Minggu, September 30, 2007

Sebuah harapan


Hari Jum’at pagi pukul 10.00 dua hari yang lalu, sebelum melaju ke Gedung Panti Wreda Kasih, mobil Gereja yang membawa saya mampir di Apotik P, langgangan Panti. Saya minta kepada supir untuk menyerahkan selembar resep untuk saya sendiri. Resep itu terdiri dari 2 macam obat batuk dan 1 macam kapsul suplemen. Obat yang diresepkan itu akan saya ambil setelah pelayanan kesehatan di Panti selesai, 2 jam kemudian.

Saya memberikan pelayanan bagi Opa dan Oma di Panti sejak beberapa tahun yang lalu. Pelayanan ini bersifat nonprofit. Dalam masa pensiun, saya ingin memanfaatkan waktu saya yang masih tersedia untuk melayani 12 orang Opa dan Oma yang tinggal di Panti. Usia mereka antara 60 – 88 tahun. Pendengaran dan penglihatan yang sudah banyak berkurang mengharuskan saya mesti sabar dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi mereka. Bicara harus keras dan berulang-ulang agar ucapan saya dapat didengar dengan baik oleh mereka.

Ketika kami tiba di Apotik P, saya menyerahkan sejumlah uang untuk menebus obat yang saya resepkan. Tidak berapa lama kemudian supir masuk kedalam mobil dan menyerahkan sebungkus obat dan catatan harga obat. Mobil melaju ke rumah saya. Dalam perjalanan saya melihat bahwa masih ada 1 macam obat yaitu kapsul suplemen yang tidak ada dalam kantong plastik. Wah…pasti ada kesalahan nih, pikir saya.

Saya minta agar supir kembali ke Apotik P. Saya tanyakan kepada petugas Apotik dan bertanya mengapa hanya 2 macam obat yang saya terima? Padahal seharusnya 3 macam. Petugas Apotik mengatakan 1 macam yang diresepkan tidak tersedia dan sudah menelepon Apotik lain tetapi katanya tidak ada. Saya berpikir dan berharap bahwa kapsul suplemen yang banyak dijual di toko obat dan tentu juga ada tersedia oleh Apotik P. Saya minta agar suplemen dapat diganti dengan merk lain yang sejenis. Petugas Apotik masuk kedalam untuk mencarinya.

Saya tidak sabar menunggu, hari sudah siang, saya ingin cepat kembali ke rumah untuk istirahat. 5 menit kemudian saya putuskan untuk masuk ke dalam mobil dan minta agar supir mengantar saya pulang ke rumah. Saya tidak berharap bahwa saya akan dapat menerima kapsul suplemen tsb di Apotik tadi. Saya akan mencarinya di Toko obat atau Apotik lain.

Setelah santap siang, ketika saya membalas beberapa email yang masuk ke Inbox saya, saya mendengar ada ketukan di pintu pagar halaman rumah kami. Beberapa menit kemudian pembantu kami, membawa sekantung plastik yang bersisi 10 kapsul suplemen yang saya serepkan beberapa jam sebelumnya di Apotik langganan Panti.

Surprise!! Saya sudah melupakannya kapsul itu. Saya tidak mengharapkan lagi mendapat suplemen tsb, tetapi akhirnya saya mendapatkannya.

Saya berpikir:

“Lebih baik tidak mengharapkan tetapi akhirnya mendapatkannya, dari pada mengharapkan sesuatu tetapi akhirnya saya tidak mendapatkannya.”
Seharusnya yang benar adalah:

“Berharaplah akan mendapatkan sesuatu, maka kita akan mendapatkannya.”

Ketuklah pintu, maka pintu akan dibukakan.
Kalau pintu tidak diketuk, mana mungkin pintu akan terbuka bukan?

Siang itu saya mendapat satu pencerahan lagi.

Seharusnya saya lebih sabar dan terus mengharap agar suplemen itu dapat saya terima. Ternyata petugas Apotik berusaha agar pesanan saya dapat dipenuhi dengan melakukan kontak dengan Apotik-apotik lain dan mengirimkannya kepada saya melalui seorang kurir Apotik. Saya salut kepada Petugas dan pemilik Apotik tsb.

Dari kisah diatas, saya mendapat suatu pembuktian bahwa bila kita memohon dengan sungguh-sungguh maka permintaan kita akan terpenuhi. Tuhan akan memberikan sesuatu kepada umatnya pada saatnya.



Selasa, September 25, 2007

Electronic Medical Record


Dalam tayangan “Empat mata”, Tukul A., di siaran TV, saya melihat peranan sebuah Laptop diatas meja yang sangat mendukung jalannya acara tsb. Tanpa Laptop itu rasanya Tukul tidak bisa bicara apalagi membuat para pemirsa tertawa terpingkal-pingkal. Kemudian saya berpikir, kalau Tukul saja sudah menggunakan sebuah laptop, masa sih para Dokter kalah dengan Tukul?

