Jumat, September 19, 2014
LOPER KORAN
Pagi ini ketika saya menyiram tanaman di halaman depan rumah kami, datang loper koran ( pengantar surat kabar ). Ia menghampiri saya dengan membawa koran. Biasanya kalau dia mengantar koran, dia melempar koran ke teras rumah. Kali ini dia datang mengantar koran langsung ke tangan saya. Wah ada apa nih, tidak biasanya.
“Terima kasih, pak” kata saya sambil menerima koran itu.
“Dok, saya mau tanya apa obatnya untuk bisul di badan saya ini” katanya sambil memperlihatkan kulit di daerah betis dan kepalanya.
Saya melihat kulit di kedua tempat itu tampak kemerahan, belum terjadi pembengkakan, jadi belum ada bisul di tempat itu.
Saya bertanya “Sudah berapa hari, Pak?”
“Sudah 3 hari, Dok.”
“Iya mesti diobati. Tunggu sebentar,” kata saya. Saya mengambil blangko resep obat dan sebuah ballpoint. Saya menulis resep krim antibiotika dan tablet antibiotika generik untuk Pak S,40 tahun ini.
“Ini resepnya Pak, belilah di Apotik terdekat, ya”
“Terima kasih, Dok. Berapa saya harus bayar” kata loper koran itu yang saya sudah kenal beberapa tahun.
“Tidak usaha bayar, Pak. Belikan obat ini dan semoga lekas sembuh ya” kata saya kemudian.
Dia meninggalkan saya sambil tersenyum kegirangan. Ia berobat dengan mendapat gratisan.
Saya juga tersenyum dan melanjutkan menyiram tanaman di halaman rumah.
Senin, September 15, 2014
Seorang sahabat
Berbahagialah orang yang mempunyai sahabat, yang dapat berbagi di kala susah dan di kala senang. Tidak mudah mencari seorang atau lebih sahabat di dalam hidup kita.
3 tahun lagi saya berusia 70 tahun ( kalau diberi usia panjang ). Sampai saat ini saya masih dapat berjalan tanpa menggunakan tongkat, tiap hari masih dapat naik sepeda, masih dapat mengendarai mobil dan masih dapat berenang. Saya bersyukur kepada Tuhan yang memberikan kesehatan yang baik kepada saya. Atas karunia ini maka saya ingin membalasnya dengan cara banyak menolong orang lain, baik diwaktu praktik maupun berbuat baik terhadap para warga Panti Wreda. Saya mempunyai 2 tangan, tangan yang satu untuk menolong diri sendiri dan tangan yang lain untuk menolong orang lain.
Pola hidup saya juga sederhana. Tidak makan makanan yang terlalu berlemak, lebih banyak sayuran dan buah-buahan, tidak minum alkohol, menjauhi narkoba, tidak pernah berjudi dan main perempuan. Berupaya dapat menolong orang lain tiap hari.
Sejak tahun 2004 saya melayani pemeriksaan dan pengobatan para Opa dan Oma yang tinggal di Panti Wreda milik Gereja kami seminggu sekali. Saya tidak diberi honorarium dan tidak minta honorarium. Beberapa Oma yang menderita Mata Katarak sudah saya upayakan agar dapat dioperasi Kataraknya. Mereka sangat berterima kasih atas bantuan saya. Saya mengatakan janganlah berterima kasih kepada saya tetapi berterima kasihlah kepada Tuhan Yang Maha Penyayang.
Untuk hidup sehari-hari saya mendapat pensiun yang jumlahnya tidak besar ( pensiun atas permintaan sendiri sejak 1 April 2000 ) dan dari hasil praktik dokter umum. Isteri saya juga sudah pensiun dari PNS dan masih praktik dokter umum. Kedua putra dan putri kami study, bekerja dan stay di kota Sydney, Australia. Tiap 2 tahun sekali kami mengunjungi mereka atau mereka yang datang ke kota kelahiran mereka di Indonesia.
--------
Saya mempunyai seorang sahabat yang sampai saat ini masih berlangsung dengan baik. Ia adalah Pak AK, saat ini usianya 2 tahun di atas saya. Ia seorang penjahit pakaian laki-laki, yang rumahnya tidak jauh dari rumah kami.
Semula saya kenal dia ketika saya membuat pakaian sewaktu masih aktip sebagai PNS, kira-kira 15 tahun yang lalu. Tiap tahun saya membuat baju dan celana di tempatnya. Akhirnya kami kenal baik. Isterinya juga turut membantu menjahit pakaian para langganannya. Mereka mempunyai seorang putri yang bermulti talenta.
