Minggu, November 08, 2009

Sakit Kepala


Kemarin sore sepasang suami isteri mendatangi tempat praktik saya.
Pak Anwar ( bukan nama sebenarnya ), 50 tahun, seorang pedagang disebuah pasar tradisionil, mengeluh sakit kepala ( headache ) sejak 2 minggu. Sudah minum obat anti sakit kepala, sembuh sebentar namun sakit kepala itu muncul kembali.

Tekanan darah Pak A, dalam batas normal, pada pemeriksaan fisik tidak terdapat kelainan yang berarti. Kondisi rohaninya sedih, cemas, kurang selera makan menurun. Nampak tanda-tanda depresi ringan.

Isteri Pak Anwar nimbrung pembicaraan kami, “Suami saya seperti ini karena omset penjualan barang dagangan kami agak menurun minggu-minggu ini, dok.”

Saya menjawab “ Bapak, Ibu, saat ini bukan hanya anda saja yang mengeluh. Ada banyak orang yang pedagang banyak mengeluh bahwa omset menurun tetapi kan tidak sepanjang tahun omset terus menurun. Ada kalanya turun dan ada saatnya naik. Begitulah dunia perdagangan. Sama dengan pasien dokter kadang sepi kadang banyak pasien. Tidak selamanya selalu pasien banyak.”

Pak Anwar berkata “Iya tapi minggu ini omset perdagangan kami menurun banyak.”

Saya bertanya “Lalu”.

Pak Anwar “ Lalu sakit kepala muncul.”

Saya berkata lagi “Apakah Bapak juga punya banyak hutang?”

Pak Anwar “Hutang ada, tapi tidak banyak.”

Jadi masalah Pak Anwar lebih banyak ke arah gangguan rohani, tertekan sehingga jasmaninya terganggu juga. Tampaknya sebagai seorang pedagang, menganggap bahwa omset perdagangannya harus selalu baik atau naik. Mana bisa, suatu saat ada yang naik dan saat yang lain akan turun juga. Terdapatlah suatu grafik yang naik turun mengikuti sektor-sektor lain dan daya beli masayarakat. Pada saat panen, masyarakat banyak uang, perdagangan ramai. Pada saat paceklik semua menurun. Begitulah situasi saat ini.

Saya melanjutkan “Pak Anwar, dalam masa yang sulit seperti ini kita harus bersyukur bahwa kita masih bisa survive. Tidak bangkrut saja sudah bagus. Kalau kita tekun dan sabar pasti situasi akan berubah. Kalau Pak Anwar merubah taktik dagangnya, pasti akan ada jalan.”

Pak Anwar menjawab “Taktik dagang yang bagaimana, dok?”

Saya menjawab pertanyaannya “Yang berjualan di pasar itu bukan hanya Bapak dan Ibu saja kan? Ada banyak orang yang berjualan barang yang sama dengan Bapak. Jadi Bapak harus memberikan pelayanan yang lebih bagus dari pada orang lain ( pesaing ), misalnya ramah, banyak senyum ( keep smiling ), harga disesuaikan dan tidak terlalu inggi, cukuplah untung sedikit, toko dibuka lebih awal dari pada toko-toko lain sehingga orang-orang yang akan belanja akan datang ke toko Pak Anwar.”

Pak Anwar menjawab “O.. begitu ya. Wah banyak terima kasih nih, atas advisnya.”

Saya melanjutkan “Ada satu hal lagi yang penting, Pak.”

Pak Anwar penasaran dan bertanya “Apa itu, Dok?”

Saya menjawab “Kita mesti bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini. Orang bijak pernah berkata: Kita harus bersyukur atas apa yang sudah kita miliki saat ini. Bila engkau masih tidak puas dengan apa yang kita miliki saat ini, maka meskipun Matahari engkau miliki, maka engkau masih belum puas juga.”

Pak Hasan tercengang “Wah filosofi tingkat tinggi, Dok.”

“Baiklah, dok. Saya mohon pamit.” Kata Pak Hasan sambil menyodorkan selembar uang kertas.

“Lho, saya belum beri resep untuk Pak Anwar nih.”

