Tuesday, November 10, 2009

Kepatuhan minum obat


 Sering terjadi pasien setelah berobat ( di Rumah Sakit, Puskesmas, Dokter Praktik swasta ) penyakitnya tidak sembuh. Pasien  mengeluh, kok penyakitnya tidak sembuh-sembuh.

Di bawah ini akan dijelaskan masalahnya, sbb:

Keberhasilan upaya penyembuhan ( terapi ) dipengaruhi banyak faktor, antara lain:

1. Diagnosa penyakit yang benar. Setelah melewati proses: Tanya jawab ( anamnesa ), Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan penunjang ( laboratorium, foto Rontgen, USG, ECG dll ) dll, dokter akan membuat Diagnosa ( penentuan penyakit ) dan memberikan Pengobatan. Pengobatan dapat berupa: Rawat Inap di Rumah Sakit atau cukup Rawat Jalan ( pasien kontrol beberapa hari kemudian ). Bila Diagnosanya belum dapat dibuat atau salah Diagnosa maka ada kemungkinan Penyakit pasien tidak / belum dapat disembuhkan. Oleh karena itu sebelum diberikan Terapi, Dokter harus membuat Diagnosa penyakit dengan benar sebelum memberikan Terapi yang benar juga sesuai dengan penyakit yang diderita pasien.

2. Resep obat yang diberikan harus diminum sesuai petunjuk dari Dokter yang merawatnya. Penggunaan yang salah, dapat memberikan hasil yang tidak baik. Obat anti muntah yang seharusnya diminum sebelum makan, tetapi diminum setelah makan. Akibatnya obat anti muntah tidak bekerja dengan baik dan keluhan muntah tidak sembuh. Kapsul obat yang seharusnya diminum 3 kali 1 kapsul sehari, tetapi diminum sehari 2 kali 1 kapsul. Akibatnya efek terapi tidak memadai atau penyakit tidak sembuh. Resep obat yang diberikan untuk selama 5 hari, dibeli hanya setengah resep. Akibatnya kesembuhan hanya setengahnya atau penyakit tidak sembuh. Lebih bahaya lagi bila  ada obat tergolong Antibiotika yang diminum tidak sesuai dengan lama terapi dapat membuat bakteri / kuman penyakit bukannya mati tetapi mereka akan lebih tahan ( resisten ) terhadap antibiotika tsb. Bila sakit yang sama dikemudian hari dan diberi antibiotika yang sama, maka tidak akan sembh karena bakteri penyebabnya sudah kebal terhadap antibiotika tsb. Pasien TBC yang harus minum obat anti TB selama 6 bulan tetapi hanya minum obat hanya 2 bulan saja misalnya, maka penyakitnya tidak akan sembuh, meskipun gejala batuk atau batuk darah sudah reda ( reda palsu ). Jadi petunjuk yang diberikan oleh Dokter  harus ditaati.

3. Kepatuhan pasien minum obat, juga sangat mempengaruhi kesembuhan penyakit. Obat yang seharusnya diminum tiap hari selama enam bulan untuk TBC, kadang diminum kadang tidak. Bahkan bisa sampai beberapa hari obat tidak diminum ( lupa, obat tidak dibawa bila pergi ke luar kota dll ) obat tidak  diminum. Minum obat yang tidak teratur ini sangat mempengaruhi kesembuhan. Untuk penyakit TBC, maka pengobatan diulang dari Nol lagi ( sia-sia waktu dan  sia-sia uang) meskipun ia sudah minum obat selama  1-2 minggu.

4. Kwalitas obat yang dibeli juga harus benar-benar baik. Obat mesti dibeli di tempat yang sudah ditentukan yaitu Apotik, bukan Toko obat atau Warung obat. Kita mesti waspada bila ada harga obat yang murah, bisa jadi obat itu tidak baik kwalitasnya alias palsu. Obat yang sudah kedaluwarsa, sangat dianjurkan tidak diminum lagi karena efektifitas obatnya sudah snagat menurun atau bisa jadi berbahaya bila tetap diminum.