Berangkat dari itu, saya sajikan pengalaman saya dengan sebuah Laptop, Pentium III.

Ilustrasi kasus:

Seorang pria umur 40 tahun datang berobat kepada Dokter langganannya.
Pasien berkata “ Dokter wah Ashma saya kambuh lagi. Saya ingin berobat dan minta resep obat yang cocok yang tempo hari Dokter berikan kepada saya.”
Sang Dokter kebingungan karena sang asisten yang biasa mencari kartu Pasien tidak hadir karena rumahnya kebanjiran. Pasien lupa membawa katu Bantu ( Kartu kecil ) yang dapat dipakai untuk melihat Nomer File pasien. Dokter harus mencari kartu Pasien di Rak yang demikian banyaknya. Banyak waktu dan tenaga yang terbuang hanya untuk mencari Kartu Pasien. Dokter tidak ingat lagi apa nama obat Ashma yang telah diberikan dan cocok bagi sang pasien ( Aminofilin, Bricasma, Efedrin atau kombinasi obat ashma ). Dokter menyesal mengapa ia tidak memelihara Catatan Rekam Medis pasien-paseinnya dengan baik.

---

Undang-Undang Republik Indonesia No. 29 tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran, mengatur praktik Dokter dan Dokter Gigi di negara kita.

Dokter dan Dokter Gigi yang ingin melakukan praktek Kedokteran dan Kedokteran Gigi, wajib mempunyai:
1. Surat Registrasi ( pasal 29, ayat 1 ).
2. Surat Ijin Praktek Dokter /Dokter Gigi ( pasal 36 )
3. Memasang Papan Nama Praktik kedokteran ( pasal 41 )
4. Membuat Rekam Medis ( ps 46 ayat 1 ), Rekam Medis dilengkapi setelah pasien selesai menerima pelayanan kesehatan ( ps 46, ayat 2 ) dan setiap Catatan Rekam Medis harus dibubuhi Nama, Waktu & Tanda tangan Petugas yang memberikan pelayanan atau tindakan ( ps 46 ayat 3 )

Ketentuan Pidana:
1. Dokter dan Dokter Gigi tanpa memliki Surat Tanda Registrasi dipidana dengan pidana paling lama 3 tahun atau denda paling banyak Rp. 100.000.000,- ( ps 75 ayat 1 ).
2. Tanpa memiliki Surat Ijin Praktek dipidana dengan penjara paling alam 3 tahun atau denda paling banyak Rp.100.000.000,- ( ps. 76 ).
3. Tidak memasang papan nama, tidak membuat Rekam Medis dipidana kurungan paling lama 1 tahun atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,- ( ps 79 ).

Dalam Penjelasan UU No. 29 Tahun 2004:

Pada Pasal 46, ayat 3:

Yang dimaksud dengan ‘petugas” adalah dokter atau dokter gigi atau tenaga kesehatan lain yang memberikanpelkayanan langsung kepada pasien. Apabila dalam pencatatatan rekam medis menggunakan teknologi informasi elektronik, kewajiban membubuhi tanda tangan dapat diganti dengan menggunakan nomor indentitas pribadi ( personal identification number ).

Kalau para Dokter praktek ingin aman dalam menjalankan Praktik Kedokteran maka UU ini harus diperhatikan dengan baik.

Selama ini masih banyak Dokter dan Dokter Gigi memakai Kartu Pasien di tempat praktek untuk membuat Rekam Medis ( Medrec / Medical Record ) yang diwajibkan dalam pasal 46 ayat 1. Mencari dan menyimpan kembali Kartu Pasien, umumnya dibantu oleh seorang asisten.

Keuntungan Kartu Pasien:
Dokter / Dokter Gigi dapat menuliskan riwayat, diagnosa penyakit dan perkembangan penyakit pada Kartu Pasien yang sudah disediakan oleh asisten ( tidak perlu mengambil sendiri Kartu Pasien ini ).

Kerugian Kartu Pasien:
1.Bila asisten cuti atau sakit, maka pencarian Kartu Pasien dilakukan oleh Dokter / Dokter Gigi sendiri.
2. Mencari dan menyimpan kembali Kartu pasien dalam urutan yang benar akan banyak memakan banyak waktu.
3. Pemberian Kartu Bantu ( Kartu kecil ) kepada pasien sering kali kurang bermanfaat, karena sering kali Kartu Bantu ini tidak dibawa ketika hendak berobat atau hilang. Akibatnya pencarian kartu Pasien makin sulit dan lama.
4. Penyimpanan Arsip Kartu Pasien membutuhkan lemari penyimpanan khusus dan ruangan yang cukup memadai.

