak betah dirawat di Panti. 2 tahun tinggal di Panti mendapat tempat tinggal, makanan dan pelayanan kesehatan yang sangat layak dari Pengurus Panti Wreda Kasih, semestinya Oma L sadar akan tsb dan mau beradaptasi untuk tinggal di panti dalam sisa hidup di dunia ini.

Jangankan bersyukur dan berterima kasih, ia bahkan berontak akan sopan santun dan peraturan yang ada di Panti dan ingin kembali pulang. Kami tidak keberatan akan keinginan nya tsb. Minggu depan akan ada 2 orang calon Warga Panti yang akan masuk dan tinggal disini.

Pagi ini sengaja Ibu EE, mamanggil Oma L sebagai pasien yang terakhir agar saya dapat berdialog dengannya dengan lebih leluasa.

“Oma L, bagaimana kabarnya pagi ini? Ada keluhan apa? “ saya bertanya kepada Oma l.

Oma L menjawab “ Sebenarnya sih saya tidak ada keluhan tinggal di Panti ini, tapi kalau ribut saja saya ingin pulang”

“ Lho yang bikin ribut sebenarnya siapa?” saya bertanya
“Tinggal di Panti sebenarnya lebih nyaman dari pada tinggal di rumah sanak famili. Mereka juga akan terbeban dengan tinggalnya Oma L di rumah mereka.Hiduplah dengn damai bersama Oma dan Opa lainnya disini.”

Oma L terdiam, mendengar saya berkata begitu, lalu ia berkata “ Iya sudah saya mau tinggal di Panti lagi. Benar yang Dokter katakan disini lebih enak, tidak mikirin untuk makan dan cari tempat berteduh. Kalau sakit ada yang beri obat. Saya tidak pusing lagi.”

“Jadi mau tinggal di Panti lagi? saya bertanya.

“Iya benar.” Oma L menjawab seperti acuh tidak acuh.

“Baiklah, selamat pagi, Oma l.” kata saya.

Oma L berlalu dari Ruang Periksa. Saya dan Ibu EE tersenyum melihat sikap Oma L.

Ya Tuhan, untuk berbuat baikpun, ternyata tidak mudah. Kadang kala ada batu sandungan di depan kita. Semoga kejadian ini lebih menebalkan iman kami kepadaNya.-

Kamis, April 29, 2010

Bertemu via Facebook






Oliver Vandewalle dari Belgia berusia 14 tahun saat dia menulis pesan yang dimasukkan ke dalam Botol Anggur. Dia menghanyutkan pesan itu saat kapal Pesiar ayahnya berlayar di laut antara Perancis dan Inggris.

Sekitar 33 tahun kemudian, Lorraine Yates menemukan pesan itu terdampar di Pantai Swanage di Dorset, Inggris.

Lorraine kemudian melacak Oliver lewat situs jejaring sosial dan bertemulah keduanya di facebook.

Pesan yang tidak disebutkan isinya itu sedikit rusak, tetapi isinya masih terbaca jelas.

( Harian PR, 29 April 2010 )

---

Luar biasa, 2 orang berlainan negara akhirnya dapat saling bertemu. Itulah sisi Positipnya Facebook. Oleh harena itu janganlah kita bertindak merugikan orang-orang lain, sehingga Facebook dapat mempunyai sisi Negatip.

Nonton film DVD di Handphone






Dari situs:

http://www.gadgetcom.com/vmedias-cellphone-optical-disk-system-is-probably-not-the-next-big-thing/

kita dapat mengetahui perkembangan Handphone lebih lanjut yang dapat dikombinasikan dengan 32 mmMiniDisc untuk menikmati film-film DVD, terutama film-film produksi Bollwood, India.

Silahkan simak beritanya dibawah ini:

Ponsel biasanya terhubung ke jaringan selular, kami berpikir masalah distribusi konten pada dasarnya akan menyelesaikan sendiri, tetapi sebuah perusahaan bernama: Vmedia Research di Mobile World Congress dengan jenis baru dari Disk optik yang dirancang hanya untuk ponsel.

Dengan menggunakan Laser biru, 1GB, 32mm MiniDisc-esque cartridge Vmedia, dapat terus film DVD-res penuh menggunakan kompresi H.264, serta fitur khusus terbatas.

Tehnisi Vmedia akan mengembangkan di sebuah handset GSM Spice mendatang, yang memiliki layar 2,8 inci dan pintu PSP UMD-seperti untuk memasukkan disk. Sistem ini akan beredar di India dan Asia Tenggara dengan 40 film Bollywood tersedia di peluncuran untuk masing-masing hanya $ 5, tapi Vmedia dan Spice mengatakan mereka punya 1.000 transaksi lebih banyak konten dalam karya-karya mereka.-

----

Kapan gadget itu akan memasuki pasaran Indonesia, kita tunggu saja kabar berikutnya.-

Pasien Lansia ( lagi )






Dalam menghadapi pasien yang Lanjut Usia ( Lansia ) dokter dituntut harus lebih sabar dan lebih dapat mengerti keluhan pasien. Dokter yang tidak mau mengerti sikap pasien-pasien ini akan dijauhi oleh mereka.

Mereka menganggap dokter akan mau mengerti setiap keluhan dan permintaan mereka dalam menghadapi penderitaan mereka di usia mereka. Para dokter terutama praktik umum akan menghadapi pasien-pasien dari segala usia. Terhadap Lansia ini harus lebih banyak waktu dan lebih banyak sabar. Ada seorang teman yang menjuluki mereka sebagai Neli ( nenek lincah ). Maaf ya para nenek.

---

Ibu S, 75 tahun bila datang berobat selalu diantar oleh seorang cucunya Nn. M, 30 tahun. Jaannya tertatih-tatih dibantu cucunya. Keduanya menjadi pasien saya sejak 1 tahun yang lalu. Minggu yang lalu datang kembali untuk berobat.

Keluhan Nenek S ini cukup banyak, mulai dari kalau jalan kakai kanannya terasa sedikit sakit ( akibat operasi patah tuang sepuluh tahunyg lalu ), seluruh tubuh terasa pegel-pegel ( cocok sebagai akibat keropos tulang / Osteoporosisi di usia lanjut ), malam hari sering susah tidur atau sering terbangun, penglihatannya tidak jelas ( karena lensa mata sudah keruh / katarak ), keluarganya kalau bicara dengan dia harus agak keras ( pendengarannya mulai menurun ), b.a.b setiap 3 hari sekali ( akibat gerakan peristaltik usus menurun akibat kurang bergerak dan kurang makan sayur dan buah-buahan ).

Nenek S berkata “Dokter, saya datang kesini mau berobat.”

Saya menjawab “Iya boleh. Sekarang apa keluhan Nenek?”

Ia berkata lagi “Wah, resep dokter yang terakhir saya berobat itu enak. Saya bisa tidur dan makan enak, tapi kok dapatnya hanya untk 5 hari saja. Setelah obat itu habis penyakit saya kumat lagi. Gimana dokter?”

Saya menjawab “Kalau penyakitnya kumat lagi, ya datang berobat lagi, Nek”

Ia menjawab “Wah, doter ini pinter ya. Pasiennya harus datang kembali kalau obatnya habis.”

Saya menjawab lagi sambil guyon ( agar ia merasa diperhatikan ) “Iya nek, kalau pasien tidak datang, dapur saya tidak ngebul.”

Nenek S tertawa terkekeh-kekeh “Iya yah, dokter dapat uang dari pasiennya. Kalau tidak ada pasien, dokter tidak makan ya. He..he…”

Diledek begitu, saya tersenyum saja sebab sudah mengerti perangai pasien yang satu ini. Cuek aja deh.

“Jadi sekarang nenek, mau minta apa? Mau suntik vitamin?” saya bertanya kepadanya.

Nenek S menjawab “Ah…engga mau disuntik lah, saya takut jarum suntik. Saya mau periksa tekanan darah dan mau minta resep obat seperti yang terakhr saya berobat. Itu obat cocok. Bisa enggak, Dok?”

Saya menjawab “Ya bisa lah. Masa dokter tidak bisa tulis resep obat yang cocok buat nenek.”

Jawaban saya rupanya membuat Nenek S ini senang. Ia tersenyum dan tampak giginya sudah banyak yang tanggal. Nyaris tinggal dua. Nenek sudah tua, giginya tinggal dua. Seperti syair sebuah lagu anak-anak.

Setelah diperiksa fisiknya, Nenek S menerima resep obat dan bertanya lagi “Dokter…ini obat untuk berapa hari ya?”

“Untuk 2 minggu, Nek.” saya menjawab.

Nenek S berkata “Nah gitu, agak banyakan ya, agar saya tidak sering-sering datang kesini.”

Saya menjawab “Iya…iya…nek. Kalau tidak ada keluhan nenek tidak usah kemari. Obat yang cocok dibeli lagi aja di Apotik.”

Nenek S berkata agak keras “Huh…resep dari dokter itu tidak bisa diulang lagi kalau tidak ada resep baru dari dokter.”

Saya berkata sekenanya “Kalau tidak boleh diulang ya, Nenek kemari lagi.”

Ia menjawab “Nah betul kan. Dokter ini pinter. Pasiennya disuruh datang lagi.”