5. Penyimpanan obat terutama dalam bentuk Sirup ( anak) harus disimpan dalam tempat yang tidak kena sinar matahari ( itulah sebabnya botol sirup dibuat dalam warna gelap/coklat untuk menghindari paparan sinar ). Obat dalam bentuk sirup tidak stabil. Bila sudah dibuka tutupnya dan tidak habis dalam waktu tertentu ( 1 minggu misalnya ) maka sebaiknya obat sirup itu lebih baik dibuang saja.

Dari keterangan di atas yang sering terjadi  adalah:

a.      Obat dibeli setengah resep saja ( setelah merasa sembuh, sisa resep obat tidak dibelikan lagi ). Penyebab hal ini  biasamya masalah keuangan.

b.     Obat diminum tidak sepanjang waktu yang dianjurkan ( resep untuk 7 hari, hanya diminum selama 2-3 hari saja. Obat yang seharusnya diminum untuk minimal 6 bulan, diminum hanya 1-2 bulan saja ). Penyebabnya ketidaktahuan pasien akan penyakit yang dideritanya.

c.      Beli obat di tempat yang dianggap lebih murah ( hati-hati dengan obat palsu, atau obat yang sudah kedaluwarsa yang masih dijual juga ). Penyebabnya juga biasanya masalah keuangan.

 Mengingat harga obat dll makin meningkat dari hari ke hari, maka pesan moralnya adalah:

 1.     Jagalah agar tubuh kita tetap sehat, jangan sakit( pola makan yang baik, pola hidup yang sehat, olah raga teratur, hindari: Rokok, Polusi udara, Alkohol, Narkoba )

2.     Bila sakit segeralah berobat kepada Dokter terdekat atau Dokter Keluarga anda.

3.     Minum obat sesuai petunjuk Dokter ( beli di Apotik untuk 1 resep obat, jangan kurang ).

4.     Bila belum sembuh, jangan segan-segan untuk kontrol ulang kepada Dokter anda.

5.     Berdoalah, mohon kesembuhan dari Sang Pencipta.

 

Semoga Anda sekeluarga tetap sehat dan dapat dapat menikmati hidup lebih baik lagi.-

Komentar terhadap Blog ini


Di Blog ini ( http://www.basukipramana.blogspot.com  ) saya sudah posting  315 artikel. Isi Blog ini macam-macam, yang paling banyak adalah sekitar pengalaman menghadapi pasien-pasien yang datang berobat ke tempat praktik saya.

Dari semua posting tsb, ada yang mendapat Komentar dari Netter yang berkunjung dan ada yang tidak. Ada banyak Netter yang berkunjung tetapi tidak memberikan Komentar apa-apa.

Dari komentar yang masuk, ada yang bersifat Positip  dan ada yang Negatip.

Kepada yang bersifat Positip saya ucapkan banyak terima kasih.

Kepada yang bersifat Negatip ( ada beberapa Komentar terhadap Posting artikel tertentu ), saya mengucapkan terima kasih karena mereka sudah berkunjung ke Blog saya.

Komentar-komentar yang Negatip itu terpaksa saya tidak publish ke Blog saya, karena saya  jengkel membaca isi Komentar Negatip tsb. Agar supaya tidak muncul Komentar-komentar  lain yang Negatip, artikel tsb saya delete saja. Artikel tsb merupakan sebuah pengalaman dalam hidup saya. Apapun yang terjadi dalam pengalaman saya tidak berarti juga terjadi dalam hidup orang lain. Jadi mestinya orang lain tidak perlu ikut campur dalam pengalaman yang sudah saya alami. Sepertinya mereka lebih  wah….dari pada saya. Ya terserah aja, kalau emang pengalamannya begitu atau buat Personal Blog aja sendiri yang berisi pengalaman hidup yang lebih hebat dari saya.