“Ah tidak usah, dok. Sakit kepala saya sudah hilang. Saya tidak butuh obat lagi setelah saya menerima pencerahan dari Dokter.”

Glek…saya tidak mengira bahwa obrolan kami sudah membuat sakit kepala Pak Anwar lenyap.

Rabu, November 04, 2009

Tidak tahu tanggal lahir.


Tadi pagi saya kedatangan  pasien seorang wanita, Nn. EL 19 tahun.

Ia diantar ayahnya Pak. M. 45 tahun.

“Pak Dokter, tolonglah anak saya sakit kepala sejak 1 tahun yang lalu” kata Pak M.

“Baik nanti saya periksa dulu. Siapa nama anak Bapak?”

“Namanya EL, dok”

“Tanggal lahirnya Pak? tanya saya.

“Saya tidak ingat, dok tapi umurnya 19 tahun” jawab Pak M.

Untuk melengkapi Medical Record pasien ini, saya butuh data tanggal lahirnya ( tanggal, bulan dan tahun ).

Lalu saya bertanya kepada sang pasien.

“EL kapan tanggal lahirnya?” tanya saya

EL menjawab “Saya tidak tahu.”

Mosok tanggal lahir sendiri tidak tahu. Kalau EL menjawab sekenanya saja, saya toh tidak dapat membuktikannya karena ia tidak membawa KTP.

Saya bertanya lagi “Bisa saya lihat KTPnya?”

EL menjawab “Saya tidak bawa KTP” ( kalau KTP saja tidak bawa, apalagi Paspornya ).

Saya bertanya lagi  “Anda saat ini masih sekolah? atau sudah bekerja?”

EL menjawab “Saya  sejak 1 tahun yang lalu bekerja di Saudi Arabia. Sekarang saya pulang ke Indonesia dan sedang menunggu panggilan untuk bekerja di Dhubai, Abudabi.”

Glek saya terhenyak……. 

Kalau ia pernah bekerja, apalagi bekerja di luar negeri, tentunya pengetahuannya  cukup baik dan pasti mengetahui kapan  lahir. Mengapa ia tidak tahu tanggal lahir sendiri? Berarti EL tidak pernah merayakan Hari Ulang Tahunnya selama ini.

Tampaknya sepele, tetapi bagi saya pribadi rasanya aneh.

Saya sering menghadapi pasien  berusia lanjut yang lupa tanggal lahirnya. Ini  wajar, tapi kalau  usia masih 19 tahun tidak tahu / tidak ingat tanggal lahirnya sendiri, ini tidak wajar, apalagi ia pernah bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga di Saudi Arabia ( minimal ia dapat bicara Arab yang dipakai sehari-hari dengan majikannya ).

Kalau sekarang saya bertanya kepada anda “Kapan tanggal lahir anda?”

Apakah anda dapat menjawab pertanyaan saya? he...he....

Selasa, November 03, 2009

Alergi


 Alergi adalah reaksi tubuh kita yang tidak tahan terhadap sesuatu. Manifestasi reaksi terhadap Alergi dapat berupa: rasa gatal ( yang paling ringan ), biduren ( kaligata ) pada kulit, sesak nafas, hidung berlendir, shok ( yang paling berat ).

Pagi ini saya membaca sebuah artikel dari sebuah harian PR tanggal 3 November 2009, tentang Alergi.


Alergi memang terkadang menyakitkan.

Di South Yorkshire ada  orang yang mengalami Alergi cukup unik.

Darren Young ( 45 ) yang sehari-hari berprofesi sebagai Supir Bus, mempunyai penyakit Alergi terhadap isterinya. Jika ia berada dekat isterinya, di kulitnya muncul bintik-bintik merah, detak jantungnya makin cepat dan kulitnya membengkak. Penyebabnya, ternyata Alergi itu baru muncul jika isterinya menggunakan Krim atau “Lotion”. Dia baru bisa bebas berdekatan dengan isterinya, jika isterinya itu tidak menggunakan Kosmetik, Krim ataiu “Lotion”.

 

Saya pernah memunyai pasien wanita yang alergi terhadap Kondom suaminya.

