Kamis, Juni 30, 2011

Melatonin



Tik…tik…tik…
Bunyi alarm bangun pagi Ponsel Huawei Android Froyo yang di setting pukul 05.00, membangunkan saya dari tidur semalaman. Ah…sudah hari yang baru lagi. Waktu berjalan terasa cepat. Umur saya bertambah 1 hari lagi. Saya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih, saya masih dapat menikmati hari yang baru dengan tubuh yang sehat. Setelah melakukan tugas rutin pagi hari dan menunggu Nasi matang  dalam Rice cooker, saya mengetuk-ngetuk keyboard komputer untuk membuka Inbox di gmail saya dan menulis beberapa artikel.

---

Kemarin sore datang berobat Pak Y, 62 tahun. Ia pensiunan PNS dari suatu Kementerian.
Keluhannya selain Flu juga ada Insomnia ( susah tidur ) sejak 1 minggu yang lalu.

Ia datang bukan karena Flunya, tetapi keluhan Insomnia yang  cukup mengganggunya. Hampir setiap malam ia susah tidur. Ia baru terlelap sekitar pukul 14.00. Dini hari ia harus sudah bangun lagi untuk solat Subuh.

Setelah pensiun, Pak Y tidak ada kegiatan dalam aktifitas sehari-hari. Untuk kebutuhan hidup sehari-hari, Pak dan Ibu Y ini ditunjang oleh  ke 4 putra/i nya yang tinggal sekota dan  tinggal di kota lain.

Secara materi keluarga Pak Y ini cukup, harmonis, tidak ada penyakit menahun yang diderita oleh Pak dan Ibu Y.

Benar Insomnia, sering kali menggangu tidur kita. Kurang tidur akan membat badan tidak fit pada keesokan harinya.

Pemeriksaan Fisik pada Pak Y dalam batas normal.

Saya membuatkan resep Tablet Multivitamin & Mineral yang diminum setelah  sarapan pagi, dan tablet Melatonin 3 mg yang diminum sebelum tidur malam.

Pak Y membaca resep itu dan bertanya “Saya diberi obat apa, Dok? Ini rasanya vitamin dan yang satu lagi apa ya? Obat Penenang atau obat Tidur?”

Saya menjawab “Yang satu benar itu Vitamin & Mineral dan yang satu lagi bukan Penenang dan bukan obat Tidur.”

Pak Y berkata lagi “Lho… saya kesini karena  susah tidur, mengapa saya tidak diberi obat Tidur atau Penenang?”

“Pak Y, Insomnia  Bapak bukan karena  Stres atau lainnya, tetapi karena hormon Melatonin yang diproduksi oleh tubuh Bapak sudah mulai menurun pada usia diatas 60 tahun produksinya sudah menurun, sehingga saya memberikan tablet Melatonin yang harus diminum  sebelum tidur malam hari. Bukan siang hari, sebab Melatonin bekerja pada malam hari. Fisik Bapak cukup bagus. Begini saja, minumlah Tablet yang saya berikan, bila sudah habis  setelah 1 minggu  keluhan Insomnia Bapak belum teratasi, silahkan Bapak kembai lagi dan tidak usah bayar lagi” saya memberi sugesti seperti ini kepada pasien yang sudah lanjut agar ia menjadi PD (Percaya Diri).

---

Di pasaran Melatonin digolongkan kedalam tablet Suplemen. Bukan suatu obat Antibotika atau lainnya. Dijual tanpa  resep dokter dengan harga terjangkau, sekitar Rp. 4.000,- /tablet 3 mg. Negara yang sudah memproduksi adalah USA dan Australia.

Melatonin ( N-acethyl-5-methoxytryptamine ) adalah hormon yang diproduksi oleh Kelenjar Pineal yang ada di dalam Otak pada malam hari.

Pada usia 60 tahun produksinya akan menurun. Melatonin pada manusia mengatur siklus tidur-bangun seseorang yang secara kimiawi akan membuat ngantuk dan menurunkan suhu tubuh.

Produksi Melatonin oleh Kelenjar Pinel ini akan dihambat oleh sinar dan dilepas pada saat gelap sehngga disebut sebagai hormone kegelapan ( the hormone of darkness ).

Bila diminum beberapa jam sebelum tidur, akan menyebabkan pengaturan jam biologis manusia sedemikian rupa sehingga tidur lebih cepat dan waktu bangun  pagi. Melatonin mengatur ritme sirkadian ( siang dan malam hari ) manusia.

Melatonin bukan suatu obat tidur / Hipnotika, tetapi supplement yang akan memperbaiki siklus tidur-bangun manusia, sehingga bila diminum sebelum tidur akan membuat tidur lebih cepat.

Saya meminumnya untuk mengatasi Insomnia dan mengatasi Jet lag, gangguan fisik apabila saya berada di Negara dengan perbedaan wktu yang besar. Misalnya perbedaan 4 jam zona waktu antara WIB ( +7 GMT ) dan Sydney Time ( +11 GMT ).

Untuk beradaptasi dengan zona waktu ini, maka perbedaan 1 jam zona waktu memerlukan 1 hari penyesuaian. Bila 4 jam maka perlu waktu penyesuaian  selama 4 hari ( terlalu lama, sedangkan kita  hanya  berada di Sydney hanya 1 minggu misalnya ).

Dengan minum tablet Melatonin, maka Jet lag dapat diatasi dengan lebih cepat.

Anda dapat menyimak lebih lanjut tentang Melatonin ini disini.

Rabu, Juni 29, 2011

Kulit kering



Gatel.
Ya gatel. Siapa yang belum pernah merasa gatel?
Obat manjur apa untuk Gatel?
Obat manjurnya adalah digaruk.

---

Kemarin pagi datang berobat Pak L, 65 tahun.
Keluhannya sering merasa gatel di kulit lengan bawah atau  tungkai bawah.
Tidak ada sebab yang dapat dicurigai sebagai penyebab Gatelnya itu.

Keluhan gatel seperti Pak L ini sering dijumpai pada orang yang sudah berumur atau setengah baya. Gatel merupakan sensasi sakit derajat yang paling ringan. Kalau lebih berat, maka sensasi itu dirasakan sebagai rasa sakit.

Pada usia lanjut, kulit akan lebih kering sebab aktifitas kelenjar minyak di kulit mulai menurun, sehingga kulit tidak terlumasi minyak dan kulit menjadi kering. Udara yang panas di negara-negara tropis seperti Indonesia, maka penguapan cairan tubuh akan makin cepat sehingga kulit lebih kering.

Rasa gatel bukan monopoli karena faktor usia saja, tetapi ada suatu penyakit yang terkenal memberikan komplikasi rasa gatel di kulit. Penyakit itu adalah Kencing manis atau Diabetes Mellitus. Ada teman saya yang menyebutkan sebagai Diabetes Meletus. Mungkin maksudnya guyon tetapi oleh penderita penyakit ini dapat dianggap sebagai ledekan.

Saya memberikan advis agar Pak L:

  • Mau memeriksakan Darahnya apakah kadar Glukose ( Gula ) nya meninggi atau tidak, meskipun menurut pengakuannya ayah dan Ibunya tidak menderita sakit gula ini. Bila ada sakit DM, maka segera diterapi.
  • Mengolesi kulitnya dengan Hand and body lotion ( aroma bunga Laveder cukup lembut dan nyaman ) agar kulitnya lembab untuk mengurangi kekeringan kulitnya terutama  pada daerah yang tidak tertutup pakaian.
  • Cukup minum, minimal 2 liter / hari ( 1,5 liter utk mengganti cairan tubuh melalui urine yang keluar dan 0,5 liter cairan tubuh yang menguap melalui udara pernafasan ). Bila  banyak berkeringat misalnya  olah raga, suhu ruangan kerja cukup panas maka masukan cairan ( minum ) agar diperbanyak.
  • Mandi cukup 2 kali sehari saja. Makin sering mandi, maka makin sering kulit terkena sabun dan akan makin kering kulit sebab minyak  pada permukaan kulit akan terbuang karena sabun mandi yang dipakai.

