Minggu, Maret 18, 2012

Ingin masuk Panti



Hari Jum’at 9 Maret 2012 pagi saya memasuki Ruang Periksa di Panti Wreda Kasih, dimana saya melakukan pelayanan kesehatan bagi para warga Panti Wreda Kasih tiap hari Jum’at, Ibu Panti melaporkan bahwa ada seorang Oma ingin masuk Panti.

Oma L, 84 tahun ini diantar oleh putrinya, Ny. K. Mereka berdua naik mobil sedan yang dikendarai oleh Ny. K. Tempat tinggal mereka cukup jauh yaitu di daerah TG, sekitar 20 Km dari kota Cirebon.

Dengan alasan tidak ada yang mendampingi Ibunya, maka Ny. K  mengantarkan Ibunya ke Panti. Oma L sendiri menyatakan bahwa ia menghendaki tinggal di Panti saja agar tidak merepotkan putri dan keluarganya.
Ny. K tinggal bersama suaminya dan mereka mempunyai seorang putra sekitar 20 tahun. Keluarga mereka cukup berada. Toko yang menjual bahan-bahan bangunan rumah yang cukup besar rasanya mempunyai ekonomi yang memadai juga.

Saya cukup lama berbincang-bincang dengan Oma L dan Ny. K.
Dalam perbicaraan kami, saya bertanya, kalau tidak ingin merepotkan  keluarga putrinya, dapat saja Oma ini menempati sebuah kamar dan diberikan seorang pendamping yang dapat melayani 24 jam di rumah mereka atau tinggal di sebuah rumah kecil yang dekat dengan rumah mereka sehingga memudahkan Oma L untuk dikunjungi kalau terjadi sesuatu.

Rupanya Oma L sudah menyatakan ingin hidup di Panti saja. Ah..kasihan juga ya.
“Mengapa seorang Ibu di hari tuanya kok tidak ingin hidup dengan putri satu-satunya? Mengapa seorang Oma ingin hidup di Panti sedangkan dia mempunyai keluarga yang berkecukupan?”

Pertanyaan itu juga saya sampaikan dalam Rapat Bulanan Pengurus Panti tanggal 12 Maret 2012. Secara Medis, Oma L saat itu tidak mempunyai penyakit yang serius dan rasanya dapat diterima untuk menjadi warga Panti.
Pak H, Ketua Panti dan semua anggota Panti menyetujui agar sebelum diterima, sebaiknya dilakukan peninjauan rumah dan keluarganya. Saya setuju dan bersedia mengikuti Tim yang akan melawat Oma L. Hari dan waktu telah ditentukan yaitu hari Kamis, 15 Maret 2012, pukul 10.00, kami ( saya, Ibu M, Ibu H, dan Ibu Pendeta S ) diantar Supir akan berangkat.

2 hari sebelum keberangkatan Tim, saya mendapat pesan SMS dari Ibu Panti bahwa Oma L terjatuh di rumahnya dan tidak dapat duduk atau berdiri.

“Baiklah, nanti oleh Tim Pelawat akan dilihat dan didoakan agar semoga cepat sembuh.” Saya menjawab pesan SMS tadi.

15 Maret 2012 sekitar pukul 11.00 Tim Pelawat tiba di rumah keluarga Oma L.
Toko Bahan Bangunan yang merangkap rumah milik mereka cukup besar. Suami Ny. K sedang diruang tokonya dan tidak mengantar kami untuk menegok Ibu mertuanya. Aneh juga rasanya. Ada rombongan tamu dari Gereja, ia tidak mau mendampingi isterinya. Emang kata Ny. K,  Oma L ini  tidak begitu suka dengan suaminya itu dan Oma L tidak ingin hidup serumah dengannya.

Saat kami memasuki kamar Oma L yang cukup besar dan berudara dingin ( ber-AC ), kami melihat Oma L terbaring dengan lemes di atas sebuah springbed. Saya melihat kaki kanannya dapat digerakkan, tetapi kaki kirinya seperti tidak berdaya atau lumpuh.

Saya berpikir mungkin Oma L ini mengalami patah tulang paha kiri.
Dari pembicaraan kami dengan Oma L, katanya saat ia berada di Dapur, sepertinya ada suatu dorongan dari belakang yang menyebabkan dia terjatuh ke lantai dapur. Padahal ia tidak melihat ada seseorang di dapur tersebut. Putrinya kaget dan panik, kok Ibunya tiba-tiba bisa terjatuh. Seorang Tukang Urut dipanggil untuk mengurut kaki kiri Oma L. Hasilnya tidak banyak perubahan.

