Wednesday, February 10, 2010

Terima kasih






2 kata yang mudah dilakukan, tetapi sering dilupakan yaitu: Maaf dan Terima kasih.

Kalau orang lupa berterima kasih, itu suatu hal yang wajar. Oleh karena itu, sebaiknya kita jangan mengharap mendapat rasa terima kasih, sebab hal itu hanya akan membuat hati kita jadi sakit dan kesal ( Dale Carnegie, Petunjuk Hidup Tentram dan Bahagia, PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 20 ed. 2004 )

Salah satu penyebab kata Maaf tidak mau diucapkan adalah perasaan gengsi. Gengsi itu mahal.
Terima kasih tidak disampaikan salah satu penyebabnya lupa. Lupa manusiawi juga kan, tapi kalau tiap hari lupa itu namanya apa ya.

---

Pasien yang sudah datang berobat kepada saya, ada yang mengucapkan terima kasih dan lebih banyak yang tidak mengucapkan terima kasih. Penyebabnya mungkin karena mereka merasa sudah membayar biaya pemeriksaan. Jadi untuk apa bilang terima kasih lagi? Betul, tapi mereka juga lupa bahwa mereka juga sudah ditolong bahkan pada hari Minggu / libur sekalipun.

Bila kita setiap detik menghirup udara segar dari alam sekitar kita dengan gratis, apakah kita patut / tidak patut mengucapkan terima kasih kepada Yang Diatas? Tuhan sudah memberikan dengan gratis.

Coba amatilah pasien-pasien yang dirawat di setiap rumah sakit yang mendapat hembusan gas Oksigen. Setiap hirupan Oksigen ada harganya dan keesokan paginya sudah terhitung sudah habis 1 tabung Oksigen dan berapa Rupiah akan ditagihkan kepada kita? Padahal di alam bebas kita menghidup Oksigen dari udara dengan gratis tis. Apakah kita perlu mengucapkan terima kasih kepadaNya?

Mestinya iya, tapi apa yang terjadi? Udara segar dirusak manusia akibat polusi udara ( air polution ) dimana-mana, baik di kota ( asap rokok, asap knalpot, asap pabrik/industri dll ) dan di luar kota ( pembakaran hutan, pertambangan dll ). Manusia lupa berterima kasih kepada Sang pencipta dan bahkan sudah merusaknya selama bertahun-tahun.

Apa akibatnya?
Ada banyak penyakit akibat polusi udara seperti: Bronchitis khronis ( akibat asap rokok, dll ), Asbestosis ( menghirup partikel asbes di pertambang ) dll.

Mulai dari sekarang kita mesti berterima kasih kepada orang lain dan kepada Sang Pencipta.
Caranya?
Jangan merusak alam, jangan membuat udara menjadi kotor dengan asap yang tidak perlu, menanam banyak pohon disekitar kita dll lagi.

Marilah kita rajin mengucapkan terima kasih dan kalau perlu minta maaf.

Saturday, February 06, 2010

Blog saya


Sejak beberapa tahun yang lalu saya menulis ( terutama pengalaman saya menghadapi pasien ) di Blog saya ( http://www.basukipramana.blogspot.com ), saya tidak begitu antusias akan mendapat banyak kunjungan, banyak pertanyaan dan banyak komentar.

Mengingat isi Blog terutama menyangkut pengalaman seseorang ( saya ), maka tentunya hanya sekedar sharing kepada para Blogger yang datang berkunjung.

Setelah Hit counter Blog menunjukan angka diatas 500, banyak komentar yang masuk yang bersisi banyak pertanyaan tentang apa yang saya pernah tulis / posting ke Blog saya tsb. Pertanyaan kesehatan ada juga yang banyak masuk, padahal Blog saya bukanlah suatu Ruang Konkes ( Konsultasi Kesehatan ) yang dimiliki oleh para Teman Sejawat Dokter Spesialist. Oleh karena masih dalam bidang medis maka akhirnya saya berkenan juga menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk.

Yang lucu adalah ketika saya menulis tentang Antene penguat Sinyal HP / Modem komputer/Laptop, banyak yang mengajukan pertanyaan: dimana beli alat tsb dan berapa harganya ( padahal dalam artikel tsb sudah saya jelaskan apa yang saya alami dan apa yang saya lakukan untuk mendapat sinyal yang kuat bagi Modem). Dikiranya saya juga penjual alat tsb.

