Rabu, Juli 24, 2013

Meninggal dunia


Tanggal 22 Juli 2013 pukul 06.30 di kota Cirebon turun hujan cukup besar. Terdengar ada ketukan pintu praktik kami. Ternyata yang datang adalah Pak. I, 45 tahun, pasien isteri saya.

Ia berkata “Dok, tolong datang ke rumah famili saya.”

Saya menjawab “Siapa yang sakit?”

Saya dapat telepon dari Om saya, katanya tolong panggilkan dokter sebab Tante sakit.

“Baik, tunggu sebentar, saya ambil tas saya dahulu.”

Kami naik mobil Kijangnya. Sesampai di rumah Tantenya di sebuah Gang, saya segera memasuki kamar tidur pasien.

Saya bertanya kepada suaminya “Bagaimana ceritanya Om?”

Om ini berkata “Kemarin isteri saya bersin-bersin seperti yang mau kena Flu. Tadi pagi bangun tidur katanya badannya lemes, tidak dapat bangun. Dok, tolong periksakan isteri saya.”

Saya segera memeriksa Tante I, 68 tahun ini. Saat diajak bicara dan ditanya pasien tidak menjawab.
Tidak ada kontak. Tekanan darah dalam batas normal, Jantung dan Paru-paru juga dalam batas normal.

Saya menduga badan pasien lemes karena belum sarapan.

Saya berkata kepada suaminya “Om berikan Tante segelas air teh manis agar badannya tidak lemes.”

Saya membuat resep berupa tablet untuk menambah energi dan tablet Multivitamin.
Setelah itu kami mohon pamit.

----

Pukul 11.30 Pak I datang kembali ke rumah kami dan berkata “Dok, tolong Dokter datang ke rumah pasien yang tadi pagi. Bisa tidak, Dok?”

Saya menjawab “Emang ada apa?

Pak I menjawab saya katanya ia mendapat telepon dari Omnya, katanya Tante sudah tidak bernafas.

Kaget juga saya saat mendengar keterangan Pak I ini. Saya tidak menduga sama sekali akan kejadian ini.

Segeralah kami meluncur ke rumah Tantenya itu.

Saat diperiksa, pasien Ny. I, 68 tahun ini, Pupil midriasis ( melebar ) dan reflex pupil: Negatip.

Bunyi Jantung dan pernafasan: Negatip. Benar pasien sudah meninggal dunia.

Saya berkata kepada suaminya “Om, Tante sudah pergi. Saya turut berduka cita. Nanti akan saya buatkan Surat Keterangan Kematiannya”.

Saya segera menulis Surat Keterangan tersebut dan menyerahkannya kepada suami pasien ini.

Ah…kematian dapat datang kapan saja dan tidak ada seorangpun yang tahu kapan maut datang menjemput kita.

Keluarga ini mempunyai 2 orang anak yang saat ini semuanya berada di luar kota. Saya melihat Om ini tampak kebingungan karena ditinggal pergi oleh isteri tercintanya.-

Kamis, Juli 18, 2013

Terkecoh penampilan pasien



Tahun 1996 saya menjadi salah satu dokter anggota Tim Kesehatan Untuk Rekomnendasi Surat Ijin Praktek (SIP ). Diantara 5 anggota, 4 diantaranya adalah Dokter Ahli dari berbagai disiplin spesialisasi ( S2 ) dan hanya saya sendiri yang dokter umum ( S1 ). Tugas Tim ini adalah memeriksa dan membuat Surat Keterangan Sehat bagi para dokter yang akan melakukan praktek swasta ( praktek sore hari ) di kota Cirebon.

Sudah banyak Teman Sejawat yang datang ke tempat praktek saya untuk meminta S.K. Sehat tersebut. Pada umumnya mereka adalah dokter umum dan beberapa dokter spesialis. Sehubungan dengan tugas itu ada kejadian yang lucu dan sulit terlupakan oleh saya.

Kisahnya demikian:
Suatu sore terdengar ketukan pintu Ruang Periksa saya. Setelah pintu saya buka, saya melihat seorang laki-laki, tinggi badan 150-155 cm, umur sekitar 40-45 tahun dan berpakaian cukup rapih. Ia tersenyum kepada saya dan saya memepersilahkannya masuk ke Ruang Periksa. Dari penampilannya itu saya menyangka ia adalah seorang pasien yang ingin berobat.

Setelah duduk berhadapan saya bertanya “Anda tampaknya tidak sakit, apakah anda ingin berobat?”

Tamu saya menjawab “Tidak, dok” sambil tersenyum.

“Ada keperluan apa kiranya ?”

“Saya Dokter Ahli Paru, ingin membuat Surat Keterangan Sehat untuk mendapatkan SIP saya” sambil menyerahkan Kartu Namanya.

Glek, saya tertegun.

“ Wah maaf, saya kira anda mau berobat. Maaf deh, habis saya belum kenal dengan anda.”