Dari semua artikel yang saya posting ada sebuah artikel yang banyak mendapat Komentar atau lebih banyak merupakan pertanyaan-pertanyaan. Saya merasa heran juga, sebab isi Blog saya ini hanya berupa pengalaman  dalam praktik saya dan bukan merupakan Ruang Konsultasi Kesehatan. Ada banyak Ruang Konsultasi Kesehatan di Internet dalam bahasa Indonesia yang dikelola para Ahli Kesehatan Indonesia. Lebih tepat kalau para Netter dapat bertanya kepada para Ahlinya di Web / Blog masing-masing..

Kalau tidak dijawab, saya merasa bersimpati kepada para penanya yang pada saat itu mereka membutuhkan informasi atau penjelasan terhadap penyakit yang mereka / anggota keluarga mereka.

Artikel itu adalah artikel tentang “Penyakit TBC paru-paru”.

Judulnya bersifat umum dan merupakan sebuah kalimat yang sangat sederhana.

Kalau artikel lain menerima sekitar 1-8 Komentar, maka artikel tadi sampai saat ini menerima 33 Komentar ( luar biasa ) dan 33 Komentar jawaban  dari saya. Jadi posting itu berisi 66 buah Komentar. Banyak juga ya!

Sering kali Penanya hanya mengirimkan 2 kalimat saja, tetapi dalam menjawab saya membutuhkan lebih banyak kalimat untuk menjawab pertanyaan yang bersangkutan.

Terlepas dari semuanya, saya berharap apa yang saya berikan dapat bermanfaat bagi para Netter yang berkunjung ke Blog saya ini. Amin.

Bila Anda ingin memberikan komentar yang membangun / Positip,  kirimkanlah dengan mengetikkan Komentar anda pada ruang yang tersedia, dibawah masing-masing artikel. Terima kasih atas kesediaan Anda.-

Monday, November 09, 2009

Digigit Tikus



 

Tikus memang binatang yang menjengkelkan.

Di Laboratorium Tikus banyak jasanya yaitu sebagai binatang percobaan.

Ada banyak spesies Tikus, ada Tikus sawah, Tikus selokan, dll. Di Thailand dan Indonesia,  Tikus sawah dapat menjadi wabah yang  merusak tanaman padi. Di Thailand Tikus ramai-ramai di tangkap, dagingnya dijadikan Dendeng Tikus dan dijual di pasar tradisionil. Rakyat disana banyak menyukai Dendeng Tikus ini.

Saya pernah kedatangan pasien dalam waktu yang berbeda dengan keluhan Luka. Pasien A luka di Jempol kaki kiri dan pasien B lukan di Telinga kanan.

Dari anamnesa ( tanya jawab ) pasien-pasien tsb berkisah bahwa udara yang panas di musim kemarau menyebabkan mereka tidur di lantai rumah mereka hanya dialasi sebuah tikar. Suhu lantai yang agak dingin membuat tidur mereka  lebih nyaman.

Rupanya Tikus-tikus yang kelaparan di halaman rumah memasuki rumah mereka dan mencari makanan. Ketika melewati kaki dan kepala pasien tadi, Tikus-tikus kelaparan tadi rupanya mencoba melahap Jari kaki dan Telinga pasien yang sedang tidur.

Rasa sakit tergigit Tikus menyebabkan mereka terbangun dan kaget ketika mengetahui Jempol kaki dan Telinga mereka  berdarah. Mereka panik dan beramai-ramai mencari sang Tikus. Tidak diceritakan apakah mereka dapat menangkap Tikus tadi yang menjadi penyebab luka di tubuh mereka.

Mulai sekarang kita harus memberantas Tikus yang berkeliaran di sekitar rumah mereka. Ada banyak cara untuk menangkap Tikus a.l.: dengan jepretan tikus, kurungan tikus, lem tikus, racun tikus.

Alat pengusir Tikus  yang  memakai listrik pun sudah ada dijual. Bunyi dengan gelombang tertentu konon dapat membuat tikus menghindari ruangan yang dipasang alat tsb.