Untuk memudahkan membuat Catatan Rekam Medis bagi setiap Dokter atau Dokter Gigi dalam menjalankan praktik kedokterannya ada cara lain yang lebih praktis yaitu membuat Catatan Rekam Medis Elektronik dengan bantuan sebuah hardware: Komputer atau Laptop. Sebagai perangkat lunak ( software ) saya menggunakan SIDP ( Sitem Informasi Dokter Praktek ) v.1.3, Operating system Windows XP, dengan harga sangat terjangkau ( by Albert Pratama Proyogo,
http://www.kunang,com )

Masih ada perangkat lunak sejenis yang lain, tetapi dengan harga yang lebih tinggi. Anda dapat memilih salah satu. SIDP v. 1.3 sangat membantu saya dalam memelihara Catatan Medis pasien saya. Bila saya mendapatkan kesulitan, maka sang programer akan membantu dari jarak jauh ( SMS atau email ) atau kalau sangat diperlukan dapat langsung bicara lewat handphone / telepon. Dengan demikian masalah saya dengan cepat teratasi. Sampai saat ini saya pernah berkonsultasi sebanyak 2 kali via SMS dan Handphone. Jawaban konsultasi yang saya dapatkan sangat menolong kesulitan saya.

Dengan cara elektronik ini Dokter / Dokter Gigi tidak tergantung oleh asisten, tetapi dapat dilakukan sendiri. Yang paling lama adalah memasukkan data pasien ( data entry ). Untuk mengatasi hal ini maka dapat dibuat suatu Buku Bantu yang berfungsi mencatat Nomer Identitas Pasien, Penyakit pasien, Hasil pemeriksaan penunjang ( Laboratorium, Foto Rontgen, USG dll ) dan terapi yang diberikan. Data entry ini dapat dilakukan oleh Dokter / Dokter gigi setelah pasien pulang atau keesokan harinya disaat dokter tidak sibuk.

Rekam Medis Elektronik ini sangat membantu untuk:
1. Membuat Data pasien baru.
2. Mencari Data pasien lama.
3. Menambah Data pada pasien lama.
4. Mengedit Data Pasien lama.
5. Mencari data pasien dalam hal: obat yang cocok atau obat yang tidak cocok bagi pasien.
6. Membuat Laporan ( pada layar monitor / print out dengan Printer ) jumlah kunjungan Harian / Bulanan dan Laporan Medis masing-masing pasien selama berobat ( beberapa kali kunjungan ) kepada Dokter / Dokter Gigi.
7. Pencarian data pasien yang cepat dan dapat dilakukan sendiri oleh Dokter / Dokter Gigi.

Biaya pembuatan Catatan Rekam Medis Eletronik bervariasi dari yang murah sampai yang mahal ( tergantung dari kelengkapan Catatan Elektronik yang digunakan ). Saya menggunakan yang sederhana dan biaya yang sangat terjangkau ( SIDP v. 1.3 ).

Kesimpulan:

1. Mau tidak mau para tenaga kesehatan harus melek Komputer.

2. Membuat Catatan Rekam Medis Elektronik tidak sesulit yang dibayangkan orang, karena Dokter / Dokter Gigi hanya melakukan tugas Operator komputer ( hardware ). Pembuatan perangkat lunak ( software ) dilakukan oleh seorang Programer komputer.

3. Komputer /Laptop yang dipakai tidak perlu yang canggih, cukup Pentium III, operating system Windows 98 atau Windows XP dan sebuah Printer ( kalau ingin membuat Print out data pasien ). Komputer dan Printer bekas-pun jadilah.

4. Tanpa Catatan Rekam Medis elektronik, maka makin lama makin banyak arsip/berkas Kartu Pasien yang menumpuk. Bila asisten Dokter sedang cuti atau sakit maka Dokter akan sulit mencari sendiri Kartu Pasien dengan misalnya Pasien: Ali Baba dengan nomer: 007/2007. Dengan Catatan Rekam Medis Ekektronik, Dokter dapat mencari File pasien Ali Baba dalam bilangan detik saja ( banyak menghemat waktu dan tenaga ) sambil duduk dibelakang meja prakteknya menghadapi layar Komputer atau Laptop sambil minum Teh manis atau secangkir Kopi.

Demikianlah sedikit corat-coret dari saya. Semoga dapat membantu para Teman sejawat. Amin.

Minggu, September 23, 2007

Harga waktu ayah


Kemarin saya mendapat pencerahan dari buku “Setengah Isi Setengah Kosong”, kisah-kisah Inpsiratif sarat hikmah untuk Bisnis dan Karier, Palindungan Marpaung, MQS Publishing, cetakan X tahun 2007.

Dari 63 Topik bahasan dalam buku itu, ada 1 topik yang sangat menarik bagi saya. Saya tuliskan intisarinya sbb:

---

Andre, seorang anak yang setiap sore selalu menanti kepulangan ayahnya dari kantor untuk sekadar mengajaknya bermain. Suatu sore, sepulang kerja sang ayah ditanya oleh Andre, “Ayah ayah kerja di kantor dibayar berapa sih sebulan?,
Sambil mengernyitkan dahi si ayah menjawab, “ Ya sekitar Rp. 2.500.000,-“

“Kalau sehari berapa, ya” sela Andre.