Saya akhirnya cape deh menghadapi pasien ini dan menjawab “Begini Nek, kalau cucu Nenek tidak kasih uang kepada Nenek, engga usah bayar lagi deh.”

“Saya punya uang kok. Saya engga mau kalau digratiskan, tapi kalau sekali-kali dapat gratis, mau deh!”

Saya hanya he…he….. ”Hati-hati di jalan Nek.”

Nenek S dan cucunya Nn.M pulang naik becak yang menunggu sejak tadi.
Kalau anda menjadi saya, apa tanggapan anda?

Sabtu, April 24, 2010

Door price ( lagi )









Pagi ini saya membersihkan Minibus Panther kami. Sudah beberapa hari tidak dimandikan sehingga tampak debu dan lumpur jalanan melekat pada ban dan bagian bawah Minibus itu.

Pada musim hujan seperti saat ini sering kali pekerjaan memandikan mobil seperti tidak ada manfaatnya. Pagi bersih dan sore hari sudah kotor lagi. Kalau tidak dibersihkan, saya tidak tega melihat Minibus kami tampak kotor. Minibus tahun 1987 ini sudah 13 tahun hidup bersama kami. Sudah banyak jasanya mengantar kami pergi kemana-mana tujuan kami. Pukul 06.55 saya selesai membersihkannya dan terdengar dering telepon.

Isteri saya memberitahukan bahwa Ibu N memanggil saya untuk memeriksa Ibunya yang sakit Stroke. Ketika kemarin sore menelepon saya, saya berjanji akan datang ke rumah mereka yang jauhnya sekitar 4 Km dari rumah kami.

Selesai mandi saya tanpa sarapan dahulu meluncur ke rumah Ibu N. Selesai memeriksa ibundanya saya segera kembali ke rumah untuk sarapan dan bersiap untuk menghadiri suatu Seminar Kesehatan “Highlight on Rheuatic Disease” di Ballroom Hotel S di kota Cirebon.

Setiba di Hotel S saya dan isteri segera melakukan Registrasi dan mengisi daftar hadir. Ketika memasuki Ruang Seminar kami melihat ada 7 bungkusan Door price diatas sebuah meja besar di samping podium Seminar. Ada 2 bungkusan ( dus ) besar seperti kotak CPU komputer. Hati saya seperti mengatakan bahwa salah satu bungkusan itu akan menjadi milik saya kelak ( maunya sih begitu ). Sponsor tunggal Seminar ini adalah sebuah pabrik obat M.

Acara yang seharusnya dimulai pukul 09.30 ngaret juga dan baru dimulai pukul 10.10.
Setelah acara Pembukaan dan Sambutan oleh Ketua IDI Cabang Kota Cirebon, Dr. S. Sp.JP, maka sang Moderator, Dr. S, Sp.P.D. memimpin acara Seminar ini.

Pembicara pertama, Dr. Y, Sp.PD mempresentasikan “ Highlight on Rheumatic Diaseas”. Materi yang dibawakan tidak membosankan karena sering terjadi komunikasi antara pembicara dan peserta seminar, juga disertai humor.

Pembicara kedua Prof. Dr. A, Sp.FK mempresentasikan “Tinjauan Farmakologi untuk nyeri “. Materi yang sangat dikuasai oleh sang Prof juga enak diikuti oleh para peserta.

Selesai acara Diskusi yang diisi banyak pertanyaan peserta dan dijawab dengan sangat baik oleh para Pembicara, dilanjutkan dengan acara Doorprice. Tidak seperti biasanya Doorprice biasanya diundi dari daftar hadir para peserta. Kali ini 7 buah Doorprice akan diberikan kepada peserta yang dapat menjawab pertanyaan yang diajukan kedua Pembicara. Maksudnya untuk evaluasi apakah para peserta dapat menyerap ilmu yang telah disampaikan dengan baik atau tidak.

Pertanyaan pertama dan kedua dijawab dengan baik dan kedua Teman Sejawat yang akan mendapat Doorprice tampil di samping Podium.

Pertanyaan ketiga “Berapa dosis tablet Dolofenac?”
Peserta pertama menjawab “1 tablet per hari.”

“Salah”

Jawaban kedua dari peserta lain “ 2 kali 1 tablet per hari.”

“Salah”

Saya berpikir umumnya obat diminum 3 x 1 tablet/kapsul per hari.

Kalau kedua jawaban itu semua salah, maka perkiraan jawaban saya yang benar.
Saya segera mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan ini.

Ketika Panitia menunjuk saya, saya berkata “ 3 x 1 tablet per hari!”

Panitia menggoda saya “Ah, apa iya?”

Saya menegaskan “Betul, itu jawaban yang benar.”

Panitia melanjutkan ”Benar!”

Hore… saya berteriak. Wajah isteri saya yang duduk disamping saya, tampak sumringah, gembira. Saya segera tampil ke samping podium untuk menunggu pertanyaan-pertanyaan lain selesai dijawab oleh peserta-peserta lainnya.

Ketika bungkusan demi bungkusan 7 Doorprice di serahkan, saya mendapatkan salah satu dari bungkusan besar “milik” saya yang saya duga untuk saya ketika kami memasuki Ruang Seminar. Kok tepat ya, keinginan saya. Bila kita yakin bahwa sesuatu itu milik kita maka, sesuatu itu benar akan menjadi milik kita. Saya minta isteri saya untuk mengambil Foto saya ketik sedang memegang bungkusan besar tadi.

Acara Seminar dilanjutkan dengan Santap Siang bersama dengan menu prasmanan ala Hotel S, Cirebon. Siang ini kami mendapat: Ilmu, Sertifikat Seminar, Makan siang gratis dan Doorprice . Suatu berkat dari Tuhan yang patut kami syukuri. Amin.

Setiba di rumah kami membuka bungkusan Door price itu, apakah gerangan isinya?
Bungkusan itu tidak terlalu berat, tidak seberat CPU komputer. Ah jangan-jangan sebuah Kipan Angin, saya menebak. Akhirnya kami melihat sebuah Standing fan, Kipan Angin untuk berdiri di atas lantai merk GMC. Lumayan juga Doorprice siang ini untuk menyejukkan udara Ruang Keluarga kami.

“Lumayan juga ya Doorprice ini” kata siteri saya.
Saya menjawab sambil guyon “Benar harganya tidah mahal, tetapi lumayanlah untuk manas-manasin hati teman-teman kita. He…he…”

---

Anda bisa memberi tanpa mengasihi. Tetapi ANDA tidak mungkin mengasihi tanpa memberi.
( Mario Teguh )

Rabu, April 21, 2010

Konsultasi jarak jauh







Siang ini sekitar pukul 11.30 saya mendapat telepon dari salah seorang famili Tn. E. yang minta saran tentang kesehatan putrinya Nn. L, 21 tahun yang berada di kota Yogya. L sudah menyelesaikan studynya dan sedang mencari pekerjaan di kota tsb.

Via HP Nn. L melaporkan bahwa ia dan seorang temannya sedang berada di salah satu RS di Jogya karena ia sakit perut kanan bawah. Apakah memang harus masuk RS untuk operasi atau tidak. Mereka minta advis dari saya.

Saya bicara langsung via HP dengan Nn. L.
Dari hasil pembicaraan kami di dapat data bahwa L sering mengeluh sakit perut kanan bawah ( lokasi khas Usus Buntu ). Mungkin sekali menderita Appendicitis Chronica ( Radang Usus Buntu Menahun ) dan sekarang kambuh lagi ( akut )

Dalam benak saya saya membuat Diferensial Dignosa bagi pasien ini.
Nyeri perut kanan bawah paling sering disebabkan oleh:
1. Radang Usus Buntu ( Appendicitis Acuta )
2. Batu Saluran Kencing sebelah kanan atau Batu plus infeksi.

Untuk membuat Diagnosa yang benar, saya perlu data hasil pemeriksaan penunjang seperti: pemeriksaan Darah, Urine dan Foto perut.

Terhadap Nn. L sudah dilakukan pemeriksaan Rontgen: hasilnya terdapat Appendicitis chronica ( Radang Usus Buntu Menahun ), Darah: menunjukan adanya peninggian jumlah sel-sel darah putih yang menandakan adanya infeksi dalam tubuhnya dan hasil Urine: Keruh dan banyak sel-sel darah Putih ( menunjukkan adanya ISK / Infeksi Saluran Kencing ).
Jadi pasien Nn. L ini terdapat 2 penyakit yaitu gangguan usus buntu dan gangguan saluran kencing.

Dokter Ahli Peyakit Dalam ( dokter yang pertama kali memeriksa Nn. L ) merujuk L ke Rumah Sakit tadi untuk operasi Usus Buntu ( Appendectomy ). Siang ini belum ada kamar kosong untuk merawat L, baru besok dapat masuk RS. Beliau juga menyatakan boleh masuk RS besok ( menunjukkan bahwa radang Usus Buntunya bukan Akut yang harus membutuhkan tindakan operasi segera / cito ).

Pertanyaan yang diajukan kepada saya via HP adalah apakah ia harus dioperasi atau tidak perlu.

Dari pada dikemudian hari ( mungkin pada saat penting spt: pernikahan / acara keluarga lain ) Nn. L menderita Appendicitis Chronica Exacerbasi Acuta, maka lebih baik sekarang saja dioperasi. Selesai operasi pasti ia akan diberikan obat anti Infeksi ( antibiotika ) sehingga dengan demikian ISK nya juga akan terobati.