Mempunyai sebuah atau lebih Blog tentu ada suka dukanya.

Bagi saya sukanya adalah: saya dapat menulis sesuatu artikel yang dapat dipublish ke sebuah Blog. Konon menulis adalah salah satu cara untuk mengurangi Stres.Lho Dokter kok punya Stres?? Setiap orang kan mempunyai masalah yang berbeda-beda. Stres bukan untuk dihilangkan tetapi untuk diatasi dengan baik. Sering kali Astres merupakan suatu pemacu untuk berkarya ( menulis, menggubah lagu dll ). Hidup sendirian pun dapat merupakan Stres tersendiri.

Dukanya mempunyai Blog yaitu ketika menerima komentar yang Negatip ( bukannya Komentar yang membangun / Positip ). Sudah memberi Komentar yang Negatip, lalu namanyapun tidak dicantumkan ( anonymous ) bak Lempar batu sembunyi tangan. Kalau mod saya sedang tidak baik, saking jengkelnya, komentar mereka saya delete saja, habis perkara, daripada nyebelin. Kalau masih juga komentar Negatip itu muncul lagi, maka artikel tsb saya delete saja. Sampai saat ini masih belum terpikir apakah Blog saya ini saya delete saja agar tidak muncul lagi di Internet.

Bagaimana pendapat Anda? Terima kasih sudah berkunjung.

Pasien serius

 

Kebalikan dari intisari posting saya sebelumnya, maka kali ini ada Pasien yang serius.

Pagi ini pk. 06.00 ketika saya membersihkan mobil kami di halaman depan rmah kami,  datang Pak Ahmad ( bukan nama sebenarnya ), 35 tahun, ingin berobat kepada isteri saya yang dokter umum juga.

Saya jawab belum buka praktik. Isteri saya belum siap karena edang mengurus kebutuhan sarapan pagi kami dll pekerjaan rumah tangga.  Kalau mau berobat sebentar lagilah pk. 07.00.

Wajah Pak Ahmad masam, pikirnya sudah jauh-jauh datang ke tempat praktik dokter, dokternya belum siap. Lha, mana ada dokter buka praktik sepagi pukul 06.00 WIB di kota kami? Akhirnya Pak Ahmad meninggalkan rumah kami dengan mengendarai Minibus Daihatsu Xenia, warna Silver.

Pukul 07.15 saya selesai dengan tugas membersihkan mobil kami. Pak Ahmad masih belum datang kembali. Sampai pukul  08.15 juga masih belum datang juga. Ya sudah. Mungkin Pak Ahmad marah, mau berobat tidak bisa. Sebenarnya bukan tidak bisa, kalau mau saya layani kan bisa juga, tapi ia tidak mau. Maunya diperiksa oleh isteri saya. Sekarang dokter tidak bisa atur pasien, tapi pasien yang atur Dokter.

Friday, February 05, 2010

Pasien tidak serius

 

Kalau ada pasien yang datang ke tempat pratik, tentu mereka akan datang untuk berobat atau memeriksakan diri / keluarganya.

Saya sering menghadapi calon pasien yang tidak serius. Saya berikan contoh 2 kasus calon pasien yang demikian.

---

Pertama:

3 hari yang lalu  pagi hari sekitr pukul 06.00, saya mendapat panggilan telepon. Suara seorang wanita bertanya apakah benar ini tempat dokter ( isteri saya ).

Saya jawab “ Benar, anda siapa?

Ia menjawab “Saya Ibu Eni ( bukan nama sebenarnya )

Ia bertanya lagi “ Kalau pagi praktiknya pukul berapa dan kalau sore pukul berapa?”

Saya jawab kembali “Praktik pagi pukul 08.00 – 10.00 dan sore puku 16.00 – 20.00. Kalau Ibu mau berobat pagi hari saja sebab kalau sore sering turun hujan”. Maklum saat ini sedang musim hujan.

Ia menjawab “Baik nanti saya akan datang.”

Kami menunggu kedatangannya. Ditunggu  pagi atau sore pun ia tidak datang. Tidak ada pasien yang berobat yang bernama Ibu Eni. Kalau tidak mau datang, lalu untuk apa ia menelepon tempat kami?