Untuk keluhan gatelnya sementara hasil pemeriksan Gula Darah belum didapat, saya berikan resep Krim kulit penghilang gatel. Minum tablet Antihstamin ( mereknya banyak dijual di apotik ) sering membuat sensasi tidak nyaman, sebab akan memberikan rasa ngantuk, sehingga badan lemes dan sulit diajak bekerja pada siang hari. Kalau mau minum tablet golongan ini mesti dicari tablet yang tidak mempunyai efek samping rasa ngantuk.

Cacingan (2)



Ngomong-ngomong soal Cacing, saya teringat saat saya masih menjadi Ko-asisten di Fakultas Kedokteran sekitar  tahun 1974, ada suatu pengalaman yang membekas dalam ingatan saya.

Suatu saing saya dan beberapa teman Ko-asisten lain membantu seorang Doter Bedah yang bertugas untuk melakukan tidakan operasi di Ruang O.K. ( Operasi Kamer ).

Pasiennya seorang Bocah umur sekitar 7 tahun yang mengalami Ileus, suatu sumbatan pada Usus yang besar dapat disebabkan oleh benda yang menghalangi aliran ampas makanan ke lubang anus.

Pada Foto BNO ( foto Rontgen perut ) tampak Usus besar yang membesar, banyak  mengandung udara. Pasien tidak dapat b.a.b. dan sangat kesakitan.

Pada saatnya Dokter Bedah membuka usus yang menggelembung itu dan surprise…..
Di dalam rongga usus besar pasien  banyak terdapat Cacing Tambang.

Dokter berkata kepada perawat yang bertugas “Suster, coba dihitung ada berapa banyak Cacing ini.”

Setelah dihitung ada 30 ekor Cacing Tambang dari dalam Usus besar pasien ini.

Ah..gelinya sang Suster yang menghitung-itung Cacing itu yang masih bergerak-gerak.
Kalau bukan karena tugas, ingin rasanya ia  segera lari menjauh dari O.K.

---

Banyaknya Cacing Tambang dalam Usus besar akan membuat sumbatan bagi aliran pencernaan dan  dapat menyebabkan Ileus obstructiva.

Jadi jangan anggap enteng mahluk yang kecil ini. Kalau berada  di tempat yang vital dapat menyabot fungsi saluran pencernaan manusia dan membutuhkan biaya operasi yang  cukup mahal.

Cacingan ( 1 )



Suatu malam Ibu B, 35 tahun, datang mengantar putranya A, yang berumur Balita.
Keluhan Ibu B ini adalah kalau malam hari si A sering garuk-garuk pantatnya.
Konon katanya putranya tidak menderita alergi terhadap apapun, setiap sesudah mandi selalu ganti pakaiannya, tidak pernah bermain-main di kebun.

Ibu B bertanya kepada saya “Mengapa ya, Dok?”

Setelah memeriksa fisik A, penampilannya cukup baik dari golongan menengah, status kesehatannya dalam batas normal.

“Ibu, tolong dibantu. Saya ingin melihat ubang anusnya” kata saya.

Setelah  celana A di lepas, saya memeriksa daerah anusnya.
Pantatnya bergerak-gerak dan  suatu saat  saya melihat ada benda yang keluar dari lubang anus itu. Benda itu putih seperti parutan Kelapa.



Aha…itu cacing Kremi ( Oxyuris / Enterobius vermicularis ). Cacing ini merupakan Parasit dalam tubuh manusia.

Gejala yang khas adalah pasien ( anak-anak sampai usia dewasa ) kalau malam hari, mereka  merasa gatal pada daerah anus. Malam hari cacing Kremi ini keluar dari lubang Anus dan memberikan sensasi yang tidak nyaman pada daerah Anus.

Bila menjumpai pasien yang menderita Cacing ini maka, sebaiknya, segera ganti seprei ( kain penutup bed ) dan dicuci bersih, kalau perlu direndam dengan air panas agar bila ada Cacing disana dapat mati.

Juga  yang amat penting adalah: bila menjumpai ada anggota keluarga yang menderita cacing Kremi atau jenis cacing lain seperti cacing Tambang: Necator americanus, Ascaris lumbricoides, kita mesti memberikan Obat cacing kepada seluruh anggota keluarga.

Obat yang biasa dipakai saat ini adalah: Pirantel pamoat denan dosis 10 mg per Kg berat badan. Pada anak-anak sudah ada  kemasan sirup obat cacing ini. Bila BB Balita 12 Kg, maka takaran yang diberikan adalah: 12 x 10 mg = 120 mg atau 5 cc Pirantel pamoat ( setiap 5 cc obat mengandung 125 mg Pirantel pamoat). Bila BB pasien 50 Kg, maka takaran yang diberikan adalah: 50 x 10 mg = 500 mg ( 2 tablet a 250 mg / tablet ). Kemasan tablet: 125 mg dan 250 mg / tablet.

---

Kemarin sore datang Ibu Z, 37 tahun, datang mengantar putrinya N, 16 tahun.
Kemarin sat b.a.b Ibu Z mendnegar suara gaduh dari Toilet rumahnya.
N berteriak-teriak seperti orang ketakutan.

“Ada apa, Neng?” ia bertanya kepada Z yang masih berada di dalam Toilet.

“Geli, geli, Bu.” kata N.

Setelah membersihkan dengan kertas tissue, N keluar dari toilet.

“Saat saya b.a.b. ada  benda yang bergerak-gerak dari dubur saya, Bu” kata N.

Ibu Z segera melihat tempat duduk di kloset. Astaga…ada seutas benang yang bergerak-gerak. Apakah itu Mie?

Kemarin malam keluarga mereka menjantap Mie Goreng  buatan Ibu Z.
Mosok makan Mie, keluar Mie juga. Mestinya sudah hancur, apalagi masih bisa bergerak-gerak. Pasti ini bukan Mie, tetapi itu benda lain. Panjangnya sekitar 15 Cm, warna putih kekuning-kunngan.

Ayah N juga datang mendekati Toilet ketika ia mendengar suara gaduh di sana.
Ayahnya berkata “Wah…ini bukan Mie, tetapi itu Cacing, Bu.”

“Sebaiknya, kita memeriksakan N kepada Dokter langganan kita , Bu.”



Saat saya mendengar kisah mereka, saya mengambil kesimpulan bahwa N menderita Cacing Tambang (Ascaris lumbricoides ), bukan Kremi, sebab panjang Kremi sekitar 1 Cm saja.

Dari mana Cacing bisa ada di dalam tubuh manusia? Meraka memasuki saluran pencernaan manusia melalui makanan yang di santap. Mungkin saja Sayuran ( lalaban ) segar yang tidak direbus dan tidak bersih dicuci, masih terdapat Telur-telur cacing Tambang dan Kremi. Di dalam saluran pencernaan, telur-telur menetas dan berkembang menjadi Cacing dewasa. Mereka menjadi Parasit yang menyedot darah dari dinding Usus manusia.