Malu juga saya menghadapinya, tapi bagaimana lagi kalau memang belum kenal. Dari penampilannya yang imut-imut, saya tidak menyangka bahwa laki-laki yang berhadapan dengan saya adalah seorang Dokter Ahli.

Akhirnya kami saling memperkenalkan diri lebih lanjut. Ternyata tamu saya ini adalah Dokter Ahli yang semula bekerja di salah satu Rumah Sakit di kota Jakarta. Saat ini ia bekerja di RSUD Gunung Jati. Singkat cerita urusan S.K. Sehat selesai dan beliau pamit dari tempat saya.

Masih sering saya bertemu dengannya di acara Seminar atau Simposium tentang Penyakit atau Obat yang sering dilakukan oleh IDI Cabang Kota Cirebon. Bila bertemu dengannya saya teringat kejadian saat beliau minta S.K. Sehat dari saya.

Semoga banyak pasiennya, Dok.-

Rabu, Juli 17, 2013

K o m a



Saya pernah mempunyai seorang pasien, Pak A, 56 tahun, seorang tukang listrik yang mengalami penurunan kesadaran ( Koma ) pada tahun 1999-2001 sebanyak 3 kali dengan selang waktu sekitar 6 bulan.

Sebagai penderita Tekanan Darah Tinggi, ia tidak berobat secara teratur. Ia mempunyai tekanan darah antara 160/90 – 210/100 mmHg. Ia akan merasa tidak enak badan dan sakit kepala bila ia mempunyai masalah keluarga atau pekerjaan. Bila diukur tekanan darahnya menunjukkan 210/100 mmHg.

Akhir 1999 pertama kali ia mengalami penurunan kesadaran, saya sebagai dokter langganannya diminta oleh istrinya untuk datang ke rumah mereka. Ia berkata bahwa suaminya tidak bangun-bangun sejak 2 jam yang lalu.

Saya mendapatkan tensi 210/100 mmHg, ia tampak tertidur dan sama sekali tidak memberi reaksi apapun ketika saya mencubit kulit tangannya. Refleks Pupil mata menunjukkan hasil yang Negatip. Hal ini menyatakan bahwa pasien sedang dalam keadaan penurunan kesadaran yang dalam ( Koma ). Isterinya menolak ketika saya menganjurkan agar suaminya dibawa ke Rumah Sakit.

Sambil menunggu pulihnya kesadaran pasien ini saya mempijit-mijit ibu jari kaki kirinya selama sekitar 5 menit. Setelah itu saya menunggu di ruang tamu yang bersebelahan dengan kamar tidur pasien. Tak lama kemudian pasien ini sadar dan anak perempuan yang menungguinya menangis, mungkin karena gembira ayahnya sadar kembali.

Saya menganjurkan agar ayahnya diberi minum air teh manis. Ia minum 2 teguk air teh tersebut.

Ia bertanya kepada saya ”Kok dokter ada dirumah saya?”

Saya menjawab “Iya Pak, saya kebetulan lewat rumah Bapak dan saya mampir kesini.”

Setelah saya yakin bahwa Pak A sadar betul, saya bertanya kepadanya “Tadi Bapak pergi kemana, kok lama sekali?”

Pak A menjawab “Saya cape sekali. Saya telah pergi jauh. Saya melewati suatu lorong yang panjang dan diujung lorong saya melihat cahaya yang terang sekali. Saya tidak dapat mendekati cahaya itu.”

Saya terkejut sekali mendengar jawabannya itu.
Kalau seseorang sudah masuk ke suatu terowongan yang panjang dan di ujungnya ada cahaya terang berarti ia sedang menuju ke ajalnya. Saya pernah membaca 2 buku tentang pengalaman seseorang yang pernah mengalami mati dan hidup kembali ( mati suri ?) dan menceritakan hal yang sama.

Pak A ini mengalami hal tersebut sebanyak 3 kali yang saya tahu.
Pada kejadian ke 2 dan ke 3 ketika saya dipanggil keluarga Pak A saya tak dapat berbuat banyak. Kami hanya menunggu semoga Pak A sadar kembali.

Akhirnya Pak A memang sadar kembali, tanpa cacad dan sampai saat ini ia masih bekerja di suatu perusahaan swasta dikota Cirebon. Ia penderita Tekanan Darah Tinggi. Orangnya baik tetapi ia mempunyai masalah keluarga, terutama anak sulungnya yang sering meminta banyak uang kepada ayahnya, meskipun ia sudah berkeluarga, tetapi tidak bekerja.

Pak A adalah seorang laki-laki yang menakjubkan. Ia pernah mengalami koma sebanyak 3 kali. Believe it or not.