Kedua:

Kemarin pagi, saat saya praktik pagi, datang seorang wanita usia sekitar 30 tahun.

Ia bertanya apakah pagi in saya masih pratik?

Saya menjawab “Masih pratik sampai pukul 10.00.”

Ia berkata lagi “Baik Pak, saya akan pulang untuk menjemput anak saya.” Rupanya ia mencari tau apakah dokter buka pratik tidak pada pagi itu. Bila benar, maka ia akan datang membawa anaknya yang sakit untuk berobat.

Saya menunggu kedatangan Ibu tsb sampai saat tutup praktik. Yang ditunggu tidak datang kembali. Lalu pertanyaan yang muncul di pikiran saya, untuk apa susah payah bertanya ( dan buang-buang ongkos becak sebagai alat  transportasi ) apakah dokter praktik pagi itu atau tidak?

---

Seringkali saya membatin, kok ada ya orang yang bersikap seperti itu. Kalau tidak serius untuk berobat ya tidak usah repot-repot menelepon  atau datang ke tempat praktik.

Kejadian seperti itu bukan kali itu saja saya alami, tetapi ada banyak kejadian yang serupa.

 

 

Sunday, January 24, 2010

Perbedaan sikap pasien



 Seminggu yang lalu datang berobat, Tn. Husin ( bukan nama sebenarnya ), 38 th.

Tn Husin mengeluh sejak 1 minggu yang lalu, badan lesu, tidak selera makan, ada flu, batuk. Tekanan darah: 120/80 mmHg ( normal ), pemeriksaan Fisik: dalam batas normal.

Tn. Husin sepertinya menderita Flu dan mungkin ada Anemia ( kurang zat Besi dalam tubuhnya ). Saya menyarankan agar dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan darah untuk mengetahui apa penyebabnya.

Pasien tsb menolak advis saya dan ia  minta resep obat saja  tanpa mau dilakukan pemeriksaan darah. Melihat keadaannya, Status sosial Tn. Husin ini dari golongan menengah.

---

Tiga hari yang lalu datang berobat Ibu Eni, 40 tahun dari sebuah Desa yang berjarak sekitar 15 km dari tempat pratik saya. Status sosial Ibu Eni dari golongan bawah.

Ibu Eni sejak 5 hari yang lalu mengeluh batuk pilek, badan lesu. Ibu Eni diantar oleh suaminya Pak Sarno. Setelah dilakukan pemeriksaan, Fisik Ibu Eni dalam batas normal. Ia menderita Flu.

Ketika saya membuat resep obat baginya, Ibu Eni meminta kepada saya agar dibuat Foto Paru-paru.

Saya bertanya “Untuk apa, Ibu?”

Ibu Eni menjawab “ Agar penyakitnya diketahui dan tuntas pengobatannya.”

Saya menjawab lagi “ Tidak perlu Ibu. Ibu hanya menderita Flu saja dan tidak perlu dibuat Foto Paru-paru.”

Ibu Eni tampak tidak puas dan ngotot minta dibuat Foto Paru-paru. Saat itu ia menambahkan bahwa ia juga kadang-kadang menderita sesak nafas ngik-ngik ( ashma ).

Akhirnya saya membuat Surat Pengantar ke Klinik Rontgen untuk membuat Foto yang dimaksud dengan tujuan agar keadaan Paru-paru Ibu Eni dapat diketahui secara Radiologis dan pasien merasa puas kalau sudah di Rontgen.

-----

Dari kedua kasus ini nampak bahwa yang satu dari Kota ( golongan menengah ) menolak dilakukan pemeriksaan Laboratorium dan pasien yang lain dari Kabupaten ( golongan bawah ) ngotot minta dilakukan pembuatan Foto Rontgen.

Pertanyaan yang timbul dalam pikiran saya: mengapa terjadi begitu kontras?

Yang jelas: kedua pasien tadi menginginkan kesembuhan penyakitnya.

Yang masih belum jelas: mengapa yang satu menolak pemeriksaan penunjang dan yang lain ngotot minta pemeriksaan penunjang meskipun ia dari golongan bawah tetapi ia sangat ingin dilakukan pemeriksaan Foto Paru-paru. Mungkin juga ia  bangga kalau ia sudah di Rontgen oleh dokter di kota dan diketahui apa penyakitnya.