( siklus hidup cacing Kremi )

Saya memberikan resep obat berupa 2 tablet yang mengandung Pirantel pamoat kepada Nn. N. Juga obat cacing kepada seluruh keluarga Ibu Z dan berpesan agar kalau mau makan sayuran ( lalaban ) mentah mesti dicuci dahulu dengan bersih.

Ada iklan yang konon dapat membuat bersih Sayuran dan Buah-buahan dengan merendam dan mencucinya dengan sabun merek tertentu. Wah…promosi nih.

Untuk menjcegah agar kita tidak menderita Cacingan, maka sebaiknya setiap 3-4 bulan sekali kita mesti makan obat Cacing, tidak peduli ada Cacing atau tidak. Kalau ada Cacing, mereka akan keluar dan kalau tidak ada Cacing, tidak ada ruginya, sebab harga Obat cacing sangat terjangkau.

Met pagi.-

Selasa, Juni 28, 2011

Abses umbilikus



4 hari yang lalu Pak. F, 26 tahun datang berobat.
Keluhannya dari Puser keluar cairan putih kekuning-kuningan, sejak 5 hari yang lalu.
Terasa nyeri, tidak ada demam, terlihat warna kemerahn pada Puser dan jaringan sekitarnya. Bila ditekan keluar cairan nanah dari sebuah lubang kecil seelah kanan. Puser yang seharusnya cekung ke dalam perut, tampak menonjol, sebesar kelereng.

Selama saya praktik sejak tahun 1980 belum pernah menjumpai pasien yang menderita Abses umbilikus ( abses pada Puser ). Lokasinya sangat riskan yaitu hanya beberapa Cm dari Rongga perut yang berisi Usus dan alat-alat dalam.

Segera saya mengeluarkan cairan Nanah tsb dengan menekan dari arah tepi ke arah titik tengah puser. Ada banyak Nanah ( pus ) yang keluar. Saya berikan Kompres larutan Betadine di atas  Abses tsb.

Saya memberikan resep obat: tablet kombinasi Amoksisilin dan Asam klafulanat, tablet anti inflamasi dan tablet pain killer untuk jatah 5  hari. Saya berpesan ybs melakukan penggantian kompres Betadine tiap 2 jam sekali untuk menyerap Nanah dan berpesan agar hari ke 3 datang control kembali.

Kemarin sore Pak F datang untuk kontrol. Reaksi peradangannya tetap tidak membaik dan masih banyak Nanah di bawah kulit dinding perut. Saya pikir lebih baik di rujuk ke Bagian Bedah RS terdekat untuk dilakukan Incisi ( pembuatan lubang dengan menyayat kulit pada abses ) agar proses pengeluaran Nanah lebih sempurna dan dengan demikian penyakitnya lebih cepat sembuh.

---

Samar-samar ingatan saya menuju ke beberapa puluh tahun yang lalu, saat saya berumur 5 tahun atau 58 tahun yang lalu. Satu saat telapak kaki kanan pada bagian Jempol kaki, terasa nyeri  selama beberapa hari. Makin lama makin membengkak,  terasa nyeri dan kulit tampak kemerahan. Saya tidak dapat memakai sepatu kalau ke sekolah.

Saya  melaporkan hal ini kepada ayah saya, yang segera mengantar saya  berobat kepada salah seorang Dokter praktik umum dekat rumah kami. Saya tidak mengerti dari mana asalnya  luka atau infeksi itu, tau-tau sudah menjadi Abses ( penimbunan nanah di bawah kulit ).

Dokter yang baik dan sabar itu berkata bahwa ini adalah sebuah Abses pada kulit yang  sudah waktunya untuk dilakukan Incisi ( penyayatan kulit ) untuk segera mengeluarkan Nanah yang berkumpul dibawah jaringan kulit jempol kaki kanan saya.

Ada perasaan takut dalam diri saya. Saat itu saya tidak mengerti apa arti Incisi itu dan kaki saya mau diapakan oleh Dokter tsb. Saat saya berbaring di bed pemeriksaan, saya sudah pasrah. Saya tidak berpikir akan mati. Masak mau diobati, kok malah mati. Demikian pikir saya yang berusia masih bocah ini.

Setelah Dokter mengoleskan semacam cairan pada kulit telapak kaki saya, dengan sebuah pisau operasi yang tajam Dokter dengan cepat menyayat kulit telapak kaki saya pada daerah Abses itu. Saya tidak merasakan nyeri sedikitpun, apalagi mengangis. Dokter yang  cekatan itu segera mengeluarkan dan  membersihkan tumpukan Nanah itu.  Telapak kaki saya segera dibalutnya.

Saat pulang Dokter memberikan selembar resep obat kepada ayah saya untuk segera diminum oleh saya. Dalam waktu 5 hari sembuhlah Abses kaki saya. Terima kasih Pak Dokter.

Mungkin sekali Dokter itu sekarang sudah almarhum, sebab peristiwa itu hampir 60 tahun yang lalu. Kalau Dokter itu berumur 40 tahun saat mengobati saya, tentu usianya saat ini sudah 100 tahun. Kemungkinan dokter tsb saat ini sudah dipanggil Tuhan, tetapi jasanya kepada saya tetap saya ingat sampai saat ini.

Setelah sembuh  saya membatin “Terima kasih, Dok. Semoga Tuhan memberkati Dokter.”

---

Peradangan atau Infeksi pada jaringan kulit ( cutis ) atau Celulitis dan jaringan di bawah kulit ( subcutis ) yang tidak segera diobati dengan baik dapat memberikan penyulit ( komplkasi ) berupa infeksi yang  lebih luas dan dalam dan terbentuklah Abses ( penumpukan nanah yang  berasal dari sel-sel darah putih yang mati terserang Bakteri ).

Abses membutuhkan tindakan terapi yang lebih rumit dan lebih mahal, juga memberikan penderitaan yang lebih  hebat.

Pada pasien yang menderita penyakit Kencing Manis ( Diabetes Mellitus ), Ceulitis mesti segera diobati dengan baik. Bila terlamabt maka akan terjadi Abses yang hebat  dan bahkan terjadi Gangren ( kematian jaringan ). Misalnya Jempol kaki yag berwarna Hitam dan mesti dilakukan tindakan Amputasi ( pemotongan dengan Pisau Bedah  ) yang memerlukan waktu rawat inap di Rumah Sakit dan biaya yang aduhai. Berharaplah jangan sampai terjadi komplikasi ini.

Doa



( 3 Bukit "Three Magnificent Sisters", Blue Mountain, Sydney, Australia yang sudah dikunjungi oleh jutaan turis domestik dan internasional. Suatu maha karya Tuhan Semesta Alam )


Setiap saat, setiap hari, setiap menghadapi masa-masa  yang sedih / masa-masa yang senang, tentulah kita mengucapkan syukur atau doa kepada Yang Maha Kuasa.

Saat kami menikahkan putra kami, ada beberapa relasi yang diundang tetapi berhalangan datang. Mereka tetap mengirimkan ucapan selamat dan doa-doa semoga kami semua diberkati oleh Yang Maha Kuasa. Amin. Sungguh kami senang dan berbahagia, masih ada relasi yang mau mendoakan kami.

Saya yakin anda juga pernah mengalami kejadian seperti itu.

Minimal sudah 2 kali saya mendapatkan kiriman Doa dari seseorang yang berinisial S. Pada akhir SMS-nya beliau menuliskan namanya. Mungkin sekali beliau mengirimkan Doa itu bukan hanya kepada saya saja, ttapi juga kepada orag-orang lain yang beliau kenal nomer HP-nya.