Selasa, Juli 16, 2013

Alergi Antalgin


Keadaan alergi tidak diinginkan oleh banyak orang, tetapi keadaan yang bersifat bawaan lahir ini sering terjadi di masyarakat. Alergi yang merupakan manifestasi dari keadaan tidak tahannya seseorang terhadap sesuatu yang menimbulkan gejala-gejala berupa : gatal, kaligata/biduran, sesak nafas dan bahkan anafilaktik shok serta kematian. Sesuatu itu dapat berupa: makanan, minuman, kosmetik, obat, perubahan hawa, tepung sari dan lain-lain.

Suatu malam pada tahun 1990, rumah kami didatangi oleh sepasang suami-isteri yang ingin berobat. Waktu menunjukkan pukul 21.30 malam, setelah mempersilahkan pasien yaitu sang suami dengan umur sekitar 35 tahun berbaring di bed periksa, saya mewawancarai isterinya ( melakukan heteroanamnesa dari isterinya ) keluhan, riwayat penyakit dsb.

Sang Isteri mengatakan bahwa sang suami yang alergi tablet Antalgin, pada pukul 19.30 minum obat Antalgin ( yang dibeli di warung ) karena ia merasa pusing kepala. Oleh isterinya dilarang minum Antalgin tetapi karena saat itu sudah malam dan mereka tidak mempunyai obat pusing yang lain, terpaksalah Antalgin itu yang diminum sang suami.

Saya memeriksa keadaan suaminya itu: tekanan darah 100/60mmHg ( cukup rendah dari keadaan normal, gejala awal shok ), kesadaran menurun, kontak inadekwat, badan terasa dingin, tidak ada sesak nafas. Secepatnya saya mengatakan kepada sang isteri bahwa keadaan suaminya cukup parah dan sebaiknya segera dibawa ke Rumah Sakit ( ada 1 Rumah Sakit yang jaraknya hanya 100 meter dari rumah saya ).

Perkiraan saya dengan naik Jip yang dikendarai supir mereka dalam waktu cepat ( 2 menit ?) pasti sudah sampai di Bagian Gawat Darurat. Saya menuliskan Surat Rujukan ke RS tadi dan menyerahkannya kepada sang isteri. Tanpa mengharap jasa pelayanan, saya membukakan pintu ruang praktek agar mereka segera ke RS. Dengan dibantu isterinya pasien saya ini keluar dan ketika tiba di teras rumah, pasien ini muntah-muntah mengeluarkan banyak is lambung yaitu berupa nasi ( tanda shok lain muncul lagi ). Setelah mereka meninggalkan rumah saya, saya masih harus membersihkan lantai akibat muntahan pasien tadi ( sang pembantu rumah tangga sudah tertidur ).

Saya mengharapkan agar pasien saya ini mendapat pelayanan RS dan terhindar dari keadaan yang lebih buruk lagi. Keesokan hari pada pukul 06.00 pagi saya menghubungi RS dekat rumah saya untuk menanyakan adakah pasien saya tadi malam masuk RS dan bagaimana keadaannya sekarang? Sungguh terkejut saya mendapat jawaban bahwa tidak ada pasien dengan nama pasien tadi. Saya menghubungi semua RS yang ada di kota saya dan jawabannya sama dengan RS yang pertama. Saya bingung kemana pasien semalam dibawa? Pulang ke rumah ?

3 hari kemudian saya mendapat kunjungan seorang ibu yang ternyata isteri dari pasien saya ini yang ingin memeriksakan anaknya untuk berobat. Saya mendapat informasi tentang suaminya bahwa malam hari sepulang dari tempat praktek saya sang suami menolak masuk RS dan minta pulang kerumah saja.

Sampai dirumah sang suami tertidur dan terbangun keesokan harinya dengan keadaan sehat. Puji Tuhan, pasien ini tidak mengalami shok yang dapat membahayakan jiwanya. Beruntung sekali pasien ini yang sudah mengetahui bahwa ia alergi Antalgin, masih saja minum Antalgin dan ia sudah merasakan akibatnya. Semoga ia tidak berani lagi minum tablet Antalgin. Semoga.

Senin, Juli 15, 2013

Dokter dikerjain Napi?



Kisah ini terjadi pada pertengahan tahun 1999 ketika saya masih bekerja di Lapas I ( Lembaga Pemasyarakatan Kelas I ) Cirebon. Napi ( narapidana ) Udin ( bukan nama sebenarnya ), 25 tahun, dirawat diruang perawatan karena sakit maag yang khronis. Profil tubuhnya kurus akibat gangguan pencernaan yang menahun.

Napi Udin menempati kamar bersama napi Alimin ( bukan nama sebenarnya ), 30 tahun. Alimin dipidana mati karena tersangkut perkasa Narkotik. Alimin masih menunggu kapan dilakukan eksekusi hukumannya. Allimin pasrah akan nasibnya. Sehari-hari Alimin banyak menolong napi-napi yang menderita sakit. Ia turut membantu mengawasi dan memberi obat kepada napi yang sakit.