Tikus rupanya akan menghindar bila mendengar bunyi dengan frekwensi tertentu. Dari beberapa orang penjual Jangkrik, konon suara jangkrik akan membuat Tikus menghindari ruangan dimana terdapat bunyi jangkrik. Bila anda ingin mencoba, dapat memelihara beberapa ekor Jangkrik jantan yang ditaruh di beberapa tempat di sekitar atau di dalam rumah kita. Semoga rumah anda terbebas dari Tikus.

Sunday, November 08, 2009

Penyesalan


Pak H, 60 tahun, mengeluh nyeri dada ( chest pain ) sejak 2 bulan. Sudah berobat kepada Dokter Ahli Jantung dan sudah minum obat-obatan. Chest pain berkurang tetapi tidak hilang 100 %.

Hasil Tekanan Darah dan pemeriksaan darah atas Kolesterol dll dalam batas normal.
Tampak Pak H ini masih cemas, seperti tidak PD ( Percaya Diri ) padahal sudah berobat kepada Dokter Ahli Jantung.

Akhirnya saya menganjurkan agar dicek ke RS Harapan Kita Jakarta. Pak H setuju dan minggu depan akan berangkat.

1 bulan kemudian Pak H datang berobat kepada saya lagi.
Pak H melaporkan bahwa ia sudah pergi ke Penang, Malaysia atas dukungan dan biaya dari anaknya yang bekerja di Jakarta.

Singkat cerita, putra Pak H ini yang mensponsori pemeriksaan Jantung ayahnya di Malaysia. Di salah satu Hospital disana, Pak H telah diperiksa dan dipasang 2 buah ring ( sten ) pada pembuluh darah Koroner Jantungnya. Pulang dari RS Pak H mendapat bekal obat-obatan untuk selama 2 bulan dan diajurkan untuk kontrol setelah obat-obat habis. Tampaknya Pak H ini menderita penyempitan pembuluh Koroner pada Jantungnya yang menyebabkan chest pain.

Meskipun demikian Pak H ini seperti tidak happy. Ia masih mengeluh.

Saya bertanya “Mengapa anda masih berkeluh kesah, kan sudah diberikan tindakan pengobatan yang benar. Putra anda sudah menjadi sponsor pengobatan anda.”

Pak H “Itulah Dok, saya menyesal atas perbuatan saya dulu.”

Saya bertanya “Menyesal? Apa maksud ada?”

Pak H “Saya menyesal sekarang bahwa dulu saya sangat tidak peduli dan tidak memperhatikan anak saya itu. Saya telah mempunyai isteri lagi. Sekarang anak sayalah yang mau membantu kesehatan saya agar saya sehat kembali, padahal saya sudah membuat ia banyak menderita.” Wajah Pak H sedih, murung.

Saya menjawab “Pak H, seorang anak akan selalu mengingat dan berterima kasih kepada ayah dan ibunya yang telah melahirkan dan membesarkan anak-anaknya. Pak H mesti bersyukur bahwa anak anda telah membantu biaya trasport dan pengobatan anda di luar negeri. Anda mesti mengubah sikap anda terhadap anak-anak dan isteri anda. Berbuat baiklah kepada mereka. Kalau anda telah berbuat tidak baik kepada mereka, tetapi mereka masih mau berbuat baik kepada anda, maka anda harus berterima kasih kepada Sang Pencipta. Maukah anda berbuat begitu?"

Saya melihat dua tetes air mata di wajah Pak H.

Sakit Kepala


Kemarin sore sepasang suami isteri mendatangi tempat praktik saya.
Pak Anwar ( bukan nama sebenarnya ), 50 tahun, seorang pedagang disebuah pasar tradisionil, mengeluh sakit kepala ( headache ) sejak 2 minggu. Sudah minum obat anti sakit kepala, sembuh sebentar namun sakit kepala itu muncul kembali.