Pernah suatu saat ia sakit dan minta resep obat kepada saya. Saya tidak memungut doctor fee dari dia. Saya pikir dia sudah menolong membuatkan pakaian saya dan saya tidak mau memungut doctor fee. Akhirnya ketika ia mendapat tugas dari beberapa kantor yang menjahitkan pakaian bagi para karyawannya, ada tersisa bahan pakaian ( baju atau celana panjang ). Dia membuatkan pakaian dari bahan ini untuk saya. Ukuran baju dan celana saya ada padanya. Saya yang menyarankan agar setiap langganan yang membuat baju atau celana ukurannya agar di catat di sebuah buku catatan, semacam data base para langganannya. Dia berterima kasih atas saran saya ini. Jadi dilain waktu bila langganan ini membuat baju atau celana, dia sudah punya ukurannya, tinggal ngepas saja. Praktis tidak usah mengukur lagi setiap langganannya bikin baju atau celana.
Saat dia mengantar baju dan celana saya yang sudah jadi, dia menolak diberi fee untuk ongkos jahit dan bahan pakaian tersebut. “Tidak usah, Dok” katanya. Kalau dia minta resep obat juga saya mengatakan “Tidak usah. Beli obat di Apotik saja.”
------
Suatu saat isteri saya ingin membeli mobil bekas pakai. Dia juga mau mengantar saya melihat-lihat mobil yang ditawarkan melalui iklan. Akhirnya setelah 2 minggu berjalan, mobil tidak ada yang cocok dan kami membeli mobil baru dari sebuah dealer mobil di kota kami.
Sekitar setengah tahun yang lalu saya menderita nyeri pinggang akibat tiap pagi saya memunguti daun-daun yang jatuh berguguran di halaman depan rumah kami. Tindakan yang benar adalah berjongkok lalu memungut daun-daun itu, bukan dengan membungkukkan badan untuk memunguti daun-daun diatas tanah. Nyeri pinggang ini ( lumbago ) sangat mengganggu saya selama beberapa hari. Bila berjalan mesti menggunakan tongkat untuk menahan berat badan saya. Saya sempat membuat Foto Rotgen daerah pinggang ( lumbal ) di sebuah Klinik Rontgen. Hasilnya menunjukkan adanya penyempitan setinggi Lumbal 3-4. Wah..celaka nih, mesti dioperasi. Saya termenung. Isteri saya juga turut prihatin.
Pikiran saya segera menyarankan agar saya didoakan oleh seseorang. Kuasa doa itu begitu besar dan saya berharap mujizat terjadi atas diri saya. Siang itu saya menelepon Pak AK mohon agar datang ke rumah saya untuk mendoakan saya. Saya ceritakan kronologis Lumbago ini. Tidak berapa lama dia datang kerumah kami dan segera mendoakan saya. Dengan nama Tuhan Yesus Kristus, sembuhlah. Amin.
Pak AK ini tekun membaca Alkitab tiap hari. Setelah mendoakan saya dan sedikit ngobrol dia pulang ke rumahnya. Saya tertidur di atas bed saya dan saat saya bangun saya tidak begitu merasa nyeri pinggang yang hebat lagi. Masih terasa sakit tetapi tidak hebat dan saya bisa berjalan tanpa tongkat. Sebelumnya saya bila berjalan mesti menggunakan tongkat. Waktu berjalan terus. Sore hari saya bisa praktik dan memeriksa pasien yang datang berobat. Tanpa saya sadari nyeri pinggang saya sudah lenyap tanpa makan obat pain killer lagi.
Oh… Tuhan banyak terima kasih. Atas jamahanNya saya sudah sembuh berkat doa yang dipanjatkan oleh sahabat saya Pak AK ini. Segera saya menelepon Pak AK mengabarkan bahwa Lumbago saya sudah sembuh dan tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya yang telah mendoakan saya. Isteri saya juga heran atas kejadian ini dan berterima kasih kepada Pak AK. Pak AK juga bersyukur kepada Tuhan yang telah menyembuhkan Lumbago saya ini.
Anda boleh percaya atau tidak, tetapi kejadian ini benar saya alami sendiri. Beruntung saya mempunyai seorang sahabat dan sampai hari ini mujizat itu masih ada.-
Kamis, September 04, 2014
REKREASI KE BUMI PERKEMAHAN SIDOMBA 30 AGUSTUS 2014
Tanggal 30 Agustus 2014 ada sponsor dari gereja GKI Rahmani Cirebon yang mengajak warga Panti Wreda Kasih Cirebon, para Pengurus Panti dan Karyawan berekreasi ke Bumi Perkemahan Sidomba, Kabupaten Kuningan. Penulis yang merupakan anggota Pengurus Panti ini melaporkan perjalanan kali ini.