Pasangan tsb mengikuti program Keluarga Berencana ( KB ) dengan cara memakai karet KB atau Kondom. Umumnya pada lapisan luar Kondom terdapat sedikit cairan pelumas. Ketika pasangan ini melakukan ML, sang isteri merasa tidak nyaman pada vaginanya. Ia merasa gatal yang sangat mengganggu. Rupanya ia alergi terhadap cairan minyak pelumas  Kondom yang dipakai sang suami. Solusinya: pakai Kondom merk lain atau Kondom yang tidak berpelumas.

Kamis, Oktober 29, 2009

Tidak punya uang (2)


Tadi pagi 29 Oktober 2009 datang  Ibu S. 35 tahun.

Ibu S berkisah bahwa 10 hari yang lalu ia datang mengantar putranya A, 1 tahun. Saya mencari Catatan pasien elektronik-nya di Laptop saya. A, 1 tahun, dengan Diagnosa: ISPA, mendapat Sirup Amoxycilin dan Puyer racikan  Anti Flu sebanyak 15 bungkus.

Pagi itu Ibu S  datang untuk meminta resep obat itu kembali karena putranya setelah sembuh dari penyakit Flunya,  hari ini ia sakit kembali dengan penyakit yang sama. Kondisi lingkungan hidup yang padat penduduk dan sanitasi kesehatan yang tidak memadai dapat membuat kesehatan tidak baik dan mudah terjangkit penyakit infeksi saluran nafas. Dengan harapan kalau minum obat dari resep saya itu, putranya akan sembuh.

Ibu S mendatangi sebuah Apotik terdekat dengan maksud ingin membeli obat yang sama. Pihak Apotk tidak dapat memberikan obat dari resep tsb karena di dalam racikan obat tsb terdapat obat batuk ( Codein ) yang termasuk obat yang hanya dapat diberikan dengan resep dari dokter. Oleh karena itu Ibu S mendatangi saya  ( tanpa membawa putranya ).

Ketika ditanya “Mengapa tidak membawa utranya untuk diperiksa kembali?”

Ibu S tidak menjawab. Rupanya ia bingung.

Ia berkata kalau ia diperiksa kembali kan harus bayar lagi kepada Dokternya.

Lha, bagaimana saya sebagai dokter dapat memberikan terapi obat yang cepleng kalau  tidak memeriksa pasiennya?

Ibu S menjawab  bahwa ia tidak punya uang. Suaminya sedang tidak ada pekerjaan alias nganggur. Anaknya sakit. Ia bingung. Akhirnya saya bingung juga.

Sebagai pemecah masalah, saya minta agar Ibu S sore harinya dapat membawa putranya untuk diperiksa dan diberi resep obat yang baru yang dapat diambil di Apotik terdekat. Soal tidak punya uang untuk doctor fee, jangan dipermasalahkan benar.

Ketika mengapa anda tidak membawa putra anda ke Puskesmas terdekat? Ia menjawab, sudah, tetapi belum sembuh juga.

Pasien dengan kondisi seperti Ibu S ini ternyata cukup banyak.

Dalam hati saya sering berbuat amal untuk menolong orang-orang lain seperti ini, tetapi saya juga harus membayar Pajak Penghasilan ke Kas Negara. Bagaimana saya dapat membayarnya kalau penghasilannya tidak memenuhi ketentuan yang berlaku?

Tidak punya uang (1)


Kemarin sore, 29 Oktober 2009, datang berobat Ny. L.

Rasanya Ibu ini pernah datang berobat. Lalu saya tanya siapa namanya dan saya cari Catatan pasien elektronik-nya yang ada dalam Laptop Acer 12” saya.

Ternyata  Ny. L, 38 th, pernah datang berobat pada tanggal 4 Mei 2009 dengan Diagnosa: TBC paru dupleks (kiri dan kanan ) dan LED ( Laju Endap darah: 30 mm/jam ). Saya sudah memberikan resep kombinasi obat generik anti TB ( Rifampicin 450 mg, INH 300 mg dan Etambutol 500 mg ) untuk 1 bulan. Saya berpesan agar setelah obat habis datang kembali untuk kontrol penyakitnya.