Suatu hari ada laporan bahwa mata napi Udin mengeluarkan darah. Laporan tersebut sudah terjadi sebanyak 2 kali. Hasil pemeriksaan fisik terhadap tubuh Udin tidak menunjukkan kelainan pada daerah sekitar kedua matanya. Saya hanya menemukan sisa bekuan darah yang merupakan garis lurus dari mata kiri Udin sampai ke daerah pipi kiri. Oleh karena saya menganggap keadaan Udin tidak mengkhawatirkan, saya hanya memberikan Kalk tablet untuk mempercepat proses pembekuan darahnya.

Saya belum pernah menemui pasien dengan gejala seperti napi Udin. Apa istilah Medisnya? Saya sampai saat ini belum menemukannya. Untuk menindak lanjuti gejala ini, saya mengusulkan kepada Kepala Lapas I Cirebon, agar napi Udin dilakukan pemeriksaan Darah di Laboratorium Klinik. Beliau menyetujuinya.

Petugas Lab. Klinik yang dipanggil datang untuk mengambil spicement darah Udin. Ternyata hasilnya normal. Saya mempunyai firasat jangan-jangan darah yang keluar dari mata Udin ini adalah tidak benar alias hasil rekayasa Udin sendiri.

2 hari kemudian kondisi napi Udin memburuk, tidak mau makan dan badannya lemas. Melihat kondisi Udin yang memburuk ini, Udin dirawat di Rumah Sakit Umum Gunung Jati, Cirebon. Kaki Udin dirantai ke tiang besi tempat tidur Rumah Sakit dan dipasang kunci gembok. Selama 24 jam secara bergantian napi Udin diawasi oleh petugas keamanan dari Lapas. Tindakan pengamanan ini dilakukan untuk mencegah kaburnya napi yang dirawat di Rumah Sakit.

Setelah napi Udin dirawat di R.S.U, napi Alimin mendekati saya dan melapor dengan bisik-bisik bahwa mata Udin sebenarnya tidak apa-apa. Saya tertegun.

Saya bertanya kepada Alimin, “Min, mengapa bisa ada darah keluar dari mata Udin?”
Alimin menjawab “Ia menggigit ujung jari tangannya sehungga berdarah dan darahnya itu ditempelkan kebawah mata kirinya sehingga seolah-olah mata kirinya mengeluarkan darah.”

“Bagaimana kamu tau, Min” saya mendesak.

Alimin menjawab, “Kebetulan suatu saat saya mengintip kelakukan Udin karena saya 1 kamar dengannya.”

“Min, mengapa kamu baru melapor sekarang?, saya meradang ( kesal karena dikerjaiin napi ).

Alimin menjawab, “Saya takut melaporkan hal ini, Dok.”

“Takut apa, Min “ saya bertanya.
Alimin tidak menjawab.

Mungkin takut akan diganggu oleh teman-teman si Udin yang statusnya sebagai napi juga. Firasat saya benar, darah yang keluar dari mata Udin adalah hasil rekayasa napi Udin sendiri. Ia berbuat demikian agar dianggap sakit berat. Napi yang sakit berat biasanya akan dirawat di Rumah Sakit Umum. Dalam perjalanan dari Lapas ke RSU dan selama napi dirawat terdapat peluang untuk melarikan diri/kabur.

Nah peluang ini yang dicoba oleh napi Udin. Udin kecele karena pengawalan yang ketat ia gagal kabur.

Sekembalinya dari perawatan di RSU, napi Udin saya gertak, “Din, rahasiamu sudah terbongkar. Mata kirimu tidak apa-apa, hanya pikiranmu yang sakit. Awas kau bila macam-macam lagi.”
Udin menunduk ketakutan. Sejak saat itu tidak ada lagi laporan bahwa mata napi mengeluarkan darah.

Kalau kita, petugas Lapas tidak waspada, kita pasti kena kibul alias kecolongan. Kadang-kadang kita mesti memanfaatkan Indera ke 6 atau perasaan hati kecil kita.

Pengalaman bertambah satu lagi ketika saya bekerja di Lapas I Cirebon ini. Bye.


Minggu, Juli 14, 2013

Ingin hidup 100 tahun?



Kalau kita menghadiri perayaan hari ulang tahun seseorang atau memberi ucapan selamat, sering kita melihat tulisan atau menuliskan perkataan “Selamat ulang tahun dan semoga panjang umur”. Hampir semua orang menghendaki panjang umurnya, tetapi apalah artinya panjang umur, bila dalam keadaan lanjut usia ia menderita penyakit. Jangankan melayani orang lain ( suami/isteri ), melayani diri sendiri saja sudah tidak bisa dan harus dibantu oleh orang lain. Mungkin ucapan selamat tadi lebih baik bila diganti dengan ucapan “Selamat Ulang Tahun“ dan “Semoga awet muda“.