Warga Panti yang mengikuti acara ini sebanyak 9 orang, Pengurus Panti sebanyak 7 orang, karyawan Panti sebanyak 4 orang dan perwakilan dari GKI Rahmani sebanyak 2 orang. Total peserta rombongan ini 22 orang.
Pukul 08.30 peserta bersiap untuk melakukan perjalanan rekreasi ini dengan menggunakan 2 buah Minibus dan 1 mobil sedan. Kami berdoa dahulu sebelum berangkat, mohon mendapat perlindunganNya dalam perjalanan ini.
Mulailah rombongan berangkat menuju kota Cilimus, Kabupaten Kuningan, selanjutnya belok kanan naik ke desa Linggarjati dan menuju Bumi Perkemahan Sidomba. Kami membayar biaya kunjungan untuk mobil dan penumpang di sebuah tempat sebelum masuk ke kompleks Sidomba. Kami tiba sekitar pukul 09.00 pagi. Udara cerah dan sejuk membuat badan terasa segar.
Kami mencari tempat yang terlindung dari sinar matahari di sebuah halaman dengan tempat duduk. Setelah istirahat sambil menikmati snak berupa biskuit dan air mineral seluruh peserta dapat menikmati pemandangan alam, sambil ngobrol.
Di sebuah lapangan kami melihat ada se kelompok Pramuka yang sedang melakukan aktifitas. Rupanya semalam mereka camping disana. Terdengar suara mereka riuh rendah. Asik juga aktifitas mereka itu.
Saat rombongan mencari tempat untuk berteduh kami melihat ada kandang Domba jantan. Tampaknya Domba ini domba-domba aduan. Tidak heran kalau tempat ini dinamai Sidomba.
Pukul 10.00 Pak R, perwakilan dari GKI Rahmani memimpin acara renungan rohani. Acara dimulai dengan doa dan menyanyikan sebuah lagu rohani. Dalam acara ini Pak R membawakan renungan diselingi dengan humor yang menyegarkan rohani para peserta. Inti renungan ini adalah dalam hidup ini kita harus berterima kasih kepada orang lain, tidak peduli itu adalah petugas parkir, pelayan rumah makan, dokter, pendeta dan lain-lain. Tidak lupa pula kita harus berterima kasih kepada Tuhan yang sudah memberikan kita hidup dan diberkati olehNya.
Dalam acara ini juga diselingi acara permainan yang membuat peserta tertawa. Acara ini membuat para peserta dapat relaks dan melupakan kejenuhan hidup.
Selesai acara ini, para peserta mendapat berkat berupa Nasi Kotak yang dibawa oleh perwakilan GKI Rahmani. Kami menikmati makan siang dengan nikmat dalam suasana yang santai dan udara yang sejuk di pegunungan Ciremai ini.
Selesai acara renungan rohani ini rombongan menuju ke arah bawah, menuruni bukit tempat acara renungan. Kami menuju halaman parkir Bumi Perkemahan Sidomba. Disini ada sebuah air terjun yang lokasinya berada dibawah. Untuk menuju air terjun ini harus menuruni anak-anak tangga yang cukup curam. Para Oma dan Opa terpaksa harus menunggu di sebuah bangsal untuk beristirahat dan menikmati minuman yang dibawa karyawan Panti.
Suasana disini tidak begitu ramai oleh pengunjung, padahal saat ini adalah weekend. Kalau hari Minggu atau hari libur biasanya disini ada banyak pengunjung.
Cukup lama juga kami berada di kompleks air terjun. Kami sempat mengambil foto untuk kenang-kenangan. Saya melihat peserta yang mengunjungi air terjun Sidomba tampak gembira sudah dapat mengunjungi tempat yang sejuk, indah dalam suasana damai di hati.
Setelah dirasa cukup, maka kami meninggalkan Bumi Perkemahan Sidomba. Rombongan menuruni bukit ini menuju kota Cilimus kembali. Sebelum memasuki kota ini disebelah kiri jalan raya tampak ada sebuah toko yang menjual Tahu Susu. Mungkin dalam pembuatannya Tahu ini dicampur dengan Susu Kedele. Ada yang sudah digoreng dan ada yang masih mentah. Selain itu juga saya melihat ada di jual gorengan Comro ( parutan singkong yang berisi oncom ), Cireng ( aci digoreng) dan lain-lain makanan khas lokal daerah ini.