Ayah mulai bingung, “Seratus ribu rupiah, ada apa sih? Kok nanya gaji segala.”

Andre tetap bertanya lagi, “Kalau setengah hari berarti Rp. 50.000,-, dong?”

“Iya, memangnya kenapa?” sahut ayah mulai jengkel.

Si anak dengan mantap mengajukan permohonan, “Gini Yah! Tolong tambahin dong tabungan Andre, Rp. 5.000,- saja. Soalnya, Andre sudah punya tabungan sebesar Rp. 45.000,- Rencananya, Andre mau membeli ayah setengah hari saja, agar kita bisa pergi memancing ikan bersama.”

---

Nah…. para ayah sudahkah anda meluangkan waktunya untuk anak anda.

Selasa, September 18, 2007

Malaysia ( 2 )

Saya menerima reply email berikutrnya dari Prof Dr Mat Jizat .

Sebagai saluran pertolongan bagi para netter, yang berminat dan memenuhi persyaratannya silahkan menghubungi alamat dibawah ini:

=====================================

reply-to matjizat@instedt.edu.my
to basuki.pramana@gmail.com
date Sep 18, 2007 8:59 AM
subject re: Tawaran bekerja di Malaysia

Terima Kasih atas sudinya Dr memasukkan maklumat di terowong kerja dalam Blog Dr. Untuk makluman gaji pemohon yang berjaya akan dibayar antara $2,000 -$4,000 (Malaysia) sebulan. Jika ingin mengetahui lebih lanjut tentang Kolej, pemohon boleh layar di www.instedt.edu.my

Sekian. Terima Kasih
PM Dr Mat Jizat
matjizat@instedt.edu.my

====================================

Semoga ada yang berhasil bekerja di Malaysia.

Dr. Basuki Pramana

Jumat, September 14, 2007

Pasien Amrik


Kalau saya teringat kejadian ini, saya tersenyum sendiri.

Kisahnya demikian:

Pertengahan tahun 2006, saya menerima telepon dari petugas Front office salah satu Hotel berbintang di kota saya. Saya pernah beberapa kali diminta kedatangan saya untuk memeriksa beberapa tamu hotel yang mendapat gangguan kesehatan selama mereka bermalam di Hotel S.

Pagi sekitar pukul 09.00 saya diminta untuk datang ke Hotel tsb karena ada seorang tamu pria dari Amrik yang sakit. Mendengar calon pasien saya ini berasal dari Amrik, maka saya dalam mobil menuju lokasi Hotel tsb berpikir saya mau bicara apa dalam bahasa Inggris, apakah “Hello, good morning” ( Halo, selamat pagi ), “My name is Basuki ( Nama saya Basuki )”, “Where do you come from, Sir ( Dari mana anda berasal, Tuan )”, “ What do you complaint? ( Apa keluhan anda ?)” etc.

Setiba di Lobby Hotel S, saya disambut oleh salah seorang petugas Hotel. Pak Budi ini mengatakan bahwa ada tamu Hotel yang sakit. Ia sedang duduk menunggu kedatangan Dokter sambil duduk di sebuah sofa.

Saya melihat seporang bule berumur sekitar 45 tahun, lebih muda umurnya dari umur saya sedang membaca koran yang tersedia di Hotel tsb.

Tanpa banyak membuang waktu saya ingin kontak dengannya.
“Good morning, Sir”
“My name is Basuki”

Pasien saya itu berkata “Nah, Dokter sudah datang. Silahkan duduk, dok.”
Lo katanya orang Amrik. Saya pikir ia akan bicara Inggris Amrik. Kok ia bicara Indonesia dengan fasih.

Apapun pertanyaan saya dalam bahasa Inggris, ia selalu menjawab dalam bahasa Indonesia, sepertinya ia tidak ingin bicara bahasa Inggris. Ya sudah, lebih baik begitu agar saya juga tidak belepotan bicara Inggris dengannya.

Tuan White ini mengatakan bahwa sejak semalam ia diare sudah 4 kali, akibat banyak makan makanan yang agak pedas santapan di Hotel. Penyakit Enteritis ( radang usus ) yang dideritanya tidak parah. Setelah dilakukan pemeriksan fisik seperlunya, saya memberikan sehelai resep untuk dibeli di Apotik terdekat melalui petugas Hotel.
Doctor fee saya terima di kasir Hotel yang akan ditagihkan kepada rekening Mr. White.

Dalam pembicaraan yang akrab ia mengatakan bahwa ia berasal dari Illionis, USA. Ia bekerja di salah satu perusahaan Amrik yang mempunyai cabang di Jakarta, Indonesia. Keluarganya berdomisili di Jakarta. Saat itu ia sedang melakukan perjalanan ke Semarang dan bermalam di kota Cirebon. Ketika saya datang untuk memeriksanya, ia sedang menunggu jemputan mobil seorang rekannya.