Saya berpikir keras dari mana beliau tahu nomer HP saya. Rasanya saya  kenal dengan nama S ini. Mungkin sekali ini adalah teman saya saat kami duduk di bangku SMA Negeri Cirebon. Kami meninggalkan sekolah ini pada tahun 1966. Sudah 45 tahun kami jarang bertemu, tetapi beliau masih mau berkirim SMS. Luar biasa kemauan beliau ini. Jarang ada orag seperti beliau.

Saya mencari Buku Daftar Alumni sekolah  kami ini yang saya simpan di sebuah lemari buku, ternyata benar S adalah inisial dari S..D.. ( maaf tidak saya sebutkan untuk menjaga privasi beliau ).

Saya membalas SMS beliau, berterima kasih dan juga mendoakan semoga beliau dan keluarga tetap sehat walafiat dan diberkati oleh Tuhan.

Saya tidak bertanya mengapa beliau gemar berkirim SMS bagi orang lain. Tidak ada salahnya utuk berbuat kebaikan bukan?

----

Saat ini kita sangat bersyukur dengan  kemajuan Tehnologi. Dengan sebuah alat yang kecil mungil yang bernama Handphone, Telepon Seluler atau Mobile phone, tidak peduli berapapun mahal harganya atau berapapun canggihnya ( smartphone ) itu yang penting 2 fungsi dasar HP ( dapat bicara dan kirim/terima SMS ), maka semua berita dapat kita kirim / terima.

Saat  saya menerima sebah SMS dari putri kami yang berdomisili di kota Sydney, Australia dan saya balik mengirim jawaban, maka dalam bilangan menit saya sudah mendapat balasan SMS dari putri kami yang berjarak 6.000 Km, 7 jam penerbangan pesawat Jumbo jet  dan 4 jam perbedaan waktu ( lebih siang dari WIB ) dari kota kami. Hebat.

Masih adakah alat komunikasi seperti sebuah HP. Mungkin ada, yang dimiliki oleh Angkatan Bersenjata atau Badan Intelijen, tentu dengan haraga yang lebih mahal. Dengan sebuah HP produksi Cina dengan harga semurah Rp. 200.000 – Rp. 300.000,- pun kita sudah dapat berhalo-halo dan saling kirim SMS setiap saat ( sambil nyebrang jalan, sambil setir mobil yang dilarang, sambil duduk di sebuah kantin, sambil  duduk buang hajat dll ).

Dimana saja, Kapan saja dan Siapa saja. ( saya teringat Slogan Coca-cola yang berkata demikian ). Selama  HP masih mendapat sinyal maka semuanya beres. Hebatnya sebuah HP.

Aneh rasanya kalau diantara kita masih ada orang yang  tidak / belum dapat kirim SMS. Orang-orang yang demikian jumlahnya cukup banyak yang saya temui.

Mereka mampu membelinya tetapi tidak mau belajar.
Mampu dan Mau, 2 hal yang pokok. Yang lebih penting sebenarnya Mau ( Kemauan ). Bila masih belum punya masih dapat pinjam dari orang lain. Maaf bukan menggurui.

Kadang saya jengkel karena SMS saya kok tidak dijawab, ternyata mereka tidak dapat kirim SMS, padahal mereka bukan murid SD lagi. Masih untung kalau mereka  langsung angkat HP-nya untuk segera bicara dengan saya ( dengan biaya  sedikit lebih mahal kalau kirim sebuah SMS, tergantung  pakai Operator yang mana ). Lebih enak bicara langsung katanya. Ya sudah mau apa lagi? Luar biasa……

Senin, Juni 27, 2011

K L L


He…he…singkatan apa lagi nih.
KLL atau Kecelakaan Lalu Lintas. Peristiwa ini setiap hari dapat terjadi di jalan raya.

Pak S, 60 tahun biasa mendampingi saya  sewaktu saya bertugas memeriksa kesehatan Opa dan Oma di Panti Wreda.

Hari Jum;’at yang lalu saat saya datang ke Panti dan berhadapan dengan Pak S, tampaknya ada yang beda. Ah…dagu Pak S in ada luka lecet yang hampir mengering. Luka ini membuat wajahnya agak beda dari biasanya.

Dalam Ruang Periksa sebelum saya memeriksa Opa dan Oma saya bertanya kepada Pak S “Pak, mengapa dagunya ada luka?”

Pak S berkisah, katanya beberapa hari yang lalu saat ia naik Sepeda motor melintas di jalan Anu, ia terjatuh. Disana sedang ada perbaikan jalan. Pada area tertentu ada bekas galian alat berat dan disampingnya tampak setumpuk tanah galian. Roda Sepeda motornya masuk ke lubang galian dan Pak S terjatuh. Dagunya menimpa  tanah dan ada luka lecet diameter sekitar 2 Cm.

Ah..ada-ada saja. Padahal katanya, Pak S sudah berhati-hati mengendarai Sepeda motor itu. Namun KLL dapat menimpa siapa saja pengguna jalan.

Saya bertanya “Pak, bagaimana dengan Sepeda Motor Bapak? Rusak parah?”

Pak S tersenyum “Kalau Sepeda motor saya, tidak apa-apa, Dok. Tidak ada yang rusak sama sekali, yang rusak justru dagu saya. He..he..”

Pasien yang masih dapat tersenyum dan he…he…berarti tidak sakit berat.
Saya tidak menyatakan hal ini kepadya, khawatir  saya dianggap ngeledeknya.

Pak S adalah Pensiunan Perawat yang bekerja di salah satu Rumah Sakit di kota Bandung. Ia dapat mengobati luka lecet tsb dan ia tidak minta resep apapun dari saya.

Saya berkata kemudian “Pak S, lebih baik motornya yang rusak ya dari pada Dagu Bapak yang luka.”

Pak S “he..he..iya aneh. Motor sama sekali tidak rusak, tetapi kok saya  yang luka.”

---

Putri kami, N, anak bungsu kami, ketika beruur 17 tahun pernah disuruh oleh Ibunya untuk belajar mengemudikan Sepeda motor dahulu sebelum belajar mengemudikan mobil.

N menjawab “Tidak mau, Mah.”

“Kenapa tidak mau?” Ibunya bertanya dengan heran. “Kalau mau mengemudikan mobil  tentu harus bisa mengemudikan Sepeda motor dahulu. Ada tahapannya”

“Saya tidak mau. Takut terjatuh dan badan saya luka. Saya maunya langsung belajar mengemudikan mobil saja”

“Alasannya apa?” Ibunya bertanya dengan bersemangat. Ia berpikir anak ini agak aneh, mau bisa langsung drive mobil. Ibarat Balita, sebelum bisa berlari ia harus belajar merangkaak, berdiri, berjalan dengan pegangan, berjalan dan dapat berlari. Mana ada Balita yang dari duduk, bisa langsung berlari? Semua ada tahapannya.

Pikiran saya melayang belasan tahun yang lalu. Mengingat-ingat tahapan N, belajar berjalan. Putri kami ini saat sudah bisa duduk di lantai, ia tidak merangkak dahulu, tetapi ia langsung belajar berdiri dan beberapa hari kemudian ia sudah dapat berjalan dan berlari. Jadi ada tahapan  tertentu yang ia lewati. Kalau sekolah dari kelas 1 langsung ke kelas 3, tidak belajar di kelas 2 lagi. Begitu kira-kira.