Ada banyak pengunjung yang mendatangi toko ini, maklum lokasinya yang strategis dipinggir jalan raya Cilimus. Peserta rombongan ini ada yang membeli Ubi jalar dipenjual, disebrang jalan raya. Dengan uang Rp. 10.000,- mereka mendapat sekantung plastik besar Ubi jalar. Murah katanya.
Selanjutnya rombongan menuju kota Cirebon. Memasuki daerah Gronggong dan Ciperna udara terasa lebih panas, maklum dekat pantai. Berbeda dengan udara di Sidomba yang sejuk dari pegungungan Ciremai.
Rombongan tiba kembali di Panti Wreda kasih Cirebon sekitar pukul 14.00 dengan selamat.
Sampai jumpa di acara rekreasi berikutnya.-
Sabtu, Agustus 23, 2014
JALAN SEHAT 16 AGUSTUS 2014
Dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan R.I. yang ke-69, tahun 2014 ini Komisi Dewasa Gereja Kristen Indonesia Pengampon, Cirebon mengadakan acara jalan sehat pagi hari pada hari Sabtu, tanggal 16 Agustus 2014 yang diikuti oleh para anggota jemaat dewasa.
Pukul 05.00 seluruh peserta jalan sehat sudah berkumpul di halaman GKI Pengampon, Cirebon. Tiap peserta mendaftar terlebih dahulu di Tata Usaha gereja dengan membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 10.000,- per orang. Jumlah peserta kali ini cukup banyak, ada yang masih muda dan banyak pula yang sudah berusia sepuh. Jumlah peserta yang terdaftar sebanyak 160 peserta.
Peserta yang tiba segera mengambil T–shirt berwarna merah dengan logo “Komisi Dewasa GKI Pengampon 31, Cirebon” dengan warna hitam. T-shirt tersebut segera dipakai oleh masing-masing peserta. Di halaman gereja suasana lebih terang dengan adanya warna merah T-shirt yg dipakai peserta jalan sehat ini.
Jalan pagi merupakan olah raga yang paling murah dan menjehatkan badan. Penulis juga mengikuti acara ini dan bersyukur bila saat usia di atas kepala 6 ini masih dapat berjalan tanpa menggunakan tongkat.
Acara dimulai dengan Senam pagi yang dipimpin oleh Ibu H, yang biasa memimpin senam kesehatan di Panti Wreda Kasih Cirebon. Selama sekitar 30 menit para peserta mengikuti senam ini sebagai pemanasan jalan sehat.
Sebelum berangkat peserta berdoa bersama terlebih dahulu yang dipimpin oleh Bapak Penatua S. memohon agar seluruh peserta dapat mengikuti jalan sehat ini mulai start dan finish di gedung gereja dengan selamat.
Selesai berdoa, para peserta sudah tidak sabar untuk segera berjalan menuju jalan Merdeka.
Rute yang dilalui adalah: GKI Pengampon (start) – Jl. Merdeka – Jl. Pasuketan – Jl. Pekiringan – Jl. Pulasaren – Jl. Lemahwungkuk – GKI Pengampon (finish). Rute ini berjarak sekitar 3,5 Km, tidak terlalu jauh, tetapi cukup menyegarkan badan peserta.
Sambil berjalan peserta saling ngobrol diselingi gelak tertawa. Panitia dan peserta gerak jalan sehat ini bersyukur dapat turut memeriahkan HUT Kemerdekanan RI tahun 2014, negara kita tercinta ini.
Peserta memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk mencapai finish. Tiba di gereja para peserta melepaskan lelah sambil menikmati sarapan pagi berupa Nasi Langgi dan air mineral yang disediakan oleh Panitia gerak jalan sehat.
Sampai jumpa di acara yang sama pada tahun 2015 yang akan datang. Tetap semangat.-
--bp--
Senin, Juli 28, 2014
Peduli Kasih GKI Pengampon 2014
Setiap tahun menjelang Hari Raya Idul Fitri di negara kita terjadi arus mudik. Untuk membantu kelancaran arus mudik maka Gereja membentuk Panitia Peka yang pada tahun ini sudah mencapai yang keempat kalinya.
Peka tahun 2014 ini diketuai oleh Bpk. IS. Pelaksanaan PEKA yang semula akan diadakan pada tanggal 22 – 26 Juli 2014 diundurkan menjadi tanggal 23 – 27 Juli 2014. Tanggal 27 Juli 2014 pelayanan hanya setengah hari saja. Tugas pagi mulai pk. 08.00 s/d 14.00 dan tugas sore mulai dari pukul 14.00 s/d 20.00.
