Minggu, November 08, 2009

Sakit Kepala


Kemarin sore sepasang suami isteri mendatangi tempat praktik saya.
Pak Anwar ( bukan nama sebenarnya ), 50 tahun, seorang pedagang disebuah pasar tradisionil, mengeluh sakit kepala ( headache ) sejak 2 minggu. Sudah minum obat anti sakit kepala, sembuh sebentar namun sakit kepala itu muncul kembali.

Tekanan darah Pak A, dalam batas normal, pada pemeriksaan fisik tidak terdapat kelainan yang berarti. Kondisi rohaninya sedih, cemas, kurang selera makan menurun. Nampak tanda-tanda depresi ringan.

Isteri Pak Anwar nimbrung pembicaraan kami, “Suami saya seperti ini karena omset penjualan barang dagangan kami agak menurun minggu-minggu ini, dok.”

Saya menjawab “ Bapak, Ibu, saat ini bukan hanya anda saja yang mengeluh. Ada banyak orang yang pedagang banyak mengeluh bahwa omset menurun tetapi kan tidak sepanjang tahun omset terus menurun. Ada kalanya turun dan ada saatnya naik. Begitulah dunia perdagangan. Sama dengan pasien dokter kadang sepi kadang banyak pasien. Tidak selamanya selalu pasien banyak.”

Pak Anwar berkata “Iya tapi minggu ini omset perdagangan kami menurun banyak.”

Saya bertanya “Lalu”.

Pak Anwar “ Lalu sakit kepala muncul.”

Saya berkata lagi “Apakah Bapak juga punya banyak hutang?”

Pak Anwar “Hutang ada, tapi tidak banyak.”

Jadi masalah Pak Anwar lebih banyak ke arah gangguan rohani, tertekan sehingga jasmaninya terganggu juga. Tampaknya sebagai seorang pedagang, menganggap bahwa omset perdagangannya harus selalu baik atau naik. Mana bisa, suatu saat ada yang naik dan saat yang lain akan turun juga. Terdapatlah suatu grafik yang naik turun mengikuti sektor-sektor lain dan daya beli masayarakat. Pada saat panen, masyarakat banyak uang, perdagangan ramai. Pada saat paceklik semua menurun. Begitulah situasi saat ini.

Saya melanjutkan “Pak Anwar, dalam masa yang sulit seperti ini kita harus bersyukur bahwa kita masih bisa survive. Tidak bangkrut saja sudah bagus. Kalau kita tekun dan sabar pasti situasi akan berubah. Kalau Pak Anwar merubah taktik dagangnya, pasti akan ada jalan.”

Pak Anwar menjawab “Taktik dagang yang bagaimana, dok?”

Saya menjawab pertanyaannya “Yang berjualan di pasar itu bukan hanya Bapak dan Ibu saja kan? Ada banyak orang yang berjualan barang yang sama dengan Bapak. Jadi Bapak harus memberikan pelayanan yang lebih bagus dari pada orang lain ( pesaing ), misalnya ramah, banyak senyum ( keep smiling ), harga disesuaikan dan tidak terlalu inggi, cukuplah untung sedikit, toko dibuka lebih awal dari pada toko-toko lain sehingga orang-orang yang akan belanja akan datang ke toko Pak Anwar.”

Pak Anwar menjawab “O.. begitu ya. Wah banyak terima kasih nih, atas advisnya.”

Saya melanjutkan “Ada satu hal lagi yang penting, Pak.”

Pak Anwar penasaran dan bertanya “Apa itu, Dok?”

Saya menjawab “Kita mesti bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini. Orang bijak pernah berkata: Kita harus bersyukur atas apa yang sudah kita miliki saat ini. Bila engkau masih tidak puas dengan apa yang kita miliki saat ini, maka meskipun Matahari engkau miliki, maka engkau masih belum puas juga.”

Pak Hasan tercengang “Wah filosofi tingkat tinggi, Dok.”

“Baiklah, dok. Saya mohon pamit.” Kata Pak Hasan sambil menyodorkan selembar uang kertas.

“Lho, saya belum beri resep untuk Pak Anwar nih.”

“Ah tidak usah, dok. Sakit kepala saya sudah hilang. Saya tidak butuh obat lagi setelah saya menerima pencerahan dari Dokter.”

Glek…saya tidak mengira bahwa obrolan kami sudah membuat sakit kepala Pak Anwar lenyap.

2 komentar:

  1. Wah, jadi tempat curhat nih. Seorang pedagang/wiraswasta memiliki kemampuan melewati masa krisis.

    BalasHapus
  2. To Kencana,

    Saya bersyukur dapat sharing ( berbagi ) dgn Pak A itu. Resep saya ternyata cespleng juga bagi Pak A.

    Salam

    BalasHapus