Masalah sekarang adalah mencari kamar untuk merawatnya. Saya sayankan agar L menitipkan HP agar pihak Tata Usaha RS tadi dapat segera menghubungi L sore ini atau besok pagi untuk segera masuk RS bila sudah ada kamar kosong. Kepada orang tuanya saya sarankan agar mereka segera dari kota kami, Cirebon menuju Yogya untuk menengok putrinya itu. Mereka sudah setuju atas saran saya ini. Win-win solution.

Hebat! dengan sebuah alat sekecil HP, kami dapat berkomunikasi antar kota dan bahkan antar negara ( Indonesia – Australia ) yang sering kami lakukan bicara dengan putra/i kami di Aussie dengan mutu suara yang jernih dan tanpa perlu bicara keras-keras.

Kemajuan telekomunikasi saat ini sudah jauh berbeda dengan keadaan tahun 1950-an dimana kalau ayah kami bicara dengan relasi bisnisnya dengan susah payah menggunaan telepon ( belum ada HP ) yang mesti diengkol dahulu untuk dapat kontak ke Kantor telepon setempat guna minta disambungkan dengan nomer telepon seseorang di kota lain ( sambungan interlokal ). Setelah tersambung tidak jarang mesti bicara keras, nyaris berteriak-teriak agar suara terdengar dengan lawan bicaranya.

Kita patut bersyukur terhadap kemajuan Komunikasi di seluruh dunia sehingga tiap orang dapat bicara dan mengirim pesan ( SMS, Chatting, Browsing Internet ) semudah menjentikkan tangan. Tentu ada cost yang mesti dibayar oleh kita dan cost itu makin lama makin murah meriah termasuk tarif akses Internet yang Unlimited sekalipun. Tiap Operator seluler berlomba-lomba mempunyai user yang lebih banyak dari pada kompetitornya. Biasalah persaingan bisnis.-

Naik Sepeda ( lagi )






Tadi pagi saya berangkat ke tempat praktik ke 2 naik sepeda. Sore hari saya praktik di rumah. Jarak antara rumah dan tempat praktik ke 2 sekitar 300 meter. Tidak terlalu jauh. Kadang-kadang saya jalan kaki saja. Saya anggap sebagai olah raga pagi dari pada tidak sama sekali.

Di tempat praktik ke 2 saya dapat melayani pasien dan menemani ibu kami yang sudah lanjut usia, 82 tahun. Adik perempuan saya M, 50 tahun bekerja di sebuah Apotik sehingga keberadaan saya membuat ibu kami tidak kesepian.

Tiap hari Jumat pagi, ibu kami sering kali memberitahukan saya, bahwa mobil jemputan untuk pergi ke Panti Wreda milik Gereja kami sudah tiba / menunggu di depan rumah ibu. Saya saking asyiknya melayani pasien yang berobat sampai lupa bahwa tugas pelayanan sudah menunggu di Gedung Panti.

---

Pagi ini datang berobat Tn TKC, 70 tahun.
Pasien saya ini sudah menjadi pasien tetap sejak bertahun-tahun.
Ia berkata “Pagi, dok. Tadi saya ke rumah dokter, kata isteri dokter, dokter Basuki kalau pagi praktik disini. Jadi saya minta abang Becak untuk antar saya kesini.”

Saya menjawab “Benar Oom, tiap pagi sejak bertahun-tahun praktik disini, di rumah ibu kami.”

Tn. TKC berkata lagi “Saya tidak melihat ada Minibus Panther Hijau di parkir. Saya pikir dokter belum datang. Saya ragu-ragu untuk tekan Bel di pintu Ruang Tunggu.”

Saya menjawab “He…he…saya kesini naik sepeda. Itu sepeda saya.” sambil menunjuk sebuah sepeda ontel tua.

Tn. TKC berkata “Lho……kok naik sepeda, dok!”

Saya menggoda dia “Lho….apa saya tidak boleh naik sepeda, Oom. Hitung-hitung olah raga saja selain jalan pagi.”

Tn. TKC berkata lagi “Ah…..kayaknya dokter tidak pantes naik sepeda.”

Wah runyam nih. Image masayarakat terlalu rendah bila mengetahui dokter naik sepeda. Padahal itu sepeda sendiri.

Saya menjawab sekenanya “Oom, pantesnya dokter naik apa? Saya sudah bosan naik Minibus Kijang, L300, Sedan Mercedes, Fiat, Suzuki, Honda, Holden, Toyota, Desoto dll merek yang pernah kami miliki dan sudah terjual demi study putra dan putri kami. Akhirnya saya kalau kesini lebih nyaman naik sepeda. Ya sepeda ontel itu lho.”

Tn TKC terdiam lalu mengangguk-anggukan kepalanya. Sayapun tidak mengerti maknanya. Apakah pasien saya ini dapat memahami jawaban saya atau hanya basa-basi saja.

Akhirnya saya menjelaskan “Oom, banyak Dosen di negeri Belanda kalau pergi mengajar, mereka juga naik sepeda, meskipun mereka memakai Dasi dan Baju Jas keren. Mereka melakukan hal itu bukan karena tidak punya mobil, tapi dengan naik sepeda mereja juga berolah raga dan menghindari kemacetan lalu lintas. Juga disana udaranya dingin sehingga badan tidak berkeringat seperti di negara tropis.”

Tn. TKC mengangguk-anggukkan kepalanya lagi. Yang ini tanda setuju. Win-win solution.
Bagaimana pendapat anda?

---

Naik sepedalah setiap hari, lalu perhatikan apa yang terjadi. Saya mengambil contoh ucapan Pak Mario Teguh, motivator ulung, nara sumber di acara “Golden Way”, tiap hari Minggu pukul 19.05 – 20.00 di Metro TV.

---

Engkau mempunyai 2 tangan, gunakanlah satu tangan untuk menolong diri sendiri dan yang satu lagi untuk menolong orang-orang lain. Tolonglah orang-orang lain, maka engkau akan diberkatiNya. Amin.


-bp-


Selasa, April 20, 2010

Minta di doakan






Sebenarnya saya agak segan menulis kisah ini.
Kenapa? Kisah ini menyedihkan. Siapapun yang punya hati nurani pasti akan meneteskan air mata.

---

Beberapa minggu yang lalu, datang berobat seorang Ibu Ny. L, 60 tahun. Ia datang diantar oleh putranya Tn. A, 38 tahun.

Penyakit Ny. L sebenarnya ringan saja yaitu Flu dan agak kurang tidur. Setelah memeriksa dan membuat resep saya, bertanya kepadanya “Ini siapa, Bu?”

Ny. L menjawab “Ini anak saya, Dok. Anak saya sebenarya sudah berkeluarga dan mempunyai seorang putra, 2 tahun.” Matanya berkaca-kaca.

Saya heran, mengapa ia sedih, murung setelah berkisah tentang putramya.

Saya bertanya “Emang kenapa sampai begitu, Bu?”

Ny. L melanjutkan kisahnya “Begini, Dok. Putra saya ini 3 tahun yang lalu menikah dengan seorang wanita asal Jakarta. Mereka dari keluarga berada, sedangkan keluarga kami biasa-biasa saja. Setelah mempunyai seorang putra, ayah mertuanya meminta agar anak saya menceraikan isterinya, karena katanya akan dikawinkan dengan lelaki lain yang lebih kaya.Tentu saja putra saya menolak, tetapi karena pengaruh uang akhirnya keinginan ayah mertuanya terjadi juga. Tentu saja anak saya marah, mengapa ketika dilamar setuju untuk dinikahi tetapi sekarang pernikahannya diputuskan begitu saja. Anak saya dipaksa untuk menandatangai Surat Cerainya. Akhirnya anak saya kembali ke kota ini dan hidup bersama saya kembali. Dalam pekerjaannyapun anak saya tidak mendapat gaji yang cukup walaupun kerjanya berat sampai sore, padahal majikannya masih kenalan kami juga.”

Saya termenung mendengarkan kisah seorang ayah yang diperlakukan tidak adil oleh mertuanya. Kok ada ya orang seperti itu. Entahlah dunia ini sudah terbalik-balik.

Saya memberikan kata-kata penghiburan “Ibu, sekarang keadaan hidup makin tidak karuan. Kadang untuk berbuat kebaikan pun kita mengalami kesusahan, karena banyak batu sandungan. Kalau mertuanya berbuat begitu, mungkin putrinya bukan jodoh anak Ibu. Tabahlah dan bersabarlah. Nanti Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi putra anda. Ibaratnya bila kita mengetuk pintu yang tidak dibukakan, maka Tuhan akan membukakan pintu kedua yang jauh lebih baik. Berdoalah dengan tekun. Tuhan Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Kalau kita hidup di jalan Tuhan, maka Tuhanpun akan memberkati kita.”

Tn. A yang duduk disamping Ibunya, duduk dengan wajah melihat ke bawah, menunduk. Matanya berkaca-kaca.

Setelah mendengar ucapan saya, Ny. L ini berkata “Dokter, bolehkah kami minta bantuannya?”

“Apa yang dapat saya lakuan untuk Ibu dan putra anda? Kalau saya bisa, saya tidak keberatan.” saya menjawab.