Beberapa bulan kemudian ia tidak pernah datang kembali dan baru  kemarin sore datang setelah 5 bulan tidak minum obat lagi setelah obat yang dibeli pertama kali habis. Ia mendapat uang dari saudaranya untuk membeli obat tsb. Dengan suaminya,  ia sudah berpisah tanpa mempunyai seorang anak.

Saya bertanya setelah minum obat selama 1 bulan dan obatnya habis apakah ia pernah berobat ke Puskesmas atau Dokter lain?

Setelah obat habis ia tinggal bersama salah satu saudaranya di kota Jakarta dan pernah berobat kepada Teman Sejawat. Di Jakarta-pun ia  minum obat tidak teratur karena katanya ia tidak punya uang untuk membeli obat dari resep yang diberikan oleh dokternya di Jakarta.

Bulan Oktober 2009 ini ia kembali ke kota Cirebon dan datang berobat lagi kepada saya.

Saya membatin “Bagaimana mau sembuh dari TBC parunya, kalau minum obat yang seharusnya diminum  6 bulan terus menerus tidak dilakukan?”

Memang benar untuk mendapat obat ia harus mempunyai uang. Tanpa uang obat tidak bisa didapat. Saya tidak memungut doctor fee pada kunjungan pertama dan kunjungan kemarin sore karena Ny. L tidak punya uang. Saya memberikan motivasi agar minum obat secara teratur, bila ingin sembuh dari TBC parunya dan tidak menularkan penyakitnya kepada orang-orang disekitarnya ( anggota keluarga dan tetangganya ).

Ny. L hanya termenung mendengar ucapan saya. Melihat sikapnya tsb saya menjadi bingung sendiri. Mau apa lagi? Suami tidak punya. Anak tidak punya. Uang juga tidak punya. Lalu dari mana ia dapat membeli makanan sehari-hari?

Akhirnya saya membuat Surat Rujukan ke Puskesmas yang berdekatan dengan tempat tinggalnya. Semoga ia dapat berobat secara teratur di Puskesmas tsb dengan biaya terjangkau atau gratis.

Rabu, Oktober 21, 2009

Wanita misterius



Sore ini sekitar pukul 17.30 WIB datang ke tempat praktik saya seorang wanita, usia 35 tahunan. Terjadilah dialog sebagai berikut.

Ia bertanya “Dokter, sore ini buka praktik?”

Saya jawab “Iya buka, Bu. Siapa yang mau berobat?”

Ia menjawab “Anak kecil bisa , Dok?”

Saya jawab “Bisa ( saya pikir pasien anak-anak sampai nenek-nenek juga bisa ), mana anaknya?”

Ia berkata “Nanti ya, anaknya saya bawa dulu.” Saya tidak bertanya dimana alamatnya.

Saya di Ruang periksa mengerjakan pekerjaan yang lain sambil menunggu kedatangan pasien saya itu. Saya tunggu sampai pukul 19.30 ( 2 jam ) wanita misterius itu tidak kunjung datang. Jangan-jangan  ia kurang waras. Ah…..saya kok jadi paranoid begini ya.

Pukul 19.15 datang seorang pria 30 tahun yang datang dan bertanya apakah saya masih buka praktik dan apakah anak-anak juga bisa diperiksa. Lagi-lagi pertanyaannya kok agak tidak masuk akal. Mosok Dokter tidak bisa periksa anak-anak / bayi.

Pukul 19.35 pria itu datang kembali bersama isteri dan putrinya usia 4 bulan dengan keluhan sedikit demam dan minum susunya rewel. Selesai memeriksa dan membuat resep bagi  bayi itu, wanita misterius tadi masih belum datang juga. Mungkin sekali ia tidak akan datang. Lalu apa maksudnya datang ke tempat praktik saya dan mengajukan pertanyaan seperti diatas?

Senin, Oktober 19, 2009

Berbuat baik pun tidak mudah


Ajaran untuk berbuat baik sejak lama sudah kita ketahui, tetapi  sampai saat ini kalau berbuat baikpun tidak mudah, paling tidak apa yang sudah alami. Mungin anda heran, tetapi inilah faktanya:

Sebagai dokter praktik umum yang seilmu dan seperguruan ( alma mater yang sama ) saya dengan isteri saya dalam masa pensiun kami masih melakukan praktik di tempat praktik yang berbeda.