Senang saya dapat bertemu dan bicara dengan orang Amrik, tetapi kesal karena tidak bisa mempraktekkan bahasa Inggris dengan native speaker dari USA tadi.

Dalam perjalanan pulang ke tempat praktek, saya tersenyum sendiri. He..he.. cape-cape berpikir mau bicara apa dalam bahasa Inggris, ternyata pasien saya fasih bicara Indonesia.

Hari itu pengalaman saya bertambah satu lagi. Bye.

Lowongan pekerjaan Perawat di Malaysia


Hari ini saya mendapat email dari Prof Madya Dr Hj Mat Jizat Abdol, Malysia yang berisi beliau ingin mendapatkan tenaga kerja Indonesia seperti dalam emailnya sbb:

-----------
Assalamualaikum. wmbrt.

Dr Basuki, sebagai mengenalkan diri, saya ketika ini menjawat jawatan CEO di sebuah Kolej Swasta. Berkelayakan PhD pernah bertugas selama 24 sebagai Prof di University Techology Malaysia dari maklumat yang Dr Basuki paparkan di Blog .Entah macam mana saya teringin menghubungi Dr.dan mendapatkan pertolongan untuk mendapatkan warga indonesia yang Dr betul-betul kenal untuk bekerja di Malaysia sebagai Tutor / Pensyarah Kejururawatan di Malaysia. Pemohon perlu paling minima mempunyai kelulusan Perawat S1 atau S2 sudah ada pengalaman sebagai staff nurse tidak kurang 5 tahun dan ada bachelor atau master in Nursing. Jika ada yang ingin bekerja di Malaysia sila hubungi saya di email.
matjizat@instedt.edu.my.

Sekian dari saya Prof Madya Dr Hj Mat Jizat Abdol.

---

Bila ada yang berminat silahkan menghubungi email address diatas.

Senin, Agustus 27, 2007

Punya sahabat panjang umur


Memiliki jaringan sahabat kemungkinan memperpanjang jangka hidup seseorang, lapor Journal of Epidemiology and Community Health. Penelitian terhadap hampir 1.500 orang Australia yang berumur 70 tahun atau lebih mengkaji bagaimana hubungan baik mempengaruhi umur panjang selama kurun waktu 10 tahun lebih.

Orang-orang dengan jaringan sahabat yang kuat memiliki angka kematian 22 % lebih rendah darei pada orang-orang dengan sedikit sahabat. Persahabatan yang aktip juga memiliki pengaruh Positip di kalangan usia lanjut yang berkaitan dengan “depresi, rasa percaya diri, harga diri, kesanggupan mengatasi masalah dan semangat juang atau perasaan mandiri,” kata laporan tersebut.
---
Jadi mempunyai sahabat ada baiknya , bukan?

Rabu, Agustus 15, 2007

Shok terapi


Suatu siang kami berpapasan dengan Agus, temanku di selasar Rumah sakit.
“Gus, kamu masuk di bagian apa sekarang?” aku bertanya kepada Agus teman seangkatan, ketika kami sekolah Dokter di salah satu Universitas di Bandung. Ketika kami mengikuti tingkat akhir, pendidikan Koasistensi, kami belajar lebih banyak di lingkungan Rumah Sakit pendidikan kami dari pada di dalam Ruangan Kuliah di Kampus.
“Aku di bagian Pediatri ( I. Kesehatan Anak ). Malam ini kau kena jaga malam, Bud” Agus menjawab pertanyaanku.
“Sama, aku jaga malam juga di bagian Bedah” sahutku kepada Agus.

“Budi, siang ini ada Cito operasi di O.K. ( Operasi Kamar ) “ kata Lina rekanku di bagian Bedah.
“Emang giliran siapa yang mendampingi Dokter Singgih?”
“Menurut jadwal, kamu, Budi. Kamu bersiap-siaplah dan masuk O.K. sebelum Dokter Singgih cuci tangan. Kalau kamu terlambat, pasti kena marah” sahut Lina.
“Baiklah aku cuci tangan dulu, Lin” aku menjawab.
Setelah mengikuti asistensi di O.K. aku menulis laporan kegiatan Bedah siang itu. Yono seorang lekaki, 35 tahun, mengalami Perforasi Appendicitis ( Radang Usus Buntu yang pecah ). Dibanding operasi Appendectomi biasa ( operasi pengangkatan Usus Buntu ), operasi tadi lebih lama karena Dokter Bedah harus membersihkan rongga perut dari segala kotoran yang keluar dari Usus Buntu yang pecah tadi.
Malam itu aku jaga malam bersama Dokter Maksum. Enak kalau jaga bersamanya. Para Dokter muda dibimbing dengan baik dalam Ilmu Bedah dan juga tindakan praktis di ruang Poliklinik Bedah Rumah Sakit pendidikan kami.