Ny. L melanjutkan “Dok, kami minta didoakan oleh Dokter.”

Glek……saya terkejut juga. Kalau minta diberikan resep obat dan minta digratiskan saya tidak berkeberatan, tetapi permintaannya minta didoakan sungguh suatu permintaan yang tidak biasanya.

Kalau saya seorang Rohaniawan atau Pendeta maka permintaan itu masih wajar, tetapi kalau minta didoakan oleh seorang Dokter, kayaknya kurang pas. Tetapi sebagai orang yang sudah berjanji akan membantu mereka, saya tentu saja akan membantu mereka. Setiap waktu saya berdoa untuk diri saya dan keluarga saya. Sekarang berdoa untuk Ibu L dan Tn A, tentu tidak sulit bukan?

Kejadian ini baru pertama kali terjadi selama saya buka praktik sejak tahun 1980. Rasanya agak aneh, tetapi akhirnya saya memimpin berdoa untuk ketabahan keluarga Ny. L, memohon kekuatan dan berkat dari padaNya, yang ditutup dengan kata AMIN.

Selesai mengucapkan AMIN, legalah hati kami. Semua beban rasanya sudah hilang dan hati mereka menjadi lebih kuat lagi dalam menghadapi kesulitan hidup mereka.
Ketika mereka meninggalkan Ruang Periksa dan akan memberikan uang, saya menolaknya dan berkata “Tidak usahlah, untuk beli vitamin saja di Apotik terdekat.”

Pagi itu, saya mendapat satu pengalaman lagi. Terpujilah namaMu. Amin.-

Minggu, April 18, 2010

Jual mobil ?







Seperti biasa kalau ada mobil Minibus 1987 warna Hijau Metalik, maka pasien menduga bahwa yang praktik Pak Dokter. Kalau yang diparkir di tepi jalan sebuah Minibus Kijang 1986, Abu-abu Metalik dengan logo PMI, maka yang praktik adalah Ibu Dokter. Begitu anggapan para pasien kami.

Jadi dengan melihat mobil apa yang sedang diparkir, dapat ditentukan yang praktik Pak Dokter atau Ibu Dokter. Padahal tidak selalu begitu. Bisa saja yang diparkir Minibus Hijau Metalik tetapi yang praktik Ibu Dokter, karena Kijang Dinas PMI sedang dipakai perjalanan dinas ke Bandung / Jakarta.

Bulan yang lalu ketika saya saya menggantikan praktik isteri saya yang pergi ke Jakarta saya membawa Minibus kami, Isuzu Panther High grade, 1987, Hijau Metalik.

Setelah saya memeriksa beberapa pasien, masuklah 2 orang pemuda yang nampaknya tidak sakit.

Setelah duduk mereka saya tanya “Siapa yang akan berobat?”

Pemuda yang berbaju Putih menjawab “ Sebenarnya kami tidak akan berobat, tapi ingin bertanya, Dok.”

Saya berkata lagi “ Baik. Ada keperluan apa ya?”

Ia menjawab “Kami ingin tahu, apakah benar mobil warna Hijau Metalik yang di parkir di depan itu milik Dokter?’

Saya menjawab “Benar. Ada ada ya?” Saya mulai curiga kalau-kalau ada yang tidak beres dengan mobil kami itu.

Sambil terenyum Pemuda itu bertanya lagi “Kalau benar, apakah mobil Dokter mau dijual?”

Gleg…saya terhenyak. O..itukah sebabnya ia banyak bertanya tentang mobil kami.
Orang ini adalah orang yang ke 5 yang bermaksud hendak membeli mobil kami itu.

Saya menjawab pertanyaannya ”O.. mobil itu belum akan kami jual sebab untuk kaki kami. Kalau mau beli mobil, anda dapat membeli di show room yang jauh lebih baik dari mobil saya.”

Pemuda tadi berkata lagi “Kalau kami beli di show room, belum tentu kondisinya sebagus mobil Pak Dokter.”

Kedua Pemuda itu akhirnya permisi dari Ruang periksa dengan kecewa. Mungkin mereka sudah memperhatikan mobil kami itu selama berhari-hari sebelum mereka bertanya kepada saya.


Saya berpikir “Mengapa sudah 5 orang yang bermaksud membeli mobil kami itu? Mengapa banyak orang yang tertarik dengan mobil itu? Minibus produksi tahun 1987, berarti sudah 13 tahun. Sebenarnya sudah cukup tua untuk diremajakan, ganti mobil yang lebih baru. Kalau diganti baru maka kami harus menambah banyak uang lagi. Tidak perlu gantilah, toh Minibus itu masih layak pakai dan jarang rewel, sebab perawatan / Tune up yang dilakukan setiap 6 bulan satu kali cukup membuat Minibus itu terawat baik. Angka pada Tripmeter baru menunjukkan: 59.000 Km selama 13 tahun dipakai. Kalau berada di Jakarta maka angka itu sudah akan tercapai pada tahun pertama dipakai. Bila seandainya kami punya cukup uang, maka uang itu bukan untuk membeli mobil baru, tetapi untuk membiayai kami mengikuti Tour ke negara-negara lain. Saya punya mimpi ingin berfoto diatas The Great Wall di dekat kota Beijing. Bila masih ada sisa uang kami ingin melancong ke negara lain, mumpung kami masih bisa jalan ( melancong keluar negeri memerlukan kaki yang kuat untuk banyak berjalan kaki ). Kalau sudah tidak bisa jalan, maka sia-sialah melancong ke luar negeri. Kapan ya kami bisa ke sana?”

Kriiiiing………
Lamunan saya terhenti ketika saya mendengar suara bel pintu Ruang Periksa, tanda ada pasien lain yang akan berobat.

Malam itu saya bermimpi berfoto di atas The Great Wall. Keinginan saya sudah tercapai, meskipun baru berupa mimpi.

Please queue!






Kalau diminta antri biasanya orang-orang kita enggan melakukannya. Budaya antri nampaknya belum menjadi tradisi yang baik. Please queue! No way. Enggak mau antri!

Sering kali mesti ada petugas security yang mengawasi agar orang mau antri, misalnya mau setor uang di Bank, mau beli tiket kereta api, mau menerima pembagian Sembako dll. Tanpa petugas security antrian akan semerawut.

Mengapa bisa terjadi begitu? Karena orang ingin didahulukan, tanpa memikirkan orang lain.

1. Kisah segan antri juga pernah terjadi di Ruang Tunggu praktik isteri saya.
Biasanya pasien yang akan berobat duduk di bangku Ruang Tunggu. Siapa yang merasa datang duluan akan masuk duluan. Siapa yang datang belakangan akan masuk belakangan juga.

Suatu sore terjadi keributan di Ruang Tunggu itu.
Ada 3 pasien yang sedang menunggu giliran masuk Ruang Periksa. Tiba-tiba datang seorang Ibu A membawa putranya, 3 tahun. Mereka begitu turun dari Sedannya langsung masuk ke Ruang Tunggu dan begitu pasien yang selesai di periksa keluar, Ibu A akan memasuki Ruang Periksa. Ibu-ibu yang lain yang sudah antri menunggu, berteriak bahwa Ibu A harus menunggu giliran ( antri ) sebelum dapat masuk Ruang Periksa. Ibu A protes, sebab anaknya sakit demam tinggi dan ingin mendapat pelayanan kesehatan dengan segera.

Ibu A berkata “Anak saya sakit keras!’

Ibu B , C dan D berkata kompak “Lho..kami juga sakit dan ingin berobat. Ibu harus antri dulu. Enak aja nyerobot masuk.”

Ibu A naik pitam ( mungkin merasa bisa membayar lebih biaya pemeriksaan ) dan ingin segera memasuki Ruang Periksa. Akhirnya mereka berempat bertengkar hebat dan saling menarik rambut lawan bicaranya. Wah…jadi heboh sore itu di Ruang Tunggu dokter.

Akhirnya isteri saya mengambil sikap win-win solution dengan berkata “Kalau putra Ibu A sakit keras, boleh didahulukan asal mendapat persetujuan Ibu-ibu yang lain yang sudah antri duluan. Bagaimana Ibu-ibu?’

Ibu B, C, dan D saling berpandangan dan akhirnya berkata “Iya udah boleh lah, tetapi lain kali Ibu A harus tenggang rasa sebab kami sudah datang lebih dahulu. Ibu kan baru saja datang.”
Mengapa bisa terjadi begitu? Karena tidak ada petugas yang mengawasi antrian pasien. Akhirnya isteri saya dibantu oleh seorang petugas Kartu Pasien yang juga mengatur antrian pasien.

2. Kami sering diserobot oleh orang lain ketika hendak mengambil hidangan pada jamuan pernikahan. Biasanya kaum wanita yang nyerobot, mengambil hidangan yang hendak saya ambil saat itu. Saking jengkelnya saya berkata kepadanya “Ibu, sudah lapar ya?”

Lawan bicara saya cuek saja seolah tidak terjadi apa-apa, padahal ia sudah menyakiti hati orang lain.
Mengapa bisa terjadi begitu? Karena ia tidak tahu sopan santun, meskipun pakaiannya lebih bagus dari yang dipakai saya.