Bila isteri saya sedang pergi ke luar kota untuk suatu urusan, seperti biasa saya menggantikan  praktik isteri saya.

Kisah di bawah ini mendukung  apa yang tertulis pada judul posting kali ini.

 

1. Seorang Bapak  datang berobat mengantar putranya Ali ( bukan nama sebenarnya ), 6 tahun. Setelah berhadapan dengan saya dalam Ruang periksa, Pak Alimin ( bukan nama sebenarnya ) berkata “ Dokter ini, bagaimana sih ( dengan nada sewot ) masa anak saya 3 hari yang lalu diberi resep obat seharga Rp. 8.900,- untuk 10 bungkus puyer.” ( kejadian ini  seitar 2 tahun yang lalu ).

Saya bertanya “Sembuh tidak, putra Bapak?”

“Sembuh, sih, tapi jatah kantor saya kan Rp. 250.000,-“

“Kalau sembuh kenapa Bapak, marah-marah? Lalu  Sekarang Bapak mau apa datang membawa anak yang lain?” saya bertanya ingin tahu, apa maunya.

“Ini kakaknya, sakit demam , batuk pilek juga. Rupanya tertular adiknya.”

Saya membatin diberi resep yang murah meriah dan sembuh, ia marah-marah. Aneh juga. Berbuat baik kok susah ya.

 

2. Sepasang suami isteri datang berobat. Sang suami menderita Radang Tenggorokan o.k. banyak merokok dan kurang tidur. Setelah memeriksa Pak Budi (bukan nama sebenarnya ), saya membuat resep 3 macam obat generik. Mungkin karena ia sering minum obat-obatan sehingga ia sudah paham nama-nama obat generik.

Setelah menerima dan membaca resep obat dari saya, Pak Budi ini minat agar resep obatnya diganti dengan obat paten. Ia tidak mau diberi resep obat generik.

Saya membatin diberi obat generik dengan harga yang terjangkau, ia tidak mau dan minta obat paten yang harganya lebih mahal, padahal khasiatnya sama persis. Diberi kebaikanpun ia tidak mau. Di depan tempat praktek, saya melihat sebuah Sedan  baru. Mungkin dia punya.

 

3. Ibu Rahman ( bukan nama sebenrnya ), 39 tahun, seorang akseptor KB dengan cara suntik tiap 3 bulan sekali. Setelah masuk ke dalam Ruang praktek ia agak kaget karena yang praktik bukan isteri saya, padahal di depan pintu masuk ada pengumuman bahwa isteri saya digantikan oleh saya. Ia menolak di layani oleh saya.

“Saya tidak mau disuntik oleh dokter ( saya ), katanya.

Saya bertanya “Kenapa, ibu”.

“Saya malu.” Ya Tuhan disuntik dibokong oleh Dokter pria juga malu.

“Baiklah, Ibu,  kalau malu, disuntiknya di lengan atas saja ya? Kata saya memotivasi agar ia tidak malu dan tidak perlu memperlihatkan bokongnya.

Ibu Rahman tetap menolak, katanya “Tidak mau, nanti obatnya tidak sama”.

Masih dengan sabar saya menjawab “Baiklah Ibu. Kalau tetap tidak mau, silahkan Ibu mencari Dokter wanita lain yang buka praktik sore ini, sebab isteri saya buka praktik lagi minggu depan.”

”Bagaimana ya, nanti malam suami saya datang dari Jakarta tempat ia bekerja dan kalau ia mengajak berhubungan, saya takut hamil lagi.” Ibu Rahman berkata dengan cemas.

Saya menjawab “ Pakai Karet KB aja dulu.”

Ibu Rahman menjawab “ Ia tidak mau pakai karet KB.” Ia permisi keluar dari Ruang Periksa.

Setelah memeriksa 2 pasien yang lain, Ibu Rahman kembali memasuki Ruang Periksa dan meminta disuntik KB oleh saya.

Saya berkata “Baiklah, Ibu, suntiknya di lengan atas saja ya!”