-----

“Beri jalan, ada pasien.” begitu teriak petugas penerima pasien.
Seorang pemuda Amir, berusia sekitar 30 tahun mengalami kecelakaan lalu-lintas. Aku melihat Betisnya yang mengalami ekskoriasi ( luka lecet ). Bagian tubuh lainnya bersih, tak ada cedera, patah tulang dll. Semula di ruang depan Polikinik, ia dapat berbicara ketika ditanya identitas dirinya dan bahkan ingin menuntut seorang Bapak Toto, pengendara sepeda motor yang menabraknya. Toto mengatakan bahwa si Amir yang tidak hati-hati mengendari sepeda motornya sehingga terjadi tabrakan kedua sepeda motor. Pak Toto tidak mengalami luka dan pasien Amir hanya mengalami sedikit Eksoriasi di Betisnya.

“Siapa namanya?” aku bertanya kepada pasien Amir.
Dia diam saja dan kedua matanya tertutup rapat.
Aku memeriksa tekanan darah, denyut nadi, bunyi jantung dan pernafasan semuanya normal. Tidak ada luka lain atau tanda-tanda patah tulang.
Aku berpikir ia berpura-pura sakit berat dan kalau ia dirawat di R.S. maka ia dapat menuntut uang yang banyak dari Pak Toto yang dianggap penyebab dari lukanya.
Aku melaporkan hasil pemeriksaan pasien kepada Dokter Maksum dan mengatakan keadaan pasien yang ogah-ogahan menjawab semua pertanyaan.
Dokter Maksum berkata “Baik, kita lakukan Shok terapi ke satu saja.”
Aku bingung EST ( Electro Shock Therapy ) hanya dilakukan di bagian Psikiatry ( I. Kesehatan Jiwa ) untuk menenangkan pasien yang mengalami Schizophrenia ( gila ). Apakah di bagian Bedah ini biasa dilakukan EST juga?
Dokter Maksum meminta sebuah Pinset berkapas, dan ia mencelupkannya ke dalam larutan Yodium beralkohol, yang perih bila ditempelkan pada luka. Tanpa bilang apa-apa, Dokter Maksum mengoleskan kapas itu diatas luka lecet sang pasien.
“Aw…..perih…perih sekali” teriak sang pasien yang pura-pura pingsan itu. Ia duduk di atas bed pemeriksaan.
“Budi, pasienmu sudah bangun tuh” kata Dokter Maksum.
O… itu kah yang dinamakan Shok terapi ala Bagian Bedah?
Akhir minggu kami jaga bersama lagi dengan Dokter Maksum. Sore ini datang seorang pasien lelaki, Abang Becak, umur sekitar 40 tahun. Menurut laporan dari Perawat yang bertugas, pasien terjatuh dari Becak yang dikemudikannya. Menurut pengendara sepeda motor, seorang pemuda 30 tahunan, ketika akan mendahului Becak itu, tiba-tiba dari arah yang berlawanan meluncur sebuah Minibus yang mengambil jalan agak ketengah. Untuk menghindari tubrukan, ia mengarahkan setir sepeda motornya ke kiri dan mengenai kaki si Abang Becak. Abang Becak turun dari Becaknya dan masih dapat berdiri, setelah ia melihat ada seorang sepeda motor yang menyenggol kakinya , ia tiba-tiba terduduk dan minta diantarkan ke Rumah Sakit terdekat yaitu tempat kami bertugas. Ia minta ganti rugi atas kejadian itu. Tidak ada luka atau patah tulang.
Aku bertanya kepada sang pasien yang sudah berada diatas bed pemeriksaan “Pak, dimana yang sakit?”
Abang Becak diam saja.
“Pak, namanya siapa dan dimana rumahnya?” aku bertanya lagi.
Masih diam, matanya tertutup. Wah ini kasus simulasi ( pura-pura ) lagi. Aku melapor kepada Dokter Maksum tentang status kesehatan pasien yang baru masuk ini.
Dokter Maksum berkata “Baik, kita lakukan Shok therapi ke 2.”
Aku bingung, emang ada berapa macam Shok terapi di bagian Bedah ini? Di textbook aku tidak pernah membaca istilah ini.
Dokter Maksum berkata kepada salah seorang Perawat yang bertugas “ Suster, siapkan kamar operasi saat ini juga. Kita harus membedah pasien ini!” dengan mengedipkan mata kanannya.

Mendengar kata Operasi, Abang Becak tadi tiba-tiba bangun dan hendak lari dari ruang Poliklinik Bedah. Para Perawat lainnya menenangkan sang pasien agar tenang dan duduk di kursi.
“Itulah Bud, shok therapi ke 2 bagi pasien yang main simulasi” Dokter Maksum sambil tersenyum dan keluar dari Ruangan Poli.
Aku dan para perawat tertawa setelah Dokter keluar dari ruangan. Minggu itu aku mencatat ada 2 tipe Shok terapi yang manjur, bila menghadapi pasien yang main simulasi.