Seorang pengusaha dan Direktur perusahaan jamu terkenal di Jawa Tengah di dalam sebuah artikel sebuah majalah pernah menyatakan dalam wawancara dengan seorang wartawan bahwa kalau bisa ia ingin mati muda. Sang wartawan terkejut, bagaimana mungkin seorang yang begitu sukses mempunyai keinginan yang lain dari orang lain dan ingin mati muda saja. Sang Direktur menjawab, “Bila mati muda kan tidak mengalami penderitaan bertahun-tahun karena menderita sakit di hari tuanya dan saya tidak ingin mengalaminya.”

Kami pernah menemui contoh kasus seorang yang ingin berumur panjang dan bahkan ingin hidup sampai umur 100 tahun. Ingin mengetahui ceritanya. Inilah kisahnya.

Suatu hari kira-kira 15 tahun yang lalu isteri saya yang juga seorang dokter umum mendapat pangilan berulang-ulang kali dari seorang nenek yang berumur 99 tahun dengan sakit usia lanjut.

Penderita sudah lama hanya berbaring di tempat tidurnya. Makan sedikit sedikit dengan cara disuapi oleh anaknya. B.a.k. ( buang air kecil ) dan b.a.b ( buang air besar ) diatas tempat tidur. Kadang-kadang demam, sedikit batuk dll keluhan diusia lanjutnya.

Beberapa kali saya ikut mengantar isteri saya bila mereka memanggil dokter dan ikut melihat pasien tadi. Kami pernah menyarankan agar dirawat di Rumah Sakit saja agar perawatannya dapat lebih intensif, tetapi hal ini ditolak oleh keluarganya.

Suatu saat ia mengalami krisis, demam tinggi dan tidak mau menelan minuman ataupun makanan cair selama 2 hari. Semua sanak saudaranya dipanggil datang dan bahkan anaknya yang tinggal di Hongkong juga sudah datang. Maklum mereka keluarga yang terpandang di kota kami.

Anaknya memohon kepada kami agar dapat menyembuhkan sakitnya. Meskipun kami menyarankan agar dirawat oleh T.S. spesialis/ahli penyakit dalam, mereka menolak dan minta agar kami saja yang merawat ibu mereka. Mereka begitu ngotot agar ibunya segera sembuh. Hal ini bisa dimaklumi, siapa yang tega ibunya sakit berat?

Ketika anaknya datang dari Hongkong eh… sang pasien mendadak mau makan, sadar, bisa bicara dengan sanak keluarganya. Karena dianggap kondisi kesehatan ibunya membaik, sang anak kembali pulang ke Hongkong.

2 hari kemudian kami dipanggil lagi karena kondisi pasien merosot lagi dan bahkan lebih parah. Kami rasanya tak sanggup lagi untuk mempertahankan keadaan yang sudah lemah.

Saya pernah berbisik kepada salah satu anak yang merawatnya ( serumah ) bahwa bila Tuhan memanggil ibunya maka relakan saja, karena kami kasihan melihat ibunya hidup dalam keadaan yang makin mengkhawatirkan, toh usianya sudah lanjut. Kami mendapat jawaban yang menolak pernyataan saya dan sekali lagi memohon agar kami dapat merawatnya selama mungkin. Glek….. saya terhenyak.

Saya tak dapat menjawab pertanyaan saya sendiri: untuk apa lagi ia hidup menderita dan juga membuat semua sanak keluarganya siang malam ikut menderita dengan menunggui ibu mereka siang malam?

Saya pada suatu hari kunjungan sempat mengeluarkan isi hati saya bahwa kalau mereka selalu ingin agar ibunya sehat kembali ( meskipun mereka juga tahu keadaan ibunya yang sudah payah karena usia lanjut ) dan menolak suatu saat Tuhan memanggil ibunya maka berarti anda sudah melawan takdir. Dan itu tidak baik karena tidak merelakan ibunya pergi dan ibunya juga sulit pergi karena dihalangi oleh anaknya. Mereka terdiam.

2 hari kemudian kami mendapat berita bahwa pasien kami ini meninggal dunia dan jenasahnya tetap berada di rumah mereka dan tidak dibawa ke rumah duka. Kami pergi melayat kerumah mereka. Saya berbicara dengan anaknya dan ia mengeluarkan isi hatinya. Anda ingin tahu apa yang disampaikannya? Inilah “rahasianya”:

Ibunya pernah menyatakan bahwa ia ingin berumur sampai 100 tahun yang berarti kira2 1 bulan lagi sejak ia meninggal dunia dan ia ingin meninggal dunia di rumah sendiri. Ya Tuhan….. saya membatin. Saya belum pernah selama menjadi dokter menemui kasus seperti ini yang ngotot ingin hidup terus sampai 100 tahun ( kalau di sajak Chairil Anwar sih memang ada tertulis “ Aku ingin hidup 1000 tahun lagi” ). Tetapi apa bisa?