Sunday, January 17, 2010

Masuk ke roda sepeda


 

4 hari yang lalu datang berobat Bapak Ibu Sadikin ( bukan nama sebenarnya ). Mereka membawa seorang putranya, Udin ( bukan nama sebenarnya ) 3 tahun.

Kaki kiri Udin  dekat pergelangan kaki berlumuran darah. Udin  menangis sekencang-kencangnya. Ruang Tunggu dan Ruang Periksa jadi heboh. Udin berteriak-teriak kesakitan.

Ortunya berkisah bahwa  baru saja kaki Udin telah masuk ke roda ( jeruji ) belakang sepeda yang dikendarai Pak Sadikin. Hal ini menyebabkan  kaki kiri Udin luka lecet sampai sebagian kulit terkelupas. Ah … kasihan betul si Udin ini.

Segera saya membersihkan luka tsb dan memberikan salep kulit yang mengandung Antibiotika sebagai pencegahan  infeksi. Setelah mencatat data pasien dan penyakitnya, saya  membuat resep obat untuk Udin.

1 hari yang lalu Pak dan Ibu Sadikin datang  untuk kontrol luka kaki Udin.

Saya melihat Luka  kering tetapi  masih membutuhkan waktu untuk sembuh benar. Saya menambahkan obat-obatan dalam sebuah resep bagi Udin.

Saya memberi masukkan agar Pak Sadikin membuat pengaman  di sepedanya agar lain kali kaki Udin atau siapapun yang dibonceng Pak Sadikin tidak masuk ke dalam jeruji ( roda ) belakang sepeda. Ia setuju dan mengatakan bahwa dekat rumah mereka ada tukang yang membuat Kap / atap mobil, perbaiki sofa dll. Tukang tsb dapat dimintai bantuannya untuk membuat pengaman  yang terbuat dari kain terpal ( sejenis kain yang agak tebal ) untuk menutup roda belakang sepeda kesayangan Pak Sadikin tadi.

---

Setelah mereka keluar dari Ruang periksa, pikiran saya melayang pada tahun 1984-1985, dimana  saat itu  putra dan putri kami sering kami ajak pergi ke tempat bermain anak-anak atau Mall. Kami sudah tidak mempunyai sepeda lagi. Kami beruntung sudah memiliki kendaraan roda-4, sebuah minibus meskipun  sudah agak tua. Lumayan dari pada naik sepeda / sepeda motor yang  kalau hujan pasti kehujanan dan ada resiko kaki putra atau putri kami masuk ke jeruji sepede / sepeda motor. Lebih baik lagi  kalau  naik Vespa, karena roda belakangnya tertutup bagian body Vespa.

Thursday, January 14, 2010

Geger otak


Kasus ini sering terjadi apabila terjadi benturan pada kepala ( Trauma capitis ), akibat kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, terjatuh dari ketinggian, pukulan kepada kepala dll.

---

1 hari yang lalu Pak Alimin ( bukan nama sebenarnya ), 49 tahun datang berobat diantar kakak dan adiknya. Pak Alimin pernah berobat 2 kali kepada saya.

Kali ini Pak Alimin terjath dari sepeda motor yang dikendarainya.

Saya melihat keadaan umumnya : jelek. Pada wajah, kepala terdapat luka memar, pada lengan kanan  dan tungkai kanan terdapat beberapa luka lecet. Sesudah duduk di kursi, pak Alimin menunjukan tanda-tanda akan muntah. Saya mengambil sebuah ember untuk menampung muntahannya. Beberapa saat kemudian ia muntah, cukup banyak  makanan yang belum tercerna, keluar dan masuk ke ember tadi.

Tekanan darahnya 140/80, keadaan umumnya lemah. Kasihan ia menderita Commotio cerebri ( geger otak ).

Saya menganjurkan agar Pak Alimn ini segera dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Kakak perempuannya langsung tidak setuju dengan alasan tidak ada biaya meskipun masuk  ke RS Umum.

Saya membuatkan Surat Rujukan ke Rumah Sakit bila kemudian pasien berseda di rujuk ke RS. Selain itu saya membuatkan Resep obat yang berisi  tablet anti muntah, kapsul antibiotika, tablet anti nyeri.