Tekanan darah Pak A, dalam batas normal, pada pemeriksaan fisik tidak terdapat kelainan yang berarti. Kondisi rohaninya sedih, cemas, kurang selera makan menurun. Nampak tanda-tanda depresi ringan.

Isteri Pak Anwar nimbrung pembicaraan kami, “Suami saya seperti ini karena omset penjualan barang dagangan kami agak menurun minggu-minggu ini, dok.”

Saya menjawab “ Bapak, Ibu, saat ini bukan hanya anda saja yang mengeluh. Ada banyak orang yang pedagang banyak mengeluh bahwa omset menurun tetapi kan tidak sepanjang tahun omset terus menurun. Ada kalanya turun dan ada saatnya naik. Begitulah dunia perdagangan. Sama dengan pasien dokter kadang sepi kadang banyak pasien. Tidak selamanya selalu pasien banyak.”

Pak Anwar berkata “Iya tapi minggu ini omset perdagangan kami menurun banyak.”

Saya bertanya “Lalu”.

Pak Anwar “ Lalu sakit kepala muncul.”

Saya berkata lagi “Apakah Bapak juga punya banyak hutang?”

Pak Anwar “Hutang ada, tapi tidak banyak.”

Jadi masalah Pak Anwar lebih banyak ke arah gangguan rohani, tertekan sehingga jasmaninya terganggu juga. Tampaknya sebagai seorang pedagang, menganggap bahwa omset perdagangannya harus selalu baik atau naik. Mana bisa, suatu saat ada yang naik dan saat yang lain akan turun juga. Terdapatlah suatu grafik yang naik turun mengikuti sektor-sektor lain dan daya beli masayarakat. Pada saat panen, masyarakat banyak uang, perdagangan ramai. Pada saat paceklik semua menurun. Begitulah situasi saat ini.

Saya melanjutkan “Pak Anwar, dalam masa yang sulit seperti ini kita harus bersyukur bahwa kita masih bisa survive. Tidak bangkrut saja sudah bagus. Kalau kita tekun dan sabar pasti situasi akan berubah. Kalau Pak Anwar merubah taktik dagangnya, pasti akan ada jalan.”

Pak Anwar menjawab “Taktik dagang yang bagaimana, dok?”

Saya menjawab pertanyaannya “Yang berjualan di pasar itu bukan hanya Bapak dan Ibu saja kan? Ada banyak orang yang berjualan barang yang sama dengan Bapak. Jadi Bapak harus memberikan pelayanan yang lebih bagus dari pada orang lain ( pesaing ), misalnya ramah, banyak senyum ( keep smiling ), harga disesuaikan dan tidak terlalu inggi, cukuplah untung sedikit, toko dibuka lebih awal dari pada toko-toko lain sehingga orang-orang yang akan belanja akan datang ke toko Pak Anwar.”

Pak Anwar menjawab “O.. begitu ya. Wah banyak terima kasih nih, atas advisnya.”

Saya melanjutkan “Ada satu hal lagi yang penting, Pak.”

Pak Anwar penasaran dan bertanya “Apa itu, Dok?”

Saya menjawab “Kita mesti bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini. Orang bijak pernah berkata: Kita harus bersyukur atas apa yang sudah kita miliki saat ini. Bila engkau masih tidak puas dengan apa yang kita miliki saat ini, maka meskipun Matahari engkau miliki, maka engkau masih belum puas juga.”

Pak Hasan tercengang “Wah filosofi tingkat tinggi, Dok.”

“Baiklah, dok. Saya mohon pamit.” Kata Pak Hasan sambil menyodorkan selembar uang kertas.

“Lho, saya belum beri resep untuk Pak Anwar nih.”

“Ah tidak usah, dok. Sakit kepala saya sudah hilang. Saya tidak butuh obat lagi setelah saya menerima pencerahan dari Dokter.”

Glek…saya tidak mengira bahwa obrolan kami sudah membuat sakit kepala Pak Anwar lenyap.