Anaknya juga memohon maaf kepada kami karena “keras kepalanya” sehingga ia selalu memanggil kami bila kesehatan ibunya menurun sedikit saja sudah memanggil dokter at any time. Memang repot sih menghadapi orang yang demikian. Tapi mau apa lagi? Setelah kami mengetahui “rahasia” ini, maka terjawab sudah pertanyaan saya di atas tadi.

Anda ingin hidup sampai 100 tahun ? Hanya kita masing-masing yang dapat menjawabnya.-


Sabtu, Juli 13, 2013

Dokter sakit kepala



Keluhan sakit kepala,pusing merupakan gejala yang paling banyak dikeluhkan oleh pasien. Pasien sering bertanya,”Sakit apa saya ini, Dok?”

Sakit kepala merupakan gejala dari suatu penyakit. Gejala sakit kepala ini dapat disebabkan oleh banyak kelainan antara lain di:
1.Daerah kepala: akibat benturan kepala, tumor otak dsb.
2.Daerah Hidung: Sinusitis dsb.
3.Daerah saluran nafas: Flu berat dll.
4.Penyakit Infeksi: Typhus dsb.
5.Gangguan pembuluh darah: Migraine dsb.
6.Stress berat.
7.Kedinginan.
8.Dll.

Nah penyebab yang terakhir ini yaitu kedinginanlah yang merupakan penyebab saya selama 1 minggu menderita.

Kisah ini terjadi 18 tahun yang lalu. Dengan membaiknya rejeki, maka keluarga kami dapat mengganti mobil kami yang tidak ber AC dengan mobil yang ber AC. Kami selalu memanfaatkan AC alam yaitu udara luar/angin, bila naik mobil.

Selama 1 minggu saya menderita sakit kepala. Saya selalu menghidupkan AC mobil agar udara terasa sejuk di dalam mobil. Bila saya naik mobil dari rumah ke Puskesmas yang berjarak sekitar 5 Km. Sakit kepala saya ini terjadi selama saya berada dalam mobil.

Sakit kepala akan hilang secara bertahap setelah saya berada di luar mobil. Saya tidak minum obat penghilang sakit kepala. Saya bertanya-tanya dalam hati, “ Apa penyebab sakit kepala ini?”

Akhirnya saya menemukan penyebabnya yaitu akibat dinginnya udara akibat AC mobil. Kesimpulan ini berdasar analisa dan percobaan:

1.Sakit kepala hanya terjadi bila saya berada dalam udara dingin ( AC).
2.Sakit kepala hilang bila saya berada di dalam ruangan bersuhu sekitarnya ( 29-31 derajat Celsius ).
3.Bila AC mobil dimatikan dan pakai AC alam ( jendela terbuka ), sakit kepala tidak ada.

Setelah tubuh saya beradaptasi dengan AC, sekarang malah terbalik keadaannya. Bila AC mobil off, sakit kepala saya timbul dan badan berkeringat karena kepanasan.

----

Pernah ada kejadian yang menggelikan tentang AC mobil ini. Suatu saat saya dan seorang staf Puskesmas pergi dari Cirebon ke Bandung berkendaraan mobil saya dan AC di on kan. Dalam perjalanan tidak ada masalah. Staf saya tenang-tenang saja.

Keesokan harinya ia ditanya oleh staf yang lain,” Bagaimana rasanya naik mobil ke Bandung bersama dokter?”
Ia menjawab, “Wah enak. Mobil melaju mulus, tapi itu lho.”

“Lho kok ada tetapinya. Apa sih.” yang lain nimbrung.

Ia menjawab,”Saya merasa kedinginan. Habis AC mobil dokter dingin sekali.” ( pantesan dalam perjalanan ia diam saja ).

Saya yang saat itu berada di ruangan sebelah merasa geli dan kasihan kepadanya. Mengapa ia tidak mengatakan kepada saya bahwa AC nya terlalu dingin atau minta di off kan saja. Kasihan ia merasa tidak nyaman sedangkan saya biasa-biasa saja karena sudah terbiasa dengan AC ini. Rupanya ia belum terbiasa dengan udara dingin karena AC ( sama dengan saya pada awal cerita ini ).

----

Kasus lain yang serupa adalah:

Suatu sore datang seorang pasien, ibu untuk berobat. Ia menderita demam sejak 2 hari yang lalu. Setelah duduk, ibu ini berkata “Aduh dingin sekali dok. Saya tidak tahan.Tolonglah AC nya di matikan saja.” ( wah nanti saya yang kepanasan ) Nah….lho.

Saya memahami keadaan ibu yang demam ini. Saya tekan tombol “Sleep mode” sambil berkata “Ibu, AC nya sudah saya matikan.” (padahal hanya mengontrol timernya saja. Kalau benar-benar di off kan maka saya akan kepanasan, karena ventilasi sudah ditutup karena AC di on kan.