Ibu Rahman sudah berbaring tengkurep di atas bed dan siap disuntik di bokongnya. Rupanya ia tidak mau disuntik dilengan atas karena tidak biasanya. Biasanya di suntik di bokong oleh isteri saya.

Untuk berbuat baik ( menolong menyuntikkan  obat KB ) pun tidak mudah.

 

Masih ada beberapa contoh,  tetapi 3  contoh diatas rasanya sudah cukup mendukung bahwa untuk berbuat baikpun, ternyata tidak mudah.-

 

 

Rabu, Oktober 14, 2009

Help


 

MP4 photo bank

Saya sedang membutuh alat yang bernama MP4 photo bank yang dapat menyimpan banyak Foto dan sekaligus menampilkannya. Biasanya alat ini  mempunyai fasilitas utk  playing MP3 dan Video.

Adakah rekan Blogger yang mengetahui dimana saya dapat membelinya? ( di Indonesia: Bandung / Jakarta ).

Terima kasih atas bantuannya.

Jumat, Oktober 09, 2009

Jet lag



9 Oktober 2009:

Pk. 03.00 WIB saya terbangun. 

Sesaat mata terbuka saya berpikir saat ini saya ada dimana ya?


7 Oktober 2009 pagi masih di Sydney, 7 Oktober 2009 malam berada di Jakarta, 8 Oktober 2009 siang berada di Cirebon, 9 Oktober 2009 dst telah berada di Cirebon.


Saya kok bingung saya berada dimana? di Sydney, di Jakarta, atau masih diatas pesawat?


Rupanya saya mengalami Jetlag.


Kalau saat ini pukul 03.00 ( jam dinding saya menunjukkan angka tsb, GMT +7 ) matahari masih belum terbit, berarti di Sydney sudah jam 07.00 ( GMT +11 ), cahaya matahari sudah bersinar terang, yang selama 2 minggu saya terbiasa bangun pada pukul segitu. Pada saat Summer di Sydney perbedaan waktu dengan Jakarta adalah lebih siang 4 jam, dari GMT +7 ( Jakarta ) ke GMT +11 ( Sydney time ), oleh karena siang hari lebih panjang. Pk. 07.00 p.m. di Sydney pada saat Summer langit masih terang. Barulah sekitar pk. 07.30 langit gelap. Di luar bulan Summer perbedaan waktu hanya 3 jam ( GMT +7 di Jakarta ) menjadi GMT +10 ( Sydney time ).


Setelah beberapa detik kemudian, saya tersadar bahwa saya tidur semalam di atas bed saya di rumah kami di Cirebon. Ah...jam biologis saya masih belum ter-reset benar.


Keadaan demikian biasa terjadi bila seseorang telah melintasi beberapa zona waktu sehingga jam biologis yang ada di dalam setiap orang belum tersinkronisasi dengan jam di tempat tujuan ( dari Sydney ke Cirebon ).

 

Jetlag terjadi bila seseorang mengalami perjalanan jauh dalam waktu singkat setelah naik pesawat, sehingga terjadi gangguan perubahan ritmet sirkadian ( siang – malam ).

 

Saya ingin tidur kembali, tetapi tidak bisa.


Ingin ketik artikel, rasanya masih terlalu pagi. Akhirnya saya menyalakan TV, melihat film tayangan salah satu channel TV.

 

Pukul 05.00 WIB saya bangun dari bed dan melakukan aktifitas harian yang rutin saya lakukan, oleh karena kami tidak mempunyai Maid ( semua self service ). Jadi pada saat mudik dimana kebanyakan Keluarga bingung karena para Maid pulang mudik, kami sudah terbiasa melakukan secara self service seperti di Sydney, Australia.

 

Beruntung saya yang saat mengalami Jetlag hanya sesaat mengalami disorientasi  tempat saja ( tidak tahu saya berada dimana? ) dan tidak memerlukan benar terapi obat-obatan.

 

Gejala Jetlag:

Pada orang-orang lain gejala jetlag dapat berupa: gangguan pencernaan, Sakit kepala, lelah, gangguan tidur, insomnia sementara, disorientasi ( waktu, tempat ), mudah tersinggung, grogi / gugup, depresi ringan.