Hari ini ( keesokan harinya ), kakak perempuannya menelepon saya  dan melaporkan bahwa Pak Alimin, masih sakit kepala dan minta obat baru ( kalau ada ). Saya bilang obat yang kemarin sudah mengandung obat anti nyeri. Sebaiknya masuk RS saja. Lagi-lagi ia menolaknya. Ya sudah mau apa lagi. Saya bilang maaf saya tidak dapat membantu lebih lanjut selain dirawat di RS.

---

Untuk berbuat kebaikanpun sering kali mengalami kesulitan. Ada banyak batu sandungan.

Sunday, January 03, 2010

Pasien bingung


3 hari yang lalu datang berobat sepasang suami isteri.

Ibu Lili ( bukan nama sebenarnya ), 62 tahun diantar suaminya Pak Hari ( bukan nama sebenarnya ), 65 tahun.

Seperti biasa saya mengawali pertemuan dengan menanykan nama, umur, alamat dan keluhan pasien.

“Nama Ibu siapa” saya bertanya.

Ibu Lili melihat wajah suaminya, seolah-olah minta dukungan.

“Nama saya Elisa ( bukan nama sebenarnya ).”

Saya bertanya kembali “Nama Ibu siapa?”

Sang pasien  berkata “em…em…sebenarnya nama saya Lili, tapi pakai saja nama putri kami Elisa”.

Saya bertanya lagi ”Nama Ibu sebenarnya Elisa atau Lili?”

Pasien diam.

“Berapa umur Ibu?” saya bertanya kembali.

Ibu Lili lagi-lagi melihat wajah suaminya. 

Suaminya menjawab “Dok, pakai saja nama anak saya, sebab biayanya akan diganti oleh Kantor anak saya.”

Nah ketahuan juga akhirnya, bahwa jawaban pasien saya tidak benar dan akan membebankan biaya pemeriksaan dan harga obat di Apotik atas tanggungan Kantor putrinya. Kantor hanya  menanggung biaya pengobatan karyawannya. Ibu Lili bukan karyawan Kantor tsb, sehingga tidak benar kalau saya harus berbuat tidak benar.

Mereka memanfaatkan fasilitas Kantor putrinya untuk membiayai pengobatan Ibunya dan mungkin lain kali untuk membiayai pengobatan Ayahnya.

Saya sangat mengerti akan keadaan sosial ekonomi mereka, sehingga mereka berbohong tentang nama sebenarnya. Kalau kali ini berbohong, maka lain kali akan berbohong lagi dst dst.

Saya dengan ikhlas berkata kemudian “Ibu boleh berobat dan saya akan mencantumkan nama Ibu yang sebenarnya ( Lili ) dan bukan nama putri Ibu ( Elisa ). Kalau Ibu tidak punya uang, Ibu tidak usah membayar biaya pemeriksaan. Mari saya periksa dahulu kesehatan Ibu.”

Ibu Lili mengeluh penyakit Flu dan batuknya sejak 3 hari yang lalu.

Selesai memerksa Ibu Lili saya membuat Resep obat yang harus diambil di Apotik.

Ibu Lili menyodorkan selembar uang kertas. Saya mengambil uang itu dan menyerahkan kembali bersama Resep obat tadi.

“Ibu Lili, silahkan Ibu ambil obat di Apotik dengan uang ini. Saya tidak dapat memberi Kwitansi biaya pengobatan.”

Ibu Lili dan Pak Hari tampak kebingungan.

Saya mempersilahkan mereka meninggalkan Ruang periksa dengan membukakan pintu keluar.

Saya mendengar suara mereka berbarengan “Terima kasih, Dok.”

Saya menjawab “Iya Bu, sama-sama. Semoga lekas sembuh.”

Thursday, December 31, 2009

Minta Kalender 2010


Sepanjang masa praktik sejak tahun 1980, belum pernah ada pasien yang mengajukan permintaan seperti kisah dibawah ini.

2 hari yang lalu datang pasien Tn. Ali ( bukan nama sebenarnya ) bersama isteri dan putrinya Siti ( Bukan nama sebenarnya ), 1 tahun. Siti menderita Flu dan batuk. Selesai bertanya dan memeriksa pasien saya membuat resep untuk Siti.