Bagi mereka yang mempunyai kamar tidur yang ber AC, sebaiknya anda menekan tombol “Sleep mode” sebelum tidur atau menekan tombol timer untuk AC on selama beberapa jam saja dan akan off secara otomatis agar anda tidak kedinginan saat tidur.

Suhu yang ideal ketika tidur sekitar 23-25 derajat Celsius ( tergantung kebiasaan seseorang ). Dengan suhu 20 derajat Celsius saja kita sudah merasa dingin, bagaimana kalau kita berada di daerah Kutub Utara yang bersuhu udara minus dibawah nol ( beku ). Kita kalah dong dengan Beruang Kutub dan Ikan Hiu Botol.-

Jumat, Juli 12, 2013

Dokter murah



Dokter murah bukan berarti dokter murahan. Pengalaman ini pernah saya alami ketika pada tahun 1998, saya dapat giliran jaga kota Cirebon dimana setiap 3 bulan satu kali kena giliran jaga kota. Tempat praktek swasta pribadi menjadi tempat Dokter Jaga Kota.

Pagi hari sekitar pukul 11.00 datanglah seorang laki-laki berumur sekitar 35 tahun dengan maksud untuk berobat. Pasien ini berasal dari Jakarta dan ketika berada di Cirebon ia merasa kesehatannya terganggu. Ia menderita Flu, setelah saya periksa saya menyerahkan resep obat kepadanya.

Pasien ini bertanya “ Berapa Dokter?’.

Saya menjawab “ Lima ribu rupiah untuk biaya pemeriksaan”.

Pasien saya ini agak terkejut dan ia bertanya lagi” Berapa Dokter?”.

Saya menjawab “Lima ribu rupiah”.

Pasien ini berkata lagi “ Kok murah sekali. Kalau dikota Jakarta saya biasa membayar lima belas ribu rupiah” .

Saya menjawab “ Kalau di Cirebon seorang dokter umum memungut lima belas ribu ya terlampau mahal dan pasti tidak laku. Dokter spesialis ( waktu itu) saja dua puluh ribu rupiah, tetapi kalau Bapak mau membayar lima belas ribu ya saya terima.” ( sambil tersenyum, guyon ).

“ Wah.. ya saya bayar lima ribu rupiah saja seperti yang dokter mauin “

Rupanya pasien saya ini termasuk orang yang kikir sehingga merasa rugi bila ia membayar lebih, padahal saat itu adalah hari Minggu dimana sulit mencari dokter yang praktek dan ia saat itu sudah ditolong oleh dokter jaga kota.

“Semoga lekas sembuh, Pak” kata saya sambil membukakan pintu.

----

Pengalaman lainnya juga cukup menggelikan. Seorang ibu pasien langganan saya suatu saat pada tahun yang sama datang berobat. Sakit kulitnya kambuh lagi.

Sambil menerima resep dari saya ia bertanya “ Berapa Dokter?”

Saya jawab “ Lima ribu rupiah.”

Ibu ini pura-pura terkejut dan berkata “ Kok naik Dok, dulu cuma tiga ribu rupiah”

Rupanya ia mau nawar biaya pemeriksaan.

Saya menjawab, “ Ya dulu dulu sih cuma dua rupiah dan naik jadi tiga ribu rupiah. Ibu sudah lama tidak kontrol dan sekarang lima ribu rupiah.”

Ibu tersebut menggumam “ Ya sekarang apa-apa pada naik. Tidak ada yang turun ya Dok.”

Saya menjawab sambil guyon “ Ada Bu.”

“Apa itu Dok”

Saya jawab “ Celana dalam turun, bila mau disuntik “

“ Ah Dokter, ada-ada saja “

Padahal betul kan? Mana ada celana dalam yang naik bila mau disuntik. Ha..ha...ha..

Kadang kala disaat praktek Dokter harus dapat membuat pasien tertawa agar berkurang penderitaaanya. Tertawa itu sehat, karena itu tertawalah sebelum tertawa itu dilarang. Tertawa itu juga dapat mengurangi Stres.-

Mesin Penjawab Telepon



Demi tidak mengecewakan penelepon, pesawat telepon kami dilengkapi dengan mesin penjawab telepon ( answering machine ). Rupanya orang-orang di kota kami belum terbiasa dengan mesin penjawab telepon.

Dengan terpasangnya alat tadi bukannya menjadi lebih nyaman bila menghubungi pesawat telpon kami, tetapi sebaliknya bahkan menjadi lebih kacau. Tujuan untuk mempermudah menghubungi kami tetapi tetap saja kami sulit mengubungi kembali si penelepon.

Semula alat tersebut dipasang agar:

1.Bila kami sedang tidak berada di rumah atau sedang enggan menerima telepon, maka si penelepon dapat meninggalkan pesan, nama dan nomer penelpon agar kami dapat menghubungi kembali secepatnya.