N melanjutkan dan menjawab pertanyaan Ibunya “Mah, belajar naik Sepeda motor kalau terjatuh, maka  badan saya akan luka atau lecet. Saya tidak mau badan saya luka akibat terjatuh dari Sepeda motor. Kalau saya belajar mengemudikan mobil, seandainya mesin mobilnya mati saya tidak akan terjatuh atau bila ada orag yang menabrak  saya, maka yang penyok tentu badan mobil dahulu. Badan saya tidak luka. Tentu akan lebih aman bagi badan saya.”

Glek……Ibunya dan saya terhenyak!. Ada benarnya juga sih. Ya sudah besok langsung belajar drive mobil. Setelah 2 minggu diajari Ibunya, N sudah dapat mengemudikan mobil Minbus Panher kami. Ia sudah dapat  drive mobil keluar masuk  garasi.

Saat ini N, sudah mahir drive mobilnya di kota Sydney.
Mungkin lebih mahir dari Ibunya. Maklum usianya jauh lebih muda dari Ibunya.

Mengikuti Simposium Kedokteran



25 – 25 Jnui 2011 saya dan isteri saya mengikuti suatu Simposium “3rd Cirebon Symposium In Internal Medicine” dengan tema “Update in Internal Medicine For Optimizing Service Quaity”,  yang diadakan oleh PAPDI Cabang Kota Cirebon,  yang mengambil lokasi Hotel Grage, Jl. Kartini, Cirebon.

Acaranya cukup padat yang dimulai pukul 09.00 – 17.00 yang diselingi Coffee break dan Lunch. Pada akhir acara setiap hari ada Undian door price, tetapi saat itu kami belum beruntung mendapat undian.

Manfaat mengikuti Simposium ini adalah untuk mendapatkan Sertifikat  dengan sejumlah SKP  (Satuan Kredit Profesi) untuk menambah nilai SKP para Dokter Praktik untuk  menerbitkan STR (Surat Tanda Registrasi) dari KKI (Konsil Kedokteran Indonesia) yang selanjutnya diperlukan untuk dapat memiliki SIP (Surat Ijin Praktik). Penerbitan oleh Dinas Kesehatan setempat perlu proses dan waktu yang mesti dilakukan oleh para Dokter yang ingin melakukan Praktik.

Ilmu pengetahuan yang kami peroleh dari Simposium ini  dapat menambah ilmu yang tidak diperoleh ketika kami kuliah beberapa puluh tahun yang lalu. Ilmu pengetahuan Kedokteran selalu berkembang. Medicine is a long life study.

Selain itu, kami juga dapat bertemu dengan Temat Sejawat yang lama sudah tidak bertemu. Mereka ada  di tempat yang cukup jauh misalnya Dr. R dari Kecamatan Gabus Wetan, Indramayu, Dr. JK dari Hauergeulis, Indramayu. Mereka harus mengendarai kendaraannya selama 2 jam drive ke kota Cirebon. Suatu perjuangan keras untuk dapat mengikuti Simposium ini.

Beberapa bulan yang lalu kami juga mengikuti acara PKB ( Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan ) yang setiap tahun diadakan oleh Fak. Kedokteran UNPAD, Bandung. Kami harus drive selama 4-5 jam ke Bandung untuk mendapatkan Sertifikatnya. Ada beberapa teman lain  yang mengikuti suatu Simposium di kota Jakarta atau Denasar ( Bali ). Selain mengikuti Simposium juga mereka dapat melancong melihat kota-kota lain. Untuk semuanya itu perlu dana yang cukup besar ( biaya Simposium, Transport dan Hotel ).



Saat break hari pertama kami berfoto bersama baik dengan Teman Sejawat, maupun dengan para Medical Representative dari perusahaan Farmasi tertentu.

Sepulang dari Simposium, foto-foto iu saya oleh di Komputer dan saya cetak ukuran postcard ( 3 R ) atau 10 R, yang lebih besar.

Teman saya, Dr. R mengucapkan terima kasih atas pemberian Foto bersama kami, ukuran 10 R. Ia tidak menyangka dengan bantuan sebuah Digital camera, dapat diproduksi sebuah foto 10 R dengan resolusi  8 Megapiksel yang cukup memadai untuk diperbesar. Resolusi Kamera pada handphone umumnya sekitar 1,3 – 5 Megapiksel.

MR wanita dari sebuah perusahaan farmasi berterima kasih mendapat Foto bersama ukuran Jumbo postcard. Tidak menyangka secepat itu  ( besoknya ) sudah menerima foto tsb. Gratis lagi. Betapa senangnya mereka.

Bagi yang mempunya email address, foto bersama itu saya kirimkan via email. Dalam bilangan detik foto itu sudah sampai ke Mailbox mereka.

Bagi saya semuanya itu merupakan suatu kegiatan rutin saat mengikuti Simposium. Sebuah Kamera Digital merk Kodak 8 Mp, sebuah  Komputer, Modem Smartfren untuk koneksi Internet Unlimited  dan sebuah Printer merk Epson R230, sangat membantu pekerjaan saya sehari-hari.

Pada saat break, kami  ngobrol dengan teman sejawat lain, bertukar pengalaman dan berdiskusi banyak hal termasuk: masalah keluarga, kesehatan dll.


Sabtu, Juni 25, 2011

Mencapai cita-cita


 ( foto ilustrasi )

Bulan yang lalu ada sepasang suami-isteri datang mengantar putranya S, 15 tahun yang menderita batuk, pilek.

Setelah memeriksa dan mebuat resep untuk S, Bapak dan Ibu Sutikno ( bukan nama sebenarnya ) lama memandang Foto-foto saat putra dan putri kami diwisuda. Foto-foto itu saya pasang di tembok disamping saya.

Saya bertanya kepada mereka “Bapak, Ibu ada apa? tampaknya Anda serius sekali melihat Foto-foto itu.”

Ibu Sutikno berkata “Itu foto-foto putra dan putri dokter?”

“Benar”.

Pak Sutikno bertanya “Ambil study bidang apa, Dok?’

Sebenarnya saya  tidak ingin menjwab pertanyaan ini, tetapi saya melihat mereka tampak serius dan menanti jawaban saya selanjutnya.

“Saya menjawab “Putra kami saat itu sudah menyelesaikan jenjang pendidikan Strata 1, Kedokteran Umum dan saat ini sedang menyelesaikan S2nya. Putri kami di wisuda setelah menyelesaikan jenjang S1, Tehnik Kimia dan menyelesaikan S2, Biomedikal Tehnologi. Mereka  berkampus di UNSW, Sydney.”

Mereka  bersamaan berkata “Luaar biasa, dokter.”

Kai ingin agar putra kami satu-satunya ini dapat study seperti anak dokter.”

“O… ingin menjadi apa?” saya bertanya lagi. Kebetulan  masih belum ada pasien lain yang ingin berobat sehingga kami ada  cukup waktu untuk berbincang-bincang dengan Ortu pasien saya ini.

Ibu S menjawab “Ingin jadi Dokter.”

Saya menjawab “Baik, Bu cita-citanya, tapi ngomong-ngomong yang ingin jadi dokter, orang tuanya atau anaknya? Apakah Bapak dan Ibu sudah bertanya kepada putra ibu? Ia bercita-cita ingin sekolah apa?”

Glek…ditanya dengn pertanyaan ini, kedua aorang tua ini terhenyak.
Iya-ya yang ingin jadi dokter mereka atau anaknya?

Lalu saya bertanya kepada pasien saya yang berwajah cakep ini “Adik bercita-cita ingin  menjadi dokter?”

Dengan lantang  S menjawab “Bukan itu, dok.”

“Lalu ingin jadi apa? kalau bukan jadi dokter sepertikeinginan orang tua adik?”