Selasa, Agustus 14, 2007

Enak bagi pasien dan enak bagi dokter.

Sebagai dokter rasanya senang atau enak bila mempunyai pasien-pasien yang mempunyai HAM ( hubungan antar manusia ) yang baik. Pasien menganggap dokter sebagai pemberi jasa pelayanan kesehatan dan juga menganggap dokter sebagai manusia biasa dan bukan malaikat.

Judul diatas ada benarnya bila:

Selalu menyapa dokter bila bertemu di tempat-tempat umum ( kalau menyapa juga di tempat yang tidak yang terhormat, maka hal ini merepotkan, dapat membuat malu dokter di depan orang banyak dengan tidak sadar mereka menyapa, ”Oh Dokter ..” Wah orang lain tahu kalau kami ini dokter. Dokter kok ada di tempat begituan. Makanya sebaiknya jangan mengunjungi tempat yang tidak terhormat ).

Pasien membawa oleh-oleh ( pisang, gula merah, kepiting dsb ) bila berobat, meskipun mereka tetap juga memberilkan jasa pelayanan kesehatan. Hal ini kadang-kadang dapat terjadi. Wah… rejeki nomplok nih.
Mengirimkan Kartu Ucapan hari Natal atau Hari Ulang Tahun ( bila mereka tahu HUT Dokter nya ).

Mengundang Dokter bila mereka mempunyai hajatan ( pernikahan, khitanan dll ).

Memberikan discount bila kami belanja di toko mereka / pasien atau ketika kami melakukan service mobil di bengkel mobil pasien. ( ada juga yang “nakal” dengan memungut biaya yang lebih besar dari pelanggang lain, mungkin dengan asumsi: biarinlah, kan ia seorang dokter yang banyak duitnya. A m i n . ). Pasien seharusnya mempunyai sikap bahwa bila mereka sakit, mereka butuh dokter dan bila mereka sedang senang maka dokter juga tidak terlupakan. Tapi yah… jaman sekarang hanya berapa persen sih pasien yang demikian. Mereka kalau sakit, dokter dicari-cari, tidak perduli jam berapapun. Kalau mereka sehat atau senang, ya buat apa mikirin dokter. Emang gue pikirin…..

Masih banyak lagi yang belum sempat saya rangkumkan, tetapi dari contoh-contoh kasus saya dapat menilai masyarakat dengan sebutan pasien.


Jumat, Agustus 03, 2007

Manfaat curhat


Apakah curhat ada manfaatnya? Mungkin ada yang menjawab tidak ada dan ada pula yang menjawab ada manfaatnya. Bagi saya selaku dokter praktek umum ada manfaatnya seperti apa yang telah saya alami di dalam kisah ini.

Sejak bertahun-tahun bila ada gangguan listrik dirumah keluarga kami, Pak Budiman ( bukan nama sebenarnya ) selalu kami minta untuk mengatasinya ( ganti kabel, pasang generator set dll ). Pak B. ini akhirnya menjadi pasien saya. Semula keluhannya flu, pegel linu sampai susah tidur dan darah tinggi.

Tekanan darah Pak B 140/80 mmHg. Dengan resep obat tablet Antihipertensi generik yang saya berikan, tekanan darahnya dapat terkontrol. Setengah tahun kemudian Pak B datang berobat, dengan alasan ingin tahu berapa tekanan darahnhya. Saat itu saya mendapatkan tekanan darahnya makin tinggi 180/90 mmHg. Wah gawat nih pikir saya. Ternyata Pak B tidak minum obat anti hipertensi yang saya berikan itu secara teratur dan berkelanjutan. Bila keluhan sakit kepala atau susah tidurnya hilang, obat itu tidak diminum lagi. Padahal Hipertensi adalah penyakit yang bisu, yang tidak memberikan keluhan apa-apa. Tidak semua keluhan pusing atau susah tidur atau sering marah-marah merupakan gejala dari Hipertensi. Pusing juga dapat disebabkan oleh penyebab lain misalnya saat tanggung bulan bagi kebanyakan orang pada saat ini. Jadi mesti dicari apa penyebab pusing itu. Tanpa mengobati penyebabnya maka Hipertensi sulit diatasi, meskipun diberikan macam-macam obat .

Dari anamnesa ( tanya jawab riwayat penyakit ) penyebab Hipertensi Pak B ini adalah Stres menahun. Ya menahun, karena selama berbulan-bulan Pak B dirongrong oleh putra ( anak sulung dari 6 bersaudara ). Setiap bulan putranya itu yang minta uang untuk biaya rumah tangganya. Bila tidak diberi uang maka putranya akan melakukan perbuatan yang merusak termasuk memecahkan kaca-kaca di rumah ortunya. Demi kasih kepada putranya, Pak B tidak melakukan perbuatan untuk menghajar putranya. Dunia saat ini sudah terbalik. Mestinya bila anak sudah bekerja, dinikahkan dan sudah membentuk keluarga baru di rumah yang baru, maka anak ini dapat memberikan materi /uang bagi ortunya. Dengan demikian beban rumah tangga ortu menjadi lebih ringan. Bukan sebaliknya pihak ortu masih menanggung beban keluarga anaknya dan beban semakin berat.