2.Bila si penelepon mengucapkan pesannya, kami dapat mengenali suara sipenelepon, sehingga kami segera dapat mengangkat pesawat telepon.

3.Pasien dapat mendaftar sebelum berobat pada sore hari.

Pengalaman saya selama ini memang benar menunjukkan bahwa masyarakat belum terbiasa menghadapi mesin penjawab telepon. Mesin tadi berisi rekaman suara saya, “ Disini nomer 123456, sebutkan nama, pesan dan nomer telepon anda.” Rekaman suara tadi di ucapkan lambat agar dapat didengar dengan cermat.

Anda dapat menyimak pesan-pesan dari si penelepon:

1.“Nama saya Untung, Dokter harap datang ke rumah saya karena anak saya sakit.” ( tidak ada alamat, tidak ada nomer telepon, lalu saya harus datang kemana? ).

2.“Dokter saya mau daftar untuk berobat.” ( tidak disebutkan namanya, alamatnya, nomer teleponnya & kapan mau berobatnya, lalu apanya yang di daftarkan?.
)
3.“…………”, tanpa ada suara sedikit pun, lalu rekaman suara saya rupanya tidak diperhatikan sehingga si penelepon terbengong-bengong, kok tidak ada yang menyahut lagi. Kasus in adalah yang paling banyak terjadi. Kalau saya bertemu beberapa waktu kemudian maka mereka mengomel bahwa ketika mereka menghubungi kami, hanya disambut oleh suara rekaman saya saja. Lho kami juga kan manusia yang bisa pergi kemana saja semau kami dan kapan saja. Kok repot-repot ngurusin telepon sih. Kalau memang benar perlu sekali kan dapat meninggalkan pesan. Sarananya sudah tersedia silahkan dimanfaatkan, dari pada telepon tidak diangkat-angkat karena memang tidak ada orang di rumah.

4.Terdengar rekaman “Wah tidak ada orangnya“ ( maksudnya kok bicara tidak nyambung dengan si tuan rumah ), lalu hubungan telepon di putuskan.

Terpasangnya mesin penjawab telepon ini sudah banyak di kota-kota besar dan di kantor-kantor. Pernah suatu kali menghubungi suatu kantor di Jakarta. Deringan telepon saya disambut dengan rekaman suara dari seberang sama, lalu saya meninggalkan nama, nomer telepon dan tujuan saya menelepon. Ternyata rupanya saya menelpon hari Sabtu dimana kantor tersebut tutup.

Meskipun kantor tutup, saya mendapat telepon dari kantor tersebut pada hari Senin, 2 hari kemudian dan saya mendapatkan informasi yang saya tinggalkan dalam pesan saya pada mesin penjawab telepon kantor tersebut.

Nah inikan bagus. Komunikasi satu arah ini dapat memberikan hasil juga. Itulah mesin penjawab telepon yang dimanfaatkan dengan benar.



Kamis, Juli 11, 2013

Dokter mengeluarkan uang dulu



Kisah ini adalah lanjutan dari kisah “Dokter melompati pagar”.

Setelah Napi Udin dibawa ke RSU untuk dirawat inap, perawat jaga menyodorkan resep berupa cairan infus, slang infus dan antibiotika suntikan yang semuanya berjumlah Rp. 39.000,- Karena petugas Lapas tidak membawa bekal uang, maka demi kelancaran prosedur perawatan saya nombokin dulu uang tadi. Ah… masa bodoh lah, yang penting ia masuk RSU dulu. Soal duit besok lusa saya akan minta penggantian dari Bagian Keuangan Lapas.

Finally si Udin ini dirawat selama beberapa hari di RSU dan sembuh. Saya bersyukur bahwa saya sudah melakukan tugas dengan baik dan Napi sehat kembali.

Saya telah menjalankan amanat dari Kepala Lapas, bahwa “Jangan ada Napi yang meninggal dunia di dalam Lapas I Cirebon.” Bila ini terjadi maka kami akan repot menghadapi pertanyaan: Kanwil Kehakiman Jabar, Departemen Kehakiman Pusat/Jakarta dan pihak keluarga Napi yang mungkin tidak mau menerima kenyataan bahwa Napi tsb telah meninggal dunia karena penyakitnya.

Pihak keluarga mengira ia meninggal dunia akibat penganiayaan petugas Lapas. Bila ada Napi yang sakit apalagi sakit berat, maka pihak Keluarga segera diberitahu dan diminta agar segera hadir di Lapas untuk melihatnya sendiri dan untuk keperluan meminta bantuan dana dari keluarga bila diperlukan untuk perawatan di RSU ( obat-obatan ) yang tidak semuanya gratis.

Wah…. kejadian malam itu benar-benar pengalaman yang sulit terlupakan. Sudah melompati pagar Lapas, nombokin ( keluar uang ) lagi. Ya sudah mau apalagi. Kejadian itu berlangsung begitu cepat, tanpa ada scenario dari sutradara.