S tampak ragu-ragu dan melihat kedua orang tuanya, seolah takut dimarahi.

Ibu Sutikno berkata dengan nada lemah lembut “Nak, seenarnya ingin sekolah apa setelah lulus SMU nanti?”

S menjawab “Kalau boleh sih, saya ingin sekolah T.I.”

Kedua orang Tanya  masih bingung mendengar istilah T.I. atau Tehnologi Informatika, yang bergelut di bidang Komputer.

Saya berkata kepada mereka “Nah…lho putra Ibu dan Bapak ingin sekolah T.I. tetapi Anda berdua ingin agar S sekolah Dokter. Bagaimana ini? Jadi benarkan, yang ingin jadi dokter adalah orang tuanya.”

Lemaslah kedua orang tua ini. Ternyata mereka tidak menyangka bahwa cita-cita orang tua berbeda dengan cita-cita putranya.

Melihat ada rasa kecewa pada kedua orang tua ini, saya melanjutkan “Ibu dan Bapak, tujuan akhir menuntut ilmu adalah untuk melayani orang lain dan mencari uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Apapun sekolahnya, tidak menjadi masalah. Asal dijalankan dengan baik, maka hidup putra Anda akan sukses juga. Tidak peduli apakah ia menjadi Dokter, Ahli T.I. atau lainnya.”

Ibu Sutikno berkata”Tapi, dok… kami ingin agar putra kam  dapat jadi dokter seperti dokter Basuki ini.”

“Ah..Ibu. Sebenrnya cita-cita Ayah saya dan cita-cita saya juga tidak sama. Yang ingin jadi dokter sebenarnya Ayah saya.”

Pak Sutikno bertanya lagi “Lalu sebenarnya cita-cita dokter Basuki apa?”

Saya mejawab “Saya ingin menjadi dokter hewan.”

Mereka bertanya lebih agresif “Mengapa Dokter Hewan, dok?’

Menjelang Ujian akhir SMU saya berpendapat “Dokter Hewan lebih pandai dari pada Dokter Manusia ( maaf ). Kalau manusia dapat diajak bicara, sedangkan Hewan tidak dapat diajak bicara manusia . Jadi kalau dapat menyembhkan Hewan tanpa  banyak bicara, maka ini suatu hal yang hebat. Itulah sebanya saya ingin menjadi Dokter Hewan.”

“O..gitu ya dok.”

“Tapi ya sudahlah, akhirnya saya kuliah di Kedokteran dibiayai Ayah saya dan saya menjadi dokter dan mengobati putra Anda ini. Begitulah riwayatnya, Ibu” kata saya menjelaskan panjang lebar.

Bapak dan Ibu Sutikno lama terdiam.

Saya melanjutkan “Bung Karno pernah mengatakan Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit. Jadi silahkan saja bercita-cita  ingin menjadi apa. Kemudian mantan Wapres Pak Adam  Malik  pernah berkata Semua dapat diatur. Ingin jadi dokter boleh. Ingin jadi Ahli Komputer boleh. Lalu bernegosiasiah ( win-win solution ), dengan kasih dan keikhlasan maka semuanya  dapat tercapai dengan damai. Kalau seandainya mau-dua-duanya, bisa diatur. Setelah lulus sekolah Dokter, kemudian ambil Kursus Komputer, maka kedua ilmu itu dapat diraih juga bukan?

“Lalu apa kiatnya, dok “ kta Pak dan Ibu Sutikno.

Saya menjawab “Ada 2 hal yang penting di dunia ini, yaitu: Kemauan dan Kemampuan.”

“Maksud dokter bagaimana?” Ibu S bertanya lagi.

Saya menjelaskan “Kemauan saja ( cita-cita ), tidak cukup kalau tidak ada Kemampuan ( ilmu, biaya dll ). Jadi keduanya harus sinkron dimiliki.”

Pak Sutikno bertanya lagi “Kalau begitu yang paling penting yang mana,dok?”

Saya melanjutkan “Yang penting adalah adaya Kemaun. Bercita-cita ingi menjadi ini dan itu akan percuma saja kalau tidak ada kemauan ( niat ingsun, Jawa ). Kemampuan ( dana dll ) bisa diusahakan dapat berasal dari orang tua atau bea siswa yang dapat diperoleh kalau prestasi sekolahnya bagus. Ada orang yang puya cukup uang untuk membeli mobil bagus ( punya Kemampuan / uangnya ada  ), tetapi ia tidak dapat mengendarai mobil itu sebab ia tidak mau ( punya rasa takut dll ), tidak punya Kemauan. Ia harus punya Supir untuk mengendarai mobil bagus itu.”

“Hidup banyak pilihan, kita mau ambil yang mana?” saya menutup obrolan saat itu.

Bapak, Ibu dan putranya S  dapat memahami pendapat dan masukan dari  saya. Semoga mereka dapat memecahkan masalah mereka dengan aman dan damai.

Saat itu saya mendapat pengalaman satu lagi. Dapat memberikan jalan keluar untuk memecahkan masalah mencapai sebuah cita-cita.-

Jumat, Juni 24, 2011

Orang tua marah kepada anak


( foto ilustrasi )

Sore ini datang berobat Pak S, 84 tahun. Ia diantar oleh putranya yang sulung, dengan naik sepeda motor. 3 tahun yang lalu, ia pernah berobat dengan Hipertensi. Setelah itu ia tidak pernah datang lagi untuk kontrol. Istri pak S sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.

Sore ini keluhannya: susah tidur ( insomnia ), tidak kuat berjalan jauh, ada ada luka lecet di kulit punggungnya.

Setelah diperiksa dan diberi resep obat. Pak S curhat kepada saya.

“Dok, saya mau ngobrol sebentar, boleh engga?” Ia meminta kepada saya.

Saya menjawab “Pak, silahkan kalau  ada yang  mau di utarakan kepada saya. Saya siap mendengarkan. Apa masalah Bapak?”

“Kenapa ya Dok sekarang, anak-anak saya  terlalu ikut campur dengan apa yang akan saya lakukan.”

“Maksud Bapak, bagaimana? Bisa lebih rinci lagi, Pak “ saya menjawabnya.

“Tadi sewaktu saya mau berobat kepada Dokter Basuki, saya bilang kepada putra saya, bahwa saya akan naik Becak saja, tidak usah diantar lagi. Putra saya  akhirnya menyarankan agar saya diantar naik sepeda motor saja agar ada yang menemani datang ke tempat dokter. Kalau saya mandi malam hari, putra saya melarangnya, padahal saya masih kuat mandi air dingin. Kalau bangun malam hari mau pipis, putra saya melarang untuk  pipis di kamar mandi yang jaraknya agak jauh dari kamar tidur saya. Katanya pipisnya di  pispot saja, agar lebih dekat. Saya kan masih kuat jalan dan masih dapat melakukan apa-apa sendiri. Mengapa saya mesti di atur-atur oleh anak saya?” Pak S berkisah dengan wajah yang kusut. Emang rambutnya kusut ( mungkin tidak sempat disisir sebelum berangkat ) dan rambut sudah banyak beruban.

Saya diam sejenak. Mau bicara apa kepada Pak S ini.