 

Terapi Jetlag:

Jaetlag terjadi selama beberapa hari. Kecepatan recovery ( perbaikan ) memerlukan waktu 1 hari untuk tiap perbedaan waktu ( time zone ).

Tablet yang mengandung hormon Melatonin dapat membantu sinkronisasi jam biologis kita. Pada percobaan hewan ( Hamster semacam tikus  percobaan ) menunjukkan bahwa Sildenafil ( VIAGRA ) membantu sebanyak 50% lebih cepat terjadi recovery. Dosis rendah dapat dimulai sebagai terapi awal. Percobaan in belum pernah dilakukan pada manusia. ( http://en.wikipedia.org/wiki/Jet_lag ).

Home sweet home



Kembali ke tanah air:

Sydney Trip ( 14)

7 Okt 2009:

Hari ini hari terakhir Sydney  Trip kami. Tidak terasa selama 2 minggu sudah kami berada di kota Sydney.

Pk. 11.30 a.m. Kami menuju Sydney Kingsmith Airport diantar oleh putri dan anak mantu kami.

Kami melakukan check in untuk mendapatkan kartu Boardingpas untuk dapat memasuki pesawat kami Qantas QF 41 yang akan membawa kami ke Jakarta. Kami tidak perlu membayar Airport tax lagi ( sudah termasuk harga tiket Qantas yang kami beli di Jakarta ). Di Bandara Sukarno-Hatta, tiap penumpang international flight dipungut Rp. 150.000,-/penumpang sebagai Airport tax dan di pungut Fiskal ( pajak ) sebesar Rp. 2,5 juta rupiah ( sebelum 1 Januari 2009 Rp. 1 juta /penumpang ), kecuali kalau dpat memperlihatan nomer pada Kartu Asli NPWP ( Nomer Pokok Wajib Pajak ). Untuk isteri dan anak-anak juga bisa bebas fiskal dengan membawsa Fotokopi Kartu Keluarga.

Kami melihat iklan Garuda Airways juga sudah membuka penerbangan langsung ( direct flight ) Jakarta – Sydney atau Jakarta – Melbourne. Tahun lalu GA masih harus transit di Denpasar, Bali selama 2 jam tengah malam untuk ganti pesawat yang lebih besar dan untuk mengangkut penumpang dari Denpasar yang akan ke Sydney. Lama penerbangan menjadi jauh lebih lama bila dibandingnya dengan direct flight. Semoga GA dapat memberikan service yang lebih baik dan harga tiket yang lebih murah, untuk memajukan sektor Pariwisata Indonesia yang sudah terpuruk oleh karena banyak hal.

Pagi hari kami dibantu  anak mantu kami dan putri kami melakukan Check in Online. Dengan laptop yang terhubung ke Internet kami dapat melakukan Check in di website Qantas dan dapat memilih nomet Seat dalam pesawat kami yaitu Air bus 330-200, QF 41, Sydney- Jakarta, 7 Oktober 2009.

Setelah semua data yang diperlukan dari masing-masing penumpang, kilk dan setelah disetujui oleh Qantas, kami dapat mencetak ( print ) lembaran Check in online ini. Data yang diminta dapat dilihat dari Tiket elekronik kami.

Keuntungan Check in online ini: nanti di Sydney Airport kami tidak perlu mengikuti antrian panjang pada waktu check in seperti biasa ( manual ). Memang tersedia banyak counter Qantas tujuan Jakarta : 14 – 26 yang melayani sekitar 300 penumpang yang akan check in untuk mendapat Boarding pass, sebuah kartu kecil untuk dapat memasuki pesawat yang akan kami tumpangi. Pada boarding pass ini tertera nomer seat tiap penumpang.

Setiba di Sydney airport kami langsung melihat tayangan di monitor TV yang bersisi daftar pesawat dan konter nomer berapa. Untuk Qantas QF41, konter 13-26. Kami menuju konter 13 yang khusus untuk Check in online. Kami memberikan print out check in oline dan paspor kami. Antrian di depan kami tidak banyak hanya 4 penumpang. Konter 14-26 melayani antrian yang panjang, calon penumpang QF41 ini. Jadi proses Check in lebih cepat. Berat total 3 koper  pakaian kami: 43 kg, tidak melebihi quota 23 kg / penumpang ( 46 kg ).