Segera saya membuat Surat Pengantar ke Bagian Radiologi ( Rotgen ) di Rumah Sakit terdekat yaitu RS Arjawinangun, untuk melihat apakah ada patah tulang dan lokasinya dimana?

Tim Pelawat juga mendoakan Oma L agar diberi ketabahan, kekuatan dan semoga segera sembuh.
Saat pamitan dengan keluarga Oma l, saya berpesan agar nanti hasil Rontgen Oma L di informasikan via SMS kepada saya. Di dalam perjalanan pulang kami merasa bahwa Oma L tidak diperhatikan oleh anak mantunya. Aneh juga kalau seorang pria mencintai seorang wanita, seharusnya ia juga mengasihi Ibu dari isterinya, karena tanpa adanya Ibu itu, tidak akan ada putri yang dinikahinya.

Sekitar pukul 15.30 saat saya sudah tiba di rumah, saya mendapat pesan via SMS dari Ny. K, bahwa hasil Foto Rotgen kaki Ibunya: ada patah tulang dipangkal tulang paha kiri. Ah..benar juga ada fraktur / patah tulang. Patah tulang ini memerlukan waktu penyembuhan yang cukup lama mengingat Oma L sudah lanjut usia, 84 tahun.

Saya menjawab dan berpesan kepada Ny. K, agar Oma L sebaiknya dirawat saja di sebah Rumah Sakit yang mempunyai Dokter Ahli Bedah Tulang, mislanya di RS Pertamina Klayan, Cirebon atau di kota Bandung. Semoga Dokter disana dapat segera memperbaiki patah tulang kaki Oma L.

Dalam perjalanan pulang ke Cirebon, Ibu H. berkata “Sepertinya ini sebuah peringatan bagi suami Ny. K , bahwa Ibu mertuanya ( Oma L ) ini tidak boleh hidup di Panti, tetapi hidup bersama dengan keluarga putrinya di rumah saja.”

Saya menjawab “Benar, kalau saja suami Ny. K. ini menyadari bahwa dia seharusnya merawat Ibu mertuanya di rumah selama di masih hidup dan bukan melempar ke sebuah Panti, tentu akan jauh lebih baik dan akan mendapat berkat dari Tuhan. Kapan lagi mau berbakti kepada orang tua, kalau bukan sekarang saat Ibunya masih hidup?”

Saya sering menjumpai bahwa “Untuk berbuat baikpun, ternyata tidak mudah”, contohnya banyak.
Untuk berbuat baik, ternyata tidak mudah, tetapi dia tidak mau berbuat baik untuk seseorang yang cukup dekat dengannya. Ini luar biasa.-


Senin, Maret 12, 2012

Mau cabut Gigi



Beberapa hari yang lalu datang Nn. E, 25 tahun.
Sore itu  terdengar suara bel pintu masuk Ruang Tunggu. Saya persilahkan masuk seorang wanita.

Saya menanyakan identitas pasien ini: nama , umur dan alamat.
Lalu saya bertanya apa keluhannya?

Ia menjawab “Dok, saya mau nambal gigi saya yang berlubang.”

Glek…apa tidak salah masuk nih.

Saya berkata “Maaf, saya bukan Dokter Gigi. Kalau mau nambal atau cabut Gigi datanglah ke Dokter Gigi N. ( tetangga saya ).”

Dengan wajah memelas Nn. E mengeluh dan kaget “Oh..maaf Dok.”
Ia keluar dari Ruang Periksa, tanpa berkata apa-apa lagi.

????

----

Kejadian seperti itu sudah beberapa kali terjadi.
Pasien sering kali tidak membaca Papan Nama Dokter yang  akan dimintai bantuannya. Setelah masuk mereka bingung sendiri.

Hendaknya kita teliti, sebelum mengetuk pintu rumah orang.

Kejadian inipun pernah saya alami. Kalau ingat akan hal itu saya jadi malu sendiri.

Pengalaman ini terjadi pada tahun 1966, saat saya hendak mengikuti Ujian masuk Perguruan Tinggi di Universitas GM di Jogyakarta. Sehari sebelum Ujian berlangsung, saya tiba di kota Yogya dan bermalam di sebuah penginapan di sekitar stasiun kereta api Tugu.

Sebagai orang yang belum pernah datang ke kota Yogya, saya belum tahu dimana ada praktik Dokter Umum. Saat itu kepala saya terasa sakit dan bermaksud berobat.