Saya melanjutkan “Benar, Pak. Saat ini orang tua tidak dapat ngatur anak, tetapi anaklah yang ngatur orang tua. Mungkin jaman sudah berubah. Iya benar sudah berubah, kan? Dahulu, anak-anak masih kecil. Orang tua yang merawat dan mengatur anak-anak. Sekarang orang tua sudah S3 ( Sudah Sangat Sepuh, 84 tahun ),  tenaga sudah jauh berkurang, kesehatan sudah menurun banyak. Sebenarnya sih nafsu masih besar, tetapi tenaga sudah kendor. Bapak saat ini sedang mengalami Stres atau perubahan. Semua di dunia ini ada masanya. Ada masa kecil, ada masa tua. Ada masa senang dan ada masa sedih. Ada masa muda dan ada masa tua. Itulah yang sedang terjadi pada diri Bapak saat ini. Jadi wajar saja. “

Kepala Pak S mengangguk-angguk, tanda setuju dengan ucapan saya.

“Sebenarnya saya tidak setuju begitu.” Pak S membela diri.
Berbicara dengan orang yang S3 mesti sabar, lebh banyak mendengarkan.

Wah ngobrolnya bisa panjang nih…saya membatin. Saya ingin mengetahui apa pembelaan Pak S selanjutnya.

“Bapak maunya bagaimana?” saya bertanya kepada Pak S.

Pak S tampak bingung juga, mau jawab apa? Setelah berpikir, akhirnya Pak S berkata lagi “Yang saya mau adalah, anak-anak tidak usah ngatur-ngatur saya, karena saya masih dapat melakukanya sendiri.”

Saya menjawab “Itu kata Bapak, ditinjau dari sudut pandang Bapak benar, tetapi ditinjau dari sudut pandang anak-anak, itu tidak benar. Orang tua yang sudah sepuh, wajib dirawat oleh anak-anaknya. Sudah  kewajiban anak-anak untuk merawat Ayahnya yang sudah sepuh. Saat mereka masih anak-anak, maka sudah kewajiban orang tua yang merawat anak-anak. Sekarang terbalik. Sudah waktunya Bapak dirawat oleh anak-anak. Fisik Bapak kan sudah tidak muda lagi. Bapak jalan jauh sudah tidak sanggup, kan lebih baik dibonceng naik sepeda motor dan ada yang antar kemana Bapak mau jalan. Bapak mandi malam hari dengan air dingin, itu untuk apa. Kan  pagi hari, Bapak nanti bisa mandi juga dengan air hangat lagi. Kenapa Bapak mesti mandi malam hari? Dan apa perlunya? “ saya mendebat pendapat Pak S ini.

Akhirnya ia bertanya “Dok, seharusnya bagaimana?”

Saya menjawab lagi “Kalau saya jadi Bapak, maka saya akan menuruti pendapat anak-anak. Tidak ada salahnya, sudah kewajiban anak-anak dan semua di dunia ini ada waktunya. Berangsur-angsurlah Bapak berubah, maka semua akan berjalan dengan baik. Usia Bapak saat ini sudah 84 tahun. Tidak banyak orang yag berumur seperti Bapak yang masih dapat berjalan, masih dapat  mandi sendiri dan lain-lainnya untuk melayani diri sendiri. Bila anak-anak ngatur-ngatur Bapak, bukan berarti mereka benci kepada Bapak, tetapi mereka care atau peduli kepada Bapak sebagai orang tuanya.”

Sebelum Pak S dan putranya meninggal Ruang Periksa, mereka  menyalami saya dan mengucapkan terima kasih.

Saya berkata “Semoga Bapak tetap sehat dan hati-hatilah di jalan.”

N a m a






(phocomelia )

Anda punya nama. Saya punya nama. Orang-orang lain juga punya nama.
Nama merupakan pemberian orang tua bagi keturunannya.
 
Pujangga Inggris William Shakespeare pernah berkata “What is a name”, apalah artinya sebuah nama.
Bagi kita nama merupakan hal yang penting. Nama dapat mengingatkan kita pada sebuah kejadian, sebuah tempat, sebuah kenangan dll.
 
Orang tua yang memberi nama yang bagus kepada putra/inya, dapat juga menaruh suatu pengharapan agar kelak putra/i-nya kelak menjadi orang yang sesuai dengan nama yang diberikannya.
Kalau mempunyai nama Meylie artinya cantik, diharapkan ia menjadi seorang wanita yang cantik atau minimal ia mempunyai inner beauty yang bagus.
 
Saya pernah menjumpai nama seorang pasien Balita yang unik yaitu Boncel.
Boncel di daerah Jawa Barat adalah nama sejenis ikan yang berbadan kecil yang hidup di sungai. Badannya tidak bisa besar dan rupanya kurang menarik.
Suatu pagi ada seorang Bapak mengantar Balitanya berobat di Puskesmas tempat saya bertugas.
Saya bertanya “Pak, nama putra Bapak siapa?”
Pak Alimin ( bukan nama sebenarnya ) menjawab “Boncel, dok.”
Glek… saya heran. Kenapa bapak ini memberi nama Boncel untuk putranya. Penampilan Balita ini lucu dan cukup baik. Tidak jelek-jelek amat. Kalau diberi nama Abidin, Bambang dll tentu lebih keren, tapi ya sudahlah. Bapak itu memberi nama Boncel kepada putranya.
Ternyata ada riwayatnya ( nah…. betul kan nama tentu ada sesuatunya ).
“Dok, saat isteri sya melahirkn anak ini, saya baru pulang dari sungai menangkap ikan. Saya mendapatkan banyak ikan Boncel. Jadi anak ini saya beri nama Boncel.”
“O... begitu ya. Baiklah, lalu apa keluhan Boncel ini?”
Boncel sakit batuk pilek sejak 2 hari yang lalu.
 
Saya membatin “Kalau kelak Boncel dapat menjadi seorag Insinyur atau Dokter, tentu ia akan dipanggil Dokter Boncel, nama yang tidak umum. Kasihan anak ini. Kalau boleh namanya diganti dengan nama lain, misalnya Budi, Bambang atau lainnya.
---
Sebuah nama yang kurang bagus, belum tentu orangnya jelek. Mungkin saja orangnya cakep / cantik.
Ada orang yang mempunyai nama bagus, tetapi tidak mempunyai inner beauty yang bagus, sehinga orang yang cakep / cantik ini tidak mempunyai banyak teman.
 
Dalam dunia kedokteran, saya menjumpai ada nama yang bagus, tetapi orang itu menderita sejak lahir, misalnya sebuah nama: Atresia ani. Bayi ini sejak lahir tidak mempunyai anus sebagai pintu belakang. Bayi ini mesti ditolong secepat mugkin agar sisa pencernaannya dapat dikeluarkan melalui pintu belakang ini. Dokter Ahli Bedah akan membantu membetulkan pintu belakang ini.
 
Phocomelia, juga sebuah nama yang antik, tetapi kau melihat fisiknya cukup mengerikan. Bayangkan anda melihat seorang Bayi yang mempunyai lengan dan kaki yang pendek.
Obat sedative ( penenang ) sekitar tahun1950 yaitu Thalidomide, yang dikonsumsi Ibu Hamil banyak menyebabkan Teratogenik / cacad bawaan yang disebut sebagai Phocomelia, tangan dan kaki tidak terbentuk dengan sempurna. Obat ini sudah lama di tarik dari peredaran.
 
Saya sering bingung juga mendengar sebuah nama yang saya sangka itu milik seorang Wanita tetapi ternyata itu milk seorang Pria, misalnya: Sri yang biasa diberikan untuk Wanita.
Maaf ini haya sekedar contoh sebuah nama.
 
Sri Hartati, Sri Ningrum bagi seorang Wanita.
 