Selesai memberikan doctor fee, Pak Ali mengajukan sebuah permintaan “Dok, saya minta sebuah kalender.”

Glek… saya terkejut juga. Belum penah ada pasien / keluarga pasien yang setelah bayar doctor fee kemudian meminta Kalender ( maklum akhir tahun ).Mungkin Pak Ali menyamakan saya dengan toko-toko kelontong yang pada akhir tahun biasa memberikan sebuah kalender Tahun depan sebagai promosi Tokonya. Lha perusaan-perusahaan obat saja sejak beberapa tahun terakhir jarang yang membuat kalender sebagai sarana promosi pabrik obatnya. Saya minggu lalu membeli 3 buah kalender 2010 di Kios Majalah untuk dipasang di Ruang praktik saya dan isteri saya, dan di Rumah.

“Maaf Pak Ali, saya tidak punya kalender. Saya sendiri beli kalender di Kios Majalah.”

Pak Ali meninggalkan Ruang Periksa dengan senyum kecut.-

Thursday, December 24, 2009

Khitan


Ah...sudah beberapa hari saya tidak posting ke Blog saya, karena kesibukan rutin menjelang akhir tahun 2009 ini.

Khitan atau sirkumsisi dilakukan atas beberapa indikasi, antara lain:

1. Keagamaam

2. Kesehatan

3. Kecelakaan ( terjepit rustleiting celana dll ).

Khitan umumnya dilakukan pada anak yang Muslim, tetapi ada juga yang bukan Muslim minta di khitan. Dalam kurun waktu 6 bulan ini saya melakukan khitan pada anak yang bukan Muslim. Cara yang saya pakai adalah pemotongan kulit Preputium ( kulup ) dengan alat kauter dengan sumber daya listrik PLN. 

Keuntungan cara ini adalah tidak terjadi perdarahan akibat pemotongan Preputium ini. Panas yang ditimbulkan oleh alat kauter akan  menutup pembuluh darah di kulit Preputium.

Anestesi lokal yang diberikan adalah cara Block anethesi dengan menyuntikkan larutan Lidocain 2% pada pangkal Penis.

Keburukan cara ini adalah: matinya aliran Listrik PLN, sehingga alat  kauter tidak berfungsi. Bila ini terjadi, maka saya menghidupkan alat pembangkit listrik  dari sebuah Generator dengan kapasitar 2.500 Watt yang sudah terpasang di rumah kami.

Sebelum khitan dilakukan saya minta tanda tangan ayahnya untuk menanda tangani Surat Ijin  untuk dilakukan khitan  kepada putranya.

---

Kasus pertama:

Henri ( bukan nama sebenarnya ), 6 tahun, non Muslim,  bila pergi ke Toilet di sekolah biasanya bersama beberapa teman sekolahnya. Teman-temannya  sering melihat alat kelamin H. H sering diejek karena belum di khitan. Ejekan teman-temannya ini menyebabkan H menjadi tidak PD dan minta kepada Ortunya untk minta dikhitan. Nah..saat liburan sekolah tiba H dikhitan oleh saya. H tidak diejek lagi oleh teman-temannya bila pipis di toilet sekolahnya. Khitan pada kasus H ini berdasar atas permintaan anaknya.

Kasus kedua:

Joni ( bukan nama sebenarnya ), 6 tahun, non Muslim  diantar oleh Ayah dan Ibunya ke tempat praktik saya untuk keperluan minta dikhitan. Alasan Ortu adalah  demi kesehatan. Jadi khitan dilakukan atas kemauan Ortunya ( pada kasus Henri, atas kemauan anaknya  sendiri ). Saya periksa keadaan fisik dan penis J yang dalam keadaan normal. Khitan saya janjikan akan dilakukan keesokan paginya. Prosedurenya sama  dengan apa yang dilakukan kepada Henri. Dalam waktu sekitar 30 menit, selesai semuanya termasuk  pemberian informasi apa yang harus dilakukan oleh J yaitu minum obat anti infeksi dan anti nyeri dan mengoleskan salep antibiotika. Saya bekerja single fighter saja, tanpa asisten. Ayah yang mendampingi J lebih bersifat untuk memberikan mental support agar ybs tidak panik / takut.

Puji Tuhan semuanya berjalan baik. Sampai saat ini tidak ada keluhan setelah khitan dilakukan.-