3. Ketika saya hendak membeli tiket kereta api beberapa kali diserobot orang lain, padahal saya akan segera dilayani oleh petugas loket.
Saya berkata “Ah….. Bapak, saya kan sudah duluan datang. Mosok diserobot begitu.”
Lawan bicara saya cuek, seolah tuli. Tidak ada petugas Security saat itu.
Saya bilang kepada petugas loket “Ini uangnya mbak. Minta kursi yang dekat pintu masuk.” Saya juga cuek dengan serobotan Bapak tadi. Ia gagal nyerobot saya. Saat itu hanya kami berdua yang hendak membeli tiket. Jadi kalaupun ia antri dibelakang saya, tidak masalah sebab tidak perlu menunggu lama untuk membeli tiket yang ia butuhkan.
Mengapa bisa terjadi begitu? Karena ia merasa bisa membeli tiket tanpa antri, padahal masih ada orang di depan dia. Sikapnya tidak sabar dan acuh kepada orang lain.

---

Bandingkan dengaqn kisah lain yang pernah saya alami di negara-negara lain.

Tahun 1993, suatu malam ketika hendak pulang setelah belanja di sebuah Mall di Singapore, kami antri menunggu datangnya Taksi. Di depan kami ada sekeluarga yang akan naik Taksi. Kami asik ngobrol. Tanpa sepengetahuan kami, keluarga itu sudah pergi naik Taksi yang segera datang.

Seorang wanita muda yang juga sedang antri naik Taksi, berkata kepada kami “That is your turn ( itu giliran kamu )” ketika Taksi lain datang.

Saya berkata “Thank you.” Sambil bergegas menaiki Taksi yang sudah menunggu kami.

Saya membatin “Hebat. Wanita tadi menyuruh kami agar segera menaiki Taksi yang sedang kami tunggu. Kalau di negara kita mungkin wanita tadi diam-diam akan segera naik Taksi tadi karena kami asik ngobrol.”

Tahun 2007 ketika kami hendak membayar belanjaan yang kami beli di sebuah Departemen Store di kota Sydney sering kali harus antri dengan tertib tanpa ngomel. Mengapa bisa begitu? Karena memang harus begitu, bila tidak begitu kita akan membangkitkan amarah orang lain.

Kalau tidak mau antri, maka kita harus membayar di alat pembayaran yang Self service ( melayani sendiri ) di sebuah alat semacam mesin ATM Bank. Kita harus men-Scanning label harga setiap barang yang kita beli dan harus menggesekkan Kartu Kredit kita pada tempatnya . Karena gaji buruh / pelayan mahal maka disediakan mesin semacam itu yang diharapkan para pembeli dapat melayani sendiri dan membayar sendiri. Hanya seorang petugas Dep Store ( biasanya kaum wanita ) yang mengawasai kalau-kalau ada pembeli yang mendapat kesulitan membayar via mesin semacam itu. Praktis.

Di negera kita belum ada alat semacam itu, belum semua pembeli punya Kartu Kredit dan gaji buruh relatip lebih murah.

Lain negara, lain budaya dan lain tehnologi.
Makan minum di sebuah Resto / Cafe dengan bayar masing-masing, itu sudah biasa.
Disini dianggap tidak sopan, mosok bayar masing-masing?

Melayani diri sendiri ( self service ) disana sudah menjadi tradisi.
Disini inginnya dilayani orang lain.
Memang enak dilayani orang lain, dari pada melayani orang lain. Padahal mereka bertugas melayani masyarakat.
Lain negara, lain budaya.

Sabtu, April 17, 2010

Semua Umur





Saya sering mendapat pertanyaan dari Pasien / calon Pasien, seperti kisah berikut.

---

Suatu pagi, seorang wanita muda datang dan mengetuk pintu rumah kami. Setelah berhadapan dengan saya, ia bertanya “Dok, apakah hari ini buka praktik?”

Saya menjawab “Buka, pagi sampai pukul 10.”

Ia balik bertanya “Apa bisa periksa pasien Anak-anak?”

Saya jawab sambil tersenyum “Bisa, saya periksa pasien semua umur: Bayi, Anak-anak, Dewasa, Kakek dan Nenek.”

“Baiklah, sebentar saya beritahu orang tuanya dulu.”, wanita itu balik kanan dan meninggalkan rumah kami.

Tampaknya wanita itu low educated, tetapi sikapnya jujur dan lugas. Mau bertanya agar tidak sesat di jalan.

Benar. Malu bertanya sesat di jalan.
Bulan lalu ada 3 Pasien yang menunggu giliran diperiksa.
2 Pasien selesai diperiksa dan Pasien ke 3 seorang wanita, 30 tahunan masuk ke dalam Ruang Periksa saya.

Saya bertanya kepadanya “Nama anda siapa dan apa keluhan anda?”
Ia menjawab “Dok, saya mau cabut gigi!”

Glek…saya kaget juga. Wah…salah alamat nih.
Ia tidak bertanya kepada Pasien sebelumnya dan tidak membaca papan nama saya. Ia tidak tahu bahwa saya adalah dokter praktik umum. Kalau mau cabut gigi, mesti datang ke tempat praktik Rdg. E, tetangga kami. Lama ia menunggu giliran dan ketika tiba giliran masuk, ia salah alamat. Banyak waktu terbuang dan harus menahan malu lagi.

---

Isteri saya yang praktik umum juga sering mendapat kunjungan pasien yang mengikuti KB ( Keluarga Berencana ). Ada yang pasang Spiral, ada yang suntik KB ( tiap 1 atau 3 bulan ) atau ada yang pasang Susuk KB. Tidak jarang Pasien menganggap isteri saya adalah Ahli Kebidanan.

Pasien Anak-anak juga sering berkunjung ke tempat praktik isteri saya, sehingga dianggap Ahli Anak. Padahal kami yang dokter pratik umum melayani pasien dari bermacam golongan umur ( semua umur ) dan melayani semua penyakit. Tahu semua penyakit tetapi hanya tahu sedikit-sedikit. Berbeda dengan Teman Sejawat Dokter Spesialis yang tahu banyak tetapi hanya tahu penyakit Mata saja, hanya tahu penyakit Jantung saja atau hanya tahu penyakit THT saja dll tergantung dari spesialisasinya.

Pesan sponsornya: Jangan malu untuk bertanya, sebab sampai sekarang masih gratis.-

Kamis, April 15, 2010

Yang penting bisa berfungsi






Kemarin pagi saya memanggil seorang Tukang untk memperbaiki Pintu Lipat Ruang Tunggu tempat praktik kami.

Pak A, 58 tahun dengan seorang stafnya datang dan melihat kondisi Pintu Lipat yang terbuat dari kayu jati. Pintu ini sudah puluhan tahun dan baru sekarang ngadat, sulit dibuka dan ditutup. Pintu itu sering membuat kami berkeringat untuk membuka / menutup pintu itu.

Pak A berpendapat bahwa rel atas dan bawah pintu itu mesti diganti agar mudah membuka dan menutupnya. Ia menghitung untuk bahan ( rel besi dan roda-roda ) Rp. 450.000 dan ongkos Rp. 550.000,-. Total Rp. 1 juta. Kami terkejut juga. Kok begitu mahal? Ahirnya saya membatalkan pekerjaan itu kepada Pak A.

Saya mendatangi bengkel Las Pak S, 55 tahun langganan saya. Pak S datang memeriksa dan mengatakan bahwa rel pintu itu tidak perlu diganti tetapi perlu dipasang Ring besi untuk menaikkan lembaran pintu kayu itu agar pintu tidak menyentuh lantai yang membuat pintu macet.

Pagi ini 2 orang Staf Pak S datang dan mengerjakan tugas tsb. Saya membeli beberapa Ring besi ( semacam cincin yang terbuat dari lempengan besi yang berlubang di tengahnya ) di toko besi tetangga kami. Harganya Rp. 1.000,- Ongkos tukang Rp. 50.000,- Lama kerja 2 tukang: 1 jam.

Akhirnya pintu lipat itu tidak macet lagi dan mudah dibuka dan ditutup kembali tanpa mengganti Rel atas dan Rel bawah yang biayanya mencekik leher.

Saya membatin “Mau dengan cara apa terserah, yang penting pintu tidak macet dan biayanya terjangkau.”

Ngomong-ngomong masalah cara pecelesaian masalah saya teringat ucapan seorang Pemimpin China yang mengatakan “Bagi saya warna bulu Kucing itu tidak penting, yang penting apakah Kucing itu bisa menangkap tikus atau tidak?”

Iya benar sekali!
Meskipun bulu Kucing itu indah dan halus, tetapi kalau ia tidak dapat menangkap Tikus, untuk apa dipelihara?

Kalau hanya dengan menambah Ring engsel pintu dengan biaya sangat terjangkau dan tanpa membongkar Rel Pintu tadi, untuk apa mengganti Rel Pintu dengan membuang uang begitu besar?

Ah…pagi itu pengalaman saya bertambah satu lagi.-

Rabu, April 14, 2010

Cape deh






Pagi ini datang Pak M, 40 tahun untuk berobat.
Keluhannya: sejak 2 hari badannya pegel linu, tidur tidak nyenyak, selera makan berkurang. Beban pekerjaan yang tinggi menyebabkan Pak M, pagi ini mengeluh badannya luar biasa cape.