Ada juga Pria yag bernama Sri Kuncoro, seorang relasi kami.
Nama Endang umumnya diberikan untuk Wanita, tetapi ada juga yang diberikan kepada Pria.
Ada yang Wanita bernama Endang ( seperti bunyi Enak ), misalnya Endang Werdaningsih.
Ada Pria yang bernama Endang ( seperti bunyi Entah ,) misalnya Endang Bambang Sasongko.
 
Kalau tidak kenal maka sering tertukar Wanita atau Pria.
Tidak seperti nama yang umum, seperti: Basuki, Bambang dll untuk Pria.
Ester, Eli nama yang umumnya diberikan kepada Wanita.
----
Walau bagaimanpun juga Nama yang diberikan oleh orang tua kita, akan tetap dihormati oleh yang punya nama.




Rabu, Juni 22, 2011

Berbagai karakter manusia



Setiap hari saya  selalu  bertemu dengn orang yang sudah dikenal dan yang belum saya kenal. Lokasinya bisa di tempat praktik, saat berada di Mall, di Gereja, di Panti Wreda dll tempat. Usia mereka  mulai dari Bayi sampai Manula. Jenis kelamin Pria dan Wanita.

Saya bersyukur kalau sampai saat ini di usia senja, saya masih dapat bekerja melayani orang lain, berjalan kaki, naik sepeda, naik becak, berkebun atau  mengendarai mobil

Kalau diperhatikan lebih lanjut manusia itu terdiri dari bermacam karakter atau sifat.

Tipe yang pertama:
Ada yang lemah lembut, ramah, sopan, enak diajak bicara, mudah, memaafkan orag lain, dll .
Tipe yang demikian lebih mudah diajak berbicara, nyambung dan enak punya  teman seperti ini.

Tipe kedua:
Ada pula yang sebaliknya: mudah tersinggung, pemarah, sombong, tidak mau mengalah, judes dll.
Tipe yang ini nyebelin, susah diajak bicara, lebih baik enggak ketemu dengan orang-orang  macam ini.

Demikian pula dengan karakter pasien.
Ada yang penuh pengertian, penurut bila diberikan advis. Biasanya  tipe ini menjadi pasien langganan, bertahun-tahun bersedia menjadi pasien saya.

Ada yang sombong dan suka mengatur dokter ( sering saya membatin “Yang jadi dokter saya atau mereka?” ), misalnya minta diberi obat ini dan itu, jangan banyak-banyak jumlahnya, tidak mau disuntik / minta disuntik juga, tidak sabar menunggu giliran diperiksa, dll.

---

Ada sepasang suami-isteri yang pernah datang berobat.

Yang menjadi pasien adalah sang suami, dengan keluhan batuk-batuk sejak 5 hari yang lalu.
Sang isteri ngomel-ngomel “Itu karena ia banyak merokok, dok. Sudah saya ingatkan agar berhenti merokok, tetapi suami saya bandel.”

Sang suami merasa dijelek-jelekin di depan dokter rupanya tersinggng berat dan membela diri “Mah, saya kan sudah mengurangi rokoknya. Kalau batuk kan bisa berobat kepada dokter. Mengapa Mamah selalu menyalahkan saya? Saya juga ingin sembuh dari batuknya”.

Saya yang menjadi pendengar pertengkaran itu, akhirnya membatin “Benar, paling enak menyalahkan orang, tetapi mencatat kebaikan orang itu ( sang suami / isteri ) terlupakan”.

Setelah saya memeriksa sang suami, saya berkata dengan lembut dan nada tidak menyalahkan  “Pak, batuknya akan sembuh dengan minum resep obat ini, tetapi juga Bapak harus bantu dengan berhenti merokok, ya. Jangan lupa minum air putih minimal 2 liter sehari.”

“Baik, Dok, advisnya akan saya lakukan.”

Sang isteri masih ngomel “Pah, ingat ya, sampai di rumah jangan merokok lagi.”
Rupanya ia mengerti betul suaminya yang sering  tidak mau berhenti merokok.
Ia jengkel banget terhadap suaminya.

Semestinya sebagai Isteri tercintanya berkata  lebih lembut dan penuh pengertian. Bukan malah  selalu menyalahkan dan marah-marah. Mungkin maksudnya baik, tetapi cara menyampaikannya tidak pas buat sang suami yang  telah bekerja keras untuk dapat menghidupi isteri dan anak-anaknya.

Dengan marah-marah bukan menyeleaikan masalah, tetapi akan menambah masalah. Percayalah.

Makin dilarang, biasanya  akan makin membandel.
Jadi untuk menginginkan suami berhenti merokok, mungkin ada baiknya kalau isteri berkata dengan lemah lembuh dan penuh kasih sayang . 

Misalnya dengan berkata "Pah, apakah Papah akan berhenti merokok kalau Papah sudah menderita Kanker Paru-paru? Saya dan anak-anak ingin agar kita dapat hidup sehat dan diberkati Tuhan. Mau kan Pak?"


Kalau sang suami mau terbuka dan pikirannya masih waras, maka dengan pendampingan isteri dan keluarganya maka sedikit demi sedikit suami akan berubah, mungkin perlu waktu untuk ia mau berubah.

Ada peraturan yang harus ditaati, tetapi kenyataannya tetap dilanggar, misalnya rambu-rambu lalu litas. Lampu sudah Merah, tetap jalan terus. Dilarang parkir disini, tetap saja parkir kendaraannya disitu. Peraturan bukan untuk ditaati, tetapi untuk dilanggar. Cape deh……

Kalau mau mentaati peraturan hidup sehat, maka sebaiknya mulailah sekarang. Jangan berlambat-lambat. Kalau sudah menderita sakit ( apalagi bila kena Kanker ) maka terlambat sudah. Waktu yang lalu tidak akan kembali lagi. 


Saat ini sakit bagi kebanyakan orang sudah merupakan suatu kemewahan. Sering kali untuk menyembuhkan penyakit yang parah akan memerlukan waktu dan biaya yang sangat besar. Meskipun sudah keluar uang banyak, tetapi penyakit tidak kunjung  sembuh juga. Menyesalpun tidak ada gunanya lagi. Terlambat sudah.....

Lebih baik punya badan sehat, meskipun punya uang  secukupnya saja, dari pada  punya banyak uang tetapi badan sakit-sakitan.

----

Ada orang yang penampilannya biasa-biasa saja, tetapi ia ramah, enak diajak bicara, tidak sombong. Dengan perkataan lain ia mempunyai Inner beauty yang bagus.

Ada orang yang cantik / cakep, tetapi ia sombong, tinggi hati,  jarang mau minta maaf atau memaafkan orang lain, pemarah, kikir yang luar biasa, tidak mau mengalah. Dengan perkataan lain mereka tidak mempunyai Inner beauty yang bagus.

Kalau kita diminta untuk memilih, pilih yang mana?

Benar, kita  akan memilih orang-orang yang mempunyai Inner beauty yang bagus, meskipun wajah atau penampilannya biasa-biasa saja. Inner beauty merupakan kompenssi pada orang yang berpenampilan biasa saja. Bila  mereka berpenampilan cantik / cakep dan memunyai Inner beauty yang bagus, tentu akan sangat baik. Masih adakah orang-orang yang demikian? Semoga masih ada, mungkin jumlahnya  tidak banyak,

Lebih baik kita mempunyai dan memelihara pohon yang berbuah bagus dan manis, dari pada bagus pohonnya, tetapi tidak pernah berbuah, apalagi buah yang manis. Lebih baik ditebang saja.

“Pohon Ara yang tidak berbuah, lebih baik ditebang saja” begitu ada tertulis di Kitab Suci.

Bagaimana pendapat Anda?