Wednesday, November 04, 2009

Tidak tahu tanggal lahir.


Tadi pagi saya kedatangan  pasien seorang wanita, Nn. EL 19 tahun.

Ia diantar ayahnya Pak. M. 45 tahun.

“Pak Dokter, tolonglah anak saya sakit kepala sejak 1 tahun yang lalu” kata Pak M.

“Baik nanti saya periksa dulu. Siapa nama anak Bapak?”

“Namanya EL, dok”

“Tanggal lahirnya Pak? tanya saya.

“Saya tidak ingat, dok tapi umurnya 19 tahun” jawab Pak M.

Untuk melengkapi Medical Record pasien ini, saya butuh data tanggal lahirnya ( tanggal, bulan dan tahun ).

Lalu saya bertanya kepada sang pasien.

“EL kapan tanggal lahirnya?” tanya saya

EL menjawab “Saya tidak tahu.”

Mosok tanggal lahir sendiri tidak tahu. Kalau EL menjawab sekenanya saja, saya toh tidak dapat membuktikannya karena ia tidak membawa KTP.

Saya bertanya lagi “Bisa saya lihat KTPnya?”

EL menjawab “Saya tidak bawa KTP” ( kalau KTP saja tidak bawa, apalagi Paspornya ).

Saya bertanya lagi  “Anda saat ini masih sekolah? atau sudah bekerja?”

EL menjawab “Saya  sejak 1 tahun yang lalu bekerja di Saudi Arabia. Sekarang saya pulang ke Indonesia dan sedang menunggu panggilan untuk bekerja di Dhubai, Abudabi.”

Glek saya terhenyak……. 

Kalau ia pernah bekerja, apalagi bekerja di luar negeri, tentunya pengetahuannya  cukup baik dan pasti mengetahui kapan  lahir. Mengapa ia tidak tahu tanggal lahir sendiri? Berarti EL tidak pernah merayakan Hari Ulang Tahunnya selama ini.

Tampaknya sepele, tetapi bagi saya pribadi rasanya aneh.

Saya sering menghadapi pasien  berusia lanjut yang lupa tanggal lahirnya. Ini  wajar, tapi kalau  usia masih 19 tahun tidak tahu / tidak ingat tanggal lahirnya sendiri, ini tidak wajar, apalagi ia pernah bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga di Saudi Arabia ( minimal ia dapat bicara Arab yang dipakai sehari-hari dengan majikannya ).

Kalau sekarang saya bertanya kepada anda “Kapan tanggal lahir anda?”

Apakah anda dapat menjawab pertanyaan saya? he...he....

Tuesday, November 03, 2009

Alergi


 Alergi adalah reaksi tubuh kita yang tidak tahan terhadap sesuatu. Manifestasi reaksi terhadap Alergi dapat berupa: rasa gatal ( yang paling ringan ), biduren ( kaligata ) pada kulit, sesak nafas, hidung berlendir, shok ( yang paling berat ).

Pagi ini saya membaca sebuah artikel dari sebuah harian PR tanggal 3 November 2009, tentang Alergi.


Alergi memang terkadang menyakitkan.

Di South Yorkshire ada  orang yang mengalami Alergi cukup unik.

Darren Young ( 45 ) yang sehari-hari berprofesi sebagai Supir Bus, mempunyai penyakit Alergi terhadap isterinya. Jika ia berada dekat isterinya, di kulitnya muncul bintik-bintik merah, detak jantungnya makin cepat dan kulitnya membengkak. Penyebabnya, ternyata Alergi itu baru muncul jika isterinya menggunakan Krim atau “Lotion”. Dia baru bisa bebas berdekatan dengan isterinya, jika isterinya itu tidak menggunakan Kosmetik, Krim ataiu “Lotion”.

 

Saya pernah memunyai pasien wanita yang alergi terhadap Kondom suaminya.