Pekerjaannya sebagai staf disuatu persahaan swasta selama 20 tahun, selalu menghadapi tanggung jawab yang berat. Mau pindah kerja kemana lagi? Saat ini sukar mencari pekerjaan, apalagi kerja ringan, tapi gaji besar.

Pemeriksaan fisiknya dalam batas normal. Seperti biasa Pak M kalau berobat selalu minta diberi suntikan vitamin. Konon katanya agar tubuhnya segera segar kembali.

Saya bertanya kepadanya “Pak, dalam pekerjaan, apakah Bapak tidak mempunyai staf yang dapat membantu pekerjaan pokok Bapak?”

Pak M menjawab “Tidak punya, dok. Semua saya kerjakan sendiri karena itu sudah menjadi tanggung jawab saya.” Wah hebat....Pak M punya pengabdian yang tinggi kepada perusahaannya.

Saya bertanya lagi “Pak, apakah Bapak sering mengalami kenaikan gaji ?”

Pak M menjawab “Kenaikan gaji ada juga tetapi yah….tidak memadailah dengan beban pekerjaan yang harus saya lakukan.”

“Sebenarnya pekerjaan Bapak apa?” saya ingin mengetahui lebih lanjut.

“Bidang angkutan, dok. “

“Oh..” hanya itu yang dapat saya lontarkan. Saya mengetahui benar kalau bidang angkutan mempunyai beban pekerjaan yang berat yang menyangkut: truk, barang yang mesti dikirim ke luar kota, masalah supir dan karyawan lain, belum lagi kalau ada kecelakaan truk perusahaannya.

Setelah mendapat suntikan dan menerima resep obat Pak M, masih curhat tentang pekerjaannya.

“Dok, selama saya bekerja puluhan tahun, baru kali ini saya meraca cape deh! Pekerjaan yang numpuk membuat saya segera datang kepada dokter yang selama ini selalu memberi pengobatan penyakit-penyakit saya”, kata Pak M dengan wajah yang sedih.

“Saya mengerti, Pak. Hidup yang harus kita alami ini saat ini memang berat. Kita harus bekerja dengan baik agar kita tetap dapat menghasilkan uang untuk menunjang hidup sekeluarga “ saya menimpalinya.

Saya membatin “ Bagaimana uang akan turun dari langit kalau kita tidak bekerja? Uang bukan segalanya tetapi tanpa uang, semuanya tidak berjalan dengan baik. Kita jangan mendewakan uang, tetapi uang diperlukan untuk menunjang semua aktifitas kita selama hidup. Uang oh…uang….dimanakah engkau berada. Uang akan bergerak seperti air sungai mengalir ke laut. Kalau kita tidak bijaksana mengelola, uang dalam sekejap akan menghilang dari kantong kita. Apalagi kalau uang yang kita miliki hanya sedikit, akan cepat habis!

Senin, April 12, 2010

Cintailah pekerjaanmu





Suatu saat saya mengantar adik saya datang ke tempat seorang Notaris untuk menyelesaikan transaksi jual beli tanah dan rumah.

Kami sudah mengenal Ibu N yang berprofesi sebagai seorang Notaris.
Ketika sang asisten Ibu N menyiapkan Surat yang harus ditanda tangai, kami sempat ngobrol.
Saya melihat wajah Ibu N tampak cerah dan keep smiling. Ah...suatu saat yang baik untuk bertanya.

Saya bertanya kepada Ibu N “Ibu, bolehkah saya bertanya diluar masalah jual beli tanah?”

Ibu N menjawab “Boleh, apa masalahnya Pak Basuki?”

Pertanyaan saya “Dalam melakukan pekerjaan sebagai dokter, saya kadang merasa jenuh dan bosan. Pagi dan sore saya menghadapai orang-orang yang sakit. Jarang wajah mereka tersenyum apalagi tertawa. Apakah Ibu juga pernah mengalami hal yang sama dan bagaimana cara mengatasinya?“

Ibu N menjawab “ Pertanyaan pak Basuki ini wajar dan sering diajukan oleh penanya yang lain.”

Saya sudah tidak sabar lagi mendengar apa jawaban Ibu N atas pertanyaan saya tadi.

”Jawabnya mudah dan singkat saja yaitu Cintailah pekerjaan anda!” jawab Ibu N.

Saya membatin: dalam setiap transaksi jual-beli tanah / rumah, sang Notaris selalu menerima uang dari kliennya. Pembeli dan penjual juga sudah sepakat dengan harga yang telah ditetapkan. Mereka pasti mempunyai / akan menerima banyak uang. Kalau tidak ada uang, bagaimana sang Notaris dapat menyelesaikan transaksi jual beli tanah / rumah tadi. Kalau saya dalam menghadapai setiap klien ( pasien ) tidak selalu mendapatkan jasa pelayanan karena ada sebab-sebab lain, seperti: mereka adalah famili, teman atau relasi. Dapat juga mereka tidak mempunyai uang yang cukup untuk berobat. Sering kali saya ikhlas menggratiskan jasa pelayanan bagi mereka.

Benar uang bukan segalanya, tetapi tanpa uang semuanya tidak dapat berjalan dengan baik.
Kalau jasa pelayanan dokter digratiskan lalu bagaimana mereka dapat mengambil obat di Apotik bila tidak mempunyai uang?
Kalau tidak punya uang, bagaimana kita dapat membeli Komputer, membayar biaya akses Internet dan membayar tagihan rekening Listrik dari PLN.
Kalau tidak dapat uang, dari mana jutaan pekerja dapat menghidupi keluarga mereka dengan layak.
Lalu bagaimana mereka dapat mencintai pekerjaan mereka, kalau pekerjaan mereka tidak menghasilkan uang? Bukankah justru mereka mencintai pekerjaan mereka karena pekerjaan mereka akan mendatangkan uang / banyak uang?

“Cintailah pekerjaanmu!”
Hanya 2 kata, singkat dan padat, tetapi mengandung suatu makna yang sungguh sangat dalam.

Bila iman tidak kuat, maka pekerjaan kita dapat menggoda hati kita untuk berbuat macam-macam demi uang.

Seorang teman saya pernah berkata bahwa mencintai pekerjaan kita ada benarnya dan perlu ditambahkan satu lagi yaitu: hidup yang benar. Mendapat uang secara halal akan membuat kita dapat tidur nyenyak, dari pada dapat uang dengan cara yang haram yang akan membuat tidak bisa tidur / tidur nyenyak dan tidak mendapat berkat dari Tuhan.

Manakah yang akan kita kerjakan? Tergantung dari hati nurani kita masing-masing.
Seorang motivator tangguh, Pak Mario Teguh dalam acara “Golden Way” yang disiarkan Metro TV setiap hari Minggu pk. 19.05 – 20.00 pernah berkta “ Bertindaklah agar kita dapat menyenangkan hati orang lain. Lalu lihatlah apa yang terjadi.”
Suatu anjuran yang mempunyai arti yang dalam juga

Kadang kala jawaban dan anjuran diatas tidak mudah dilakukan, tetapi kita mesti berupaya untuk mengerjakannya. Bukan hasilnya tetapi upayanya yang dihargai. Sukses bukan dilihat dari hasil yang akan dicapainya, tetapi dilihat dari bagaimana proses perjuangan untuk mencapai hasilnya.

Semoga tulisan ini tidak membuat hati anda bingung.-


Jumat, April 09, 2010

Sakit parah



Pagi ini saya mengunjungi Kios Majalah langganan saya.
Saya melihat Ibu T, 65 tahun menunggu Kios Majalah tsb. Semasa Pak T masih hidup, ia bersama isterinya mencari nafkah dengan mnenjual bermacam Koran dan Majalah.

Kalau melihat Ibu T, saya teringat kisahnya ketika ia sakit parah.

2 tahun yang lalu saya mendapat panggilan dari putra Ibu T untuk mengobati Ibu T yang sedang sakit sejak 7 hari yang lalu.

Ibu T ini tidak mau makan, tubuhnya lemas. Bunyi Paru-paru menunjukkan adanya Bronchitis. Ibu T sakit parah. Mengapa tidak segera berobat kepada dokter?

Saya menganjurkan untuk membuat Foto Thorax: Jantung dan Paru-paru dan pemeriksaan darah atas Laju Endap Darah.
Keesokan harinya, putra Ibu T membawa hasil pemeriksan tsb. Benar ada kelainan.

Hasil LED menunjukkan angka yang lebih tinggi dari normal tinggi yang menunjukkan adanya radang menhaun. Hasil Foto Thorax menunjukkan adanya TBC paru duplex ( kedua paru-paru ).

Saya memberikan resep kominasi obat anti TBC paru dan vitamin. Saya juga menganjurkan agar Ibu T minum susu dan telur setiap hari agar kesehatan tubuhnya cepat pulih. Ibu T mendapat pengobatan selama beberapa bulan kemudian keluarganya tidak menghubungi saya lagi. Saya tidak tahu persis apakah Ibu T minum obat anti TB nya sampai minimal 6 bulan atau tidak. Saya menduga jangan-jangan Ibu T tidak tertolong lagi.

Ketika pagi tadi saya masih melihat Ibu T dan bahkan masih dapat menjaga Kios Majalah dan Korannya, saya agak terkejut. Rupanya Ibu T dapat bertahan sampai sekarang.