Saat berjalan kaki di kaki lima Jalan Malioboro yang nyaman, saya meihat ada sebuah rumah dimana ada Dokter Praktik. Saya masuk dan duduk, menunggu giliran. Sekitar 30 menit saya menunggu akhirnya terbukalah pintu Ruang Periksa.

Seorang Perawat wanita bertanya “Siapa berikutnya?”

Saya berdiri dan mendekatinya. Di sebelah dalam saya melihat Kursi pasien Dokter Gigi.
Wah…pasti ini Dokter Gigi yang berarti saya sudah salah masuk. Apakah ini  suatu firasat buruk? Tidak bisa masuk. Apakah saya tidak diijinkan masuk Universitas yang akan saya pilih? Ah.. belum tentu, saya menghibur diri sendiri.

Oleh karena ini bukan Dokter yang saya maksud, saya berkata “Maaf Zus, saya tidak jadi berobat.”
Sang Perawat bengong.

Akhirnya saya berjalan kaki lagi dan mencari toko yang menjual obat pain killer yang dapat dibeli secara bebas, tanpa resep dokter.

Setelah membeli Nasi bungkus, saya kembali menuju penginapan. Saya minum tablet pain killer yang saya beli dan saya mencoba untuk beristirahat.

Saya membatin “Apa yang akan terjadi terjadilah. Bisakah saya lulus dalam Ujian Masuk besok pagi?”

Ternyata nama saya tidak ada dalam Pengumuman Hasil Ujian Masuk di Universitas itu. Saya beruntung dapat mengikuti kuliah pada tahun 1967 di salah satu Fakultas Kedokteran di kota Bandung. Lulus sebagai Dokter Umum, bekerja menjadi Pegawai Negeri Sipil selama 20 tahun dan mengajukan Pensiun atas permintaan sendiri TMT 1 April 2000.

Saat ini saya dan isteri menikmati hidup pensiun di usia lanjut.

Kalau ada pasien yang salah masuk, saya selalu teringat pengalaman saya yang juga salah masuk ke Ruang Periksa Dokter Gigi, padahal  ingin masuk ke Dokter Umum.

Jadi kalau ada pasien yang salah masuk Ruang Periksa saya, saya tidak memarahinya, tapi bahkan tersenyum. Saya juga penah mengalaminya. Manusiawi juga ya.

Kamis, Maret 08, 2012

Kencing Manis dan Prostat


Penyakit yang di kala usia muda tidak ada, bisa muncul pada usia lebih lanjut.
Usia lanjut bukan berarti akan tetap sehat. Sering kali ada banyak penyakit bermunculan di usia senja, apalagi kalau kesehatan tidak dijaga, tidak peduli dan hidup tidak teratur. 

Contoh kasus:
Kebiasaan Merokok sejak usia muda, yang sudah diperingati oleh banyak orang tetapi mereka para smoker tetap tidak bergeming. 20 – 30 tahun kemudian di saat usia mencapai usia baya, ia menderita batuk-batuk yang tidak kunjung sembuh. Saat memeriksakan diri kepada Dokter, pada  hasil pemeriksaan foto Thorax ( Jantung dan Paru-paru ) terdapat gambaran Canon ball yang merupakan ciri radiolodis awal dari  Kanker paru. Pasien sering berobat bila stadium penyakit sudah lanjut. Keadaan ini membuat makin sulitnya tindakan pengobatan.

Kebiasaan makan enak yang umumnya ada pada makanan yang berlemak, cenderung akan  membuat kadar Kolesterol darah meninggi. Hiperlipidemi ini akan mendorong timbulnya penyakit Hiertensi, Jantung Koroner dan Stroke. Enaknya makanan biasanya ada pada makanan yang berminyak. Sop Buntut dan Empal Gentong  yang berlemak lebih enak dari pada Sayur bening Bayam atau Sayur Asam. Sekali-kali menyantap makanan yang enak bolehlah ( misalnya saat menghadiri suatu Resepsi pernikahan keluarga / relasi ), tetapi tidak setiap hari.