Panitia Peka yang terdiri dari beberapa Seksi antara lain: Seksi Usaha, Seksi Perlengkapan, Seksi Kesehatan, Seksi Transportasi, Seksi Konsumsi dan Seksi Dokumentasi. Menjelang hari H Panitia telah mengadakan 4 kali Rapat Panitia Peka bertempat di Ruang Serba Guna GKI Pengampon pada sore sampai malam hari.
Ada banyak Donatur yang membantu Panitia dalam pelayanan ini antara lain berupa tempat di halaman SPBU Pangenan, 15 Km dari kota Cirebon ke arah Tegal, mobil boks, makanan dan minuman, air mineral, peralatan kompor, gas Elpiji dll. Kami berterima kasih sekali kepada para Donatur yang memberikan banyak bantuan materi dan moril kepada kami.
Panitia juga dibantu oleh banyak relawan dalam pelayanan ini. Mereka bekerja tanpa pamrih dan dikerjakan dengan rasa gembira dan penuh suka cita untuk membantu para pemudik yang melewati lokasi Pos Peka 2014 ini.
Para pemudik yang berdatangan ke tempat Pos Peka ini merasa tertolong mendapat pelayanan dari Panitia Peka ini. Semua pelayanan diberikan secara gratis. Fasilitas yang tersedia berupa: SPBU untuk mengisi bahan bakar kendaraan roda dua dan roda empat, halaman parkir yang luas, toilet, tempat sembahyang, dan tempat istirahat/tidur.
Dalam perjalanan darat yang melelahkan ini para pemudik dapat beristirahat sambil menimati makanan dan minuman yang disediakan oleh Panitia. Makanan bisa pilih: Nasi bungkus dengan lauk pauk sederhana, Mie instan rebus dengan bermacam merk. Minuman bisa memilih yang panas (kopi, kopi susu) atau yang dingin: orange juice, ale-ale, aqua gelas dll.
Sambil menikmati makanan dan minuman gratis, para pemudik juga dihibur musik dengan lagu-lagu dangdut dan lagu-lagu pop yang dimainkan oleh beberapa anggota Panitia seperti Bapak dan Ibu H. Musik ini diiringi juga dengan gerakan-gerakan menari beberapa orang panitia dan para relawan yang diselingi gelak tertawa yang hadir di tenda Peka ini. Para pemudik merasa sangat terhibur oleh pelayanan kami ini. Kami bersyukur dalam melakukan pelayanan ini.
Penulis yang mendapat tugas pada hari ke 4 (Sabtu pagi) dan ke 5 (Minggu pagi) hari terkahir, berangkat bersama rombongan yang telah berkumpul di halaman GKI Pengampon pada pukul 07.00. Kami berdoa terlebih dahulu memohon agar dalam perjalanan ke tempat tugas dan selama menjalankan tugas, kami mendapat perlindungan. Rombongan naik 3 mobil gereja menuju SPBU tempat dimana kami akan bertugas.
Selama menjalankan tugas kami bekerja diiringi dengan gurauan yang menyegarkan dan diselingi gelak tertawa. Dengan guyonan waktu berjalan terus tanpa terasa.
Saat tengah hari Seksi Konsumsi datang membawakan menu makan siang yang sederhana tapi cukup nikmat untuk dinikmati saat perut mulai keroncongan. Cuaca yang terik disiang hari menyebabkan rasa haus yang dapat diatasi dengan minum minuman dingin yang cukup tersedia dari pihak sponsor yang membantu kegiatan Peka tahun ini.
Keluhan kesehatan para pemudik pada umumnya gangguan mata (kelilipan, mata perih, mata merah) yang segera mendapat obat tetes mata. Ada juga yang mengeluh sakit gigi, perut mual/maag, badan pegel linu, anak batuk. Ada juga pemudik, seorang pemuda yang terjatuh dari sepeda motornya dan mendapat luka robek pada betis kakinya. Pemuda ini segera diantar petugas ke Puskesmas terdekat untuk mendapat jahitan selanjutnya.
Saat para pemudik mulai bersiap untuk melanjutkan perjalanan yang masih jauh, kami mengucapkan: “Selamat jalan dan semoga sampai dengan selamat di tempat tujuan Bapak dan Ibu sekalian”.
Sekitar pukul 13.30 rombongan yang bertugas siang dan malam hari mulai berdatangan untuk menggantikan tugas para petugas pagi hari. Kami naik mobil gereja untuk kembali ke GKI Pengampon, Cirebon.