Asal sudah dipegang, sembuh






Sore ini cuaca cerah. Tidak seperti beberapa hari yang lalu gerimis dan hujan setiap sore dan malam. Maklum sedang masih musim hujan.

Ibu A, 35 tahun membawa putranya H, 2 tahun untuk berobat swejauh 5 Km dari rumah mereka.
Keluhan H batuk dan ada sedikit demam sejak kemarin. Keluarganya ada yang sedang batuk pilek dan H tertular Flu.

Keluarga besar tidak selamanya membuat nyaman, setidaknya bagi H. Bila saudara sepupunya datang ke rumah, Bapak dan Ibu A selalu memperhatikan apakah mereka sedang Flu atau tidak. Mereka khawatir putranya H ini akan tertular penyakit yang sama.

Ibu A mengutarakan pendapatnya kepada saya “Dok, putra kami ini di H, sering kami bawa berobat kepada Dokter.”

Saya menjawab dan bertanya kepada Ibu A “Benar, padahal di sekitar tempat tinggal anda ada banyak dokter praktik umum. Mengapa Ibu jauh-jauh datang ke tempat saya?”

“Iya Dok, ada beberapa doker disana, tetapi anak saya cocoknya berobat kesini. Pernah resep dari Dokter belum dibelikan, maklum saat itu hujan besar. Keesokan harinya ketika kami ingin beli obat, kok putra kami si H, sudah sembuh dan lari-lari lagi. Baru dipegang oleh dokter, si H sudah sembuh, padahal obatnya belum dibelikan.”

Saya menjawab “ Ah, masa sih…..” Saya merasa kurang percaya dengan apa yang disampaikan Ibu A ini. Obat belum diminum, penyakit sudah sembuh. Jadi kontak tangan saya dengan tubuh H sungguh ajaib.

---

Kasus lain, Pak Z, 40 tahun dengan Flek paru-paru ( TBC ) sudah berobat dan minum obat selama 6 bulan tetapi batuknya tidak hilang / sembuh.

Pasien protes kepada saya “Bagaimana nih Dok, sudah berobat lama kok belum sembuh juga? Minta obat yg lebih bagus dong?”

Lah...bagaimana mau sembuh total kalau hasil Foto Thorax ( Jantung Paru-paru ) menunjukkan Destroyed lung, jaringan paru-parunya sudah rusak yang sukar sembuh 100 %.

Jadi kesembuhan setiap pasien berbeda-beda meskipun sudah saya pegang, saya beri obat dan beri motivasi agar rajin minum obat dan makan gizi yang baik sekalipun.

Kesembuhan penyakit tergantung dari: parahnya penyakit, kepatuhan minum obat, gizi yang baik dan rajin berdoa mohon kesembuhan. Amin.

Selasa, April 06, 2010

Sakit perut hebat





Pagi ini datang berobat Pak C diantar isterinya. Keluhan Pak C adalah nyeri perut kanan atas ( daerah Hati dan Kandung Empedu ). Sambil memasuki Ruang Periksa Pak C memegang perut kanan atasnya.

Tekanan darahnya normal, Jantung, Paru-paru: normal.
Pak C gelisah mirip kena Serangan Jantung.
Kalau Heart attack, lokasinya di Ulu hati atau dada kiri.
Keluhan Pak C tidak begitu pas untuk Heart attack.

Saya segera mengambil 1 tablet Panadol dan segelas air mineral. Pak C saya minta untuk segera minum tablet itu untuk mengurangi rasa nyerinya. Setelah Pak C minum tablet itu, pikiran saya segera bekerja keras. Sakit apa pasien saya ini dengan keluhan seperti adanya Kolik bilier, rasa nyeri akibat sumbatan saluran Kandung Empedu.
Saya menduga adanya Batu Kandung Empedu.

Saya membuat resep sebuah tablet penghilang nyeri dan penenang. Juga saya membuat Surat Pengantar ke salah satu Laboratorium Klinik, untuk pembuatan USG ( Ultra Sono Grafi ) bagi Pak C.

1 jam kemudian Ibu C memasuki Ruang Periksa saya sambil membawa Laporan USG Pak C.

Ibu C berkata “ Setelah minum tablet Panadol tadi, rasa nyerinya agak baikan, Dok. Hebat dengan tablet Panadol saja nyerinya berkurang banyak. Dokter hebat ”

Ah…kerja saya belum selesai, dibilang hebat. Malu hati saya mendengar ucapan Ibu C ini.

Laporan USG terlihat adanya Radang Saluran dan Kandung Empedu. Tidak ada Batu pada Kandung Empedu, kedua Ginjal dan Kandung Kencing. Saya merasa lega.
Kalau hanya infeksi maka terapi dengan Antibiotika saja tentu akan membantu. Kalau ada Batu maka ceritanya akan lebih panjang, kemungkinan besar harus operasi Laparoskopi dan menelan banyak biaya.

Ibu C berkonsultasi dengan putranya di Bandung, apakah tidak sebaiknya dibawa ke Bandung yang punya fasilitas lebih baik dari pada di kota kami.

Saya memberi pandangan bahwa kalau hanya infeksi saja terapi 1 minggu dengan Antibiotika akan sembuh dengan biaya yang lebih murah dari pada harus masuk Rumah Sakit. Semuanya terpulang kepada keluarga Pak C, mau dibawa ke Bandung juga silahkan. Akhirnya mereka setuju bila Pak C minum antibiotika dahulu, bila dalam 1-2 hari masih ada keluhan nyeri sebaiknya di bawa ke Bandung.

Pagi itu pengalaman saya bertambah satu lagi.

Koma hiperglikemikum






Kemarin pagi keluarga Pak M, datang ke tempat praktik saya. Putra Pak M almarhum minta agar saya dapat datang ke rumah mereka untuk memeriksa ibunya.

Segera kami meluncur ke rumah mereka. Pak M sudah meninggal 4 tahun yang lalu.
Setiba di rumah mereka, saya melihat Ibu M terbaring di bed.

Tekanan darahnya 160/100 mmHG ( tinggi, padahal ia sedang tidsak sadar ), Pupilnya midriasis ( melebar ), Reflex cahaya: negatip, Bunyi Paru: banyak lendir, Bunyi Jantung normal.

Putra/inya mengatakan bahwa Ibu mereka sejak sore pukul 18.00 berbaring dan seperti tidak sadar. Saat saya memeriksanya waktu menunjukkan pukul. 07.30, sudah lebih dari 12 jam pasien tidak sadar. Mereka mengira Ibunya sedang tidur.

Hasil pemeriksaan Gula darahnya sehari sebelumnya: 538 mg% ( tinggi sekali ).
Saya membuat Diagnosa: Koma hiperglikemikum. Pasien mesti segera dirawat di Rumah Sakit. Keluarga Ibu M menolak, dengan alasan tidak ada dana(?).

Saya memberi penjelasan “ Ibu M sebaiknya dirawat di Rumah Sakit terdekat. Kalau dibiarkan saja, maka anda sekeluarga tidak berupaya untuk kesembuhan Ibu anda. Bila di rumah saja berarti hanya menunggu. Kalau di Rumah Sakit ada upaya pertolongan Ibu anda yang saat ini sedang tidak berdaya. Segeralah bawa Ibu anda ke Rumah Sakit Anu ( yang paling dekat dengan rumah mereka ).”

Saya segera membuat Surat Rujukan bagi Ibu M ke Rumah Sakit Anu.
Setelah itu saya mohon pamit sebab saya harus buka praktik pagi. Saya menolak amplop untuk saya.

Hubungan saya dan Bapak/Ibu M cukup baik. Pak M sering saya minta bantuannya untuk urusan listrik di rumah kami. Beberapa kali kalau Pak M berobat / kontrol tekanan darah, saya tidak pernah menraik biaya pemeriksaaan baginya.

4 tahun yang lalu Pak M meninggal dunia di Rumah Sakit Anu, setelah mengalami 3 kali Koma semasa hidupnya. Yang terakhir kalinya tidak tertolong lagi. Saya khawatir saat ini, Ibu M kalau tidak segera dirawat di RS akan mengalami hal yang sama. Semoga tidak.

Jumat, April 02, 2010

Menopause






Menopause atau berhenti haid merupakan hal yang biasa terjadi dan akan dialami oleh kaum wanita.

Datang bulan, Haid atau Menstruasi bagi wanita merupakan kejadian yang akan dialaminya.
Haid pertama kali ( menarrche ) dialami pada wanita usia 11-12 tahun, kadang kala terjadi bahkan pada usia yang lebih muda. Mulai saat itu Ovarium ( indung telur ) sudah mulai berfungsi menghasilkan ovum ( sel telur ). Ovum ini akan dilepaskan pada masa subur yaitu 14 hari sebelum haid berikutnya. Pada bulan-bulan pertama Haid masih belum teratur. Kadang sebulan 2 kali, kadang datang 2 bulan sekali, setelah itu Haid akan datang secara teratur setiap bulannya.

Haid akan datang setiap bulan ( bila tidak hamil ) dan akan berhenti ( Menopause ) pada usia sekitar 48 - 51 tahun. Pergantian masa subur dan masa Menopause akan terjadi suatu masa peralihan. Haid datang tidak teratur, sedikit kadang banyak darah yang keluar dan akhirnya Haid berhenti total.