Keengganan makan Sayur dan Buah-buahan juga sangat berpengaruh terhadap pola buang air besar. Mereka ini cenderung akan mengalami Sembelit ( Konstipasi ) atau susah buang air besar. B.a.b. hanya tiap 4-5 hari sekali. Tentu ini tidak sehat. B.a.b. tiap hari akan membuat saluran pencernaan berjalan baik dan selera makan juga baik. Makin lanjut usia akan makin susah b.a.b. apalagi kalau  tidak mau makan Sayur dan Buah. Bila perlu semuanya diblender saja dan disedot memakai sedotan yang berdiameter besar. Selain merupakan sumber Vitamin dan mineral, Sayuran dan Buah-buahan akan membuat gerakan perstaltik Usus akan bertambah kuat yang akan mendorong ampas makanan menuju ke pintu belakang.

Demikianlah bila kita mau hidup sehat, mau memperhatikan pola makan yang baik, mau melakukan pola hidup yang teratur, maka status kesehatan yag baik rasanya tidak teralau susah.
Memang semuanya itu patut didukung dengan sumber dana yang cukup.

Nasihat orang bijak yang mengatakan “Lebih baik badan sehat  mekipun uang pas-pasan saja, dari pada punya banyak uang tetapi badan sakit-sakitan. Uang dalam sekejap akan habis”, ada benarnya juga.
Uang perlu dimiliki dengan bijaksana. Menabung di kala muda ada baiknya, sebab diusia lanjut uang itu dapat dimanfaatkan untuk menunjang kesehatan, minimal diri sendiri.
---
Pak H, saat ini berusia 83 tahun. Sudah lanjut.
Di usia  45 – 50 tahun kesehatannya baik. Batuk pilek, diare biasa di derita dan sembuh tanpa bekas.
Diusia mendekati 60 tahun mulailah banyak keluhan.
Ujung-ujung jari sesemutan ( parestesi ), periksa di Puskesmas di dekat rumahnya. Hasil pemeriksaan Glukose darahnya meninggi. Pak H menderita Diabetes mellitus ( DM tipe 2 ). Saat diperiksa tekanan darahnya berulang selang 1 minggu kemudian juga ada Hipertensi ( Darah tinggi ).

Pak H mengusahakan punya  Kartu Jaskesmas dari pihak RT, RW dan Kelurahan setempat. Akhirnya Pak H memiliki kartu sakti ini. Kalau berobat ke Puskesmas dan Rumah Sakit Umum yang ada di kota kami juga gratis. Semua pemeriksaan Darah di Lab. Klinik dan Foto Thorax di RS Umum ini juga tidak diungut biaya alias gratis. Beruntung Pak H memiliki Kartu Jamkesmas ini.

Keluhan utama Pak H ini kalau ingin kontrol ulang ke Bagian Penyakit Dalam, harus berangkat pagi-pagi dari rumah sebab ada banyak antrian pasien yang akan berobat kalau datang sudah siang. Pelayanan petugas RS dan para Dokter yang bergantian memeriksa cukup baik, hanya tidak bisa bertanya panjang lebar sebab masih banyak pasien di luar yang harus diperiksa.

Kira-kira 6 bulan yang lalu Pak H mengeluh tidak bisa pipis sejak 5 jam yang lalu. Kandung kencingnya penuh sebesar kehamilan 5 bulan. Saya anjurkan untuk dipasang slang ( kateter ) di RSU. Akhirnya Pak dipasang kateter selama 3 hari. Hari ke 4 slang dilepas, tetapi baru beberapa jam kemudian ia tidak dapat pipis kembali. Ia mengalami Retensio urinae lagi, karena pembesaran kelenjar Prostat ( yang hanya dimiliki oleh kaum bapak ).

Petugas RS menganjurkan untuk dilakukan operasi Prostat. Pak H di rawat di RS dan mengalami pemeriksaan darah, Foto Thorax dan lain-lain. Dokter Ahli Urologi melakukan operasi Prostat pada Pak H. Katanya operasi diakukan dengan memasang slang dari lubang kencing ( uretra ), kemungkinan besar dilakukan TUR ( Trans Urethral Resection ). Operasi ini membutuhkan 2 labu darah yang diminta dari PMI setempat.

Saat pak H dirawat dan dioperasi, saya dan isteri sedang berada di Australia selama 3 minggu untuk tengok putra dan putrid kami yang tinggal dan bekerja disana. Sepulang dari Australia, saya mendapat berita bahwa operasi Pak H berjalan baik.

Bulan Maret 2012 ini keadaan umum Pak H cukup baik. Tekanan darah dalam batas normal ( minum tablet anti HIpertensi golongan Betabloker ) dan kadar Glukose darahnya juga dalam batas normal ( minum tablet anti diabetes  Metformin ).