“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435H. Mohon maaf lahir batin.”
-----
Rekreasi warga Panti Wreda Kasih ke Gronggong
Seksi Kerohanian Panti Wreda Kasih Cirebon yang diketuai oleh Pak T mempunyai rencana kerja mengajak warga panti untuk rekreasi setahun 2 kali. Kali ini 8 Juni 2014 warga Panti diajak untuk makan malam bersama di Rumah Makan Salt yang berlokasi di daerah Gronggong, Cirebon. Rumah Makan ini terletak di daerah yang lebih tinggi dari daerah pantai. Pemandangannya bagus dilihat pada saat matahari akan tenggelam. Pada malam hari akan tampak lampu kelap kelip di kota Cirebon yang berjarak sekitar 10 km dari lokasi Rumah makan.
Peserta terdiri dari 10 orang warga Panti, 3 orang karyawan Panti, 11 orang Pengurus Panti dan seorang pengemudi. Semua peserta berkumpul di gedung Panti pada pukul 16.30. Penulis menyertai rombongan ini. Sebelum berangkat rombongan berdoa terlebih dahulu yang dipimpin oleh Pak T, kami berharap agar rombongan selamat dalam perjalanan pulang-pergi.
Pukul 16.40 rombongan yang terdiri dari Minibus gereja dan 2 sedan pribadi milik pengurus Panti berangkat menuju lokasi Rumah Makan Salt. Perjalanan berjalan mulus, lancar dan tidak macet. Pukul 17.05 rombongan tiba di lokasi dengan selamat.
Para peserta memasuki Rumah Makan dan mengambil tempat dibagian belakang Rumah Makan. Dari tempat duduk rombongan dapat melihat pemandangan yang indah. Di kejauhan tampak bangunan dan rumah penduduk kota Cirebon. Penulis mengambil foto untuk kenang-kenangan yang belum tentu dapat diulang untuk kedua kalinya.
Sebelum kedatangan kami Ibu ML sudah memesan terlebih dahulu menu makanan yang terdiri dari: nasi putih hangat, sayur asam, tahu-tempe goreng, udang goreng, sayur karedok, ayam bakar yang dibawa oleh Ibu ML dan air teh hangat. Doa makan dipimpin oleh Pak H selaku Ketua Panti Wreda Kasih. Hidangan yang cukup sederhana ini tidak mengurangi selera makan para peserta.
Peserta dapat menikmati makan malam yang diselingi obrolan diantara peserta dalam suasana santai dan gembira. Kami para Pengurus Panti bersyukur para warga Panti dapat merasakan suasana makan malam yang berbeda dengan makam malam di Panti yang selama bertahun-tahun telah dijalani oleh mereka. Makanan cukup tersedia dan bila kurang dapat menambah nasi putih atau lauk pauknya.
Setelah dirasa cukup dan perut kenyang, peserta berfoto bersama di ruang tengah Rumah Makan ini. Agar seluruh peserta dapat diambil fotonya, maka penulis menggunakan alat Tripoid untuk menyangga kamera yang akan mengambil foto seluruh peserta. Kami melihat para warga Panti tampak santai, bergembira dan dapat menikmati makan malam mereka.
Pukul 18.10 seluruh peserta memasuki mobil masing-masing dan kami meninggalkan Rumah Makan Salt dan menuju kota Cirebon kembali. Rombongan tiba dengan selamat di gedung Panti dan selesai sudah acara makan malam bersama ini. Kami bersyukur tidak ada peserta yang mengalami gangguan kesehatan dalam rekreasi kali ini. Sampai jumpa di acara makan bersama di lain waktu.-
Rabu, Juli 23, 2014
Abses di telapak kaki
Kemarin pagi datang berobat seorang anak laki-laki si E, 13 tahun. Ia diantar oleh Ibunya.
Saya melihat ketika mereka memasuki Ruang Periksa, E berjalan tidak wajar. Kaki kanannya tidak dapat berjalan dengan normal.
Saya bertanya kepada mereka “Kenapa kakinya dik?”
Sang Ibu menjawab “Ini Dok, kaki putra saya seperti ada bisulnya.”
Saya mempersilahkan E berbaring di Bed pemeriksaan. Tampak pada telapak kaki kanan dekat jempol ada benjolan berwarna kuning dan merah.
Saya bertanya lagi “Sudah berapa hari, Bu?”
“Ada sekitar 3 hari, Dok”
“Ini ada nanah di bawah kulit telapak kakinya. Nanah itu mesti dibersihkan.”