Pasangan tsb mengikuti program Keluarga Berencana ( KB ) dengan cara memakai karet KB atau Kondom. Umumnya pada lapisan luar Kondom terdapat sedikit cairan pelumas. Ketika pasangan ini melakukan ML, sang isteri merasa tidak nyaman pada vaginanya. Ia merasa gatal yang sangat mengganggu. Rupanya ia alergi terhadap cairan minyak pelumas  Kondom yang dipakai sang suami. Solusinya: pakai Kondom merk lain atau Kondom yang tidak berpelumas.

Thursday, October 29, 2009

Tidak punya uang (2)


Tadi pagi 29 Oktober 2009 datang  Ibu S. 35 tahun.

Ibu S berkisah bahwa 10 hari yang lalu ia datang mengantar putranya A, 1 tahun. Saya mencari Catatan pasien elektronik-nya di Laptop saya. A, 1 tahun, dengan Diagnosa: ISPA, mendapat Sirup Amoxycilin dan Puyer racikan  Anti Flu sebanyak 15 bungkus.

Pagi itu Ibu S  datang untuk meminta resep obat itu kembali karena putranya setelah sembuh dari penyakit Flunya,  hari ini ia sakit kembali dengan penyakit yang sama. Kondisi lingkungan hidup yang padat penduduk dan sanitasi kesehatan yang tidak memadai dapat membuat kesehatan tidak baik dan mudah terjangkit penyakit infeksi saluran nafas. Dengan harapan kalau minum obat dari resep saya itu, putranya akan sembuh.

Ibu S mendatangi sebuah Apotik terdekat dengan maksud ingin membeli obat yang sama. Pihak Apotk tidak dapat memberikan obat dari resep tsb karena di dalam racikan obat tsb terdapat obat batuk ( Codein ) yang termasuk obat yang hanya dapat diberikan dengan resep dari dokter. Oleh karena itu Ibu S mendatangi saya  ( tanpa membawa putranya ).

Ketika ditanya “Mengapa tidak membawa utranya untuk diperiksa kembali?”

Ibu S tidak menjawab. Rupanya ia bingung.

Ia berkata kalau ia diperiksa kembali kan harus bayar lagi kepada Dokternya.

Lha, bagaimana saya sebagai dokter dapat memberikan terapi obat yang cepleng kalau  tidak memeriksa pasiennya?

Ibu S menjawab  bahwa ia tidak punya uang. Suaminya sedang tidak ada pekerjaan alias nganggur. Anaknya sakit. Ia bingung. Akhirnya saya bingung juga.

Sebagai pemecah masalah, saya minta agar Ibu S sore harinya dapat membawa putranya untuk diperiksa dan diberi resep obat yang baru yang dapat diambil di Apotik terdekat. Soal tidak punya uang untuk doctor fee, jangan dipermasalahkan benar.

Ketika mengapa anda tidak membawa putra anda ke Puskesmas terdekat? Ia menjawab, sudah, tetapi belum sembuh juga.

Pasien dengan kondisi seperti Ibu S ini ternyata cukup banyak.

Dalam hati saya sering berbuat amal untuk menolong orang-orang lain seperti ini, tetapi saya juga harus membayar Pajak Penghasilan ke Kas Negara. Bagaimana saya dapat membayarnya kalau penghasilannya tidak memenuhi ketentuan yang berlaku?

Tidak punya uang (1)


Kemarin sore, 29 Oktober 2009, datang berobat Ny. L.

Rasanya Ibu ini pernah datang berobat. Lalu saya tanya siapa namanya dan saya cari Catatan pasien elektronik-nya yang ada dalam Laptop Acer 12” saya.

Ternyata  Ny. L, 38 th, pernah datang berobat pada tanggal 4 Mei 2009 dengan Diagnosa: TBC paru dupleks (kiri dan kanan ) dan LED ( Laju Endap darah: 30 mm/jam ). Saya sudah memberikan resep kombinasi obat generik anti TB ( Rifampicin 450 mg, INH 300 mg dan Etambutol 500 mg ) untuk 1 bulan. Saya berpesan agar setelah obat habis datang kembali untuk kontrol penyakitnya.