Ia bersyukur saat ia sakit, dirawat di RS dan mengalami operasi, semuanya tidak dipungut biaya. Pak H merupakan pasien yang beruntung mendapat fasilitas berobat  gratis dari Pemerintah.

Minggu, Maret 04, 2012

Kencing Manis



Seminggu yang lalu datang berobat Ibu. K, 40 tahun.
Keluhannya ada luka di kaki kiri, akibat kecelakaan lalu lintas. Saat naik sepeda, ia ditabrak pengendara Sepeda motor. Saya melihat punggung kaki kirinya terdapat luka terbuka. Luka itu terjadi sejak 10 hari yang lalu. Ia mengobati lukanya dengan ramuan sendiri.

Luka atau borok di kaki itu mestinya sudah sembuh kalau diobati dengan benar, tetapi ini kok belum sembuh. Saya berpikir mungkin sekali pasien ini  juga menderita penyakit Kencing Manis. Saat ia ditanya apakah ia atau orang tuanya mempunyai Kencing Manis, ia menjawab “Tidak tahu.”

Saya berkata kepadanya “Ibu, luka Ibu sudah lama belum sembuh juga. Saya akan beri resep obat yang dapat dibeli di Apotik. Selain itu Ibu besok pagi datanglah ke sebuah Laboratorium Klinik dengan membawa Surat pengantar dari saya, untuk memeriksa Darah Ibu apakah Ibu  mempunyai penyakit Kencing Manis atau tidak.”

Ia menjawab “Untuk apa darah saya diperiksa? Bukankah cukup diberi obat yang saya minum saja, Dok?”
“Benar, Bu, tetapi kalau Ibu juga menderita penyakit Kencing Manis, maka penyembuhannya akan lama. Kencing Mani itu juga perlu diobati juga agar luka Ibu lekas sembuh.” Pasien yang belum atau tidak mengerti maka perlu diberi penjelasan agar pasien dapat mengerti sehingga dapat mematuhi advis dokter.

2 hari kemudian Ibu K datang kembali dengan membawa hasil pemeriksaan darahnya. Kadar Glukose ( gula )  darahnya baik dalam keadaan Puasa ( Nuchter ) dan 2 jam sesudah makan ( 2 jam post prandial ) diatas kadar normal.

Saya menjelaskan keadaan ini kepada pasien “Ibu ternyata Ibu juga menderita Kencing Manis dan saya akan memberikan obat untuk mengobatinya. Ibu juga  sebaiknya menghindari makan yang manis-manis. Habis obat, Ibu periksa lagi darahnya ya.” Sambil memberikan Surat Pengantar untuk periksa ulang kadar Glukosenya setelah obat habis.

Seminggu kemudian Ibu K datang kembali membawa hasil pemeriksaan darahnya. Kadar Glukosenya turun sedikit tetapi masih diatas nilai normal. Keadaan lukanya masih belum sembuh dan ada sedikit bengkak ( edema ) di sekitar luka itu.

“Ah.. pasien ini kiranya harus mendapat suntikan Insulin agar Kadar Glukosenya  turun mencapai nilai normal. Agaknya pasien harus di rujuk ke Dokter Ahli Penyakit dalam di sebuah Rumah Sakit terdekat. Suntikan hormone Insulin ini untuk menurunkan kadar Glukose pasien dengan ukuran yang pas dan ini sebaiknya di monitor di Rumah Sakit. Saya khawatir kalau lukanya meluas dan suatu saat kaki pasien tidak tertolong lagi sehingga perlu dilakukan amputasi ( pemotongan ). Pasien akan menjadi cacad ( invalid ).

Pasien ini menolak di rujuk ke Rumah Sakit dengan alasan tidak mempunyai dana yang cukup. Masalah biaya merupakan suatu hambatan besar bagi pasien untuk mendapatkan perawatan yang memadai.
“Kapan rakyat dapat menikmati pelayanan kesehatan dengan biaya terjangkau atau gratis?” saya membatin.


Sabtu, Februari 25, 2012

Badan lesu



Dalam praktik sering saya menjumpai pasien dengan keluhan utama : badan lesu, selain gejala-gejala lain seperti: selera makan menurun, tidak konsentrasi dalam belajar atau pkerjaan, sedikit demam dan lain-lain.