Saya mengoleskan cairan Betadine (antiseptis) ke benjolan yang besarnya berdiameter 3 Cm. Dengan menggunakan gunting bedah kecil, saya menusuk benjolan tadi dan menggunting sedikit kulit telapak kakinya sepanjang ½ Cm. Keluarlah cairan nanah bercampur darah. Saya menekan-nekan sekitar benjolan tadi dan makin banyak nanah yang keluar. Setelah dirasa cairan nanah keluar semua, tampak benjolan tadi hilang dan kulit telapak kaki itu rata dengan daerah sekitarnya.
Saya mengambil kain kasa steril yg dibasahi dengan cairan Betadin dan meletakkan diatas lubang yang saya buat. Lalu saya membalut kaki E dengan kain kasa pembalut. Selesai sudah tugas saya untuk pasien yang satu ini.
Segera saya menuliskan resep untuk si E ini berupa: tablet antibiotika, tablet anti peradangan, tablet anti nyeri, Betadine dan kain kasa steril, kain kasa pembalut. Saya berpesan kepada E kalau mandi jangan kena air dahulu selama 2-3 hari.
Lega hati saya setelah menyelesaikan tugas membantu mengobati abses pasien saya yang satu ini.
Rabu, Juni 25, 2014
Pasien yang rajin
Kemarin pagi sekitar pukul 05.30 saat saya membersihkan halaman depan rumah, terdengar seseorang mengetok-ngetok pintu pagar. Saya melihat seorang Bapak di depan pintu pagar.
Saya bertanya “Ada keperluan apa Pak? Bapak siapa?”
Ia menjawab “Met pagi. Saya pasien Ibu dokter ( isteri saya ). Saya datang ingin melaporkan hasil pemeriksaan laboratorium milik saya.”
Saya bertanya lagi “Kapan Bapak berobatnya?”
Ia menjawab “Dua hari yang lalu.”
“Oh.. boleh, tapi saat ini isteri saya belum siap buka praktik, Pak. Bagaimana kalau nanti Bapak datang lagi sekitar pukul 07.30. Nanti saya laporkan kepada isteri saya.”
Bapak itu berkata lagi “Baiklah nanti saya datang lagi ya.”
Setelah Bapak itu meninggalkan rumah kami, saya membatin “Kok rajin amat ya pasien ini. Hanya sekedar melaporkan hasil pemeriksaan laboratoriumnya ia datang pagi-pagi sekali, dimana belum ada seorangpun dokter praktik yang sudah siap praktik .”
Saat isteri saya memasuki ruangan keluarga saya melaporkan bahwa tadi ada pasien yang hendak melaporkan hasil pemeriksaan laboratoriumnya dan ia akan datang lagi sekitar pukul 07.30.
Keesokan harinya saya bertanya kepada isteri saya tentang Bapak ini “Bagaimana hasil pemeriksaan laboratorium pasien tersebut?”
Isteri saya menjawab “Hasilnya semua baik setelah mendapatkan terapi seminggu yang lalu.”
Saya bersyukur kalau hasil pemeriksaan Bapak yang rajin itu menunjukkan hasil yang baik. Ternyata pasien tersebut adalah pasien langganan isteri saya.-
Rabu, Maret 19, 2014
Handphone..oh..handphone
Saat ini sudah banyak orang yang mempunyai handphone, mulai anak SD sampai orang Dewasa, baik pria maupun wanita. Mulai dari handphone yang sederhana sampai yang canggih (smartphone) yang mempunyai fasilitas untuk membuat foto, chatting, browsing Internet, sosial media dan lain-lain fasilitas.
Kadang beberadaan handphone dapat mengganggu suatu rapat, pertemuan, kebaktian di gereja dan lain-lain pertemuan. Tidak jarang dihimbau agar handphone dimatikan saat pertemuan tersebut sedang berlangsung.
----
Kejadian ini terjadi sekitar bulan yang lalu. Saya menghadiri undangan pernikahan dari salah satu relasi di suatu gedung pertemuan. Acara resepsi pernikahan ini diadakan dengan memakai meja perjamuan. Satu meja diisi untuk 10 kursi undangan.
Sambil menunggu kedatangan kedua mempelai, saya ngobrol dengan tamu undangan disebelah kiri saya. 2 kursi disebelah kanan saya masih kosong. Tidak berapa lama kemudian datanglah 2 tamu undangan lain, mereka duduk disebelah kanan saya. Persis disebelah kanan saya duduk seorang ibu usia sekitar 40 – 45 tahun. Ia datang bersama putrinya yang berusia sekitar 7-8 tahun.