Pak B bingung, marah, jengkel dan penyesalan yang timbul selalu dipendam dalam batinnya. Mau curhat, kepada siapa? Isterinya? Percuma karena tidak dapat membantu katanya. Kepada tetangganya? Malu, sebab rahasia keluarga akan bocor keluar dan akan heboh sekampung. Akhirnya pilihan jatuh kepada dokternya alias saya sendiri. Saya dianggap oleh Pak B adalah orang yang cocok untuk diajak bicara masalah keadaan keluarganya yang menjadi penyebab Darah tingginya.

Suatu sore tahun 2002 saat jam praktek Pak B datang ke tempat saya. Kebetulan saat itu tidak ada pasien yang berobat.
Saya bertanya "Ada keluhan apa Pak B?"
Pak B menjawab " Dok, saya merasakan tubuh saya tidak karuan. Pusing sudah 2 hari, susah tidur, mimpi buruk dll "
Ini tanda orang mengalami Stres berat. Saya sudah hafal keadaan fisik Pak B, tidak ada kelainan organis, selain Darah Tinggi dan Stres berat.
Saya menjawab "Baiklah, saya periksa dulu tekanan darahnya, ya" Hasilnya mengejutkan, 200/90 mmHg, suatu tensi darah yang harus diturunkan kalau tidak ingin pembuluh darah otaknya pecah.

Ketika saya memberitahulan berapa tekanan darahnya, Pak B berkata lemah “ Saya sudah menduganya.”

Saya persilahkan pak B duduk berhadapan di Ruang praktek saya.
Pak B mengeluarkan semua uneg-unegnya. Saya menjadi pendengar yang baik dan pada timing yang tepat saya mengajukan pertanyaan atau membenarkan pendapatnya. Saya lebih banyak mengdengar dari pada berbicara. Waktu berlalu dengan cepat dan 30 menit tidak terasa sudah. Saat itu Pak B merasakan beban mentalnya sudah menjadi ringan. Ringan karena sudah dikosongkan dari batinnya dan sudah ada orang yang mau menjadi pendengar yang baik. Wajahnya lebih berseri.

Pada saatnya Pak B mohon pamit dari hadapan saya.
Saya berkata Pak B “Saya belum memberikan resep obat untuk Bapak.”
“Terima kasih, Dok. Rasanya saya sudah tidak membutuhkan resep obat lagi. Hati saya sudah jauh membaik, ada rasa plong di hati saya. Saya sudah sembuh.”
Saya melanjutkan “Ya sudah, saya berikan Vitamin saja ya.”
Pak B tersenyum dan berkata “ Saya kesini bukan ingin minta resep obat, Dok, tetapi ingin ada orang yang mau mendengarkan uneg-uneg saya, agar saya menjadi lebih tabah menghadapi hidup ini.”

Gleg... saya terhenyak mendengarkan curhat Pak B. Saya merasa menjadi orang yang paling bodoh sedunia. Pasienku datang ingin mengeluarkan semua beban mentalnya dan bukan minta diberi obat yang baginya saat itu, semua obat tidak ada gunanya. Obat apapun tidak dapat meringankan beban mentalnya, hanya membuat bodoh tubuhnya seolah-olah sembuh, padahal tidak. Masalahnya masih segunung, kalau tidak segera di keluarkan. Ia hanya butuh ada orang yang mau menjadi pendengar yang baik dan orang yang dapat dipercaya untuk posisi tsb.

Di dalam hidup selanjutnya Pak B, sempat 2 kali tidak sadar ( syncope ) selama 30 menit pada waktu yang berbeda. Saya sempat datang menengok Pak B. ketika dipanggil oleh keluarganya. Setelah sadar pak B tidak mengalami kelainan syaraf sedikitpun, tidak mengalami defisit nerologis. Serangan syncope yang terakhir atau yang ketiga terjadi 4 tahun yang lalu pada suatu tengah malam, Pak B mengalami syncope lagi dan segera di bawa ke sebuah RS swasta terdekat. Pagi hari pukul 07.00 saya mendapat berita per telepon dari keluarganya yang mengabarkan bahwa Pak B sudah dipanggil Tuhan pada pukul 04.00 dini hari. Saya segera mendatangi rumahnya untuk memastikan kebenaran berita duka tsb. Benar, Pak B sudah dipanggil Tuhan. Ah... mengapa hidupnya cepat berlalu, ketika usianya mencapai 62 tahun? Selamat jalan Pak B, beristirahatlah dengan tenang.