Badan lesu, lemah, tidak gairah bekerja / belajar dapat disebabkan karena penyakit kekurangan kadar zat Besi ( Anemia ), penyakit menahun ( TBC paru ), kurang tidur dan lain-lain. Dalam memeriksa pasien demikian biasanya saya  bertanya lebih lanjut dan membuat pemeriksaan penunjang dari Laboratorium  atau Klinik Rontgen untuk membuat Foto Thorax ( Jantung dan Paru-paru ) atau pemeriksaan Ultra Sono Grafi ( USG ). 

Dengan adanya bukti penunjang medis, dokter akan lebih mudah membuat Diagnosa ( penentuan penyakit ) yang tepat. Hambatannya adalah pasien tidak bersedia membuat pemeriksaan penunjang tsb dengan alasan tidak cukup biaya.

Menghadapi kasus demikian saya sering kali membatin: “Lebih baik berbadan sehat dengan keuangan yang pas-pasan, dari pada  punya banyak uang tetapi badan sakit-sakitan. Uang akan habis dalam sekejap untuk biaya  berobat dan lain-lain”.

---

3 hari yang lalu datang pasien, Nn. K, 9 tahun. Wanita. Ia diantar oleh Ibunya. Mereka dari golongan sosial ekonomi menengah.

Keluhannya: H menderita sedikit demam, lesu, tidak konsentrasi belajar, tidak selera makan sejak 1 minggu terakhir. Minggu lalu ia pernah berobat kepada saya dengan keluhan demam cukup tinggi ( tidak diperiksa / diukur dengan Termometer ) adan ada  flu. Saya memberikan resep puyer dan sirop antibiotoka untuk penyakit ISPA yang dideritanya. Setelah obat habis , demam berkurang tetapi gejala badan lesu belum membaik benar. Ia datang  untuk kontrol kembali.

Setelah memeriksa pasien ini yang tampak agak kurus, lesu, aura wajah tidak terang, saya menganjurkan untuk dibuat Foto Thorax dan pemeriksaan Darah ( untuk mencari tahu apakah ada penyakit Tipes perut dan DBD, Demam Berdarah Dengue ) dan Urine ( untuk mencari adakah Infeksi Saluran kencing yang juga sering memberikan gejala demam ).

Keesokan harinya  mereka datang kembali dengan membawa hasil pemeriksaan Laboratorium yang dianjurkan. Hasil Foto Thorax: KP duplex ( TBC paru kiri dan kanan ) dan hasil Urine menunjukkan adanya ISK ( Infeksi Saluran Kencing ).

Saat saya hendak membuat resep untuk penyakit-penyakit yang dideritanya, sang Ibu minta agar anaknya di rawat di sebuah Rumah Sakit saja. Keinginan ini jarang terjadi. Yang sering terjadi adalah sebaliknya yaitu pihak orang tua menolak anaknya di rawat di Rumah Sakit, lagi-lagi dengan alasan biaya perawatan.

Saya menjawab keinginan Ibu tadi dengan berkata “Kalau mau dirawat di Rumah Sakit akan lebih baik. Nanti beberapa hari kalau keadaan kesehatan putri ibu membaik dapat berobat jalan. Baik akan saya buatkan Surat Pengantar ke Rumah Sakit yang Ibu kehendaki.”

Setelah mereka keluar dari Ruang Periksa, saya membatin “ Dengan keadaan sosial ekonomi yang cukup baik, mestinya kesehatan semua anggota keluarganya  juga baik, tetapi mengapa pasien itu bisa menderita TBC paru? Kemungkinan besar ada  seseorang yang enjadi contact person yang juga menderita penyakit yang sama dan menularkan kepada pasien saya ini. Siapakah dia?” Saya belum tahu pasti siapa dia, agar dia juga  dapat diberikan pengobatan.

Penyakit TBC paru bukanlah penyakit turunan, tetapi merupakan penyakit infeksi saluran nafas yang ditularkan dari pasien kepada orang sehat.

Kejadian ini membuat saya teringat saat putri kami  masih berumur dibawah 1 tahun dan memerlukan pengasuh, maka kami mencarinya. Saat wanita calon pengasuh itu tiba, kami segera memeriksa fisik dan minta dibuat Foto Thorax. Ternyata ia menderita TBC paru. Sebelum memegang Bayi kami, kami minta  diberi pengasuh yang lain saja dari pada Bayi kami akan menderita penyakit yang sama.

Pengalaman kami ini  semoga dapat bermanfaat bagi keluarga lain yang mempunyai Bayi atau anak kecil agar mereka dapat tumbuh kembang dengan baik, sesuai dengan umur mereka.

Selamat pagi.-