Ibu ini tanpa basa basi duduk dikursi disebelah saya. Melihat wajah saya juga tidak. Kesan saya terhadap ibu ini kurang baik, acuh dengan orang sekitarnya. Tidak berapa lama kemudian ia mengeluarkan sebuah smartphone handphone dari handbagnya.
Mulailah ibu ini mengutak-utik handphonenya. Entah apa yang dikerjakan dengan handphonenya itu. Saya pikir para undangan hadir diresepsi pernikahan ini untuk bergaul dengan tamu –tamu lain dan menikmati hidangan resepsi dan bukan asik mengutak-utik handphone.
Saat hidangan resepsi nomer satu datang ke meja kami sampai hidangan terakhir datang, ibu ini tetap asik dengan handphonenya. Ada saat-saat dimana ia menyuap hidangan dan lebih banyak ia asik dengan handphonenya.
Kok ada ya orang yang fanatik dengan handphonenya dan cuek dengan orang-orang disekitarnya. Saya pikir dia dapat bergaul dengan handphonenya nanti di rumah dan bukan saat menikmati hidangan resepsi.
Akhirnya saya juga cuek dengan ibu disebelah saya ini. Saya menganggap tidak ada orang yang duduk disebelah kanan saya. Jangan-jangan terhadap suaminya juga tidak peduli lagi, ia lebih asik bergaul dengan handphonenya.
Handphone..oh..handphone.-
Senin, Desember 23, 2013
Sakit kepala
Hari Sabtu, 21 Desember 2013 sekitar pukul 14.30 saya sedang istirahat siang. Terdengar ketukan pintu pagar halaman rumah kami.
Saya melihat ada seorang Ibu bersama seorang putrinya di depan pintu pagar.
Saya bertanya “Ada apa Bu?”
Ibu itu menjawab “Saya ingin berobat, Dok.”
Sambil membukakan pintu pagar saya berkata “Kalau mau berobat belum waktunya, Bu. Nanti pukul 16.00 mulai buka praktik.”
Ibu itu menjawab “Tolonglah Dok, saya tidak tahan lagi. Kepala saya sakit sekali.”
“Mari masuk, Bu.”
Setelah berada di Ruang periksa, saya segera memeriksa pasien ini yang berusia 59 tahun. Pada pemeriksaan tekanan darahnya ternyata cukup tinggi, 200/100 mmHg. Tekanan darah normal sekitar 120/80 mmHg. Lain-lain dalam batas normal.
Saya berkata kepada pasien “Bu, tekanan darahnya tinggi. Apakah Ibu ada darah tinggi sebelumnya?”
Ibu ini berkata “Saya tidak tahu, Dok. Sudah lama tekanan darah saya tidak diukur. Beberapa hari yang lalu kedua kaki saya sakit dan saya minum obat herbal. 2 hari kemudian sakit kaki saya hilang tetapi kepala saya sakit sekali. Sakit di kaki sembuh tetapi pindah ke kepala saya, Dok.”
“Obat herbal apa, Bu?”
“Saya juga tidak tahu, Dok. Obat herbal itu pemberian teman saya.”
Saya tidak begitu yakin obat herbal itu yang menyebabkan kepala pasien ini menjadi sakit.
Sakit kepala, demam dan pusing merupakan keluhan pasien yang paling banyak saya dapatkan pada pasien-pasien yang datang berobat. Mungkin Ibu ini sudah sejak lama menderita tekanan darah tinggi dan ia tidak memeriksakannya kepada dokter. Tekanan darah tinggi biasanya tidak memberikan gejala dan baru diketahui saat mereka diperiksa saat ia ingin mendonorkan darah, minta Surat Keterangan Sehat untuk mendapatkan Surat Ijin Mengemudi, saat ingin melamar pekerjaan dan lain-lain.
Saya menuliskan sebuah resep obat untuk diambil di Apotik berupa tablet anti hipertensi yaitu: tablet golongan beta blocker, tablet Calsium Channel Blocker dan tablet pain killer yang juga berisi obat penenang. Kombinasi 3 tablet ini untuk 10 hari dan diharapkan dapat menurunkan tekanan darah pasien ini dan sakit kepalanya.
Saya adviskan agar seminggu kemudian ia datang lagi untuk diperiksa kembali tekanan darahnya.
Sambil mengucapkan terima kasih, pasien meninggalkan Ruangan periksa saya.-
Langganan:
Postingan (Atom)





