---

Ibu M, 49 tahun berobat dengan keluhan Haid tidak teratur sejak 4 bulan lalu. Ia adalah seorang akseptor KB dengan memakai Spiral (IUD ), khawatir kalau ia hamil lagi. Anaknya sudah 3 orang, yang sulung sudahmenikah dan yang 2 orang lain maish kuliah. Ia tidak ingin mempunyai anak lagi mengingat usia yang sudah lanjut.

Kalau pakai Spiral maka kemungkinan hamil sedikit sekali. Hasil pemeriksaan test kehamilannya: Negatip ( tidak sedang hamil ).

Semua pemeriksaan fisik Ibu M dalam batas normal. Ibu M mengalami sedikit depresi.
Saya memberi masukan bahwa Haid yang tidak teratur yang dialaminya itu kemungkinan besar karena ia sedang memasuki usia peralihan dari masa subur ke masa Menopause. Jadi tidak perlu dikhawatirkan. Semua wanita akan mengalami hal yang sama. Ia dapat mengerti penjelasan saya.

Satu hal yang masih mengganjal adalah rasa kesepian dalam kehidupan sehari-harinya. Suaminya yang sibuk dengan usahanya kadang jarang pulang akibat pergi keluar kota. Anak-anaknya sudah jarang di rumah karena kesibukan study dan aktifitas sehari-hari. Akibatnya Ibu M merasa ia sudah tidak diperlukan lagi oleh keluarganya ( suami dan anak-anaknya ). Ia sedih, mengapa hal itu dapat terjadi menimpa dirinya?

Saya mesti memberi perhatian dan masukan agak panjang kepada Ibu M.
Masalah fisik dan kesehatannya tidak perlu dirisaukan karena kesehatnnya cukup baik. Rasa kesepiannya dapat diatasi dengan mengisi hari-hari di rumahnya dengan menggiatkan hoby berkebun dan musiknya. Menanam tanaman hias di pot-pot di halaman rumahnya akan banyak menyita waktu. Main Organ kesayangannya juga dapat mengisi kesepiannya. Mengikuti arisan, silaturahmi dengan teman-teman sebayanya juga dapat membantu dan menghilangkan rasa kesepiannya.

Akhirnya Ibu M merasa masih kekurangan waktu untuk aktifitas barunya itu.
Waktu untuk semua orang sudah diberi sama banyaknya yaitu 24 jam setiap harinya. Tergantung kita mau memanfaatkan untuk apa waktu 24 jam itu, terpulang kepada kita masing-masing.

Rasa bahagia bukan berada di luar, tetapi berada di dalam hati kita sendiri.

---

Ingin bahagia?

Untuk sehari, pergilah mancing.
Untuk sebulan, menikahlah.
Untuk setahun, warisi harta.
Untuk selamanya, tolonglah orang lain

Rahasia






Kemarin datang berobat Pak K, 35 tahun yang berkerja di salah satu perusahaan swasta.
Keluhan Flu memang banyak diderita pada saat ini dimana hujan masih banyak turun dan udara menjadi agak dingin.

Setelah mendapat pelayanan kesehatan dari saya dan menerima resep obat, Pak K minta diberi Kwitansi pembayaran seperti lazimnya karyawan yang berobat kepada saya.

Permintaan Pak K. agar pada Kwitansi itu dituliskan Diagnosa penyakitnya inilah yang menggelitik saya.

Saya bertanya “Pak, sebenarnya untuk apa sih pihak perusahaan anda mengetahui penyakit para karyawannya?”

Pak K “Iya dok, saya juga tidak tahu untuk apa. Lagi pula kalau dokter menuliskan diagnosa penyakit, apakah yang berwenang di kantor saya dapat mengerti.”

Saya melanjutkan “Pak, sebenarnya antara dokter dan pasien ada rahasia jabatan. Dokter tidak boleh memberitahukan penyakit pasiennya kepada pihak ketiga ( suami / isteri / orang tua / mertua / anak / anak mantu / atasan / baweahan / bendahara di kantor dll ), kecuali kalau penyakitnya itu merupakan penyakit Wabah seperti Demam Berdarah dll. Dokter boleh membocorkan rahasia ini bila pasien menyetujuinya. Nah bagaimana kalau pasien / karyawan itu sakit kelamin setiap bulannya? Pasti Bendahara di kantor anda mengetahui penyakit anda dan dapat pula membocorkan kepada orang lain. Akibatnya anda akan mendapat malu yang sebenarnya tidak perlu diketahui oleh orang lain.”

Pak K menjawab “Benar kata doter itu, tetapi kalau pada kwitansi tidak tercantum diagnosa penyakit, saya tidak mendapat penggantian dari kantor.”

“Ya Tuhan.... sudah salah kaprah. Pihak Kantor dapat mengetahui isi perut ( gaji semua karyawan ) dan juga semua rahasia kesehatan para karyawannya. Hak azasi para karyawan sudah dilanggarnya. Anehnya tidak ada satu karyawanpun yang protes atau demo. Pasrah demi mendapatkan penggantian biaya berobat. Pihak karyawan selalu dikalahkan oleh pihak pemberi kerja.

---

Beberapa bulan yang lalu saya ingin mengetahui berapa saldo tabungan saya di salah satu Bank. Saya pikir sambil mengambil kwitansi pembayaran PLN, PDAM dan Telepon yang didebet oleh Bank saya itu, saya bertanya kepada salah seorang Customer Service yang bertugas saat itu.

Saya bertanya “Ibu, saya ingin tahu berapa saldo tabungan saya, ini nomer rekening tabungan saya. Saya lupa membawa kartu ATM saya sehingga saya tidak dapat melihat saldo di mesin ATM.”

Sang CS menjawab dengan anggunnya “Saya tidak bisa memberitahukannya, kecuali kalau Bapak punya rekening Giro ( yang dapat dipakai untuk membuat Giro / Cek ).”

Saya ngeyel “Mengapa tidak boleh mengetahui uang saya sendiri di Bank ini.”

Sang CS menjawab “Itu rahasia Bank!”

Glek…saya terhenyak. Rahasia Bank? Dokter juga punya Rahasia Pasien yang tidak boleh pihak Bank mengetahuinya, tetapi tetap bila karyawannya berobat minta diberikan Diagnosa ( Rahasia Pasien ) pada Kwitansi pembayaran. Dunia sudah terbalik-balik.

Para Nasabah tidak boleh bertanya berapa sisa saldo tabungannya langsung kepada pihak CS. Boleh diketahui hanya dengan melihatnya di mesin ATM atau melalui Internet Banking yang tidak semua nasabah dapat mengaksesnya sebab masih Gaptek atau tidak punya Komputer.

Hari itu pengetahui saya bertambah satu lagi yaitu tentang sebuah Rahasia Bank dan Rahasia Pasien. Sama rahasianya tetapi beda pelaksanaannya!

---

Saldo di Bank bukan ukuran dari kekayaan anda.
Kekayaan adalah apa yang ada disekeliling hidup anda.

Kamis, April 01, 2010

Terlalu mahal?



Pagi ini saya kedatangan pasien antara lain, sepasang suami-isteri. Pak B, 50 tahun dan Ibu B, 48 tahun. Mereka baru pertama kali datang berobat.

Setelah mencatat Identitas dan Anamnesa ( riwayat penyakit ) Ibu B, saya persilahkan ia berbaring di bed pemeriksaan. Pak B menyodorkan 2 lembar Fotokopian Surat dari sebuah Perusahaan Asuransi yang harus saya isi untuk pengajuan klaim dari pasien ke perusahaan Asuransi tsb.

Sebelum bertindak lebih lanjut, saya memberi informasi tentang biaya pemeriksaan oleh saya per pasiennya kepada Pak B. Pak B menganggap biaya pemeriksaan oleh saya terlalu mahal (?). ia menyebutkan biaya yang lebih kecil. Saya benarkan dan itu adalah biaya pemeriksaan 3 tahun yang lalu, sekarang sudah ada penyesuaian. Pak B berkeberatan karena untuk 1 orang pasien saja dianggap terlalu mahal, apalagi biaya pemeriksaan bagi 2 orang pasien.

Saya menganggap aneh sebab biaya itu toh akan diganti oleh Perusahaan Asuransinya.
Untuk menghindari panjangnya masalah, maka saya berkata kepada Pak B “Kalau Bapak berkeberatan, tidak apa-apa. Bapak tidak usah bayar apa-apa. Mungkin Bapak dapat mencari Dokter lain atau berobat ke pelayanan kesehatan lain misalnya Rumah Sakit Umum atau Puskesmas setempat.”

Ibu B turun dari bed sebelum diperiksa oleh saya. Kasihan juga isteri Pak B ini, sudah mau diperiksa tetapi suaminya berkeberatan tentang biaya pemeriksaan ada lagi ditambah keinginannya minta suntikan agar lekas sembuh Flu isterinya.

Baru pertama kali saya menjumpai pasien seperti itu. Saya bukan berkeberatan pemberian gratis biaya pemeriksaan, tetapi biaya akan diganti oleh Asuransi lalu mengapa bereberatan?
Aneh dan Pak B pagi ini sudah mengecewakan isteri tercintanya yang sedang sakit tetapi batal berobat.

---

Saldo di Bank bukan ukuran dari kekayaan anda.
Kekayaan adalah apa yang ada di sekeliling hidup anda.