Dengan laptop tsb, kami juga mendaftar sebagai anggota QFF ( Qantas Frequen Flyer ) yaitu penumpang yang pernah terbang dengan pesawat Qantas akan mendapat point. Setelah mengisi data-data yang dibutuhkan, kami mendapat jawaban dan persetujuan yang mereka kirim ke email address kami. Setelah terdaftar sebagai anggota QFF maka setiap penerbangan yang pernah diikuti mendapat point. Besarnya point selama bertahun-tahun dapat dijumlahkan. Bila mencukupi persyaratan dan ketetuan yang berlaku maka anggota QFF dapat menerima Tiket Gratis ke kota-kota tertentu dikemudian hari. Adik saya dan suami sering mengikuti penerbangan Qantas dan tahun lalu mendapat tiket gratis Jakarta- Sydney, Perth dan New Zealand, pulang pergi.

Maskapai penerbangan Garuda ( GA ) dan Singapure ( SQ ) juga mempunyai fasilitas FF ( Frequent Flyer ) seperti Qantas.

Pesawat kami QF41 ini take off pukul 14.50 ( Sydney time ) terbang dengan mulus setinggi 40.000 feet  sejauh 5.517 km jarak tempuh Sydney – Jakarta dalam cuaca yang bagus tanpa ganguan cuaca. Pesawat landing di Sukarno-Hatta Airport pada pukul 18.35 ( WIB ).

Selama penerbangan para penumpang mendapat pelayanan dari awak kabin ( pramugara ) dengan pelayanan yang prima dan banyak senyum. Para penumpang juga mendapat suguhan tayangan Film di layer monitor yang terpasang di tiap belakang seat penumpang sehingga penumpang dibelakangnya dapat melihat film yang dipilih masing-masing penumpang. Untuk mendengarkan suara tiap penumpang mendapat Headphone masin-masing.

Hidangan minuman dan makaan siang juga disuguhkan dengan baik. Untuk menu utama ada 2 pilihan yaitu Fish ( ikan dengan potongan kentang rebus ) dan lain-lain lauk kecil ( keju, susu, gula, garam, sendok garpu plastic ) atau Chiken ( dengan nasi putih / steam rice, rebusan wortel, brokoli ) dan lain-lain lauk spt pada Fish. Untuk minuman kami dapat memilih: Teh hangat, Kopi, Apple juice, Mineral water, Red wine, Orange Juice.

Setiba di landasan pacu, kami  turun dan segera menuju konter Imigrasi untuk mendapat Stempel pada Paspor kami sebagai bukti bahwa kami sudah memasuki negara Indonesia kembali. Tanpa potongan Kartu ini  penumpang akan mendapat kesulitan. Oleh karena itu ketika kita  akan take off Kartu Kepergian dan slip kedatangan harus disimpan dengan baik dan jangan sampai hilang ( taruh bersama paspor kita ).

Kami menuju ban berjalan untuk mengambil koper pakaian kami. Dengan Troley yang tersedia kami segera menuju konter Custom ( pabean ). Koper tidak usah di-sanning dengan x ray lagi hanya handbag yang kami bawa di-scanning kalau –kalau ada barang yang terlarang ( senajta api dll ). Kartu pabean yang diberikan oleh awak kabin setelah kami isi, diserahkan / akan diminta oleh petugas di bagian pabean ini.

Setelah semua ceremonial ini selesai kami menuju pintu keluar dan dijemput oleh supir adik ipar kami. Mobil menuju rumah adik ipar kami untuk beristirahat malam.

8 Okt 2009: pk. 09.00 kami naik k.a. Argo Jati menuju kota kelahiran saya, Cirebon. 12.20 kami tiba dengan selamat setelah melakukan perjalanan yang jauh ( lintas Negara dan Benua ), cukup melelahkan dan menambah pengalaman hidup kami berdua. Semoga Tuhan memberkati kami dan semoga kami dapat melakukannya lagi kelak di kemudian hari, bila tabungan kami sudah mencukupi untuk membiayai semuanya. Home sweet home.

EOS ( end of story ).-

===