Beberapa bulan kemudian ia tidak pernah datang kembali dan baru  kemarin sore datang setelah 5 bulan tidak minum obat lagi setelah obat yang dibeli pertama kali habis. Ia mendapat uang dari saudaranya untuk membeli obat tsb. Dengan suaminya,  ia sudah berpisah tanpa mempunyai seorang anak.

Saya bertanya setelah minum obat selama 1 bulan dan obatnya habis apakah ia pernah berobat ke Puskesmas atau Dokter lain?

Setelah obat habis ia tinggal bersama salah satu saudaranya di kota Jakarta dan pernah berobat kepada Teman Sejawat. Di Jakarta-pun ia  minum obat tidak teratur karena katanya ia tidak punya uang untuk membeli obat dari resep yang diberikan oleh dokternya di Jakarta.

Bulan Oktober 2009 ini ia kembali ke kota Cirebon dan datang berobat lagi kepada saya.

Saya membatin “Bagaimana mau sembuh dari TBC parunya, kalau minum obat yang seharusnya diminum  6 bulan terus menerus tidak dilakukan?”

Memang benar untuk mendapat obat ia harus mempunyai uang. Tanpa uang obat tidak bisa didapat. Saya tidak memungut doctor fee pada kunjungan pertama dan kunjungan kemarin sore karena Ny. L tidak punya uang. Saya memberikan motivasi agar minum obat secara teratur, bila ingin sembuh dari TBC parunya dan tidak menularkan penyakitnya kepada orang-orang disekitarnya ( anggota keluarga dan tetangganya ).

Ny. L hanya termenung mendengar ucapan saya. Melihat sikapnya tsb saya menjadi bingung sendiri. Mau apa lagi? Suami tidak punya. Anak tidak punya. Uang juga tidak punya. Lalu dari mana ia dapat membeli makanan sehari-hari?

Akhirnya saya membuat Surat Rujukan ke Puskesmas yang berdekatan dengan tempat tinggalnya. Semoga ia dapat berobat secara teratur di Puskesmas tsb dengan biaya terjangkau atau gratis.

Wednesday, October 21, 2009

Wanita misterius



Sore ini sekitar pukul 17.30 WIB datang ke tempat praktik saya seorang wanita, usia 35 tahunan. Terjadilah dialog sebagai berikut.

Ia bertanya “Dokter, sore ini buka praktik?”

Saya jawab “Iya buka, Bu. Siapa yang mau berobat?”

Ia menjawab “Anak kecil bisa , Dok?”

Saya jawab “Bisa ( saya pikir pasien anak-anak sampai nenek-nenek juga bisa ), mana anaknya?”

Ia berkata “Nanti ya, anaknya saya bawa dulu.” Saya tidak bertanya dimana alamatnya.

Saya di Ruang periksa mengerjakan pekerjaan yang lain sambil menunggu kedatangan pasien saya itu. Saya tunggu sampai pukul 19.30 ( 2 jam ) wanita misterius itu tidak kunjung datang. Jangan-jangan  ia kurang waras. Ah…..saya kok jadi paranoid begini ya.

Pukul 19.15 datang seorang pria 30 tahun yang datang dan bertanya apakah saya masih buka praktik dan apakah anak-anak juga bisa diperiksa. Lagi-lagi pertanyaannya kok agak tidak masuk akal. Mosok Dokter tidak bisa periksa anak-anak / bayi.

Pukul 19.35 pria itu datang kembali bersama isteri dan putrinya usia 4 bulan dengan keluhan sedikit demam dan minum susunya rewel. Selesai memeriksa dan membuat resep bagi  bayi itu, wanita misterius tadi masih belum datang juga. Mungkin sekali ia tidak akan datang. Lalu apa maksudnya datang ke tempat praktik saya dan mengajukan pertanyaan seperti diatas?